Masalah Pengindonesiaan Nama-Nama Negara dan Ibu Kota Negara Dalam Harian Kompas

Tata nama dalam suatu bahasa, khususnya tata nama geografis, adalah pertanda dewasanya suatu bahasa. Sistematik yang ada di dalamnya merupakan puncak proses yang dialami masyarakat penuturnya dalam bergaul dengan masyarakat dunia pada umumnya dan dalam menyerap kekayaan budaya dan luar, dan sekaligus merupakan “buah perjuangan” dalam usaha untuk mendapatkan identitas bahasa itu di tengah-tengah persaingan dengan bahasa-bahasa lain yang mempunyai identitas sendiri-sendiri—identitas bahasa yang secara tak sadar merupakan pula kebanggaan budaya penuturnya.

Dalam sejarahnya Bahasa Indonesia telah membentuk tata nama itu, di samping tata nama dalam banyak bidang lain. Pembentukan tata nama geografis yang tumbuh secara spontan di kalangan penutur, yang didukung oleh para guru geografi dan pakar geografi (yang karena kepedulian dan kepakarannya sering diakui juga sebagai ahli bahasa  oleh ahli bahasa “murni”) , terjadi tanpa “fatwa” para ahli bahasa.

Bahkan para ahli bahasa tinggal mengkodifikasikannya dan memasukkannya ke dalam khazanah Bahasa Indonesia. Bila ada campur tangan ahli bahasa, itu pun sekadar penyempurnaan kecil di sana sini yang tidak mengubah inti sistematiknya.

 

Seperti kebanyakan kekayaan bahasa yang lain, tata nama geografis selalu menuntut pemutakhiran, mengingat perkembangan sosial budaya di sekitar pemakai tata nama itu. Dalam hal ini pun ahli bahasa kadang-kadang ikut berbicara memecahkan masalah yang dihadapi guru geografi, pakar geografi, atau masyarakat umum yang diwakili oleh media massa.

 

Pada hakikatnya, tata nama geografis (dan tata istilah geografis, yang bukan

merupakan topik pembahasan hari ini) merupakan kelanjutan dan penjabaran tata ejaan, tata istilah, dan tata bahasa yang sudah melembaga selama beberapa waktu.

Dan dalam sejarahnya yang singkat dalam tata nama itu dapat diamati beberapa prinsip yang dipegang dalam mengindonesiakan nama geografis internasional, yakni:

 

1.     Pelembagaan dan pengekalan nama-nama geografis yang sudah lazim dalam masyarakat, seperti Belanda, dan tidak digunakan nama resmi Holland, Nederland, atau Koninklijk  der Nederlanden; dan India, dan tidak digunakan nama resmi Bharatavarsha atau nama yang dikenal orang India sendiri, yakni Bharat. Kedua nama Indonesia itu sudah digunakan di negeri kita entah sejak kapan; yang pasti sebelum bahasa kita disebut Bahasa Indonesia.

 

2.   Penyesuaian cara menuliskan nama-nama geografis dengan tata ejaan dan tata istilah yang mutakhir, seperti Ecuador menjadi Ekuador, Chile menjadi Cile.

 

3.   Keterbukaan bagi perkembangan sosial politik di negeri yang bersangkutan, misalnya Burma yang menjadi Myanmar, atau Dacca menjadi Dhaka (Tentu saja kita harus siap menggunakan nama Mumbai dan Chenai sebagai ganti Bombay dan Madras). Media massa Indonesia, sudah membiasakan diri dengan nama Beijing yang semata-mata merupakan perubahan ejaan, tanpa perubahan lafal pada nama Peking (Harus dicatat bahwa di dunia internasional, termasuk di Indonesia, sudah terjadi salah kaprah dalam melafalkan nama itu, baik dalam ujud ejaan lama yang disebut ejaan Wade-Giles, maupun dalam ujud ejaan baru yang disebut ejaan pinyin!)

 

4.   Dalam penyesuaian  dengan perkembangan  baru  itu, prinsip utama dalam pembinaan  bahasa, yakni tata ejaan dan tata istilah serta tata bahasa, tetap diunggulkan. Tata ejaan, tata istilah, dan tata bahasa tentu saja lebih hakiki sebagai ciri khas bahasa daripada tata nama; dan pembinaan bahasa tidak pernah berkiblat pada bahasa asing mana pun. Informasi berbahasa asing, termasuk berbahasa Inggris yang  deras  membanjiri dunia intelektual negeri kita, hanya berfungsi sebagai bahan bandingan dan bahan pelajaran semata-mata. Jadi nama-nama seperti England, Britain, atau United States tetap merupakan kata asing dan bukan kata Indonesia.

 

Di samping prinsip-prinsip-prinsip tersebut di atas, dapat pula dicatat bahwa dalam pengindonesiaan dan penulisan nama-nama geografis ada kebiasaan menggunakan 2 varian yang sama-sama formal, yakni bentuk singkat dan bentuk panjang (yang dianggap lebih formal). Contoh yang paling menonjol ialah nama Jerman dan variannya Republik Federasi Jerman. (Dalam Bahasa Jerman pun ada variasi di antara Deutschland dan Bundesrepublik Deutschland). Contoh lain yang kurang dikenal di Indonesia ialah nama Al-Jaza’ir ‘Aljazair’ dengan variannya Al-Jumhuriyah Al Jaza’iriyah Al Dimuqratiyah Al Sha’biyah  ‘Republik Aljazair Demokratik dan Kerakyatan’, dan nama Al Maghribi ‘Maroko’ dan varian resminya Al Mamlakah Al Maghribiyah ‘Kerajaan Maroko ‘.

 

Catatan lain yang baik dikemukakan di sini ialah bahwa nama-nama geografis berbahasa Indonesia itu biasanya digunakan juga oleh orang asing yang berada di Indonesia, antara lain kedutaan asing di Jakarta. Dapat kita saksikan, misalnya, nama-nama Kedutaan Besar Selandia Baru, Kedutaan Besar India, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, dsb., padahal nama-nama itu bukanlah pengindonesiaan langsung atau transliterasi dari nama yang yang digunakan dalam bahasa mereka masing-masing. Ini menunjukkan bahwa bangsa-bangsa asing itu menghormati identitas Bahasa Indonesia, yang juga identitas bangsa Indonesia.

 

Demikianlah beberapa prinsip dan beberapa praktek yang lazim di belakang

penggunaan nama-nama geografis internasional dalam Bahasa Indonesia.

 

Beberapa catatan atas penulisan nama-nama negara dan ibu kota yang dijadikan pegangan oleh Harian Kompas baik dikemukakan di bawah ini.

 

(1)  Austria    Vienna: penulisan nama ibu kota ini merupakan pengambilalihan langsung kata Inggris, padahal sudah  ada dalam bahasa kita nama Wina yang diturunkan dari Bahasa Jerman, bahasa negeri itu;

(2)  Ceko –  Praha: penulisan nama negara ini merupakan kesalahan gramatika.

Kata Czecho –  merupakan bentuk terikat yang bergabung dengan kata lain. Itu sebabnya pernah ada nama negara Czechoslovakia. Dewasa ini ada 2 negara, yakni Ceska Republika dan Slovakia Republika. Adalah wajar kalau negara pertama itu kita sebut Republik Ceska. (Catatan: 1. Karena lafal dan ejaan sudah sama dengan ejaan Indonesia, nama negeri itu tidak perlu dibubuhi tanda ‘ (disebut hacek) 2. Penulisan nama negara ini membingungkan para warganya: ada kebiasaan mereka menyebut negaranya Cecchia. 3. Pemeriksa naskah akhir Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke-2 —karena kurang pengetahuan umum—telah membuat kesalahan dalam naskah akhir kamus itu);

(3)   China     Beijing: penulisan nama negara itu menimbulkan tanda tanya: bagaimana lafalnya? /caina/ kah?  Bila demikian, baik ejaan maupun lafalnya menyalahi tata ejaan Bahasa Indonesia. Penulisan nama negeri yang aslinya ialah Zhonghua Renmin Gongheguo dalam Bahasa Indonesia ini banyak dilatari salah paham. Mengapa Kompas tidak mengeja Cina? Karena kata itu mengandung penghinaan? Apanya yang menghina? Karena tidak tahu etimologi kata ini (aslinya ditemukan dalam naskah Sanskerta abad ke-1 M), banyak orang mengira bahwa kata Cina mengandung makna negatif, padahal para ahli Cina seperti Prof. Kong Huan Zhe dari Universitas Peking memberikan bukti yang meyakinkan bahwa makna itu tidak ada dalam kata itu. Kalau tidak mau memakai kata Indonesia yang dieja dengan Cina, mengapa tidak memakai nama resmi dengan ejaan pinyin tersebut. Sudah ada beberapa tulisan mengenai kata ini. Jadi tidak perlu diulang di sini. Hanya satu hal yang ingin saya tekankan: pengejaan nama negeri itu dengan China, apalagi dilafalkan  secara  Inggris,  dalam  konteks  Indonesia  tidak  dapat dipertanggungjawabkan secara sosiolinguistik! Kiranya kasus penggunaan nama Kerajaan Belanda, Kedutaan Selandia Baru,  Republik India dapat dijadikan pelajaran.

 

(4)  Inggris – London: nama resmi negeri itu ialah United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland. Supaya tidak kacau dengan pengindonesiaan nama England, sebaiknya digunakan Kerajaan Britania Raya.

(5)  Macedonia – Skopie: Nama resmi negara itu ialah Republik Makedoniya.

Karena Kompas menggunakan rujukan lnggris, lafal asli nama negara itu tidak tergambar secara tepat: c dibaca /s/ atau /k/. Nama negara ini harus dibaca Makedonia.

 

(6) Perancis    Paris: mengapa nama negara itu bukan Prancis? Bukankah nama aslinya France, dan bukan Ferance? Ingat Inggris, bukan Inggeris.

 

Sekianlah catatan atas daftar nama negara dan ibu kota negara yang disusun oleh Kompas.

 

Penulis:

Harimurti Kridalaksana

Universitas Indonesia

 

 

 

 

* Penulis adalah guru besar linguistik dan Kepala Pusat Leksikologi dan

Leksikografi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

4 Tanggapan

  1. […] Simak juga pembahasan oleh ahli bahasa di sini. […]

  2. Fantastic beat ! I would like to apprentice while you amend your web
    site, how could i subscribe for a blog web site? The account helped me a acceptable
    deal. I had been tiny bit acquainted of this your broadcast provided bright clear concept

  3. Perlu Peraturan Pemerintah untuk Penulisan Nama Geografi (nama daerah) sehingga penulisan nama kota, desa, dan sejumlah nama daerah bisa seragam dan memiliki acuan yang sama di Indonesia. Fenomena sekarang, belum satu model/bahasa cara penulisan daerah/geografi. Nama daerah yang dua kata masih dipisah, padahal penulisan nama daerah uang dua kata itu harus disatukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: