Sistem Komunikasi Verbal di Masyarakat Perkotaan Daerah Istimewa Yogyakarta

1. Pengantar
Beribu puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang
Mahaesa dan ucapan terima kasih saya haturkan kepada panitia
Kongres Bahasa Indonesia IX, atas kepercayaan yang diberikan kepada
saya untuk menjadi pemakalah undangan walaupun topik yang
diberikan kepada saya sangat luas, dan rasanya di luar kemampuan saya
untuk membicarakannya secara mendalam dan tuntas. Kepercayaan itu
saya terima sebagai amanah yang mulia yang harus saya laksanakan
sebaik-baiknya di dalam berbagai keterbatasan saya. Keluasan itu
bersumber pada beberapa hal. Pertama istilah “sistem komunikasi
verbal” itu bersangkutan dengan beberapa persoalan, yakni sistem
komunikasi verbal bersangkutan dengan sejumlah bahasa (langue) yang
digunakan di perkotaan, yang paling tidak dalam konteks masyarakat
perkotaan di Indonesia ada tiga bahasa atau kelompok bahasa, yakni
bahasa nasional bahasa Indonesia, bahasa-bahasa daerah, dan bahasabahasa
asing. Selain itu, masing-masing memiliki berbagai variasi
(mungkin dialek, ragam, register, dsb.) bergantung dengan tingkat
keluasan pemakaian masing-masing bahasa itu. Kedua konsep
“perkotaan” itu sendiri juga tidak kalah rumit pembatasannya. Batas
kota dan pedesaan dalam era yang serba mengglobal ini juga tidak
jelas. Selain itu, setiap perkotaan memiliki karakteristiknya sendirisendiri
yang kadang-kadang perbedaannya masing-masing sangat
mencolok sehingga akan sangat riskan bila akan diusahakan
generalisasinya. Sehubungan dengan itu, makalah ini akan mencoba
menguraikan sistem komunikasi verbal pada masyarakat tertentu, yang
dalam hal ini adalah masyarakat tempat saya berdomisili selama kurang
lebih 30 tahun, yakni masyarakat perkotaan Daerah Istimewa
Yogyakarta. Rumitnya konstelasi sosiolinguistik kota pelajar yang
merupakan tempat bertemunya berbagai etnis dengan latar belakang
bahasa dan budaya yang berbeda juga merupakan pertimbangan saya
untuk memilihnya. Untuk mendapatkan jawaban terhadap berbagai
permasalahan pemakaian bahasa yang terdapat di dalamnya di samping
pengamatan yang mendalam, dilakukan juga wawancara terselubung
dengan berbagai pihak, seperti guru-guru bahasa, redaktur majalah dan
surat kabar, ketua dan anggota kelompok etnik, ketua dan anggota
rukun tangga, dsb. Gambaran tentang situasi pemakaian bahasa dengan
sejumlah permasalahannya nantinya diharapkan menjadi masukan yang
sangat berguna di dalam menangani berbagai masalah kebahasaan.

2. Kerangka Teori
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah satu dari 6 buah Provinsi
yang ada di Pulau Jawa. Provinsi ini terletak di sebelah selatan Pulau
Jawa bagian tengah. Provinsi ini memiliki 4 kabupeten, yakni
Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Bantul,
kabupaten Gunung kidul dan 1 kota madya, yakni Kota Madya
Yogyakarta. Masing-masing wilayah, kecuali kota madya, memiliki
daerah perkotaan daerah pinggiran (pedesaan) yang potensial
menimbulkan kondisi pemakaian bahasa yang berbeda. Seperti halnya
daerah-daerah yang lain, dalam situasi diglosia atau pluriglosia menurut
konsepsi Ferguson (1971), ada berbagai bahasa yang saling
bersinggungan pemakaiannya di dalam situasi kontak bahasa, yakni
bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa-bahasa
kelompok etnis yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berdasarkan kerangka diglosia juga, masing-masing bahasa itu
memiliki memainkan fungsi kemasyarakatan yang berbeda. Satu
bahasa atau satu varian bahasa berfungsi sebagai varian tinggi (H),
sedangkan bahasa atau varian yang lain berfungsi sebagai varian rendah
(L) (periksa juga Romaine, 1989, 33). Dalam diglosia yang stabil
(stable diglossia) masing-masing bahasa secara stabil dapat
mempertahankan berbagai fungsi kemasyarakatan yang dimilikinya.
Sebaliknya bila terjadi ketirisan diglosia (diglossia leakage), salah satu
atau beberapa bahasa akan kehilangan satu atau sejumlah fungsi
kemasyarakatannya. Lama kelamaan bahasa ini akan mati atau
ditinggalkan oleh penutur-penuturnya.

Walaupun ada segelintir pandangan yang tidak merisaukan akan
kematian suatu bahasa, seperti pandangan yang dianut oleh Fokker
(dikutip dari Purwo (2007, 17), kematian suatu bahasa haruslah
dihindari karena hilangnya sebuah bahasa (impoverishment) akan
pengetahuan dan pemiskinan akan pengetahuan dan pikiran
masyarakatnya (Cuellar, 1996, 72; Wijana 2003, 235). Sehubungan
dengan itu, penelitian ini akan berusaha melihat kondisi pemakaian
berbagai bahasa tersebut pada situasi sekarang ini dengan melihat satu
persatu ranah pemakaiannya, kemudian akan mengamati apakah ada
ketirisan fungsi-fungsi kemasyarakatannya. Uraian akan dimulai
dengan menguraikan pemakaian bahasa Jawa, diikuti dengan bahasa
Indonesia, bahasa-bahasa asing, dan bahasa etnik-etnik lainnya.
3. Situasi Pemakaian Bahasa di Daerah Istimewa Yogyakarta
Seperti telah dikatakan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta
merupakan tempat bertemunya berbagai etnis dengan latar belakang
kebahasaan yang berbeda-beda sebagai akibat julukan kota pelajar yang
dimilikinya. Kompleksitas situasi kebahasaan di daerah ini sebenarnya
menjadikan kota ini sebagai area yang kaya akan permasalahan
kebahasaan. Hanya saja sampai sekarang ini belum ada ahli yang ingin
atau berminat untuk secara serius mnggelutinya. Pada kesempatan ini
dalam rentang waktu yang sangat terbatas saya akan mencoba untuk
menelusuri seluk-beluknya.

3.1 Bahasa Jawa
Sekurang-kurangnya ada empat ragam bahasa Jawa yang
digunakan di daerah ini. Adapun keempat ragam itu adalah bahasa
Jawa Ngoko, bahasa Jawa Krama, bahasa Jawa Madya, dan bahasa
Jawa Indah. Masing-masing varian ini oleh orang yang lebih ahli atau
mumpuni masih memungkinkan untuk dibagi-bagi menjadi berbagai
subvarian sehingga ragam-ragam bahasa Jawa ini menjadi sangat rumit.

Pada masa sekarang ini disinyalir varian ragam-ragam bahasa Jawa ini
sudah banyak yang hilang, atau tidak dikuasai lagi oleh generasi yang
lebih muda. Saat ini dalam situasi bilingual yang diglosik bahasa Jawa
merupakan bahasa atau varian (L) yang digunakan oleh para
pemakainya dalam situasi yang tidak formal. Pada umumnya orangorang
berkomunikasi dengan bahasa Jawa dalam situasi yang kurang
bergengsi. Orang-orang yang telah memiliki hubungan yang akrab
biasanya menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko. Orang-orang yang
belum memiliki hububungan yang akrab menggunakan bahasa krama.

Tentang bentuk krama mana yang menjadi pilihan masih ditentukan
lagi oleh derajat keakraban penutur dengan lawan tutur. Faktor-faktor
sosial seperti umur, jenis kelamin, status sosial, asal kedaerahan atau
tempat tinggal, dan sejumlah faktor lain yang cukup pelik amat
berperanan dalam hubungan ini.
Di sekolah-sekolah dasar semula memang digunakan bahasa
Jawa sebagai bahasa pengantar pada kelas satu sampai kelas tiga,
sekarang ini sudah beralih menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan,
gejala ini sudah mulai merambah ke pelosok-pelosok desa. Sekolahsekolah
dasar yang komposisi murid-muridnya agak heterogen, seperti
sekolah-sekolah dasar yang letaknya dekat kompleks perumahan, sudah
tidak lagi menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar. Guru
merasa segan menggunakan bahasa Jawa karena khawatir ada sebagian
siswa yang tidak mengerti. Bahasa Jawa memang merupakan bahasa
dalam ranah keluarga bagi sebagian besar penduduk daerah istimewa
Yogyakarta. Akan tetapi, cukup banyak keluarga yang tidak lagi
mengajarkan bahasa daerah ini kepada anak-anak mereka. Saya sinyalir
cukup banyak anak-anak usia dua belas tahun ke bawah sekarang ini
tidak bisa berbicara bahasa Jawa secara aktif. Tidak digunakannya lagi
bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah, merupakan
alasa utama mengapa mereka (para orang tua) enggan mengajarkannya
kepada anak-anak mereka. Selama ini di antara para orang tua
berkembang pandangan bahwa penguasaan bahasa Jawa anak justru
sangat potensial akan mengganggu mereka menangkap pelajaran yang
diberikan dalam bahasa Indonesia.

Terbatasnya jam pelajaran pengajaran bahasa Jawa (2jam
seminggu) agaknya tidak banyak membantu usaha pemertahanan
bahasa ini di masa-masa mendatang. Lebih-lebih selama ini pelajaran
bahasa Jawa hanya dipandang sebagai mata pelajaran tambahan yang
kurang bergengsi. Akibatnya tidak semua ragam bahasa Jawa dikuasai
oleh anak-anak sekolah secara aktif, bahkan oleh sebagian besar
penutur bahasa Jawa. Ragam bahasa Jawa yang paling banyak dikuasai
adalah ragam bahasa percakapan. Dan, ini pun agaknya terbatas pada
ragam-ragam yang tertentu. Ragam bahasa Jawa krama khususnya
krama hinggil hanyalah merupakan bahasa Jawa bagi segelintir orang
saja.

Rapat-rapat RT dan RW, di perkotaan pada umumnya
menggunakan bahasa Indonesia. Keadaannya memang sangat lain
dengan di pedesaan yang masih ditemukan disampaikan dengan bahasa
Jawa kecuali bila audiensnya adalah kelas sosial menengah ke atas.

Kepala dukuh akan berkomunikasi dengan warga perumahan dengan
bahasa Indonesia, dan dengan bahasa Jawa kepada warga-warganya di
pedesaan. Di area-area tertentu di pedesaan Jawa, mungkin sekali
dibedakan antara wong desa, yakni penduduk asli dan wong
perumahan, yakni para pendatang yang tinggal di perumahan. Dari sini
akan terlihat bahwa sedikit-demi sedikit bahasa Jawa kehilangan area
pemakaiannya.

Para pemuda yang hendak melangsungkan upacara pernikahan,
baik di kota maupun di desa pada saat ini akan memilih dinikahkan
dengan memakai bahasa Indonesia bila dibandingkan dengan bahasa
Jawa, padahal sebelumnya untuk menyelenggarakan upacara tradisional
ini selalu digunakan bahasa Jawa.

Bahasa Jawa formal atau baku lebih terbatas lagi pemakiannya.
Bahasa Jawa ini digunakan dalam situasi formal, dalam tulis-menulis,
pidato, dan upacara-upacara resmi kedaerahan. Agaknya ada sedikit
perbedaan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kota Madya
Surakarta di dalam menentukan laras baku bahasa jawa. Daerah
Istimewa Yogyakarta memilih ragam krama, sedangkan Kodya
Surakarta (dapat) menggunakan ragam ngoko. Oleh karena itu, terdapat
perbedaan ragam bahasa Jawa yang digunakan untuk menyiarkan berita
di stasiun Jogja TV dengan stasiun AN TV Surakarta.

Stasiun televisi pemerintah dan swasta memiliki sedikit mata
acara berbahasa Jawa. Stasiun Jogja TV misalnya memiliki acara berita
daerah “Seputar Yogya”, “Wayang Kulit”, “Klinong-klinong
Campursari”, “Pitutur”, “Adiluhung”, dan “Inyong Siaran”, yang
menggunakan bahasa Jawa. Mata acara yang disebutkan terakhir
menggunakan bahasa Jawa Dialek Banyumas dalam upaya
melestarikan agar jangan sampai dialek bahasa Jawa ini hilang. Di
TVRI Stasiun Yogyakarta masih ada acara tambahan Ketoprak
Mataram dan Pangkur Jengleng yang menggunakan bahasa Jawa.

Selebihnya kesemuanya menggunakan bahasa Indonesia. Ketoprak
Mataram semakin hari semakin berkurang peminatnya. Hanya saja,
yang menggembirakan acara Campur Sari yang memadukan instrumen
tradisonal dan modern semakin hari semakin diminati baik oleh
kalangan tua maupun muda, di perkotaan atau di pedesaan. Tokohtokoh
seperti Manthous, Edi Laras, Didi Kempot, Cak Dikin adalah
nama-nama yang sekarang ini begitu populer bila dikaitkan dengan
Seni Campur Sari. Bahasa Jawa yang digunakan beragam-ragam
jenisnya karena topik lagu yang dibawakannya juga sangat beragam,
dari topik cinta serius, kesedihan, maupun senda gurauan. Berbagai
parikan dan wangsalan yang penuh dengan kearifan lokal budaya Jawa
tersajikan kembali dalam kesenian ini. Hanya saja, topik-topik lagu
yang dilantunkan kerap kali pula keluar dari garis norma-norma luhur
kehidupan Jawa. Lagu-lagu campur sari Jawa “Cucak Rawa”,
“Mendem Wedoan”, “Bojo Loro”, “Mister Mendem”, dsb. lirik
lagunya jauh kalah kualitasnya dengan lagu-lagu Jawa yang
dilantunkan oleh penyanyi Jawa kondang Waljinah, seperti “Walang
Kekek”, “Jangkrik Genggong”, “Kecik-kecik”, “Rujak Uleg”, dsb.
yang sama-sama mengungkapkan kelucuan yang getir.Tidak ubahnya
dengan lagu percintaan Indonesia, para seniman campur sari memang
sangat kreatif. Kehabisan inspirasi penciptaan, diatasi dengan
menerjemahkan secara bebas atau mengganti lirik lagu-lagu lama, atau
lagu-lagu Mandarin. Anehnya, banyak pencintanya tidak merasakan hal
ini, dan menganggap irama Mandarin itu seolah-olah menjadi
kekayaaan budayanya sendiri. Di sini terjadi hubungan antaretnis yang
harmonis mengingat warga Tionghoa mengetahui bahwa lagu itu
bukanlah lagu asli Jawa.

Stasiun radio, baik swasta maupun pemerintah memiliki
beberapa siaran berbahasa Jawa. Radio Republik Indonesia misalnya
memiliki acara Mbangun Desa, Ketoprak, Wayang Kulit Purwa,dan
obrolan Pak Besut. Sejumlah iklan sering pula menampilkan dialogdialognya
dengan bahasa Jawa, terutama bila dialognya bertema hal-hal
yang lucu.

Pidato kematian di perkotaan Daerah Istimewa Yogyakarta
mungkin disampaikan dengan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa.
Semakin ke perkotaan semakin banyak ditemukan pidato yang
menggunakan bahasa Indonesia, demikian pula sebaliknya. Hal ini
sangat bergantung kepada siapa yang meninggal dan kepada khalayak
yang bagaimana pidato itu ditujukan.

Upacara pesta perkawinan bila orang Jawa yang menikah
cenderung menggunakan bahasa Jawa ragam indah yang seringkali
tidak bisa dipahami oleh anak-anak muda, atau mungkin pula oleh
orang Jawa yang sudah dewasa. Undangan perkawinannya sendiri
ditulis dengan bahasa Indonesia, dan jarang ditulis dengan bahasa Jawa.
Kesemua hal di atas pada umumnya berkaitan dengan bahasa
Jawa lisan. Bahasa jawa tulisan keadaannya lebih menyedihkan. Pada
saat sekarang ini di Yogyakarta hanya ada satu penerbitan berbahasa
Jawa, yakni majalah “Penyebar Semangat”. Sebelumnya di kota ini
terdapat majalah Djaka Lodang, Mekar sari, Kandha Raharja. Akan
tetapi, ketiga majalah yang terakhir ini sekarang tidak jelas nasibnya.

Dalam kasus majalah Djaka Lodang, walaupun berbahasa Jawa
terdapat beberapa rubrik berbahasa Indonesia. Hal ini berbeda dengan
majalah Penyebar Semangat yang masih semangat dengan
komitmennya membina dan melestarikan pemakaian bahasa Jawa.
Buku-buku karya sastra baik prosa dan puisi berbahasa Jawa seolaholah
tidak berkembang. Fakultas-fakultas yang membuka jurusan sastra
Jawa akan kehilangan objek penelitiannya. Pada saat sekarang karyakarya
sastra Jawa sekaliber “Anteping Tekad”, “Tanpa Daksa”,
“Kumpule Balung Pisah”, dsb. tidak lagi dihasilkan. Spanduk-spanduk
iklan sangat jarang menggunakan bahasa Jawa.
Koran-koran daerah berbahasa Indonesia hanya sedikit sekali
menyediakan ruang untuk rubrik berbahasa Jawa. Kedaulatan Rakyat
menyediakan rubrik bahasa Jawa dialek Banyumas yang beriksikan
cerita-cerita lucu dari daerah itu. Sangat terbatasnya media cetak yang
berbahasa Jawa agaknya merupakan penyebab utama, banyaknya
penutur bahasa jawa, atau sebagian penutur bahasa Jawa tidak
menguasai bahasa jawa ragam tulis. Banyak misalnya mahasiswa
Pascasarjana saya yang mengaku penutur asli bahasa Jawa tidak tahu
bentuk formal kata bar ‘habis, selesai’, ben ‘supaya’, ragil ‘bungsu’.
Mereka tidak mengidentifikasi bahwa kata-kata itu bentuk panjangnya
(formalnya) di dalam bahasa tulis adalah lebar, kareben, wuragil, dsb.
Ini mengindikasikan bahwa bahasa Jawa yang dikuasainya adalah
bahasa Jawa percakapan.

Di fakultas-fakultas yang memiliki jurusan bahasa Jawa, kuliahkuliah
kebanyakan dilakukan dengan bahasa Indonesia walaupun
substansi yang dibahas mengenai bahasa dan sastra Jawa. Di Jurusan
Sastra Nusantara Universitas Gadjah Mada pada waktu dahulu pada
tahun 70-an pernah diwajibkan penulisan skripsi sarjana muda dengan
menggunakan bahasa Jawa, tetapi saat ini skripsi atau karya-karya
ilmiah berbahasa Jawa tidak lagi ditemukan. Sampai sekarang ini hanya
kuliah “Penguasaan Bahasa Jawa” yang disampaikan dengan bahasa
Jawa selama 4 semester.

Khotbah-khotbah di mesjid dan gereja di perkotaan
menggunakan bahasa Indonesia, tetapi selingan humornya untuk
penyegar suasana menggunakan bahasa Jawa. Di perkotaan gereja
Kristen Jawa jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Di pedesaan pun
sekarang ini khotbah sudah menggunakan bahasa Indonesia. Hanya di
pelosok desa yang audiensnya homogen penduduk desa khotbahkhotbah
menggunakan bahasa Jawa.

Di antara kawula muda di daerah perkotaan dalam situasisituasi
yang sangat akrab dan tidak formal masih terlihat penggunaan
slang bahasa Jawa. Bahasa pergaulan ini dibentuk dengan berbagai
macam teknik. Ada kelompok remaja yang membalik persukuan, ada
yang membalik bunyi penyusun kata itu secara total, dan ada pula yang
membalik atau menukar bunyi-bunyi itu dengan berpedoman pana
urutan aksara Jawa ha, na, ca ra, ka. Selain itu, mungkin ada cara-cara
yang lain yang luput dari pengamatan saya.

Komunikasi verbal dengan menggunakan aksara Jawa tidak
kalah mengenaskan nasibnya. Jarang ada wacana tertulis yang
menggunakan aksara Jawa, baik di perkotaan atau di pedesaan
walaupun usaha untuk melestarikan masih tetap diupayakan. Misalnya,
nama-nama jalan di perkotaan, terutama yang terletak di dekat
kompleks keraton disertai dengan aksara Jawanya. Tulisan di bus-bus
kota juga memakai aksara Jawa di samping bahasa Indonesia. Kaoskaos
oblong untuk mempromosikan wisata budaya juga kadang-kadang
menggunakan bahasa Jawa. Stasiun Jogya TV memiliki tayangan
sekilas mengenai cara menulis membaca aksara Jawa, dan itu pun
sebatas hanya membaca kata-kata.

3.2 Bahasa Indonesia
Pencetusan ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober
1928, dan dicantumkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi
dalam Undang-undang Dasar 1945, mengakibatkan bahasa Indonesia
sebagai satu-satunya bahasa nasional dan bahasa resmi di seluruh
negara Republik Indonesia. Fungsi dan tugas yang diembankan itu
agaknya sudah dilaksanakan oleh bahasa Indonesia. Bukti-bukti
mengenai hal ini tidak begitu sukar untuk dicari. Sekarang ini bahasa
Indonesia digunakan sebagai bahasa perhubungan di antara orangorang
yang berbeda latar belakang etnis dan kebahasaannya. Tidak
hanya itu, orang-orang seetnis dan sebahasa yang belum memiliki
hubungan personal yang akrab pun menggunakan bahasa Indonesia di
dalam berkomunikasi pada situasi yang informal. Orang-orang dengan
status sosial dan umur yang berbeda juga sering kali tampak berbahasa
Indonesia satu sama lainnya. Demikian luasnya area atau bidang
penggunaan bahasa Indonesia menyebabkan luas dan beraneka
macamnya variasi keragaman bahasa Indonesia, misalnya bahasa
Indonesia ragam formal, bahasa Indonesia ragam informal, bahasa
Indonesia ragam ilmiah, bahasa Indonesia ragam jurnalistik, bahasa
Indonesia ragam sastra, dsb.

Bahasa Indonesia ragam formal digunakan di dalam situasisituasi
yang resmi, seperti rapat-rapat resmi, surat-menyurat dinas,
pendidikan, siaran radio dan televisi baik pemerintah maupun swasta,
dsb. Kota Yogyakarta sebagai pusat administrasi pemerintahan daerah
tingkat satu dan kota pelajar dengan berbagai tempat pendidikan formal
maupun informal mengakibatkan semakin bertambahnya ranah
pemakaian bahasa Indonesia formal. Sementara itu, sebagai kota
pelajar mengakibatkan wilayah perkotaan Yogyakarta, khususnya
Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Madya didatangi oleh berbagai
pelajar dari seluruh penjuru tanah air mengakibatkan bahasa Indonesia
dapat leluasa mengembangkan peranannya sebagai bahasa nasional,
baik ragam formal maupun informalnya.

Ragam informal bahasa Indonesia juga berkembang luas di
perkotaan. Anak-anak yang tidak menguasai bahasa Jawa
menggunakan bahasa Indonesia informal di dalam berkomunikasi di
dalam situasi tak resmi. Untuk mereka, dapat dikatakan bahasa Idonesia
merupakan bahasa ibu mereka. Sementara itu, orang-orang yang lebih
dewasa, karena bahasa Jawa merupakan bahasa pertamanya, bahasa
Indonesia informalnya sering kali terinterferensi dalam berbagai
tatarannya (fonologi, gramatika, dan leksikon) oleh bahasa pertamanya
itu.

Banyaknya sekolah dan perguruan tinggi besar dan kecil yang
sebagaian besar mewajibkan kuliah bahasa Indonesia di kota
Yogyakarta secara langsung mengakibatkan berkembangnya
pemakaian bahasa Indonesia ragam ilmiah. Diskusi-diskusi dan
pertemuan ilmiah baik yang berskala lokal maupun nasional
diselenggarakan di tempat ini. Buku-buku teks hasil karya ilmuan dari
berbagai disiplin keilmuan dipublikasikan oleh berbagai penerbit yang
cukup banyak jumlahnya.

Ragam jurnalistik berkembang dengan adanya surat kabar-surat
kabar daerah yang beberapa di antaranya dengan oplah yang cukup
besar, seperti Kedaulatan Rakyat (KR), Berita Nasional (Bernas),
Harian Jogja (Harjo), Minggu Pagi (MP), dan Koran Merapi. Dalam
persaingan ada juga koran yang sekarang tidak mampu berkembang,
seperti Masa Kini, Yogya Post, Eksponen, dsb. Sejumlah surat kabar
memiliki keunikan, misalnya Koran Merapi sarat dengan berita klenik
dan supranatural sehingga memperkaya register bahasa Indonesia
dalam bidang ini..

Sejumlah surat kabar menyediakan ruang budaya atau lembaran
sastra pada hari-hari tertentu sehingga mendukung berkembangnya
bahasa Indonesia ragam sastra. Banyak karya prosa dan kumpulan puisi
di hasilkan oleh pengarang dan penyair dari kota pelajar ini.Beberapa
penerbit yang memiliki dedikasi tinggi ikut menerbitkan buku-buku
yang berisi ulasan terhadap karya sastra sehingga ikut membantu
mengembangkan kualitas karya sastra yang secara langsung berimbas
pada berkembangnya bahasa Indonesia ragam sastra.

Repertoire bahasa Indonesia di perkotaan jauh lebih kompleks
dibandingkan dengan repertoire bahasa Jawa. Semua repertoire itu
berkembang secara seimbang. Variasi bahasa Indonesia apapun
ditemukan di perkotaan. Bahasa Indonesia gaul hidup di kalangan
remaja. Ujaran-ujaran dengan penggunaan ya yalah, ya ya dong, ni yee,
tidak lagi, secara gitu lho, dsb. bertebaran keluar di dalam komunikasi
akrab di antara mereka. Iklan-iklan niaga seringkali memanfaatkan
laras bahasa gaul ini. Tidak terbatas pada media iklan, tetapi sudah
merambah ke media-media elektronik yang lebih canggih, seperti pajor,
ponsel, internet, kaset, vcd, dsb.

3.3 Bahasa Asing
Dalam era globalisasi hubungan antar negara semakin intensif.
Sehubungan dengan ini masuknya budaya asing ke tengah-tengah
kancah budaya daerah dan nasional menjadi fenomena yang tak
terhindarkan. Sebagai konsekuensinya berpengaruhnya berbagai bahasa
asing terhadap pemakaian bahasa Indonesia tidak pula dapat dicegah.
Sudah menjadi suatu kewajaran apabila bahasa-bahasa yang memiliki
dominasi yang besar dalam bidang politik, sosial, dan ekonomi
memberikan pengaruh yang kuat kepada bahasa-bahasa yang lemah.
Fenomena ini tampak jelas di masyarakat perkotaan di seluruh
Indonesia. Sejumlah bahasa asing yang jelas pengaruhnya terhadap
pemakaian bahasa di Yogyakarta di antaranya adalah bahasa Inggris,
bahasa Arab, bahasa Jepang, bahasa Perancis, bahasa Belanda, dsb.
Dari sejumlah bahasa asing itu, tak pelak lagi bahasa Inggris
memiliki pengaruh yang paling besar. Dari penelitian secara acak
terhadap sebuah cerpen, saya menemukan bahwa pengaruh bahasa
Inggris terhadap bahasa Indonesia paling besar jumlahnya
dibandingkan dengan bahasa-bahasa asing yang lain, bahkan pengaruh
bahasa asing, yakni bahasa Inggris jauh lebih besar, yakni sekitar 57 %
(dari keseluruhan kata pungut) dibandingkan dengan bahasa Jawa yang
hanya 18% sama dengan bahasa Arab. (Wijana, 2008). Jadi, kebijakan
untuk lebih mengutamakan pemilihan kata-kata daerah sebagai
alternatif di dalam penciptaan istilah agaknya (lihat (Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa, 1980, 17; Wilardjo, 1990, 52) masih jauh
dari kenyataan. Tidak terlalu sukar untuk mencari penjelasan mengapa
bahasa Inggris pengaruhnya sedemikian besar itu. Bahasa ini
merupakan bahasa asing yang wajib dipelajari dari jenjang sekolah
lanjutan pertama sampai dengan perguruan tinggi. Bahkan, sejumlah
sekolah dasar di perkotaan sudah mulai mengajarka bahasa Inggris
kepada anak didiknya. Adanya sekolah dasar internasional dan program
sekolah berstandar internasional (SBI) membuat semakin besarnya
pengaruh bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia di perkotaan.

Hampir semua universitas besar memiliki jurusan atau program studi
bahasa bahasa Inggris, dan karena prospek cerah yang ditawarkan
jurusan atau prodi bahasa Inggris merupakan jurusan atau prodi yang
sangat diminati. Perguruan tinggi yang belum membuka program
bahasa Inggris biasanya juga memiliki pusat-pusat pelatihan bahasa
Inggris untuk melatih dan meningkatkan kemampuan para staf edukatif
dan atau nonedukatifnya. Semua perguruan tinggi yang
menyelenggarakan program pascasarjana (S2 ata S3) mensyaratkan
kemampuan bahasa Inggris bagi calon-calon mahasiswa atau
lulusannya.

Tingginya prestise bahasa Inggris secara langsung pula
mengakibatkan orang dengan segala upaya berusaha menggunakan
bahasa ini di dalam berbagai kesempatan serendah apapun pengetahuan
mereka terhadap bahasa ini. Iklan dan nama-nama badan usaha, lebihlebih
badan usaha yang berhubungan dengan penjualan barang dan jasa
produk budaya modern bisa dipastikan menggunakan bahasa Inggris.
Fenomena ini sudah merambah sampai ke pedesaan. Unsur-unsur
bahasa Inggris itu mungkin diadaptasikan, mungkin masuk setengah
utuh, atau atau langsung masuk secara utuh ke dalam bahasa Indonesia.
Tidak hanya terbatas pada kata, tetapi juga struktur frasa, atau satuan
kebahasaan yang lebih besar. Mula-mula pengaruh itu memang terbatas
pada unsur-unsur yang dipungut dari bahasa asing, tetapi lambat laun
tidak terasa akan merambat dan mempengaruhi struktur bahasa
Indonesia. Entah hanya kebetulan mungkin di dekat tempat tinggal saya
ada sebuah pengrajin mebel yang namanya Indah Karya Mebel.
Pertama-tama memang mebel yang terletak di belakang seperti
kebanyakan toko-toko mebel yang lain, tetapi kebiasaan ini secara tidak
terasa kemudian merambat kapada frase Indah Karya yang tidak
diungkapkan sesuai dengan struktur bahasa Indonesia, yakni Karya
Indah.

Bahasa Inggris yang dipelajari atau dikuasai oleh para
intelektual ternyata juga memberikan pengaruh yang negatif terhadap
struktur bahasa Indonesia, seperti tampak pada maraknya pemakaian
kata penghubung di mana sebagai penanda klausa relatif, pemakaian
preposisi dari atau daripada dalam konstruksi milik (posesif).
Tanpa merasa malu para pemilik usaha menggunakan bahasabahasa
Inggris yang berprestise ini. Pemilik usaha warung makan di
depan Candi Prambanan sama sekali tdak tahu bahwa kata snake yang
ditulisnya berbeda maknanya dengan kata snack yang dimaksudkannya.
Pengusaha hiburan campur sari di dekat tempat tinggal saya tidak tahu
bahwa kata urgen pada frase urgen tunggal (hiburan yang memakai
satu alat musik organ) sebenarnya harus ditulis organ tunggal. Hal ini
tentu tidak akan terjadi bila yang bersangkutan tahu bahwa dalam
bahasa Inggris ada kata urgent yang bila diserap ke dalam bahasa
Indonesia menjadi urgen yang artinya ‘mendesak’. Jalan lingkar yang
merupakan terjemahan dari ring road dituliskan bermacam-macam oleh
orang-orang yang memiliki usaha di sepanjangnya. Ada yang menulis
Ring Rut, Ring Rod, Ring Rood, dan Ring Rot, di samping ada pula
yang menuliskannya secara benar. Penatu di kota-kota besar ada yang
menulis londre, londry, loundry, padahal yang benar laundry.

Para presenter televisi dan artis-artis muda, atau bahkan pejabat
senang memasukkan bahasa Inggris ke dalam ucapan-ucapannya
walaupun mereka sering kali salah dalam memilih kata atau
membentuk kata. Kata yang berkelas adjektiva sering diperlakukan
sebagai nomina, dan sebaliknya, misalnya mereka tidak bisa
membedakan emosi dan emosional, visual dengan visualisasi, honor
dan honerer, dsb.

Anak-anak remaja menulis grafiti nama-nama kelompok gengnya
dengan nama-nama atau singkatan-singkatan dan ejaan yang
berbau Inggris walaupun nama geng itu sebenarnya diambilkan dari
kata bahasa Indnesia. Nama-nama geng itu misalnya Joxin (Joko
sinting), Qizruh (Kita ini Senang Ramai untuk Hiburan), BBC (Babar
Sari City Club), BBC (Brigade Bocah Cuex), Humoriezt, Oestadt
(ustad), dsb.

Kata-kata bahasa Arab pengaruhnya ke dalam bahasa Indonesia
agaknya menempati peringkat kedua setelah bahasa Inggris. Dominasi
agama Islam sebagai agama yang terbesar di Indonesia menjadi alasan
utama mengapa kata-kata bahasa ini banyak di temui dalam pemakaian
bahasa Indonesia. Semakin kuat keislaman seseorang semakin besar
frekuensi penggunaan kata-kata Bahasa Arab di dalam tuturannya.
Banyaknya tempat ibadah, sekolah-sekolah, dan perguruan tinggi Islam
di kota-kota mengakibatkan semakin intensifnya pemakaian bahasa
Agama ini. Di dalam komunitas-komunitas Arab terkadang ditemukan
juga penggunaan bahasa Arab yang bentuknya sudah sangat berbeda
dibandingkan dengan bahasa Arab yang diajarkan di sekolah-sekolah
atau perguruan tinggi. Pada saat ini diperkirakan pengaruh bahasa Arab
sama kuatnya dengan pengaruh bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia.

Derasnya produk-produk Jepang ke Indonesia, dan semakin
besarnya peranan yang dimainkan negara ini dalam bidang politik dan
ekonomi, mengakibatkan pengaruh bahasanya juga dirasakan dalam
bahasa Indonesia. Misalnya sejumlah usahawan menamai warung yang
dibukanya dengan kata-kata mirip bahasa Jepang walaupun yang
dimaksudkan adalah ungkapan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa,
misalnya Nikisae (bahasa Jawa ‘Ini Bagus’), Takashimura (bahasa
Indonesia campuran Jawa ‘Saya kasih murah’), Karaoke Karoaku
(bahasa Jawa ‘berkaraoke dengan saya’), Isakuiki (bahasa Jawa
‘hanya ini yang saya bisa’), Rikiniki Echo (Wijana & Rohmadi, 2006,
11-27).

Adapun perihal bahasa-bahasa asing yang lain, seperti bahasa
Perancis, bahasa Belanda, dsb. pengaruhnya tidaklah begitu besar.

3.4 Bahasa Etnis-etnis yang Lain
Memang cukup banyak etnis selain Jawa yang berdiam di kota
pelajar ini. Tentu saja tidak dapat diceritakan satu persatu bagaimana
pola pemakaian bahasa masing-masing etnis itu. Akan tetapi, dari
pengamatan sekilas agaknya terdapat kesamaan di antaranya.
Sehubungan dengan itu, dalam makalah ini akan diuraikan salah satu
etnis saja yang paling saya kenal, yakni etnis Bali. Setiap etnis biasanya
memiliki asrama pelajar di kota ini. Asrama pelajar ini digunakan
sebagai tempat menetap atau penampungan sementara (paling lama
satu atau dua tahun) warga barunya. Di asrama ini mereka
menggunakan bahasa Bali antara rekan-rekan seetnis dalam situasi
informal. Tempat ini juga merupakan pusat kegiatan Kerluarga Besar
Purantara Bali. Orang-orang yang tinggal di sini biasanya bahasa
Balinya mampu bertahan karena mendapatkan kesempatan yang lebih
banyak untuk digunakan. Setelah satu atau dua tahun mereka harus
meninggalkan asrama. Untuk ini ada dua kemungkinan. Kalau mereka
tinggal serumah, bahasa Bali mereka juga terjaga. Tetapi, bila mereka
tinggal berpisah biasanya bahasa Bali mereka tidak digunakan lagi, dan
yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Bahasa Bali mereka semakin
sedikit kesempatan penggunaannya sehingga lama-lama mengalami
kemunduran walaupun tidak hilang (sama sekali). Ada juga di
antaranya yang berusaha menguasai bahasa Jawa agar bisa berkomunikasi
dengan masyarakat kebanyakan, dan ada pula yang hanya mampu
menguasai bahasa Jawa secara pasif.

Ada sekitar 500 kepala keluarga Bali sekarang ini. Untuk
menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan mereka, sekali dalam
sebulan mereka berkumpul mengadakan arisan. Sekarang ini ada empat
kelompok arisan keluarga Bali di Yogyakarta, yakni kelompok timur,
kelompok barat, kelompok selatan, dan kelompok utara. Faktor ikatan
agama merupakan salah atu alasan yang kuat mengapa bahasa Bali
mereka tetap bertahan, di samping pola perkawinan. Orang-orang Bali
yang kawin sesama etnis biasanya bahasa Balinya lebih bertahan, dan
diturunkan kepada anak-anak mereka, sebaliknya yang kawin campur
biasanya bahasa Balinya hilang digantikan oleh bahasa Jawa atau
bahasa Indonesia. Pola tempat tinggal adalah faktor lain yang
menyebabkan bahasa Bali mereka juga bertahan. Orang-orang Bali
yang tinggal berdekatan dengan yang lain biasanya mampu
mempertahankan identitas bahasanya.

3.5 Catatan Penutup
Sebelum saya memaparkan catatan penutup perlu disimak
pandangan Edwards (1995, 106) dalam rangka melukiskan kematian
bahasa Gaelic, bahasa yang dibawa oleh para emigran Scotlandia ke
Nova Scotia:
“A language is in decline if it is no longer passed on to
children; it comes to be the preserve of middle-aged or
elderly people who no longer see any point in
transmitting it. While a minority often do still try to
have the language taught-either informally or at
schooll- a common complaint is the lack of interest
among the younger generation”.

Agaknya apa yang terjadi pada bahasa Gaelic ada kemiripan
atau mungkin sama dengan apa yang dialami oleh bahasa Jawa, atau
mungkin bahasa-bahasa daerah lain di perkotaan di Indonesia (periksa
Gunarwan, 2006, 95). Hal ini agaknya sama dengan apa yang
diisyaratkan oleh de Cuellar (1996) bahwa 90% bahasa-bahasa yang
digunakan di dunia saat ini akan mengalami kepunahan karena
ketidakmampuannya bersaing dengan bahasa-bahasa yang lebih besar.

Sebagai bahan renungan penting pula dikutipkan di sini:
“The world wide pressures to assimilate are also having
a drastic effect on languages, of which between five and
six thousand are spoken today, each of them reflecting a
unique view of the world, pattern of thought of culture.
But many of these are in danger of dissapearing in
forseeable future, have no more childeren who speak
them, and sre being given up for metropolitan
languages where speakers are culturally aggressiven
and economically powerful. Many of the former are
already moribund, and some experts suggest that
perhaps 90% of the next languages spoken today will
become extinct in the next century”.

Fenomena ini haruslah selalu menyadarkan setiap orang agar
terus-menerus menjaga jangan sampai bahasa-bahasa daerah yang
menyimpan berbagai nilai-nilai yang adiluhung atau kearifan lokal itu
hilang, tergantikan oleh bahasa-bahasa asing yang pengaruhnya
semakin hari semakin besar. Untuk tujuan ini, pada saat sekarang yang
dapat dilakukan adalah menjaga kestabilan diglosia dengan tetap
menggalakkan pemakaian bahasa Jawa di ranah keluarga sehingga
generasi penerus tetap menguasai bahasa Jawa di samping terus
meningkatkan pemakaiannya di berbagai media massa. Pandangan
yang jelas-jelas keliru bahwa penguasaan bahasa Jawa akan
mengganggu kemudahan anak dalam menguasai bahasa Indonesia
sebagai medium instruksional di sekolah-sekolah haruslah dibuang
jauh-jauh. Justru orang-orang yang bilinguallah dalam berbagai hal
banyak diuntungkan dibandingkan dengan rekannya yang hanya
monolingual. Menurut Peal dan Lambert serta Skutnabb-Kangas dan
Toukuma seperti yang dikutip oleh (Romainne, 1989, 99-109)
dinyatakan bahwa anak-anak bilingual memiliki intelegensi verbal dan
nonverbal yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang hanya
menguasai satu bahasa sehingga pendidikan bilingual tidak bermasalah
sejauh bahasa pertama telah dikuasai secara baik. Selaras dengan itu
program otonomi daerah yang telah berjalan selama ini hendaknya
dimanfaatkan seluas-luasnya untuk memelihara berbagai kearifan lokal,
dan salah satu caranya adalah dengan membina dan menjaga
pemakaian bahasa daerah sebagai saka guru-nya.

REFERENSI
De Cuellar, Javier Perez (Ed.), 1996, Our Creative Diversity, Paris:
Unesco Publishing.
Edwards, John, 1996, Multilingualism, London: Penguin Books.
Ferguson, Charles F., 1971, “Diglossia”, dalam Language Structure
and Language Use, Standford University Press.
Gunarwan, Asim, 2006, “Kasus-kasus Pergeseran Bahasa Daerah:
Akibat Persaingan dengan Bahasa Indonesia”, dalam Linguistik
Indonesia, Tahun ke-24, No.1, Jakarta: Masyarakat Linguistik
Indonesia, hlm. 95-113.
Purwo, Bambang Kaswanti, 2000, Bangkitnya Kebhinekaan Dunia
Linguistik dan Pendidikan, Jakarta: Mega Media Abadi.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1980, Pedoman Umum
Pembentukan Istilah, Jakarta: Balai Pustaka.
Romaine, Suzanne, 1989, Bilingualism, Oxford: Basil Blackwell.
Wijana, I Dewa Putu, 2003, “Kebijakan Bahasa dan Dinamika Bahasabahasa
Daerah di Indonesia”, dalam Dinamika Budaya Lokal
dalam Wacana Global, Yogyakarta: Unit Pengkajian dan
Pengembangan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah
Mada.
Wijana, I Dewa Putu & Muhammmad Rohmadi, 2006, Sosiolinguistik:
Kajian Teori dan Analisis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wijana, I Dewa Putu, 2008, Inventarisasi Kosa Kata Bahasa Daerah,
Makalah Penyuluhan Penelitai Kebahasaan di Balai Bahasa
Jawa Tengah Semarang.
Wilardjo, Liek, 1990, Realita dan Desiderata, Yogyakarta: Duta
Wacana University Press.

I Dewa Putu Wijana
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: