Tuntutan Pengembangan Kosakata

1. Selintas Perkamusan dan Perkembangan Kosakata Bahasa Indonesia

Perkembangan daya ungkap bahasa Indonesia pada masa lalu, antara lain, tampak pada khazanah leksikon yang dapat diketahui dari dokumen-dokumen masa lalu. Salah satu dokumen yang dapat menjadi petunjuk ke arah itu ialah kamus. Daftar Kata Cina-Melayu dan Italia-Melayu (abad ke-15) yang memuat 500 lema memberi gambaran perkembangan ilmu dan teknologi serta kekayaan budaya pada masa itu. Lima abad kemudian Kamus Umum Bahasa Indonesia W.J.S. Poerwaderminta (1953) memuat sekitar 23.000 lema. Pada edisi tahun 1976 kamus itu mendapat tambahan sekitar 1.000 lema. Pada tahun 1983 Pusat Bahasa menerbitkan Kamus Bahasa Indonesia yang memuat sekitar 30.000 lema.  Akhirnya,  Pusat Bahasa menerbitkan  Kamus  Besar  Bahasa Indonesia pada tahun 1988. Kamus yang mernuat 63.000 lema itu mengalami revisi tahun 1991 dengan penambahan 10.000 lema sehingga menjadi 73.000 lema. Pada tahun 2001 kamus itu mengalami revisi yang telah mengeluarkan sejumlah lema bahasa daerah dan menambah lema baru sehingga edisi ketiga Kamus Besar Bahasa Indonesia itu mernuat sekitar 78.000 lema.

          Perkembangan kosakata bahasa Indonesia yang tersirat dari jumlah lema yang terdapat  pada  kamus-kamus  dalam  perjalanan  sejarah  leksikografi  Indonesia mengindikasikan  perkembangan  daya  ungkap  bahasa  Indonesia  sejalan  dengan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu. Selain kamus umnum, perkembangan peristilahan Indonesia juga menjadi indikasi perkembangan daya ungkap bahasa Indonesia. Kamus istilah susunan Sutan Takdir Alisjahbana (1949), kamus teknik karya S.S Answir (1974), kamus istilah ilmiah dan farmasi Institut Teknologi Bandung (1976), serta kamus ilmu dan teknologi oleh H. Johannes (1976) merupakan rekaman perkembangan peristilahan Indonesia.       

          Perkembangan peristilahan secara kelembagaan dilakukan Pusat Bahasa melalui kerja sama kebahasaan dengan Malaysia dengan nama Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia (MBIM) 1972-1985 dan ditambah keanggotaan Brunei Darrussalam 1985 hingga sekarang dengan nama Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim). Kerja sama itu ditujukan pada pengembangan peristilahan bahasa kebangsaan anggota Mabbim. Hingga kini telah dihasilkan 264.000 istilah dari 137 bidang/subbidang ilmu yang telah digarap dalam kerja sama tersebut (Pusat Bahasa, 1999:171-179). Peristilahan bidang ilmu dan teknologi ternyata paling banyak mengalami perkembangan (Putra dan Thohari, 2000:283). Meskipun demikian, laju perkembangan peristilahan ilmu dan teknologi, apalagi teknologi informasi, dirasakan kurang seimbang dengan perkembangan bidang ilmu dan teknologi tersebut karena perkembangan ilmu dan teknologi serta teknologi informasi pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 amat menakjubkan.

Perkembangan teknologi  komputer dan teknologi  komunikasi,  misalnya,  telah menghasilkan internet yang dapat menembus batas ruang dan waktu. Teknologi komunikasi itu telah menciptakan ruang maya (Cyberspace) yang memungkinkan terbentuknya sistem komunikasi global yang melibatkan masyarakat dari berbagai negara dengan menggunakan multibahasa (Putra dan Thohari, 2000:282). Ruang itu menjadikan kontak antarbahasa makin intensif. Agar bahasa Indonesia tetap eksis memenuhi kedudukan dan fungsinya perlu dilakukan percepatan pengembangan kosakata/istilah dalam berbagai bidang ilmu.

          Perkembangan tatanan kehidupan dunia dari “perang dingin” menuju perdamaian dunia yang menonjolkan isu hak asasi manusia dan perdagangan bebas telah membawa tatanan kehidupan baru dalam era globalisasi.

          Dalam tatanan kehidupan globalisasi itu salah satu ciri pembeda bangsa adalah bahasa. Maka, masih mampukah bahasa Indonesia menjadi lambang identitas bangsa. Untuk itu, kemantapan kosakata termasuk peristilahannya sebagai sarana komunikasi untuk mengungkapkan berbagai konsep, pikiran, dan pandangan mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks harus terus-menerus ditingkatkan. Pengembangan kosakata itu sedapat-dapatnya tidak mengakibatkan kehilangan ciri ke-indonesia-annya (Alwi dan Sugono Ed., 1999: iii).

 

2. Pengembangan Kosakata Bahasa Indonesia

a. Sumber

          Ada tiga kelompok bahasa sumber pengembangan kosakata bahasa Indonesia, yaitu bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.

          Kamus merupakan khazanah perbendaharaan kata suatu bahasa. Demikian juga Kantus Besar Bahasa Indonesia merupakan “gudang” kosakata bahasa Indonesia, baik yang aktif maupun yang pasif. Dalam rangka pengembangan kosakata bahasa Indonesia, perlu dilakukan pengaktifan kembali kosakata yang tidak dimanfaatkan penutur bahasa dalam kehidupan masa kini demi memperkaya pengungkapan berbagai konsep. Pemanfaatan kosakata itu akan memperluas cakrawala dan variasi bahasa. Dalam buku Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia (Jumariam, Qodratillah, dan Ruddyanto, 1995:9), misalnya, terdapat 1.413 kata Melayu yang belum termanfaatkan oleh pengguna bahasa dalam kegiatan kebahasaannya.

          Selain pemanfaatan kembali kosakata lama, pengembangan kosakata itu dapat dilakukan melalui program gramatikalisasi (Kridalaksana, 2000:223) yang akan dibahas pada bagian strategi dan pemadanan.

          Selain bahasa Indonesia, bahasa daerah atau bahasa serumpun dapat menjadi pemerkaya kosakata bahasa Indonesia. Kekayaan budaya yang tercermin pada sekitar 665 bahasa daerah (Putro dan Thohari, 2000:282) dapat menjadi sumber pemerkaya kosakata bahasa Indonesia. Pengamatan selama ini menunjukkan bahwa bahasa daerah yang berpenutur besar memberikan sumbangan yang besar dalam perkembangan kosakata bahasa Indonesia. Sementara itu, bahasa daerah berpenutur kecil kurang memberikan sumbangan dalam upaya pengembangan kosakata bahasa Indonesia. Untuk itulah, dalam perencanaan ke depan perlu diperhatikan keseimbangan sumber pengembangan kosakata antara bahasa daerah berpenutur besar dan bahasa daerah berpenutur kecil. Untuk itu, telah  dan  sedang  dilakukan  penyusunan  kamus  bahasa-bahasa  daerah.  Selain keseimbangan, hal yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan sumber bahasa daerah ialah bahwa kosakata bahasa daerah yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia harus tunduk pada kaidah bahasa Indonesia, baik lafal maupun ejaannya.

          Dalam bidang ilmu dan teknologi, bahasa asing menjadi sumber utama, khususnya ilmu dan teknologi yang berasal dari luar Indonesia. Dalam buku Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia (Jumariam, Qodratillah, dan Ruddyanto, 1995:9), tercatat 7.636 kata serapan dari bahasa asing. Bahasa Sanskerta (677 kata), Arab (1.495 kata), Cina (290 kata), Portugis (131 kata), Tamil (83 kata), Belanda (3.290 kata), dan Inggris (1.610 kata) turut memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Apa yang tercatat itu tidak termasuk istilah bidang ilmu yang dikembangkan melalui Mabbim.

          Meskipun demikian, apa yang telah dilakukan tersebut belum memenuhi tuntutan kebutuhan dalam kehidupan ke depan pada era global isasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat dalam pengembangan kosakata bahasa Indonesia.

b.  Strategi Pengembangan Kosakata

 

1) Penggalian

Salah satu strategi pengembangan kosakata bahasa Indonesia ialah penggalian kosakata bahasa Indonesia/Melayu. Masih banyak kosakata Indonesia/Melayu yang belum termanfaatkan dalam keperluan komunikasi dan ekspresi dalam kehidupan masa kini. Penggalian ini merupakan upaya pemertahanan corak ke-indonesia-an dalam menyikapi berbagai pengaruh budaya dari luar. Pengaruh itu tampak pada kecenderungan sebagian masyarakat Indonesia yang memilih kosakata bahasa asing dalam pemberian nama badan usaha dan merek dagang. Pencegahan ke arah itu telah dilakukan sejak pencanangan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar (20 Mei 1995) yang berupa penertiban penggunaan bahasa di tempat umum. Dalam masa reformasi ini ada kecenderungan masyarakat kembali kepada bahasa asing dengan alasan kebebasan masyarakat dalam mengeluarkan pendapat. Selain itu, upaya penggalian kosakata bahasa Indonesia/Melayu itu dapat dilakukan melalui penyusunan tesaurus bahasa Indonesia yang kini sedang dikerjakan Pusat Bahasa.

 

2) Pemanfaatan Kosakata Bahasa Daerah

Bahasa merupakan salah satu lambing jati diri bangsa. Maka, ciri ke-indonesia-an dalam pengembangan kosakata bahasa Indonesia perlu diperhatikan. Salah satu ciri itu ialah kebinekaan (keberagaman) budaya masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, salah satu upaya pemertahanan kebinekaan itu ialah penerimaan kosakata bahasa-bahasa daerah yang akan memperkaya khazanah kosakata bahasa Indonesia, terutama berbagai konsep dari bahasa daerah yang tidak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia.

 

3) Penyerapan Kosakata Bahasa Asing

Penyerapan kosakata bahasa asing selama ini dilakukan melalui penerjemahan atau pemadanan ke dalam kosakata bahasa Indonesia atau bahasa daerah dan pemungutan kosakata asing, baik melalui penyesuaian ejaan dan/atau lafal maupun tanpa perubahan. Pemadanan kosakata asing dengan bahasa daerah kurang mendapat dukungan sebagian masyarakat karena kata-kata bahasa daerah tersebut belum dikenal oleh masyarakat, kecuali masyarakat asal bahasa daerah yang bersangkutan. Padahal, di dalam prosedur pembentukan istilah, bahasa daerah merupakan sumber kedua setelah bahasa Indonesia. Kelompok masyarakat tertentu lebih cenderung melakukan pemungutan kata asing daripada pemadanan ke dalam bahasa daerah. Di samping itu, kecenderungan pemungutan  kosakata asing tersebut juga didorong oleh ketidaktersediaan kosakata padanan bahasa Indonesia terutama kosakata/istilah bidang ilmu dan teknologi. Oleh karena itu, untuk mempercepat proses penyerapan koasakata asing perlu dilakukan peninjauan kembali prosedur penyerapan kosakata asing, setidaknya perlu dilakukan penjabaran tata cara penyerapan tersebut.

 

4) Pengembangan Konsep

Pengembangan konsep dapat dilakukan melalui pembentukan kata. Leksem sebagai unsur leksikon melalui proses morfologis dapat membentuk kata baru. Proses itu meliputi afiksasi, reduplikasi, komposisi (pemajernukan), abreviasi, derivasi balik, dan kombinasi proses (Kridalaksana, 2000:213). Bermacam afiks bahasa Indonesia dapat  dimanfaatkan  dalam  pembentukan  kata  baru  sesuai  dengan  kebutuhan komunikasi dan ekspresi.  Begitu juga reduplikasi dapat dimanfaatkan dalam pengembangan kosakata sejalan dengan makna yang diperlukan oleh penutur bahasa.

Komposisi atau pemajernukan juga merupakan langkah pengembangan kosakata walaupun tidak seproduktif afiksasi. Satu proses yang amat produktif adalah penyingkatan. Pembentukan kata melalui cara itu amat populer di kalangan pengguna bahasa, bahkan sering membingungkan karena hasil penyingkatan itu ternyata sama dengan kata bukan singkatan yang telah ada sebelumnya.

 

3. Penutup

 

 

Bahasa Indonesia perlu kita kembangkan kosakatanya agar mutu daya ungkapnya memenuhi tuntutan kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masa kini dan masa depan. Peningkatan mutu daya ungkap itu perlu dipacu agar dapat mengimbangi perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagaimanapun baiknya mutu daya ungkap bahasa Indonesia tanpa dibarengi dengan peningkatan mutu penggunaannya tidak akan membawa banyak perubahan. Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan mutu penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan bidang penggunaannya, apalagi penggunaan bahasa Indonesia di kalangan media massa.

 

Daftar Pustaka

 

Jumariam, Meity T. Qodratillah. Peny. 1995a. Pedoman Pengindonesiaan Nama dan

          Kata Asing. Jakarta; Balai Pustaka.

————————– l995b.  Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Kridalaksana, Harimurti. 2000. Kata: Pemekaran Konsep, Pengembangan Makna“. dalarn Hasan Alwi, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan. Peny. Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi: Pemantapan Peran Bahasa sebagai Sarana Pembangunan Bangsa. Jakarta; Pusat Bahasa.

Moeliono, Anton M. 2000. “Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam Ei Globalisasi.”

Dalam Hasan Aiwi, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan (Peny. Putro, Hariyanto dan Machmud Thohari. 2000.  “Bahasa Indonesia, Iptek, dan EJ Globalisasi.”

Dalam Hasan Aiwi, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan (Peny. Sugono, Dendy. 1997. “Pengembangan Kosakata Bahasa Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Zaman.” Dalam Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia dalam Menghadapi Pasar Bebas. Risalah Seminar HPBI di Medan.

 

 

Penulis:

Dendy Sugono

Pusat Bahasa, Depdiknas

Makalah ini disampaikan pada Diskusi FBMM, 26 Februari 2003 di Media Indonesia/Metro TV.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 Tanggapan

  1. […] untuk mengambil kata kita harus punya pijakan bahwa sebelum memungut kata asing diupayakan agar kata yang akan diserap ada padanannya dalam Bahasa Indonesia, atau jika belum ada diambil dalam bahasa daerah, jika […]

  2. pak.. saya dapat tugas tentang derivasi balik.. nah.. itu apa ya pak?? referensi yang bisa saya pakai apa?? trmakasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: