Penyakit Menular Sok-Inggris Dalam Bahasa Indonesia

Awal pekan  pada Oktober lalu, sebelum meninggalkan Hotel Santika di Jalan Jenderal Sudirman,  Yogya—yang  interiornya sangat Jawa, antara lain terpasangnya sebuah perangkat waditra di bawah gunungan kuningan— resepsionisnya yang mengenakan kebaya Jawa meminta  saya  menulis  kesan-kesan  di  buku  khusus.  Sehari  sebelum  saya, telah menginap encik menteri Samsul Maarif dan telah pula menulis kesannya di buku itu.

          Yang hebat, encik menteri yang mengurusi media pers ini tidak menulis kesannya dalam bahasa Indonesia yang wajar, melainkan dengan bahasa yang centang-perenang, yaitu Inggris bercampur Indonesia. Tulisnya, “Like other guests, I feel good stay in Santika. Manajement tahu bagaimana memperlakukan tamu secara profesional.”

Untuk kalimat bahasa Inggris, jika encik menteri melakukan salah eja menyangkut apa yang lazim disebut orang sebagai perubahan bentuk kata kerja  dalam mengacu waktu,  maka  itu urusannya. Tetapi, mengeja ‘manajement’ yang tidak jelas apakah ini bahasa Inggris atau bahasa Indonesia—sebab dalam bahasa Inggris ejaannya ‘management’ sedang serapannya dalam bahasa Indonenia “manajemen” dengan ‘j’ dan tanpa ‘t’—kiranya  bisa menjadi urusan yang menarik untuk obrolan, gunjingan, dan bualan.

 

***

Sama sekali tidak ada keberatan dalam tulisan ini yang hendak mengatakan bahwa orang Indonesia tak boleh beringgris-inggris. Di bawah nanti kita hanya akan melihat bagaimana bahasa Indonesia menjadi tidak karuan karena pemakainya, terutama kalangan orang terpelajar, dalam bercakap maupun menulis, tampak seperti kesurupan, jor-joran, menghiasi bahasa Indonesianya dengan kata-kata, istilah-istilah, bahkan kalimat-kalimat tertentu bahasa Inggris. Dan, tidaklah jelas apa maunya, apakah supaya kelihatan pintar, kelihatan cendekia, ataukah sekadar menunjukkan bakat genit dan kebolehan bersolek?

Tak disangkal bahwa  prayojana ke Inggris telah menjadi garis kebijakan pengembangan bahasa di tahun-tahun awal bahasa Indonesia dilembagakan di atas kesadaran berbangsa,

Sepuluh tahun setelah Sumpah Pemuda, Komite Bahasa menggariskan kebijakannya mengenai pengembangan kosakata bahasa Indonesia dengan ketentuan: (1) mencari kata dari bahasa Indonssia sendiri, (2) jika tidak ada mengambil dari bahasa daerah, (3) jika masih tidak ada mengambil dari bahasa Asia,  (4)  jika tetap tidak ada barulah mengambil dari bahasa asing, khususnya Inggris.

Dengan menyebut secara langsung Inggris, maka serta merta dengan itu terjadi kerepotan mengganti kata-kata serapan bahasa Belanda yang sudah lama terpakai dengan kata-kata baru dari bahasa Inggris. Misalnya, yang diajarkan di sekolah-sekolah, potlot jadi pensil, jurk jadi gaun, dan belakangan ini korting jadi diskon.

Sampai batas itu, rasanya wajar. Yang cenderung menjadi tidak wajar, atau bilanglah lebih keras, tidak waras, adalah kebiasaan yang menular saat ini—yang bukan hanya memasgulkan, mengibakan, namun sekaligus menjengkelkan—bercakap atau menulis bahasa Indonesia dengan sebanyaknya melintaskan kata-kata atau istilah-istilah bahasa Inggris secara bulat tanpa mematikannya terlebih dulu: maksudnya menyesuaikan, dengan lafaz yang lazim dalam bahasa tutur. Dan, celakanya, karena yang melakukan kegenitan itu adalah para tokoh masyarakat, dan disiarkan pula oleh pers, maka masyarakat pun  menganggap  itu  adalah  bahasa  Indonesia  yang bagus.

 

***

 

Coba sejenak kita perhatikan isi surat kabar hari ini, 16 Oktober 2003  menyangkut kata-kata atau istilah-istilah bahasa Inggris yang dilintaskan bulat-bulat tanpa dimatikan terlebih dulu.  Disebut di bawah menurut urutan alfabet:

1. KOMPAS

a. “….apalagi saya yang fresh from the oven.” (Dari Mendesain Sampai Purna Jual, hal. 37)

b. “…. akan dilengkapi dengan  convention hall, ballroom, internasional food court…” (Waspadai Maraknya Pembangunan Pusat Perdagangan, hal. 44).

c. “… bunga SBI dan naiknya yield to maturity obligasi pemerintah…” (Ilnvestasi Obligasi Penerintah Semakin Menjanjikan, hal. 25).

2. KORAN TEMPO

a. “Soal timing juga menarik” (Editorial, Misteri Al-Ghozi, hal. B7).

b. “Rasanya belum lama kita mendengar kor pertumbuhan yang dipacu konsumsi, consumption led growth.” (Lagu Lama di Akhir Tahun, hal B7).

c. “Kecipir yang totally edible  disebut sebagai the global restructuring of agrofood systems.” (Petani, Pangan, dan Keragamam Hayati, hal. B7).

3. MEDIA INDONESIA

a. “Keuntungan return earning yang diraih…” (PT PLN Sulit Kembangkan Investasi, hal.2)

b. “… menawarkan harga di atas owner estimate.”’ (Bulo Batalkan Lelang CPO, hal. 2)                             c. “… Kelas dunia di bidang loyalty marketing,,.” (Brian Wolf Hadir Ji Jakarta, hal. 2).

4.  POS  KQTA

a. “… sangat strategis untuk mengembangkan culture of globalism.” (NU &  Muhammadiyah Harus Bersatu Bentengi Ummat Dari Racun Radikalisme, hal.. 22).

b. “Terima 15 perkara Judicial Review.” (judul berita, hal. 22).

c. “… Mega itu dapat dilihat dari tingkat grass roots.” (Soetardjo: Mega Terpopuler, hal. 22).

5. RAKYAT HERDEKA

a, “The Politics News Leader.” (Semboyan, hal. 1)

b. Nama-nama rubrik: “On-Line 1” (hal. 50); “On-Line 2” (hal. 3); “World Star” (hal. 7); ”Correct” ( hal..11); Wanted!” (hal. 14); “Corrupt, No!” (hal. 15).

c. “Tapi kalau  dilihat dari balance of payment di Bl, banyak sekali capital inflow.” (Investasi RI Tahun 2004 Suram, hal. 13 ).

6. REPUBLIKA

a, “… ungkap Huang Chunping, commander in chief sistem roket…” (Kebangkitan Cina di Luar Angkasa, hal. 1).

b. “… Bush -tidak.akan mengunjungi lokasi ground zero yang di atasnya..,” (Bush Akan Bertemu It Tokoh Islam, hal. 1).

c. “Pasanglah tangki dan conversion kit…” (Iklan Pertamina, hal. 1),

 

Bahwa melintasnya kata-kata berbahasa Inggris dalam bahasa Indonesia memang patut diterima sebagai sesuatu yang galib dalam perkembangan tatanan kebudayaan dunia. Bukan hanya bahasa Indonesia satu-satunya yang tidak sanggup bertahan terhadap ‘serangan’ bahasa Inggris tersebut. Di bawah ini kita akan melihat juga bagaaimana bahasa Inggris masuk ke dalam bahasa Malayasia, sebagai negeri yang pernah dijajah Inggris, dan bahasa-bahasa yang mestinya dianggap kuat karena latar belakang kebudayaannya yang harus dikatakan sangat kuat, yaitu Arab dan Jepang.

Tetapi beerbeda dengan Indonesia saat ini yang melintaskan kata-kata Inggris secara bulat, maka di Malaysia, Arab, dan Jepang, kata-kata bahasa Inggristersebut telah dimatikan sesuai dengan lafaz yang berlaku dalam bahasa tururnya.

Misalnya, di Malaysia kata-kata bahasa Inggris seperti ‘towel’ diserap menjadi ‘tuala’, ‘bag’ jadi beg, ‘basin’ menjadi besen, ‘button’ jadi butang, ‘size’ jadi saiz, ‘acre’ jadi ekar, ‘brag’ jadi borak, ‘bicycle’ menjadi basikal, ‘cube’ jadi kiub, ‘gunny sack’ jadi guni, ‘summons’ jadi saman, ‘tyre’ jadi tayar, dst.

Kemudian, di Arab, kata-kata bahasa Inggris seperti manager diserap menjadi al-modir, ‘toilet’ jadi al-tualit, ‘sugar’ jadi sukar, ‘sandwich’ jadi sandawitsh, ‘beefsteak’ jadi buftek, ‘ice cream’ jadi ayskrim, ‘bicycle’ jadi bisiklit, ‘cigarette’ jadi sijara’ ‘supermarket’ jadi supir market, ‘folk music’ jadi fukluriyyah, ‘color slide’ jadi slayd bil’aalwan, ‘pipe’ jadi bayb, ‘battery’ jadi al-battariyyah dst.

Lantas di Jepang, kata-kata bahasa Inggris seperti ‘magaer’ idserap menjadi maneja-san, ‘ham and eggs’ jadi hamueggu, fruit juice’ menjadi furutsu jusu, ‘sandwich’ jadi sando-itchi, ‘ice cream’ jadi aisukurimu, ‘snack’ jadi sunakku, ‘apple pie’ jadi appurupai, ‘whiskey’  jadi uisuki,  ‘concert hall’  jadi konsato haru, ‘motor boat’ jadi mataboto, ‘shopping centre’ jadi shoppingu senta , ‘bath cubes’ jadi basu kyubu ‘eye lnner’ jadi airaina, dst.

 

***

Borangkali cara mematikan kata bahasa Inggris sesuai dengan lafaz yang   pada dengan  bahasa  ttur  merupakan   cara  yang   lebih   baik dari pada ketentuan atau tawaran untuk mencari padanannya dari  bahasa Indoneoia  sendiri  atau  bahasa  daerah  maupun  bahaca  Asia, sebagaimana  yang  diacu  Ko;nite  Bahasa  tersebut.  Sebab,  usaha yang  boleh  jadi  baik  bisa-bisa  malah membuat bahasa  Indonesia menjadi asing sendiri, lucu, dan aneh. Kita dapat melihat hal itu dalam bahasa Malaysia.  Bandingkan kata-kata  berikut ini  dalam bahasa Malaysia, Indonesia, dan Inggris:

 

Inggris

Malaysia

Indonesia

exist

wujud

eksis

grammar

nahu

tata bahasa

juice

nira

jus

laboratory

makmal

laboratorium

legacy

pesaka

legasi

lifebuoy

lampung

lifebuoy

limit

had

limit

melancholy

rawan

melankoli

motive

muslihat

motif

oval

lunjung

oval

paragraph

perenggan

paragraph

petition

rayu

petisi

friendly

berjinak-jinak

ramah

propaganda

dasyah

propaganda

slogan

sogan

slogan

property

khazanah

property

chaos

gamat

chaos

bed-bug

pijat-pijat

kutu busuk

security

cagaran

sekuriti

runner up

naib

runner up

launching

pelancaran

launching

ratio

nisbah

rasio

conference

mesyuarat

konferensi

self respect

maruah

self respect

graduate

siswazah

wisuda

short time

suntuk

short time

vaccinate

cucuk

vaksinasi

seat belt

tali keledar

seat belt

sex

jantina

seks

talk show

tayang celoteh

talk show

 

Dari catatan di atas ini, dapat dilihat banyak istilah dari bahasa Inggris yang telah umum dipakai dalam bahasa Indonesia, sekaligus menunjukkan keengganan pemakai bahasa Indonesia untuk mencoba mencari padanan atau terjemahan kata-kata bahasa Inggris tersebut dalam bahasa Indonesia. Karenanya, bahasa Indonesia pun menjadi seperti keranjang sampah kata-kata bahasa Inggris.

 

***

Sementara itu, kesan genit dan bersolek dengan bahasa centang-perenang ini, yaitu masuknya kata-kata bahasa Inggris yang tidak dimatikan terlebih dulu, dalam contoh pertama bahasa tulis, sebagai bilanglah biang-kerok, tersua dalam buku Tuanka Rao, karya Mangaraja Onggang Parlindungan , ahli  bom  tarik,   pangkat letnan colonel AD, penisunan Nrp 13.3.13.

Perhatikan saja alinea pertama tulisannya itu dalam  bab Tanah  Batak  Di  Zaman  Djahiliyah, “Dibandingkan  kepada  itu,  asal-usul dari Suku Bangsa Batak di sekitar Danau Toba,  malahan malahan relatively paling simple dapat reconstructed. How?? Dengan comparing Ethnology, Philology, Mythology, and Folklore. Why?? Suku Bangsa Batak hingga Abad Ke-XIX setjara sukarela berkurung in Splendid Isolation di Pegunungan Bukit Barisan, selama 3.000 tahun, selaina l00  generations.  Very  strange  customs  untuk  sesuatu Suku  Bangsa jang hidup di atas sesuatu pulau. How come??”

Bayangkan, sepanjang 691 halaman Parlindungan menulis bukunya dengan  gaya bahasa centang-perenang begini. Apakah dengan bergenit-genit seperti itu penulis ini mencapai orgasme, tidak seorang pun tahu.

Tetapi, yang jelas gaya Parlindungan ini sekarang menular kembali dalam diri banyak tokoh masyarakat: pejabat pemerintah, para anggota legislatif, ahli ekonomi, petinggi militer, dll.

 

***

Jika kebiasaan beringgris-inggris ini mundur pada tahun-tahun sebelum Sumpah Pemuda sampai masa sebelum Proklamasi Kemerdekaan, dengan melihat model lagu-lagu—baca: lirik, kemudian baca: puisi, dan terakhir baca: sastra—dari  apa yang disebut sebagai ‘selera KNIL’ dan ‘selera nyai’, maka dengan berani orang mengatakannya—demikian Soekarno mengatakan itu dalam Manipol, pidatonya pada 17 Agustus 1959—sebagai c:iri hitam-putih dari bangsa yang tidak  berkepribadian,  bangsa  yang  mengambang, bangsa  yang tidak berkarakter.

Dapat dimengerti  jika orang menyebut KNIL dan nyai sobagai bangsa yang tidak berkepribadian. Anggota KNIL  (Koninklijke Nederlanda-Indisch Leger) adalah orang-orang pribumi yang berperang demi Belanda untuk menumpas bangsanya sendiri. Sedangkan nyai adalah  perempuan-perempuan pribumi yang diperbini oleh Belanda  dalam status konkubinase.  Oleh  rang Belanda sendiri KNIL diartikan sebagai Klein  Niet  Intelligent Leger,  maksudnya tentara  kerdil  tidak cerdas. (Periksa  Henk  Salleveldt,  Het  Woordenboek van Jan Soldaat  in  Indonesie.  A.W.  Sijthoff  Alphen  aan  den  Rijn,  1960).

Dari golongan inilah—golongan  yang disebut tadi sebagai bangsa yang tidak berkepribadian tersebut—meleluri  model ekspresi bahahasa centang-perenang dalam lagu-lagunya tersebut. Dua lagu dari sekian banyak lagu yang  menjadi selera KNIL dan selera nyai itu adalah:

 

WAAROM HUIL JE TOCH NONA MANIS

Waarom huil je toch Nona Manis

Saja inget terlaloe padamoe

Droog je traantjes maar Nona Manis

Shall I come back again to you.

 

Dan

 

VAARWEL MIJN SCHAT MIJN NONA MANIS

Vaarwel mijn schat mijn Nona Manis

Do not forget djangan la loepa kepada saja

Deep in jou hartje you always think of me

Ik blijft steeds dromen van mijn sweetheart.

 

(Dua lagu di atas dapat diperiksa dalam rekaman keroncong-hawaian Soeara Isana dan Andres, penyanyi Belanda yang pernah dikenal mendunia melalui hit Storybook Chaldren).

 

***

Kendati begitu, suka  atau tidak, dalam kenyataannya lirik-lirik lagu ‘selera KNIL’ atau ‘selera nyai’ ini, semestinya dilihat sebagai genus atas perpuisian Indonesia masa lampau. Bahwa selain prosa Melayu-Tionghoa, tidak kalah  mustahak diperhitungkan puisi Indo-Belanda dalam nyanyian-nyanyian populer kegemaran tentara Beianda dan perempuan piaraan Belanda.

Yang menarik—demikian cerita seorang pensiunan KNIL dalam obrolan di De Koempoelan, nama restoran di sayap kiri museum KNIL, Bronbeek, di Arnhem, Belanda—bahwa puisi-puisi lndo-Belanda dengan  bahasa yang  centang-perenang itu, pada masanya sanggup memacu gairah cinta-kasih justru di saat-saat darurat akan kemungkinan terjadinya perang  karena  terbentangnya perasaan benci antara yang dijajah dan yang menjajah.

Salah satu ciri  yang tipikal dari puisi-puisi lndo-Belanda itu adalah kedudukan perempuan dalam kehidupan lebih dipandang  dari sosoknya ketimbang sisiknya, atau lebih pada manfaatnya ketimbang martabatnya. Ini terlihat pada ungkapan ‘mooie meisje’ dan bukan ‘lieve mieisje’ seperti dalam lagu berikut:

 

OLEI OLE! BANDOENG

Ole! Ole! Bandoeng

Mooie meisjee je vind hun aleen daar

Manise

Ole! 0le! Bandoeng

Maar jou hartje moei niet djadi bingoeng.

Het is so fijn in kota Bandoeng

Het is daar friesjes de wind

Come from the goenoengs

Veel  jongolui en nona wonen daar

Kota Bandoeng is good voor pas getroud paar.

 

Dalam lirik di atas ini selain bahasa belanda yang ajek, dan sepotong-dua  bahasa Inggris,  muncul  pula kata  bahasa  Spanyol, interjeksi  ‘ole! ole!’—jadi  bukan  oleh-oleh sebagaimana dinvanyikan orang saat ini—serta ekspresi khas  Ambon,  ‘manise’.

Lirik dengan bahasa yang genit itu ditambah pula oleh penampilan penyanyi-penyanyinya yang seronok—waktu  itu disebut ‘crooner’, bukan ‘singer’, konon menyanyi bukan dengan ‘voice’ totapi dengan ‘noise’—dengan memasang nama-namanya sebagai ‘miss’. Ingat nama-nama berikut: Miss Dja, Miss Riboet, Miss Rukiah, Miss Netty, Miss Tjitjih, dst.

Saking maraknya ‘miss’, dan diingat penampilannya yang genit, seronok, eksklusif, maka orang pun menyebut fenomena itu sebagai ‘misselijk’. Bahasa Belanda ‘lijk’ berarti ’bagaikan’ atau seperti. Tetapi ‘misselijk’ dalam bahasa Belanda berarti mual, menimbulkan rasa mual, atau ingin muntah.

 

***

Sekarang, melihat bahwa banyak tokoh yang bercakap centang-perenang dengan kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang ditaburi kata-kata bahasa Inggris, sehingga terkesan genit.dan seronok, apakah tidak boleh ‘jika kepada mereka disebut juga mislek (misselijk)?

Celakanya, orang-orang yang patut dikatakan mislek itu, tidak merasa melakukan ‘kesalahan’.

Saya mencatat penyakit sok-Inggris yang paling memasgulkan, mengibakan, sekaligus menjengkelkan, pada sebuah acara debat calon presiden yang ditayangkan TV selepas jatuhnya Orde Earu. Di dalam acara di UI itu, ditampilkan Amien Rais, Sri Bintang Pamungkas, dan Yusril lhsa Mahendra.

Dalam  rangka menjatuhkan Yusril di depan umum, Amien berkata “Yusril mau jadi presiden, tapi berbahasa Inggrisnya saja belepotan, tidak lancar.”

Lo? Memangnya mereka berdebat untuk menjadi presiden Amerika?

Saya kok kuatir, bangsa Indonesia yang melupakan Sumpah Pemuda, bisa-bisa pada” besok-lusa-tulat-tubin akan disumpahi pemuda”.

Encik Amien memang orang yang paling gemar beringgris-inggris dalam kalimat lisan bahasa Indonesianya. Selain beliau, masih banyak lagi—telah saya contohkan dalam makalah yang saya sampaikan kepada pengajar-pengajar bahasa Indonesia seluruh Australia yang berkonferensi di Universitas Melbourne setahun lampau. (Periksa Esai-Esai Bentara, Kompas, 2002).

 

 

***

 

Jadi, ada apa dengan orang Indonesia yang menohok Sumpah Pemuda itu? Diharapkan, hanya lewat sastra bahasa Indonesia dapat menjadi dibya, berharkat. Sebab dalam sastra konon orang dapat menimba hal-hal muazam dari kemampuan berpikir tertib dan kemampuan.niengejawantah dorongan-dorongan perasaan keindahan.

Ada pihak yang  terpanggil—mestinya ini merupakan tanggung jawab pemerintah—untuk memajukan sastra Indonesia melalui penghargaan khusus dengan sejumlah uang. Nama penghargaan itu adal.ah Khatulistiwa Literary Award.

Tetapi apa yang menarik, untuk tidak berkata janggal dari penganugrahan itu? Tak lain, lagi-lagi bahasa Inggris. Malahan, coba simak undangan untuk acara penganugrahannya pada besok ma1am,  17 Oktober  2003:  “Invitation.  Khatulistiwa  Literary  Award, Indonesian’s Best  Fiction  Award 2002-2003.  Raising the  awareness of  Indonesia  literature  and  encouraging  the  reading    culture. QB World Books request the pleasure of your ettendane at the ceremony of Khatulistiwa.  Literary  Award  Indonesia’s  Best  Fiction Award 2002-2003.”

Aduh Mak. Kapan gerangan kita bisa berbahasai Indonesia dengan tenang di Indonesia?

 

***

Barangkali kita patut menimba hal konfidensi bangsa-bangsa Eropa di sekitar perbatasan dengan Inggris menyangkut ‘pertahanan’ yang kuat terhadap bahasanya.

Di Belanda—bangsa  yang pernah menjajah Indonesia—tiga bahasa, yaitu Inggris, Perancis, dan Jerman, telah diajarkan di sekolah sejak SMP, dan anak-anak itu pun dapat bercakap dengan lancar ketiga bahasa tersebut. Tetapi, bahasa Belandanya tetap terpelihara dan digunakan dengan bangga. Di jalan raya tidak perlu ada tulisan-tulisan kareseh-peseh ‘busway’, ‘ring road’, ‘underpass’, atau ‘three in one’. Yang mentereng adalah semboyan Belanda ‘bob jij of bob ik’ untuk mengingatkan orang jangan mabuk dalam mengendarai oto di jalan. Pokoknya, orang Belanda bangga pada bahasanya. Padahal sastra Belanda, sebagai pendukung bahasanya, relatif lebih kecil dibandingkan Inggris di baratnya, Jerman di timurnya, dan Prancis di selatannya. (Belum lagi, bahwa di bagian utara Belanda, di provinsi suku Fries–disebut-sebut sebagai “nation without country” berlaku bahasa tersendiri, yaitu bahasa Fries, yang berkembang karena sastranya, melalui antara lain: Klaes Dykstra, Freark Dam, Anne Jousma, Douwe Annes Tamminga, Theun de Vries, dll).

Lebih-lebih lagi Prancis. Orang Prancis sangat percaya diri dengan bahasanya. Dan, jangan lupa pula sastra Prancis dipenuhi dengan kelas sastra yang mencapai tingkat sangat dibya, menentukan tatanan universal; sebut saja nama-nama yang masyhur ini: Honore de Balzac, Charles Baudelaire, Albert Camus, Paul Claudel, Sidonie Gabrielle Colette, Pierre Corneille, Andre Gide, Victor Hugo, Moliere, Marcel Proust, Francois Rabelais, Jean Racine, Jean-Jacques Rousseau, Jean-Paul Sartre, Voltaire, Emil Zola, dll.

Umumnya, orang Prancis ‘tidak mau’ bercakap Inggris. Maka, awal pekan April lalu, di Hotel Fiat, Rue de Douai, Paris—hotel  yang setingkat harga inapnya dengan Santika di Yogya itu —saya bertanya. dengan bahasa Inggris kepada resepsionisnya. Sang resepsionis, yang mengenakan stelan ‘sangat Prancis ‘tidak menjawab. Sebaliknya berkata dengan amat percaya diri: “Vous etes a Paris done essayez de parler en Francais, s’il vous plait.”

Wah! Siapa nyana di waktu mendatang orang Indonesia pun bisa dengan percaya diri berkata kepada orang Inggris atau orang asing di sini: “Anda berada di Jakarta, maka saya akan merasa sangat dihormati jika Anda dapat bercakap bahasa Indonesia.”

————————————

Penulis:

Remy Sylado

Sastrawan/Novelis/Munsyi

 

 

Makalah ini disampaikan dalam sidang Kongres Bahasa Indonesia VIII,

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Hotel Indonesia, Jakarta,

14-17 Oktober 2003, pada 16 Oktober 2003, Jam 15.00.

* Makalah ini juga dibagikan Remy Sylado saat berdiskusi dengan FBMM

di RCTI Agustus 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: