Penanganan Bahasa Dayak yang Hampir Punah dan sudah Punah

ABSTRACT
Indigenous language in Central Kalimantan is called
Dayak Language. From 37 indigenous languages in Central
Kalimantan, there are only three languages that have been
classified as standard language. And only one indigenous
language has standard qualification. It shows that almost
indigenous languages are only used as communication tool
in limited area that is within the race.
This situation has resulted in four language situation
trends in Central Kalimantan. First, Language Group 1 and
Group 2 are to be the first choice for the language users.
Second, in the city/urban area, the trend language Group 1
and Group 2 are going to decrease. Third, the change of
social structure and population density cause language
group 1 and group 2 tends to be extinct. Fourth, the natural
selection will configure which language that can stand or
will be extinct.
The almost and extinction language need to be handled
immediately. The alternative handling are: (1) raising the
positive attitude of the native speakers and motivating them
to use their own language, (2) revitalizing the language that
has sustainability, (3) making efforts to standardize the
language that has good status, (4) stimulating or
encouraging local government to make policy on language
development and preservation comprehensively, (5) starting
to chose which language has to preserve or let to be
devitalize, (6) conducting researches/studies and
documenting of indigenous languages completely and
comprehensively, (7) bequeathing the local culture through
writing activities, and (8) making strategic program to
mapping the existing languages in Central Kalimantan.

1. Pendahuluan
Provinsi Kalimantan Tengah mempunyai luas wilayah 153.364
Km2 dengan jumlah penduduk 2.502.383 jiwa atau kepadatan rata-rata
16,30 jiwa/Km2. Dari jumlah penduduk itu, sekitar 70% adalah
penduduk pribumi. Jumlah penduduk pribumi diperkirakan 1.500.000.
Dengan luas, jumlah penduduk pribumi, dan penyebaran penduduk
seperti itu di Kalimantan Tengah dijumpai tiga puluh enam bahasa
pribumi. Jika jumlah penduduk pribumi saja dibandingkan dengan
jumlah bahasa pribumi maka akan didapat rasio 1 : 41.667. Artinya
setiap bahasa rata-rata memiliki penutur lebih kurang empat puluh satu
ribu orang.

Bahasa pribumi di Kalimantan Tengah lazim disebut sebagai
bahasa Dayak. Dari tiga puluh enam bahasa pribumi yang terdapat di
Kalimantan Tengah, hanya sebuah bahasa yang berklasifikasi standard.
Terdapat juga dua buah bahasa klasik. Selebihnya, terdapat sebelas
bahasa berklasifikasi vernacular dan dua puluh dua bahasa
berklasifikasi dialek (Poerwadi, 1995).

Berdasarkan analisis mengenai fungsi-fungsi bahasa daerah di
Kalimantan Tengah (Poerwadi, 1995) menjelaskan bahwa di
Kalimantan Tengah terdapat dua puluh dua bahasa yang berfungsi
sebagai bahasa group (g1), yaitu sekitar 61% dari jumlah bahasa di
Kalimantan Tengah. Di samping itu juga terdapat sebelas bahasa atau
sekitar 30% berfungsi sebagai bahasa group (g2). Sisanya. masingmasing
dua bahasa berfungsi sebagai bahasa komunikasi luas (4%) dan
bahasa berstatus khusus (5%). Hanya sebuah bahasa pribumi yang
berfungsi sebagai bahasa komunikasi luas. Hal ini sudah menunjukkan
bahwa sebagian besar bahasa pribumi hanya digunakan sebagai sarana
komunikasi di lingkungan yang sangat terbatas yaitu antara anggota
sesuku.

Sekitar 78% (dua puluh delapan buah) bahasa daerah di
Kalimantan Tengah merupakan bahasa kelas VI, yakni bahasa yang
jumlah penuturnya kurang dari 5% jumlah penduduk. Selain bahasa
kelas VI, di Kalimantan Tengah juga terdapat 17% (enam buah) bahasa
kelas V, 3% (sebuah) bahasa kelas III, dan 5% (dua buah) bahasa
khusus. Di samping itu juga terdapat sebuah bahasa mayor (may),
empat buah bahasa minor (min), tiga puluh enam bahasa tidak memiliki
tulisan (W0) dan sebuah bahasa yang memiliki tulisan (W1) (satusatunya
bahasa di Kalimantan Tengah yang mempunyai tulisan adalah
bahasa Jawa : jadi bukan merupakan bahasa pribumi). Di Kalimantan
Tengah juga terdapat sebuah bahasa yang dijadikan mata pelajaran (s),
dan sebuah bahasa yang digunakan untuk keperluan pendidikan (e)
Jika dilihat dari kategori dan fungsinya didapat simpulan bahwa
sekitar dua puluh tiga buah bahasa merupakan bahasa berstatus khusus
(spec1). Ini berarti bahwa sekitar 63% bahasa daerah di Kalimantan
Tengah hanya berfungsi sebagai bahasa pengantar dalam kelompok
yang sangat terbatas. Di samping itu terdapat tujuh bahasa (sekitar
20%) berstatus khusus (spec2) yaitu bahasa yang dipakai untuk
berkomunikasi dengan anggota kelompok suku. Tiga buah bahasa
religius (R) dua di antaranya berstatus khusus religius (spec). Berikut
ini disajikan tabel jumlah penutur, fungsi, dan klasifikasi bahasa yang
terdapat di Kalimantan Tengah.

TABEL 1
JUMLAH PENUTUR, FUNGSI, DAN KLASIFIKASI BAHASA
DI KALIMANTAN TENGAH
Bahasa/ Dialek Penutur* Fungsi Klasifikasi
1. Bahasa Lawangan 14.858 g 2-VI –spec2-WO V
a. Dialek Taboyan 11.759 g 1-VI- spec1-WO D
b. Dialek Bawo 3.726 g1-VI- spec1WO D
2. Bahasa Bayan 12.249 g2-VI- spec2-WO V
a. Dusun Malang 2.570 g1-VI- spec1-WO D
3. Bahasa Maanyan 117.347 g2-V- spec2-WO V
a. Dialek Dusun Pepas 2.648 g1-VI- spec1-WO D
b. Dialek Dusun Witu/
Kalahien
5.000 g1-VI- spec1-WO D
4. Bahasa Paku 500 g2-VI- spec2-WO V
5. Bahasa Ot Danum 50.000 g2-VI- spec2-WO V
6. Bahasa Siang 32.368 g2-VI- spec2-WO V
7. Bahasa Murung 10.649 g2-VI- spec2-WO V
a. Dialek Kalorih 6.407 g1-VI- spec1-WO D
8. Bahasa Seruyan 8.000 g1-VI- spec1-WO V
9. Bahasa Ngaju 659.000 w-III- s-e-r-may-
WO
S
a. Dialek Baru 2.500 g1-VI- spec1-WO D
b. Dialek Rungan 10.000 g1-VI- spec1-WO D
c. Dialek Katingan 30.500 g1-VI- spec1-WO D
10. Bahasa Bakumpai 80.703 g2-V- min-WO V
a. Dialek Magantis 1.500 g1-VI- spec1-WO D
3
b. Dialek Mentaya 30.000 g1-VI- spec1-WO D
c. Dialek Sampit 75.000 g2-V- min-WO D
d. Dialek Sebangau 7.000 g1-VI- spec1-WO D
e. Dialek Mendawai 2.500 g1-VI- spec1-WO D
11. Bahasa Tamuan 10.000 g1-VI- spec1-WO V
12. Bahasa Lamandau 20.000 g2-V- spec2-WO V
a. Dialek Pangkut 3.500 g1-VI- spec1-WO D
b. Dialek Delang 10.250 g1-VI- spec1-WO D
c. Dialek Melata 1.600 g1-VI- spec1-WO D
13. Bahasa Kotawaringin 9.038 g2-V- spec2-WO V
a. Dialek Kumai 57.224 g1-VI- spec1-WO D
b. Dialek Sukamara 9.030 g1-VI- spec1-WO D
c. Dialek Kuala Jelai 7.000 g1-VI- spec1-WO D
14. Bahasa Kaninjal 1.000 g1-VI- spec1-WO V
15. Bahasa Pangunraun 0 r-spec-WO C
16. Bahasa Sangen 0 r -spec-WO C
1.305.426
17. Bahasa-bahasa Lain (bukan
pribumi: Banjar, Jawa,dll)
698.684
Jumlah 2.004.110

TABEL 2
REKAPITULASI JUMLAH PENUTUR BAHASA DAYAK
Bahasa/ Dialek Penutur
Maanyan, Lawangan, Bayan, Paku 170.657
Ot Danum, Siang, Murung 99.424
Seruyan, Kaninjal 9.000
Ngaju 702.000
Bakumpai 196.703
Lamandau, Tamuan 45.350
Kotawaringin 82.292
Jumlah Penutur Bahasa Dayak 1.305.426
Jumlah Penutur Bahasa 698.684
Jumlah Penduduk 2.004.110
Keterangan : Formula Stewart (1962) dan Fergusson(1971) yang
menggambarkan di mana, kapan, dalam ranah apa bahasa itu dipakai,
jumlah penutur, kategori. Tradisi tulisan,

1. g1 : alat komunikasi dalam kelompok kecil (keluarga dari
keompok besar)
2. g2 : alat komunikasi dalam kelompok besar
3. r : religion
4. w : wider communication
5. e : education
6. s : school subject
7. l : literary
8. III : jumlah penuturnya 25% atau lebih dari jumlah
penduduk
9. V : jumlah penuturnya sama dengan atau lebih 5% dari
jumlah penduduk
10. VI : jumlah penuturnya kurang dari 5% dari jumlah
penduduk
11. may : bahasa mayor, memiliki salah satu dari tiga syarat: (1)
bahasa asli yang jumlah penuturnya sekurang-kurangnya 25%
dari jumlah penduduk atau satu juta orang, (2) merupakan
bahasa resmi, (3) bahasa itu merupakan bahasa yang dipakai
dalam pendidikan lebih dari 50% tamatan sekolah menengah.
12. min : bahasa minor, memiliki salah satu dari dua syarat: (1)
bahasa asli yang jumlah penuturnya kurang dari 25% tetapi
lebih dari 5% jumlah penduduk atau lebih dari 100.000 orang,
(2) bahasa yang digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah
dasar dan mempunyai buku teks selain yang dipakai di sekolah
dasar.
13. spec : bahasa dengan status khusus, memiliki salah satu
dari persyaratan (1) digunakan dalam lingkungan keagamaan,
(2) sastra, (3) pada tingkat sekolah menengah, (4) digunakan
oleh sejumlah orang sebagai lingua franca di suatu tempat, (5)
digunakan dalam peringkat umur tertentu. Bahasa dengan status
spec1 digunakan sebagai lingua franca di suatu tempat yang
lebih sempit dari spec2 yang menjadi lingua franca di wilayah
yang lebih luas.
14. WO : memiliki tulisan tetapi tidak dipakai atau tidak
memiliki tulisan
15. W1 : memiliki tulisan dan dipakai untuk hal yang bersifat
pribadi
16. V : vernacular, bahasa daerah yang memiliki otonomi
dalam perkembangannya .
17. D : dialect, variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok
bahasawan tertentu dari suatu kelompok bahasawan.
18. C : classic, bahasa yang sudah kehilangan vitalitas namun
memiliki standar, otonomi, dan sejarah.

Keterangan* : Jumlah penutur merupakan jumlah perkiraan. Jumlah
penutur yang sesungguhnya sulit dipastikan. Jumlah
penutur tersebut diproyeksikan dari sebaran jumlah
penduduk di Kalimantan Tengah menurut BPS
Kalteng 2006 (lihat Tabel 3). Penggunaan angkaangka
itu untuk menunjukkan bahwa jumlah penutur
bahasa pribumi (Dayak) di Kalmantan Tengah tidak
ada yang mencapai satu juta orang. Oleh karena itu
patokan penutur satu juta orang untuk bahasa
berkategori may atau min tidak dapat digunakan.
Berikut ini disajikan tabel jumlah rumah tangga,
penduduk dan jenis kelamin menurut kabupaten atau
kota.

TABEL 3
JUMLAH RUMAH TANGGA, PENDUDUK DAN JENIS
KELAMIN
MENURUT KAB./KOTA TAHUN 2006
Penduduk
Kabupaten/Kota
Rumah
Tangga Laki-laki Perempuan Jumlah
1. Kotawaringin Barat 53,451 106.830 99.282 206.112
2. KotawaringinTimur 77.083 165.597 149.877 315.474
3. Kapuas 91.290 176.124 175.455 351.579
4. Barito Selatan 31.675 62578 60.351 122.929
5. Barito Utara 26.298 58.394 55.612 114.006
6. Sukamara 10.297 19.219 16.961 36.180
7. Lamandau 15.031 28.523 27.388 55.911
8. Seruyan 26.145 57.172 50.489 107.661
9.Katingan 32.743 69.480 63.569 133.049
10.Pulang Pisau 29.392 59.977 58.231 118.208
11.Gunung Mas 18.635 45.003 41.025 86.028
12.Barito Timur 22.570 43.089 42.066 85.155
13.Murung Raya 21.020 45.832 42.185 88.017
14. Palangka Raya 43.277 91.072 92.729 183.801
Jumlah 2006 498.907 1.028.890 975.220 2.004.110

2005 483.214 1.005.986 952.442 1.958.428
2004 454.521 982.507 931.281 1.913.788
2003 436.628 964.855 905.852 1.870.707
2002 454.977 939.365 895.000 1.834.365
*Sumber: Kalimantan Tengah Dalam Angka 2006 (BPS Kalimantan
Tengah)

Selanjutnya, Poerwadi (1995) menunjukkan adanya berbagai
pola pemakaian bahasa daerah. Beberapa pola dapat diambil sebagai
pola umum pemakaian bahasa di Kalimantan Tengah. Pola umum yang
dimaksud adalah bahwa bahasa group (g1) maupun group (g2) masih
menjadi pilihan pertama pemakaian bahasa. Namun demikian, bahasa
nasional (bahasa Indonesia) dan bahasa komunikasi luas (w), yaitu
bahasa Ngaju dan bahasa Banjar sudah menjadi tantangan atau pesaing
bagi pemilihan dan pemakaian bahasa group. Tampaknya, ada
kecenderungan di daerah perkotaan bahasa group (g2) maupun (g1)
mulai kehilangan pemilih. Pola pemakaian bahasa di kota cenderung
didominasi oleh bahasa komunikasi luas dan bahasa Indonesia. Bahasa
group (g1) dan (g2) mendominasi daerah pedesaan. Hal ini sejalan
dengan komposisi penduduk, yaitu faktor homogenitas (di pedesaan)
dan heterogenitas (di perkotaan).

Persaingan antara bahasa group (g1) atau (g2) dengan bahasa
komunikasi luas terutama terjadi karena adanya faktor partisipan, topik,
setting, suasana dan saluran. Faktor mana yang paling berpengaruh
akan menentukan pemilihan dan pemakaian bahasa. Namun yang
hendak dikatakan di sini adalah kecenderungan “kekalahan” bahasa
group (g1) atau (g2) dari bahasa komunikasi luas jika terdapat
kesempatan untuk memilih satu di antaranya. Hal ini menimbulkan
kesan bahwa bahasa group merupakan bahasa rendah (low language)
sedangkan bahasa komunikasi luas merupakan bahasa tinggi (high
language).

Jika Kondisi ini tetap bertahan maka akan terjadi polarisasi
pemakaian bahasa yang dapat mengganggu proses komunikasi sosial.
Pada akhirnya gangguan proses komunikasi itu akan menjadi potensi
konflik yang dapat mengganggu stabilitas sosial.
Jika program pemerintah dalam bidang transmigrasi dan
pertanian berhasil dijalankan maka akan terjadi perubahan besar dalam
struktur penduduk pedesaan. Perubahan itu antara lain menyangkut
heterogenitas penduduk, yang secara tidak langsung berarti juga
heterogenitas bahasa.

Oleh karena terjadi heterogenitas penduduk atau bahasa maka
pola pemakaian bahasa tidak lagi didominasi oleh peran penting bahasa
group (g1). Jika hal ini sudah terjadi maka tidak tertutup kemungkinan
bahasa group (g1) akan tersingkir dan pola pemakaian bahasa di daerah
pedesan akan mengalami pergeseran. Kedudukan bahasa group (g1)
kemungkinan besar akan digantikan oleh bahasa group (g2) untuk
komunikasi dalam suku maupun dalam kelompok suku. Bahasa
komunikasi luas (w) dan bahasa Indonesia akan lebih berperan.
Melihat kondisi yang demikian ada beberapa hal yang dapat
terjadi pada pola pemakaian dan prospek bahasa daerah pada masa
depan. Diperkirakan jumlah bahasa di Kalimantan Tengah pada masa
datang akan lebih menyempit dan pola pemakaiannya akan lebih
sederhana. Penyempitan dan penyederhanaan itu terutama akan
menimpa bahasa-bahasa yang berklasifikasi dialek. Dan jika tidak ada
penangann yang sistematis dan serius, maka bahasa yang kini
berklasifikasi vernacular pun akan mengalami penurunan klasifiksi
untuk selanjutnya mengalami nasib yang sama dengan dialek.

Jika bahasa yang berklasifikasi dialek dan vernacular
mengalami devitalisasi maka akan terjadi perubahan pola pemakaian
bahasa. Bahasa yang akan dijadikan alat komunikasi luas adalah bahasa
yang berklasifikasi standard, sementara banyak anggota masyarakat
yang belum menguasai bahasa tersebut. Adalah kerugian yang amat
besar dalam bidang nonmaterial yang tak ternilai harganya bila hal-hal
itu terjadi. Dengan adanya devitalisasi vernacular dan dialek
memungkinkan generasi muda tidak lagi mengenal bahasa warisan
nenek moyang mereka. Oleh karena itu diperlukan strategi penanganan
bahasa Dayak yang hampir punah dan sudah punah

2. Situasi Kebahasaan di Kalteng dan Kecenderungan Masa
Depannya
Tanner (1982) menyatakan bahwa bahasa-bahasa daerah
setidak-tidaknya memiliki tiga kecenderungan. Ketiga kecenderungan
itu adalah (a) cenderung akan hilang atau punah (b) cenderung akan
bertahan hidup dan (c) cenderung akan berintegrasi dengan bahasa
yang memiliki fungsi yang lebih besar/luas. Suatu bahasa memiliki
kecenderungan punah , jika penuturnya tidak setia atau penuturnya
sedikit. Suatu bahasa memiliki kecenderungan bertahan hidup jika
penuturnya setia, penuturnya banyak, memiliki tradisi tulis, dan ada
usaha pembakuan. Suatu bahasa cenderung akan berintegrasi dengan
bahasa yang memiliki fungsi yang lebih luas jika dominasi bahasa yang
lebih luas terhadap bahasa yang lebih kecil terjadi.

Pendapat Tanner tersebut masih relevan dengan kondisi bahasa
Dayak di Kalimantan Tengah. Meskipun ada sedikit pergeseran namun
yang terjadi di Kalimantan Tengah mirip dengan yang dikemukakan
oleh Tanner. Kecenderungan perubahan fungsi bahasa yang terjadi di
Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut:
1) Di pedesaan, bahasa group1 maupun bahasa group2 masih menjadi
pilihan pertama pemakaian bahasa. Namun demikian bahasa
Indonesia, bahasa Ngaju, dan bahasa Banjar sudah menjadi
tantangan dan pesaing bagi pemilihan dan pemakaian bahasa group.
2) Di daerah perkotaan ada kecenderungan bahasa group1 dan bahasa
group2 mulai kehilangan penutur. Pemakaian bahasa cenderung
didominasi oleh bahasa komunikasi luas (Ngaju, Banjar) dan
bahasa Indonesia.
3) Perubahan struktur sosial dan komposisi penduduk (pendatang dan
pribumi) menyebabkan terjadinya heterogenitas penduduk.
Heterogenitas penduduk menyebabkan heterogenitas bahasa. Dalam
hal ini peran bahasa group1 dan group2 akan tergerus. Oleh karena
itu bahasa group1 dan group2 memiliki kecenderungan punah lebih
besar dari bahasa yang berstatus sebagai bahasa komunikasi luas.
4) Seleksi alamiah akan mengatur bahasa mana yang bertahan dan
bahasa mana yang akan punah.

Berdasarkan kecenderungan yang terjadi di Kalimantan Tengah
itu, sudah ada tiga peristiwa bahasa. Pertama terjadi kepunahan bahasa.
Kedua terjadi bahasa yang terdevitalisasi dan hampir punah. Ketiga
terjadi bahasa yang tetap bertahan.
Kelompok bahasa yang mengalami kepunahan adalah bahasa
Sangen dan bahasa Pangunraun. Kedua bahasa itu sekarang hanya
digunakan pada upacara adat. Oleh karena itu kedua bahasa ini
cenderung berfungsi sebagai bahasa religius. Hanya para balian dan
para dukun saja yang bisa menggunakan kedua bahasa ini.
Kelompok bahasa yang kedua adalah kelompok bahasa yang
mengalami devitalisasi. Bahasa-bahasa yang termasuk dalam kelompok
ini adalah bahasa-bahasa yang berfungsi sebagai bahasa group1 dan
group2. Padahal, sebagian besar bahasa-bahasa di Kalimantan Tengah
berfungsi sebagai bahasa group1 dan group2. Bahasa-bahasa di
Kalimantan Tengah yang sangat potensial terdevitalisasi dan hampir
punah adalah (1) kelompok bahasa Lawangan, termasuk dialek
Taboyan dan Bawo, (2) kelompok bahasa Bayan, (3) kelompok bahasa
Paku, (4) Kelompok bahasa Siang, (5) kelompok bahasa Murung, (6)
kelompok bahasa Seruyan, (7) kelompok bahasa Tamuan, (8)
kelompok bahasa Lamandau beserta dialek-dialeknya, dan (9)
kelompok bahasa Kotawaringin beserta dialek-dialeknya.
Kelompok bahasa ketiga adalah kelompok bahasa yang
diperkirakan akan tetap bertahan. Setidaknya terdapat tiga bahasa yang
memiliki kecenderungan tetap memiliki vitalitas tinggi. Ketiga
kelompok bahasa itu adalah (1) kelompok bahasa Maanyan, (2)
kelompok Bahasa Ngaju, termasuk di dalamnya adalah bahasa Ot
Danum dan Katingan, dan (3) kelompok bahasa Bakumpai beserta
dialek-dialeknya.

Bahasa-bahasa yang termasuk kelompok satu dan kelompok dua
adalah bahasa-bahasa yang sudah mengalami penurunan vitalitas.
Stewart (dalam Fishman, ed. 1968: 536) menyatakan bahwa vitalitas
bahasa adalah use of the linguistic system by an unisolated community
of native speakers. Hal itu mengisyaratkan bahwa keberadaan
masyarakat penutur asli yang hidup menjadi suatu hal yang penting
bagi kehidupan bahasa itu. Satu bahasa dapat punah atau hilang
vitalitasnya karena penutur aslinya sudah tidak ada. Semakin banyak
dan penting penutur asli bahasa itu semakin besar keterpakaian
bahasa itu dan semakin besar pula peluang untuk standarisasi dan
kemandiriannya. Sebaliknya, semakin kecil jumlah dan rendah status
penutur asli bahasa tersebut makin besar kemungkinan bahasa itu
direakasi sebagai alat yang cacat dan tercemar, tidak pantas untuk
digunakan.

Berdasarkan pendapat Stewart tersebut dapat disimpulkan
bahwa penyebab kepunahan suatu bahasa antara lain adalah sebagai
berikut.
1) Ketidaksetiaan penutur terhadap bahasanya (sikap terhadap
bahasanya)
2) Jumlah penutur yang sedikit
3) Penutur yang terpencar-pencar yang mengakibatkan
terpolarisasinya penggunaan bahasa
4) Hilangnya vitalitas bahasa yang disebabkan oleh rendahnya status
sosial penuturnya. Fungsi bahasa yang terbatas pada bahasa group 1
dan group 2
5) Status bahasa yang mayoritas merupakan bahasa minor.
6) Perubahan komposisi penduduk,
7) Transformasi sosial budaya
Ketidak setiaan penutur terhadap bahasanya dan jumlah penutur
yang sedikit merupakan faktor yang sangat dominan mempengaruhi
kepunahan bahasa. Sementara itu, penutur yang terpencar dan
rendahnya status sosial penuturnya memperlemah peran sosial bahasa
itu. Oleh karena peran sosialnya rendah, maka daya tahan untuk
hidupnya juga lemah. Apalagi jika status bahasa itu adalah bahasa
minor.

Hal yang juga dapat memengaruhi kepunahan bahasa adalah
perubahan komposisi penduduk. Pertumbuhan penduduk di Kalimantan
Tengah terutama disebabkan oleh masuknya transmigran ke
Kalimantan Tengah. Baik transmigran mandiri maupun transmigran
yang didanai pemerintah secara bertahap hingga saat ini terus
berlangsung. Saat ini sudah ada sekitar 700 ribu penduduk Kalimantan
Tengah yang merupakan pendatang, baik dari Kalimantan Selatan,
Jawa, maupun dari tempat lain. Para transmigran itu juga hidup
terpencar di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Dengan banyaknya
transmigran yang masuk ke Kalimantan Tengah akan terjadi
transformasi sosial budaya. Jika ketahanan bahasa-bahasa daerah tidak
baik, maka dengan sendirinya bahasa-bahasa dan budaya daerah
setempat akan terdevitalisasi.

3. Alternatif Penanganan:
Telah dikemukakan bahwa berdasarkan kecenderungan yang
terjadi di Kalimantan Tengah terdapat tiga kelompok bahasa Dayak.
Pertama kelompok bahasa Dayak yang sudah punah. Kedua Kelompok
bahasa Dayak yang berpotensi segera punah atau hampir punah. Ketiga
kelompok bahasa Dayak yang tetap bertahan hidup.
Terhadap ketiga kelompok bahasa ini dperlukan penanganan
yang strategis. Penanganan untuk setiap bahasa yang mengalami
devitalisasi dapat berbeda-beda, tergantung pada penyebab
devitalisasinya. Pada umumnya terdapat delapan alternatif penanganan
bahasa-bahasa Dayak yang sudah punah dan hampir punah. Kedelapan
alternatif penanganan itu adalah sebagai berikut.
1) Memilah bahasa apa yang harus tetap dilestarikan dan mana yang
“dibiarkan” terdevitalisasi.
2) Revitalisasi bahasa yang mungkin masih tetap bisa bertahan.
3) Mengusahakan standarisasi terhadap bahasa yang memiliki status
yang baik, agar tidak mengalami devitalisasi.
4) Menumbuhkan sikap posistif penutur bahasa dan memotivasi
penutur untuk tetap menggunakan bahasanya.
5) Mendorong pemerintah daerah untuk membuat kebijakan
pengembangan dan pelestarian bahasa yang lebih komprehensif.
6) Penelitian dan pendokumentasian bahasa bahasa daerah secara
tuntas dan menyeluruh. Penelitian dan pendokumentasian tidak
boleh hanya berhenti pada aspek struktur bahasa. Penelitian dan
pendokumentasian akan lebih berguna jika dilakukan pada
kandungan nilai budaya yang terdapat pada bahasa itu. Misalnya
kandungan nilai sastranya, kandungan nilai-nilai kehidupan yang
tersimpan dalam bahasa itu.
7) Pewarisan nilai budaya tidak cukup hanya dilakukan secara lisan
(tradisi lisan) pewarisan nilai budaya juga harus dilakukan melalui
tulisan.
8) Membuat program strategis untuk memetakan bahasa-bahasa di
Kalimantan Tengah. Pemetaan yang dimaksud bukan hanya
mengidentifikasi bahasa dan tempat bahasa itu dituturkan.
Pemetaan bahasa itu harus disertai dengan prediksi terhadap masa
depan bahasa-bahasa yang hidup di Kalimantan Tengah.

Bahasa-bahasa yang sudah punah dapat ditangani dengan cara
(6) yaitu dengan penelitian dan pendokumentasian secara tuntas dan
menyeluruh. Penelitian dan pendokumentasian tidak hanya berhenti
pada aspek struktur bahasanya. Penelitian dan pendokumentasian
seyogyanya dilakukan pada aspek kandungan nilai dan budaya yang
terdapat pada kedua bahasa itu, misalnya kandungan nilai sastranya,
kandungan nilai-nilai kehidupan yang tersimpan dalam bahasa itu.
Bahasa-bahasa yang sudah punah juga dapat ditangani dengan
cara (7) yaitu pewarisan nilai budaya melalui tulisan. Pewarisan budaya
tidak cukup hanya dilakukan secara lisan (tradisi lisan). Pewarisan nilai
budaya juga harus dilakukan melalui tulisan. Pewarisan nilai-nilai
dengan tradisi tulis akan lebih kuat daripada dilakukan melalui tradisi
lisan.

Bahasa-bahasa yang berpotensi untuk terdevitalisasi ditangani
dengan berbagai cara, terutama, cara (1) sampai dengan (7). Langkah
pertama untuk menangani bahasa yang berpotensi untuk punah adalah
mengidentifikasi dan memilah bahasa yang harus tetap dilestarikan dan
yang “dibiarkan” terdevitalisasi. Hal ini perlu dilakukan untuk
memusatkan perhatian pada langkah-langkah berikutnya. Jika sebuah
bahasa memiliki penutur sedikit dan penuturnya tidak setia
menggunakan bahasanya maka tidak ada gunanya mempertahankan
bahasa itu tetap hidup. Namun, jika sebuah bahasa memiliki penutur
yang setia dan berjumlah relatif banyak maka bahasa itu perlu
“diselamatkan”.

Bahasa yang dibiarkan terdevitalisasi selanjutnya ditangani
dengan cara (6) dan (7), seperti penanganan terhadap bahasa yang
sudah punah. Bahasa yang akan tetap dipertahankan, ditangani dengan
cara (2), (3), (4), (5), (6), dan (7). Dengan kata lain, bahasa yang akan
tetap dipertahankan harus direvitalisasi, distandarisasi dan didorong
untuk tetap digunakan.

Revitalisasi dapat dilakukan dengan cara mengajarkan bahasa
itu sebagai muatan lokal pembelajaran bahasa di Sekolah Dasar.
Revitalisasi juga dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan sikap
positif penutur bahasa dan memotivasi penutur untuk tetap
menggunakan bahasanya. Di samping itu tetap diperlukan peran
pemerintah daerah untuk membuat kebijakan pengembangan dan
pelestarian bahasa yang lebih komprehensif.

Revitalisasi harus disertai dengan usaha lain, yaitu standarisasi
terhadap bahasa yang memiliki status yang baik itu. Standarisasi perlu
dilakukan karena dengan adanya standarisasi kedudukan bahasa itu
akan semakin kokoh. Standarisasi juga mencerminkan adanya
kemantapan dan kemapanan bahasa itu. Perlu diingat bahwa bahasabahasa
di Kalimantan Tengah belum ada yang terstandarisasi. Hal ini
menyebabkan terjadinya polarisasi pemakaian bahasa baik secara lisan
maupun tulisan.

4. Penutup
Penanganan bahasa Dayak yang hampir punah dan bahasa yang
sudah punah tetap perlu dilakukan. Masalah ini berhubungan dengan
warisan nilai-nilai budaya masyarakat Dayak. Masalah ini juga
berhubungan dengan akar budaya yang dimiliki masyarakat Dayak.
Jika tak ada secuilpun budaya yang dapat diwarisi oleh masyarakat
Dayak (terutama yang bahasanya sudah punah dan hampir punah) maka
masyarakat Dayak dapat kehilangan akar budayanya. Generasi muda
Dayak akan sangat mungkin hidup dalam budaya baru yang tidak
mengakar kuat. Dengan kata lain, generasi muda Dayak akan
kehilangan orientasi budaya leluhurnya dan berubah arah kepada
budaya baru yang belum jelas arahnya.
Penanganan bahasa Dayak yang hampir punah dan yang sudah
punah tidak akan berhasil jika dilakukan setengah-setengah. Perlu kerja
sama yang sinergis antara agen-agen budaya Dayak, pemerintah daerah
dan semua pemangku budaya Dayak. Peran pemerintah daerah menjadi
penting karena pemeliharaan budaya daerah menjadi hak otonomi
pemerintah daerah.

Berbagai alternatif penanganan yang telah disajikan tidak akan
berhasil jika para pemangku budaya Dayak tidak diikutsertakan dalam
proses penanganannya. Oleh karena itu, diharapkan peran aktif pemilik
budaya Dayak untuk menyelamatkan kebudayaannya. Tidak ada yang
ingin generasi muda Dayak kehilangan orientasi budaya Dayaknya.
Model penanganan bahasa Dayak yang hampir punah dan sudah
punah ini kemungkinan dapat juga diterapkan pada penanganan bahasabahasa
lain yang memiliki kecenderungan dan karakteristik pola
pemakaian bahasa yang sama. Karakteristik itu antara lain adalah
sedikitnya jumlah penutur bahasa dan fungsi bahasa group yang sangat
terbatas. Keadaan yang mirip, mungkin terjadi di Papua, dan Maluku.

KEPUSTAKAAN
Abas, H. 1983. Fungsionalisasi Bahasa Melayu Sebagai Norma
Supranasional dan Bahasa Komunikasi Luas: Suatu Perspektif
Sosiolinguistik Tahun 2000. Ujungpandang: Unhas
Alwasilah, A.Ch. 1989. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa
Asmah, H.O. 1975.ed. Essays on Malaysian Linguistics. Kuala Lumpur
: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Asmah, H.O.1979. “Lnguages of Malaysia”. dalam Papers on Southeast
Asian Languages, Llamzon, T.A., ed. (3–76). Singapore:
Singapore University Press for SEAMEO RELC.
Bell, R.T. 1976. Sociolinguistics, Goals, Approaches and Problems
London: B.T. Batsford Ltd.
Burlings, R. 1970. Man’s Many Voices. New York: Holt, Rinehart And
Winston, Inc.
Kantor wilayah Depatemen Transmigrasi dan PPH RI Propinsi
Kalimantan Tengah.1994. “Sekilas Mengenal Transmigrasi Di
Kalimantan Tengah”. Palangkaraya: Kanwil Deptrans dan PPH
Kalteng.
Kridalaksana, H. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia
Ferguson, C.A. 1971. “National Sociolinguistic Profile Formulas”
dalam Ferguson, CA ed. Language Structure and Language
Use.Standford:Standford University Press.
Fishman, J.A. 1968.ed. Readings in the Sociology of Language. The
Hague: Mouton.
Fishman, J.A. 1972. Language in Sociocultural Change. California :
Stanford University Press
Gonzalez, A.B. 1979. “Language and Social Development in the
Pacific Area”. Makalah dalam Kongres Pasifik ke-14 di
Khabarovsk USSR.
Halim, A. 1976. ed. Politik Bahasa Nasional I dan II. Jakarta : Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Halim, A. 1981. ed. Bahasa dan Pembangunan Bangsa. Jakarta : Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Hartmann,RRK and F.C. Stork. 1972. Dictionary of Language and
Linguistics. London: Applied Science Publisher Ltd
Kantor Statistik Propinsi Kalimantan Tengah. 2006. “Kalimantan
Tengah dalam Angka”. Palangkaraya : Kantor Statitik Propinsi
Kalimantan Tengah
Kridalaksana, H. 1974, Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa. Ende: Nusa
Indah.
LLamzon, T.A. 1979. ed. Papers on Southeast Asian Languages.
Singapore: Singapore University Press for SEAMEO RELC.
Nababan, PWJ. 1979. “Sociocultural Context of Indonesian Languages.
dalam Llamzon, T.A. ed. Papers on Southeast Asian Languages.
Singapore: Singapore University Press for SEAMEO RELC.
Nababan, PWJ. 1981.”Ethnic Language Maintenance a Nationalism: a
Research Problem”. dalam Halim. A. Bahasa dan
Pembangunan Bangsa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
Ngabut, Y. dkk. 1985. Dialek Bahasa Daerah di Kabupaten Barito
Selatan. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Depdikbud.
Poerwadi, P. dkk. 1992. “Perbandingan Bahasa-bahasa di Kalimantan
Tengah”. Palangkaraya: Balai Penelitian Universitas
Palangkaraya.
Poerwadi, P. dkk. 1993. “Analisis Leksikostatistik Terhadap Bahasabahasa
di Kalimantan Tengah”. Palangkaraya: Balai Penelitian
Universitas Palangkaraya.
Poerwadi, P. dkk. 1995. “Profil Situasi Kebahasaan di Kalimantan
Tengah”. Palangkaraya: Balai Penelitian Universitas
Palangkaraya.
Riwut, T. 1993. Kalimantan Membangun: Alam dan Kebudayaan.
Jogyakarta : P.T. Tiara Wacana.
Sankoff, G. 1975. Language Use in Multilingual Societies, Some
Alternative Approaches. London: B.T. Batsford LTD
Stewart, W.A. 1968. “A Socolinguistic Typology for Describing
Multilingualism” dalam Fishman J.A. Readings in the
Sociology of Language. The Hague: Mouton.
Trudgill, P. 1974. Sociolinguistics: An Introduction. Harmondsworth:
Penguin.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Dr. Drs. Petrus Poerwadi, M.S.
Tempat dan Tanggal lahir : Surakarta, 21 November 1959
Alamat : Jalan Murai I No. 09 Palangkaraya
73112
Telepon : (0536) 3228881; 08123309865;
petruspoerwadi@Yahoo.Com
Status Perkawinan : Kawin
Jumlah Anak : 2 (dua)
Nama Isteri : Yosefa Maria Sri Retno Widiarni
Nama anak : 1. Renate Adi Larasati (Mahasiswa Fak.
Kedokteran Gigi-Unair)
2. Yohanes Baptista Handaru Purnasakti
(Mahasiswa Fakultas
Teknologi Industri – ITS)
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil/ Dosen FKIP
Universitas Palangkaraya
NIP : 131413443
Pangkat/Golongan : Pembina Utama Muda/ IV-C
Jabatan : Lektor Kepala
Riwayat Pendidikan:
1. SDN Kartanegara, Singosari – Malang Tamat tahun 1972
2. SMPK St. Yosef Malang Tamat tahun 1975
3. SMAK St. Albertus (Dempo) Malang Tamat tahun 1979
4. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Malang,
Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (S-1) Tamat tahun 1983
5. Fakultas Pascasarjana Program Studi Linguistik
Universitas Hasanuddin, Makassar (S-2) Tamat tahun 1991
6. Fakultas Pascasarjana Universitas Negeri Malang
Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (S-3) Tamat tahun 2005
Riwayat Pekerjaan:
Sejak tahun 1984 sampai sekarang menjadi dosen (PNS) di FKIP
Universitas Palangkaraya
Konsultan Penelitian pada Tim Penelitian Balai Bahasa Provinsi
Kalimantan Tengah 2007—2008
Penyunting Ahli Jurnal Suar Betang: 2007–sekarang
Penyunting Ahli Jurnal Pendidikan LPMP Kalimantan Tengah: 2006–
sekarang
Penyuluh Bahasa Indonesia 1990—sekarang
Beberapa penelitiannya mengenai bahasa Dayak telah diterbitkan oleh
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Petrus Poerwadi
FKIP Universitas Palangkaraya

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

About these ads

10 Tanggapan

  1. perlu kesadaran dari pihak-pihak terkait aga kekeyaan bangsa (Bahasa dan budaya) tidak punah

  2. borneo adalah surga penuh misteri bagi linguis

  3. Rakyat indonesia tidak lagi cinta pada bahasa daerahnya, apalagi bahasa Indonesia. Apa kata dunia?! Jadi, mari kita uri-uri (jaga) bahasa daerah dan bahasa Indonesia kita. kan kata sumpah pemuda, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

  4. memang sangat susah untuk menumbuh kembangkan serta mengembalikan betapa pentingnya bahasa daerah.
    Tetapi tetaplah perjuangkan itu,mulai dari anda penulis, sampai dengan kami, para kaula muda peduli bahasa daerah.
    SEMANGAT

  5. salam dari Karawang :)

  6. benar-benar yang hampir punah dan sudah punah..
    tapi masih ada kesempatan untuk menghidupkan kembali :)

  7. mari kita tetap jaga kebudayaan… supaya tidak punah…. :)

  8. semoga kita lenih menghargai kebudaan negeri sendiri yang mulai tergeser

  9. When I initially commented I clicked the “Notify me when new comments are added” checkbox and
    now each time a comment is added I get four emails with the same comment.
    Is there any way you can remove people from that service?
    Thanks!

  10. I love your blog.. very nice colors & theme. Did you make this website yourself or did you hire
    someone to do it for you? Plz respond as I’m looking to design my own
    blog and would like to find out where u got this from.
    kudos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: