Bahasa Indonesia Dalam Berita Televisi

1. Pendahuluan: Fenomena Berita Televisi
Siapa yang tak kenal dengan program ‘’Liputan 6’’ di SCTV
atau ‘’Seputar Indonesia’’ di RCTI? Siapa pula yang tak kenal istilah
breaking news dan headline news yang dipopuleran oleh MetroTV?
Program-program serius ini kini telah menjadi alternatif bagi program
populer seperti sinetron.
Lalu, siapa yang tak kenal Rosianna Silalahi, Najwa Shihab,
atau Arief Suditomo? Mereka kini bak selebritas. Ketenaran para
penyiar berita televisi ini tak kalah dengan pesinetron Luna Maya atau
penyanyi Bunga Citra Lestari atau vokalis Afgan?
Fenomena di atas memperlihatkan betapa berita televisi telah
menjadi menu utama program televisi. Semua stasiun televisi pasti
punya program berita, tetapi tak semua stasiun televisi punya program
sinetron. Tak ada stasiun televisi yang memposisikan dirinya sebagai
televisi sinetron, tetapi ada stasiun televisi yang memposisikan diri
sebagai televisi berita.
Berita televisi pun tak ayal mempengaruhi kehidupan kita,
termasuk mempengaruhi perilaku berbahasa Indonesia kita. Bagaimana
sesungguhnya bahasa berita televisi itu? Apakah bahasa berita televisi
atau bahasa jurnalistik televisi sudah sesuai dengan kaidah bahasa
Indonesia yang baku, baik, dan benar? Apakah berita televisi bisa
memberi pengaruh positif pada perilaku berbahasa kita di tengah
tudingan bahwa televisi justru merusak bahasa Indonesia?
Satu hal yang acap dituding merusak bahasa Indonesia adalah
penggunaan istilah asing dalam berita televisi, antara lain dalam judul
atau nama program seperti breaking news atau headline news. Mengapa
televisi masih sering menggunakan istilah asing?
2. Bahasa Jurnalistik Televisi
Keputusan Komisi Penyiaran Indonesia tahun 2004 tentang
Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran
mengharuskan wartawan atau jurnalis televisi menggunakan bahasa
Indonesia yang baku dalam berita yang mereka tulis. Dengan
perkataan lain, bahasa jurnalistik televisi semestinya adalah bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Bahasa jurnalistik televisi sendiri
sangat dipengarihi oleh karakteristik televisi.

Karakteristik Televisi
Adapun karakteristik media televisi adalah:
Media pandang dengar (audio-visual)
Televisi adalah media pandang sekaligus media dengar. Ia
berbeda dengan media cetak yang lebih merupakan media
pandang. Orang memandang gambar yang ditayangkan di
televisi, sekaligus mendengar atau mencerna narasi atau naskah
dari gambar tersebut.
Mengutamakan gambar
Kekuatan televisi terletak lebih pada gambar. Gambar—dalam
hal ini gambar hidup—membuat televisi lebih menarik
dibanding media cetak. Narasi atau naskah bersifat mendukung
gambar.
Mengutamakan kecepatan
Jika deadline media cetak 1 x 24 jam, deadline atau tenggat
televisi bisa disebut setiap detik. Televisi mengutamakan
kecepatan. Kecepatan bahkan menjadi salah satu unsur yang
menjadikan berita televisi bernilai. Berita paling menarik atau
menonjol dalam rentang waktu tertentu, pasti akan ditayangkan
paling cepat oleh televisi.
Bersifat sekilas
Jika media cetak mengutamakan dimensi ruang, televisi
mengutamakan dimensi waktu atau durasi. Durasi berita televisi
terbatas. Berita yang ditayangkan televisi cenderung bersifat
sekilas. Berita yang ditayangkan televisi cenderung tidak
mendalam.
Bersifat satu arah
Televisi bersifat satu arah. Pemirsa tidak bisa pada saat itu juga
memberi respon pada berita televisi yang ditayangkan, kecuali
pada beberapa program interaktif. Pemirsa hanya punya satu
kesempatan memahami berita televisi. Pemirsa tidak bisa,
misalnya, meminta presenter membacakan ulang berita televisi
karena pemirsa tersebut belum memahami atau ingin lebih
memahami berita tersebut.
Daya jangkau luas
Televisi memiliki daya jangkau luas. Ini berarti televisi
menjangkau segala lapisan masyarakat, dengan berbagai latar
belakang sosial-ekonomi. Orang buta huruf tidak mungkin
membaca berita media cetak, tetapi ia bisa menonton berita
televisi. Siaran atau berita televisi harus dapat menjangkau ratarata
status sosial-ekonomi khalayak.

Bahasa Jurnalistik Televisi
Karakteristik media televisi di atas menentukan karakteristik
bahasa jurnalistik televisi. Sebelum kita melihat kaitan antara
karakteristik televisi dan bahasa jurnalistik televisi, kita akan melihat
pendapat atau rumusan sejumlah pakar tentang karakteristik bahasa
jurnalistik televisi.
Melvin Mencher dalam buku News Reporting and Writing
merumuskan karakteristik jurnalistik televisi seperti berikut:
Menggunakan bahasa sehari-hari.
Menggunakan kalimat-kalimat pendek.
Setiap kalimat mengandung satu ide.
Membatasi narasi atau berita hanya pada satu tema utama
Hall dalam buku Broadcast Journalism mengungkapkan
karakteristik bahasa jurnalistik sebagai berikut:
Harus dalam gaya percakapan.
Harus dengan kalimat pendek dan lugas.
Harus menghindari susunan kalimat terbalik.
Harus mengusahakan subyek dan predikat berdekatan letaknya.
Suwardi Idris melalui buku Jurnalistik Televisi mencoba
merumuskan sejumlah karakteristik bahasa jurnalistik televisi:
Sederhana, tidak bercampur-aduk dengan kata-kata asing atau
kata-kata yang belum dikenal oleh rata-rata penonton.
Kalimat-kalimat hendaklah pendek, langsung pada sasaran,
tidak berbelit-belit.
Hindari penggunaan kalimat terbalik.
Subyek dan predikat berdekatan letaknya.
Dalam buku Bahasa Jurnalistik, Haris Sumadiria mengajukan
sejumlah karakteristik bahasa jurnalistik televisi:
Gunakan gaya ringan bahasa sederhana.
Gunakan prinsip ekonomi kata.
Gunakan ungkapan atau kalimat pendek.
Gunakan kata sederhana.
Gunakan kata sesuai dengan konteks.
Hindari ungkapan bombastis.
Hindari ungkapan klise dan eufimisme.
Gunakan kalimat tutur.
Gunakan kalimat obyektif.
Jangan mengulangi informasi.
Menguji ulang sejumlah istilah.
Gunakan kalimat aktif.
Jangan terlalu banyak menggunakan angka-angka.
Hati-hati mencantumkan jumlah korban.

Karakteristik Televisi menentukan Karakteristik Bahasa Jurnalistik
Televisi
Kita saksikan bahwa karakteristik bahasa jurnalistik yang
dikemukakan oleh para pakar jurnalistik di atas relatif sama. Kita akan
merangkum karakteristik-karakteristik bahasa jurnalistik televisi di
atas, dan kemudian menjelaskan kaitannya dengan karakteristik televisi
sebagai media berikut contohnya:
Menggunakan bahasa sehari-hari, gaya bahasa percakapan,
atau kalimat tutur.
Televisi adalah media audio-visual atau media pandang-dengar.
Pemirsa memandang gambar dan mendengar narasi. Penyiar atau
presenter atau reporter membacakan naskah atau narasi berita untuk
pemirsa. Penyiar, presenter, atau reporter seolah tengah bercakap-cakap
dengan pemirsa. Kita menggunakan bahasa sehari-hari, bahasa
percakapan, atau kalimat tutur dalam berita televisi yang kita buat.
Bahwa bahasa jurnalistik televisi harus menggunakan gaya bahasa
bertutur adalah juga untuk membedakannya dengan bahasa jurnalistik
media cetak yang cenderung formal.
Contoh:
UNJUK RASA MAHASISWA DI GEDUNG D-P-R-D KOTA
MEDAN/ DIWARNAI BENTROK DENGAN APARAT
KEAMANAN/// (Formal, terutama pada kata ’’diwarnai.’ )
MAHASISWA BENTROK DENGAN APARAT/ SAAT
BERLANGSUNG UNJUK RASA MENENTANG KENAIKAN
HARGA BAHAN BAKAR MINYAK DI DEPAN GEDUNG D-PR-
D KOTA MEDAN// (Bahasa tutur)
Menggunakan kata atau kalimat sederhana, menghindari
kata asing, kata klise, istilah teknis, dan eufimisme.
Sifat atau karakteristik televisi adalah jangkauannya yang luas.
Itu artinya berita televisi menjangkau khalayak dari berbagai tingkat
sosial-ekonomi. Jika untuk memperoleh informasi dari media cetak
orang harus bisa membaca, untuk memperoleh informasi dari televisi
orang tidak harus pandai membaca. Orang buta huruf pun bisa
menonton berita televisi. Bahasa jurnalistik televisi harus bisa dipahami
oleh rata-rata penonton televisi. Bahasa yang dapat dipahami oleh ratarata
penonton televisi adalah bahasa yang sederhana, yang menghindari
penggunaan kata asing atau istilah teknis yang belum umum. Jika
terpaksa menggunakan kata asing atau istilah teknis, upayakan
menjelaskan arti atau maknanya.
Contoh 1:
KOMISI SATU D-P-R AKAN MEMINTA KLARIFIKASI
PANGLIMA T-N-I TERKAIT DUGAAN KETERLIBATAN
ANGGOTA T-N-I DALAM JARINGAN PERDAGANGAN
SENJATA INTERNASIOAL/// (bukan bahasa jurnalistik televisi
yang baik, karena ada kata berasal dari bahasa asing:
’’klarifikasi.’’)
KOMISI SATU D-P-R AKAN MEMINTA PENJELASAN
PANGLIMA T-N-I BERKAITAN DENGAN DUGAAN
KETERLIBATAN ANGGOTA T-N-I DALAM PERDAGANGAN
SENJATA INTERNASIONAL// (bahasa sederhana)

Contoh 2:
KERUSUHAN POSO MELIBATKAN OKNUM ANGGOTA TN-
I// (bukan bahasa jurnalistik televisi, karena ada kata eufimisme
atau pelembutan, yaitu ’’oknum.’’)
KERUSUHAN POSO MELIBATKAN ANGGOTA T-N-I///
(bahasa jurnalistik televisi)
Menggunakan kalimat pendek atau ekonomi kata.
Kalimat panjang seringkali lebih sulit dimengerti dibanding
kalimat pendek. Televisi yang bersifat sekilas dan satu arah menuntut
penyampaian pesan atau berita yang mudah dicerna oleh pemirsa.
Kalimat panjang boleh jadi menyebabkan pesan atau berita televisi sulit
dipahami oleh penonton.
Kekuatan berita televisi terletak pada gambar. Kalimat-kalimat
yang kita tulis dalam narasi berita televisi bersifat mendukung gambar.
Jika kekuatan berita televisi lebih pada gambar, buat apa menggunakan
kalimat yang terlampau panjang dalam berita televisi.
Televisi mengutamakan kecepatan. Kalimat panjang hanya akan
menjadikan alur berita berjalan lamban. Kalimat panjang mengabaikan
prinsip televisi sebagai media yang mengutamakan kecepatan.
Contoh:
PARA MAHASISWA BERENCANA AKAN MELAKUKAN
UNJUK RASA MENENTANG KENAIKAN HARGA BAHAN
BAKAR MINYAK/ BESOK/// (terdapat sejumlah kata mubazir)
BESOK/ MAHASISWA BERUNJUK RASA MENENTANG
KENAIKAN HARGA HARGA BAHAN BAKAR MINYAK//
(kalimat pendek dam efektif, tidak ada kata-kata mubazir)
Menghindari kalimat terbalik, subyek dan predikat
berdekatan posisinya, jabatan mendahului nama pemangku
jabatan.

Karakteristik bahasa jurnalistik televisi yang seperti ini sangat
terkait dengan karakteristik televisi yang bersifat sekilas dan searah.
Jika menggunakan kalimat terbalik atau letak subyek dan predikat
berjauhan, boleh jadi penonton lupa siapa mengatakan atau melakukan
apa. Gaya bahasa terbalik lebih sering digunakan untuk media cetak.
Contoh 1:
SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, PRESIDEN R-I,
MEMERINTAHKAN ABURIZAL BAKRI, MENKO KESRA,
MEMBERI GANTI RUGI KEPADA KORBAN LUMPUR
LAPINDO DI SIDOARJO/ JAWA TIMUR// (buruk, nama
pemangku jabatan mendahului jabatan)
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
MEMERINTAHKAN MENKO KESRA ABURIZAL BAKRI
MEMBERI GANTI RUGI KEPADA KORBAN LUMPUR
LAPINDO DI SIDOARJO/ JAWA TIMUR// (Baik, jabatan
mendahului pemangku jabatan)

Contoh 2:
INDONESIA HARUS BEBAS DARI KORUPSI, KATA
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO// (Bukan
bahasa jurnalistik televisi karena subyek dan predikat terpisah
letaknya)
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO BERTEKAD
INDONESIA BEBAS DARI KORUPSI// (Bahasa jurnalistik
televisi)

Contoh 3:
MEMPROTES PENANGKAPAN REKANNYA OLEH POLISI/
SERIBUAN MAHASISWA BERUNJUK RASA DI POLDA
METRO JAYA/// (Bukan bahasa jurnalistik televisi, karena anak
kalimat mendahului induk kalimat)

SERIBUAN MAHASISWA BERUNJUK RASA DI POLDA
METRO JAYA MEMPROTES PENANGKAPAN REKAN
MEREKA OLEH POLISI/// (Bahasa jurnalistik televisi)
Menggunakan kalimat aktif, jangan menyembunyikan kata
kerja yang kuat di balik kata benda.
Kalimat aktif lebih memiliki kekuatan dibanding kalimat pasif.
Kalimat aktif juga lebih mudah dimengerti dibanding kalimat pasif.
Karena televisi merupakan media yang mengandalkan kecepatan dan
bersifat sekilas, penggunaan kalimat aktif membuat penonton lebih
mudah memahami berita tekevisi.
Contoh 1:
PRESIDEN TIDAK PEDULI DENGAN TUNTUTAN
MAHASISWA/// (kalimat negatif)
PRESIDEN MENGABAIKAN TUNTUTAN MAHASISWA
(bahasa jurnalistik televisi, karena menggunakan kalimat aktif)

Contoh 2:
LEDAKAN BOM TERJADI DI DEPAN KEDUTAAN BESAR
AUSTRALIA DI JAKARTA/// (kalimat pasif, menyembunyikan
kata kerja yang kuat di balik kata benda)
BOM MELEDAK DI DEPAN KEDUTAAN BESAR
AUSTRALIA DI JAKARTA/// (kalimat aktif, menampilkan kata
kerja yang kuat: kata ’’meledak’’)
Jangan terlampau banyak menggunakan angka-angka
Televisi, seperti telah berulangkali kali dikatakan di sini,
bersifat sekilas. Jika kita terlampau banyak menggunakan angka,
apalagi angka yang terlampau detil, pemirsa sulit mengingat, apalagi
memahaminya. Berhati-hatilah dalam menggunakan angka-angka.
Jangan menggunakan angka-angka yang terlalu detil. Penggunaan
angka yang terlalu banyak dan detil juga membuat kalimat kita menjadi
panjang. Padahal, seperti telah disebut di atas, kita sebaiknya
menggunakan kalimat-kalimat pendek dalam berita televisi yang kita
tulis. Jika angka dianggap penting, tampilkan dia dalam grafik.

Contoh:
SEBANYAK SERIBU 125 MAHASISWA BERUNJUK RASA DI
GEDUNG
D-P-R/// (buruk, angka-angka terlalu detil)
LEBIH DARI SERIBU MAHASISWA BERUNJUK RASA DI
GEDUNG D-P-R// (baik, angka tidak detil atau dibulatkan)

3. Kesimpulan: Memahami Konteks Bahasa Jurnalistik Televisi
Konteks senantiasa mendahului teks. Teks selalu mengikuti
konteks. Bahasa jurnalistik televisi sebagai teks harus mengikuti
konteks berupa karakteristik televisi sebagai media. Karakteristik
televisi menghasilkan prinsip-prinsip bahasa jurnalistik yang dalam
tingkat tertentu sangat sesuai dengan prinsip-prinsip bahasa Indonesia
baku. Sebagai contoh, berita televisi harus menghindari penggunaan
eufimisme atau pelembutan, dan ini sejalan dengan bahasa Indonesia
yang baik dan benar.
Penggunaan bahasa asing dalam sejumlah judul atau nama
program juga tak terlepas dari konteks. Setidaknya ada tiga perkara
kontekstual dalam hal ini. Pertama, ilmu jurnalistik yang kita pelajari
di Indonesia umumnya berkiblat ke Amerika yang berbahasa Inggris.
Oleh karena itu, banyak istilah berbahasa Inggris dalam jurnalistik
televisi yang kita adopsi, baik istilah teknis maupun posisi atau jabatan.
Kedua, nama atau judul berbahasa asing itu relatif lebih mudah diingat
dan menarik perhatian. Praktisi media malah beranggapan penggunaan
bahasa asing dalam judul atau nama program sah-sah saja. Ketiga,
dalam beberapa kasus, memang belum ada padanan nama atau judul
berbahasa asing itu. Sampai hari ini, kita, misalnya, rasanya belum
menemukan padanan untuk breaking news.
Dalam tataran praktis memang tidak semua wartawan televisi
menerapkan prinsip-prinsip bahasa jurnalistik televisi. Banyak
wartawan televisi yang masih menggunakan istilah teknis atau bahasa
asing, seperti ’’signifikan’’ atau ’’konfirmasi.’’ Untuk meningkatkan
penggunaan bahasa Indonesia baku, stasiun televisi secara berkala
memberi pelatihan penulisan berita kepada para wartawan. Setiap
stasiun televisi malah boleh jadi sudah memiliki buku panduan
penulisan berita televisi (style book)

Peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan
benar merupakan upaya untuk memenuhi Keputusan Komisi Penyiaran
tahun 2004 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program
Siaran memang mengharuskan wartawan televisi menggunakan bahasa
Indonesia yang baku. Itu artinya, dalam tataran regulatif atau etik,
berita televisi sudah seharusnya menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar.
Tentu saja upaya penggunaan bahasa Indonesia yang baku
dalam berita televisi belum sepenuhnya memuaskan, terutama dalam
tataran praktis. Namun, dibanding program populer seperti sinetron,
program berita televisi relatif lebih memberi pengaruh positif pada
perkembangan bahasa Indonesia. Sayangnya penonton kita lebih suka
menonton sinetron daripada berita. []

BAHAN BACAAN
Boyd, Andrew, Broadcast Journalism: Techniques of Radio and TV
News, London:
Focal Press, 1994.
Idris, Suwardi, Jurnalistik Televisi, Bandung: CV Remadja Karya,
1987.
Mencher, Melvin, News Reporting and Writing, Dubuque: Brown and
Benchmark, 1997.
Sumadiria, AS Haris, Bahasa Jurnalistik, Bandung: Simbiosa
Rekatama Media, 2006.

Usman Kansong
Kepala Departemen Current Affairs Metro TV

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 oktober – 1 November 2008.

About these ads

2 Tanggapan

  1. contoh beritanya mana???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: