Jejak Langkah Majalah Sekolah: Ekspresi Semangat Keremajaan

ABSTRACT
School magazine is one of the discourse to guide
and develop the youth potential to produce the reliable
and cultured writers. The identities of the homogenious
readers produce greetings, interjections, superlatives,
negation, conjunction, code mix, the infinite forms to
express intimacy, and familiarity. This causes the use of
the language rules not consistently especially in the
rubrics for readers’ letters, editors, and the rubrics
dealing with youth lives (musics, humours, talk show,
and news). Deviaton decreases in the rubrics of opinion,
article, religious reflection, talk show with the teachers
or head masters. In this way the language use is not
necessary to be worried to disrupt Indonesian language.
The content of the magazine varies from the topics in
the school (various school activities, sports, art, the
profiles of the teachers and students, etc.), in the region
(graffiti, sickness, city master plan, etc.), in the state
(education, natioal exam, illigal logging, national
commemoration, etc.), to those in the world (global
warming, AIDS, etc.)
Key words: content, editor, language, rules, school
magazine, youth.
1. Pendahuluan
Majalah sekolah pada umumnya merupakan salah satu bentuk
kegiatan ekstra kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan minat
dan bakat siswa dalam hal jurnalistik. Mengingat majalah sekolah
menuntut penanganan khusus, penentuan pengurus redaksinya biasanya
melalui seleksi. Hal tersebut dapat penulis ketahui melalui wawancara
dan pernyataan yang muncul pada salah satu pengantar redaksi
MABOSA yang mengemukakan, “Para awak baru, yang tentu akan
membawa ide-ide baru, pemikiran, dan, tenaga baru ini adalah orangorang
yang terpilih setelah melalui serangkaian seleksi redaksi”
(Desember 2007: 3).
Sebagai salah satu wadah penyaluran dan pengembangan minat
dan bakat menulis, majalah sekolah dapat digunakan sebagai lahan
persemaian benih-benih penulis muda. Oleh karena itu, bagi siswa yang
berbakat dapat melakukan uji kompetensi lanjutan dengan
memublikasikan tulisannya melalui majalah atau tabloid komersial
seperti Hai, Aneka, Bobo, Gaul, Suara Merdeka Anak, dan lain-lain.
Sebagai lahan penyaluran dan pengembangan minat dan bakat
menulis, majalah sekolah seperti Aquila terbukti telah melahirkan
penulis-penulis handal dan bermartabat di Republik Indonesia ini.
Nama itu sendiri diciptakan oleh penulis dan pemikir handal Alm N.
Driyarkara. Aquila berarti ‘rajawali’ dan merupakan akronim dari
Augeammus Quam Impensissime Lauden Altissimi. Ungkapan dalam
bahasa Latin tersebut kira-kira terjemahannya ialah ‘Marilah kita
tumbuh berkembang sekuat tenaga menambah keluhuran Yang
Mahatinggi’ (Sudiarja, dkk., 2006: xxiii-xxiv). Majalah Seminari
Menengah Mertoyudan tersebut, sampai saat ini sudah berusia 78
tahun.
Dalam tulisan ini, secara khusus dibahas mengenai karakteristik
bahasa dan isi sebagai ekspresi yang mencerminkan semangat
keremajaan.
2. Pengertian
Kata jejak mengingatkan penulis pada kegiatan pramuka yang
penulis geluti. Dalam pramuka kata jejak sering diartikan sebagai
sesuatu yang ditinggalkan agar dapat menjadi petunjuk untuk menuju
suatu tempat atau menemukan sesuatu. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2002: 464) kata jejak memiliki empat pengertian. Pengertian
pertama ‘bekas tapak kaki; bekas langkah’, kedua ‘jatuhnya kaki di
tanah’, dsb, ketiga ‘tingkah laku (perbuatan) yang telah dilakukan’,
Majalah AQUILA dipilih sebagai satu-satunya majalah sekolah di luar Yogyakarta
karena memiliki pengalaman dan usia yang cukup panjang. Tahun 2008 ini sudah
memasuki usia 78 tahun.
keempat ‘bekas yang menunjukkan adanya perbuatan dsb yang telah
dilakukan’. Dalam tulisan ini pengertian jejak yang paling sesuai
adalah pengertian yang keempat.
Kata langkah pada kehidupan sehari-hari menunjukkan gerak
maju. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 635) langkah
memiliki empat pengertian. Pengertian pertama ‘gerakan kaki (ke
depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan) waktu berjalan’. Kedua ‘jarak
antara kedua kaki waktu melangkah ke muka (waktu berjalan)’. Ketiga
‘sikap; tindak tanduk; perbuatan’. Keempat ‘tahap; bagian’. Dalam
tulisan ini pengertian langkah yang paling sesuai adalah pengertian
yang ketiga.
Istilah jejak dan langkah juga mengikuti pandangan Sudaryanto.
Sudaryanto menggunakan istilah tersebut untuk membedakan dua sisi
kebudayaan, yaitu sebagai hasil dan sebagai proses. Sebagai hasil
kegiatan, kebudayaan itu “terpisah” dari sang manusia: dia merupakan
JEJAK; sedangkan sebagai proses kegiatan, kebudayaan itu
“sinambung” dengan sang manusia: dia merupakan LANGKAH (1999:
11).
Pengertian majalah sekolah adalah majalah yang diterbitkan
oleh sekolah dan biasanya dikelola oleh siswa, khususnya pada tingkat
SMA. Kata ekspresi dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
sebagai ‘pengungkapan atau proses menyatakan (yaitu memperlihatkan
atau menyatakan maksud, gagasan, perasaan, dsb.)’ (2002: 201).
Konstruksi frasa semangat keremajaan berarti jiwa atau dinamika yang
menunjukkan perilaku seseorang yang menunjukkan ciri pada tahap
perkembangan masa remaja.
3. Semangat Keremajaan
Perkembangan remaja dimulai dengan masa puber, yaitu umur
kurang lebih antara 12-14 tahun. Masa puber atau permulaan remaja
adalah suatu masa saat perkembangan fisik dan intelektual berkembang
sangat cepat. Pertengahan masa remaja adalah masa yang lebih stabil
untuk menyesuaikan diri dan berintegrasi dengan perubahan permulaan
remaja, kira-kira umur 14 tahun sampai umur 16 tahun. Remaja akhir
yang kira-kira berumur 18 tahun sampai umur 20 tahun ditandai dengan
transisi untuk mulai bertanggung jawab, membuat pilihan, dan
berkesempatan untuk mulai menjadi dewasa (Djiwandono, 2006: 93-4).

Anak usia SMA berkisar antara 14-19 tahun. Tahap
perkembangan tersebut oleh Ki Hadjar Dewantara disebut sebagai masa
dewasa. Lebih lanjut beliau mengemukakan, tentang periode yang ke-3
(14-21 tahun), inipun amat penting pula. Kepentingan ini terbuktilah
dari namanya. Seperti kita ketahui, periode ke-3 ini sering disebut juga
masa pubertet ke-2 (waktu menjadi masak yang ke-2 kalinya). Adapun
masa pubertet yang ke-1 yaitu umur lebih kurang 3½-7 tahun. Dalam
masa pubertet ke-1 itu anak-anak menjadi masak sebagai anak manusia
(sebab tadinya masih berdekatan dengan sifat khewani), sedangkan
pada masa pubertet ke-2 itu anak-anak akan masak sebagai manusia.
Dalam ilmu pendidikan diterangkan, bahwa segala pengalaman dari
pemuda-pemuda pada waktu itu akan turut membentuk watak atau budi
pekertinya, buat selama hidupnya (Tauchid, 2004: 446).
Dalam pandangan Piaget, masa remaja merupakan masa transisi
dari penggunaan berpikir konkret secara operasional ke berpikir formal
secara operasional (Djiwandono, 2006: 96). Ihwal perkembangan masa
remaja, Djiwandono (2006: 94-115) mengemukakan lima hal yang
meliputi perkembangan fisik, kognitif, sosioemosional, pengajaran di
SMP dan SMA, dan masalah-masalah remaja. Kelima hal tersebut
dijabarkan pada uraian berikut.
a. Perkembangan fisik
Rentang waktu perkembangan masa remaja yang dimulai dari
masa pubertas, ditandai dengan kematangan alat-alat reproduksi. Oleh
karena itu, remaja mulai meminati masalah seksual, tertarik pada mitra
jenis dengan memberi perhatian dan minta perhatian, berfantasi
masalah erotik dan sebagainya. Kematangan reproduksi dan minatnya
pada masalah seksual perlu mendapat penyaluran yang positif agar
mendukung perkembangan intelektual, emosional, sosial, moral, dan
fisiknya.
b. Perkembangan kognitif
Terjadi perubahan fungsi otak. Hal tersebut ditandai dengan
adanya lonjakan kemampuan intelegensi. Anak akan beralih dari
berpikir konkret operasional ke formal operasional. Hal tersebut
memungkinkan untuk mengombinasikan aneka fenomena untuk
menghasilkan satu gagasan yang komprehensif.
c. Perkembangan sosioemosional
Pada tahap ini anak mulai sanggup membedakan dan memilah
mengenai apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan. Kondisi
tersebut memungkinkan anak melakukan koreksi diri dengan
membanding-bandingkan keadaan dirinya dengan sesamanya. Oleh
karena itu, anak berusaha mencari sosok ideal yang dikaguminya dan
menjadi idola dirinya, seperti bintang film, olahragawan, tokoh politik,
dan sebagainya.
d. Pengajaran di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah
Menengah Atas
Mengingat masa remaja merupakan masa transisi, pengajaran di
sekolah perlu menaruh perhatian pada upaya untuk mendorong
perkembangan kognitif. Hal tersebut berimplikasi pada penyusunan
kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa.
Berikutnya adalah mendorong perkembangan sosioemosional. Hal
tersebut dapat diperlihatkan melalui penyusunan kurikulum yang
berimbang yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual,
sosial, dan emosional, agar perkembangan pribadi dan sosialnya
berjalan seimbang.
e. Masalah-masalah remaja
Sebagai masa transisi, masa remaja sangat rawan terhadap
persoalan-persoalan yang menyimpang dari norma-norma agama,
hukum, sosial, dan moral. Hal tersebut untuk membuktikan
kemampuannya mengatasi dominasi orang dewasa dan sekaligus
sebagai upaya menunjukkan kemandirian dirinya. Beberapa masalah
yang lazim terjadi adalah kenakalan remaja, gangguan emosi,
penyalahgunaan obat bius dan alkohol, dan kehamilan sebelum
menikah.
4. Bahasa sebagai Cermin Semangat Keremajaan
Dengan mengikuti uraian Moeliono, yang memerinci ragam
bahasa ditinjau dari sudut pandangan penutur dapat dikelompokkan
berdasarkan tiga patokan, yaitu: (1) daerah, (2) pendidikan, dan (3)
sikap penutur (1980: 17). Khusus yang berkaitan dengan sikap penutur
dikatakan bahwa ragam bahasa menurut sikap penutur mencakup
sejumlah corak bahasa Indonesia yang masing-masing pada asasnya
tersedia bagi tiap pemakai bahasa. Ragam ini, yang dapat disebut
langgam atau gaya, pemilihannya bergantung pada sikap penutur
terhadap orang yang diajak berbicara atau terhadap pembacanya.
Sikapnya itu dipengaruhi, antara lain, oleh umur dan kedudukan yang
disapa, pokok persoalan yang hendak disampaikannya, dan tujuan
penyampaian informasi (1980: 19).
Bertumpu pada pandangan di atas, majalah sekolah merupakan
majalah yang dikelola oleh siswa sekolah yang tertentu dan lingkup
pembacanya yang utama adalah teman-teman sekolah yang sebaya
dengan rentang usia 14-19 tahun.
Bahasa sebagai cermin semangat keremajaan dapat
diidentifikasi berdasarkan pilihan kata, cara penulisan kata, dan
penyimpangan-penyimpangan dari kaidah baku sebagai upaya untuk
menciptakan keakraban dan kemesraan relasi, seperti tampak pada
uraian berikut.
a. Surat Redaksi
Surat redaksi memiliki istilah yang beragam, yaitu Salam
Redaksi, Dari Redaksi, Kata Qta, Surat Redaksi, Suara Aquila, dan
Tajuk (Lihat Lampiran 1). Semua majalah yang menjadi sumber data
senantiasa menyebutkan tema dengan rincian secara menyeluruh atau
sebagian. Surat redaksi pada sebagian majalah cenderung
mengyisipkan sapaan, interjeksi, onomatope yang cenderung ekspresif
dan mencerminkan karakter remaja yang menghendaki keakraban dan
kemesraan relasi antara redaksi dengan pembaca, seperti tampak pada
contoh berikut.
1) Hiiii, Delayoters
Tak disangka udah 1 semester yap kita tak bersua??? Naah, kalo
kalian nggak suka baca yang namanya sekapur sirih, yang ini
namanya salam redaksi!
Sebelumnya kita mau minta maaf neh, kalo Bullpakç terbitnya
lamaaaa banget karena perlu kalian ketahui bahwa, membuat
majalah itu nggak gampang. Selain itu ruang jurnal tercinta sedang
mengalami musibah, atapnya bocor. (hiks hiks) (Bullpakç)
2) Hai… hai… hai… jumpa lagi… dengan MABOSA yang makin keren
dan setu untuk dibaca!!! Guys, ketika menerima MABOSA edisi 43
ini, kerasa nggak ada sesuatu yang berbeda dengan MABOSA
sebelumnya? (MABOSA)
3) Hi Friends,
Kamu-kamu pasti udah lama nunggu BIKAR kita terbit kan?!?! So,
pasti dunk… Akhirnya dengan penuh perjuangan dan kerja keras
tim BIKAR berhasil juga menerbitkan BIKAR ini.
Kamu-kamu pasti tahu, kalau bulan Oktober ini bulannya
bahasa So, kita memilih tema yang kita rasa sangat cocok dengan
bulan tersebut
“EKSPRESIKAN DIRIMU DENGAN BAHASA”
(BIKAR)
4) Hai Sobat Pelita, puji Tuhan, Pelita edisi ke-13 kali ini, yang
merupakan edisi terakhir PELITA di tahun ajaran 2006/2007, ini
akhirnya terbit juga. Kali ini redaksi menyajikan edisi khusus buat
kakak-kakak kelas XII yang akan meninggalkan sekolah kita
tercinta SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. (PELITA)
Empat dari sembilan sumber data dalam tulisan ini menunjukkan
penggunaan sapaan yang akrab dalam mengawali pesan redaksi, seperti
Hiiii, Delayoters; Hai… hai… hai… jumpa lagi…; Hi Friends; Guys,
dan Hai Sobat Pelita. Tipe interjeksi lainnya yang digunakan adalah
yap, naah, neh, so, dan onomatope hiks hiks. Pilihan kata dan cara
penulisan kata yang cenderung tidak baku juga dimanfaatkan untuk
menunjukkan keakraban, seperti kata tak, udah, bersua, kalo, nggak,
lamaaaa, banget, gampang, jumpa, keren, setu, kerasa, nunggu, kan,
dunk, dan kamu-kamu. Hal tersebut sebagai salah satu cara
menempatkan pembaca sebagai teman dan sahabat yang akrab dan
memiliki kesejajaran. Cara lain menggunakan interjeksi, seperti tampak
pada contoh 5) berikut.
5) Horeeeeeee!!!!! Akhirnya,,,,,,, Setelah sekian lama tenggelam
dalam keramaian kota Yogyakarta, Mesra terbit juga. Setelah
sempat beredar kabar burung kalo Mesra bubar,,, sampai-sampai
ruang Mesra pun akhirnya diganti kegunaannya menjadi ruang
Rets, qta akhirnya dapat muncul kembali… Oke,,, kali ini Mesra
ngambil tema,,, “Evolusi”. Soalnya, dari kita-kita aja yang tadinya
beranggotakan sebanyak 12 orang, sekarang tinggal 8 orang. Hal ini
dikarenakan anggota qta yang dah kelas 3 kemarin, udah lulus.
(Mesra)

Seruan horeeeeeee!!!!! lazim digunakan untuk mengekspresikanm rasa
senang, lega, dan menggairahkan. Selain itu tampak pula cara penulisan
kata kita yang ditulis dengan menggunakan bentuk tulisan qta,
meskipun untuk bentuk reduplikasinya kembali ditulis kita-kita.
Penggunaan interjeksi dan penyimpangan bentuk juga masih tampak
pada contoh 5, seperti kata oke, kalo, bubar, aja, dah, dan udah. Empat
contoh terakhir menunjukkan seruan dan sapaan yang lebih formal.
6) Generasi Muda Pejuang Pena…
Tiada terasa, waktu yang bergulir seiring bumi yang telah
mengelilingi orbitnya hingga membawa majalah “EKSIS” kembali
dapat anda baca. Komunikasi, Konsulidasi, dan sedikit bergerilya,
yang akhirnya membuat majalah “EKSIS” kita bisa terbit juga.
Ketersibukan, keterlenaan dan agak ketergantungan merupakan
salah satu hal yang menyebabkan keterlambatan terbit, tetapi
dengan kemauan, kerja keras dan kemauan team redaksi, maka
“EKSIS” sekarang bisa hadir kembali di hadapan pembaca dengan
mengangkat tema pendidikan. (EKSIS)
7) Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Januari, bulan baru di tahun baru!
Yang pasti segalanya baru! Termasuk Progresif kali ini yang
terbit dengan bentuk baru, tanggal terbit yang baru, kita juga
menggunakan sistem baru dalam pengolahan data dan berita, juga
banyak memunculkan karya dan ide baru dalam content kami. Yang
pasti thanks banget buat Allah SWT (tanpa ijinmu kami tidak akan
berhasil T_T)., thanks to the whole team (termasuk para pemain
yang namanya tidak tersebut, kalian sangat membantu! Tetap
dukung Progresif), dan thanks buat dukungan teman-teman yang
bikin pekerjaan kami jadi lebih menyenangkan. Thanks juga buat
yang udah menanti-nanti terbitnya Progresif! (Progresif)
8) Serangan Hepatitis A
Darurat! Darurat!
Virus berbahaya telah menyerang kota kita tercinta ini. 5 bulan
terakhir, Yogyakarta mengalami peningkatan penderita hepatitis A
dan sudah termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB). (Cas Cis Cus)
9) Baru-baru ini, salah satu stasiun TV swasta menayangkan sebuah
sinetron baru berjudul “Cinta 2020”. Apa maksud judul tersebut?
Ada salah seorang penonton sinetron yang secara spontan berkata,
“Ooo… maksudnya kisah cinta di tahun 2020, ya? Seperti apa ya
kisah cinta para pemuda di tahun 2020?” Jika maksudnya demikian,
penulis naskah sinetron ini pasti akan mereka-reka skenario yang
tepat. Ia akan berimajinasi untuk menggambarkan kisah cinta di
tahun 2020.
Demikian halnya dengan AQUILA edisi sekarang. Seminari
Menengah Mertoyudan sedang dihadapkan pada persoalan besar.
(AQUILA)
Empat contoh yang terakhir, 6), 7), 8), dan 9) menunjukkan
kecenderungan penggunaan ragam baku. Contoh 6) mengawali dengan
slogan Generasi Muda Pejuang Pena…. Contoh 7) mengawalinya
dengan ucapan salam Assalamu’alaikum Wr. Wb. Selanjutnya,
menunjukkan adanya kecenderungan campur kode bahasa Inggris
untuk beberapa ungkapan, seperti content, thanks banget, dan thanks to
the whole team. Penggunaan kata tidak baku cenderung tidak menonjol
karena hanya muncul satu kali pada kata bikin dan udah. Contoh 8)
Diawali judul yang sugestif dan mengejutkan Serangan Hepatitis B dan
diikuti seruan yang menyatakan keadaan, dengan ungkapan Darurat!
Darurat! Contoh 9) memanfaatkan pendapat orang dengan
mencantumkan kalimat langsung. Oleh karena itu, penggunaan
interjeksi ooo dan ya menjadi sangat wajar untuk menyakatakan
kealamiahan tuturan orang yang dimintai pendapat.
b. Surat Pembaca
Majalah sekolah yang memiliki kolom surat pembaca hanya
lima, yaitu MABOSA, MESRA, BIKAR, Cas Cis Cus, dan Bullpakç.
Istilah yang digunakan untuk menyebut kolom surat pembaca beragam,
MABOSA menyebut kolom “Kontak Redaksi”, MESRA menyebut
“TISAM (Titip Salam)”, BIKAR menyebut “Dari untuk dan Ucapan
(DUDU)”, Cas Cis Cus menyebut “JB On The Spot”, dan Bullpakç
menyebut “Mailbox”. Karakteristik bahasa lebih longgar dan akrab,
seperti tampak pada contoh berikut.
1) Jangan Blawur donk
Wah.. saya amat senang sekali bisa membaca MABOSA. Setelah
saya membaca cukup lumayan. Banyak sekali yang bisa kita dapat
dari membaca MABOSA. Kita bisa lihat wajah-wajah artis di
MABOSA dan pendapatnya para artis. Jika motret artis tolong yang
jelas donk.. jangan blawur-blawur, coz ntar jadi jelek. Kalau bisa
MABOSA jangan memakai kertas buram donk…. Skali-kali
memakai kertas berwarna.
Giancinta B.D.S (XI)
Tanggapan Redaksi
Cinta… thanks yaph, atas tanggapannya…. Untuk masalah foto, kita
janji kita bakalan lebih bagus lagi, jadi nggak ngecewain pembaca…
(MABOSA: 6).
2) Ai_ryan/XII IS3
Titip salam buat anak? Stece tercinta, tetap jaga kekompakan,
ya!!! Trus, buat pemimpin-pemimpin sekolah, kelas-kelasnya
dipasangai AC, dong.. Kan panas!! AC juga bisa nambah semangat
belajar, lho!!
Saran buat kami:
• Rubriknya dikomplitin
• Adain ajang kreasi siswi-siswi Stece, misalnya cerpen,
puisi, de el el..
• Ditebelin, dong!! Biar seru
• Covernya dibuat lebih menarik, ya!! (MESRA: 53).
3) Dari : Aq
Untuk : Insight community
Pesan : I Luv You, guys! qta bakal lu2s bareng, okey?!
(BIKAR).
4) Sudah banyak barang baru yang ada di JB. Contohnya, kursi kantin,
gamelan, dan patung John De Bitto yang berdiri kokoh di depan
kelas XII. Tetapi kenapa kursi di ruang AV2 yang sudah rusak tidak
diganti? (WIS) (Cas Cis Cus)
5) Ecek-ecek???
Kalo mbuat majalah, harus sesuai dengan kualitas dana yang ada.
Jangan kaya kemaren. Pembayaran majalahnya banyak tapi
hasilnya ecek2 (kaya tabloid biasa yang dijual di tempatnya Bu
Harno) maksudnya!!
Bunga (disamarkan)
Tanggapan Redaksi
Bukannya Redaksi ngga’ menyesuaikan dengan dana yang ada.
Perlu temen-temen ketahui, bahwa rubrik yang ada itu dicari oleh
Redaksi dan itu juga memerlukan dana dan tenaga. Untuk
menghargai kerja keras itu, Redaksi memberikan honor yang
setimpal. Maka dari itu, dana yang ada nggak seluruhnya untuk
pembuatan Bullpakç. Nah, untuk masalah kualitas, Redaksi selalu
mengusahakan yang terbaik. Jadi tolong pengertiannya ya!
(Bullpakç).
Contoh 1) surat pembaca yang menyajikan pendapat pembaca
dan tanggapan redaksi. Penggunaan interjeksi wah.., coz, penggunaan
kosa kata ragam tidak baku` motret, donk.., blawur-blawur, ntar, skalikali,
dan konstruksi frasa amat senang sekali menunjukkan ciri bahasa
tidak baku yang lazim digunakan di kalangan remaja. Tanggapan
redaksi pun memiliki kemiripan dengan bahasa yang digunakan
pembaca, seperti penggunaan interjeksi thanks, yaph dan penggukaan
kosa kata tidak baku bakalan, nggak, dan ngecewain. Contoh 5) juga
memuat pendapat pembaca dan tanggapan redaksi. Penggunaan kata
tidak baku kalo, mbuat, kemaren, ecek2 dan tanggapan redaksi yang
menggunakan kata tidak baku ngga’, temen-temen dan interjeksi nah
dan ya sebagai ungkapan yang menunjukkan keakraban dan kesetaraan.
Contoh 2), 3), dan 4) hanya menyampaikan pendapat pembaca
yang kecenderungannya berupa saran, sindiran mengenai kejanggalan,
dan harapan. Dari sisi bahasa, contoh 2) dan 3) kembali menampilkan
penggunaan kata-kata yang lazim digunakan di kalangan remaja seperti
interjeksi ya, dong.., kan, lho, okey dan penggunaan kata tidak baku
trus, buat, dikomplitin, adain, de el el, ditebelin, biar, I Luv You, guys,
qta, dan lu2s. Contoh 4) dari segi bahasa cenderung formal paling tidak
dari segi penggunaan kosa katanya.
c. Editorial dan Topik Utama
Kolom editorial dengan nama tajuk hanya digunakan oleh Cas
Cis Cus yang dari segi bahasanya sudah cenderung baku. Oleh karena
itu, pembahasannya disatukan dengan topik utama yang dimiliki oleh
semua majalah sekolah yang menjadi sumber data tulisan ini. Istilah
yang digunakan pada kesembilan majalah adalah Laporan Utama,
Laput, Eksklusif Wawancara, Liputan, Liputan Utama, Yang Utama,
dan Headline.
Editorial yang diberi nama tajuk terdapat pada Cas Cis Cus dan
disampaikan dalam bentuk informasi dengan bahasa yang baku. Topik
utama berbentuk laporan cenderung formal, sedangkan yang berbentuk
dialog cenderung disesuaikan dengan identitas yang diwawancarai,
seperti terlihat pada uraian berikut.
1) Jadi, bersiaplah untuk mengevaluasi semua kesalahan kita dan
juga bersiaplah untuk melangkah ke tahun yang baru… Nah,
selamat menjadi individu baru yang lebih baik dari tahun
sebelumnya ya! God bless you. (MABOSA: 9)
1a) Apakah kita harus selalu berubah mengikuti tahun yang
selalu berubah?
Berubah mengikuti era jaman, tren itu saya rasa perlu ya. Karena
kita hidup itu perlu berkembang. Tetapi bukan berarti suatu yang
sudah bagus, karakter atau pribadi, perilaku yang sudah bagus
harus berubah, tidak! Tetap ada modal dasar yang bagus, tetapi
kita tetap menjadi manusia yang tidak ketinggalan jaman
(MABOSA: 13)
1b) Kalian kan dah sering tuh manggung ke mana-mana. Ada
nggak pengalaman menarik dari acara-acara manggung kita
itu?
Waktu itu kebetulan jatah kita buat manggung di Kalimantan.
Pada saat itu ada konflik di daerah deket tempat kita manggung,
trus pas 1 hari sebelum manggung ada ledakan bom gitu deh tapi
walaupun ada bom, acara manggung kita tetap berjalan dengan
lancar kok (MABOSA: 21).
Contoh 1) laporan utama pada majalah MABOSA yang disampaikan
dalam bentuk laporan dengan bahasa baku. Kosa kata tidak baku hanya
terdapat pada alinea terakhir berupa interjeksi nah dan ya serta alih
kode ke bahasa Inggris God bless you.
Contoh 1a), wawancara dilakukan dengan salah seorang guru
sehingga pertanyaan menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Pada
contoh 1b) wawancara dilakukan dengan kelompok band yang anggotaanggotanya
masih muda sehingga pertanyaan disampaikan
menggunakan kosa kata tidak baku seperti interjeksi kan dan tuh serta
keterangan aspek dan negator ragam tidak baku, yaitu dah dan nggak.
Penggunaan bahasa tersebut disesuaikan dengan bahasa yang lazim
digunakan oleh anak-anak muda.
Berdasarkan fenomena di atas, penggunaan ragam tidak baku
yang disesuaikan dengan seleranya anak-anak muda tidak
mengkhawatirkan. Redaksi dapat menyesuaikan diri kapan harus
menggunakan ragam baku dan ragam tidak baku. Hal tersebut
diperkuat oleh pernyataan mantan pemimpin redaksi MABOSA yang
sudah menjadi mahasiswa. Ketika menjadi redaksi dia sangat gigih
melakukan wawancara dengan artis-artis, seperti yang dia katakan,
“Saya sangat giat mengejar artis sampai ada beberapa teman yang
mengatakan norak atau penggila artis. Saya pernah berjumpa dengan
Krisdayanti, Miss Universe 2005, Artika Sari Devi (Putri Indonesia
2006), Delon, Glen Fredly, Wingky Wiryawan, Fauzi Baadilah, Club
eighties, dan lain-lain. Perlu teman-teman ketahui, tidak mudah
mengejar artis-artis sekelas ibu kota”(Sekarjati, 2007:17). Pengalaman
sebagai pemimpin majalah sekolah menurut Sekarjati memberi
pengalaman yang mengesankan dan menambah kepercayaan diri yang
tinggi. Oleh karena itu, dia masih menjatuhkan pilihan untuk aktif
dalam kegiatan jurnalistik di kampusnya.

Pada sumber data lain menunjukkan tipe yang sama. Keakraban
antara lain dimunculkan dalam bentuk penggunaan kosa kata yang
tidak baku, khususnya interjeksi, negator, sapaan langsung, superlatif,
dan campur kode bahasa Inggris atau bahasa Jawa, seperti tampak pada
uraian berikut.
2) Nggak seperti Hari Pendidikan yang sebelumnya. Hari Pendidikan
tahun ini yang jatuh tanggal 2 Mei ini unik banget (Progresif: 4).
2a) Euphoria ini, tapi gak apa-apa juga kan, Psikopad kan bukan
diperuntukkan buat anak-anak muda aja, tapi orang tua yang
berjiwa muda juga (Progresif: 7).
2b) Duh, siapa yang nggak pengen sih? (Progresif: 9)
3) Sobat PELITA untuk tema kali ini yang khusus membahas Kelas
XII, PELITA sengaja secara langsung menemui kepala sekolah
kita sebab beliau enggan dimintai komentar secara tertulis
(PELITA: 16).
3a) XII IA2? Wuih…!!! Ini kelas terhebat dengan orang-orang super!
Super konyol, super rame, and super ra cetha!!!
3b) Hallo Bruder, langsung aja ya.
Bagaimana pendapat Bruder tentang anak-anak kelas XII
sekarang ini?
Menurut saya, anak-anak kelas XII sekarang ini biasa saja seperti
anak kelas XII yang sudah-sudah (PELITA: 16).
4) Acaranya seru bangettt!!! (MESRA: 12)
4a) Acara fashion show setiap kelas nampilin pahlawan-pahlawan
seperti R.A. Kartini, suster, dokter, guru, Ir. Sukarno, Christina
Marta Tiahahu, Ibu, pemadam kebakaran, dll. (MESRA: 12).
4b) Jadinya acara fashion show jadi tambah seru dan heboh banget!!!
(MESRA: 13)
5) Hay Girl!! Kalian pasti sudah dengar tentang kurikulum baru
untuk kita kan? Yup! KTSP itu loh.. (BIKAR: 2).
5a) Di rubrik ini kita bakalan bedah abis tentang apa sih KTSP itu,
pengembangannya gimana and tujuannya gimana. So.. Kita wajib
baca!! Baca yuuk… (BIKAR: 2)
5b) Nah, kemarin Tim Majas sempet mewawancarai beberapa anak
soal pendapat mereka mengenai KTSP. Ternyata banyak pro dan
kontra mengenai KTSP ini, loh!! (BIKAR: 4)
Keempat kelompok contoh di atas memunculkan penggunaan kata-kata
yang tampak pada diagram berikut.
DIAGRAM 1:
PILIHAN KATA UNTUK MENYATAKAN KAKRABAN
No Tipe Contoh
1 Interjeksi hallo, kan, aja, wuih, ya, aja, yup, loh, sih,
yuuk, nah, so
2 Sapaan sobat, hay
3 Superlatif banget,
4 Negator nggak, gak
5 Konjungsi tapi, buat
6 Campur kode and, ra, cetha, hay girl,
7 Bentuk tidakbaku
konyol, rame, nampilin, heboh, abis, gimana,
sempet

Penggunaan pilihan kata tersebut cenderung terjadi pada awal
atau akhir tulisan. Sebutan hey girl digunakan pada sekolah yang
muridnya khusus perempuan. Empat majalah lainnya, yaitu EKSIS,
Aquila, Cas Cis Cus, dan Bullpakç pada topik utamanya cenderung
menggunakan bentuk baku. Hal yang hampir sama terjadi pada artikelartikel
lain yang ada.

5. Isi sebagai Cermin Semangat Keremajaan
Dengan mengikuti pandangan Sri Esti Wuryani Djiwandono,
masa remaja disoroti dari lima hal yang meliputi perkembangan fisik,
kognitif, sosioemosional, pengajaran di SMP dan SMA, dan masalahmasalah
remaja. Ihwal isi, jika ditelusur berdasarkan aneka rubrik yang
ada pada sembilan majalah yang digunakan sebagai sumber data
menampakkan kecenderungan ciri perkembangan remaja. Berkaitan
dengan masalah-masalah remaja, isi majalah tidak mencerminkan
adanya persoalan yang dihadapi, tetapi justru menawarkan aneka
kemungkinan mengatasinya, seperti tampak pada rubrik renungan
berjudul “Tahun yang Baru, Hati yang Baru pula…” yang ditulis oleh
Pratiwi Sofia C.M (XI IPS 3). Dalam tulisan tersebut Sofia mengajak
agar selalu bersikap baik kepada teman, tidak hanya bersikap baik
ketika sedang membutuhkan sesuatu (MABOSA: 5). Majalah EKSIS
menyorot masalah free sex yang ditulis oleh Rice-KY II S2, dengan
menggunakan referensi Alkitab yang tentu menolak kecenderungan
tersebut karena bertentangan dengan dalil-dalil Alkitab (EKSIS, 2007).
Isi artikel yang lain akan dibahas dalam uraian berikut. Penelurusan isi
dilakukan dengan mencermati surat redaksi, editorial dan topik utama,
dan beberapa rubrik yang ada.
a. Surat Redaksi
Isi surat redaksi cenderung menginformasikan tema dan
rinciannya, seperti tampak pada diagram berikut.
DIAGRAM 2: ISI SURAT REDAKSI
Majalah Tema
MABOSA Menjadi Baru di Tahun Baru
Progresif Perubahan Besar
PELITA Leaving PL With Smile
MESRA Evolusi
BIKAR Ekspresikan Dirimu dengan Bahasa
EKSIS Pendidikan
Aquila Seminari Menatap Masa Depan
Cas Cis Cus Serangan Hepatitis A
Bullpakç Act Ur Art

Diagram di atas memperlihatkan tema yang bervariasi, mulai persoalan
internal sekolah, regional, dan nasional, sedangkan dari segi bidang
meliputi masalah pembaharuan sekolah, pergaulan, pendidikan,
kesehatan, seni, dan humaniora. Hal tersebut memperlihatkan
keragaman minat dan perhatian redaksi yang beragam pula.
b. Editorial dan Topik Utama
Editorial dan topik utama cenderung merupakan uraian lebih
lanjut mengenai tema yang telah dikemukakan pada kolom Surat
Redaksi, seperti tampak pada diagram berikut.
DIAGRAM 3:
EDITORIAL DAN TOPIK UTAMA
Majalah Editorial/Topik Utama
MABOSA Menjadi Baru di Tahun yang Baru; Tahun Baru adalah
Bersyukur karena kita Berguna bagi Orang Lain
Progresif 1..2..3.. Berubah
PELITA Ekslusif Wawancara dengan Br. Herman
MESRA Peristiwa Pertama di Bangku SMA
BIKAR KTSP
EKSIS Kemerdekaan Roh bagi Pendidikan
Aquila Due in Altum
Cas Cis Cus Serangan Hepatitis A; Sayangilah Hatimu!
Bullpakç Aneka musik dansa
Topik yang merupakan uraian lebih lanjut mengenai tema terdapat pada
majalah MABOSA, Progresif, EKSIS, Aquila, Cas Cis Cus, dan
Bullpakç. Sajian pada MABOSA dan Progresif, cenderung
memanfaatkan sumber-sumber internal sekolah, yaitu berdasarkan
pandangan siswa dan pandangan guru. EKSIS, Aquila, Cas Cis Cus,
dan Bullpakç menyajikan materi dengan memanfaatkan referensi yang
dikemas sebagai kajian kritis.
PELITA mengembangkan rumusan tema dalam Profil Kelas,
MESRA pada liputan dan berita mengenai pelantikan pengurus OSIS,
dan penerapan KTSP. BIKAR menajikan pada kolom khusus “Seputar

Bahasa” yang menyajikan artikel “Bahaa Benteng Budaya”, “Bahasa
Cinta Dunia”, “Tentang Cinta”, “Warna Hidup”, “Ada Teknologi
Bahasa, Ada Bahasa dalam Teknologi”, dan “Lihatlah keluar Tataplah
Sisi lain dari Kita”. Aneka sajian tersebut cenderung memanfaatkan
sumber dari luar sekolah. Seperti topik “Bahasa Cinta Dunia” redaksi
menyajikan koleksi ungkapan aku cinta kamu dari 66 bahasa,
sedangkan pada “Lihatlah keluar Tataplah Sisi Lain dari Kita”
menyajikan visualisasi foto-foto orang-orang yang mengalami nasib
kurang beruntung, seperti pengemis, gelandangan, pengamen, orang
yang mengalami cacat fisik, dan sebagainya. Sajian tersebut
dimaksudkan sebagai ajakan untuk berempati kepada orang-orang
tersebut.

c. Berita
Berita merupakan informasi yang dihimpun oleh redaksi
kemudian disampaikan kepada pembaca. Sajian memiliki kemungkinan
dalam bentuk deskripsi atau wawancara. Berita-berita di majalah
sekolah berupa peristiwa yang terjadi di lingkungan sekolah, prestasi
yang dicapai oleh sekolah, guru, siswa, dan berita mengenai peristiwa
atau tokoh di luar sekolah.
Berita internal sekolah pada MABOSA yang membawa nama
baik sekolah, berupa prestasi dalam bidang olah raga, seni, akademik,
dan keterampilan khusus, seperti adanya tawaran mengisi halaman
pelajar di Media Indonesia yang merupakan prestasi dalam bidang
jurnalistik. MABOSA juga menyajikan berita dari luar sekolah yang
sudah dikemas dalam bentuk ulasan, seperti pada berita mengenai
“Sekolah Sahabat” yang mengulas SMKN 3 Kasihan Bantul. Berita
dari luar lainnya dikemas dalam bentuk wawancara dengan Group
Band Kerispatih dan aktor film Vino G. Bastian.
Majalah Progresif SMAN 3 menyampaikan berita internal
sekolah mengenai Latihan Dasar Metode Ilmiah (LDMI) yang wajib
diikuti oleh siswa kelas XI dengan langsung diterjunkan ke lokasi
penelitian serta aneka kegiatan tahunan yang telah diprogram oleh
sekolah. Prestasi dalam bidang akademik seperti siswa yang lolos
seleksi mengikuti AFS dan tinggal selama satu tahun di Amerika.
Berita dari luar berupa informasi mengenai lokasi wisata untuk mengisi
liburan, rumah makan, pasar seni Gabusan, FKY, dan beberapa yang
lain dikemas dalam bentuk feature.2

PELITA secara khusus menyajikan berita intern sekolah
mengenai profil kelas XII, sedangkan berita dari luar berupa ulasan
mengenai group band “Captain Jack”. Group band tersebut ditemui saat
pentas dalam acara Psikopad di SMAN 3 Yogyakarta. Berita intern
sekolah, mengenai prestasi tim sepak bola yang sampai ke babak final,
meskipun akhirnya menjadi juara II dalam ajang UPN Cup, setelah
pada final kalah 1-0 dari SMAN 4.
MESRA majalah sekolah yang siswanya homogen perempuan
ini menyajikan berita intern sekolah yang berkaitan dengan tokoh yang
menjadi pelindung, yaitu St. Carolus Borromeus serta siswa yang telah
berprestasi dalam bidang akademik melalui aneka lomba bidang sain
dan matematika. Kegiatan intern sekolah lainnya adalah valentine day
dan pelantikan pengurus OSIS. Majalah lain yang diterbitkan oleh
sekolah dengan siswa homogen permpuan adalah BIKAR. BIKAR
tampaknya tidak menempatkan diri sebagai majalah berita, oleh karena
itu, tidak ada kemasan berita. Informasi setipe berita disampaikan
dalam bentuk profil tokoh dan feature seperti tampak pada informasi
mengenai “Bahasa Benteng Budaya”, “Warna Hidup”, dan “Ada
Teknologi dalam Bahasa dan Ada Bahasa dalam Teknologi”. Tipe yang
sama dimiliki oleh EKSIS yang tulisan-tulisannya cenderung berupa
feature, artikel, dan profil tokoh. Feature yang dimaksud seperti
mengenai MOS, keistimewaan SMA 1 Karangmojo yang dikatakan
“Sekolah Ndeso Intelektualitas Kutho”, OSIS baru, pesawat tempur,
dan mengenai Indonesia yang panen gempa.
Aquila dan Cas Cis Cus diterbitkan oleh sekolah yang muridnya
homogen pria. Aquila menyajikan berita dalam bentuk ulasan dan profil
tokoh yang cenderung bersifat internal. Dari segi bentuk Cas Cis Cus
lebih merupakan tabloid sekolah yang terdiri satu lembar (4 halaman).
Berita lebih mirip dengan surat pembaca yang dikemas dalam rubrik
2 Pengertian feature mengikuti uraian R. Masri Sarep Putra yang mengemukakan,
“Cerita feature adalah artikel kreatif, kadang-kadang subjektif, yang terutama
dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang
suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan” (2008: 66). Kutipan tersebut diambil
dari buku Seandainya Saya Wartawan Tempo karya Bambang Bujono dan Toriq
Hadad yang diterbitkan oleh Institut Studi Arus Informasi-Yayasan Alumni Tempo,
tahun 1997.

“JB On The Spot”. Rubrik tersebut menyampaikan peristiwa,
tanggapan, prestasi, dan sindiran singkat, antara dua sampai lima
kalimat.
Bullpakç menyajikan berita mengenai prestasi sekolah yang
mengirimkan siswanya untuk mengikuti pertukaran pelajar ke Australia
serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekolah dan yang berkaitan
dengan pendidikan, seperti pembangunan studio musik sekolah dan
tambahan mata pelajaran yang di-UN-kan yang dipandang semakin
memberatkan. Berita lain disajikan dalam bentuk feature, seperti
masalah internet, global warming, film, grafiti, dan sebagainya. Dua
yang pertama merupakan gejala universal dan yang ketiga merupakan
fenomena menarik di Yogyakarta dengan munculnya mural.
d. Artikel
Artikel merupakan tulisan yang mencerminkan pandangan
penulis mengenai pokok persoalan yang tertentu. Dari sembilan
majalah, yang memiliki rubrik artikel adalah 6 majalah yang sebagian
besar ditulis oleh siswa, seperti tampak pada diagram berikut.3
DIAGRAM 4:
ARTIKEL DAN PENULISNYA
Majalah Jumlah Penulis Isi
MABOSA 5 4 Siswa dan 1
Alumni
(1) Tahun baru, (2) UAN, (3)
adaptasi bagi siswa baru, (4)
pengalaman sebagai siswa BOSA
yang mengesankan dan pengelola
majalah sekolah, dan (5)
mengenai budaya Barat
MESRA 1 Kutipan dari
sumber lain
Dunia pers di Indonesia
EKSIS 2 Siswa (1) Pendidikan yang bobrok dan
(2) ungkapan Jawa Dadi
Godhong Emoh Nyuwek yang
ditulis dalam bahasa Jawa
Aquila 2 1 Pendamping (1) Tantangan pembinaan calon
3 Tiga majalah yang tidak memiliki rubrik artikel adalah Progresif, PELITA, dan
BIKAR.
dan 1 Redaksi imam dan (2) hasil jajak pendapat
mengenai masa depan sekolah
Cas Cis Cus 1 Guru Ajakan hidup sehat
Bullpakç 1 Siswa Ajakan untuk bertindak adil
dengan memanfaatkan harta
karun untuk semua
Berdasarkan diagram di atas, partisipasi siswa dalam menulis artikel
cukup menonjol. Dari 12 artikel, 8 di antaranya ditulis siswa (termasuk
yang ditulis redaksi Aquila) sedang 3 lainnya ditulis guru, pendamping,
dan alumni, dan kutipan sumber lain 1 artikel. Dari segi isi, MABOSA
memiliki keragaman mulai dari pendangan siswa mengenai persoalan
intern sekolah dan masalah yang umum. Sajian pengalaman alumni
dalam mengelola majalah sebagai kekuatan untuk menyugesti adik-adik
kelasnya untuk memanfaatkan peluang aktif dalam kegiatan yang
dikelola OSIS karena bermanfaat dan masih dapat dikembangkan di
perguruan tinggi. MESRA yang mengutip artikel dari
http://wwwrepublika.co.id memberikan wawasan mengenai jurnalistik
yang aktual karena dikaitkan dengan peringatan hari Pers Nasional
tanggal 9 Februari 2008. EKSIS menyoroti bobroknya pendidikan di
Indonesia dan mengingatkan untuk terus setia kepada cita-cita
kemerdekaan, yaitu kesejahteraan bersama. Dikatakan bahwa
pendidikan kita sekarang ini berantakan, hampir tak ada lagi
kebangkitan nasional yang tertanam pada setiap individu, malah kita
menjadi maling di negeri sendiri, seperti kasus illegal loging (2007: 3).
Keistimewaan EKSIS adalah menyajikan artikel bahasa Jawa. Aquila
mengangkat tema yang berkaitan dengan masa depan sekolah.
Keistimewaannya, redaksi menyusun artikel berdasarkan hasil jajak
pendapat. Hal tersebut sebagai langkah pembinaan sikap ilmiah, seperti
yang dilakukan di SMAN 3 Yogyakarta yang membina sikap ilmiah
melalui kegiatan Latihan Dasar Metodologi Ilmiah (LDMI). Hal
tersebut berpeluang memberi warna dunia ilmu di Indonesia. Sajian
artikel dalam Cas Cis Cus yang ditulis oleh guru disesuaikan dengan
topik utama yang aktual dan menyangkut kebutuhan masyarakat, yaitu
mengenai hidup sehat. Tulisan tersebut menyikapi gejala munculnya
kasus Hepatitis A di Yogyakarta. Bulpakç menyampaikan ajakan
berlaku adil dan berbagi melalui menjaga lingkungan alam, bazar,
sumbangan, dan dengan membuat komitmen-komitmen pembatasan
diri yang dieksplisitkan dengan ungkapan berkomitmen dengan rak
buku, lemari pakaian, rak kamar mandi, dan laci dapur. Aneka ajakan
disampaikan secara simbolik dengan mengoreksi aneka kebutuhan
hidup dan bagaimana membelajakan uang untuk kepentingan tersebut.

e. Sastra
Dari sembilan majalah yang memiliki rubrik sastra ada 8
majalah, seperti tampak pada diagram berikut.4
DIAGRAM 5:
RUBRIK SASTRA
Majalah Jenis Sastra
MABOSA Puisi Cerpen Cerbung Kartun
Progresif Puisi Cerpen Kartun
PELITA Puisi Cerpen
MESRA Puisi Cerpen
BIKAR Puisi Cerpen
EKSIS Puisi Gurit
(Puisi
Jawa)
Cerpen
Aquila Puisi Cerpen Kartun
Bullpakç Puisi Kartun
Diagram di atas menunjukkan bahwa minat dan potensi yang
muncul dalam bidang sastra adalah penulisan puisi, cerpen, kartun, dan
cerbung. MABOSA memiliki keistimewaan karena memiliki tiga jenis
sastra dan satu-satunya yang menampilkan jenis cerita bersambung
yang memerlukan energi lebih banyak. EKSIS ememiliki kekhususan
dengan menyajikan puisi bahasa Jawa atau yang biasa disebut gurit. Isi
aneka jenis sastra cenderung persoalan yang berkaitan dengan
kehidupan remaja, teknologi, persahabatan, kekeluargaan, percintaan,
dan masalah kemanusiaan.
4 Tiga majalah yang tidak memiliki rubrik sastra adalah Cas Cis Cus.

Elisabeth Lespirita Veani
Kelas XII SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

About these ads

3 Tanggapan

  1. selamat untuk temanku/saudaraku r masri sarep putra. teruskan perjuangan yang membawa pada indonesia maju. slamet cdd

  2. mb Veani ex PL????

  3. bagus tuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: