Menggali Kosakata Nusantara untuk Media Massa

            Makalah ini membicarakan bahasa koran Indonesia, bahasa seranta, bukan   bahasa Indonesia seperti yang diajarkan di sekolah. Banyak yang muncul dalam koran tidak diajarkan dalam pelajaran bahasa Indonesia. Misalnya judul “Denger-denger Jadi Bubar Nih”. Jadi, bahasa seranta itu beda dengan bahasa Indonesia resmi. Namun dia bahasa Indonesia juga. Yang akan kita bicarakan di sini bukan bahasanya, melainkan    kosakatanya.

KATA itu bukan BAHASA

Kata ‘batik’ ada dalam kamus Inggris seperti Webster. Dalam kamus Belanda juga ada. Sejak dulu sudah biasa kalau orang Barat di Chicago atau Paris yang lagi berbahasa Barat tahu-tahu berkata “batik”. Apakah dengan demikian mereka “berbahasa Indonesia”? … atau “berbahasa Jawa”? Tiap hari mahasiswa kita berkata “kampus”. Apakah itu berarti mereka “berbahasa Latin”?

Bagaimana dengan koran kita, yang tiap hari royal kata (ng)inggris dan (mem)barat? Apakah ini koran-koran berbahasa Inggris? Jawabnya mudah. Lucunya, ini suka dilupakan kalau orang lagi membicarakan kata. “Kenapa memakai bahasa mati?” rutuk mereka ketika melihat kata Sanskerta pada nama lembaga atau bangunan. Kalau banyak kata nginggris tidak dimengerti pembaca, itu wajar. Misalnya kata “intelijen” yang tiap hari muncul atau “investigasi”. Tetapi, yang anti-Sanskerta rupanya tidak tahu bahwa rakyat juga tidak tahu arti “kroscek”.

Mati tetapi Hidup

Biarpun bahasanya mati, kata maupun ujarnya hidup terus, sebab memang dihidupkan, atau dihidupkan kembali. Yang mati itu misalnya bahasa Latin. Sebaliknya, kata-kata Latin memerciki UUD’45 kita. Artinya, melintasi puluhan abad maupun negeri dan hinggap ke wilayah yang penduduknya tidak pemah mendengungkan bahasa Latin. Kata republik dari mana? Dari bahasa mati. Dan demokrasi dari mana? Dari bahasa mati juga, atau bahasa kolot. Cuma ya, karena kata-kata ini di Barat dihidupkan lagi, kita pakai juga, sambil menyangka itu barang “modern”.

Kata kampus baru muncul di masa Suharto. Di masa Soekarno itu tidak ada. Yang jelas, orang Belanda yang berkuasa di sini tidak tahu dan tidak butuh kata campus. Yang tahu pun menganggapnya kata sudah mati. Habis, sudah ada kata Belanda plein (lapangan, alun-alun). Yang menghidupkan katamati campus itu orang Amerika dan bukan cuma menghidupkan. Mereka mengubah maknanya. Yang 2.500 tahun yang lalu di Romawi berarti alun-alun, di Amerika menjadi lain, yaitu kawasan lembaga pendidikan. Justru karena berubah makna ini maka kata campus bisa hidup subur dan merakyat. Habis, barangnya ada—yaitu sekolah—dan terus menjamur. Kemudian kita comot saja kata itu setelah kita mulai belajar di Amerika dan tidak lagi di negeri Belanda. Lucunya, kita mempersempit maknanya. Maunya kita, kampus hanyalah milik perguruan tinggi. Jadi, kita pun mengubah maknanya, selain mengganti c dengan k. Mengubah makna kata itu sudah biasa dalam tiap bahasa. Misalnya cecunguk. Itu sebetulnya coro, lipas, kepuyuk yang kita berantas dengan Mortein. Tetapi di zaman PNI-nya Bung Kamo dahulu sudah ada tambahan makna: cecunguk itu mata-mata Belanda yang me-mata-matai PNI. Pokoknya mata-mata, telik. Dodok, dolop, conglok, canguk, cunguk, pelolok, peluluk, cundaka, talika … Tetapi bagaimana nasib kata cecunguk dll. tadi dalam koran kita? Padahal mata-mata selalu ada. Ada yang namanya detektif, intelijen dsb.  

Hidup-mati kekata ialah perbuatan orang. Perbuatan kita sendiri. Bukan kehendak “sejarah” atau “zaman” dan macam-macam yang bukan orang. Mengapa kata bung sekarang mati, padahal di zaman Soekamo begitu merakyat? Ya karena maunya kita juga. Kalau sekarang mau dihidupkan kembali ya bisa saja. Asal ada yang mau saja. Cuma dia harus punya daya siar, atau bisa menggandeng pewarta.

Karena bahasa itu bisa mati, bahasa Indonesia juga bisa mati. Caranya mungkin dengan mengubur, mencuekkan, atau meludahi kosakatanya sebanyak mungkin, sembari menggantinya dengan kata-kata dan bahasa manca yang katanya “lebih lengkap”, “lebih tepat”, dan “lebih modern”.  

Kata itu banyak ulah

Kalau Imam Samudra punya banyak nama, kata bisa punya satu arti, beberapa arti, malah banyak arti. Kata bisa bertambah arti, bisa berkurang arti, bisa berubah arti, malah artinya bisa dijungkirkan. Suatu arti bisa lenyap. Arti kata di suatu daerah bisa berbeda dengan dengan artinya di daerah lain. Arti kata di suatu masa bisa berubah di masa berikutnya. Kata maupun nama bisa punya gengsi, dan gengsinya bisa naik bisa turun. Makna kata bisa dibaikkan dan diburukkan, bisa diangkat dan dihina. Satu contoh ialah kata perempuan. Makna bisa diratakan, misalnya makna wanita, putra dan putri.

Terbentuknya aneka arti tidak sekaligus. Begitu pula terbentuknya aneka kata. Banyak yang muncul berturut-turut, dan masa ke masa, sesuai dengan keperluan. Begitulah keadaannya dalam semua bahasa. Sekarang, misalnya, sudah ada yang menulis “‘menyoal”, “memenangi”‘, “mengandungi” dll. yang lima tahun yang lalu belum terbaca di koran kita.

Ini berkat pengaruh bahasa Jiran. Di masa datang mungkin akan muncul kata bersoal, menyoalkan, dan soalan. Itu terserah kemauan kita saja. Jadi kalau mau dimunculkan sekarang ya bisa juga. Pemunculnya dan penyebarnya sudah ada. Ini berarti pula bahwa kita perlu belajar dan bahasa Jiran. Betapa gampang caranya sekarang. Tiap hari kita bisa membaca koran seberang.

Kalau kata itu bisa berubah arti, dia tentu bisa kita ubah artinya, dengan sengaja atau tidak. Dan kata apa pun bisa dibikin “tepat” arti. Pendeknya, dia tidak berubah dengan sendirinya saja secara gaib.  

***

Ribuan kata-baru muncul dalam beberapa dasawarsa belakangan ini. Akan tetapi  ini tidak berarti bahwa kosakata kita dalam pers dan internet dengan sendirinya saja merkaya.  

Bahasa atau kepala?

Kosakata itu bukan cuma yang kita tahu. Contohnya berikut.

investigasi – Belakangan ini tiap hari kita baca kata investigasi. Tentu, karena koran luar sibuk menulis investigation. Seperti biasa, dia kita caplok saja (sambil merasa bangga, pintar). Mungkin ada yang pernah bertanya, “Indonesianya apa?” Setelah dipikir sebentar, jawabnya ada dua macam: 1) tidak ada; 2) ada sih ada, tapi tidak tepat. Man kita sekarang bertanya dulu — Tidak ada di mana? Dan kalau ada, ada di mana? Jawabnya: tidak ada di kepala orang, di kepalaku, di kepala wartawan. Yang ada pun yang kebetulan ada di kepalaku, di kepala wartawan. Dan yang ada di kepala ini berapa banyak sih? Jangan-jangan terlalu sedikit, bokek, jembel, memble. Banyak salahnya lagi. Dan isi benak ini datang dan mana? Dan kamus?

Tetapi keyakinan kita selalu, “tidak ada dalam bahasa Indonesia”. Ya, enak saja kita menuding bahasa bangsa. Malah suka ada yang menambahi, “karena bahasa kita miskin”. Jadi, menuding sembari mengasihani dan meledek. Ini pun dengan air mata buaya sambil cengingisan seperti Amrozi. Yang cengingas-cengingis ini justru orang terajar, orang pandai, sarjana, malah sastrawan juga.

Terus terang saja —yang miskin itu bahasa… atau akal?

runut – Lain lagi isi kamus. Di situ ada kata runut. Dan (salah satu) arti runut itu investigation. Ya betul. Dalam kamus Wojowasito tertulis, merunuti itu “to investigate (a crime) ” …. Jadi, to investigate itu merunut atau merunuti. Pelakunya tentu perunut, biarpun tidak ada dalam kamus.

Hasilnya, runutan (juga tidak ada dalam kamus). Dan apa pula itu perunutan dan terunut? Dengan ilmu tatabahasa biasa saja kita bisa membangun daya kata, daya ribuan kata.

Tetapi kita tidak cuma punya kata runut. Masih ada selidik, sidik, risik, selisik, jolok, usut, galur, ulik, cerakinBukan main. Semua ini kita tendang begitu saja demi kata ‘investigasi’. …! Di Jiran, mencerakin(kan) itu “investigate, inquire into, …

Ulik itu kata Sunda. Kerja investigator itu ngulik. Pemboman Legian itu diulik. Pelakunya tentu saja bisa kita sebut pengulik. Hasilnya, ulikan. Masih bisa kita bentuk kata perulikan dll. Coba saja lakukan ini dengan kata ‘investigasi’. Sampai sekarang belum ada koran yang menulis penginvestigasi, investigasian, perinvestigasian, mungkin sebab merasa kikuk.

Ulik berkaitan dengan kata-kata ilik,ngilik, diilikan. Beberapa saat sebelum ditangkap, imam Samudra masih alak-ilik. sebab jangan-jangan ada “tuyul” (sindiran Imam dkk bagi polisi kita).  

Jadi, kosakata itu bukan isi kepalaku saja. Kosakata itu juga isi kamus. Kalau seranta ingin mengembangkan bahasanya, mutlak perlu dibangun persenjataan yang berupa aneka kamus. Ini ditangani paling sedikit satu orang yang keranjingan kosakata. Dia juga perlu menguasai bahasa Inggris. Habis, yang biasanya dicari itu padanan atau pengganti ribuan kata Inggris. Kerjanya memnbuka kamus-kamus tiap hari, mengusulkan kata, memasok kata kepada wartawan, dan mengganti kata dalam berita. Juga membetulkan bahasa dan tulisan, kalau mampu.

Bakusikut, bakugilas, atau..,

Bersamaan dengan investigasi, muncul tim investigasi. Kata tim ini tidak berasal dan nasi tim, tetapi dari team. Dan tim yang ini muncul di masa Suharto. Di zaman Sukarno dan sebelumnya tidak ada ‘tim’ macam begini. Yang ada ialah kata regu. Semua orang yang berbahasa Melayu dan Indonesia bilang “regu”. Tetapi mulai zaman Suharto, regu digilas tim dan grup. Yang pribumi dilanyak yang nginggris. Begitu kuminggris bangsa ini, sampai kita bilang vokal grup, mengikuti tatabahasa Inggris. Kita lalu tidak bilang penyanyi, atau biduan (terlanyak juga), tetapi vokal dipegang oleh

Apa-apaan ini ? Regu sudah jadi mayat. Dia hilang dari seranta, dan akibatnya hilang juga dari lidah rakyat. Pelindungnya hanyalah kamus. (Jadi, hilang sama sekali juga tidak).

….. atau pemasaran

Kalau mau menggiatkan lagi kata regu gampang. Sering saja menulis Regu Runut di koran. Umumkan saja regu tembang, regu tari, regu lawak, dsb. Atau gutembang, gutari, gulawak, Ya, mengapa tidak? Kita juga menulis napi padahal seharusnya narapidana … ra dan dana dikemanakan?  

Kalau kita tetap masih mau menulis vokal grup (belum ada yang menulis ‘grup vokal’), silakan. Tapi si vokal grup itu sendiri nanti mungkin akan mikir-mikir juga kalau membaca ungkapan saingan di koran. Tiap koran, tiap wartawan, tiap penyiar radio silakan putuskan sendiri mau apa dengan banda  kata kita. Lalu kita lontarkan saja, sebarkan, pasarkan. Ya, koran itu kan dijual juga, dipasarkan. Lantas tunggu saja nanti ungkapan mana yang laku, atau yang bubruk, jomlo.

Pemasarannya tentu harus sering, jangan cuma sekali saja seperti yang saya lakukan sekarang ini. Sebab percayalah, pasti akan ada pembaca dan pendengar yang tertarik dengan yang lain, dan bosan dengan yang kaprah. Mereka akan jadi pendukung dan penyebar juga. Saya sendiri tidak punya alat ampuh untuk memasarkan. Apalagi mengingat saya sudah bersara, sudah purnabakti, sudah preman, sehingga tidak bisa lagi minta semua mahasiswa menulis ‘regu’ dan menendang ‘tim’. Beda dengan penyiar radio, koran punya aneka huruf yang ukurannya kecil maupun besar. Warna huruf bisa hitam, merah, biru … Memasarkan kata gutembak bisa dijudul berita, di halaman depan, didampingi gambar petembak. Begitujuga sebutan regu bulu tangkis.  Anggota regu bisa disebut nararegu.

Menyinggung olahraga, lalu apa perlunya kata “kontingen”? Koran Malaysia tidak pemah menulis ‘kontingen’. Mereka selalu bilang pasukan. Di KUBI , makna pasukan itu ada tiga. Makna ke-3 begini:

3   +  regu (olahraga) …

Apa maksud tanda + ?

Kata pak Poerwa,

a) “disangsikan (mungkin karena salah dengar …)”

b) jarang dipakai…

c)  sudah usang atau mati

d)  hanya hidup beberapa lamanya lalu tenggelam

Dalam kamus-kamus Malaysia tidak ada tanda usang, mati, jarang seperti itu. Malah kata pasukan digunakan cukup royal oleh rakyat sana. Misalnya dalam contoh, “pasukan pencegah rusuhan … pasukan polis yang mencegah rusuhan atau perkumpulan haram”. Makanya, tanda mati + itu sudah usang. Jadi anggap saja tidak ada. Kita sudah tahu, kata apa pun bisa dihidupkan … selain dibantai. Kalau kata itu “tenggelam”, ya tentu ditenggelamkan, misalnya oleh kata kontingen. Kalau regu mau diapungkan, ya silakan sering dipakai. Lam-lam kontingen akan tenggelam juga. Terserah kita mau apa. Jangan kita berkata, karena menurut kamus jarang dipakai, ya sudah, tidak kita pakai.

P R T —  PRT ini singkatan dan pembantu rumah tangga, tembung bikinan orang zaman Suharto. Artinya, di zaman Bung Kamo tembung ini tidak ada, sebab sejak dulu sudah ada aneka nama. Mengapa dibikin tembung PRT ini? Dugaan saya, karena pereka tembung menganggap “Indonesianya tidak ada”. Atau Indonesianya yang kebetulan dia ketahui tidak menyenangkan. Ada pula yang mengusulkan kata pramuwisma. Cuma rupanya ini bubruk di pasaran.

Kalau rakyat ditanya perkara ini, anehjuga. Langsung saja kita mendengar nama-nama lain. Bukan PRT yang kaku-kering itu, tetapi pelayan, rencang, rewang, batur., bibi, embok, gandek, pupundut, laden, lados, lanjang, bujang, pandakawan, dan lam-lain. Habis, semua kata ini hidup segar bugar. Ada pula awing, dayang, abdi, inya, sewaka. Sialnya, hampir semua ini tidak masuk koran. Kosakata kita terlunta-lunta, dipecat oleh bangsanya sendiri, dan kehilangan pekerjaan dalam bahasa bangsa. PRT ini bukan kata, sebab mengucapkannya harus dieja.

Tiap Senin malam jam 22.00 di Radio MARA (Bandung) ada acara ‘Warung Kopi Klasik’. Pengasuhnya, Mohamad Sunjaya, selalu menyebut diri “jongos anda”. Dia tidak peduli bahwa kata jongos dilecehkan pers kita. Dia tahu bahwa sebutan ini berasal dan hotel-hotel seperti Hotel Savoy Homann di zaman Belanda, ketika para tamu memanggil pelayan jongen, jongens, tau jonges. Dan sini lahir kata jongos.

preman – Sebelum tahun 1990 preman berarti vrije man, free man, partikelir, swasta, bukan-polisi, bukan-tentara, bukan-pegawai-negeri. Banyak orang bangga sebagai preman.

Eh, tahu-tahu arti preman ini dijungkirkan menjadi penjahat. Mulainya di jalanan Jakarta. Mengapa sampai begitu? Tapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Semua koran sudah menyebarkannya ke balarea. Jadi, siapa saja yang jahat di jalanan (dan tidak di jalanan) disebut preman. Dengan masuknya preman, koran menjadi segan menulis kata-kata yang sudah ada dan sebetulnya dimengerti umum: copet, jambret, begal, jabal, kabit, bajingan, congo, alap-alap, samun, penyerobot(silakan anda tambah sendiri). Dengan sendirinya tidak pernah tertulis samunan, penyamunan, kesamunan, samun-sakal. Apa itu sakal? Pukulan, benturan, aniaya. Disakal itu dianiaya. Pelakunya, tentu saja sakal, atau penyakal atau pesakal. Di penjara tangan mereka dikecrek 

Mau dikemanakan semua kata ini? Mau dipinggirkan saja? Man dibuang? Sembari kita bilang “bahasa kita miskin …” ? Yang sedang berlangsung sekarang ini jelaslah PEMISKINAN BAHASA oleh bangsa sendiri.  

Dan tadi itu baru perkara penjahat jalanan. Belum lagi maling, bajul, berandal, bergajul, baragajul, beseng, jaru, jaharu, bangsat, durjana, cecunguk, bangkah, bromocorah, garong, grayak, kecu. … (dan masih banyak lagi). Kecu itu segerombolan besar penjahat. Kota itu kecon = dimasuki kecu. Dalam bahasa Sunda ada calikong. Ini sekarang diartikan …koruptor. Kerjanya nyalikong.

Ada satu kejahatan yang belakangan ini jadi berita besar: ngemplang, ngangglap, ngajeblug, yang melibatkan milyaran demi milyaran rupiah. Cuma ya, kata-kata ini tidak masuk koran. Hidupnya dalam bahasa rakyat, matinya dalam bahasa pers. Apakah ini berarti bahwa bahasa (sebagian) pers berkiblat kepada bahasa kaum kebilangan, dan enggan menggali bahasa balarea?

Koran tinggal memasarkan saja semua kata tadi – mumpung segala macam kejahatan lagi meruyak. 

Terror yang nggegirisi

Belum juga semua tadi digarap, mendobraklah sesebutan baru dan luar: terror, terrorist, terrorism. Dan lagi-lagi kita mendekap tamu-tamu ini setelah tadinya ragu dan cemas. Ya boleh saja. Apalagi sekarang sudah zaman dagang bebas. Tapi saingannya mana? Untuk membuat saingan, kita beranya dulu: apa itu terror ? Kalau mau mencari Indonesianya, kita perlu tahu dulu apa artinya. Kalau tidak, terror itu dikira macammacam yang sebetulnya kurang tepat atau salah. Orang kira teror itu ledakan bom di gereja, pembunuhan orang banyak, dan aneka kekerasan gerombolan. Kita lihat kamus saja dulu.

terror is very’ great fear; a terror is something that makes you very frightened.

Jadi, terror itu apa-apa yang menggerunkan = ngeri dan menakutkan, terrify, angstaaanjagend. Di Malaysia sudah lama ada kata pengerun = orang (benda) yg menimbulkan gerun, person or thing that frightens or terrifies. To terrify itu tentu to create terror. Jadi, kata Melayu untuk terrorist sudah ada! Sudah dari dulu! Mengapa kata penggerun tidak ada dalam kamus kita? Ya, karena daya kata gerun belum kita gali. Mengapa? Ya, karena kita tak acuh kepada kata gerun. Seandainya kita sudah biasa menggunakannya, dengan sendirinya bakal muncul “penggerun”, “tergerun”, “gerunan”, ”kegerunan” dan sebagainya. Lalu pekamus akan mencatatnya. Pekamus itu hanya mencatat dan menata apa yang ada. Jadi kalau kata penggerun tidak terucap, ya tidak masuk kamus. Pokoknya salah kita sendiri.  

Masih ba nyak kata pribumi yang berkaitan dengan rasa ngeri. Antara lain: Cabar, geman, gidik, giris, gentar, gerantang, garah, berawa, birawa, Bangras, ngagidir, giras, garas-giris. Giris itu sangat takut. Birawa itu sangat mengerikan. Anda bisa menarnbah sendiri dengan kata-kata dari bahasa daerah anda. Arti tiap kata ada di kamus. Tetapi percayalah bahwa pembaca koran tidak akan membuka kamus.

Bangsa kita mohkamus, risikamus, tidak doyan kamus. Termasuk mahasiswa dan sarjana. Mending membeli motor dan mobil.  

Ada tapi Tidak Ada

Boleh dikata semua kata tadi tidak dikenal pembaca koran, sebab memang tidak ada di koran. Karena tidak dikenal, kita bisa memberi arti (tambahan) seperlu kita kepada suatu kata. Ada yang begitu rupa sehingga cocok dengan arti terror. Yang akan membantah toh tidak ada, sebab tak ada yang tahu kata itu. Atau mungkin pernah orang dengar, tetapi kurang tahu artinya.  

Sama halnya kata-kata kampus, canggih, dan preman. Malah arti semula dan preman sebenarnya masih dikenal banyak sekali orang. Tetapi semua koran tanpa ampun mencekokkan arti yang tidak enak. Contoh lain ialah konglomerat. Kita tidak tahu bahwa itu sebetulnya bukan orang. Jadi kalau di sini dibilang orang, kita percaya saja bahwa konglomerat atau conglomerate itu orang. Ya sudah. Arti kata memang bisa berubah. Malah mungkin ada baiknya juga. Sekarang ada peluang untuk memberi julukan kepada para jegud yang mabuk utang milyaran: konglomlarat.  

Nah, dan daftar di atas kita misalnya memilih kata giris. Yang sering orang dengar dalam bahasa Jawa ialah nggegirisi = amat mengerikan, sangat menakutkan.

Giris itu juga kata Sunda, dan orang Sunda suka bilang garas-giris. Jadi terrorist itu penegiris. Terror itu bisa giris, bisa girisan. Kata garas iuga bisa dipakai. Hanya sebagian orang Sunda yang tahu bahwa ini berasal dan garas-giris. Nanti koran di Ball dan Manado bisa menernukan kata-kata lain, kalau tak puas.

———————————————————————–

Walhasil, kata lain untuk terror itu garas. Rendeng terror sepanjang tahun 2002 ialah garas-giris. Terrorist kakap itu penggaras. Begundalnya, atau yang teri, sebutlah penggiris. Terrorism itu garasan, penggarasan, pergarasan. Tergantung kepada kalimatnya.  

Kalau kata-kata itu dipasang di koran tiap hari, bereslah nanti. Jangan heran kalau ada ahli bahasa yang menyalahkan. Tapi jutaan orang sudah telanjur bilang garas dan giris, dan banyak Koran juga sudah menabur kata-kata itu dalam kalimat seperti “Garas nan ganas di Poso”. “Keganasan penggaras telah membawa bencana”. 

Kita juga perlu bermain dengan kekata lain. Ingat misalnya ulah penggaras. Dia itu mengerikan sebab garang, galak, ganas, beringas, bengis, buas, liar, keji, angkara. Jadi dia bisajuga disebut pengganas, pembuas, peliar, durjana. Dia suka membuat rusuh, geger, huru-hara, meninggalkan kehancuran, derita dan korban nyawa, pokoknya bencana, jentaka, marabahaya, malapetaka, bahla. Dia pembahla. Pulau Bali kabahlaan kata orang Sunda, atau kebahlaan. Pembom itu ngabahlakeun, membahlakan. Jadi garas itujauh beda dengan maling atau copet. Garas itu penggeger, perusuh, penjagal, pencincang, pemerkosa, algojo.

Selain itu, penggerun bisa juga menyerobot, menggedor, menggasak, menjabal, merampok, meranjah, menjarah-rayah. Ada kata durhaka. Dalam bahasa daerah ditulis (dan diucapkan) duraka. Pelakunya pendurhaka atau duraka saja. Ada pula kata bromocorah = penjahat besar, bandit, recidivist. Kalau mau disingkat, brocorah saja, atau brocor. Ada lagi, berandal. Orang Jawa menulis brandal atau brandhal, dan orang Sunda barandal. Artinya, pengganas, penjahat, perompak, perusuh, pengacau., gangster, scoundrel, rogue, agitator, firebrand, sedition-monger.

Ngabarandal itu berandalan. Mengapa anak nakal lalu disebut brandal, saya ridak tabu. Mungkin karena penyebutnya tidak tahu arti kata brandal. Atau mungkin karena ada anak-anak nakal yangjadi brandal. Makna “anak nakal” ini tidak ada di kamus jiran.  

Mengubah arti kata

Beda dengan penjahatan preman, pengubah arti canggih (pernah) dikenal masyarakat lewat TV. Orangnya ialah Prof. Dr. Anton Moeliono. Kata canggih dulu lain sekali artinya. “Orang itu canggih” berarti orang itu penyombong. Arti lain dan canggih: cerewet, bawel, ribut, suka merengek, suka mengganggu. Ada lagi: tidak wajar, dibuat-buat. Jadi, arti canggih itu dulujelek melulu. Tetapi masyarakat luas tidak tahu, bukan? Tembungnya tidak tahu, maknanya pun tidak tahu.

Nah, di sini pak Anton bertindak. Biar saja orang bilang Indonesianya ‘sophisticated‘ tidak ada, sebab bahasa kita “miskin”, kata mereka. Beliau umumkan saja lewat TVRI bahwa Indonesianya sophisticated itu canggih. Sudah, habis perkara. Dan benar juga, tidak ada yang berkeberatan, sebab kata ‘canggih’ itu sama sekali baru bagi otak kita. Jadi ya terima saja. Dan kita senang. Sekarang sebentar-sebentar kita bilang “canggih”.  

Bahasa Daerah

Tanpa bahasa daerah, bahasa Indonesia tidak bisa berkembang. Tiap bahasa daerah mengandung kosakata yang berguna bagi pengembangan bahasa Indonesia. Karena itu bahasa daerah perlu dipelihara koran. Nanti peminatnya dengan sendirinya akan bertambah, termasuk kaum muda. Bahasa daerah ini tampak misalnya di SRIWIJAYA POS:

– “AKU ngalih banar maatur makan Bus ai,” ujar Talamak.

+ “Kanapa maka ngalih Mak? Nang ngalih itu kada maatur makan tapi

maatur duitnya gasan manukar makanan,” ujar Garbus.

– “Kalu sual duit adalah sual razaki Bus ai. Nang kumaksud adalah

anjuran mantri puskesmas supaya aku maatur makan,” ujar Tulamak.

+ “Ooo… jadi makanan ikam harus diatur supaya awak sihatjangan

garing,” ujar Garbus.

Di SUARA MERDEKA kita juga ajeg membaca karangan-karangan dalam bahasa Jawa.

 

Penulis

Sudjoko – Institut Teknologi Bandung

Makalah ini disampaikan dalam Diskusi Forum Bahasa Media Massa,  9 Januari 2003 di Bentara Budaya Jakarta.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: