Pemetaan Bahasa-bahasa Daerah di Indonesia

ABSTRAK
Upaya pengidentifikasian jumlah bahasa di Indonesia sudah
cukup banyak dilakukan baik oleh lembaga/pakar linguistik Indonesia
maupun lembaga/pakar asing. Hasil yang diperoleh cukup beragam,
sehingga tidak jarang kondisi ini menimbulkan kesimpangsiuran
informasi tentang jumlah bahasa yang tumbuh dan berkembang di
Indonesia.

Faktor utama yang menyebabkan keberagaman hasil tersebut
adalah keberbedaan dalam penggunaan metode. Untuk itu, Pusat
Bahasa, sejak 1992 s.d. 2008 telah berupaya melakukan identifikasi
bahasa di Indonesia dengan mengembangkan suatu kerangka
konseptual metodologis yang dapat diterapkan secara menyeluruh.
Bagaimana wujud, landasan filosofis yang melatarbelakangi, serta
aplikasi dan hasil yang dicapai dengan menerapkan kerangka
metodologis tersebut menjadi fokus pembahasan dalam makalah ini.

1. Pendahuluan
Ihwal pemetaan bahasa-bahasa daerah di Indonesia sebenarnya
sudah cukup lama dan banyak dilakukan. Tidak lama setelah Indonesia
merdeka, Teeuw (1951) sarjana berkebangsaan Belanda, memulai
proyek pemetaan bahasa daerah di Indonesia dengan mengambil objek
bahasa Sasak di Lombok. Model pemetaan yang dilakukan Teeuw ini
dilanjutkan secara besar-besaran melalui program yang didanai Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada kurun 1970-an sampai
dengan pertengahan 1980-an. Sepanjang kurun waktu tersebut, Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa telah banyak melakukan
analisis dialektologis terhadap berbagai bahasa daerah di Indonesia
(lihat lampiran). Namun, baik penelitian yang dilakukan Teeuw
maupun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa tersebut belum
dapat menjelaskan ada berapa jumlah bahasa daerah di Indonesia.

Dalam kurun waktu yang relatif bersamaan, Esser (1951)
menerbitkan peta tentang bahasa-bahasa di Indonesia. Dalam peta itu
diidentifikasi sejumlah 200 bahasa di Indonesia. Pandangan Esser ini
diacu Alisjahbana (1954) dengan juga menyebut terdapat 200 bahasa di
Indonesia. Berbeda dengan Esser, Salzner (1960) justeru menyatakan
bahwa bahasa daerah di Indonesia tidak sejumlah yang dinyatakan
Esser. Menurutnya, jumlah bahasa di Indonesia hanya 96. Dengan
memanfaatkan petugas kebudayaan yang terdapat di daerah-daerah di
seluruh Indonesia, Lembaga Bahasa Nasional (1972) mencatat 418
bahasa daerah.

Walaupun telah banyak pakar yang menyatakan pendapatnya
tentang jumlah bahasa daerah di Indonesia, bahkan lembaga formal
yang menangani masalah kebahasaan waktu itu telah mempublikasikan
temuannya, tidak lalu menyurutkan minat para pakar kebahasaan untuk
tetap mencari tahu tentang berapa jumlah bahasa yang sebenarnya
terdapat di Indonesia. Kondisi ini terutama dipicu oleh ketidakpuasan
para pakar yang kemudian atas hasil pakar sebelumnya.
Grimes (1988), misalnya mencatat jumlah bahasa daerah di
Indonesia dalam angka yang cukup besar yaitu 672, dibandingkan
dengan jumlah bahasa yang diidentifikasi para pakar sebelumnya.
Bahkan kelompok sarjana yang tergabung dalam The Summer Institute
of Linguistic, dalam publikasi mutahirnya (2006), menyatakan bahwa
di Indonesia terdapat 742 bahasa. Persoalannya, apa yang membuat
munculnya keberagaman jumlah bahasa di Indonesia yang dikemukakan
para pakar atau kelompok pakar tersebut?

Ketidakseragaman kerangka konseptual/teoretis-metodologis
yang digunakan merupakan penyebab utama munculnya keberagaman
hasil identifikasi tersebut. Bahkan ada kecenderungan pakar tertentu
menggunakan metode yang secara filosofis, kurang relevan digunakan
untuk analisis penentuan status isolek sebagai bahasa atau dialek,
seperti penggunaan secara kolaboratif metode dialektometri yang di-
”leksikostatistik”-kan (periksa misalnya Danie, 1991). Atas dasar itu,
persoalan lain yang kemudian muncul adalah adakah suatu format
metode yang dapat diterapkan secara menyeluruh untuk analisis isolek
ke dalam dialek atau bahasa di Indonesia? Jika ada, bagaimanakah
aplikasi kerangka konseptual-metodelogis tersebut jika digunakan
dalam upaya identifikasi bahasa-bahasa di Indonesia. Untuk itu,
makalah ini akan mencoba memokuskan pembicaraan pada hal-hal
tersebut dengan fokus uraian pada:
a. Persoalan Konseptual Beberapa Metode Penentuan Status
Bahasa dan Dialek
b. Ke Arah Pengembangan Kerangka Konseptual-Metodologis
bagi Penentuan Status Bahasa dan Dialek
c. Aplikasi Metode Analisis dalam Pemetaan Bahasa-Bahasa
di Indonesia
Untuk lebih sistematisnya, ketiga hal di atas akan dibicarakan
secara berturut-turut di bawah ini.
2. Persoalan Konseptual Beberapa Metode Penentuan Status
Bahasa dan Dialek
Dengan tidak bermaksud mengabaikan penelitian dialektologis
yang telah banyak dilakukan di Indonesia, pembicaraan dalam seksi ini
akan difokuskan pada dua penelitian yang dilakukan dalam rangka
penulisan disertasi doktor, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Danie
(1991) dan Lauder (1993). Kedua penelitian ini disamping karena
dilakukan dengan sangat cermat juga masing-masing mewakili dua
versi kajian dialektologi yang pernah dilakukan terhadap bahasa di
Indonesia. Dikatakan bahwa penelitian itu dilakukan secara cermat,
karena keduanya merupakan karya ilmiah untuk mencapai derajat
doktor dengan di bawah bimbingan yang cukup ketat oleh pakar yang
memang mumpuni. Selanjutnya, dikatakan keduanya mewakili
aliran/mazhab yang berbeda, karena yang pertama lebih bernuansa pada
kajian dialektologi yang oleh Mahsun (1995) diklasifikasikan sebagi
kajian dialektologi yang bersifat diakronis, sedangkan yang kedua
merupakan kajian yang bersifat sinkronis. Sebagian besar penelitian
dialektologi yang pernah dilakukan terhadap bahasa-bahasa di
Indonesia lebih bernuansa sinkronis, amat jarang yang menggunakan
pendekatan dialektologi diakronis.

Dalam disertasinya yang diterbitkan dengan seri Ildep itu, Danie
(1992: 45) mencoba melakukan penentuan status isolek sebagai bahasa
atau dialek dengan menggunakan ukuran persentase kekognatan atau
persentase persamaan leksikal di antara daerah-daerah pemakai bahasa
yang menjadi sampel penelitiannya. Persentase persamaan leksikal,
secara teoretis terkait dengan paham dalam kajian linguistik historis
komparatif, melalui metode leksikostatistiknya. Seperti diakui
penulisnya, bahwa meskipun leksikostatistik mampu mengidentifikasi
isolek sebagai bahasa atau dialek, namun pengidentifikasin dengan
metode ini belum dapat memberikan kejelasan batas daerah pakai
dialek itu secara geografis. Oleh karena itu, Danie mengusulkan
menggunakan penghitungan persentase kekognatan leksikal melalui
dialektometri.

Ada yang menarik dari kerangka konseptual yang diusulkan
Danie ini, yaitu penghitungan persentase persamaan leksikal melalui
metode dialektometri. Padahal, secara konseptual metodologis,
dialektometri bukan mengidendentifikasi persamaan tetap perbedaan
unsur kebahasaan (leksikal). Untuk memperoleh persentase persamaan
leksikal, pertama-tama dilakukan penghitungan persentase perbedaan
leksikal dengan dialektometri. Hasil dari penghitungan dialektometri
itu dijadikan dasar penentuan persamaan leksikal dengan cara, misalnya
dari penghitungan dialektometri diperoleh persentase perbedaan
leksikal 45%, maka persentase persamaan leksikal dapat ditentukan
dengan cara 100% dikurangi 45% menjadi 55%. Mungkin karena
pandangan teoretis yang dianutnya, bahwa dialektologi (diakronis)
adalah pendekatan dalam kajian dialek dengan penerapan prinsipprinsip
pendekatan dalam linguistik historis komparatif. Sejauh mana
pandangan konseptual metodologis ini dapat berterima berikut ini akan
dijelaskn secara memadai.

Pertama-tama mari kita menelaah secara konseptual tentang
substansi semantis konsep “persamaan/kekognatan” dalam leksikostatistik
dengan konsep “perbedaan” dalam dialektometri. “Persamaan”
yang dimaksud adalah persamaan dari segi sejarah, sehingga bukan
antonim dari kata perbedaan. Untuk menjelaskan hal ini sebaiknya kita
ambil kasus antara bahasa Seraway dengan bahasa Melayu, yang
memiliki kesamaan di atas 80%, namun antarpenutur kedua isolek itu
tidak terdapat pemahaman timbal balik.

Apabila dilihat dari persentase kesamaan di atas 80%, maka
seharusnya antarpenutur kedua isolek itu terjadi pemahaman timbal
balik. Oleh karena itu, kesamaan yang dimaksud adalah kesamaan dari
segi sejarah, yang dapat berarti bahwa bentuk-bentuk yang
berkognat/berkerabat/memiliki persamaan asal itu dapat berupa bentuk:
yang identik, mirip, dan berbeda.

Kata kerabat yang identik adalah kata berkerabat yang baik dari
segi formatif maupun maknanya adalah sama persis. Namun, patut
dicatat bahwa tidak semua kata yang sama persis baik bentuk/formatif
maupun maknanya adalah bentuk yang berkerabat, karena dapat saja
kesamaan itu terjadi secara kebetulan atau karena pinjaman. Dalam hal
ini, pemahaman akan kaidah perubahan bunyi dalam bahasa yang
diperbandingkan itu memainkan peran yang sangat peting. Sebagai
contoh bentuk yang berkerabat tipe ini dapat dilihat berikut ini.
Bahasa Sasak Bahasa Sumbawa Gloss
api api api
lueq lueq banyak
isiq isiq isi dll.
Kata berkerabat yang mirip adalah kata berkerabat yang sama
maknanya tetapi terdapat perbedaan pada satu atau dua bunyi yang
posisinya sama, misalnya vokal: /a/ dalam bahasa Sumbawa
berkorespondensi dengan vokal /e/ pada silabe ultima yang bersifat
terbuka dalam bahasa Sasak, misalnya:
Bahasa Sumbawa Bahasa Sasak Gloss
mata mate mata
apa ape apa
lima lime lima dll.
Adapun kata berkerabat yang bebeda, yaitu kata berkerabat
yang pengidentifikasian atas kekerabatannya dimungkinkan melalui
pemahaman kaidah perubahan bunyi yang berlaku dalam bahasa yang
diperbandingkan tersebut, misalnya kata bahasa Sumbawa: dua
berkerabat dengan kata bahasa Jawa: loro yang bermakna ‘dua’. Untuk
memberi penjelasan tentang kata yang berkerabat tipe ini, pengetahuan
tentang kaidah perubahan bunyi yang terjadi dalam bahasa yang
diperbandingkan itu mutlak diperlukan. Dalam bahasa Sumbawa fonem
Proto-Austronesia *D muncul secara teratur sebagai /d/, sedangkan
dalam bahasa Jawa secara teratur muncul sebagai /r/, misalnya: PAN
*Daqun > Bahasa Jawa: ron ‘daun’, PAN * D ∂η∂R > Jawa Kuno:
R ∂η∂ > Jawa Baru: ru ηu ‘dengar’, PAN * DataR > bahasa Jawa: rata
‘datar’ dll. Berdasarkan kaidah ini dapat dijelaskan bahwa kata bahasa
Jawa: loro < PAN * DuSa (*D > r) > Bahasa Jawa Kuno: rua
(kontraksi vokal /u/ dengan /a/ menjadi /o/): *ro (proses reduplikasi) >
*roro (disimilasi) > loro. Bekal pengetahuan tentang kaidah perubahan
bunyi inilah yang sering mempengaruhi penghitungan kata berkerabat,
yang pada gilirannya akan mempengaruhi hasil pengelompokan bahasa
dengan menggunakan metode leksikostatistik.
Apabila persamaan yang terjadi berkaitan dengan contoh yang
ketiga dan lebih dominan terjadi dalam kedua isolek tersebut, maka
pemahaman timbal balik yang diharapkan muncul sulit tercipta, karena
bentuknya terlalu jauh berbeda, meskipun dari segi sejarah memilki
kesamaan asal. Apabila dikaitkan dengan kajian dialektologi terhadap
ketiga contoh di atas terlihat perlakuan yang berbeda. Untuk contoh
yang pertama (berupa retensi) dialektologi memperlakukan sebagai dua
bentuk yang sama, sedangkan dua contoh yang terakhir diperlakukan
sebagai perbedaan. Adanya perlakukan yang berbeda terhadap data
yang sama dalam dialektologi dan linguistik historis komparatif
mengimplikasikan metode leksikostatistik lebih relevan untuk kajian
linguistik historis komparatif, daripada kajian dialektologi.

Selain itu, leksikostatistik lebih banyak berkutat dengan
persoalan isolek mulai dari level bahasa sampai ke level makrofilum,
yaitu sebuah bahasa purba yang paling panjang perjalanan sejarah yang
dialaminya. Meskipun harus dicatat, bahwa uapaya rekonstruksi bahasa
sampai pasa level tersebut belum membuahkan hasil karena evidensi
kebahasaan untuk itu belum berhasil dijumpai. Metode kuatitatif yang
sepadan dengan leksikostatistik dalam penentuan status isolek sebagai
bahasa, dialek, subdialek adalah dialektometri. Untuk memperjelas hal
ini, dapat dilihat dengan membandingkan kategori persentase penentuan
status isolek dalam dialektometri dengan leksikostatistik berikut
ini.

LEKSIKOSTATISTIK DIALEKTOMETRI
Persentase Kategori Persentase Kategori
81-100% Bahasa (language) 81-100% Beda bahasa
37-80% Keluarga (family) 51-80% Beda dialek
12-36% Rumpun (stock) 31-50% Beda subdialek
4-11% Mikrofilum 21-30% Beda wicara
1-3% Mesofilum 20 ke bawah Tidak ada perbedaan
1%ke bawah Makrofilum – -

Apabila dibandingkan antara persentase pengkategorisasian
dalam leksikostatistik dengan dialektometri terlihat bahwa jangkaun
terendah dari pengkategorian dalam leksikostatistik adalah bahasa
(language) dan tertinggi adalah makrofilum. Artinya, level di bawah
bahasa, seperti level dialek, subdialek tidak menjadi bahan
perbincangan leksikostatistik. Sebaliknya pengkategorisasian dengan
dialektometri, level yang tertinggi adalah bahasa yang berbeda dan
terendah adalah level tanpa perbedaan. Meskipun dalam dialektologi itu
dibicarakan level perbedaan bahasa, namun relasi antarbahasa-bahasa
yang berbeda itu tidaklah menjadi perbincangan dialektologi. Apakah
dua bahasa atau lebih yang dikatakan berbeda berdasarkan kajian
dialektometri itu memiliki relasi kekerabatan pada tataran tertentu
(keluarga, rumpun, mikrofilum dan seterusnya) tidak menjadi urusan
dialektometri. Hal itu menjadi tanggung jawab leksikostatistik.

Sebaliknya, leksikostatistik tidak pernah berurusan dengan
pengelompokan isolek di bawah level bahasa, seperti pengelompokan
dialek atau subdialek. Hal ini menjadi tanggung jawab dialektometri.
Itu sebanya pula, penggunaan metode leksikostatistik untuk kajian
dialek merupakan suatu kekeliruan yang fatal.
Selanjutnya, jika dilihat secara diakronis, maka jelaslah bahwa
antara linguistik historis komparatif, melalui metode leksikostatistiknya,
dengan dialektologi diakronis melalui metode dialektometrinya,
memiliki hubungan yang salaing melengkapi. Apabila dialektologi
menyediakan informasi tentang relasi hisroris isolek di bawah level
bahasa, maka linguistik historis menyediakan informasi tentang relasi
historis isolek di atas level bahasa. Secara diagramatik, hubungan
historis kedua metode itu dipelihatkan dalam diagram pohon
pengandaian kekerbatan bahasa berikut ini.

Proto-X
M1 M2 Linguistik Historis
Komparatif
P1 P2 P3 P4
Dialektologi
D1ab D3ab Diakronis
D1a D1b Dc D2a D2 b D3a D3b D3c D4a D4b
Catatan: Garis putus-putus yang membagi dua wilayah
perkembangan historis bahasa manusia di atas merupakan
garis batas (tumpang tindih) antara kajian linguistik
historis komparatif dengan kajian dialektologi diakronis
(Mahsun, 2007)
M = mesobahasa, P = bahasa purba level satu bahasa, D = dialek
Berbeda dengan Danie, Lauder (1993), sudah menggunakan
metode yang lazim dan umum dilakukan dalam kajian dialektologi
terhadap bahasa-bahasa di Indonesia, yaitu metode dialektometri.
Hanya yang menarik dari pandangannya itu ialah usulannya tentang
modifikasi kategori persentase perbedaan unsur kebahasaan untuk
menyebutkan suatu isolek sebagai bahasa atau dialek yang diajukan
oleh Guiter (1973). Menurutnya, persentase untuk dianggap beberapa
isolek sebagai bahasa yang berbeda, jika perbedannya di atas 80%
terlalu tinggi untuk bahasa-bahasa di Indonesia. Kategori itu dibangun
di atas data bahasa-bahasa Barat, karena itu perlu dimodifikasi.

Kenyatan lain, menurutnya, ialah berdasarkan hasil penelitian berbagai
bahasa daerah di Indonesia memperlihatkan perbedaan sekitar 65%–
70% saja (Lauder, 1993 dan 2003: 9). Untuk itu, Luder mengusulkan
angka di atas 70% untuk dianggap sebagai perbedaan bahasa. Lebih
8
jelas, perbandingan kategori pesentase yang diajukan Lauder dengan
yang diajukan Guiter (1973) dpat diperlihatkan berikut ini.
DIALEKTOMETRI
Guiter Lauder
% Fonologi % Leksikon % Leksikon
Kategori
17–100 81—100 70 ke atas Beda bahasa
12—16 51—80 51 — 69 Beda dialek
8—11 31—50 41 — 50 Beda subdialek
4—7 21—30 31 — 40 Beda wicara
3 ke bawah 20 ke bawah 30 ke bawah Tidak ada perbedaan
Berdasarkan perbedaan persentase (khusus leksikon) di atas
terlihat bahwa Lauder menurunkan 10 % dari kategori yang diusulkan
Guiter. Sebenarnya yang menarik untuk dipertanyakan ialah mengapa
diturunkan hanya 10 % tidak 5%, 15%, 20% atau dalam jumlah
lainnya. Alasan bahwa tingkat perbedaan unsur leksikal bahasa-bahasa
daerah di Indonesia berkisar 65%–70% sebenarnya tidak terbukti,
karena dari penghitungan perbedaan leksikon terhadap bahasa-bahasa
di Sulawesi, NTB, Kalimantan mencapai perbedaan di atas 80%,
bahkan untuk bahasa-bahasa di NTT, Maluku, dan Papua terdapat
perbedaan antarisolek mencapai 100%. Selain itu, pandangan Lauder di
atas masih mencampuradukkan antara dua kategori penentuan status
bahasa, dialek, subdialek yang memiliki dasar filosofis yang berbeda,
yaitu mencampuradukkan antara kategori penentuan berdasarkan
mutual intelligibility dengan analisis kuantitatif (dialektometri) (lihat
Lauder, 2003: 9). Persoalannya, kerangka konseptual metodologis
macam apakah yang dipandang lebih rasional, jika kedua model di atas
masih dipandang kurang rasional. Paparan dalam seksi berikut ini
diharapkan dapat memberikan kejelasan pandangan yang dianut dalam
upaya pemetaan bahasa-bahasa di Indonesia.

3. Ke Arah Pengembangan Kerangka Konseptual-Metodologis
bagi Penentuan Status Bahasa dan Dialek
Dengan tidak mengabaikan peran penting yang dimainkan
metode kualitatif, agaknya metode kuantitatif yang berupa dialektometri
masih dapat dipandang sebagai salah satu metode yang cukup
representatif. Tentu persoalannya, model yang mana di antara ketiga
model yang pernah diterapkan dalam pemetaan bahasa-bahasa di
Indonesia itu yang akan dipilih. Dengan penjelasan ihwal kedua contoh
hasil kajian di atas, secara selintas mungkin menuntun kita pada
jawaban yang berupa pilihan pada model yang diajukan oleh Guiter.
Namun, tidak sepenuhnya demikian. Ada suatu hal, yang secara
filosofis-metodologis, perlu dijelaskan sehubungan dengan penetapan
kategori yang berbeda untuk persentase perbedaan fonologi dan
leksikon yang diajukan Guiter ersebut (lihat seksi 2 di atas).
Apabila dicermati, batas krusial penetapan perbedaan isolek itu
sebagai perbedaan bahasa adalah 80% untuk perbedaan leksikon dan
16% untuk perbedaan fonologi. Ada dua pertanyaan mendasar yang
perlu diajukan sehubungan dengan kategori tersebut, yaitu berikut ini.
a. Mengapa memilih angka 80% untuk titik krusial sebagai
batas penetapan apakah isolek-isolek yang diperbandingkan
itu berbeda bahasa atau berbeda dialek?
b. Mengapa bobot perbedaan fonologi jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan bobot perbedaan leksikon (1
berbanding 5)?
Angka 80% untuk titik rusial penetapan apakah isolek-isolek
yang diperbandingkan itu berbeda bahasa atau dialek, sebenarnya
berasal dari adopsi kategori persentase kata berkerabat dalam
leksikostatistik. Angka ini diperoleh dari hasil pengurangan 100%
dengan 20%. Bahwa mengapa dikurangi dengan 20% bukan dengan
10%, 15% atau lainnya, karena untuk perjalanan sebuah bahasa dalam
kurun waktu 1000 tahun, persentase perubahan yang terjadi pada kosa
kata dasar tidak lebih dari 20%. Itu sebabnya dalam leksikostatistik
angka 80% itu dijadikan titik krusial dalam penetapan apakah bahasa
yang sama atau bahasa yang berbeda. Persentase dalam leksikostatik
yang dikembangkan oleh Swadesh ini diadopsi ke dalam persentase
dialektometri oleh Guiter.

Bahwa terjadi perbedaan kategori persentase antara perbedaan
fonologi dan leksikon, dengan bobot 1:5, karena diasumsikan bahwa
perubahan dalam bahasa-bahasa didunia berlangsung secara teratur.
Persis sama dengan pandangan yang dianut oleh Kaum
Neogrammarians (Junggramatiker), dengan teorinya berupa hukum
perubahan bunyi tanpa kecuali (Ausnahmslosigkeit der Lautgesetze).

Dari analisis terhadap bahasa-bahasa di Indonesia, perubahan
yang diasumsikan Guiter itu tidak terbukti. Artinya, perubahan yang
banyak terjadi dalam bahasa-bahasa itu justeru tidak bersifat teratur.
Lebih banyak perubahan yang bersifat sporadis (tidak teratur) daripada
perubahan yang bersifat teratur (korespondensi).
Penyangkalan terhadap asumsi Guiter ini, sebenarnya telah
menjadi perdebatan dalam tradisi penelusuran kekerabatan bahasabahasa
rumpun Indo-Eropa. Gillieron dan Wenker (masing-masing di
Prancis dan Jerman) telah membuktikan bahwa hukum perubahan
bunyi tanpa kecuali yang dikemukakan Kaum Neogrammarian, tidak
terbukti kebenarannya.

Dengan berpatokan pada kenyataan itu, penelitian pemetaan
bahasa-bahasa daerah di Indonesia dilaksanakan dengan menggunakan
metode kuantitatif, berupa dialektometri dengan persentase perbedaan
baik untuk perbedaan fonologi maupun leksikon disatukan. Jadi, tidak
ada pengklasifikasian persentase antara perbedaan fonologi dan
leksikon, keduanya dihitung menjadi satu kesatuan dengan menerapkan
satu kategori penetapan, yaitu:
81% ke atas : dianggap perbedaan bahasa
51-80% : dianggap perbedaan dialek
31-50% : dianggap perbedaan subdialek
21-30% : diangggap perbedaan wicara
20% ke bawah : dianggap tidak ada perbedaan
Persentase di atas diperoleh setelah menerapkan rumus berikut
ini.
(S x 100) = d%
n
Keterangan :
S = jumlah beda dengan daerah pengamatan lain
n = jumlah peta yang diperbandingkan
d = jarak kosa kata dalam persentase
Selain metode kuantitatif di atas, dalam batas-batas tertentu,
digunakan pula metode kualitatif yang berupa ciri-ciri kebersamaan
linguistik, yang dapat berwujud inovasi bersama yang bersifat ekslusif
dan retensi bersama. Maksudnya, mengingat waktu yang cukup terbatas,
penerapan metode ini dilakukan sebagai langkah pemecahan jika
ditemukan permasalahan dalam penentuan status isolek sebagai bahasa
atau dialek dengan metode kuantitatif tersebut.
4. Aplikasi Metode dalam Pemetaan Bahasa-Bahasa di Indonesia
Sebelum dijelaskan langkah-langkah yang dilalui dalam
penerapan metode di atas terlebih dahulu dijelaskan sumber dan wujud
data yang digunakan dalam analisis. Analisis difokuskan pada
perbedaan fonologi dan leksikon. Dipilihnya dua aspek kebahasaan
tersebut, karena secara dialektologis perbedaan bahasa-bahasa di dunia
lebih banyak terdapat pada bidang fonologi dan leksikon daripada
perbedaan pada bidang gramatika dan semantik. Data yang dianalisis
adalah data yang dikumpulkan sejak 1992 s.d. 2008, dan difokuskan
pada 400 kosa kata, 200 di antaranya adalah kata yang termasuk dalam
kosa kata dasar. Sampai dengan tahun 2008 telah berhasil dikumpulkan
data pada 2185 daerah pengamatan yang tersebar di seluruh ndonesia
dan masih terdapat ratusan daerah pengamatan yang ditetapkan sebagai
sampel di Papua dan Maluku, serta NTT yang belum dikumpulkan
datanya.

Beberapa langkah yang dilakukan dalam penerapan metode di
atas adalah berikut ini.
a. Menghimpun data dari keseluruhan daerah pengamatan
dalam tabel yang disebut tabulasi tahap I atau disebut pula
data verbal I. Peta verbal I memuat semua bentuk yang
menjadi realisasi makna/glos tertentu yang diurut menurut
bentuk-bentuk yang dihipotesiskan sebagi bentuk-bentuk
yang diturunkan dari sebuah bentuk purba. Apa yang
tergambar pada peta verbal I di atas merupakan klasifikasi
data lapangan yang belum mencerminkan
pengkategorisasian data atas dasar aspek linguistik yang
dideskripsikan pebedaannya. Maksudnya, deskripsi
perbedaan unsur kebahasaan di atas belum terlihat
perbedaan unsur kebahasaan yang hendak dideskripsikan:
apakah perbedaan fonologi atau perbedaan leksikon.
b. Melakukan analisis sinkronis yang berupa pemilahan
bentuk-bentuk yang berbeda secara fonologis dan secara
leksikal. Semua data yang teranalisis tersebut dimuat dalam
tabulasi II, atau disebut pula dengan peta verbal II. Dalam
peta verbal ini akan terlihat secara jelas bentuk-bentuk yang
berbeda secara fonologis dan yang berbeda secara leksikal.
Pengubahan peta verbal I menjadi peta verbal II dilakukan
melalui tahapan berikut ini.
1. Menentukan kaidah fonologis bentuk-bentuk yang diduga
merupakan refleks dari etimon yang sama.
2. Bentuk yang lebih kompleks (bukan karena proses
morfologis) dapat dihipotesiskan sebagai bentuk yang
menjadi asal dari bentuk-bentuk yang seetimon.
3. Menentukan kaidah perubahan bunyi di antara bentukbentuk
yang seetimon, sehingga diperoleh kaidah perbedaan
fonologis.
4. Menentukan pasangan perubahan bunyi dalam kaidah
fonologis dengan berlandaskan pada pandangan historis
bahwa bunyi konsonan akan berubah atau selalu muncul
sebagai konsonan bukan sebagai vokal dan bunyi vokal
akan berubah atau selalu muncul sebagai vokal, bukan
sebagai konsonan.
5. Memulai membuat kaidah perbedaan fonologi dengan
mengidentifikasi perbedaan pada posisi awal, tengah
(antarvokal atau antarkonsonan), dan akhir.
6. Apabila beberapa bentuk yang seetimon memiliki lebih dari
satu kemungkinan pengkaidahan, maka setiap kemungkinan
pengkaidahan ditempatkan dalam alternatif pemetaan yang
berbeda.
7. Setiap alternatif pemetaan (secara verbal) harus memuat
informasi tentang bentuk-bentuk yang menjadi realisasi
makna tersebut serta sebaran geografisnya.
8. Apabila bentuk-bentuk yang menjadi realisasi makna itu
dapat dikelompokkan ke dalam beberapa etimon, maka
setiap kelompok yang memiliki lebih dari satu refleks harus
dikaidahkan, kecuali refleks-refleks itu memiliki sebaran
geografis yang sama.
9. Setiap kaidah fonologis untuk setiap etimonnya ditempatkan
dalam alternatif pemetaan yang berbeda.
10. Apabila hanya dapat dikaidah satu kali, maka kaidah itu
akan muncul berulang-ulang pada alternatif pemetaan yang
berbeda, sejumlah kemungkinan pemetaan bentuk-bentuk
yang menjadi realisasi makna tersebut.
11. Urut-urutan bunyi dalam pengkaidahan dilakukan secara
konsisten. Artinya, apabila pada pengkaidahan dalam
glos/makna tertentu digunakan urutan kaidah: Ø ~ h / #-,
maka pemetaan pada alternatif pemetaan glos lainnya harus
mengikuti urutan tersebut. Bahwa mana yang lebih dahulu
[Ø] atau [h] atau sebaliknya tidaklah menjadi persoalan,
karena pembedaan pada tataran ini masih bersifat horizontal
bukan vertikal, yang penting selalu konsisten dengan
pengurutannya.
12. Data yang telah dianalisis dalam bentuk peta verbal II itulah
yang dijadikan basis analisis dengan penerapan perhitungan
dialektometri.
Namun, untuk glos yang memiliki alternatif pemetaan lebih dari
satu, sebelum penghitungan dialektometri dilakukan terlebih dahulu
harus ditetapkan peta mana yang akan dipilih sebagai sampel dalam
penghitungan. Untuk memilih alternatif peta sampel, dilakukan dengan
memegang prisnsip-prinsip:
1. Pilih alternatif peta yang kaidahnya sama dengan kaidah
dalam alternatif pemetaan pada glos lainnya. Pengertian
sama di sini tidak hanya sama kaidahnya, tetapi sama atau
relatif sama daerah sebaran yang disatukan atau dibedakan
oleh kaidah tersebut. Hal ini bermanfaat untuk
mengidentifikasi peta yang berupa korespondensi.
2. Apabila tidak ditemukan alternatif peta yang sama
kaidahnya dari semua glos itu, maka langkah selanjutnya,
memilih alternatif peta pada glos itu yang secara bersamasama
dengan alternatif peta pada glos lainnya yang
mempersatukan daerah pengamatan yang sama atau relatif
sama.
3. Peta-peta pada glos sisanya yang belum ditentukan alternatif
pemetaan yang akan dipilih, ditentukan dengan tetap
mempertimbangkan adanya dukungan bagi penetapan
daerah pengamatan atau kelompok daerah pengamatan
tertentu sebagai daerah pakai isolek yang berbeda dengan
lainnya. Apabila langkah ini tidak memungkinkan, alternatif
peta dipilih secara mana suka.

Setelah tahap-tahap di atas dilakukan, maka langkah selanjutnya
adalah penerapan metode dialektometri, melalui dua tahap berikut ini.
a. Penamaan bahasa menurut pengakuan penutur dijadikan titik
pangkal analisis;
b. Menyatukelompokkan DP yang oleh penuturnya disebut
sebagai penutur bahasa yang sama;
c. Melakukan penghitungan dialektometri tahap I, yang
bertujuan menguji apakah memang benar DP_DP yang oleh
penuturnya merupakan penutur bahasa yang sama (uji
dialektometri internal kelompok)
d. Apabila dari hasil uji dialektometri internal tersebut
membuktikan bahwa DP-DP itu memang terbukti sebagai
kelompok DP pemakai bahasa yang sama atau terpilah ke
dalam beberapa kelompok pemakai bahasa yang berbeda
maka hasil uji inilah yang dijadikan pegangan.
e. Daerah pakai isolek yang terdiri atas satu DP dan diakui
oleh penuturnya sebagai pemakai bahasa tersendiri, maka
DP itu untuk sementara ditetapkan sebagai DP pemakai
bahasa tersendiri dengan nama sesuai pengakuan penuturnya;
f. Penghitungan dialektometri tahap II merupakan penghitungan
antarkelompok, jadi bersifat eksternal, yang bertujuan
untuk menjustifikasi apakah benar kelompok penutur isolek
itu adalah penutur bahasa yang berbeda atau jangan-jangan
merupakan penutur bahasa yang sama. Penghitungan
dialektometri eksternal ini, jika jumlah DP penutur bahasa
itu lebih dari satu, dilakukan dengan mengambil salah satu
DP untuk setiap bahasa sebagai sampelnya,.
g. Dalam penghitungan dialektometri tahap II, jika persentase
hubungan antar-DP dalam wilayah satu bahasa itu berfluktuasi,
maka pemilihan salah satu DP sebagai sampelnya
dilakukan dengan mengambil salah satu DP yang terendah
persentase perbedaannya.
h. Hasil penghitungan dialektometri tahap kedua itulah yang
selanjutnya diinterpretasi untuk penentuan pengelompokkan
DP sebagai pemakai atau kelompok pemakai bahasa atau
dialek tertentu.
i. Namun demikian, apabila terdapat tarik-menarik antara dua
kelompok pemakai isolek yang telah teridentifikasi sebagai
pemakai bahasa atau dialek yang berbeda terhadap
keanggotaan suatu isolek (DP) tertentu, akibat dari
kesamaan kategori tingkat persentase perbedaan DP tersebut
terhadap kedua kelompk isolek itu, maka pemecahannya
dilakukan melalui identifikasi bukti kualitatif.
j. Hasil penghitungan dialektometri tahap II menjadi patokan
penentuan jumlah bahasa/dialek dalam wilayah penelitian.
Dengan menerapkan metode dan langkah-langkah di atas, dari
2185 DP yang dijadikan sampel, berhasil diidentifikasi sejumlah 442
bahasa. Dari jumlah itu belum termasuk bahasa Indonesia, yang
menjadi bahasa nasional dan resmi negara. Tidak semua bahasa yang
diidentifikasi berhasil diketahui variasi dialektalnya, karena cukup
banyak bahasa yang sampel tempat pengambilan datanya hanya 1 DP,
seperti bahasa-bahasa di Maluku dan Papua.

5. Penutup
Berikut ini akan disampaikan beberapa hal sebagai catatan
penutup.
Analisis yang dilakukan secara serentak terhadap keseluruhan
daerah sampel penelitian dengan menerapkan metode yang sama telah
diperoleh hasil yang memiliki perbedaan mendasar dengan publikasi
mutahir tentang bahasa-bahasa di Indonesia yang dilakukan SIL.
Dalam publikasi SIL (2006) disebutkan bahwa bahasa Serui
Laut di Papua mempunyai nama lain sebagai bahasa Arui. Artinya, satu
bahasa yang memiliki dua nama. Namun dari penghitungan dialektometri,
perbedaan fonologi dan leksikon antara Serui Laut dengan
Arui mencapai 100%. Itu artinya, kedua isolek itu merupakan bahasa
yang berbeda, bukan bahasa yang sama. Hal yang sama dengan kasus
di atas adalah bahasa Riantana mempunyai nama lain, yaitu bahasa
Kimaam. Dengan kata lain, penutur isolek di Riantana dengan Kimaam
merupakan penutur satu bahasa yang sama, namun dengan menerapkan
metode dan langkah-langkah analisis di atas diperoleh hasil bahwa
hubungan kedua isolek itu adalah hubungan dua bahasa yang berbeda
dengan persentase perbedaan fonologi dan leksikon 96,50%.

Sebaliknya, kasus Isolek Ansus dan Papuma; isolek Sekar
(Seka) dan Onin (Onim, Sepa) juga di Papua disebutkan dalam SIL
masing-masing adalah bahasa yang berbeda, namun hasil analisis
dengan metode yang dipaparkan di atas diidentifikasi bahwa antara
kedua pasangan isolek tersebut masing-masing merupakan bahasa yang
sama dengan persentase sebesar 77% dan 78,75%. Masih banyak kasus
lain yang serupa dengan kedua kasus di atas.
Dapat dimaklumi bahwa apa yang ditemukan SIL bukanlah
hasil kajian yang menerapkan satu parameter yang sama untuk semua
daerah pakai isolek yang menjadi sampel penelitiannya, melainkan
hasil kompilasi dari berbagai penelitian yang pernah dilakukan para
pakar dari berbagai asal dan pendekatan. Bahkan sebagian isolek yang
disebut sebagai bahasa itu ditetapkan berdasarkan pengakuan
penuturnya.

Terlepas dari hal di atas, meskipun kita masih memerlukan
waktu lagi untuk mengidentifikasi jumlah keseluruhan bahasa yang
terdapat di wilayah Indonesia, kiranya sudah saatnya kita mulai
memikirkan model pendekatan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan
untuk menjejaki relasi kekerabatan antarbahasa yang berhasil
diidentifikasi tersebut. Hal ini dimaksudkan, agar perbedaan pandangan
tentang relasi kekerabatan/pengelompokan bahasa-bahasa di Indonesia
yang diajukan baik oleh Brandes (1884), Blust (1977, 1978, 1982),
Dyen (1965), atau Nothofer (1975) dapat dijembatani, sebagaimana
penelitian pemetaan bahasa-bahasa daerah di Indonesia berihtiar
menghilangkan kesimpangsiuran informasi tentang jumlah bahasa di
Indonesia. hasil dari pengelompokan bahasa-bahasa tersebut juga dapat
memperjelaskan pada kita akan keberagaman suku bangsa namun satu
asal.

DAFTAR PUSTAKA
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1956. Sejarah Bahasa Indonesia. Djakarta:
Pustaka Rakyat.
Blust, Robert A. 1977.”The Proto-Austronesian Pronouns and
Austronesian Subgrouping: A Preliminary Report”. Dalam
University of Hawaii Working Papers in Linguistics, 9(2): 1-15.
17
Blust, Robert A. 1978. “Eastern Malayo-Polynesian: A Subgrouping
Argument”.dalam Second International Conference on
Austronesian Linguistics: Proceedings, Fascicle 1: Western
Austronesian, (=Pacific Linguistics C6: 181-234).
Blust, Robert A. 1982. “The Linguistic Value of the Wallace Line”.
Dalam Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde. 137: 456-
469.
Danie, J Akun. 1991. Kajian Geografi Dialek di Minahasa Timur Laut.
Jakarta: Balai Pustaka.
Dyen, Isidore. 1965. “A Lexicostatistical Classification of the
Austronesian Languagees”, dalam International Journal of
Americen Linguistics. Memoir, 19 (Jil. 31, No.1).
Esser, S.J. 1951. “Peta Bahasa-Bahasa di Indonesia”. Djakarta:
Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebdayaan.
Grimes, Barbara F. (Ed). 1988. Ethnologue: Languages of the Wold.
Eleventh Edition. Dallas, Texas: SIL Inc.
Guiter, Henri. 1973. “Atlas et Frontiere Linguistique”. Les Dialectes
Romans de France, No. 930: 61-109. Paris: Centre National
de la Recherche Scientifique.
Lembaga Bahasa Nasional. 1972. Peta Bahasa-bahasa di Indonesia.
Jakarta: Lembaga Bahasa Nasional.
Lauder. Multamia RMT. 2002. “Reevaluasi Konsep Pemilahan Bahasa
dan Dialek untuk Bahasa Nusantara”. Dalam Jurnal Ilmiah
Makara Seri Sosial Humaniora. Vol.6. No. 1.Jakarta:
Universitas Indonesia.
Lauder. Multamia RMT. 2003. “Pengembangan dan Pemanfaatan
Kajian Dialektologi di Indonesia”. Pidato Pengukuhan Guru
Besar Tetap, Fakutas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas
Indonesia.
Lauder. Multamia RMT. 1993. Pemetaan dan Distribusi Bahasa-Bahasa
di Tangerang. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa.
Mahsun. 2007. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode,
dan Teknik-tekniknya. Jakarta: RajaGrafindo.
Mahsun, 2006: Kajian dialektologi Diakronis di Wilayah Pakai Bahasa
Sumbawa. Yogyakarta: Gama Media.
Mahsun. 1995. Dialektologi Diakronis: Sebuah Pengantar.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nothofer, B. 1975. The Reconstruction of Proto-Malayo-Javanic.
VKI,73. ‘s-Gravenhage: Nijhoff.
Salzner, Richard. 1960. Sprachen-Atlas des Indopazifischen Raumes.
Wiesbaden: Otto Harassowitz.
Seguy, J. 1973. “La Dialectometrie dans l’Atlas Linguistique de la
Gascogne”, Revue de Linguistique Romane. Vol. 37: 1-24.

Mahsun
Kantor Bahasa Provinsi NTB

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

About these ads

3 Tanggapan

  1. Saya punya dua pertanyaan:
    1. Kapan dua kata diaanggap identis, apakah kalau identis dari segi fonemis atau dari segi fonetis? Saya kira harusnya dari segi fonemis, sebab kalau dari segi fonetis identis atau tidak tergantung pada jenis transkripsi kita (‘broad’ atau ‘narrow’).
    2. Di dua disertasi yang baru jumlah bahasa yang ada di pulau Sumba diuraikan, satu memakai metode dialektometri dan satu metode lexikostatistik. Dr. Anak Agung Putu Putra yang memakai metode dialektometri membuat kesimpulan bahwa ada hanya satu bahasa di pulau Sumba sedangkan Dr. I Gede Budasi yang memakai metode lexikostatistik membuat kesimpulan bahwa ada tujuh bahasa di Sumba.
    Dua kesimpulan itu berbeda jauh dan kemungkinan besar berasal dari perbedaan metode yang dipakai oleh dua peniliti itu. Menurut penilitian saya ada paling sedikit empat bahasa di Sumba, tetapi munkin ada sebanyak sepuluh bahasa.
    Sekarang kita harus memutuskan metode apa yang paling cocok untuk menentukan berapa bahasa yang ada di salah satu daerah di Indonesia. Menurut pengalaman saya, yang sangat terbatas, kriteria bahasa (81% ke atas berbeda) terlalu keras. Untuk keadaan di Indonesia kita munkin harus ikut Professor Multamia Lauder dan membuat batas bahasa 71%.
    Dialektometri jelasnya metode yang sangat berguna untuk menguraikan beda antara dialek, tetapi barangkali metode lexikostatistik lebih cocok untuk membedakan bahasa?

  2. saya mau tanya bleh kn?
    mengapa ragam dialek setiap di daerah2 terdapat perbedaan2 dari dialeg nya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: