Ketika Cekoslovakia pecah menjadi dua negara, muncul “masalah” di Indonesia: bagaimana menulis nama kedua negara tersebut? Untuk Slovakia, tampaknya, masalahnya langsung terpecahkan. Sejak Januari 1993, nama itulah yang muncul di berbagai media. Awalnya, untuk negara yang presidennya sekarang bernama Vaclav Klaus pun, hampir semua media massa kompak memakai nama Ceko. Bacalah koran, majalah, atau tabloid, tontonlah televisi, dan dengarkan radio. Ceko sudah lazim ditulis atau disebut sebagai nama negara pecahan Cekoslovakia. Narmun, ternyata “o” dalam bahasa aslinya kira-kira berarti “dan” Maka, Ceko adalah penamaan yang salah meskipun sudah menjadi kelaziman.
Jadi, kita tinggalkan saja Ceko? Bisa ya, bisa tidak. Nama Ceko bisa saja dipertahankan jika kita mengikuti contoh beberapa nama negara lain yang penulisannya dianggap benar atau baku semata-mata karena kelaziman atau kebiasaan, sebagai berikut.
Kelaziman
Belanda (nama asli: Holland/Nederland, nama internasional: Netherlands)
Inggris (England, England/United Kingdom)
Jepang (Nippon, Japan)
Spanyol (Espana, Spain)
Yunani (Ellas/Ellada, Greece)
Ceko
Kalau kita tidak mau dibilang melakukan salah kaprah atau tidak mau dianggap tak menghargai bahasa bangsa lain, ya, hilangkan saja huruf “o” itu.
Jadilah Cek sebagai negara pecahan Cekoslovakia. Namun, ini tidak lazim, apalagi dalam bahasa kita sudah ada kata “cek”, yang antara lain berarti “perintah tertulis pemegang rekening kepada bank dan sebagainya yang ditunjuk supaya membayar sejumlah uang” (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2001, ada tiga entri untuk kata “cek”). Lazim atau tidak, banyak nama negara model begini, yakni nama negara yang ditulis berdasarkan penyesuaian ejaan. Di bawah ini beberapa contohnya.
Penyesuaian Ejaan I
Cad (nama asli: Tchad, nama internasional: Chad)
Papua Nugini (Papua New Guinea, Papua New Guinea)
Rusia (Rossiya, Russia)
Siprus (Cypnus, Cyprus)
Turki (Turkiye, Turkey)
Cek
Penyesuaian ejaan dari kata apakah nama Cek itu? Seperti lima negara di atas, tentu Cek berasal dari nama Inggris atau nama internasionalnya (Czech). Kalau Cek tidak lazim, mengapa tidak kita pakai nama internasionalnya saja?
Toh, banyak contohnya, seperti tertulis berikut ini.
Nama Internasional I
Albania (nama asli: Shqiperia, nama internasional: Albania)
Denmark (Danmark, Denmark)
Georgia (Sak’art’velo, Georgia)
Mauritania (Muritaniyah, Mauritania)
Uzbekistan (Ozbekiston, Uzbekistan)
Czech
Czech tentu saja berbeda dengan lima negara di atas. Nama kelima negara tersebut bisa dengan leluasa masuk ke bahasa Indonesia karena ejaannya sudah sesuai dengan kaidah ejaan bahasa kita. Czech tidak demikian. Czech terasa asing buat mata, mulut, dan telinga orang Indonesia. Akan tetapi, kenyataannya, ada beberapa contoh penulisan nama negara berdasarkan nama internasionalnya tanpa penyesuaian ejaan, padahal ejaannya benar-benar asing. Contohnya di bawah ini.
Nama Internasional II
Greenland (nama asli: Kalaallit Nunaat, nama internasional: Greenland)
Guinea-Bissau (Guine-Bissau, Guinea-Bissau)
Lesotho (Basutoland, Lesotho)
Liechtenstein (Liechtenstein, Liechtenstein)
Sierra Leone (Sierra Leone, Sierra Leone)
Czech
Jadi, boleh juga dong Czech dipakai? Sebelum kita menjawabnya, ada baiknya menyimak pernyataan Harimurti Kridalaksana, ahli bahasa yang juga guru besar Fakultas Sastra (sekarang Fakultas llmu Budaya) Universitas Indonesia.
Dalam sebuah tulisannya di harian Kompas edisi 6 September 1993, Harimurti mengatakan, kalau kita berprinsip menghormati kebudayaan dan adat-istiadat bangsa penyandang atau pemilik nama sebuah negara, nama asli negara itulah yang mestinya dipakai. Nah, nama asli Czech adalah Ceska. Jadi, demi menghormati pemilik atawa penyandang namanya, kita menulis nama negara itu Ceska. Untuk penulisan nama negara yang seperti ini pun banyak contohnya.
Nama Asli I
Brasil (nama asli: Brasil, nama internasional: Brazil)
Brunei Darussalam (Brunei Darussalam, Brunei)
Italia (Italia, Italy)
Kiribati (Kiribati, Kiribati)
Yaman (Yaman, Yemen)
Ceska
Namun, dalam daftar “Nama Negara, Ibu Kota, dan Bahasa” Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Ketiga (yang entah mengapa tak mencantumkan nama negara Slovakia) tertulis Cheska. Entah dari mana KBBI memperoleh kata Cheska itu. Yang jelas, seandainya pun nama aslinya Cheska, mengapa tidak ada upaya penyesuaian ejaan dari pihak penyusun KBBI. Hal yang sama terjadi dalam penulisan nama-nama negara berikut ini.
Nama Asli II
Bhutan (nama asli: Bhutan, nama internasional: Bhutan)
Guadeloupe (Guadeloupe, Guadeloupe)
Kampuchea (Kampuchea, Cambodia)
Kirghizia (Kirghiz/Kirghizia, Kyrgyzstan)
Seychelles (Seychelles, Seychelles)
Cheska
Semestinya, jika kita mau menaati kaidah bahasa Indonesia, penulisan Cheska (bila dianggap sebagai nama asli yang benar) disesuaikan menjadi Ceska. Ada beberapa contoh penulisan nama negara berdasarkan penyesuaian ejaan dari nama asli seperti itu.
Penyesuaian Ejaan II
Aljazair (nama asli: Al Jaza’ir, nama internasional: Algeria)
Belgia (Belgie, Belgium)
Kazakstan (Qazaqstan, Kazakhstan)
Mesir (Misr, Egypt)
Suriah (Suriyah, Syria)
Ceska
Pada awal tulisan, saya mengatakan, “Untuk Slovakia, tampaknya, masalahnya langsung terpecahkan.” Mengapa saya katakan “tampaknya”? Sebab, penulisan nama negara Slovakia pun sesungguhnya berpotensi mengundang persoalan. Nama asli negara yang presidennya bernama Rudolf Schuster itu adalah Slovensko.
Nama Cekoslovakia memang bukan serapan dari nama asli negara di Eropa tengah itu (Caskoslovenko), melainkan serapan dari nama internasionalnya, yakni Czechoslovakia. Dan sebenarnya, sebelum negara itu pecah pun, pernah namanya ditulis Cekoslowakia dengan “w”, bukan “v”) oleh (hampir) semua media massa kita, bahkan nama itu pula yang tercantum dalam KBBI Edisi Kedua (1991).
Lalu punya maknakah Ceska dan Slovensko itu? Jika saja kata Ceska dan Slovensko bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kita punya satu cara lagi untuk menuliskan nama negara tersebut, yakni lewat penerjemahan…
Penerjemahan
Afrika Selatan (nama asli: South Africa, nama internasional: South Africa)
Kepulauan Faroe (Foroyar, Faroe Islands)
Pantai Gading (Cote d’Ivoire, Ivory Coast)
Selandia Baru (New Zealand, New Zealand)
Tanjung Verde (Cabo Verde, Cape Verde)
Uni Emirat Arab (Al Imarat al Arabiyah al Muttahidah, United Arab Emirates)
Penutup
Dalam bahasa Indonesia, nama negara di dunia dapat ditulis berdasarkan berbagai cara:
(1) kelaziman,
(2) penyesuaian ejaan dari nama asli,
(3) penyesuaian ejaan dari nama Inggris/internasional,
(4) nama asli tanpa penyesuaian ejaan karena memang tak perlu,
(5) nama asli tanpa penyesuaian ejaan padahal perlu,
(6) nama internasional tanpa penyesuaian ejaan karena memang tak perlu,
(7) nama internasional tanpa penyesuaian ejaan padahal perlu, dan
(8 ) penerjemahan.
Cara mana yang kita pilih? Untuk nama negara yang penulisannya sudah lazim—sudah tercetak di berbagai buku pelajaran sekolah, buku ilmu pengetahuan, dan buku sejarah, misalnya, apalagi yang “direstui” oleh “pemilik” namanya sendiri (misalnya terpampang pada papan nama kedutaan negara yang bersangkutan)—bagaimanapun “bentuk”-nya, apa boleh buat, nama itulah yang kita pakai. Untuk yang belum telanjur lazim, berdasarkan urutan prioritasnya, saya memilih menggunakan “pedoman” nomor 4, 2, 6, 3, 8, 5, dan 7. Bagaimana dengan Anda?
Penulis:
Uu Suhardi
Majalah Tempo
Makalah yang disajikan dalam Diskusi Penulisan Nama Geografis, Forum Bahasa Media Massa (FBMM), di TV7, Wisma Dharmala Sakti, Jakarta
tabloid BOLA sudah memakai “Ceska” menggantikan “Ceko”
plis aq lagi cr nama** negara dalam bahasa jepang . . bantu aq dunk . . .