Ihwal Penulisan Nama Geografi

1. Pendahuluan

Suatu bahasa tidak lepas dari sistem yang berlaku pada bahasa itu. Sistem bahasa itu merupakan perangkat kaidah yang disepakati. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara mempunyai sistem berupa seperangkat kaidahnya. Kaidah itu meliputi, antara lain, tata bahasa, ejaan, dan istilah.

Mengingat bahasa Indonesia itu sudah ditopang oleh kaidahnya, apakah kaidah itu berlaku juga dalam nama-nama geografi? Pertanyaan itu timbul karena masalah penulisan nama-nama geografi tampaknya masih bervariasi. Variasi itu terjadi karena belum ada pedoman yang baku untuk penulisan nama-nama georafi, baik nama-nama itu berasal dari Indonesia—dalam hal ini termasuk yang berasal dari berbagai daerah—dan yang berasal dari mancanegara. Nama-nama geografi seperti Kotogadang, Muarabungo, Tanjung Priok, dan Kebon Kelapa masih mendua dengan Kotagadang (Kotagedang?), Muarabunga (Muarobungo), Tanjung Priuk (Tanjung Periuk), dan Kebun Kelapa. Bahkan, dari segi penulisannya apakah gabungan kata itu dirangkai atau dipisah, yakni Kotogadang/kotagadang/Kotagedang atau Koto Gadang/Kota Gadang/Kota Gedang,  Muarobungo/Muambunga/Muarabungo  atau  Muaro  Bungo/Muara Bunga/Muara Bungo, Tanjungpriok (Tanjungperiuk/Tanjungpriuk atau Tanjung Priok/Tanjung Periuk/Tanjung Priuk, dan Kebonkelapa/Kebunkelapa atau Kebon Kelapa/Kebun Kelapa. Selain itu, karena keberagaman bahasa daerah yang ada di Indonesia munculnya nama-nama khas daerah itu apakah perlu diindonesiakan, seperti koto, gadang, muaro, bungo, priok, dan kebon menjadi kota, gedang, muara,bunga, periuk, dan kebun. Belum lagi unsur geografi seperti sungai yang di dalam bahasa daerah terdapat berbagai kata, seperti sungai, batang, kali, bengawan, air, aek, way, ci. Hal itu merupakan pertanyaan yang perlu dicarikan jawabnya.

Selain nama geografi yang berasal dari bahasa daerah, nama-nama geografi yang berasal dari bahasa asing juga menjadi masalah yang perlu pemecahannya. Di dalam kenyataan sampai saat ini, nama-nama geografi seperti Port of Spain, CapeTown, dan Great Sand masih memperlihatkan keasingannya. Apakah ini akan diperlakukan seperti aslinya karena keinternasionalannya; jadi, tidak diubah atau mungkin diterjemahkan? Jika hal itu dikaitkan dengan adanya pedoman baru tentang pengindonesiaan nama dan kata asing (Alwi, 1995), penerjemahan serupa itu akan memungkinkan kita untuk mengambil sikap. Walaupun dalam pedoman itu nama-nama geografi seperti itu belum disenaraikan, peluang kita untuk mengikuti polanya sangat terbuka.

Selama ini Pusat Bahasa menjadi tumpuan pertanyaan tentang kebakuan nama-nama geografi. Pertanyaan itu diajukan, baik secara lisan maupun secara tertulis. Jawabannya sudah barang tentu tidak memuaskan penanya karena penentuan baku dan tidaknya nama-nama geografi ditetapkan oleh banyak pihak. Pusat Bahasa selalu menunjuk Bakosurtanal yang mempunyai kewenangan untuk menetapkannya. Berbagai buku pelajaran dan peta yang ada belum menunjukkan keseragaman. Untuk itu, diperlukan upaya ke arah pembakuan nama-nama geografi itu.

Sebagai informasi, ada dua dokumen yang menggembirakan kita tentang panduan penulisan nama geografi, yakni (1) “Panduan Penulisan Nama-Nama Geografis” (Santoso, 1993) dan (2) rancangan Keputusan Presiden tentang Penataan Nama Geografi yang disiapkan oleh Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum, Departemen Dalam Negeri. Pembahasan rancangan Keppres itu sudah selesai pada tingkat persiapan yang melibatkan berbagai kalangan yang terkait, termasuk PusatBahasa. Keppres itu akan diikuti dengan pedoman penulisan nama-nama geografi dalam bahasa Indonesia.

 

2. Bahasa Indonesia dalam Penamaan Geografi

Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berkedudukan sebagai (1) bahasa resmi kenegaraan,  (2) bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, (3) alat perhubungan untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, dan (4)  sarana  pengembangan  ilmu,  teknologi,  dan  budaya.  Berkaitan  dengan kedudukan itu, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan untuk pengembangan ilmu dan teknologi. Salah satu ilmu yang dapat memanfaatkan bahasa Indonesia untuk pengembangannya adalah bidang geografi.

Nama-nama geografi sebenarnya tidak lahir begitu saja. Ada beberapa faktor pemberian sebuah nama. Misalnya, keanekaan bahasa, nilai historis, bentuk geografis, nilai politis, dan nilai keinternasionalannya. Faktor-faktor itu akan menjadi pertimbangan dalam menetapkan nama-nama geografi.

Di dalam memanfaatkan bahasa Indonesia dalam bidang geografi ada beberapa hal yang dapat dipertimbangakan sebagai suatu kebijakan, yakni:

a.  pemanfaatan kosakata bahasa Indonesia;

b.  pemanfaatan kosakata bahasa daerah;

c.   pertimbangan ejaan (baik penulisan maupun penyerapannya);

d.  penerjemahaan ke dalam bahasa Indonesia (baik sebagian maupun sepenuhnya);

e.  penerimaaan sepenuhnya karena sifat keinternasionalannya;

i.   pertimbangan strukturnya.

Segi-segi itu akan dapat dijadikan kebijakan dalam menetapkan nama-nama georafi, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari mancanegara.

 

2.1 Kosakata Bahasa Indonesia

 

Nama-nama geografi yang merupakan kosakata umum berarti bahwa sebuah nama geografi dan unsur-unsurnya merupakan kosakata yang digunakan secara umum di dalam bahasa Indonesia. Dengan kata lain, kosakata itu sudah tidak asing lagi  bagi  penutur  bahasa  Indonesia.  Misalnya,  Pulau  Seribu,  Bukittinggi, Tanjungpinang, dan Kayuagung. Di dalam penggunaan sehari-hari unsur nama-nama geografi itu sudah dikenal, yakni pulau, seribu, bukit, tinggi, tanjung, pinang, kayu, dan agung. Cukup banyak nama geografi yang demikian itu kita temukan.

 

2.2. Kosakata Bahasa Daerah

Kenyataan menunjukkan bahwa ada 818 bahasa daerah yang tersebar di Indonesia (Purwo, 2003). Keberagaman bahasa daerah itu berpengaruh pula terhadap nama-nama geografi. Misalnya,  kosakata koto di Sumatra Barat ditemukan dalam nama Kototuo, Kototmggi, Kotogadang, dan Tigokoto. Namun, koto ada pula yang ditulis dengan kota, seperti Lima Puluh Kota dan Kotabaru. Kata koto tidak sama artinya dengan pengertian kota sekarang sehingga koto sebagai nama khas daerah perlu dipertahankan dan tidak perlu diindonesiakan menjadi kota. Kekhasan daerah itu bukan disebabkan oleh perbedaan maknanya saja, melainkan juga oleh kesamaan maknanya sehingga dapat dipertimbangkan sebagai nama geografi itu. Misalnya, Muaro, Biaro, Simpangampek (di Sumatra Barat), Anyer, Pakulonan, Ksbonpete (di Banten), Mulyoagung, Balerejo (Jawa Timur) tidak perlu diindonesikan menjadi Muara, Biara, Simpangempat, Anyar, Pe(r)kulonan, Kebunpetai, Muliaagung, dan Balaireja.

 

2.3. Pertimbangan Ejaan

Salah satu kaidah bahasa yang perlu diperhitungkan dalam nama-nama geografi adalah kaidah ejaan. Penerapan ejaan itu dianggap perlu karena ejaan itu mengatur sistem tulis dan lafal bahasa. Nama geografi tidak hanya dilafalkan, tetapi juga dituliskan. Oleh karena itu, nama geografi yang tidak mengindahkan ejaan yang berlaku, dalam hal ini ejaan bahasa Indonesia, tentu akan membuka peluang keberagaman penulisan dan lafal. Segi ejaan yang terkait dengan penulisan nama geografi meliputi (1) pelafalan, (2) penulisan huruf, (3) penulisan kata: gabungan kata, kata ulang, angka dan bilangan, (4) unsur serapan.

 

2.3.1 Lafal

Mengenai lafal, masalah yang sering muncul terdapat pada pelafalan nama geografi yang berasal dari bahasa daerah dan bahasa asing. Nama-nama dari bahasa daerah seperti Pameungpeuk dan Cibeureum (di Jawa Barat) Peureulak dan Bireuen (di Aceh), Salatiga dan Purbalingga (di Jawa Tengah), Kuta dan Negara (di Bali), Bantaeng dan Soppeng (di Sulawesi Selatan) memperlihatkan kebervariasian lafalnya walaupun tulisannya sesuai dengan sistem bunyi bahasa Indonesia. Jika lafal itu didasarkan atas lafal bahasa Indonesia, lafalnya tentu mengikuti tulisannya. Jadi, nama-nama itu diucapkan Pamengpeuk /pamenpeu?/, Cibeureum /cibereum/, Peureulak–sesuai dengan variasinya Perlak— /peria?/, Bireuen /bireun/, Salatiga /salatiga/, Purbalingga /purbalingga/, Kuta /kuta/, Negara /negara/, Bantaeng /bantaEn/, dan Sopeng /sopEn/. Sementara itu, pelafalan nama-nama yang berasal dari bahasa asing disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Misalnya, Caroline yang ditulis dengan ejaan Karolin diucapkan /karolin/; Rome yang diindonesiakan menjadi Roma dilafalkan /roma/; al-Misr yang diserap menjadi Mesir dilafalkan /mesir/.

 

2.3.2 Penulisan Huruf

Penulisan huruf juga memerlukan perhatian. Penulisan, misalnya, Gunung Merapi, Selat Sunda, Laut Jawa,  Danau Toba, dan Lautan Teduh masih bervariasi—dalam beberapa buku—dengan gunung Merapi, selat Sunda, laut Jawa, danau Toba, dan lautan Teduh. Sesuai dengan kaidah, setiap huruf awal unsur itu ditulis dengan huruf kapital. Penulisan huruf kapital dalam setiap huruf awal itu dilakukan karena kata pertama merupakan unsur geografi yang diikuti dengan nama unsurnya.

 

2.3.3 Penulisan Kata

2.3.3.1 Gabungan Kata

Sampai saat mi masih belum ada kemantapan dalam menuliskan nama

geografi yang terdiri atas gabungan kata. Di dalam kenyataannya ada nama geografi yang terdiri atas dua kata atau lebih. Penulisannya bervariasi. Nama yang terdiri atas dua kata ada yang ditulis serangkai, seperti Bukittinggi, Tanjungpinang, dan Banjarmasin; ada pula yang ditulis secara terpisah, seperti Tanjung Priok, Tanah Abang, Kebayoran Baru; ada pula yang ditulis serangkai dan terpisah, seperti Bandarlampung, Bukitasam, Ujungkulon di samping ditulis Bandar Lampung, Bukit Asam, dan Ujung Kulon (dalam beberapa buku pelajaran). Selain itu, gabungan kata yang terdiri atas tiga kata penulisannya—karena datanya tidak terlalu banyak—tampaknya   digabung,   seperti   Sirahpulaupandang dan Sokohbanadaya.

Jika kita menelaah buku pedoman ejaan, penulisan gabungan kata ada yang dipisah dan ada pula yang digabung, bahkan ada pula gabungan itu yang dituliskan dengan tanda hubung (-). Pada prinsipnya gabungan kata ditulis terpisah, yang di dalam geografi misalnya, Selat Sunda, Gunung Merapi, dan Laut Merah. Namun, ada pula gabungan kata yang penulisannya dirangkai apabila salah satu atau lebih unsurnya itu merupakan unsur terikat sehingga unsur terikat itu hanya berarti apabila bergabung dengan kata lain. Di dalam geografi unsur  terikat pada umumnya berasal dari bahasa daerah yang belum menjadi kosakata mandiri dalam bahasa Indonesia. Misalnya, Aekanopan, Citarum, Hutagodang, Kadugede, dan Tanjungredep.  Selain itu, ada juga kemungkinan gabungan kata itu ditulis serangkai walaupun salah satu unsurnya tidak merupakan unsur terikat. Kemungkinanan itu didasarkan pada keinginan untuk membedakan antara nama geografi dengan nama unsur geografi. Misalnya, kata tanjung, selat, gunung, dan bukit di samping terdapat pada nama geografi juga terdapat pada unsur geografi.

Sebagai nama geografi, kata-kata itu, misalnya, ditemukan pada nama Tanjungpinang, Selatpanjang, Gunungsitoli, dan Bukittinggi. Sebagai unsur geografi, kata-kata itu, misalnya, terdapat pada nama tanjung, selat, gunung, dan bukit, seperti Tanjung Harapan, Selat Sunda, Gunung Merapi, dan Bukit Barisan. Oleh karena itu, penulisan nama geografi yang terdiri atas dua kata atau lebih menganut pertimbangan (1) apabila nama itu merupakan unsur geografi yang diikuti dengan nama unsur itu, penulisannya dipisah dengan menggunakan huruf kapital pada setiap huruf awal kata, seperti Bukit Barisan dan Gunung Merapi, (2) apabila unsur geografi itu tidak diikuti dengan nama unsur itu, penulisannya digabung karena dianggap sebagai satu nama yang padu, seperti Bukittinggi dan Gunungsitoli.

Sementara itu, tanda hubung dapat digunakan untuk menyatakan hubungan dua unsur yang tiap-tiap unsurnya terdiri atas gabungan dua nama, seperti Grogol-Petamburan, Eampekangkek-Candung,  Bosnia-Herzegovina,  dan  Bandara Soekarno-Hatta.

 

2.3.3.2 Penulisan Bentuk Ulang

 

Di dalam ejaan bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung. Narnun, pada nama geografi penggunaan tanda hubung ini tampaknya bervariasi, yakni ada yang tidak menggunakannya dan ada pula yang menggunakannya. Misalnya, Fakfak, Mukomuko, Tolitoli, Dangungdangung, Bagansiapiapi, Siborong-borong. Dari contoh itu, ternyata hanya contoh terakhir yang menggunakan tanda hubung. Penulisan bentuk ulang yang hanya terdiri atas satu suku kata tampaknya tidak ada masalah, seperti Fakfak, karena bentuk itu tidak dipandang sebagai bentuk ulang sehingga tidak menggunakan tanda hubung. Hal itu dapat dibandingkan dengan kata waswas yang tidak dituliskan dengan tanda hubung.

Namun, bentuk ulang yang terdiri atas dua suku kata tampaknya ada masalah dalam penulisan: apakah tanda hubung itu digunakan atau tidak. Selain itu, penulisan hurufnya apakah menggunakan huruf kapital atau tidak. Misalnya, Mukomuko, Tolitoli, Dangungdangung, dan Bagansiapiapi atau Muko-Muko, Toli-Toli, dan Dangung-Dangung, atau mungkin pula Muko-muko, Toli-toli, Dangung-dangung, dan Bagansiapi-api. Penulisan nama geografi memang tidak diatur dalam pedoman ejaan. Namun, berdasarkan pola yang digunakan di dalam penulisan bentuk ulang,  penulisannya dengan menggunakan tanda hubung dapat dipertimbangkan di samping huruf pertama bentuk ulang itu ditulis dengan huruf kapital karena bentuk ulang itu merupakan bentuk ulang penuh. Jadi, penulisan bentuk ulang penuh itu adalah Muko-Muko, Toli-Toli, dan Dangung-Dangung.

 

2.3.3.3 Penulisan Angka dan Bilangan

Penggunaan angka dapat ditemukan di dalam nama geografi, baik angka Arab maupun angka Romawi. Penggunaan angka Arab, misalnya, kita temukan pada Ilir 10, Ulu 25,2 x 11 5 Lingkung, sementara angka Romawi, antara lain, ditemukan pada nama III Koto, IV Angkat Candung, Kambing VII. Selain itu, ditemukan pula angka yang dilambangkan dengan huruf  (bilangan), seperti Tigaraksa, Kelapadua (Kelapa Dua), Lima Puluh Kota (Limapuluhkota), yang tidak jarang juga ditulis 50 Kota. Pertanyaan yang timbul adalah apakah angka dapat  digunakan dalam nama geografi itu. Jika angka itu merupakan urutan, seperti di Palembang terdapat Ilir I s.d. Ilir 50—saya rasa lebih—dan Ulu 1 s.d. Ulu 50-an, maka penggunaan angka dapat saja dilakukan. Hal itu dapat dianalogikan dengan nama-nama blok atau jalan yang berurutan. Hal itu akan berbeda dengan 2 x 11 5 Lingkung yang mengggunakan tiga angka, yakni angka 2, 11, dan 5. Jika nama itu akan dipertahankan, penulisannya akan menjadi masalah, yakni menjadi lima kata.

Jika kelima kata itu dituliskan dalam sebuah gabungan kata yang ditulis serangkai, hasilnya adalah Duakalisebelas-limalingkung. Nama itu terlalu panjang. Padahal, nama yang terdiri atas tiga kata saja sudah dianggap panjang. Perlu dicatat bahwa penggunaan angka Romawi tentu akan berarti Keempat Koto dan Keempat Angkat Candung. Dalam kaitan dengan ini, angka Romawi tidak dapat digunakan, tetapi harus dilambangkan dengan huruf (bilangan), yakni Tigokoto, Ampekangkek-Candung, dan Kambingtujuh.

 

2.3.4 Penulisan Unsur Serapan

Ada dua penyerapan yang perlu dikemukakan dalam kaitannya dengan nama georgafi, yakni unsur serapan yang berasal dari bahasa daerah dan unsur serapan yang berasal dari bahasa asing. Nama-nama seperti Lhokseumawe dan Lhokkrue diserap menjadi Loksumawe dan Lokrue. Sementara itu, nama-nama yang berasal dari bahasa asing disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Hal itu berarti bahwa penyesuaian ejaan itu perlu dilakukan. Misainya, Morocco, China, Croatia, Cuba, dan Switzerland disesuaikan ejaannya menjadi Maroko, Cina, Kroasia, Kuba, dan Swis.

 

2.4 Penerjemahan

Penerjemahan merupakan salah satu upaya yang dilakukan terhadap nama geografi. Cara ini adakalanya berupa penerjemahan sebagian dan adakalanya penerjemahan sepenuhnya. Kita mencatat sejumlah nama yang diterjemahkan sepenuhnya. Kita mencatat sejumlah nama yang diterjemahkan sebagian dan yang lainnya diserap ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya Afrika Selatan, Selandia Baru, Irlandia Utara, dan Tanjung Verde merupakan penerjemahan sebagian dari South Africa, New Zealand, Northern Ireland, dan Cape Verde. Sementara itu, terdapat pula penerjemahan secara keseluruhan. Misalnya, Laut Merah, Pantai Gading, Pulau Utara, dan Pulau Selatan yang diterjemahkan dari Red Sea, Ivory Coast, North Island, dan South Island. Penerjemahan itu dilakukan apabila nama aslinya merupakan aksonim dan arah mata angin seperti ocean, island, mount (mountain), river, north, dan south yang diterjemahkan menjadi samudra, pulau, gunung, sungai, utara, dan selatan.

 

2.5 Pertimbangan Sepenuhnya karena Keinternasionalannya

Di samping nama-nama geografis yang disesuaikan dan diterjemahkan, ada pula nama-nama yang tidak mengalami perubahan. Hal itu dipertahankan apabila nama itu tidak berbeda dengan sistem fonologi bahasa Indonesia. Di samping itu, karena pertimbangan keinternasionalannya, nama itu dipertahankan keasliannya. Misalnya, Los Angeles, Johnston (Pulau), dan Saint George.

 

2.6 Pertimbangan Struktur Bahasa

Bahasa Indonesia mempunyai struktur DM. Artinya, jika di dalam bahasa tertentu strukturnya berbentuk MD, terjemahannya disesuaikan dengan struktur DM. Misalnya, di dalam ejaan bahasa Inggris, Kingdom of Saudi Arabia diindonesiakan menjadi Kerajaan Saudi Arabia. Padahal, struktur Saudi Arabia adalah MD. Jadi, struktur yang benar dalam bahasa Indonesia seharusnya adalah Arab Saudi, yang di dalam bahasa Arabnya adalah at-Mamlakah al- ‘Arabiyyah as-Su ‘udiyyah dengan struktur yang sama dengan struktur bahasa Indonesia ‘Kerajaan Arab Saudi’. Pertimbangan struktur itu berlaku dalam penerjemahan nama-nama geografi ke dalam bahasa Indonesia, baik sebagian maupun seluruhnya.

 

3. Penutup

Dalam upaya menyeragamkan nama-nama geografi, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yakni (1) pemanfaatan kata umum bahasa Indonesia, (2) pertimbangan penggunaan kata umum bahasa daerah, (3) pertimbangan ejaan dalam nama-nama geografi, (4) penerjemahan nama asing yang dirasakan perlu, (5) penerimaan nama-nama asing yang mempunyai nilai keinternasionalannya, dan (6) pertimbangan struktur bahasanya.

Upaya pembakuan nama-nama geografi merupakan perwujudan kesadaran kita terhadap fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia. Ini berati adanya rasa tanggung jawab kita terhadap bahasa Indonesia melalui bidang ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aiwi, Hasan et al. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi 3. Cetakan 2. Jakarta: Balai Pustaka.

 

……… 1995. Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Kata Asing. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Departemen PendidikanNasional. 2002. Pedoman UmumEjaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa

………2002. Pedoman Umum Pernbentukan Istilah. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum, Departemen Dalam Negeri. 2003.

“Rancangan Keputusan Presiden tentang Penataan Nama Geografi”. Jakarta.

 

Latif, Chalid et al. 1994. Atlas Sekolah Lanjutan. Jakarta: Pembina.

 

Merriam-Webster. 1993. Merriam Webster’s Collegiate Dictionary. Edisi 10. Springfield: Merriam-Webster.

 

Moeliono, Anton M. 1985. Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia: Ancangan Alternatif di dalam Perencanaan Bahasa Indonesia. Jakarta; Djambatan.

 

Purwo, Bambang Kaswanti. 2003. “Penelitian Bahasa Nusantara di Indonesia”.

Dalam Pusat Bahasa. “Laporan Seminar Nasional Menyongsong Peringatan Hari-Bahasa lbu Internasional. Jakarta.

 

Pusat Bahasa. Tanpa Tahun. Bahasa Daerah di Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa.

 

Saidihardjo, H. 1994. Geografi: SLTP. Jilid 1, 2, dan 3. Solo: Tiga Serangkai.

 

Sandy, I Made. 1994. “Masalah-Masalah Nama Geografi”. Dalam Masku Iskandardan Atmakusumah Astraatmadja (Penyunting) “Masalah Bahasa dan Nama Geografi dalam Pers Indonesia Masa Kini”. Jakarta; Lembaga Pers Dr. Soetomo.

 

Santoso, Widodo Edy (Penyunting). 1993. “Panduan Pembakuan Nama-Nama Geografis”. Jakarta: Bogor: Panitia Tetap Nasional Nama-Nama Geografis.

 

Penulis:

Drs. Abdul Gaffar Ruskhan, M.Hum.

Pusat Babasa, Depdiknas

 

 

*Makalah yang disajikan dalam diskusi Forum Bahasa Media Massa pada 5 Juni 2003  di TV7, Wisma Dharmala Sakti, Jakarta

Satu Tanggapan

  1. maksih Pak atas tulisannya, saya jadi tahu bagaimana penulisan yang benar pada kata Bulu-Bulu yang selama ini saya tulis Bulu-bulu karena beranggapan huruf kapital pada kata tempat hanya dituliskan di awal Kalimat. Pak, Bagaimana penulisan yang benar Kata Undang-U(u)ndang pada awal kalimat? Terima Kasih sebelumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: