Penerapan Model Sinektik Dalam Meningkatkan Kreativitas Menulis

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Memasuki milenium ketiga, lembaga pendidikan dihadapkan pada tantangan yang sangat krusial, berkaitan dengan penyiapan dan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berkompetisi dalam masyarakat global, yang diwarnai oleh ketatnya kompetisi dan revolusi informasi sebagai dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi pribadipribadi anggota masyarakat yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang secara mandiri mampu berpikir, menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru, melihat permasalahan serta menemukan cara pemecahan baru yang bernalar dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain pendidikan dapat dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada (Sagala, 2005:3), melainkan juga mampu melakukan perubahan dan menciptakan sesuatu yang baru. Kemandirian ini terbentuk melalui kemampuan berpikir nalar dan kemampuan berpikir kreatif yang mewujudkan kreativitas. Sumber daya
manusia seperti itu sungguh diperlukan oleh bangsa kita dalam rangka mewujudkan kehidupan masyarakat yang demokratis, menjunjung tinggi supremasi hukum, egalitarian, dan religius.
Suatu pendekatan baru yang menarik dalam mengembangkan kreativitas telah dirancang oleh Gordon dengan nama sinektik. Model sinektik ini merupakan strategi pengajaran yang baik sekali untuk mengembangkan kemampuan kreatif dalam menulis (Joyce dan Weil, 1980:182).
Dalam proses pengajaran bahasa, pengembangan dimensi kreativitas sangat penting dan dapat dilaksanakan melalui berbagai kegiatan berbahasa. Kreativitas merupakan hal yang penting dan menjadi salah satu ciri manusia yang berkualitas. Munandar (1992:46) mengatakan bahwa kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Untuk mencapai hal itu, perlulah sikap dan perilaku kreatif dipupuk sejak dini.
Hasil-hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengajaran beberapa bidang studi dengan model sinektik cukup berhasil. Hasil-hasil penelitian tersebut antara lain: (1) hasil penelitian yang dilakukan Heavilin di Indiana (1982) menunjukkan bahwa perkuliahan English 104 (komposisi) yang berorientasi sinektik lebih berhasil meningkatkan sikap positif terhadap mata kuliah 104 daripada sebelumnya; (2) hasil penelitian yang dilakukan oleh Dodd di Maine (1988) menunjukkan bahwa para guru yang diajar melalui program pelatihan yang berbasis sinektik meningkat kemampuannya khususnya dalam perilaku kognitif (pelatihan dilakukan selama 8 bulan terhadap 12 guru); (3) hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Mulyadiprana (1997:81) menunjukkan bahwa penerapan model sinektik dalam mengembangkan kreativitas siswa terbukti secara menyakinkan lebih efektif daripada model pembelajaran konvensional, baik dalam mengembangkan keterampilan berpikir maupun dalam meningkatkan prestasi belajar.
Model pembelajaran sinektik ini tampaknya belum banyak diterapkan dalam
ilmu-ilmu sosial (termasuk dalam pembelajaran bahasa Indonesia). Oleh karena itu, model pembelajaran sinektik ini perlu dicoba untuk diuji efektivitasnya dalam meningkatkan kreativitas menulis pada siswa kelas I SMP. Apakah penerapan model pembelajaran sinektik dapat meningkatkan prestasi siswa.

1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan ruang lingkup masalah seperti yang telah dituangkan di atas, maka masalah pokok penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Apakah model sinektik yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat meningkatkan keterampilan menulis? Pertanyaan itu dirinci lagi seperti berikut.
1) Seberapa besar tingkat keterlibatan atau aktivitas siswa kelas I SMP Negeri 13 Palembang dalam proses belajar mengajar menulis dengan menggunakan model sinektik?
2) Aspek-aspek manakah yang dapat ditingkatkan dengan penerapan model sinektik?
3) Aspek-aspek manakah yang berpengaruh terhadap peningkatan kreativitas siswa dalam menulis?
4) Dalam proses belajar mengajar menulis, model pembelajaran manakah yang lebih efektif meningkatkan kreativitas siswa, model sinektik atau model konvensional?

1.3 Tujuan Penelitian.
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disampaikan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Mengkaji seberapa besar tingkat keterlibatan atau aktivitas siswa kelas I SMP Negeri 13 dalam proses belajar mengajar menulis dengan menggunakan model sinektik.
2) Mengkaji aspek-aspek yang dapat ditingkatkan dengan penerapan model sinektik.
3) Mengkaji aspek-aspek yang berpengaruh terhadap peningkatan kreativitas siswa dalam menulis.
4) Menguji efektivitas model pembelajaran di antara model pembelajaran sinektik dan model pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kreativitas menulis siswa kelas I SMP Negeri 13 Palembang.

1.4 Asumsi Penelitian
Penelitian ini didasarkan atas sejumlah asumsi sebagai berikut:
1) Setiap siswa memiliki kemampuan menulis dan kemampuan berpikir kreatif dengan tingkat yang berbeda-beda.
2) Kemampuan menulis merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa.
3) Kemampuan menulis dapat dipelajari dan dilatih.
4) Kemampuan menulis dapat diukur melalui tes.
5) Kreativitas menulis siswa dapat ditingkatkan.

1.5 Definisi Operasional
Untuk menghindari adanya salah pengertian tentang konsep-konsep yang akan dikaji dalam penelitian ini, maka perlu adanya penjelasan beberapa istilah seperti yang dituangkan di bawah ini.
1) Model Sinektik dapat dipahami sebagai strategi mempertemukan berbagai macam unsur, dengan menggunakan kiasan untuk memperoleh satu  pandangan baru (Gordon,1980:168).
2) Model kuasi kuasi eksperimen didefinisikan sebagai model pembelajaran yang diterapkan pada kelas eksperimen, yang di dalamnya ditandai dengan kegiatankegiatan: penyajian materi pelajaran dalam bentuk permasalahan untuk dipecahkan sendiri oleh siswa, bimbingan guru berupa jawaban-jawaban singkat atau pertanyaanpertanyaan pengarah sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan cara untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
3) Model Konvensional didefinisikan sebagai model pembelajaran yang diterapkan pada kelas kontrol/pembanding, yang di dalamnya ditandai dengan penyajian pengalamanpengalaman yang berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari, dilanjutkan dengan pemberian informasi oleh guru, pemberian ilustrasi atau contoh soal oleh guru, diskusi dan tanya jawab sampai akhirnya guru merasa apa yang telah diajarkannya dapat dimengerti oleh siswa.
4) Kreativitas dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya (Supriadi,1994:7). Kreatifitas juga didefinisikan sebagai kemampuan umum untuk mencipta sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberi gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah,
atau kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara  unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Dengan kata lain kreativitas merupakan proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasilnya.
5) Kemampuan Menulis adalah kemampuan siswa dalam menulis karangan dengan memperhatikan aspek kebahasaan yang tercermin dalam penggunaan kata, kalimat, dan mekanika penulisan.

1.6 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini akan berupa temuan empiris dari penerapan model sinektik dalam meningkatkan kreativitas menulis dalam konteks pembelajaran menulis di SMP.
Temuan tersebut dipandang penting untuk dua kegunaan: teoretis dan praktis. Untuk kegunaan teoretis diharapkan dapat memberi sumbangan konseptual pada pendidikan bahasa, khususnya dalam pembelajaran menulis di SMP. Penerapan konsep tersebut diharapkan dapat memberdayakan Konsep Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Secara konseptual temuan tersebut akan menjadi khazanah keilmuan yang dapat dirujuk oleh
para peneliti, pengambil kebijakan, para guru bahasa Indonesia, atau siapa saja yang menaruh minat pada perkembangan inovasi di bidang pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran menulis melalui model sinektik.

Temuan untuk kegunaan praktis diharapkan dapat memberikan sumbangan
substansial, khususnya kepada para guru, berupa produk program dan proses penyusunannya. Guru-guru, baik secara perseorangan maupun kelompok, dapat menerapkan, menguji, dan mengembangkan lebih lanjut dalam upaya menolong siswa tumbuh menjadi anggota masyarakat yang literat.

2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini bernuansa kuantitatif dengan menggunakan rancangan kuasi eksperimen. Desain yang digunakan adalah The Matching Only Pretest-Postest Control Group (Fraenkel & Wallen, 1993:243).

3. LANDASAN TEORI
3.1. Penerapan Model Sinektik dalam Meningkatkan Kreativitas Menulis
3.1.1 Hakikat Model
Pada hakekatnya kata “model” memiliki definisi yang berbeda-beda sesuai dengan bidang ilmu atau pengetahuan yang mengadopsinya. Salah satu definisi model seperti yang dikemukakan Dilworth (1992:74) berikut, “A model is an abstract representation of some real world process, system, subsystem. Model are used in all aspect of life. Model are useful in depicting alternatives and in analysing their performance”. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa model merupakan representasi abstrak dari proses, sistem, atau subsistem yang konkret. Model digunakan dalam seluruh aspek kehidupan. Model bermanfaat dalam mendeskripsikan pilihan-pilihan dan dalam menganalisis tampilan-tampilan pilihan tersebut.

3.1.2 Model Pembelajaran Sinektik
Menurut Joyce, Weil, dan Calhoun (2000:135) semua model mengajar mengandung unsur model berikut: (1) orientasi model, (2) urutan kegiatan (syntax), sistem sosial (social system), (4) prinsip reaksi (principle of reaction), (5) sistem penunjang (support system), dan (6) dampak instruksional dan penyerta (instructional and nurturant effect). Dalam hal ini model pembelajaran sinektik juga harus mencakup semua unsur tersebut.
1. Orientasi Model
Istilah sinektik berasal dari bahasa Yunani yang berarti penggabungan unsur-unsur atau gagasan-gagasan yang berbeda-beda yang tampaknya tidak relevan. Menurut William J.J. Gordon (1980:168), sinektik berarti strategi mempertemukan berbagai macam unsur, dengan menggunakan kiasan untuk memperoleh satu pandangan baru. Selanjutnya Model Sinektik yang ditemukan dan dirancang oleh William JJ Gordon ini berorientasi meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, ekspresi kreatif, empati dan wawasan dalam hubungan sosial.

2. Rangkaian Kegiatan
Unsur kegiatan atau sintaksis merujuk pada rincian atau tahapan kegiatan model sehingga fase-fase kegiatan model tersebut teridentifikasi dengan jelas. Unsur kedua pembangun model sinektik ini adalah proses belajar mengajar sebagai struktur model pembelajaran.
Ada dua strategi dari model pembelajaran sinektik, yaitu strategi pembelajaran untuk menciptakan sesuatu yang baru (creating something new) dan strategi pembelajaran untuk melazimkan terhadap sesuatu yang masih asing (making the strange familiar). Kedua strategi dari model pembelajaran sinektik dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.1 Strategi Sinektik I: Menciptakan Sesuatu yang Baru
Tahap Pertama:
Mendeskripsikan kondisi nyata pada saat itu
Guru mengharapkan siswa mampu mendeskripsikan situasi atau topik
sebagaimana yang dilihat pada saat itu
Tahap Kedua:
Analogi langsung
Siswa mengajukan analogi langsung, memilih salah satu, dan menjelaskan lebih lanjut
Tahap Ketiga:
Analogi langsung
Siswa melakukan analogi sebagaimana
Tahap Keempat:
Konflik kempaan
Siswa membuat deskripsi sesuai tahap I
yang mereka pilih pada tahap kedua dan II, dan mengembangkan konflik
kempaan, dan memilih salah satu
Tahap Kelima:
Analogi langsung
Siswa mengembangkan dan
Menyeleksi analogi langsung lainnya
berdasarkan kempaan
Tahap Keenam:
Ujicoba terhadap tugas semula
Guru meminta siswa meninjau kem-bali
tugas semula dan menggunakan analogi
terakhir dan atau memasukkan
pengalaman sinektik
Tabel 3.2 Strategi Sinektik II: Melazimkan Sesuatu yang Asing
Tahap Pertama:
Input Substantif
Guru memberi informasi topik baru
Tahap Kedua:
Analogi Langsung
Guru mengajukan analogi langsung dan
meminta siswa mendeskripsikan analogi
tersebut
Tahap Ketiga:
Analogi Personal
Guru meminta siswa membuat analogi
personal
Tahap Keempat:
Membandingkan Analogi
Siswa mengidentifikasi dan
Menjelaskan butir-butir yang sama di
antara materi sedang dibahas dan analogi
langsung
Tahap Kelima:
Menjelaskan berbagai perbedaan
Siswa menjelaskan analogi-analogi yang
salah atau berbeda
Tahap Keenam:
Eksplorasi
Siswa menjelaskan kembali topik semula
menurut bahasanya sendiri
Tahap Ketujuh:
Memunculkan Analogi Baru
Siswa memberikan analoginya sendiri dan
menjelaskan mana yang sama atau
berbeda

Berdasarkan dua strategi di atas, penelitian ini menggunakan strategi kedua. Alasannya, strategi ini baik sekali untuk mengembangkan kemampuan kreatif dalam menulis.

3. Sistem Sosial
Sistem sosial menandakan hubungan yang terjalin antara guru dan siswa, termasuk norma atau prinsip yang harus dianut dan dikembangkan untuk pelaksanaan model. Model ini menuntut agar antara guru dan siswa terdapat hubungan yang kooperatif di mana guru menjalankan dwifungsi sebagai pemrakarsa dan pengontrol aktivitas siswa pada setiap tahap.
Selain itu guru menjadi fasilitator bagi kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar.

4. Prinsip Reaksi
Prinsip reaksi bermakna sikap dan perilaku guru untuk menanggapi dan merespon bagaimana siswa memproses informasi, menggunakannya sesuai pertanyaan yang diajukan oleh guru. Tugas penting yang diemban guru pada tahap ini adalah menangkap kesiapan siswa menerima informasi baru dan aktivitas mental baru untuk dipahami dan diterapkan.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Analisis Pascaperlakuan
4.1.1 Perbedaan Kemampuan Menulis Siswa SMPN 13 Palembang Sebelum
dan Sesudah Penerapan Model Sinektik
Secara umum kemampuan menulis siswa sebelum model sinektik diberlakukan termasuk dalam kategori sedang yaitu 61,74%. Hal ini disebabkan oleh kurangnya motivasi guru untuk melatih siswa menulis. Kegiatan menulis atau mengarang biasanya diminta guru dilakukan siswa
setelah libur sekolah. Tema cerita seputar kegiatan liburan. Tulisan atau karangan siswa secara substansi tidak menyentuh aspek kognitif apalagi aspek afektif.
Setelah model pembelajaran model sinektik diberlakukan, keterampilan menulis siswa meningkat menjadi 75,41%. Ini berarti bahwa kemampuan menulis siswa termasuk dalam kategori baik.
4.1.2.Perbedaan Kemampuan Menulis Siswa di Kelas Eksperimen dan Kelas
Kontrol Perbedaan kemampuan menulis siswa kelas 1 SMPN 13 Palembang antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah signifikan. Temuan ini berdasarkan hasil uji-t yang menunjukkan adanya perbedaan kemampuan menulis antara kelas yang menerapkan model sinektik dengan kelas yang menerapkan model pembelajaran konvensional. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model sinektik dapat mengembangkan keterampilan menulis siswa.

4.1.3 Keefektifan Model Pembelajaran Sinektik
Untuk mengukur keefektifan sinektik di kelompok kuasi eksperimen digunakan dua bentuk pengujian yaitu uji-t dan uji gain. Berdasarkan analisis data pada Bab IV dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran sinektik efektif digunakan di kelompok kuasi eksperimen. Keefektifan model tersebut sejalan dengan temuan Joyce, dkk. (2000:138) bahwa latihan yang dilakukan secara mandiri yang merupakan kontribusi dari model berpikir induktif sebagai fondasi penyusunan model sinektik dapat meningkatkan keefektifan. Kesimpulan tersebut didukung pula oleh pembahasan tentang kualitas proses pembelajaran sinektik.

5. Simpulan
Pelaksanaan pembelajaran menulis berdasarkan model sinektik dirancang berdasarkan model personal, yaitu suatu model pembelajaran yang menekankan kepada proses mengembangkan kepribadian individu siswa dengan memperhatikan kehidupan emosional.
Model sinektik sendiri memfasilitasi siswa mengembangkan tiga aspek utama yang dimiliki siswa yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor secara serempak.

5.1. Simpulan Umum
Pembelajaran bahasa untuk mengembangkan keterampilan menulis dilaksanakan dengan tahap-tahap berikut.
1) Input substantif: guru membagikan bacaan kepada siswa.
2) Analogi langsung: guru menjelaskan tentang bacaan kepada siswa.
3) Analogi personal: siswa membuat karangan sendiri berdasarkan bacaan.
4) Membandingkan analogi: siswa diskusi dengan teman dengan cara kelompok.
5) Menjelaskan berbagai perbedaan: siswa mengadakan diskusi kelas.
6) Eksplorasi: siswa diskusi dengan teman dengan cara kelompok.
7) Memunculkan analogi baru: siswa memberikan karangan yang sudah direvisi.
Berdasarkan hasil analisis proses belajar model sinektik dan penilaiannya, penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut.
1) Pertemuan I
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa sikap siswa pada umumnya positif. Mereka senang ketika diberitahu bahwa karangannya akan dinilai dan dipajang bagi yang mendapat penilaian yang baik. Pembagian cerpen kepada siswa disambut dengan antusias. Siswa segera membaca cerpen yang diberikan guru dan mendengarkan penjelasan-penjelasan yang
diberikan guru selanjutnya.
2) Pertemuan II
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa siswa mulai menulis gagasangagasan di kertas buram sambil berdiskusi dengan teman sebangkunya dan sekali-kali bertanya pada guru tentang apa yang belum dipahaminya.
3) Pertemuan III
Hasil observasi mengidentifikasikan bahwa siswa mulai mengembangkan gagasangagasan di kertas buram menjadi beberapa kalimat. Beberapa siswa mengaku kesulitan untuk mengembangkan kerangka karangannya. Namun setelah gurunya membantu dengan memberikan kalimat pertama pada lembar karangannya, mereka mulai berkonsentrasi.
4) Pertemuan IV
Hasil observasi mengidentifikasikan bahwa siswa sudah dapat mengembangkan beberapa kalimat menjadi karangan. Mereka tidak takut karangannya akan dinilai, dan senang pula bisa membaca karangan teman-temannya. Mereka rata-rata menginginkan karangannya di pajang di
kelasnya.
5) Pertemuan V
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa siswa memperbaiki draf karangannya. Sungguh mengharukan, siswa saling membaca draf karangan dan memberi saran perbaikan secara berpasangan. Awalnya mereka berpasangan dengan teman sebangkunya, tetapi kemudian terjadi saling intip, bergerak menemui teman lainnya, berbeda pendapat, dan meminta penjelasan guru.
6) Pertemuan VI
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa proses pada pertemuan V terjadi juga pada pertemuan VI yaitu pada waktu kegiatan mengedit karangan.
7) Pertemuan VII
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa siswa saling membaca karangan teman dalam kelompok kecil (4-5 orang), kemudian memberikan umpan balik terhadap tulisantulisan tersebut, kemudian dilanjutkan membaca tulisan setiap kelompok dan memberikan umpan
balik terhadap kelompok lain. Dalam tahap umpan balik ini, guru dapat memanggil siswa dan membicarakan konsep mereka yang sekarang maupun karangan mereka sebelumnya. Setelah itu, mereka siap untuk membuat naskah akhir.
8) Pertemuan V
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa siswa pada tahap ini telah siap untuk menulis naskah, dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk revisi. Pada tahap ini mereka diminta untuk betul-betul memperhatikan tujuan dari karangan mereka dan memperhatikan para
calon pembaca yang akan membaca tulisan mereka. Setelah naskah akhir selesai dan direvisi, para siswa bekerja berpasangan-pasangan untuk menyunting pekerjaan mereka. Tahap ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengetahui kesalahan-kesalahan
tersebut setidak-tidaknya mereka menyadari sendiri kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya itu untuk dijadikan sebagai pengalaman.
9) Pertemuan IX
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa siswa pada tahap ini saling membaca draf karangan dan mengedit karangan hasil perbaikannya. Pertama mereka berpasangan dengan teman sebangkunya, kemudian bergerak menemui teman-teman lainnya. Siswa juga
memperbaiki karangannya sekali lagi dengan menulisnya pada lembar karangan yang disediakan dan menyimpan karangan jadi pada map masing-masing.
10) Pertemuan X
Berdasarkan hasil observasi dapat disimpulkan bahwa siswa pada kegiatan memilih dan memajang karangan, situasi kelas terlihat ramai. Pertama mereka saling membaca karangan teman dalam kelompok kecil (4-5 orang), kemudian memilih satu karangan terbaik dikelompoknya. Setiap kelompok ramai mendiskusikan pilihannya dengan kriteria masingmasing.
Dalam diskusi kelas. siswa yang karangannya diunggulkan diminta membacakan karangan di depan kelas. Siswa yang lain menilainya. Para siswa tampak terbiasa mengikuti proses pembelajaran seperti itu. Berikut adalah catatan yang berhubungan dengan kriteria karangan yang baik menurut siswa yaitu: karangan tersebut baik, setiap kalimat dimulai dengan
huruf besar dan diakhiri dengan tanda baca yang tepat, awal paragraf ditulis agak menjorok ke dalam, dan dibacanya lancar.

5.2 SIMPULAN Dalam MENJAWAB PERTANYAAN PENELITIAN
Berdasarkan hasil analisis dari pengembalian instrumen penelitian pada penelitian dapat disimpulkan jawaban terhadap pertanyaan penelitian seperti berikut ini.
1) Untuk pertanyaan apakah proses belajar mengajar dengan menggunakan model sinektik dapat meningkatkan keterlibatan atau aktivitas siswa kelas I SMPN 13 Palembang dalam keterampilan menulis dapat disimpulkan bahwa model sinektik dapat meningkatkan keterlibatan atau aktivitas siswa kelas I SMPN 13 Palembang dalam keterampilan menulis

2) Untuk pertanyaan mengenai aspek-aspek karangan yang dapat ditingkatkan melalui penerapan model sinektik dapat dijawab bahwa semua aspek dapat ditingkatkan

3)Untuk pertanyaan aspek-aspek karangan yang berpengaruh terhadap peningkatan kreativitas siswa dalam menulis setelah menggunakan model pembelajaran sinektik dapat disimpulkan bahwa dari kelima aspek karangan yang mampu mempengaruhi aktivitas atau keterlibatan siswa dalam menulis karangan melalui pembelajaran dengan menggunakan model sinektik ada dua aspek yang lebih signifikan memberikan pengaruh yang berarti, yaitu aspek tata bahasa dan aspek mekanika penulisan.
4)Untuk pertanyaan apakah model sinektik lebih efektif daripada model konvensional Dari kedua analisis yang dilakukan tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar menulis dengan menggunakan model sinektik mampu memberikan tingkat keefektifan yang lebih tinggi daripada proses pembelajaran dengan menggunakan model konvensional Selain itu, berkaitan dengan kualitas pembelajaran menulis dapat juga disimpulkan:
1) Model sinektik dalam pembelajaran menulis mempunyai keunggulan dalam mengembangkan dua ranah taksonomi yaitu kognitif dan afektif/emosional.
2) Model sinektik dalam pembelajaran menulis tidak luput dari kelemahan juga. Secara umum, model ini menghabiskan waktu cukup lama karena siswa harus merespons tahap demi tahap sampai tujuh tahap sehingga membuahkan hasil yang optimal.
3) Hasil penilaian pembelajaran menulis dengan menggunakan model sinektik ditinjau dari tes mengarang dan tes pengetahuan menulis cukup berhasil.

5.3. Implikasi
Bertolak dari berbagai temuan yang diperoleh sejak proses hingga hasil akhir penelitian ini dapat dikemukakan implikasi teoretis dan praktis berikut.
1) Wujud implikasi teoretis dari studi ini adalah pembelajaran bahasa untuk mengembangkan keterampilan menulis siswa SMP akan efektif bila respons siswa difasilitasi dengan pertanyaanpertanyaan pemandu sehingga dapat menggiring siswa pada pembelajaran menulis yang kreatif di mana siswa mampu berpikir kreatif dan mampu terlibat secara psikologis dengan tulisan yang sedang dibuatnya
2) Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan pembelajaran menulis di seluruh jenjang pendidikan.

5.4 Saran
Meningkatnya kemampuan menulis siswa dengan mengimplementasikan model sinektik dalam pembelajaran bahasa membuktikan bahwa model tersebut disamping mempunyai kelebihan juga mempunyai kelemahan-kelemahan yang sudah pasti tidak dapat dihindari.
Harapan yang ingin dicapai dengan mencuatnya model pembelajaran menulis ini adalah terciptanya masyarakat literat yang bermoral baik sejak dini yaitu tumbuhnya minat baca dan meningkatnya kesadaran pentingnya mengekspresikan hasil bacaan ke dalam kegiatan menulis.
Kegiatan tulis-menulis inilah yang menjadi cikal bakal munculnya penulis-penulis andal dan bermoral baik yang dapat mengkomunikasikan ilmu di bidangnya masing-masing. Dengan demikian, secara makro masyarakat Indonesia mampu mengemukakan ilmu di bidangnya baik secara lisan maupun tulisan.

1) Saran untuk Penerapan Model
Bila ditinjau dari keunggulan model pembelajaran menulis yang berbasis sinektik maka perlu diupayakan penyebarluasan penerapan model di berbagai jenjang pendidikan. Para pembuat kurikulum, penyusun buku ajar, pekerja bahasa dan sastra (penulis ilmiah dan cerita), pemilik stasiun TV, dan guru dapat mempelajari model tersebut berawal dari asumsi-asumsi, landasan teoretis model, dan langkah-langkah pembelajaran.
Bagi penyusun buku ajar, mengingat karya sastra khususnya cerpen hanya mendapat porsi yang sedikit dalam buku ajar bahasa Indonesia, cerita-cerita yang ditampilkan dalam buku ajar untuk SMP khususnya diupayakan cerita-cerita yang dialognya bersifat alamiah, sesuai dengan usia mereka, alur ceritanya yang akrab dengan keseharian mereka, dan yang dapat  membangkitkan kreativitas menulis mereka.
Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, penyusun buku dapat menjadikan pedoman berikut ini sebagai panduan menyusun pertanyaan untuk cerita-cerita yang sudah diadopsi dari berbagai sumber.
a. Aspek kognitif mencakup tahap penggambaran, penafsiran, penyimpulan, dan perenungan.
b. Aspek afektif/emosional mencakup intrapersonal/hubungan diri sendiri, interpersonal/orang lain, lingkungan, dan si alamat.
Bagi para pekerja bahasa, sastra, dan penulis cerita anak. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan buku-buku bahasa dan sastra yang layak dikonsumsi oleh siswa SMP sesuai dengan latar belakang keseharian siswa, dialog-dialog sesuai dengan usia mereka, alur cerita sesuai dengan tahap perkembangan kognitif dan emosi mereka, dan juga yang dapat membangkitkan kreativitas siswa dalam menulis. Untuk pekerja bahasa, sastra dan penulis cerita di media cetak, harapan-harapan di atas sudah terakomodir dengan baik. Sayangnya, ditemukan oknum pekerja bahasa, sastra dan penulis cerita anak dan remaja untuk media elektronik (televisi)
lebih mementingkan nilai komersial yang mengeruk keuntungan besar ketimbang nilai-nilai agama, moral dan budaya. Hal ini terindikasi dengan adanya cerita anak dan remaja dengan latar cerita dan alur cerita yang banyak menyimpang dari norma-norma tersebut sehingga meracuni
moral anak dan remaja, misal: film yang berjudul “Buruan Cium Gue” yang sempat ditayangkan di bioskop di Indonesia
Bila ditilik dari perspektif kepentingan, rekomendasi untuk pekerja bahasa, sastra dan penulis cerita anak dan remaja di media elektronik berhubungan dengan para pemilik stasiun televisi swasta. Bahwa untuk kepentingan perkembangan moral anak, pemilik stasiun televisi perlu mempertimbangkan tayangan-tayangan cerita anak dan remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Sudah saatnya membangun Indonesia yang terpuruk dan krisis moral lewat media elektronik karena media tersebut pada kenyataannya lebih disenangi dan diakrabi
oleh anak dan remaja.
Bagi para guru, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan pembelajaran bahasa yang mampu meningkatkan keterampilan menulis siswa disamping mencerdaskan moral mereka. Guru dapat menyeleksi buku-buku bahasa dan sastra anak dan remaja dari berbagai sumber sebagai bahan ajar dengan mengutamakan latar cerita dan alur cerita yang sesuai dengan keseharian siswa, dan yang dapat memancing kreativitas siswa dalam menulis.

2) Saran untuk Penelitian Lanjutan
Model sinektik dan kolaborasi merupakan gabungan dua metode yang berbeda yang membutuhkan banyak waktu dalam penerapannya. Gabungan dua metode ini dinamakan “Sinekborasi”. Dalam rangka mengembangkan keterampilan menulis siswa, para peneliti yang berminat menekuni masalah peningkatan keterampilan berbahasa khususnya menulis dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode penelitian tindakan kelas yang bernuansa kualitatif karena tes mengarang dan tes pengetahuan menulis dapat ditinjau dari dua perspektif yaitu penelitian yang menganalisis aspek kebahasaan dan aspek substansi berupa respons siswa itu sendiri (kognitf dan afektif/emosional).
Penelitian replikasi (perluasan) yang menyangkut variabel penelitian dan subjek penelitian baik pada tingkat pendidikan yang sama maupun sekolah menengah atas atau pendidikan tinggi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan komparatif.
Penelitian dengan latar eksperimen semu pun masih dapat diujicobakan dengan sedikit modifikasi. Untuk tingkat SMA, tahap-tahap dalam sinektik dan kolaborasi dapat ditingkatkan melalui pertanyaan-pertanyaan pemandu yang dapat mengiring siswa menulis secara kreatif.
Begitu juga penelitian yang sama dapat dilakukan pada mahasiswa.
Hal lain yang dapat dilakukan adalah penelitian terhadap variabel yang berbeda untuk menciptakan suatu model pembelajaran bahasa khususnya menulis. Model ini dapat juga meningkatkan keterampilan berbahasa lainnya seperti keterampilan membaca, berbicara, dan menyimak dengan tidak menghilangkan salah satu perangkat dari sinektik dan kolaborasi yang
diangkat di dalam penelitian ini

DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, S., Arsjad, M.G., dan Riwan, S.H., (1988). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Akhadiah, M.K., S. (1998). Pengembangan Kemampuan Bernalar, Kreativitas, dan Budaya tulis Melalui Jalur Pendidikan dalam Rangka Peningkatan Sumber Daya Manusia.

Bahasa Menjelang Tahun 2002: Risalah Kongres Bahasa Indonesia VI. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Alderson, J.C., Alan B. [ed.]. (1992). Evaluating Second Language Education. Cambridge: Cambridge University.
Alwasilah, A.C. (1999). Respon Penulis Terhadap Koreksi Pembaca: Studi Kasus Tulisan Mahasiswa Pascasarjana IKIP Bandung. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia.
Alwasilah, A.C. (2001). “Membangun Kota Berbudaya Literat”. Artikel dalam Media Indonesia. Jakarta, Sabtu 6 Januari 2001.
Alwi, H., Dardjowidjoyo, S., Lapoliwa, H., dan Moeliono, A.M. (1998). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Baynham, M. (1995). Literacy Practices: Investigation Literacy in Social Context. New York: Longman Group Limited.
Dahlan, M. D. (1990). Model-model Mengajar. Bandung: Diponegoro.
Dilworth, J.B. (1992). Operations Management: Design, Planing and Control for Manufacturing Services. New York: McGraw-Hill, Inc.
Dodd, J. (1988). A Detailed Study of the Learning Behaviors of In-Service Teachers Learning to Use Two New Models of Teaching. (Online). Tersedia: http://www.Us.gov. (5 September 2001).
Feldhusen, J.F. dan D.J. Treffinger. (1986). Creative Thinking and Problem Solving in Gifted Education. Iowa: Kendall/Hunt Publ. Co.
Frankel, J.R. & Wallen, N.E. (1993). How to Design and Evaluate Research in Education. Toronto: McGraw – Hill Inc.
Fuad, N.S.L. (1990). Aspek Logika dan Aspek Linguistik dalam Keterampilan Menulis. Tesis Magister pada PPS IKIP Bandung: tidak diterbitkan.
Gipayana, M. (1998). Efektivitas Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Bertahap dan Portofolio terhadap Keterampilan Menulis Siswa Sekolah Dasar. Tesis Magister pada PPS IKIP Bandung: tidak diterbitkan.
Heavilin, B.A. (1982). The Use of Synectics as an Aid to Invention in College Composition. (Online). Tersedia: http://www.Us.gov (5 September 2001)
Jacobs, H.L., dkk. (1981). Testing ESL Composition: A Practical Approach. Rowley, Massachusetts: Newbury House Publishers, Inc.
Joyce, B. dan Weil, M. (1980). Models of Teaching. Second Edition. Englewood New Jersey: Prentice-Hall,Inc.
Joyce, B. dan Weil, M. (1996). Models of Teaching. Second Edition. Englewood New Jersey: Prentice-Hall,Inc.
Joyce, B. dan Weil, M. dan Calhoun, E. (2000). Models of Teaching. Boston-London: Allyn and Bacon.
Munandar, S.C.U. (1985). Pengembangan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Gramedia.
Munandar, S.C.U. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak. Jakarta: Gramedia.
Munandar, S.C.U. (1992). Mengembangkan Anak Berbakat. Jakarta: Depdikbud.
Munandar, S.C.U. (2002). Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreativitas dan Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka.
Sagala, S. (2005). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Supriadi, D. (1994). Kreativitas, Kebudayaan dan Perkembangan IPTEK. Bandung: Alfabeta.
Tilaar, H.A.R. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.
Wilkinson, A (1983). “Assesing Language Development: The Credition Project”. dalam Learning to Write First Language. London and Newyork: Longman.

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

About these ads

3 Tanggapan

  1. memperkaya khasanah penelitian pengajaran bahasa Indonesia, seandainya ada tambahan informasi proses penelitiannya saya akan lebih memahami lagi. Proficiat.

  2. Kalau boleh saya ketahui Sinektik itu apa?
    meningkatkan kreatifitas menulis sebagai proses memperkaya keilmuan dengan penelitian. Sebetulnya hal ini tidak mudah bagi masyarakat dari kalangan bawah untuk mengungkap fakta-fakta, karena memang kebutuhannya agar fakta tersebut berbunyi dengan bahasa.
    Kira-kira seperti apa kritera dan standar model sinektik ini?
    Boleh tahu, sebagai kalangan akademik, masyarakat biasa, yang membutuhkan informasi, walaupun hal tersebut bisa didapat tidak hanya melalui media. Tetapi juga bisa lewat pengalaman, dengan melibatkan diri didalam masyarakat.
    Sebagai penulis ilmiah maupun jurnalistik, saya perlu informasi. thank’s

  3. Tulisan-tulisan Anda sangat inspiratif. Dalam rangka memuculkan penulis-penulis Kristen kreatif, akan diselenggarakan festival penulis dan pembaca kristiani. Salah satu pre-event adalah lomba menulis cerpen dan novelet berdasar Alkitab. Anda mungkin berminat untuk ikut? Info lengkap dapat Anda klik di Lomba Menulis Cerpen dan Novelet Berdasar Alkitab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: