Perkosakataan Mutakhir Media Massa

1.  Pemakaian bahasa Indonesia baku di media massa, semestinya tidak berbeda dengan pemakaian bahasa baku lainnya. Kaidah kebahasaan yang diacu juga tidak berbeda dengan pemakaian kaidah bahasa baku pada ranah-ranah kebahasaan lainnya, terkecuali hal-hal khusus yang menyangkut kekhasan selingkung jurnalistik.

2.  Dalam bidang leksikon atau perkosakataan, media massa tampaknya juga tidak membedakannya dengan ranah-ranah lainnya. Kerangka referensi dan sumber acuan yang digunakan juga cenderung sama, yakni minimalnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru, yang notabene di dalamnya masih terkandung banyak persoalan menyangkut inkonsistensi, homonimi, polisemi, perlafalan, dll.

3.  Hal cukup menonjol dalam bidang perkosakataan, kesan saya sebagai pengamat bahasa Indonesia, adalah keberanian insan-insan media massa menampilkan sejumlah kebaruan, yang dalam batas-batas tertentu sering mengundang kontroversi, atau bahkan polemik kebahasaan. Insan-insan media lantas banyak dituduh sebagai pemakai bahasa yang tidak cukup patuh pada aturan atau kaidah kebahasaan, justru karena inovasi-inovasi kebaruannya itu.

4.  Selain keberanian menyodorkan kebaruan-kebaruan vokabuler, kesan saya lagi, insan-insan pers juga cukup berani mencuatkan kata dan/atau istilah yang relatif arkhais namun bentuk-bentuk yang demikian cukup berwibawa sekalipun sudah tidak lagi banyak dikenal publik, sehingga tidak aneh kemunculan bentuk-bentuk yang demikian sering akan dapat mengundang sejumlah pertanyaan.

5.  Hal lain yang sering dituduhkan kepada insan-insan pers  berkaitan dengan perkosakataan media massa adalah ihwal vulgarisasi pemakaian sejumlah leksikon. Hal yang sesungguhnya kecil, biasa-biasa saja, menjadi terkesan bombastis setelah ditiup pers. Kenyataan ini agaknya merupakan kebalikan total, dari semula yang cenderung bersantun-santun, berlembut-lembut, terkesan takut-takut, dan berciri eufemistis, sering menjadi cenderung heboh dan relatif vulgar. Agaknya ada sisi-sisi konsumeristik di balik kenyataan jurnalistik ini, yang dalam batas-batas tertentu akan menjadi cukup riskan, terlebih-lebih jika aspek-aspek kebenaran dan kejujuran tidak disajikan secara seimbang.

6.  Pemakaian leksikon daerah, leksikon asing, leksikon kelompok sosial tertentu,  juga  merupakan  kenyataan  yang  sepertinya  sulit  untuk dihindari dalam konteks bahasa pers. Realitas ini bertautan sangat erat dengan ihwal kekuatan dan dominasi. Dalam batas-batas tertentu realitas kebahasaan semacam ini memang dapat diatasi dengan pemarkahan, tetapi untuk mendapatkan efek ganda (dual-effects), sesungguhnya dapat dipikirkan agar disediakan ruangan khusus, syukur halaman tersendiri, sebagai wadah pemakaian bahasa daerah dan/atau bahasa asing itu.

7.  Insan pers juga sering gemar mengulang unsur kebahasaan tertentu, tetapi tidak cukup konsisten dilakukan. Misalnya saja bentuk ulang orang kaya-kaya atau orang-orang kaya, rumah mewah-mewah ataukah rumah-rumah mewah. Tren yang sekarang banyak mencuat adalah bentuk yang disebutkan terakhir itu, yakni yang mengulang unsur nominanya. Kenyataan kebahasaan ini sesungguhnya terpengaruh gaya bahasa rumpun Indo-Eropa. Adapun tren lama, yakni yang mengulang unsur ajektivanya, cenderung terpengaruh oleh struktur bahasa-bahasa dalam rumpun Austronesia, seperti juga dalam bahasa-bahasa dialek lokal.

8.  Konsistensi penulisan yang berkaitan dengan jabatan dan gelar akademik terkesan juga masih kurang optimal dilakukan di media massa. Untuk orang  yang  bergelar  akademik  dan  berjabatan  tinggi  dalam pemerintahan, kadangkala ikon-ikon yang demikian itu masih sering ditonjolkan,  barangkali  hal  itu  dimaksudkan  untuk  memberikan penghormatan atau penghargaan kepada yang bersangkutan. Juga mungkin rasa sungkan, perasaan tidak enak, tidak sopan (Jawa: nranyak), sepertinya masih cukup kuat melekat di dalam hati setiap insan media massa.

9.  Insan media massa juga sering masih terlalu lugas menafsirkan aturan-aturan selingkung jurnalistik, misalnya saja aturan untuk tidak boleh menggunakan kalimat yang berdiatesis pasif, tidak boleh menggunakan ikon-ikon negatif, dll. Persoalannya, apa salah atau apa dosanya bentuk- bentuk kebahasaan yang seperti itu? Bukankah setiap aspek dan satuan linguistik itu hakikatnya disediakan untuk digunakan sesuai dengan esensi dan fungsinya? Kelugasan yang terlalu dominan ditonjolkan dalam setiap penggunaan ranah dan unsur kebahasaan, bisa-bisa justru akan menjadi bumerang bagi pemakainya, karena sesungguhnya bahasa tidak perlu dikutub-kutubkan seperti itu dalam realitasnya.

10. Tren mutakhir perkosakataan media massa, dalam prediksi saya, selain ditandai oleh kebaruan-kebaruan bentuk vokabuler, inovasi-inovasi vokabuler yang bersumber pada leksikon-leksikon arkhais namun cenderung berwibawa, vulgarisasi pemakaian sejumlah leksikon sabagai kenyataan balik eufemisme dan kesantunan palsu yang banyak dipakai pers di masa Orba, juga cenderung banyak menggunakan bentuk-bentuk afektif, bentuk-bentuk ikonik dan onomatopeik, yang sernuanya dapat dipandang sebagai potensi-potensi bahasa yang sesungguhnya sangat kaya dari bahasa milik kita sendiri, yang setiap waktu terus kita geluti.

11.  Media massa dengan diksi-diksi yang digunakannya, dengan pilihan gambar-gambar yang dipajangnya, juga sering dikeluhkan sebagai sosok pemrovokasi, pendobrak dominasi kekuasaan terhadap sosok kebebasan berkomunikasi, kadangkala media massa juga sebagai sosok pembawa mimpi, tetapi di sisi lain juga banyak dianggap sarana pengenalan diri dan media untuk berpromosi serta sarana untuk realisasi diri. Maka bolehlah dibilang, media massa adalah sosok misterius yang berciri supraparadoksal, di satu sisi dielu-elukan karena disukai dan menjadi kebutuhan hidup yang bersifat insani, tetapi di sisi lain dengan kreasi dan inovasinya,  dan  dengan  tren mutakhir perkosataan yang hendak diperjuangkannya, justru kadangkala menuai caci-maki dari sana-sini.

Dan, dengan kenyataan seperti itu sesungguhnya, semakin dimuliakanlah insan-insan pers di negeri kita ini.

Penulis:

R. Kunjana Rahardi

Universitas Gadjah Mada

 

 

 

* Disajikan dalam Dialog Perkosakataan dengan Para Jurnalis Jakarta, pada tanggal 27 Februari 2003 di Gedung Media Indonesia Jakarta.

**Dr. R. Kunjana Rahardi, Dosen dan Pengamat Bahasa, Tinggal di Yogyakarta.

(Perumahan Sidorejo Bumi Indah Blok H/166 Jl. Wates Km 3.5, Yogyakarta

55182. Tlp. 0274-379771, 08164266263. E-mail: kunjana@indosat.net.id)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: