Dinamika Bahasa Media Massa

“Dalam soal budget, kedudukan DPR lebih tinggi dari pemerintah. Oleh karena itu silakan DPR membahas terlebih dahulu kalau memang ingin melakukan perubahan. DPR yang harus mengambil inisiatif untuk menangkap aspirasi rakyat.

“Bola itu ada di tangan DPR,” kata Wakil Presiden (Wapres) Hamzah Haz usai mengikuti sidang kabinet paripurna di Sekretariat Negara, Jakarta, Senin (6/1 ).

 

          Ini adalah paragraf  kedua laporan utama surat kabar harian Kompas, edisi 7 Januari 2003, halaman 1. Apabila orang yang cermat menemukan kesalahan berbahasa di dalamnya, maka dia menjumpai kesalahan yang bersumber dari dua pihak. Pihak pertama adalah narasumber berita itu sendiri dan pihak yang kedua adalah wartawan, yakni reporter yang menulis laporan ini bersama-sama dengan editor yang menyunting laporan tersebut.

          Pembaca tentu percaya dengan akurasi isi dan struktur kalimat kutipan langsung di dalam paragraf tersebut, apalagi wartawan pada masa sekarang hampir tidak pernah melepaskan aIat perekam dari tangannya ketika mendengarkan keterangan sumber berita. Tidak perlu ada dikhawatirkan bahwa wartawan salah mengutip ucapan narasumber, dan kekeliruan bahasa pada kalimat kutipan ini dapat dipastikan sebagai kekeliruan Hamzah Haz. Kalimat “Oleh karena itu silakan DPR membahas terlebih dahulu ..” yang dia ucapkan adalah kalimat yang keliru karena di belakang kata “membahas” tidak ada kata “keterangan” yang seharusnya disertakan. Kata “membahas” adalah kata kerja transitif yang harus langsung diikuti objek di belakangnya (dalam hal ini adalah keterangan penderita, yakni Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2003 yang disepakati Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah dengan mengurangi anggaran untuk subsidi dan memaksa pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik dan teleon). Kalaulah Hamzah Haz dapat berbahasa dengan baik, dia sewajarnya berkata, “Oleh karena itu silakan DPR membahasnya terlebih dahulu kalau memang ingin melakukan perubahan” atau “0leh karena itu silakan DPR membahas anggaran itu terlebih dahulu kalau memang ingin melakukan perubahan.”

Kesalahan berikutnya ditemukan pada pemakaian kata “usai”. “Usai” berarti “bubar”. Yang dapat usai adalah benda seperti rajutan, rantai, sholat berjamaah, misa, kenduri, rapat, dan seminar. “Mengikuti” (sidang kabinet) adalah kata kerja dan segala sesuatu yang ditunjukkan kata kerja (pekerjaan), jika sudah selesai tidak dapat dikatakan usai. Bagian dari kalimat yang berisikan kata “usai” itu tadi adalah rumusan penulis laporan. Artinya, kesalahan berbahasa di situ bersumber pada wartawan. Seandainya wartawan yang menulis berita ini dapat berbahasa dengan baik, dia sewajarnya membuat kalimat yang bunyinya “kata Wakil Presiden (Wapres) Hamzah Haz seusai sidang kabinet …” atau “kata Wakil Presiden (Wapres) Hamzah Haz sesudah mengikuti sidang kabinet … “

Tetapi apa mau di kata. Lingkungan pemakai bahasa dan narasumber yang ada di dalamnya serta wartawan yang menulis laporan di media massa adalah orang-orang yang lebih sering tidak acuh ketimbang peduli akan bahasa yang baik. Mereka berada dalam masyarakat yang tidak hirau pada hal-hal yang sederhana dan karena itu menganggapnya sepele (padahal bersifat serius). Mereka berada di dalam masyarakat yang sulit sekali menyadari kesalahan dalam tradisi, tidak terlatih berpikir jernih dan logis, serta mudah sekali hanyut dalam aneka pengaruh. Dinamika bahasa laporan media massa berlangsung seirama dengan dinamika bahasa masyarakatnya. Kedua-duanya mempertautkan penyebab dan akibat persoalan sehingga ketika orang berbicara tentang bagaimana nienjadikan bahasa media massa lebih baik, ada yang berpendapat bahwa kita menemukan lingkaran yang tidak ketahuan mana ujung dan mana pangkalnya. Masyarakat pada umumnya dan wartawan dengan media massanya sama-sama menciptakan dan memelihara keteledoran berbahasa. Kalaulah di situ ada catatan khusus bagi media massa itu adalah karena perannya menyebarkan informasi yang jika dilakukan dengan mempergunakan bahasa yang keliru akan melahirkan penularan di tengah masyarakatnya.

 

***

 

 

          Pengaruh Lingkungan Masyarakat   Dalam hal berbahasa, masyarakat kita memperlihatkan berbagai-bagai kesalahan yang timbul karena bermacam-macam penyebab. Sebagian penyebab itu adalah tradisi bertutur dalam bahasa daerah, sebagian lainnya adalah ketidakterlatihan berpikir secara jernih, dan juga ketidakpedulian (mungkin pula ketidakpahaman) pada makna kata.

          Kebiasaan berbahasa yang salah, dapat mempengaruhi wartawan dalam menulis laporan. Pemakaian akhiran “nya” sebagai kata ganti pronomina adalah tradisi bertutur dalam beberapa bahasa daerah, muncul dalam laporan wartawan, misalnya “… kakaknya Amrozi …” Ketika kebiasaan seperti itu terbawa oleh narasumber dalam memberikan keterangan kepada wartawan, ia akan muncul dalam kutipan yang ditulis di media massa. Wartawan yang mengutip keterangan itu tidak memperbaiki kesalahan tersebut, adakalanya karena takut akan salah kutip dan adakalanya karena tidak menyadari itu sebagai kesalahan.

Begitu banyak kekeliruan yang bersumber pada lingkungan pemakai bahasa yang mempengaruhi bahasa media massa. Pada umumnya kekeliruan itu tidaklah disadari, tapi ada di antaranya yang tampaknya sengaja dibuat mengingkari kaidah bahasa karena takut salah dipahami, misalnya kata “mengkaji”.

“Kaji” bisa bermakna “pelajaran” juga dapat berarti “menyelidiki”. Sekarang untuk mengatakan menilik sesuatu atau mempelajari sesuatu atau mempertimbangkan sesuatu orang sepakat untuk mempergunakan kata “mengkaji”, bukan “mengaji”. Kenapa? Karena takut akan disalahpahami sebagai “membaca al Quran”. Ketakutan ini sama sekali tidak beralasan, karena makna kata “mengaji” akan dipahami orang dengan melihat konteks kalimat. Hanya saja kemudian kesepakatan diam-diam menerima kata “mengkaji” membuat orang merasa tidak lagi keliru ketika memakai kata “mengkambinghitamkan” ataupun “mengkaderkan”. Kesalahan ini dibiasakan, tidak disadari lagi, dan dipakai berulang-ulang sama halnya dengan kekeliruan yang antara lain diperlihatkan beberapa contoh berikut ini.

   Menyamakan pengertian “semua” dan “seluruh”

… seluruh provinsi di  Indonesia …

seharusnya:

…. semua provinsi di  Indonesia …

  Memakai kata “saling”di tempat yang tidak perlu

…saling bertukar tanda mata …

…duduk saling berdekatan …..

…kedua kesebelasan itu saling berhadapan di Stadion

LebakBulus sore…

…kedua pembalap saling berlomba …

…penumpang kereta api saling berebut …

  Salah memahami kata ”bergeming”

… dia  tidak  bergeming  walau  diancam  Mahmud  dengan parang …

seharusnya:

… dia bergeming walau diancam Mahmud  dengan  parang …

  Menyamakan pengertian “kecuali” dengan “selain”.

… akan diberikan bantuan obat-obatan. Kecuali itu Pemda juga akan mendrop bahan makanan…

  Keliru memakai kata “nyaris”.

… dia nyaris menyamai rekor kakaknya tahun lalu  

… penampilannya nyaris tanpa cacad …

  Membuat bentuk majemuk di tempat yang tidak perlu

                   … kini banyak negara-negara yang ….

                   … tidak sedikit murid-murid ….

            Membuat bentuk majemuk di belakang kata “suatu”

… dilakukan suatu tindakan-tindakan …

… sudah diambil suatu langkah-langkah yang …

  Kebiasaan berbahasa berlebih-lebihan (redundanf).

… agar supaya…

… sangat setuju sekali …

… tidak hanya itu saja ...

  Pemakaian akhiran “kan” pada kata “diberi”.

… para pengungsi itu diberikan bantuan …

  Pemakaian awalan “me” (yang menunjukkan pertambahan) pada kata sifat di belakang kata “kian” dan “makin”

                   … makin meningkat …

… kian menyusut…

… rnakin mernbesar….

  Membendakan kata benda dengan imbuhan.

… permasalahan…

… sekolahan …

… jalanan…

  Kata “mirip” yang disamakan pengertiannya dengan “serupa”.

… bentuknya hampir mirip dengan Corolla Soluna …

Kerap sekali wartawan tidak dapat menghindarkan diri dan kekeliruan berbahasa seperti yang diperlihatkan contoh-contoh di tas dan kemudian membuatnya jadi populer di tengah masayarakat, sehingga “sebenarnya” sudah sulit ditelusuri siapakah yang memulai kekeliruan tersebut, masyarakatkah atau wartawan kah.

Sama halnya dengan tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh tradisi berbahasa yang salah, wartawan juga tidak berdaya menghadapi pengaruh perkembangan sosial politik yang berlangsung di dalam masyarakatnya. Wartawan bersama media massanya malah takluk dan turut menyebarluaskan gejala berbahasa yang dihidupkan kekuasaan dan sebetulnya tidak sehat bagi perkembangan bahasa itu sendiri. Ketika Bung Kamo berada di puncak kekuasaannya, media massa menjadi alat yang sangat efektif untuk menyebarluaskan akronim dan kebiasaan membuat akronim Bung Kamo menyingkat Manifesto Politik menjadi Manipol, ia disebarluaskan oleh media massa. Begitu seterusnya untuk Tavip (Tahun Vivere Pericoloso), Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri), Takari (Tahun Berdiri di Atas Kaki Sendiri), Jarek (Jalannya Revolusi Kita), Neokolonialisme (Nekolim) dan berbagai-bagai akronim yang lain. Pemakaian akronim untuk tujuan mengolok-olok, menciptakan kesan rendah maupun buruk pada saat itu dimulai, yang antara lain diperlihatkan oleh penyingkatan Manifesto Kebudayaan menjadi “Manikebu”.

          Tradisi ini diteruskan Orde Baru “dengan sangat baik” bersama rekayasa politik berbahasa dalam menciptakan opini publik untuk tujuan dan kepentingan kekuasaan. Gerakan 30 September disingkat menjadi Gestapu—bukan Getapus misalnya—karena bunyi kata “Gestapu” begitu dekat dengan “Gestapo” (organ Nazi Jerman yang dikenal kejam). Ketika Partai Nasional Indonesia pimpinan Ali Sastroamidjojo-Ali Surachman (yang lebih condong kepada Bung Karno) berselisih paham politik dengan Partai Nasional Indonesia pimpinan Osa Maliki-Usep Ranuwihardja (lebih condong pada Orde Baru), maka dengan sangat kreatifnya diciptakan sebutan “PNI ASU” (asu, bahasa Jawa, bermakna anjing). Tradisi ini diteruskan hingga sekarang baik untuk penyebutan suatu pengertian maupun untuk pemberian nama resmi berbagai institusi di dalam masyarakat. Pernah pada suatu masa, ketika di dalam Kabinet Pembangunan III ada jabatan Menteri Muda Urusan Peranan Wanita, serta merta media massa mempergunakan sebutan Menmud Perawan, padahal menteri perempuan yang menduduki jabatan tersebut bukanlah seorang gadis. Pada masa yang hampir sama dengan itu Jaksa Agung disebut media massa dengan istilah Jagung. Ketika harus menulis Jaksa Agung Muda media massa mempergunakan istilah Jagung Muda (bukan Jagungmud, atau Jagungda) yang membuat Kejaksaan Agung kurang senang menerimanya.

Sadar atau tidak, wartawan serta media massa mendukung politik berbahasa yang demikian, atau setidak-tidaknya membiarkan ia berkembang lewat publikasi dari hari ke hari. la melahirkan persoalan dalam kejelasan berkomunikasi dan lebih dari itu menimbulkan masalah dalam perkembangan bahasa.

          Ketika Orde Baru yang menjaga dengan sangat ketat stabilitas nasional berupaya menutup kenyataan yang tidak menyenangkan (agar stabilitas tidak terganggu demi kelancaran pembangunan negara dan bangsa seutuhnya) dengan mempergunakan eufemisme (pelembutan makna kata) para jurnalis hanyut dalam arus yang demikian. Media massa dengan sangat setia menjadi “Pak Turut” dalam mempergunakan eufemisme dalam laporannya dengan menyebut “harga disesuaikan” untuk “harga dinaikkan”. Sekaligus, kecurangan kekuasaan pun diikuti ketika mengatakan dengan jelas “gaji pegawai negeri dinaikkan” atau “harga dasar pembelian gabah dari petani dinaikkan”. Istilah “unjuk rasa” dipakai untuk “demonstrasi”, “pemutusan hubungan kerja” (untuk “pemberhentian” pegawai dan kemudian dilembutkan lagi dengan menyingkatnya menjadi “PHK”, “kurang makan (untuk “kelaparan”); “kesalahan prosedur” (untuk “kekerasan” yang dilakukan aparat keamanan”), “diamankan” (untuk “ditangkap”), “tidak tepat waktu” (untuk “terlambat”), dan “masa bhakti” (untuk “masa kerja”).

          Pada contoh yang terakhir ini, pelembutan makna kata berjalan bersama-sama dengan upaya menciptakan kesan bahwa birokrasi adalah kelompok yang berdarma-bhakti untuk negara dan bangsa, serta menyandang tugas amat mulia. Di situ khalayak dikelabui, dengan menyatakan bahwa “kerja” itu adalah “bhakti “, padahal konsep “kerja” sangat berbeda dengan konsep “bhakti”. “Kerja” adalah sesuatu yang harus dilaksanakan sebagai tugas dan kemudian harus dipertanggungjawabkan kepada si pemberi “kerja”, sedangkan “bhakti” adalah sesuatu yang dilakukan atas inisiatif sendiri, tanpa pamrih, dan bersifat mulia. Maka kemudian kita menyaksikan birokrasi bertindak korup atau bahkan menindas pada masa ia menjalankan “masa bhakti”, dan semuanya itu menjadi biasa-biasa saja, dibiarkan berkembang dengan segala keburukannya. Manakala eufemisme dipergunakan dengan sangat baik dalam politik berbahasa, lawannya, disfemisme (pengerasan makna kata, atau membuat makna kata jadi kasar) pun dipakai sebagai alat dalam berkomunikasi.

          Masa Orde Baru adalah masa yang membawa kita ke alam yang memperjauh jarak antara pemerintah dengan yang diperintah, antara pemimpin (penguasa) dengan rakyat (yang dikuasai), yang diwarnai oleh penciptaan kesan bahwa mereka yang “di atas” itu penuh dengan kehormatan serta tidak tersentuh. Mereka yang “di bawah” harus mengerti apa saja cuma haknya dan apa yang harus diterimanya, apa yang tidak boleh ia lakukan, dan bagaimana seharusnya berperilaku sopan. Berbagai istilah yang antidemokrasi dipergunakan oleh kekuasaan, dan wartawan serta media massa memopulerkannya. Presiden mendapatkan kedudukan bagai raja ketika kita membaca laporan media massa yang mengatakan bahwa “menteri anu menghadap kepala negara” atau “pengurus organisasi anu minta restu presiden”. Pembawa acara pada suatu upacara dengan sangat santunnya mengumumkan, “Presiden dan Ibu  .. berkenan memasuki tempat upacara, hadirin dipersilakan berdiri” (di sini pun dipergunakan eufemisme “dipersilakan berdiri” sebagai pengganti “harap berdiri” atau “segeralah berdiri”).

          Pejabat tinggi mendapatkan kehormatan seperti bangsawan berdarah biru dalam kerajaan ketika wartawan melaporkan bahwa “Menteri X berkenan berdialog dengan perajin selama 45 menit ketika mengunjungi desa Y.”  Khalayak diberi tahu bahwa sang menteri “berkenan” (bermurah hati menyediakan waktu, menyempatkan diri) berdialog dengan perajin, kelompok masyarakat yang kelasnya di bawah dia. Padahal, dialog yang dilakukan si menteri adalah bagian dari tugas pemerintahan yang dia emban yang dalam sumpah jabatannya dia janjikan akan dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Ketika kampanye produk Indonesia dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak meyakinkan—malah  bisa berakibat berkebalikan dengan tujuan yang hendak dicapai—sekali  lagi wartawan hanyut di dalam pengaruhnya. Sesering dikatakan bahwa mutu buatan Indonesia “tidak kalah” dengan produk negeri lain, sesering itu pula khalayak diingatkan bahwa mutu tersebut tidak sama. Yang muncul di situ adalah gejala rendah diri, dan itu pun dibiasakan wartawan dalam berbahasa di medianya. Malah sebuah surat kabar Jakarta, sekian belas tahun yang lampau, menulis judul berita sepak bola di halaman satu dengan judul “PSSI Berhasil Menahan Muangthai Seri 1-1”. Apa yang disiratkan bahasa judul berita ini? Yang ia tunjukkan adalah rasa tidak percaya diri pada Indonesia, perasaan tidak akan dapat mengimbangi Thailand, apalagi menang. Maka ketika hasil akhir adalah 1-1, segera si wartawan yang menulis berita itu ‘surprise’ dan “berseru” lewat judul beritanya dengan mengatakan “berhasil” (hanya untuk tidak kalah).

Pada saat yang lain, surat kabar yang sama menurunkan laporan tentang pembangunan jalan layang Cawang-Tanjung Priok. Sebuah kalimat dalam laporan itu hendak “menepuk dada”, mengatakan bahwa orang Indonesia tidak kalah oleh bangsa lain. Kalimat tersebut berbunyi, “Proyek ini dikerjakan oleh sepuluh orang insinyur yang semuanya adalah putra-putri Indonesia, kecuali satu orang dari Jepang, khusus menangani masalah disiplin. “Pada bagian awal kalimat ini muncul gejala rendah diri dalam berkata-kata. Pada bagian akhirnya keluar pernyataan yang menghancurkan kebanggaan yang hendak ditimbulkan itu dengan menyatakan bahwa untuk urusan displin kita masih memerlukan orang Jepang.

          Sebetulnya, dalam hal menyuburkan akronim, memperkuat kembali semangat feodal, memakai eufemisme untuk menyembunyikan kenyataan buruk, dan menabur rasa rendah diri, wartawan tidak pernah diwajibkan mempergunakan bahasa seperti yang disebutkan tadi. Yang ada hanyalah suasana atau lingkungan yang menciptakan model berbahasa dengan cara seperti itu. Kesalahan wartawan adalah dia tidak peka menyadari bahwa sermuanya itu tidak sehat untuk pendidikan publik, dan dia membiarkan dirinya hanyut dibawa arus ke muara yang merugikan cara berpikir khalayak luas.

***

Tuntutan Jurnalistik dan Kelemahan Wartawan dalam Berbahasa – Bahasa adalah elemen penting dalam jurnalistik. Pemakaian bahasa untuk laporan jurnalistik, karena tuntutan jumalistik itu sendiri, melahirkan persoalan yang harus diperhatikan oleh siapa saja yang berada dalam dunia jurnalistik tersebut. Jurnalistik menganjurkan kepada para jumalis untuk menggunakan bahasa dengan baik (bukan bahasa yang baik dan benar, karena ragam bahasa yang baik dan benar adalah ragam bahasa ilmiah, bahasa yang dipergunakan untuk keperluan sangat resmi)

          Hanya saja ragam bahasa jurnalistik sering membuat para ahli bahasa gusar. Di banyak negeri, untuk banyak bahasa, sering timbul pertikaian pendapat antara wartawan di satu pihak dengan ahli bahasa di pihak lain. Kendala waktu (komunikasi harus berlangsung dengan cepat dan jelas) dan kendala tempat (space yang terbatas kerap memaksa wartawan melanggar tata krama berbahasa.

          Jurnalistik menganut prinsip pokok sampaikan pesan secara cepat dan jelas dalam ruang (space) dan waktu yang relatif terbatas. Keterbatasan itu ada pada dua sisi, baik pada sisi media massa maupun pada sisi audience. Halaman surat kabar ataupun majalah senantiasa terbatas. Halaman yang terbatas itu harus dimanfaatkan seefisien mungkin untuk menyampaikan pesan (sebanyak-banyaknya) kepada khalayak. Waktu siaran radio dan televisi pun demikian. Begitu pula dengan waktu yang dimiliki pembaca media cetak, pendengar radio, maupun penonton televisi.  Untuk media cetak, hampir semua audience adalah kalangan urban, orang-orang sibuk, yang tidak memiliki waktu banyak untuk membaca. Irama hidup masyarakat seperti itulah yang dilayani media massa, sehingga penyampaian pesan secara cepat dan jelas dalam ruang dan waktu yang relatif terbatas itu —–terutama pada suratkabar harian—melahirkan  penghematan bahasa. Karena itulah dalam bahasa media massa rumusan kalimat berikut ini (diperlihatkan tanpa tanda kurung) lebih baik dibandingkan dengan bentuk lainnya yang lebih boros (diperlihatkan dalam tanda kurung).

 

 

…ditandatangani menteri keuangan pekan lampau ..

(…ditandatangani oleh menteri keuangan pekan yang lampau… )

…dinyatakan, tidak ada keragu-raguan lagi dalam hal….

(…dinyatakan bahwa tidak ada keragu-raguan  lagi dalam hal… )

… berangkat pertengahan bulan ini …

(… akan berangkat pertengahan buian ini…)

… kini dibicarakan  DPR 

(….kini sedang dibicarakan DPR…)

… ditutup pada 30 Desember 2002 …

(….telah ditutup pada 30 Desember 2002 … )

Banyak contoh penghematan kata yang tidak disebutkan di sini yang membuat bahasa jurnalistik kerap mengingkari kaidah pemakaian bahasa yang baik dan benar. Sepanjang pengingkaran terhadap gramatika tidak melahirkan perubahan makna ia dapat diterima. Tetapi harus diakui, penghematan yang  berlebih-lebihan yang merusak pengertian memang kerap dilakukan wartawan,  seperti terlihat pada contoh benkut ini.

 … pundak kiri Usman dibacok parang …

seharusnya;

… pundak kin Usam dibacok dengan parang ..

          … lebih besar dibanding tahun  lalu …

seharusnya;

… lebih besar dibandingkan dengan tahun  lalu…

… akan kami tangkap,” tegasnya.

seharusnya;

… akan kami tangkap,” katanya menegaskan.

atau;

… akan kami tangkap,” dia menegaskan.

Bersamaan kejadian itu, jumlah anggota Perbanas pun jadi  kian menyusut. (Kompas,  19 September 1998, halaman I )

seharusnya,

Bersamaan dengan kejadian itu jumlahanggota Perbanas pun susut

Dari tersangka berusia sekitar 20-an tahun itu, ditemukan uang tunai Rp 1 juta dan empat cincin milik korban. (Kompas, 19 September 1998, halaman 1)

seharusnya;

Pada tersangka berusia 20-an tahun itu ditemukan uang tunai Rp 1 juta dan empat cincin milik korban

          atau,  

Dari tersangka berusia 20-an tahun itu disita uang tunai Rp I juta dan empat cincin milik korban.

Anjuran jurnalitik agar wartawan lebih sering mempergunakan kalimat pendek (yang lebih mudah dipahami) dibandingkan dengan kalimat panjang (yang menuntut pembaca atau pendengar berkonsentrasi lebih baik), juga melahirkan kesalahan-kesalahan. Wartawan sering memotong satu kalimat yang agak panjang menjadi dua kalimat pendek dan memulai kalimat kedua dengan kata penghubung yang terdapat dalam kalimat yang agak panjang sebelumnya.

Pameran itu tidak jadi diselenggarakan bulan ini. Sebab, Hall B Pekan Raya Jakarta dipakal untuk kegiatan lain hinggaawal Februari nanti.

Keliruan seperti ini, mengawali sebuah kalimat dengan kata penghubung, yang membuat logika kalimat tersebut rusak, kerap muncul dalam media massa. Ini adalah salah satu bentuk kesalahan, karena menerapkan anjuran jurnalistik secara keliru. Itu pula yang terjadi pada contoh berikut ini.

Perhimpunan Bank-bank Swasta (Perbanas), sangat mengharapkan kejelasan, penjelasan, dan kebijakan yang transparan dari pemerintah terhadap langkah-langkah yang diambil terhadap perbankan nasional. Walaupun masyarakat sudah mulai tenang karena simpanannya dijamin pemerintah, tetapi bagi perbankan nasional tetap saja menghadapi masalah yang berat dan bertubi-tubi.

Demikian mantan Ketua Umum Perbanas, Atmosardjono Subowo, pada Kongres Luar Biasa (KLB) Perbanas di Jakarta, Jumat (18/9). (Kompas, 19 September 1998, halaman 1).

Kalimat pada paragraf kedua dalam petikan ini sama sekali bukanlah kalimat yang mengandung makna yang jelas. Ia sebetulnya adalah frase dari kalimat sebelumnya, yang dipisahkan wartawan agar (agaknya) terhindar dari penulisan kalimat yang panjang. Itu sebetulnya dapat dia lakukan dengan cara yang lain, tidak dengan mengawali kalimat dengan kata penghubung “demikian” seperti berikut ini (sekaligus di sini kerancuan kalimat pada paragrafpertama diperbaiki).

Perhimpunan Bank-bank Swasta (Perbanas) sangat mengharapkan kejelasan, penjelasan, dan kebijaksanaan yang transparan dan pemerintah dalam hal langkah-langkah yang diambil terhadap perbankan nasional. Walau masyarakat sudah mulai tenang karena simpanannya dijamin pemerintah, perbankan nasional  tetap  saja menghadapi  masalah  berat  yang datangnya  bertubi-tubi,  demikian  mantan  Ketua Uimum Perbanas, Atmosardjono Subowo, pada Kongres Luar Biasa (KLB) Perbanas di Jakarta, Jumat (18/9).

atau,

Perhimpunan Bank-bank Swasta (Perbanas) sangat mengharapkan kejelasan, penjelasan, dan kebijaksanaan yang transparan dari pemerintah dalam hal langkah-langkah yang diambil terhadap perbankan nasional. Walau masyarakat sudah mulai tenang karena simpanannya dijamin pemerintah, perbankan nasional tetap saja menghadapi masalah berat yang datangnya bertubi-tubi.

Hal itu dikemukakan mantan Ketua Urnum Perbanas, Atmosardjono Subowo, pada Kongres Luar Biasa (KLB) Perbanas di Jakarta, Jumat (18/9).

Kesalahan seperti ini sama sekali bukanlah kesalahan yang diakibatkan pengaruh tradisi masyarakat dalam berbahasa. Ia lebih banyak bersumber pada diri si penulis laporan yang seharusnya dapat berbahasa dengan jernih. Namun tetap ada jalan untuk memperbaiki kemampuan berbahasa. Pertama-tama adalah kemauan si wartawan itu sendiri untuk luput dari kesalahan, tetapi di situ bimbingan editor sangat diperlukan. ***

 

Penulis:

Masmimar Mangiang

Universitas Indonesia

 

 

Makalah ini disampaikan pada Diskusi FBMM, 9 Januari 2003 di Bentara Budaya Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: