Disumpahi Pemuda: Satu Nusa Satu Bangsa Dua Languages

(Makalah ini disajikan di The University of Melbourne, pada Australian Association of Indonesian Language Educators Conference, diselenggarakan oleh Melbourne Institute of Asian Languages and Societies, Melbourne 10-12 Juli 2001)

I

          Pemeo yang biasa didengungkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk berbahasa Indonesia yang “baik dan benar”, naga-naganya sudah diabaikan dengan sengaja oleh para pesolek. Yang saya maksudkan pesolek di sini adalah orang-orang terpelajar,  terutama mereka yang saat ini lazim disebut sebagai “elite politik”,  yang dalam rangka tampil beda di media pers,  televisi ataupun koran dan majalah, lantas berbicara kenes dengan kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang penuh digincu dengan kata-kata bahasa Inggris. Karuan timbul rasa masygul, jangan-jangan ikrar pemuda pada 1928, sekarang ini melaju ke prayojana baru: satu nusa satu bangsa dua languages. Terus terang, saya tidak melihat ini sebagai suatu isyarat kemajuan, tapi sebaliknya kemunduran. Saya juga tidak melihat ini sebagai sesuatu yang sekadar memprihatinkan dan menyedihkan, tapi malahan memualkan.

Ketika saya mengutarakan dua kalimat yang terakhir di atas, tidaklah dengan begitu berarti saya mendukung pemeo “baik dan benar” tersebut. Di bawah nanti saya akan menunjukkan sekelumit catatan yang membuktikan bahwa bahasa Indonesia, yang merupakan bahasa gado-gado, bahasa capcay, bahasa tinutuan, berasal dari kesalahan-kesalahan centang-perenang belaka yang menertawakan. Tapi,  untuk itu, cara paling arif dalam menghadapi kenyataan ini adalah dengan sikap semadyanya. Bahwa, begitulah bahasa melaju dalam masyarakat yang berkembang dalam kebingungan,  kebimbangan, kegeraman, tenahak, musakat.

II

          Memangnya sampai di mana jauh yang menyedihkan itu telah berubah menjadi memualkan? Coba simak bagaimana pesoiek itu bicara di bawah ini.

1.  Wawancara SCTV jam 18.30 dengan Sekjen MPR,  Umar  Basalim tentang SI. Katanya, “Bagaimanapun the show must go on.” Dia memberi kesan bahwa sidang untuk menjatuhkan Gus Dur dengan beaya miliaran rupiah itu sebagai pertunjukan.

2.  Wawancara Metro TV jam 13.00 dengan anggota Fraksi TNI/Polri soal Bimantoro yang diaktifkan. Katanya, “Hal itu membuat losing face.”

3.  Wawancara TVRI jam 20.30,  29 Mei dengan Jendral Sudrajat. Katanya, “Pemimpin politik harus menenangkan followers-nya.”

4.  Wawancara Forum 25 Maret dengan Matori Abdul Djalil.  Katanya, “DPR atau MPR kan hanya speaker, apalagi zaman sekarang kan powerful.”

5.  Wawancara Gatra  24 Maret dengan Amien Rais.  Katanya, “Pertemuan tersebut menghasilkan unspoken conclusion.”

6. Wawancara Metro TV jam 10.03,  3 Juii dengan Amien Rais. Katanya, “Semuanya masih open ended.

7.  Wawancara Metro TV jam 12.45,  6 Juli dengan Kepala  BFPN, I Putu Gde Ari Suta. Katanya, “Itu masalah in and out, soal cash flow… and then ini, siapa yang mengerjakan.”

8. Wawancara Metro TV jam 12.55,  6 Juli dengan Dirut BEJ, Mas Achmad Daniri. Katanya, “Ya, as much as we can, (menangani emiten bermasalah).”

9.  Wawancara Gamma  14 Maret  dengan Harzuki  Darusman.  Kata-nya, “Jangan sampai dinila sebagai bargaining.”

10. Wawancara Metro TV jam 4.45,  II Juni dengan Sri Mulyani Indrawati mengenai reaksi pasar atas kebijakan baru. Katanya, “Kalau good news mereka akan sambut, kalau bad news mereka akan punished.” Lalu, di akhir wawancara, ditanya komentarnya, maka jawabnya kenes, “Well, selamat, congratulatins.”

Pukul rata semua orang Indonesia bersolek dengan kata-kata bahasa Inggris. Di antara pejabat-pejabat yang paling kacau bahasa Indonesia, agaknya Menkeu Rizal Ramli. Selain gincu Inggrisnya bertubi-tubi, dia pun terwaris cara omong kopral-kopral KNIL, mengucapkan “kan” menjadi “ken”, serta “dalam” jadi “dalem”, “meminta” jadi “mementak”, “pendapat” jadi “pendapet”, “datang” jadi “dateng”, “pemerintah” jadi “pemerentah” dts. Periksa misalnya wawancara Metro TV jam 21.30, 10 Mei, dalam VIP.

Tapi   dua  orang di antara elite politik yang berbahasa Indonesia dengan lumayan tertib agaknya Yusril lhza Mahendra dan Susilo Bambang Yudhoyono, walau yang terakhir ini acapkali masih kepeleset Inggris-ria juga.

III

Tak boleh diingkar, bahwa pers sangat besar perannya dalam ikut  bertanggung jawab akan bahasa Indonesia yang pecah  ini.  Tidak ada satu pun media cetak, surat kabar ataupun majalah, yang bebas dari kegatalan beringgris-ria.

Mari kita coba memindai dan menyimak koran yang paling berpengaruh di Indonesia saat ini, koran yang setiap tahunnya memberikan Hadiah Sastra kepada pesastra-pesastra yang menulis prosa pada rubrik kebudayaannya, yaitu Kompas. Kita ambil yang terbitan 14  Juli  2001,  dimulai dari  halaman  15.  Di  halaman  ini  tersaji  lima judul berita dan tujuh iklan. Dalam judul “Pertamina tolak peran PT Sedco dalam pembelian minyak Irak”, kita baca “Dengan fee 10 sen per barrel.” Dalam judul “Dewan Pengawas desak BPPH berikan klarifikasi”, kita baca “Status audit itu sebagai disclaimer.” Dalam judul “Keputusan KKSK belum disetujui” kita baca “Restrukturisasi, dan asset settlement,” dan “Merupakan win-win solution.” Dalam judul “Anggaran Departemen Pariwisata dan Kebudayaan baru dikucurkan Rp 11,13 milyar” kita baca “Sebab prinsip dasar pariwisata adalah community based tourism.” Dalam judul “Pergantian kabinet sebuah tindakan sumir” kita baca “Yang diperlukan sekarang adalah overhaul.”  Kemudian, iklan-ikian berbunyi “Membutuhkan officer akuntansi,” “Open house coba kursus gratis,” “Paket one step wedding”  “Pelacakan dan peng-up grade-an software asli,”  “Terbesar dalam bidang water treatment,” “First choice global partner in education and development,” dan “Majalah wanita mingguan full colour.”

Mungkin halaman 15 di atas tidak terlalu mengejutkan. Sekarang coba  simak halaman 10.  Dalam berita “Perlu promosi kesehatan untuk dapatkan komitmen politisi” kita baca kalimat ini, “Kinerja sistem kesehatan (health system performance) Indonesia menduduki peringkat ke-92.” Di halaman 8, dalam berita “Madura, carok, dan polisi” kita baca kalimat ini, “Carok memiliki dimensi ekonomis selain dimensi kekuasaan (means of power).”  Di halaman 6, dalam berita “Awal Juli  pemerintah dan GAM bertemu  lagi di Geneva” kita baca “Mengisyaratkan adanya rencana pertemuan tingkat tinggi (high level talks) antara pemerintah dan perwakilan GAM”.

Apa yang mengejutkan dari kalimat-kalimat di atas? Yaitu, bahwa redaksi menganggap pembaca Indonesia lebih mengenal dan mafhum akan istilah dalam kurung tersebut ketimbang bahasa Indonesianya.

IV

Memang,  harus diakui, bahwa ‘serangan’  bahasa Inggris ke dalam banyak bahasa di Asia tidaklah kecil. Mulai dari Asia bagian barat, dalam bahasa Arab, sampai ke Asia bagian timur, dalam bahasa Jepang, terlihat betapa kuatnya prayojana beringgris-ria memasuki bahasa-bahasa tersebut. Dengan itu, seharusnya dikatakan, bahwa, sedangkan bahasa Arab dan bahasa Jepang yang bahkan telah memiliki tradisi sastra yang dibya—dari peta kebudayaan yang demikian maju–toh  dapat bobol diserang kata-kata bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia, bahasa dari bangsa-bangsa imigran yang berkebudayaan kian-kemari.

Untuk mendapatkan sebagian kecil dari pengaruh kosakata tertentu bahasa Inggris yang masuk ke dalam bahasa Arab sekarang simak misalnya kata-kata kafitirya, buftik, aiskrim, sandawits, baib, bisklit, kik, mutusikl, sukar, bansiun. Kata-kata ini berasal dari bahasa Inggris cafeteria, beefsteak, ice cream, sandwich, pipe, bicycle, cake, motorcycle, sugar, pension.

Demikian juga, kata-kata dalam bahasa Jepang seperti manejasan, furutsu jusu, sandoitchi, aisukurimu, chizu, keki, bisuketto,  hotto doggu, konstu haru, shopinu senta,  adalah berasal dari kata-kata bahasa Inggris manager, fruit juice, sandwich, icecream, cheese, cake, biscuit, hot dog, concert hall, shoppingcentre.

Apa yang menarik dari dua contoh dalm bahasa Arab dan bahasa Jepang di atas? Tak lain adalah ‘keberanian’ untuk menyerap kata-kata bahasa Inggris dengan lafaz yang sesuai. dengan sifat-sifat alami lidah anak negeri.

Sebetulnya dulu kita pun memiliki ‘keberanian’ itu. Kata-kata bahasa Inggris yang telah membumi di Indonesia sejak zaman penjajahan Inggris pada tahun-tahun belasan abad ke-19, antara lain dapat disimak dalam karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, “Dari Hal Tuan Raffles”.

Perlu diingat kembali bahwa kata-kata bahasa Indonesia yang bernuansa lama seperti terup, dokar, buset, peri, musti, peluit, siul, sama, hore, justru, berasal dari kata-kata bahasa Inggris troop, dog car, bull shit, fairy, must, flute, whistle, same, hurrah, just true. Artinya, dengan mengingat ini, kita dapat mengatakan bahwa dulu kita memiliki ‘keberanian’ itu, dan sekarang tidak lagi.

Pers sebagai satu-satunya lembaga komunikasi khalayak yang paling menentukan perkembangan bahasa Indonesia, kelihatannya  malah lebih dulu bersolek dan menjadi kenes. Dua media yang hendak disebut sepesifik di sini mewakili gambaran tersebut adalah majalah ME (singkatan Male Emporium) dan Metro TV. Perhatikan saja semua rubriknya. Seluruhnya bahasa Inggris. Rubrik majalah ME adalah antara lain Main Issue, Sexual Life, Woman’s Secret, Good Life, Man of the Month, The Persons, Woman We Love, Man Style, Details, Car, World Sport, Weekend, dst. Di kolom staf perusahaan dan redaksi, terpampang Editor in Chief, Managing Editor, Art & Production Manager, Director of Finance, Stylist & Photography Editor, Publisher, dst. Kemudian, perhatikan juga mata-acara Metro TV, Market Review, Headline News, Famous to Famous, Traffic Report, Show Biz News, Famous Home & Hideaways, Money Talks, True Action, What Happened, Tomorrow’s Line Up, Today’s Dialogue.  Dalam mata-acara yang terakhir ini, dibuka bincangan langsung dengan pemirsa lewat telefon, dan di atas layar kaca terpampang tulisan live by phone.

Apakah itu media berbahasa Inggris? Sama sekali bukan. Hanya rubrik dan mata-acaranya saja yang beringgris-ria, sementara isinya, yaitu sajiannya dalam penulisan ataupun penuturannya adalah bahasa Indonesia yang centang-perenang belaka. Ini memang beda dengan Indonesia zaman Nederlands Indie. Di dekade pertama abad lampau, 1900, ada majalah-majalah yang bernama Jawa, yaitu Tri Koro Dharmo dan Darmo Kondo, tapi di dalamnya penulis-penulis Melayu menulis dengan bahasa Belanda yang bagus.

 

V

Berhubung Indonesia berkarat oleh lamanya penjajahan Belanda di sini, layaklah jika dikatakan bahasa kita yang centang-perenang ini disusupi oleh banyak sekali kosakata Belanda dan bahasa-bahasa lain yang melintas dan diterima dengan salah kaprah—sebagai  bukti bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa gado-gado, bahasa capcay, bahasa tinutuan “bermukabalah dengan bahasa Malaysia yang lebih asyik dengan bahasa Inggris yang dimelayukan sesuai dengan lafaz khas anak negeri.

Sekadar memindai mukabalah bahasa Indonesia dan Malaysia yang sama-sama bersumber dari bahasa Melayu, coba kita periksa sepuluh lema di bawah ini.

1.  beg,  tas,  Bahasa Malaysia  beg,  diserap dari  bahasa  Inggris bag. Kita, Indonesia, memilih   menyerap kata bahasa Belanda, tas.

2.  kes,  kasus.  Malaysia menyerap  dari bahasa  Inggris  case, kita menyerap dari bahasa Latin casus.

3.  tayar,  ban.  Malaysia menyerap dari bahasa Inggris  tyre, kita menyerap dari bahasa Belanda band.

4.  besen,  baskom.  Malaysia menyerap dari bahasa  Inggris basin, kita menyerap dari bahasa Belanda vaskom.

5.  basikal,  sepeda.  Malaysia menyerap dari  bahasa  Inggris bicycle, kita menyerap dari bahasa Francis velocipede.

6.  butang,  kenop.  Malaysia menyerap dari bahasa Inggris botton, kita menyerap dari bahasa Belanda knop.

7.  catar,  carter.  Malaysia menyerap dari bahasa Inggris charter, kita menyerap dari bahasa Inggris yang sama.

8.  lesen,  lisensi.  Malaysia menyerap dari bahasa Inggris licence, kita menyerap dari bahasa Belanda licentie.

9.  tuala,  handuk.  Malaysia menyerap dari  bahasa Inggris towel, kita menyerap dari bahasa Belanda handdoek.

10. talivisyen,  televisi.   Malaysia menyerap dari bahasa Inggris television, kita menyerap dari bahasa Belanda televisie

Dengan mengacukan contoh-contoh di atas ini, bolehlah gerangan disimpulkan bahwa bahasa Indonesia—sebagai nama pun diberikan pertama kali oleh orang Inggris, J.R. Logan, 1848 (melalui tulisannya “Customs common to the hill tribes bordering on Assam and those of the Indian Archipelago“) lalu dipermasyhurkan oleh orang Jerman, Adolf Bastian, 1884 (melalui tulisannya “Indonesia oder die Insel des Malayschen Archipels“)—adalah bahasa yang terbuka bagi semua bahasa yang melintas ke sini. Yang konyol dan bedebah jika ada setengah orang, seperti di zaman Orde Baru dan terlebih-lebih Orde Lama, yang demi kepentingan politiknya lantas memaksa-maksa diri dengan cara mengalirkan frustrasinya kepada masyarakat, bahwa seakan-akan bahasa Indonesia adalah bahasa asli, seraya mengasut masyarakat dengan khurafat yang bukan-bukan seperti slogan “menangkal pengaruh buruk budaya asing.”

Bahasa Indonesia—sebagaimana  saya uraikan daIam buku saya “9 Dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing” (Pustaka Firdaus, Jakarta)—terdiri  dari sekurangnya 35 bahasa asing dan daerah. Gambaran paling gampang untuk melihat bukti itu adalah menyimak teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, suatu maklumat kepada dunia tentang arti kebangsaan berharkat karena merdeka dari penjajahan. Di dalam teks ini kita dapat melihat bagaimana kata-kata bahasa asing dan daerah menyatu menjadi suatu bahasa tunggal ika yang terbuka, yaitu, bahasa Belanda (prokiamasi = proclamatie,  nama = naam ),  Sansekerta (merdeka = maharddhika, bangsa = varnsa, cara, saksama, su-karno), Campa (kami = gamiy), Jawa (nyata = nyoto), Sunda (kuasa = kawasa), Portugis (atas = antes), Itali (tempoh = tempo), Cina (singkat), Arab (hal, hatta), Jerman dan), Jepang (’05, kalender Showa), Latin (Agustus, kalender Masehi), Yunani (nesia = nesos).

Atau, kalau kita mau sedikit tidak tegang, coba pula kita perhatikan tata busana resmi kita saat ini. Pria Indonesia yang berpakaian resmi adaiah, dimulai dari bawah, sepatu, kaus kaki,

celana atau pantalon, singlet, baju atau hem, dasi, jas, disertai arloji, dan yang paling di atas kopiah. Semua barang yang dipakai pria untuk menjadikannya berbudaya ini ternyata berasal dari kata-kata bahasa asing, Spanyol:  zapato,  Belanda: kous, Sansekerta: calanaka, Francis: pantalon, Inggris: singlet, Persia: bazu, Belanda: hemd,  Belanda: dasje, Belanda: jas, Prancis: horloge, Arab: kuffiyatun. Begitu pula semua barang yang dipakai wanita untuk tampil resmi dan berbudaya ditentukan pula oleh perlintasan bahasa-bahasa asing di sini. Misalnya, jika ia tidak me-

ngenakan sepatu tapi selop, maka ke atasnya ada rok, blus, B H, bleser, dan jilbab.  Semua ini pun berasal dari bahasa asing,  Belanda: slot, Belanda: rok, Prancis: blouse, Belanda: BH, singkatan buste houder, artinya ‘pemegang susu payudara’, Inggris:  blazer, Arab: jilbab.

VI

Sebagian orang masih menganggap tata busana di atas termasuk asing dan cenderung menjadi sangat solek. Dengan melihat kata-kata asalnya, memang beralasan anggapan itu. Tapi, seperti begitulah juga bahasa Indonesia yang sebenarnya. Yaitu, kita memakainya dengan memadan-madankannya sebagai bagian yang tidak lagi mempersoalkan cocok dan tidaknya, atau benar dan salahnya.

Acuan ini sekaligus menguji ulang gagasan di atas tentang bahasa Indonesia yang “baik dan benar”. Dengan ini saya bermaksud mengatakan—dengan menunjuk bukti—bahwa  gagasan yang telah menjadi pemeo itu terkesan mengabaikan realitas, plastisitas bahasa yang berkembang, serta sejarah pertumbuhan asal bahasa. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa memang diperlukan untuk misalnya melihat bahasa bukan semata-mata pada segi linguistik yang menyebabkan yang baku menjadi kaku, tapi juga, yang lebih mustahak melihat bahasa dari sudut sosiologi menyangkut pandangan-pandangannya tentang keindahan bertutur dan keleluasan berekspresi. Jangan sampai oleh rewelnya melihat bahasa hanya dari satu segi, maka Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa berubah menjadi Pusat Pembinasaan dan Pembimbangan Bahasa.

Dulu, salah satu tawaran melakukan EYD, adalah supaya terjadi pengiritan huruf, yang dua huruf menjadi satu huruf. Tapi sekarang kita disuruh jadi boros, misalnya ‘tapi’ yang hanya empat huruf, disuruh menjadi sepuiuh huruf ‘akan tetapi’, atau ‘gule’ dan ‘sate’ yang empat huruf, dibikin menjadi lima huruf ‘gulai’ dan ‘satai’. Alasannya tidak ada bunyi ‘e’ dalam bahasa baku. Anehnya  ‘sore’  tidak diubah jadi ‘sorai’. Ini di luar kekeliruan-kekeliruan keterangan lema dalam kamus resmi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Saya hanya akan menunjuk satu saja, sebab saya berkepentingan dengan istiliah ini, yaitu ‘apologetik’.

Kamus yang disebut di atas memberi keterangan pada lema ‘apologetik’ sebagai “bersifat pemaaf”. Sebetulnya perkataan ini merupakan istiliah yang khas dalam widya teologi, tentang wacana pertanggungjawaban kepercayaan yang harus dibeberkan secara verbal sebagai tangkisan atas serangan yang dilancarkan kepadanya. Barangkali Kamus Besar Bahasa Indonesia menyimpuikan perkataan ini dari bahasa Inggris, ‘apology’ yang berarti ‘maaf’. Padahal perkataan ‘apologia’ dari bahasa gereja menjadi widya teologi, diterima dalam bahasa Inggris sebagai ‘verbal defense, clearing of self‘.atau tangkisan dengan kata-kata dalam rangka membersihkan diri dari tuduhan kesalahan.

VII

Tapi, melalui itu pula, sekarang kita sampai pada catatan yang sebenarnya, yaitu, bahwa bahasa Indonesia memang berangkat dari kesalahan-kesalahan, sehingga pemeo “baik dan benar” akhirnya terkesan sebagai gagasan repot untuk tidak mengatakan gagasan mengada-ada. Kita akan melihat sebentar lagi, bahwa kesalahan yang terjadi dalam  pertumbuhan bahasa Indonesia, terdiri atas dua peristiwa, yaitu kesalahan persepsi dan kesalahan transkripsi. Kedua-duanya, percayalah, sangat menarik.

Kita mulai dari yang salah persepsi.

1.  Tuhan.  Perkataan  ini  pertama  kali  tersua dalam bentuk tulisan lewat terjemahan kicab suci Nasrani, Perjanjian Baru, yang dilakukan  oleh Melchior Leijdecker ketika ia menjadi pendeta di Tugu (kini Jakarta Utara) pada 1678-1701. Sebetulnya perkataan ini berasal dari ‘tuan’, tapi agar terjemahan Melayunya mengandung makna insani dan Ilahi, maka sebutan yang ditujukan kepada Almaseh ini pun dieja dengan menaruh ‘h’. Sebab, dalam Injil bahasa Belanda, sebutan terhadap Almaseh adalah ‘heere‘, artinya ‘tuan’.

2.  Kepala. Asal-usulnya perkataan ini dari istilah arsitektur bahasa Itali, cupola, yaitu bagian paling tinggi yang terletak di atas atap bangunan, sebagai tambahan atau hiasan pengindah

gedung. Selanjutnya ‘sirah’, ‘hulu’, ‘tendas’ berubah jadi kepala.

3.  Mariam.  Ketika bangsa Melayu masih menembak dengan panah dan sumpit, bangsa Portugis datang membawa kanon yang dapat meledakkan  bunyi  gempita.  MeIihat  bahwa  orang  Portugis  menembak  dengan membuat tanda salib sembari mengucapkan nama Maryam Bunda

Almaseh Isa, maka selanjutnya senjata itu disebut mariam.

4. Cinta.  Sebetulnya perkataan ini dalam bahasa Spanyol berarti tali pita. Tapi di Indonesia Timur, orang yang dipertunangkan harus mengucapkan kasih-sayangnya di bawah ikatan tali cinta tersebut, maka selanjutnya cinta pun berubah menjadi padan kasih.

5.  Roti.  Perkataan ini berasal dari bahasa Belanda,  brood, yang dijajakan di Batavia dulu dengan kereta kayuh, sambil diteriakkan dengan tambahan ‘iii’, dan akhirnya terkupingkan menjadi ‘brootiii’.

6.  Minggu. Dalam bahasa Portugis lama,  Domingo,  berarti Tuhan. Demi Domingo mereka pergi ke gereja untuk ibadah pada hari Ahad. Akhirnya Ahad berubah menjadi Hinggu.

7.  Kodak.  Pada zaman lampau hanya satu merek kamera dan film yang ada di Indonesia. Oleh karena itu kegiatan fotografi pun disebut sebagai kodak. Tukang foto disebut ‘Mat Kodak’.

8.  Gedang.  Bahasa Jawa ini berasal dari ucapan syukur tentara bantuan Belanda yang berasal dari Indonesia Timur dalam perang Diponegoro. Sebuah peleton yang berhari-hari tidak makan lantas menemukan sebuah kebun pisang. Oleh girangnya karena dapat makan, mereka berseru dalam bahasa Belanda, “God dank“, artinya ‘terima kasih Tuhan’.

9.  Odading.  Bahasa Sunda  ini  berasal dari seruan kaget seorang nyonya Belanda. Anaknya menangis meminta dibelikan kue yang dijajakan anak kampung. Kue itu tidak bernama, sebab hanya terdiri dari adonan terigu dan gula pasir yang digoreng. Sang nyonya pun penasaran, lantas memanggil ujang penjual kue itu, menyuruhnya membuka daun pisang yang menutup kue itu. Melihat kue itu, berkatalah sang nyonya kepada anaknya, “0, dat ding?” Artinya, “0, barang itu?”

10. Bolopis kuntul baris. Istilah ini digali oleh Bung Karno untuk salah satu pidatonya, kemudian dibikin lagu oleh Binsar Sitompul. Pada zaman Daendels, pekerja rodi dicambuk supaya mereka giat bekerja. Ada seorang mandor yang sangat kuat, asalnya dari Spanyol, tapi datang ke Indonesia melalui Prancis. Orang menyebut namanya Don Lopez comte du Paris. Untuk mendapat semacam kekuatan, pekerja-pekerja rodi itu menyebut namanya.

Kalau diselusur lebih panjang, maka kita masih akan menemukan kelucuan-kelucuan dari lidah orang Indonesia mengucapkan kata-kata bahasa asing. Taruh misainya nama tempat di Solo, Tambak Segaran, berasal dari nama sebuah toko milik orang Belanda di situ yang menjual ‘tabak’  (tembakau) dan ‘sigaren’  (rokok). Lantas di  Semarang  ada  daerah  yang  bernama  Pindrikan,  dulunya  dari  nama jalan Prins Hendriklaan. Di Bandung ada juga tempat bernama Cibarengkok, dulunya berasal dari nama orang Belanda kaya pemilik tanah perkebunan, Van Bruinkops. Di Jakarta, pasar Boplo di sekitar Menteng, berasal dari, nama gedung Bouw Plug. Dst. dst. Repotnya lidah anak negeri melafazkan kata-kata asing, bahasa Belanda, menyebabkan orang-orang di Padang masa lampau menyebut bahasa Belanda sebagai cakap kareseh-peseh.

 

VIII

Menyangkut kesalahan-kesalahan literal yang terjadi dalam pengejaan Latin atas banyak kosakata bahasa Indonesia, yaitu berpangkal dari berubahnya ejaan, dapatlah diperiksa dari hasil usaha bangsa Belanda melakukan transkripsi sumber-sumber sastra Indonesia lama yang tertulis dengan huruf-haruf Arab Melayu atau Arab gundul. Di bawah nanti kita akan menyimak sepuluh contoh.

Sebelum itu, patutlah diingat bahwa pengenalan kita pada aksara Latin dimulai resmi pada 1536, melalui sekolah pertama di Indonesia, didii-ikan di Ambon oleh penguasa Portugis, Antonio Galvanu. Orang-orang di Ambon mengenal bahasa Melayu melalui karya misioner Fransiscus Xaverius. Pastor ini meminta seseorang di Malaka menerjemahkan ayat-ayat pegangan Nasrani, “Doa Bapa Kami”, “Salam Maria”, dan “Syahadat Rasuli”, dan berkeliling membawa lonceng di Ambon dan sekitarnya. Siapa yang bisa menghafal ayat-ayat pegangan itu lantas dibaptis di bawah nama Bapa, Putra, dan Rohkudus. Tapi baru satu abad kemudian kitabsuci Nasrani dicetak dalam bahasa Melayu. Dan. sejauh ini, kitab itulah yang boleh dikata sebagai cetakan tertua dalam sejarah pustaka Indonesia bertuliskan Latin, dikerjakan oleh Brouwerius, diterbitkan pada 1663.

Manakala Belanda berhasil mengalahkan Portugis, didapatnya orang-orang di Ambon—sebagai  pusat rempah-rempah yang menjadi tujuan utama penjelajahan bangsa-bangsa Barat—telah mengenal bahasa Melayu. Oleh kenyataan itu maka selanjutnya Belanda memanfaatkan bahasa Melayu sebagai bahasa administratif. Dalam perkembangannya di kemudian hari adalah orang Belanda juga yang mengajar orang-orang di Ambon dan Maluku berbahasa Melayu. Salah seorang yang paling penting adalah Josef Kam, pendeta Protestan dari lembaga NZG (Nederlands Zendelingen Genootschap).

Di masa penjajahan Belanda inilah bahasa Melayu-tinggi, sebagai kosokbali Helayu-pasar dilembagakan lewat satu-satunya kitab yang dikeramatkan Belanda, yaitu “El Khawlu’l Djadid, ija itu segala surat perdjanjian baharuw, atas titah segala tuwan pemarentah kompanija, tersalin kepada bahasa Malajuw”. Pengaruh bahasa Arab merupakan ciri perdana dari bahasa Melayu-tinggi tersebut. Sementara tulisan-tulisan sastra lama Melayu yang tertulis dalam Arab-gundul, di masa ini juga, ditransliterasi oleh Belanda menjadi buku-buku penting dengan aksara Latin, misalnya “Hang Tuah” (…………………….) dan “Sejarah Melayu” (……………………).

Banyak kata bahasa Indonesia baku saat ini berasal dari saiah transliterasi huruf Arab-gundul ke huruf Latin. Di bawah ini kita ambil sepuluh saja contoh.

1.  Seru,  khususnya dalam menyebut Tuhan atau khalik,  yaitu Tuhan seru sekalian alam, Seharusnya perkataan ini dibaca serwa, tapi karena Arab-gundulnya terdiri dari huruf-huruf sin-ra-wau ( …………..) maka terjadi salah kaprah pelatinan menjadi seru.

2.  Atau,  seharusnya dibaca atawa,  tapi karena tulisan Arab-gundulnya terdiri dari huruf-huruf alif-ta-alif-wau (…………………), mnaka  pelatinannya pun keliru menjadi atau.

3.  Suatu,  juga keliru,  sebab huruf-huruf Arab-gundulnya  terdiri dari sin-wau-alif-ta-wau ( ……………………) yang seharusnya dibaca sawatu, artinya ukuran satu batu.

4,  Kuatir,  atau sekarang banyak dieja dengan kh jadi khawatir, berasal dari kekeliruan melatinkan huruf-huruf Arab-gundul kaf-wau-alif-ta-ya-ra (……………………)

5.  Bahwa,  merupakan salah  pelatinan dari  huruf-huruf Arab-gundul  ba-hak-wau (……………) 

6.  Merah padam, seharusnya dibaca merah padma—padma adalah bunga teratai—tapi  salah dilatinkan sebab huruf-huruf Arab-gundulnya terdiri dari mim-ra-hak fa-dal-mim ( ………………).

7.  Permaisuri,  adalah kekeliruan  pelatinan  atas  perkataan parama iswari, nama dewi, karena tulisan Arab-gundulnya terdiri dari huruf-huruf fa-ra-mim-ya-sin-wau-ra-ya ( ……………………).

8.  Mata keranjang, merupakan kesalahan yang menertawakan, sebab tulisan ini dalam huruf-huruf Arab-gundulnya adalah mim-alif–ta kaf-ra-nun-jim-ngain (……………………..) Di sini ‘k’ dan ‘r’ atau kaf dan ra digandeng sehingga dibaca keranjang. Padahal seharusnya dipisah, menjadi mata ke ranjang, artinya lelaki yang melihat perempuan lantas asosiasinya ke atas ranjang.

9.  Orang,  dalam huruf-huruf Arab-gundul  ditulis dengan alif–wau-ra-ngain (…………………) sehingga orang Belanda melatinkannya menjadi awrang.

10. Makin, merupakan kesalahan dari yang seharusnya mangkin—yang dulu diejek orang ketika Soeharto mengucapkannya—karena  kesalahan membaca huruf ngain (….), huruf yang khas dalam

Arab-Melayu, yaitu ain (….) yang ditaruh tiga titik di atasnya yaitu mim-ngain-kaf-nun ( ….….… …)

IX

Jadi, memang, buat setengah orang, pemeo bahasa Indonesia yang “baik dan benar” terdengar aneh di kuping.

Tapi, karuan masih tetap merupakan masalah bahasa Indonesia sekarang, Indonesia kiwari, akan kecenderungan yang hubaya-hubaya tidak disumpahi pemuda: satu nusa satu bangsa dua languages. Dengannya seyogianya kita tidak buru-buru menganggap bahwa melintasnya kata-kata bahasa Inggris yang utuh tanpa penyesuaian lafaz Melayu sebagai sesuatu yang bertamadun. Artinva, ikhlas kita bisa menerma sebanyaknya perkataan bahasa Inggris melintas ke dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia, asal itu untuk mengisi kekurangan lema yang telah kita punyai. Di situ kita bersikap bukan meminjam tapi memilikinya.

Yang terjadi sekarang, kita—para pesolek tersebut—hanya meminjam-minjam dan tidak mengembalikannya. Cara bersolek seperti itu sama betul dengan yang dilakukan oleh remaja-remaja cengeng yang sok-Amerika: bercelana jin sobek di lutut seraya kredet-kredetan dan dengan begitu merasa dirinya telah menjadi Guns ‘n’  Roses. Oleh sebab itu,  siapa pun yang pertama kali membuat istilah ‘Bruneigate’ dan ‘Buloggate’—mereka  yang baru pandai mengikat dasi di bangku gedung DPR/MPR tapi tak pandai menjaga ikatan tali kebangsaan—adalah setali tiga wang dengan kelakuan remaja cengeng yang sok-Amerika. Tidak ada tepuk tangan pujian nan tahniah bagi orang-orang yang tidak berkepribadian seperti itu.

——————————————————————————

Penulis:

Remy Sylado

Sastrawan/Novelis/Munsyi

 

 

 

Remy Sylado membagikan makalah ini juga ketika berdiskusi dengan FBMM  pada  Agustus 2004 di RCTI.

Satu Tanggapan

  1. keren…!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: