Telaah Sarkasme Judul Berita Surat Kabar

ABSTRACT
The purpose of this research was to describe the
sarcasm in newspaper subtitles by politeness principles,
using diction, and politeness theory face threatening act.
The data or titles and subtitles was collected from Bengkulu
Ekspress, Semarak Bengkulu, Kompas, Koran Tempo, dan
Rakyat Merdeka. The result showed that (1) sarcasm was
caused by infraction of politeness principles generally was
caused by infraction of approbation and sympathy maxim;
(2) sarcasm was caused by using diction which has impact
on rudeness and hyperbolic meaning; (3) sarcasm was
caused by infraction of politeness principles and using
diction were also face threatening act, positive and
negative; (4) politeness principles, using diction, and avoid
face threatening act were more effective in communication
than using sarcasm or euphemism.
1. Pendahuluan
“Apa pentingnya siapa yang berbicara, seseorang berkata, apa
pentingnya siapa yang berbicara” (Beckett, 1974). Ucapan ini
menyiratkan salah suatu prinsip mendasar, yaitu etika. Sebagai suatu
prinsip sebuah bahasa yang diucapkan tidak hanya terbatas pada segi
interior semata, namun juga terjadi penyebaran eksteriornya yang pada
tahap selanjutnya hal tersebut akan menguji batas-batas keberaturannya,
pelanggaran dan pemutarbalikan, suatu tatanan yang berterima
atau termanipulasi (Rusbiantoro, 2001).
Derek Walcott pemenang hadiah nobel kesusastraan 1992
berpendapat bahwa bahasa adalah titik sentral kebudayaan, dan
kebudayaan akan menjadi amburadul bila masyarakat mulai kehilangan
hormatnya terhadap bahasa (Jatmiko, 1995). Lalu bagaimana kita
hendak “melihat” perkembangan bahasa yang baik dan benar dalam
konteks tersebut?
Manusia sebagai makhluk sosial tentu akan berinteraksi dengan
sesamanya, baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maupun untuk
berkomunikasi. Bahasa merupakan alat yang paling banyak digunakan
untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari manusia. Di
samping itu, bahasa juga merupakan salah satu aspek terpenting dalam
kebudayaan. Aspek yang terpenting itu adalah norma-norma
kebudayaan yang membawakan prilaku kebahasaan anggotanya.
Misalnya, tentang apa yang baik dan apa yang buruk serta apa yang
santun dan apa yang kurang santun di dalam berbahasa. Dengan kata
lain, kebudayaan suatu masyarakat atau guyub tutur itu tercermin pada
nilai-nilai kebahasaan mereka.
Nilai-nilai kebahasaan dapat berubah-ubah sesuai perubahan
zaman atau perkembangan kebudayaan. Hasan Alwi (Kompas, 22
Maret 2001) mengemukakan bahwa telah terjadi perubahan yang
ekstrem dari kramanisasi bahasa Indonesia karena adanya hegemoni
semantik yang terjadi selama masa orde baru menjadi vulgarisasi
bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi seiring bergulirnya era
reformasi. Lebih kanjut Alwi juga mengatakan bahwa perilaku
berbahasa menjadi sebebas-bebasnya. Orang berbicara apa saja dengan
cara bagaimana saja.
Kerisauan masyarakat bahasa terhadap penggunaan bahasa di
media massa juga diungkap oleh Bachtiar Aly yang dikutip Kompas
(16 Januari 2001) dari Seminar tentang Paradigma Baru Politik Bahasa
dan Budaya Nasional di Jakarta. Aly mengatakan bahwa penggunaan
bahasa Indonesia oleh para elite politik dan media massa yang keras
dan tidak santun, diyakini menjadi penyebab masyarakat menganut
budaya kekerasan. Hal ini dikarenakan dinamika bahasa sangat
bergantung pada komando bahasa yang dipegang oleh elite dan media
massa. Dikatakan demikian karena budaya yang masih paternalistik
mereka juga menjadi panutan dalam berbahasa masyarakat.
Sehubungan dengan hal itu agar media massa tidak terjebak
pada situasi paradoksal (Kompas, 10 November 2001), penggunaan
eufimisme berlebihan di satu pihak dan penggunaan sarkasme di lain
pihak, maka penggunaan bahasa di surat kabar haruslah memperhatikan
kesantunan berbahasa sebagai upaya membina moral bangsa melalui
bahasa.

Bahasa yang digunakan dalam surat kabar adalah bahasa baku
yang memiliki ciri-ciri yang khas yaitu singkat, jelas, padat, sederhana,
lancar, lugas, dan menarik. Ciri khas ini tentunya juga harus terkait
dengan etika komunikasi atau kesantunan dalam berbahasa.
Penggunaan sarkasme yang berlebihan di media massa akan membuat
masyarakat menjadi terdidik dengan bahasa yang sarkastik. Artinya,
media massa ikut memberi contoh buruk terhadap penggunaan bahasa
yang tidak santun sehingga dapat mempertajam konflik dan membakar
emosi pembaca hanya untuk sekedar melakukan sensasi jurnalistik.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk
menjawab masalah berikut ini: Bagaimanakah sarkasme judul berita di
surat kabar?
2. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini pada hakikatnya adalah mencari jawaban
atas permasalahan yang dikemukakan dalam perumusan masalah yaitu
mendeskripsikan sarkasme di surat kabar.
Kontribusi utama penelitian ini adalah pada bidang pragmatik
bahasa Indonesia. Secara khusus, penelitian ini berkontribusi pada
bagaimanakah sarkasme dalam pemakaiaan bahasa Indonesia pada
judul berita di harian berskala nasional dan daerah. Pembahasan
penelitian ini lebih mengarah pada bentuk yang menjadi kepala berita
di harian tersebut ditinjau dari sarkasme berbahasa dalam surat kabar
berdasarkan teori kesantunan berbahasa. Dengan demikian maka
didapatkan suatu bukti sejauh mana peran penggunaan bahasa di surat
kabar dalam memberikan kontribusi terhadap pembinaan moral bangsa.
3. Tinjauan Pustaka
Bahasa dan daya cipta adalah dua milik manusia yang sangat
penting dan khas. Dapat dikatakan pula bahwa manusia sebagai
individu atau masyarakat. Bahasa adalah wahana penentu satu-satunya
dalam pemprosesan kebudayaan, dan daya cipta yang kreatif. Daya
cipta yang kreatif itu adalah pencipta tunggal kebudayaan itu sendiri,
yang dalam tindakannya nampak dengan memanfaatkan kemungkinankemungkinan
dari segala apa yang disadari adanya oleh manusia.
Kebudayaan pun pada hakikatnya dapat dan mampu berkembang hanya
jika ada bahasa yang kreatif.

Perkembangan kebudayaan melalui bahasa secara praktis terkait
dengan fungsi bahasa itu sendiri. Dengan berjalannya fungsi-fungsi
bahasa maka kebudayaan dapat berkembang dengan baik. Jakobson
(dalam Stern, 1984) mengklasifikasikan fungsi bahasa menjadi lima,
yaitu (1) fungsi emotif atau ekspresif untuk menyatakan perasaan
penutur, (2) fungsi fatik untuk memelihara hubungan sosial antar
masyarakat, (3) fungsi referensial untuk penyebaran informasi, (4)
fungsi puitik untuk menyatakan keindahan, dan (5) fungsi konatif untuk
mengarahkan sikap dan keyakinan.
Dalam upaya memelihara hubungan sosial antar anggota
masyarakat dalam suatu kebudayaan, sarananya adalah bahasa sebagai
alat komunikasi dengan fungsi fatik dan fungsi konatif. Abdul Wahab
(Kompas, 21 juli 2001) menyatakan bahwa fungsi fatik ditentukan
dengan adanya ungkapan yang empan papan, sedangkan fungsi konatif
tercermin dalam ungkapan hormat dan sungkan.
Tidak berjalannya fungsi bahasa, misalnya fungsi fatik dan
konatif, akan berpengaruh terhadap kebudayaan. Hal ini dimungkinkan
sebagaimana diungkapkan Wahab bahwa keberingasan bangsa
merupakan akibat kealpaan penutur asli bahasa Jawa yang telah
mengabaikan stratifikasi bahasa yang sudah tertata rapi, yang
cenderung terpengaruh untuk beringas, kejam, dan tidak mengenal
kesantunan.
Bahasa juga memilki kesopanan dalam berbahasa “unda-usuk
atau sering dikenal kesantunan berbahasa”. Baik dalam ragam
berbahasa lisan maupun dalam ragam bahasa tulis. Ketidaksantunan
dalam bebahasa akan menciptakan ungkapan-ungkapan yang sarkastik
dalam komunikasi. Melalui pembahasan ini diharapakan terdapat
gambaran mengenai penggunaan bahasa, sarkasme dalam
berkomunikasi khususnya dalam bahasa tulis di media massa.
1) Sarkasme
Secara etimologis, sarkasme berasal dari perancis yang bahasa
latinnya sarcasmus asal katanya sarkasmos atau sarkazo. Arti dari
sarkazo itu sendiri adalah daging yang tertusuk atau hati yang tertusuk.
Jadi sarkazo itu adalah sesuatu yang dihujamkan dan menyebabkan
rasa sakit yang mendalam. Dalam perkembangannya kata sarkazo lebih
dikenal dengan kata sarx-sarkos yang artinya menyindir dengan tajam
atau sindiran yang tajam (Webster’s World Encyclopedia, 2000).

Sedangkan dalam penggunaan dewasa ini lebih kita kenal dengan kata
sarcasm atau dalam bahasa Indonesia sarkasme.
Sarkasme adalah penggucapan yang dilakukan secara amat
kasar yang diduga akan menyakiti hati orang lain. Sarkasme adalah
kata-kata yang biasa digunakan untuk pengucapan kata-kata yang pahit
dan kasar. Penggunaan kata-kata ini untuk mengejek, cemooh atau
menyindir yang diduga akan menyakiti hati orang lain dan hal ini
melanggar kesantunan dalam berbahasa. Sarkasme adalah penggunaan
kata-kata yang diduga melanggar kaidah–kaidah kesantunan berbahasa
sehingga menimbulkan efek emosi tertentu, misalnya terhina, sakit hati,
tidak enak, marah, dan lain-lain.
2) Sarkasme Karena Melanggar Prinsip-Prinsip Sopan Santun
Sarkasme merupakan ucapan atau tuturan yang diucapkan
secara amat kasar yang diduga akan menyakiti hati orang lain dan
melanggar prinsip-prinsip sopan santun serta tidak memperhatikan
situasi maka ujaran tersebut dianggap tidak santun. Sebuah tuturan
yang sopan diinterpretasikan sebagai tuturan yang sungguh-sungguh
sopan atau hanya tuturan basa-basi saja. Sistem tindak laku berbahasa
menurut norma-norma budaya disebut etika berbahasa atau tata cara
berbahasa.
Etika berbahasa ini sangat erat berkaitan dengan pemilihan kode
bahasa, norma-norma sosial, dan sistem budaya yang berlaku dalam
satu masyarakat. Oleh karena itu etika berbahasa memiliki atauran (a)
apa yang harus kita katakan pada waktu dan keadaan tertentu kepada
seseorang partisipan tertentu berkenaan dengan status sosial dan
budaya dalam masyarakat itu; (b) ragam bahasa apa yang paling wajar
kita gunakan dalam situasi sosiolinguistik dan budaya tertentu; (c)
kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran berbicara kita, dan
menyela pembicaraan orang lain; (d) kapan kita harus diam; (e)
bagaimana kualitas suara dan sikap fisik kita dalam berbicara itu.
Seseorang dapat dikatakan pandai berbicara apabila menguasai tata
cara atau etika berbahasa itu.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kesantunan
berbahasa adalah sebagai berikut :
(1) kesantunan itu merupakan bagian dari ujaran; jadi bukan ujaran itu
sendiri.
(2) Pendapat pendengarlah yang menentukan apakah kesantunan itu
ada pada ujaran.
(3) Kesantunan itu dikaitkan dengan hak dan kewajiban penyerta
interaksi. Yang artinya apakah ujaran terdengar santun atau tidak
ini diukur berdasarkan apakah si petutur tidak melampaui haknya
kepada lawan bicara dengan apakah si penutur memenuhi
kewajiban kepada lawan bicaranya.
Sopan santun makna berbicara sering kali berhubungan dengan
personal yang bersifat interpersonal atau dapat kita katakan juga etika
berbahasa terkait dengan retorika interpersonal yang memiliki sejumlah
prinsip sopan santun, apabila penutur tidak memperhatikan salah satu
prinsip-prinsip sopan santun dalam retorika interpersonal, sebagai
bagian pembahasan filsafat bahasa terminologi Grice (1981) yang juga
dibahas Leech (1993) sebagai berikut: (1) maksim kearifan, maksim ini
mengungkapkan buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin dan
buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin; (2) maksim
kedermawanan, maksim ini menyatakan buatlah keuntungan diri
sendiri sekecil mungkin dan buatlah kerugian diri sendiri sebesar
mungkin; (3) maksim pujian, maksim ini menyatakan kecamlah orang
lain sedikit mungkin dan pujilah orang sebanyak mungkin; (4) maksim
kerendahan hati, maksim ini menyatakan pujilah diri sendiri sedikit
mungkin; kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin; (5) maksim
kesepakatan, maksim ini menyatakan usahakanlah ketaksepaktan antara
diri dan orang lain terjadi sedikit mungkin dan usahakan agar
kesepakatan antara diri dengan orang lain terjadi sebanyak mungkin;
(6) maksim simpati, .maksim ini menyatakan kurangilah rasa anti pati
antara diri dengan orang lain hingga sekecil mungkin dan tingkatkanlah
rasa simpati sebanyak-banyaknya antara diri dengan orang lain.
Lakoff menyebut tiga kaidah kesantunan yaitu formalitas
(formality), ketegasan (hesitancy) dan persamaaan atau kesekawanan
(eguality or camaraderie). Formalitas yang artinya jangan memaksa
atau jangan angkuh (aloof); ketegasan berarti buatlah sedemikian rupa
sebagai lawan bicara Anda dapat menentukan pilihan; persamaan yang
artinya bertindaklah seolah-olah Anda dan lawan bicara Anda sama
yang berarti pula buatlah ia merasa senang. Jadi sebuah ujaran
dikatakan santun jika tidak terdengar memaksa atau angkuh, Ujaran itu
memberi pilihan tindakan kepada lawan bicara, dan lawan bicara itu
menjadi senang.

3) Sarkasme karena Diksi atau Pilihan Kata
Sarkasme yang penggunaan diksinya tidak pada tempatnya
maka kata-kata tersebut akan terdengan kasar dan tidak santun, dengan
demikian ketepatan dan kesesuaian dan pilihan kata ini perlu
diperhatikan dalam bahasa manapun semua konsep dinyatakan dengan
kata. Kita dapat berbahasa apabila menguasai sejumlah kata-kata.
Ketepatan dan kesesuaian pemilihan kata ini perlu diperhatikan karena
penulisan apapun, baik itu penulisan pada media masa ataupun pada
penulisan ilmiah menginginkan ketepatan dan keajekan baik dalam
makna dan bentuk. Begitu juga yang dilakukan oleh seorang pengarang
untuk mewakili ide-ide ataupun pikiran ke dalam bentuk tulisan
haruslah tepat, karena kata merupakan salah satu unsur dasar penting
bahasa.
Dalam memilih kata ada dua persyaratan harus diperhatikan
yaitu, (1) ketepatan dan (2) kesesuaian. Persyaratan ketepatan
menyangkut makna, aspek logika kata-kata, kata-kata yang dipilih
harus secara tepat mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan.
Dengan demikian, pendengar atau pembaca juga menafsirkan kata-kata
tersebut tepat seperti maksud yang diinginkan. Dalam penggunaan diksi
ini harus diperhatikan, apakah kata-kata itu bermakna konotatif,
denotatif termasuk kata umum, kata khusus dan juga diksi yang baku.
Makna denotatif adalah bahasa kamus atau definisi utama suatu
kata sehingga lawan dari pada konotasi-konotasinya atau makna-makna
yang ada kaitannya dengan, sedangkan makna konotatif adalah segala
sesuatu yang kita pikirkan apabila kita melihat kata tersebut, yang
mungkin dan juga mungkin tidak sesuai dengan makna sebenarnya.
Berdasarkan pengertian di atas maka ragam konotasi dapat dibagi
menjadi, (a) konotasi baik yang mencakup pula konotasi tinggi dan
konotasi ramah; (b) konotasi yang tidak baik mencakup konotasi
berbahaya, tidak pantas, tidak enak, kasar, keras; (c) konotasi netral
atau biasa, yang mencakup pula konotasi bentukkan sekolah, konotasi
kanak-kanak, konotasi hipokoristik, dan konotasi bentuk nonsens
(Tarigan, 1986). Dalam kaitan dengan sarkasme lebih mempersoalkan
penggunaan diksi yang berkonotasi tidak baik.
Konotasi Tinggi bisa terjadi bahwa kata-kata sastra dan klasik
lebih indah dan anggun terdengar oleh telinga umum; oleh karena itu
kita tidak perlu heran bahwa kata-kata seperti itu mendapat konotasi
tinggi atau nilai rasa tinggi. Konotasi Ramah bisa terjadi di dalam
kehidupan sehari-hari yang sering menggunakan bahasa daerah dengan
demikian terjadilah bahasa campuran yang kadang-kadang lebih terasa
ramah dari pada bahasa Indonesia karena hal ini membuat kita merasa
lebih akrab dan dapat saling merasakan satu sama lain; Konotasi
Berbahaya ini erat sekali berhubungan dengan kepercayaan masyarakat
yang bersifat magis. Dalam saat-saat tertentu dalam kehidupan
masyarakat, kita harus berhati-hati mengucapakan suatu kata supaya
jangan terjadi hal-hal yang tidak kita ingini, hal-hal yang mungkin
mendatangkan marabahaya. Konotasi berbahaya juga terkait dengan
efek yang ditimbulkan secara sosial. Konotasi Tidak Pantas dalam
kehidupan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat terdapat sejumlah
kata yang jika diucapkan tidak pada tempatnya, kata-kata tersebut
mendapat nilai rasa yang tidak pantas. Konotasi Tidak Enak ada
sejumlah kata yang karena biasa dipakai dalam hubungan tidak atau
kurang baik, maka tidak enak didengar oleh telinga dan mendapat nilai
rasa yang tidak enak. Konotasi Kasar adakalanya kata-kata yang
dipakai oleh rakyar jelata terdengar kasar dan mendapat nilai rasa
kasar. Konotasi Keras melebih-lebihkan suatu keadaan kita biasa
memakai kata-kata atau ungkapan. Dilihat dari segi arti maka hal itu
dapat disebut hiperbola, dan dari segi nilai rasa atau konotasi hal serupa
itu dapat disebut konotasi keras. Konotasi Bentukan Sekolah bahwa
setiap nilai rasa biasa mempunyai suatu kesejajaran dengan nilai rasa
yang dipelajari atau nilai rasa bentukan sekolah. Konotasi Kanak-
Kanak ini biasa terdapat dalam dunia kanak-kanak. Konotasi
Hipokoristik terutama sekali dipakai dalam dunia kanak-kanak, yaitu
sebutan nama kanak-kanak yang dipendekkan lalu diulang. Konotasi
Bentuk Nonsens sudah sangat lazim dipakai, sama sekali tidak
mengandung arti.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apabila maksud dan
tujuan lain ingin dicapai dan dimengerti oleh pendengar atau pembaca
maka hendaknya kata-kata yang digunakan kata-kata yang sudah
dikenal oleh pendengar atau pembaca. Misalnya kata-kata yang populer
akan lebih cepat dikenal dan lebih efektif dari pada kata-kata yang
muluk-muluk atau kata-kata yang belum dikenal.
4) Sarkasme Karena Keterancaman Muka
Sarkasme dapat terjkadi akibat penggunaan unsur bahasa yang
melanggar teori kesantunan. Teori kesantunan yang paling berpengaruh
diletakkan oleh Brown & Levinson (1978 dan direvisi 1987). Pusat
teori kesantunan Brown & Levinson adalah konsep ‘muka’ (face).
Istilah ‘muka’ bermakna ‘reputasi’ atau ‘nama baik’. Dalam teori
kesantunan ‘muka’ dipahami sebagai perasaan citra diri individual;
citra ini dapat hancur, dipertahankan, atau ditingkatkan melalui
interaksi dengan orang lain. Muka memiliki dua aspek—‘positif’ dan
‘negatif’. Muka positif individu dicerminkan oleh keinginan disukai,
disetujui, dihargai oleh orang lain. Muka negatif individu dicerminkan
oleh keinginan tidak diganggu atau terbebani, memiliki kebebasan
bertindak terhadap suatu pilihan. Sarkasme dikarenakan adanya
keterancaman muka bagi si petutur yang mengakibatkan adanya
keterancaman muka yang mengacu ke citra diri setiap orang yang
dituju.
Menurut Brown & Levinson, tindak ilokusioner tertentu
mungkin menghancurkan atau mengancam muka seseorang, seperti
tindak yang dikenal sebagai ‘face-threatening acts’ (FTAs). Suatu
tindak ilokusi memiliki potensi untuk menghancurkan muka positif
pendengar (dengan menghina atau mengungkapkan ketidaksetujuan
terhadap sesuatu yang diyakini seseorang), atau muka negatif (suatu
perintah yang yang mengenai kebebasan bertindak seseorang); atau
tindak ilokusioner dapat berpotensi menghancurkan muka positif
pembicara sendiri (misalnya, jika harus mengakui telah merusak
pekerjaan) atau muka negatif pembicara (jika pembicara dipojokkan
untuk membuat penawaran bantuan). Untuk mengurangi kemungkinan
kahancuran muka pendengar atau pembicara sendiri perlu mengadopsi
strategi tertentu. Pilihan strategi dibuat berdasarkan penilaian
pembicara tentang ukuran FTA. Pembicara dapat menghitung ukuran
FTA berdasarkan parameter kekuatan (power), jarak (distance), dan
tingkat kerugian (rating of imposition). Hal ini dikombinasikan dengan
nilai-nilai menentukan ‘pembobotan’ keseluruhan FTA yang akan
mempengaruhi strategi yang digunakan.
Jika seorang pembicara memutuskan untuk melakukan FTA,
ada empat kemungkinan: tiga perangkat strategi super ‘on record’
(melakukan FTA on-record tanpa tindakan memperbaiki (bald-onrecord),
melakukan FTA on-record menggunakan kesantunan positif,
melakukan FTA on-record menggunakan kesantunan negatif) dan satu
perangkat strategi ‘off-record’. Jika pembicara memutuskan bahwa
derajat keterancaman muka sangat besar, dia dapat memutuskan
menghindari FTA (dengan kata lain, tidak berkata apa-apa).
Brown dan Levinson, mengatakan bahwa suatu tindak ujaran
atau tindak tutur dapat merupakan ancaman terhadap muka (face
threatening act). Penutur perlu menghitung radiasi (derajat)
keterancaman tindak ujaran yang akan ia ujarkan dengan
mempertimbangkan di dalam situasi yang biasa, faktor-faktor seperti
(1) jarak sosial diantara penutur dan pendengar, (2) besarnya perbedaan
kekuasaan atau dominasi keduanya,dan (3) status relatif tindak ujaran
di dalam kebudayaan yang bersangkutan (artinya, ada tindak ujaran
yang didalam suatu kebudayaan dianggap tidak terlalu mengancam
muka, dan sebagainya) (dalam Goody, 1978). Berdasarkan perkiraan
itulah penutur memilih struktur yang tepat. Apabila penutur tidak
memilih struktur yang tepat maka akan mengakibatkan keterancaman
muka bagi si petutur hal ini dianggap tidak santun. Pilihan lain selain
santun atau netral adalah tidak santun atau sarkastik.
Brown dan Levinson mendasarkan pada nosi muka, sedangkan
Leech mendasarkan pada nosi yang meliputi:(1) biaya dan keuntungan;
(2) kesetujuan; (3) pujian; (4) simpati atau antipati. Keempat nosi ini
dipakai oleh Leech untuk menyusun prinsip kesantunan yang
dijabarkan menjadi enam maksim dalam Leech yang telah jelaskan
pada uraian sebelumnya.
5) Tuturan Yang Netral
Suatu tuturan dikatakan netral karena petutur menganggap
tuturan tersebut netral dan tidak ada prinsip sopan-santun yang
dilanggar, kata yang digunakan tidak memiliki konotasi tidak baik, atau
tidak adanya keterancaman muka yang muncul. Dalam segala aspek
yang ditimbulkan itu netral dan bagi si petutur hal ini tidak menjadi
masalah.
6) Judul Berita sebagai Bentuk Pertuturan
Komunikasi meliputi pemindahan informasi dari satu dunia
individu ke dunia individu atau kelompok yang lain, dari satu latar
skemata ke latar skemata yang lainnya. Informasi antarindividu saling
dipertukarkan melalui sistem simbol atau tingkah laku. Jadi ada tiga hal
yang selalu terlibat dalam peristiwa komunikasi, yaitu pihak yang
berkomunikasi, informasi yang dikomunikasikan, dan medium
komunikasi.
Analisis tindak tutur adalah tugas ilmu pragmatik yang
bertujuan memberikan pemerian penggunaan bahasa yang dilakukan
partisipan dalam situasi tertentu. Dalam setiap peristiwa komunikasi
dengan bahasa selalu ada “pembicara” (B) dan “pendengar (D).
Biasanya situasi (S) tempat B dan D berkomunikasi merupakan salah
satu yang juga ada. Selanjutnya partisipan melakukan tindak bahasa
(T). Pada saat melakukan T, B secara simultan mengujarkan bunyi (u),
menghasilkan tindak proposisi (p), dan tindak ilokusi (i). Gambar
berikut menggambarkan wacana sehari-hari.
B1 — T1 — D1 B2 — T2 — D2
S1 S2
T1 = {u1, p1, i1) T2 = {u2, p2, i2)
Tindak tutur T1 dan T2 berbeda karena situasinya berbeda.
Teks, dengan kata lain, adalah tindak tutur yang terpisah dari situasi
ruang dan waktunya yang asli, dan dihadirkan kembali ke dalam
susunan ruang-dan-waktu yang lain. Teks menggantikan batas-batas
komunikasi bersemuka (face-to-face). Teks dalam hal ini menjadi
pembawa informasi, dapat memindahkan pengetahuan melampaui
ruang dan waktu. Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut.
S1: B1 T1 D1
S2: B2 T2 D2
=

Dengan demikian judul berita sebagai bagian teks surat kabar
secara keseluruhan juga merupakan sebuah pertuturan.
4. Metodologi Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah studi deskriptif kualitatif.
Penelitian ini bertujuan mendapatkan deskripsi memadai tentang
sarkasme judul berita surat kabar Untuk tujuan ini digunakan metode
analisis isi (content analysis) yang memang menganalisis kecenderungan
(trends) dan pola (patterns) (Krippendorf, 1991) yang ditentukan
oleh teori kesantunan berbahasa atau berkomunikasi.
Subjek penelitian adalah judul berita dalam surat kabar berskala
nasional Rakyat Merdeka, Koran Tempo, dan Kompas; dan skala
daerah (Bengkulu Ekspress, Semarak Bengkulu di Bengkulu) yang
ditentukan secara purposive sampling. Data akan dijaring selama satu
blok waktu penelitian. Data diambil dalam blok waktu penelitian antara
tahun 2001 hingga 2003.
Teknik analisis data digunakan untuk menemukan kecenderungan
sarkasme berdasarkan teori kesantunan. Langkah yang
dilakukan dalam analisis data adalah sebagai berikut:
(1) Judul berita dikumpulkan berdasarkan kelompok surat kabar yang
ditetapkan yakni surat kabar yang bersifat lokal dan surat kabar
yang berisifat nasional. Surat kabar ini dikumpulkan selama satu
blok waktu. Data yang berasal dari satu surat kabar dikelompokan
dalam satu tabel. Jadi tiap-tiap surat kabar memiliki satu tabel.
Dalam tabel terdiri dari beberapa kolom. Kolom pertama berisikan
nomor urut, yang kedua prinsip-prinsip sopan santun, kolom yang
ke ketiga kategori diksi, kolom yang keempat keterancaman muka.
(2) Mengklasifikasikan data berdasarkan prinsip-prinsip sopan santun
yang ditinjau dari ragam bahasa atau kesantunan berbahasa.
(3) Menganalisis data dan menafsirkan data sarkasme atau eufemisme
yang ditinjau kesantunan berbahasa.
(4) Menarik kesimpulan.
5. Hasil Penelitian Dan Pembahasan
1) Hasil Penelitian
Berikut ini disajikan hasil penelitian mengenai sarkasme dalam
judul berita surat kabar. Pengsarkasmean judul berita surat kabar terjadi
karena melanggar prinsip-prinsip sopan santun, yaitu pada maksim
kearifan, kedermawanan, pujian, kerendahan hati, kesepakatan, dan
simpati. Sarkasme karena diksi yang berkategori berbahaya, tidak
pantas, tidak enak, kasar, dan keras. Pengasrkasmean yang melanggar
nosi muka, muka positif dan muka negatif.
Berdasarkan hal di atas, maka data yang diperoleh dari berbagai
judul surat kabar (Bengkulu Ekspress, Semarak Bengkulu, Kompas,
Tempo, dan Rakyat Merdeka) berjumlah 100 judul. Dari 100 judul
yang dianalisis, terdapat 41 judul (41%) yang mengandung tuturan
sarkasme, sedangkan yang netral berjumlah 59 judul (59%). Lihat
tabulasi data berikut ini.
Tabulasi Data
Penyebab Sarkasme
Prinsip SS (A) Diksi (B) Keterancaman
Muka (C)
Sarkasme Netral Nama Media
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Positif Negatif
BE 0 0 7 0 1 0 0 4 6 7 10 2 17 3
SB 0 0 2 0 0 0 0 1 4 0 4 2 4 16
KOM 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 19
K TEMP 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 20
RAKMER 0 0 9 0 0 0 2 4 9 7 12 4 19 1
0 0 19 0 1 26 0 2 9 19 14 28 8 41 % 59% JUMLAH
46 44 36
Surat kabar yang paling banyak membuat judul yang
mengandung makna sarkasme adalah Rakyat Merdeka (19 atau 46,3%)
dan Bengkulu Ekspres (17 atau 41,5%). Surat kabar Semarak Bengkulu
hanya 9,8%. Sedangkan surat kabar yang nyaris tidak membuat judul
yang mengandung makna sarkasme adalah Koran Tempo dan Kompas.
Hal-hal yang menyebabkan suatu judul mengandung sarkasme
dalam penelitian ini difiokuskan kepada tiga hal, yaitu pelanggaran
maksim sopan-santun, diksi, dan nosi keterancaman muka. Setiap judul
yang dianalisis ada kemungkinan melanggar A (prinsip sopan santun),
B (diksi), dan C (nosi keterancaman muka), gabungan B dan C, B saja
atau C saja. Maksim sopan santun yang banyak dilanggar adalah
maksim pujian 19 (atau 41,3% dari jumlah pelanggaran prinsip sopan
santun) dan maksim simpati 26 (56,5% dari jumlah pelanggaran prinsip
sopan santun). Pelanggaran oleh karena pilihan kata (diksi) terkait
dengan pelanggaran prinsip sopan santun. Diksi yang berkonotasi tidak
baik yang juga mengandung makna sarkastik dalam penelitian ini
adalah konotasi tidak pantas (2), konotasi tidak enak (9), konotasi kasar
(19), dan konotasi keras (14). Nosi keterancaman muka dalam data di
atas, mengancam muka positif (28) dan muka negatif (8).
Data tuturan yang mengandung sarkasme akibat pelanggaran
prinsip sopan santun, lebih banyak karena pelanggaran maksim pujian
dan simpati. Hal ini ditunjukkan dengan judul yang isinya mengecam
dan bersikap antipati. Perhatikan judul berikut ini.
Di Mata Mahasiswa, Megawati Penakut
Ayo Mega! Yang Banyak Ngomong.
Cak Nur Jangan Banyak Omong
Dibilang Tidak Waras, Gus Dur Biarkan Saja
DPR Masukin Comberan
Wakil Rakyat Kok, Takut Sama Rakyatnya
Maklumat=Maklum Mau Tamat
Unsur Lonte dalam Pendidikan Nasional Kita
Kecoa dan Dinosaurus Mau Jadi Presiden
Matori Disuruh Sekolah Lagi
Contoh judul berita di atas dianggap tidak santun karena
melanggar penentu kesantunan berbahasa, yaitu melanggar prinsip
sopan santun pada maksim pujian. Maksim ini menyatakan bahwa agar
dianggap santun maka kecamlah orang lain sedikit mungkin; pujilah
orang lain sebanyak mungkin. Contoh judul berita di atas menunjukkan
bahwa judul tersebut sebagai tuturan yang lebih banyak mengecam
orang lain.
Sedangkan kategori diksi yang dominan adalah yang
berkonotasi tidak enak, kasar, dan keras. Nilai rasa tertentu yang
berkesan “kasar” muncul akibat suatu kata yang dipilih tanpa
memperhitungkan konteks komunikasi, penutur dan petutur, media
penuturan, dan lain-lain. Diksi semacam ini digunakan untuk
mengecam dan menunjukkan sikap antipati. Kata-kata yang digunakan
antara lain: penakut, pengecut, masukin comberan, brengsek, disuruh
sekolah lagi, kok loyo, unsur lonte, kecoa dan dinosaurus.
Kecaman dan sikap antipati yang ditunjukkan dengan kata-kata
yang berkonotasi tidak baik pada akhirnya akan mengancam muka
penerima tuturan. Data menunjukkan muka positif lebih banyak
kemungkinan terancam, yaitu mengancam keinginan orang untuk
disukai, dihargai, dan disetujui. Muka negatif yang terancam lebih
mengarah kepada kewenangan penerima tutur untuk tidak merasa
terganggu, terbebani, dan kebebasan memilih tindakan atas keinginan
sendiri. Dalam kaitan muka negatif ini penerima tutur biasanya pejabat
negara yang memiliki kewenangan tertentu.
2) Pembahasan
Pembahasan ini berkenaan dengan tujuan pengsarkasmean yang
didasarkan pada fakta gejala pengsarkasmean yang tidak lagi hanya
untuk menghindari penggunaan kata yang berkonotasi halus, tetapi juga
karena sarkasme melanggar prinsip sopan-santun dan mengancam
muka.
Berdasarkan hasil penelitian pelanggaran prinsip sopan santun
yang terbanyak adalah pada maksim pujian dan maksim simpati. Ini
berarti bahwa tuturan judul berita surat kabar memiliki kecenderungan
untuk mengecam (yang diistilahkan oleh redaktur surat kabar
bersangkutan dengan “mengkritik” atau “kontrol oleh pers”) dan
menunjukkan secara terbuka sikap antipati. Kedua hal ini ditunjukkan
dengan pemilihan kata yang berkonotasi kurang baik dan pada tahap
selanjutnya sangat terkait dengan tindakan mengancam muka, baik itu
muka positif maupun muka negatif.
Dalam bidang hubungan antar-orang dan komunikasi yang
efektif, mengecam, sikap antipati, dan tindak mengancam muka
cenderung menghasilkan penciptaan hubungan yang negatif. Pesan atau
kritik yang ingin disampaikan biasanya lalu menjadi mubazir karena
orang cenderung mengambil sikap bertahan jika diserang. Jika serangan
dianggap terlalu sering dan melampaui batas maka aksi berikutnya
adalah menyerang balik. Serangan balik dalam komunikasi melalui
surat kabar dapat berupa polemik atau penggunaan hak jawab. Selain
itu ada juga yang menggunakan jalur hukum, dan ini nampaknya yang
lebih banyak dipilih. Sebut saja misalnya, kasus Texmaco dengan
harian Kompas, kasus tanah abang dengan majalah Tempo. Meski
untuk kedua media ini kasusnya lebih banyak mengarah kepada
kebenaran fakta pemberitaan.
Surat kabar yang telah terkenal dan dikenal luas dalam
penelitian ini sangat sedikit sekali atau tidak memiliki judul yang
mengandung sarkasme, misalnya Kompas dan Koran Tempo.
Sebaliknya surat kabar lokal (Bengkulu Ekspress) atau surat kabar yang
muncul pada era reformasi (misalnya, Rakyat Merdeka) cenderung
banyak menampilkan judul-judul yang mengandung sarkasme. Surat
kabar Rakyat Merdeka bahkan sepertinya menggunakan bentuk
sarkasme sebagai gaya penulisan pemberitaannya, meski untuk hal ini
perlu pengkajian lebih mendalam.
Pemberitaan gaya Rakyat Merdeka semacam itu berakibat pada
adanya tuntutan pidana oleh pengadilan oleh pihak atau orang yang
merasa dirugikan. Yang sangat menonjol adalah adanya tuntutan pidana
karena adanya pemberitaan yang menghina Presiden RI1 dan tuntutan
Akbar Tandjung terhadap Rakyat Merdeka dalam kasus pencemaran
nama baik (Rakyat Merdeka, 11 Juni 2003)2. Dalam pemberitaan yang
dimuat Rakyat Merdeka (11 Juni 2003) Tim Pembela Rakyat Merdeka
mengajukan permintaan penjelasan tentang definisi melanggar
kesopanan, karena tidak ada aturan baku yang mengatur hal itu.
Penelitian ini diharapkan dapat membantu mengenai penjelasan
pelanggaran teori kesantunan ditinjau dari penggunaan bahasa.
Bentuk sarkasme yang ditampilkan oleh media massa sedikit
banyak akan mempengaruhi gaya berkomunikasi masyarakat.
Sebagaimana telah diungkapkan Derek Walcott pemenang hadiah nobel
kesusastraan 1992 dimuka bahwa bahasa adalah titik sentral
kebudayaan, dan kebudayaan akan menjadi amburadul bila masyarakat
mulai kehilangan hormatnya terhadap bahasa (Jatmiko, 1995). Bersikap
santun dalam berbahasa bukanlah selalu berarti bersikap hipokrit, dan
bersikap sarkastik dalam berbahasa tidak juga mencerminkan suatu
sikap terbuka dan demokratis. Kebenaran adalah tetap sebuah
kebenaran, bagaimana cara menyampaikan atau berkomunikasi tentang
kebenaran adalah soal lain. Strategi berbahasa (berkomunikasi)
memberikan sarana untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang
santun dan lebih efektif.
Prinsip sopan santun dalam berbahasa, penggunaan diksi
berkonotasi baik, dan teori kesantunan nosi muka adalah strategi
berbahasa yang santun dan efektif. Penggunaan bahasa yang keras dan
tidak santun yang diungkapkan para elite politik dan media massa
diyakini menjadi penyebab masyarakat yang menganut budaya
1 Hal ini termuat dalam berita “Judul Sumanto Dianggap Keterlaluan Megawati
Nggak Bisa Tidur” (Rakyat Merdeka, 22 Maret 2003) dan “Kalau Presiden Salah Pers
Wajib Mengkritik” (Rakyat Merdeka, 15 Juni 2003).
2 Pencemaran nama baik ini terkait dengan pemuatan foto ilustrasi berita “Akbar
Dihabisi Golkar Nangis Darah” edisi 8 Januari 2002.
kekerasan (Kompas, 16 Januari 2001) karena dinamika bahasa sangat
bergantung pada komando bahasa yang dipegang oleh elite dan media
massa.
Sarkasme atau eufimisme dalam makna ekstrem tidak cocok
untuk berkomunikasi yang efektif dan berhasil. Penggunaan salah satu
dari kedua hal tersebut tetap dapat efektif jika konteksnya tepat.
Artinya, sarkasme dan eufimisme sebagai suatu strategi berbahasa tetap
dapat digunakan jika situasi, kondisi, dan konteksnya memang
memerlukan strategi tersebut. Pilihan netral dan lebih masuk akal untuk
berkomunikasi secara efektif dan berhasil adalah penggunaan teori
kesantunan berbahasa.
6. Kesimpulan dan Saran
1) Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat
disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
a. Surat kabar berskala nasional dan telah dikenal luas, dalam hal ini
adalah Kompas dan Koran Tempo, cenderung kurang menampilkan
judul yang mengandung makna sarkasme dibanding dengan koran
lokal atau yang belum dikenal luas (Bengkulu Ekspress dan Rakyat
Merdeka).
b. Pelanggaran prinsip sopan santun yang memungkinkan munculnya
muatan sarkasme adalah pelanggaran maksim pujian dan maksim
simpati.
c. Sarkasme yang diakibatkan oleh penggunaan diksi yang berkonotasi
kurang baik adalah penggunaan kata-kata yang berkonotasi tidak
enak, kasar, dan keras.
d. Tindak tuturan judul berita yang mengandung makna sarkasme
akibat pelanggaran prinsip sopan santun dan diksi yang berkonotasi
kurang baik sekaligus berarti tindak tuturan tersebut mengancam
muka positif dan negatif.
e. Prinsip sopan santun, penggunaan diksi yang berkonotasi baik, dan
tindak tutur yang tidak mengancam muka adalah pilihan strategi
berbahasa yang efektif dalam berkomunikasi yang santun dan
berbudaya dibanding penggunaan sarkasme atau eufimisme.

2) Saran
Sarkasme yang terdapat dalam judul berita surat kabar yang
mengarah kepada pembudayaan jurnalisme yang kurang santun
bukanlah cerminan kebebasan menyatakan pendapat. Kebebasan
berpendapat dapat diungkapkan dengan cara berbahasa yang santun
atau yang tidak santun. Dalam upaya untuk mencapai kesepakatan dari
pihak pengritik dan yang dikritik atau yang berpendapat dan penerima
pendapat maka cara yang santun lebih diupayakan dalam
menyampaikan gagasan karena hal ini lebih menjamin keberhasilan
interaksi komunikasi sosial dalam konteks berbahasa dan berbangsa.
Penggunaan sarkasme yang berlebihan adalah cermin
pembudayaan kekerasan. Pembudayaan kekerasan yang nampak makin
banyak di masyarakat dapat diminimalkan oleh gaya pemberitaan surat
kabar. Bentuk pembudayaan kekerasan yang ada di masyarakat,
misalnya unjuk rasa yang memaksakan kehendak dan anarkis, gaya
berkomunikasi para elit politik yang dikutip secara langsung oleh
media, ungkapan peringatan di jalan-jalan di Jakarta (misalnya,
spanduk “lu jual gua beli”, “ngebut benjut”, “dilarang kencing di sini
kecuali anjing”, dan lain-lain). Pembudayaan kekerasan sebaiknya
diubah menjadi gerakan pembudayaan kelembutan, keramahan,
kesantunan. Misalnya dengan memperbanyak ungkapan-ungkapan
yang menyejukkan, seperti “terima kasih untuk tidak merokok”, “anda
adalah pencinta kebersihan dan keindahan”, “damai itu indah”, “lebih
nyaman persaudaraan dari pada tawuran” dan menulis ulang ungkapan
para elit politik yang sarkastik.
Penelitian lanjutan yang terkait dengan hasil penelitian ini
adalah efek sarkasme terhadap kemampuan masyarakat memberi
penilaian kepada bentuk bahasa yang santun dan yang tidak santun. Di
samping itu perlu juga dikaji lebih lanjut tentang sarkasme yang
terdapat di pemberitaan berbagai media atau berupa perluasan data dari
berbagai media cetak. Jika sarkasme dalam penelitian ini lebih banyak
membahas data judul yang bermuatan politik maka sarkasme yang
bernuansa pornografi juga tak kalah banyaknya terjadi di media massa.

DAFTAR PUSTAKA
Beckett, Samuel. 1974. Text for Nothing. London: Clader 7 Boyars.
Brown, P., S. Levinson. 1978. “Universals in Language Usage:
Politeness Phenomena” dalam E.N. Goody (ed.). Questions and
Politeness in Social Interaction. Cambridge: CUP.
Brown, P., S. Levinson. 1996. Politeness, Some Universals in
Language Usage. Cambridge: CUP.
Dijk, Teun A. van. 1977. Text and Context, Exploration in the
Semantics and Pragmatics of Discourse. London: Longman
Group Ltd.
Eelen, Gino. 2001. A Critique of Politeness Theory. Manchester, UK:
St. Jerome.
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media.
Yogyakarta: LkiS.
Grice, H.P. 1981. “Presupposition and Conversational Implicature”
dalam Cole, P. (ed.) Radical Pragmatics. New York: Academic
Press.
Halliday, M.A.K. 1981. An Introduction to Functional Grammar.
London: Edward Arnold.
Hymes, Dell. 1974. Foundations in Sociolinguistics: An Ethnographic
Approach. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
Ibrahim, Abdul Syukur. 1994. Panduan Penelitian Etnografi
Komunikasi. Surabaya: Usaha Nasional.
Jatmiko, Teguh A. 1995. “Penyair Harap Minggir”. Jawa Pos, 29-10-
1995.
Kompas, 16 Januari 2001; 22 Maret 2001; 21 Juli 2001; dan 10
November 2001.
Krippendorf, Klaus. 1991. Analisis Isi. Jakarta: Rajawali
Lauder, Multamia R.M.T. 1998. “Pengembangan bahasa Indonesia
Melalui Penelitian” dalam Bahasa Indonesia Menjelang Tahun
19
2000. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
Depdikbud.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: UI Press.
Moleong, Lexi J. 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Remaja Karya.
McCarthy, M., 1991. Discourse Analysis for Language Teachers.
Cambridge: CUP.
Ricouer, P. 1996. Interpretation Theory: Discourse and Surplus
Meaning (Terj.). Jakarta: P3B Depdikbud.
Rusbiantoro, Dadang. 2001. Bahasa Dekonstruksi ala Foucault dan
Derrida. Yogyakarta: Tiara wacana.
Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Stern, H.H. 1984. Fundamental Concepts of Language Teaching.
Oxford: Oxford University Press.
Tarigan, H.G. 1986. Pengajaran Kosa Kata. Bandung: Angkasa.
Trianto Agus. 1999. Kajian Bandingan Kesantunan Bentuk Ujaran
Direktif Antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Lembak. Lembaga
Penelitian Universitas Bengkulu.
Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik Pengajaran Bahasa dan Sastra.
Surabaya: Airlangga University Press.
Webster’s World Encyclopedia. 2000. Program CD.
Wibisono, C. 1991. Pengetahuan Dasar Jurnalistik Media Sejahtera.
Jakarta: Depdikbud.
20
BIODATA PENULIS
Dr. Agus Trianto, M.Pd adalah dosen tetap pada FKIP Universitas
Bengkulu, Konsultan Pendidikan, Pendiri The Education
Development Center Indonesia, mantan redaktur majalah PRO,
Bank & Bisnis. Alamat: UNIB Permai Blok II-C No. 84
Pematang Gubernur Bengkulu 38125, Telp. 0736-7310241,
ponsel 08151660309, email agustrianto17@yahoo.com. Blog:
agustrianto17.blogspot.com. Penulis buku teks PASTI BISA
(Pembahasan Tuntas Kompetensi Bahasa Indonesia) untuk SMP,
ESIS Erlangga, 2007 dan buku English for Modern Policing
untuk Sekolah Bahasa POLRI.

Agus Trianto
FKIP Universitas Bengkulu

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

About these ads

2 Tanggapan

  1. mearik masalah yang dibahas dalam makalah ini. Memang media masa memegang perananan peting(pengaruh) dalam penggunaan bahasa oleh masyarakat. Oleh karena itu peran serta pengamat bahasa dalam dunia media masa perlu ditingkatkan. Tugas ini tidak hanya menjadi tugas Pusat Bahasa tapi perlu dukungan dan kesadaran dari berbagai pihak.

  2. Like this…
    Jelas bgt…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: