Nama-Nama Geografis Pada Peta-Peta Indonesia Perlu Dibenahi

Intisari

Peta-peta yang sekarang banyak diterbUkan baik oieh instansi pemerintah maupun swasta kurang konsisten daiam menuliskan nama-nama geografis, selain itu tidak lengkap, peristilahan unsur geografi dan nasib ribuan unsur geografi yang masih belum mempunyai nama.  Hal tersebut merupakan pekerjaan besar dan membuka peluang untuk penelitian tentang nama-nama geografis (toponym). Apa yang perlu dilakukan untuk menangani nama-nama geografis tersebut?  Makalah ini akan mencoba membahas langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk membenahi nama-nama geografis pada wujud perpetaan di Indonesia.

 

Pendahuluan

Sebuah peta tanpa nama-nama geografis atau lebih dikenal dengan toponim (toponym), hanya merupakan secarik kertas yang tidak berharga. Sebuah peta, dengan nama-nama geografis yang ditulis tidak konsisten, bisa mengurangi kejelasan peta, dan selamanya merupakan peta yang dikatakan ceroboh.

Peta-peta Indonesia yang dahulu menjadi sumber acuan, seperti peta rupabumi (topografi), peta hidrografi yang berskala besar, adalah hasil karya orang asing. Meskipun dari segi teknis pembuatan peta-peta tersebut baik, malahan kadang-kadang sangat baik, harus pula diakui, bahwa unsur budaya

yang tertuang ke dalam peta-peta tersebut, tidak jarang merupakan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia umumnya, atau masyarakat setempat khususnya. Misalnya Fort de Kock adalah nama asing yang diberikan oleh orang asing pada sebuah permukiman yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Bukittinggi. Demikian juga dengan Buitenzorg (Bogor); Padangbai (Padang Baai), yang sebenarnya berarti Teluk Padang di Bali; Pulobai di Bengkulu sebenarnya Pulau Baai, kini sudah menjadi nama sebuah permukiman, yang berasal dari lidah asing, tetapi sulit untuk diganti. Contoh lain adalah Teluk Lada di ujung barat Jawa Barat bukanlah nama asli dari teluk yang bersangkutan, melainkan terjemahan langsung dari kata asing Peper Baai.

Orang yang tidak mengerti asal-usul nama Kepala Burung, yaitu suatu tempat yang terdapat di Papua, akan heran membaca atau mendengarnya. Pada wilayah ini terletak kota-kota Manokwari, Fakfak, yang oleh orang Belanda dilihat bentuknya seperti bentuk kepala seekor burung, dan kemudian disebut sebagai Vogelkop, yang berarti Kepala Burung dalam bahasa Belanda. Kalau orang-orang Jakarta ingin udara segar pada akhir pekan, mereka yang mampu akan pergi ke Puncak Pas. Pas, adalah istilah Belanda, yang berarti tempat untuk melintas di antara deretan perbukitan. Istilah yang artinya serupa dalam bahasa Indonesia saat ini belum ada.

Sebagaimana banyak disebutkan, Indonesia terdiri lebih  dari 17.000 pulau, tetapi hanya sebagian kecil saja yang sudah mempunyai nama. Secara

politis nama untuk setiap pulau perlu, karena seandainya pada suatu saat ada

sengketa mengenai sebuah pulau, bagaimana bisa membicarakan sebuah pulau yang tidak diketahui namanya?  Masalah kemudian timbul, instansi mana yang berwenang menetapkan nama-nama unsur geografis, seperti pulau, gunung, pegunungan, teluk, tanjung dan lainnya?

Pada zaman Hindia Belanda instansi yang menangani secara teknis adalah Topografische Dienst KNIL, dan segi politiknya oleh Departement van Binnenlandsberstuur (Departemen Dalam Negeri). Bagaimana dan apa langkah-langkah yang diperlukan untuk membenahi nama-nama geografis pada peta-peta yang sudah ada?

 

Langkah yang Perlu Dilakukan

Tidak perlu dijelaskan bahwa semua pihak tentu menginginkan supaya peta-peta Indonesia merupakan peta-peta acuan yang lengkap dan jelas sesuai dengan skalanya. Untuk dapat mencapai hal yang diidamkan, yang perlu dan segera dikerjakan adalah:

a. Menetapkan dan melengkapi peristilahan geografis

Istilah yang digunakan untuk unsur geografis ada yang bersifat urnum dan ada pula yang bersifat teknis. Istilah yang bersifat umum, yaitu istilah-istilah unsur geografis yang telah lazim digunakan oleh penduduk sehari-hari,  misalnya istilah untuk permukiman,  bukit dan perbukitan, sungai, danau, pulau, tanjung, selat dan teluk. Sebagai contoh, permukiman dengan jumlah rumah yang sangat terbatas disebut Babakan di Jawa Barat, Umbul di Lampung dan Kubu di Bali.

Istilah gunung berbeda pula antara daerah yang satu dengan lainnya. Ada yang menyebut Cot (Aceh), Dolok (Tapanuli), Keli (Flores), Nga (Papua pedalaman), Olet (Sumbawa). Istilah sungai, ada daerah yang menyebut Krueng (Aceh), Bah (Tapanuli), Batang (pesisir Timur Sumatera bagian Tengah), Air (Sumatera Selatan), Way (Lampung). Demikian seterusnya dengan setiap daerah atau kelompok masyarakat tertentu mempunyai istilah masing-masuig. Dari istilah-istilah tersebut tampak betapa eratnya kaitan masyarakat setempat dengan lingkungan fisik tempat hidup masing-masing.

Masyarakat Jawa yang bertransmigrasi ke Lampung misalnya, memang ada yang memberi nama Jawa pada kampung yang mereka bangun, seperti Pringsewu dan Sidomulyo, tetapi mereka tidak memberikan istilah Jawa pada unsur-unsur geografis setempat. Di Lampung tidak dijumpai misalnya Bengawan  Seputih  atau  Kali  Sekampung  atau  Bababan  Cimindi. Istilah-istilah generik yang mereka gunakan tetap digunakan istilah setempat, seperti Way (sungai), Umbul (Lampung) dan istilah spesifik dapat berasal dari Sunda, Jawa, atau Bali.

Di antara istilah-istilah unsur geografis yang dijumpai di daerah lain, ada yang berbeda jelas, tetapi ada juga yang berbeda nuansa, kendati letak daerahnya berjauhan. Misalnya, di Lampung digunakan istilah Way, di Seram digunakan Wae dan di Pulau Buru digunakan We. Istilah Aek digunakan di Tapanuli Selatan, sedangkan di Halmahera dipakai istilah Ake. Di Bali digunakan istilah Yeh untuk sungai, sementara di beberapa tempat di Papua digunakan istilah Yer. Apakah perbedaan-perbedaan dalam nuansa tersebut adalah kebetulan saja, ataukah memang ada kaitan lain?

Hal-hal tersebut merupakan ladang penelitian yang masih luas untuk dibuka oleh para ahli toponimi, antropologi budaya, bahasa, lebih-lebih kalau diingat, bahwa unsur geografi yang telah disebutkan di atas, merupakan hal yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Di samping istilah-istilah yang bersifat umum seperti telah diuraikan di atas, adapula istilah-istilah yang bersifat teknis yang erat kaitannya dengan ilmu geomorfologi dan geologi. Misalnya, di sepanjang pulau Sumatera terdapat jalur patahan yang dikenal dengan istilah Slenk Semangko. Istilah-istilah yang bersifat teknis seperti pas, slenk seyogianya dibicarakan di bidang ilmu masing-masing, yang nantinya dijadikan sebagai acuan dalam kajian toponim.

Hal yang penting untuk dibicarakan adalah bagaimana sikap selanjutnya terhadap kebhinekaan istilah-istilah yang kini menghiasi peta-peta acuan Indonesia. Apakah istilah-istilah daerah tersebut dihilangkan saja kemudian diubah dengan istilah nasional, sehingga dengan demikian akan kehilangan makna dan landasan sejarah budaya permukiman?

Dalam bahasa asing ada istilah Bight, Bay, Gulf yang pada saat ini dapat diterjemahkan hanya dengan satu istilah, yaitu Teluk. Apakah perlu untuk menambah kekayaan istilah? Istilah gunung misalnya, baik dari segi teknis, maupun dari segi gambaran, bisa membingungkan. Di dalam istilah asing ada istilah mountain dan ada volcano, dua buah benda yang berbeda. Dengan istilah asing tersebut, orang menyebutkan Mount Fuji, Mount Bromo, tetapi tidak ada yang menyebut Mount Krakatoa. Mungkin karena tidak ada benda yang nampak ‘menggunung’ bagi Krakatau, seperti halnya seseorang mengatakan ‘sampah kota yang menggunung setiap hari’. Sebaliknya, dengan istilah gunung dalam bahasa Indonesia, tidak tampak adanya perbedaan seperti perbedaan antara mountain dan volcano. Semua benda yang tampak ‘menggunung’  dan  benda yang ‘tidak  nampak  menggunung’,  tetapi menunjukkan gejala vulkanik, biasanya disebut juga sebagai gunung.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia merupakan bahasa yang sedang berkembang. Perbendaharaan bahasanya masih perlu diperkaya dengan menambah istilah-istilah baru yang bisa bersumber dari istilah asing atau istilah daerah. Terhadap unsur geografis, tampaknya bahasa daerah lebih mapan, jika dibandingkan dengan bahasa nasional. Nuansa arti istilah dalam bahasa daerah lebih kaya kalau dibandingkan dengan nuansa arti istilah bahasa nasional. Dengan kata lain, tidak jarang satu istilah dalam bahasa Indonesia mempunyai arti yang banyak, sedangkan banyak istilah dalam bahasa daerah mempunyai satu arti dalam bahasa Indonesia. Misalnya, dalam bahasa daerah ada saung, babakan, lembur, yang artinya sama dalam bahasa Indonesia yaitu kampung.

Oleh karena itu, jika pada peta digunakan istilah-istilah unsur geografi

dalam bahasa Indonesia, besar kemungkinan persepsi orang-orang di daerah akan berbeda dengan apa yang dimaksud oleh istilah yang tercantum pada peta. Selama masih ada bahasa daerah, selama itu pula istilah-istilah daerah akan tetap bertahan. Singkatnya dapat dikatakan, bahwa:

        istilah lokal/daerah tentang unsur geografi yang bersifat umum akan

          tetap bertahan.

        beberapa istilah tentang unsur geografis dalam bahasa Indonesia perlu

ditinjau kembali artinya dan lebih dirinci lagi.

 

b. Menetapkan nama-nama unsur geografi

Pemberian nama pada unsur geografi, selain untuk orientasi atau penegasan letak titik, sebenarnya juga memberikan dampak psikologis, yaitu

menumbuhkan rasa lebih dekat anggota masyarakat terhadap unsur geografi tersebut.

Saat ini masih ada ribuan pulau di wilayah Nusantara yang belum mempunyai nama, dan masih ada ribuan selat, teluk, tanjung, gunung, dsb. yang perlu diberi nama. Sampai saat ini yang baru dikenal hanya Puncak-pas

saja, masih banyak lagi pas-pas lain yang belum mempunyai nama, dan karena itu tidak bisa dikenal oleh umum. Di samping itu, masih perlu dilengkapi nama-nama  punggung  pegunungan,  puncak-puncak  bukit  serta

lembah-lembah yang dipandang wajar untuk diberi nama. Selain itu, masih banyak terdapat nama-nama asing seperti Pegunungan Verbeek di Sulawesi

dan Bergen di Lampung, van Rees di Irianjaya, Schwaner di Kalimantan, Peg. Muller di Kalimantan, Peg. Quarles di Sulawesi. Nama-nama asing lain banyak terdapat di Papua/lrianjaya, seperti P. Stephanie, P. Coquille, P.

Klaarbeck, P. Kommerrust, . Schlpad, P. Weeim, dan Middelbrg.

Banyaknya nama asing tersebut perlu dipikirkan apakah pantas diubah, bukan karena nama asingnya, tetapi karena kaitannya dengan masyarakat setempat. Tidak  ada gunanya ada nama unsur geografi, yang hanya diketahui oleh beberapa orang terdidik yang tempat tinggalnya jauh dari unsur tersebut, sedangkan orang setempat tidak pernah mendengar tentang nama yang diberikan pada unsur geografi di wilayahnya. Ada juga nama-nama unsur geografi yang berasal dari nama asing, tetapi sudah dikenal oleh masyarakat setempat, tetapi penulisan dan pengucapannya masih menjadi masalah yang cukup serius, misalnya Gleamore, Glen Nevis, Bergen, Peg. Schwaner, Peg. Cycloops. Penetapan nama unsur geografi ini adalah pekerjaan yang besar dan perlu dilaksanakan dengan cermat serta penuh kebijakan.

 

c. Pembakuan penulisan nama-nama geografis

Konsistensi adalah syarat utama dalam penulisan nama-nama geografis. Kemudian perlu diperhatikan tuntutan teknis yang datang dari para pembuat peta. Pelbagai unsur geografi harus ditulis dalam bentuk atau jenis huruf yang berbeda, demi kejelasan peta itu sendiri. Misalnya, nama-nama tempat (kota) ada tingkatannya, seperti kampung, desa, kota kecamatan, kota kabupaten dan kota provinsi. Jenis dan bentuk hurufnya pun sering harus berbeda. Nama-nama unsur perairan biasanya dicetak miring (italic). Pegunungan yang cukup panjang dan penting, biasanya ditulis dengan huruf kapital. Semua penulisan nama-nama geografis yang sudah resmi dan umum digunakan harus ditulis  sesuai  dengan  kaidah  bahasa  Indonesia  yang  benar  dan  harus konsisten. Satu hal yang sering menjadi pertanyaan, baik oleh pihak awam maupun oleh pakar perpetaan asing, adalah seperti contoh berikut:

 

*  Mengapa orang menulis, Ujung Pandang, Bandar Lampung, Pangkal Pinang, sedangkan di pihak lain ditulis Banyuwangi (bukan Banyu Wangi),

Purwodadi (bukan Purwo Dadi).

 

·        Mana yang merupakan nama permukiman (kota, desa) dan bukan nama permukiman, seperti nama-nama di bawah ini.

 

Gunung Tua

Gunung Putri

Air Bangis

Air Madidi

Gunung Kencana

Gunung Sitoli

Air Manggis

Air Gegas

Gunung Halu

Gunung Patas

Air Balam

Air Molek

Gung Honje

Gunung Awu

Air Dikit

Air Ketaun

Bukit Kemuning

Bukit Raya

Tanjung Selor

Tanjung Bandar

Talaga Patengan

Talaga Bodas

Tanjung Agung

Tanjung Ayu

Talaga

Siti Panjalu

Tanjung Karitak

Tanjung Kumala

Situ Saeeur

Situ Bagendit

Danau Bingkuang

Danau Panggang

Ranca Kuya

Ranca Buhaya

Danau Siran

Danau Bangkau

Ranca Kalong

Ranca Suni

Muara Rajeun

Muara Padang

Citilu

Ciliwung

Muara Soma

Muara Tembesi

Cikidang

Ciseureuh

Ciauteun

Muara kaman

Cipeundeuy

Cikatomas

Gunungketur

Cipamomokolan

 

 

Pada tabel di atas dicantumkan sederetan nama geografis, karena tidak ada kejelasan dan konsistensi dalam penulisan, maka persepsi orang akan berbeda dalam menafsir unsur geografi tersebut, apakah kota, sungai, gunung,  tanjung,  atau danau.  Oleh karena itu,  konsistensi penulisan nama-nama geografis adalah perlu dan mutlak dilakukan. Maksudnya, kalau Banyuwangi ditulis dengan satu kata, seyogianya Ujung Pandang dan Bandar Lampung  harus ditulis satu kata, sehingga menjadi Ujungpandang dan Bandarlampung. Masih banyak contoh lain yang bisa disebut.

Penulisan nama-nama geografis dalam peta juga ada aturan baku yang

harus diperhatikan, misalnya nama-nama perairan dalam peta harus dicetak miring dengan warna biru. Nama-nama gunung, harus ditulis dengan huruf miring dengan warna hitam. Sebagaimana yang tertera dalam spesifikasi Peta Rupabumi Indonesia yang dibuat oleh Bakosurtanal, huruf yang digunakan untuk unsur alam adalah huruf miring (italic) dengan warna biru untuk unsur perairan dan warna hitam untuk unsur topografis (gunung, pegunungan). Untuk unsur buatan manusia menggunakan huruf tegak dengan warna hitam.

Jikalau untuk menulis semua nama-nama tempat dengan dua kata, seperti Tanjung Pinang, Sura Karta, Gunung Sitoli, maka akan sulit menerka apakah Danau Bingkuang itu sebuah danau atau bukan? Apakah Kali Setail itu nama sungai atau nama kota?

Untuk mengatasi masalah tersebut ada prinsip dasar yang paling mudah dalam penulisan nama-nama geografis, yaitu:

1. Semua nama-nama tempat (kota) ditulis satu rangkai (satu kata).

Contoh: Danaubingkuang, Airmadidi, Tanjungselor, Rancakuya, Rancaekek, Telukgong, Tanjungkarang, Ujungberung, dan Banda-aceh.

2. Semua nama-nama unsur geografis selain  nama tempat, ditulis dengan memisahkan unsur generik dan unsur spesifiknya (dua kata).

Contoh: Danau (generik) Batur (spesifik)  à Danau Batur, Air Mesuji, Kali Serayu, Ci Liwung, Gunung Salak, Ujung Kulon, Teluk Banten, Way Seputih, Tanjung Capil.

Dengan cara sederhana tersebut di atas, kita akan dapat menuliskan  nama-nama geografis pada peta-peta atau dokumen-dokumen lain secara konsisten. Cara atau panduan penulisan nama-nama geografis secara lengkap pernah dibuat oleh Bakosurtanal pada tahun 1991. Pada tahun 1997 bekerja sama dengan Dit PUM Depdagri juga dibuat panduan nama-nama geografis yang digunakan sampai sekarang.

 

d. Membentuk badan / lembaga otoritas

Instansi yang berkepentingan secara administratif dengan nama-nama

geografis adalah Departemen Dalam Negeri. Selama ini, dari instansi ini keluar  surat  keputusan  tentang  nama-nama  desa,  kecamatan, kabupaten,  provinsi serta batas-batasnya. Karena itu, tidak berlebihan kalau diharapkan instansi ini dapat menuliskan nama-nama geografis secara konsekuen, konsisten, dan benar. Selain itu, nama-nama geografis sangat terkait dengan bidang pekerjaan teknis pemetaan dalam hal ini Bakosurtanal. Jadi Depdagri seyogianya bertindak sebagai koordinator interdepartemen untuk membentuk lembaga otoritas nama-nama geografis.

Lembaga otoritas nama geografis ini yang akan mengkaji setiap unsur

geografis yang ada di seluruh Indonesia yang mencakup aspek-aspek batas wilayah, hukum, genealogi (sejarah), linguistik (etimologi, ejaan, pengucapan), antropologi,  etnografi,  kartografi dan geografi.  Sebagai contoh,  adalah lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan. Mengapa sampai kedua pulau tersebut terlepas dan pangkuan lbu Pertiwi? Jawabnya adalah karena Indonesia belum mempunyai lembaga otoritas nama-nama geografis, sehingga tidak tersedia data yang lengkap untuk mendukung jurisdiksi Indonesia atas kedua pulau tersebut.

Sebenarnya embrio lembaga otoritas nama-nama geografis,  telah terbentuk  berdasarkan  Surat  Keputusan  Menteri  Dalam  Negeri  No. 119.05-274/1993, yaitu bernama Panitia Tetap Nasional Nama-nama Geografi, tetapi satu tahun kemudian dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 072.05-582 tahun 1994, berubah nama menjadi  Panitia Pemberian Nama-nama Geografi (PPNG). Lembaga ini beranggotakan instansi-instansi pemerintah,  yaitu  Ditjen  PUOD  (sekarang  Dit  PUM,  Depdagri), Bakosurtanal, BPS, Deplu, Depdiknas, Aster Mabes ABRI, Dep. Kimpraswil, Badan Informasi Nasional, dsb.  Tapi sayangnya lembaga otoritas nama geografis ini mengalami stagnasi yang cukup lama. Kemudian pada tahun 2001 berdasarkan S.K. Mendagri dan Otda No. 100-98 berubah lagi menjadi Tim Fasilitasi Pemberian dan Pembakuan Nama Geografis. Tim ini sampai sekarang pun belum berfungsi sebagaimana mestinya.

Seyogianya lembaga otoritas nama-nama geografis ini merupakan lembaga nondepartemen yang permanen berdasarkan S.K. Presiden atau Undang-undang (seperti di Amerika), sehingga akan dapat berfungsi secara optimal, karena lembaga mi mempunyai wewenang mutlak dalam pengelolaan nama-nama geografis secara nasional dan memberi saran kepada Pemerintah mengenai nama-nama geografis di Indonesia, memublikasikan kepada masyarakat dalam bentuk gasetir dan secara periodik melaporkan aktivitasnya kepada PBB, sehingga nama-nama geografis pada perpetaan di Indonesia atau media lain akan lebih baik dan sempurna dan terorganisasi dengan baik sebagaimana telah dilakukan oleh negara-negara lain.

 

Penutup

Sebagai penutup dapat disimpulkan, bahwa (1) peristilahan unsur geografis masih sangat kurang, jika dibanding dengan keragaman unsur geografis yang ada, sehingga perlu dilengkapi dan ditetapkan peristilahan baru. Selain itu, (2) perlu memberikan nama pada unsur geografi yang belum bernama, terutama pada pulau-pulau kecil yang tersebar di seluruh Nusantara. Kemudian (3) membakukan bentuk penulisan nama-nama geografis baik pada peta-peta, dokumen maupun media cetak lain. Terakhir (4) adalah membentuk sebuah lembaga atau badan (otoritas) yang mempunyai kewenangan penuh, dengan keputusannya yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Fungsi lembaga inilah yang secara terus-menerus akan mengelola ketiga item yang telah disebut di atas, serta memublikasikan dalam bentuk gasetir atau dokumen lain yang relevan.

Dengan menerapkan keempat langkah seperti yang telah disebut di atas, nama-nama geografis di Indonesia akan dapat dikelola dan berangsur-angsur dapat  dibenahi,  sehingga  wujud  perpetaan  bangsa  Indonesia  dapat dibanggakan.

———————————

Penulis:

Widodo Edy Santoso dan Titiek Suparwati

Bakosurtanal

 

Disampaikan pada Diskusi Bulanan Forum Bahasa Media Massa {FBMM) “Penulisan Nama Geografis”, 5 Juni 2003 di “TV7, Wisma Dharmala Sakti Lt.21, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 32, Jakarta 10220.

– Peneliti Bidang Toponimi, Balai Penelitian Geomatika-Bakosurtanal, Jl. Raya Jakarta-Bogor Km.46 Cibinong. Tlp. 031-37906041/email: wides_bgr®telkom.net

– Staf Pusat Pemetaan Dasar Rupabumi dan Tata Ruang-Bakosurtanal.

About these ads

5 Tanggapan

  1. pengertian dari slenk semangko

  2. slenk semangko

  3. salam….di ujung kulon da ngak nama kampung 40?trima ksh

  4. saya ingin menanyakan mengenai nama daerah di Aceh, yakni Blang Pidie..
    saya menemukan di salah satu naskah lama penulisan Blang Pidie yang sekarang kita kenal, ternyata ditulis dengan Blang Pidier..
    penjelasan mengenai hal tersebut bagaimana ya??
    terima kasih,,

  5. trabsvhsgfsshcdhfdffjfkg

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: