Menulis untuk Televisi

1.   Menulis untuk media elektronik, radio dan televisi, berarti kita menulis untuk pendengaran. Khalayak sasaran media elektronik menggunakan pendengarannya untuk menangkap informasi. Oleh karena itu, penyiar harus dapat menarik perhatian penonton,  menyampaikan  informasi,  dan  membangun  suasana  yang  membuat penonton merasa sebagai bagian dan peristiwa yang sedang disampaikan.

Namun, tentu ada perbedaan antara pendengar radio dan pendengar televisi. Jika pendengar radio sepenuhnya bergantung pada fungsi audio, pendengar televisi, selain fungsi audio, menggunakan pula fungsi visualnya. Fokus pembicaraan kita kali ini adalah bahasa yang digunakan dalam televisi.

2.  Hubungan  antara penyiar atau  pembawa acara dengan pemirsa adalah hubungan antara pembicara dengan pendengar. Berarti bahasa yang digunakan adalah bahasa pertuturan.  Saya  memilih  untuk  menggunakan  istilah  pertuturan  dan  bukan percakapan karena antara penyiar dan pemirsa tidak selalu terjadi percakapan atau dialog langsung.  Percakapan hanya terjadi jika ada acara dialog interaktif atau langsung dengan pemirsa. Dengan demikian, pemirsa tidak memiliki kesempatan untuk mengulang jika ada kalimat yang terlewatkan atau kalimat yang tidak jelas.

Kenyataan ini, berbeda dengan media cetak, jika ada kalimat yang tidak jelas, pembaca dapat mengulang kembali teks yang dibacanya sampai tercapai pemahaman. Dalam dialog langsung, pendengar juga dapat langsung bertanya pada pembicara jika ada hal atau kalimat yang tidak dipahaminya. Jadi, dalam penulisan naskah televisi, kalimat yang disusun harus jelas agar pendengar memahami apa yang dikatakan, meskipun mereka hanya mendengarkannya satu kali.

3.  Dengan pilihan atas bahasa pertuturan, penulisan naskah harus bersifat sebagaimana kita berbicara  kepada teman. Suasana  yang  dibangun adalah suasana  berbagi informasi kepada teman yang setara, bukan suasana menggurui. Artinya, ada persyaratan yang sebaiknya diperhatikan untuk dapat berkomunikasi dengan pemirsa dengan baik.

a.   Gunakan ragam bahasa semiformal.

b.  Gunakan kalimat peryataan yang pendek,  aktif,  dan logis.  Sebaiknya,      digunakan jeda untuk menyampaikan informasi secara jelas.

c.   Gunakan pilihan  kata yang bersifat umum agar pemirsa  dapat  dengan       mudah mengikuti pembahasan dan tidak merasa digurui.

d.  Hindari penggunaan kata yang memihak atau mengandung opini.

e.   Sebutkan waktu,  tanggal,  dan nama  hari  dan  hindari  penggunaan kata       kemarin, besok, lusa.

f.    Sebut  nama  tokoh  yang  terlibat  dalam  suatu  peristiwa. Jika tokoh  itu memiliki jabatan atau gelar yang signifikan bagi berita itu, sebutkanlah       jabatan atau gelar itu dengan jelas.

g.  Jika  informasi  yang  diperoleh  dan  sumber  lain,  letakkan  informasi

h.  Buatlah alur berita yang seksama, akurat, berkaitan, dan wajar.

 

RAGAM BAHASA SEMIFORMAL

          Oleh karena bersifat percakapan, penyampaian berita dilakukan dengan mengandaikan bahwa penulis sedang bercerita pada seorang teman. Dengan demikian, ragam bahasa yang digunakan tidak dapat sepenuhnya bersifat formal. Bahasa yang formal akan melelahkan dan membosankan  bagi pemirsa karena jauh dari sifat akrab. Sebaliknya, bahasa yang nonformal akan membatasi penyebaran pemirsa pada kelas tertentu. Jadi, ragam yang dianut oleh berita televisi adalah ragam semistandar. Ragam semistandar ditandai oleh hal-hal sebagai berikut.

a.   Penggunaan kalimat yang tidak lengkap.

b.   Penggunaan kosakata lisan, seperti bisa, cuma, tapi, dan sebagainya.

c.  Penghilangan konjungsi dan preposisi di bagian-bagian tertentu, misalnya  kata sambung seringkali diganti oleh jeda, seperti kata bahwa dalam kalimat kutipan tidak langsung.  Contoh:  Gus menyatakan,  ia akan menuntut KPU.

d.  Paragraf boleh terdiri atas sebuah kalimat.

 

KALIMAT PENDEK, AKTIF, DAN LOGIS.

          Salah satu idiom yang terkenal di dunia jurnalistik adalah KISS, “Keep It Short and Simple”. Bahasa jurnalistik harus pendek dan jelas. Ketentuan ini juga berlaku untuk berita televisi, apalagi dalam berita televisi,  kita ditunjang oleh aspek visual. Makin sederhana sebuah kalimat makin baik, makin pendek sebuah kalimat makin baik, bahkan, kalimat tidak lengkap diperbolehkan sepanjang keterpaduannya dalam penulisan berita cukup jelas.

          Berapakah jumlah kata yang sebaiknya membentuk kalimat yang pendek? Dalam buku Vademekum Wartawan (1997:  188 ) dikatakan bahwa sedapat mungkin digunakan kalimat pemyataan yang sederhana, yaitu tidak lebih dari 20 kata. Mencher (1997: 165) mengajukan sebuah label yang mengungkapkan keterkaitan antara panjang kalimat dan keterbacaannya.

 

Panjang Kalimat

Keterbacaan

8 kata atau kurang

Sangat mudah dipahami

11 kata

Mudah dipahami

14 kata

Agak mudah dipahami

17 kata

Standar

21 kata

Agak sulit dipahami

25 kata

Sulit dipahami

29 kata atau lebih

Sangat sulit dipahami

 

          Dalam bahasa Indonesia, belum diadakan penelitian yang dipublikasikan berkaitan dengan panjang kalimat ini. Kelogisan berkaitan dengan paduan kata, misalnya

  Singa yang satu ini sangat berambisi terhadap mangsanya. (TV7)

  Ledakan berasal dari mesjid di gedung KPU. (Radio Elshinta)

  Selain mengundang selera, jajanan semacam ini juga lumayan terjangkau saku anak-anak. Paling mahal, harga setiap porsinya dipatok sekitar tiga ribu rupiah.  (TV7)

 

PILIHAN  KATA  YANG  UMUM. 

Ada  dua  hal  penting  yang  patut  mendapat perhatian kita berkaitan dengan pilihan kata, yakni ketepatan pilihan kata dan kesesuaian pilihan. Ketepatan pilihan kata berkaitan dengan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. Kesesuaian pilihan kata berkaitan dengan penggunaan kata untuk  mengungkapkan  gagasan dengan cara yang dicocokkan dengan kesempatan dan lingkungan yang dihadapi. Untuk dapat melakukan pilihan kata dengan baik, seseorang harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam hal mengetahui berbagai hal berikut ini.

a.  Kata umum dan kata khusus. Untuk mencapai pengertian yang tepat sebaiknya digunakan kata khusus yang akan mengungkapkan makna secara lebih jelas. Nama diri merupakan kata yang sangat khusus. Kata khusus digunakan untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca dan untuk membangkitkan sugesti dalam diri pembaca. Misalnya, berjalan perlahan-lahan dengan tertatih; orang miskin dengan gelandangan.

b.  Kata indria. Untuk dapat menyajikan berita yang bersifat faktual, alat bahasa yang paling tepat adalah kata-kata indria. Kata-kata itu menyatakan pengalaman yang dicerap oleh pancaindera: penglihatan, pendengaran,  peraba, perasa, dan penciuman. Kata-kata indria ini merupakan kata-kata yang membantu kelancaran penulisan deskripsi secara akurat.

c.  Kata standar, semistandar, dan nonstandar. Penggunaan kata standar, semistandar, dan nonstandar berkaitan dengan siapa yang menjadi pembaca atau pendengar. Pengetahuan penulis dan pembicara akan situasi juga akan mempengaruhi pilihan katanya. Misalnya, pemakaian kata ganti saya, aku, atau gue sangat bergantung pada situasi dan kepada siapa kita berbicara.

d.  Kata populer dan kata ilmiah. Kosa kata suatu bahasa, pada umumnya, terdiri atas kata-kata yang sering digunakan oleh penuturnya. Kata-kata akan digunakan dalam komunikasi sehari-hari oleh semua lapisan masyarakat. Namun, ada pula sejumlah kata yang hanya digunakan dalam komunikasi ilmiah: dalam diskusi, pertemuan resmi, pengajaran. Umumnya, kata-kata ilmiah itu diserap dari bahasa asing.  Ada yang dicari padanan katanya  dalam bahasa Indonesia (supervisi dengan penyelia) dan ada pula yang disesuaikan dengan struktur kata bahasa Indonesia (formation dengan formasi).

e.  Jargon.  Jargon  adalah  kata-kata  teknis  dalam  suatu  bidang  ilmu  tertentu  dan sering kali bertumpang tindih dengan pengertian istilah. Jargon merupakan bahasa atau kata yang khusus sekali. Oleh karenanya, pemakaian jargon dalam laras jurnalistik harus dihindari. Jika pemakaiannya tidak dapat dihindari, penulis harus menjelaskan arti kata tersebut.

f.   Kata percakapan. Bahasa percakapan tidak selalu identik dengan  bahasa nonstandar. Kata percakapan adalah kata-kata yang dapat digunakan dalam ragam lisan, tetapi tidak dapat digunakan dalam ragam tulis.  Masalahnya,  sekarang adalah bahwa tidak semua penutur bahasa Indonesia dapat membedakan kedua ragam ini. Perbedaan laras jurnalistik dan laras iklan dari laras-laras lain, dalam hal ini, adalah bahwa kedua laras ini menyajikan ragam lisan dalam bentuk ragam tulis. Akibatnya, ada banyak kata percakapan yang digunakan dalam bentuk tulis, misalnya tapi seharusnya tetapi, bisa seharusnya dapat.

g.   Kata Slang. Kata-kata slang adalah kata-kata percakapan yang menjurus ke arah nonstandar yang disusun secara khas, seperti bahasa prokem atau bahasa gaul. Biasanya, muda-mudi selalu berusaha untuk menggunakan bahasa dengan cara-cara baru atau dengan arti baru, termasuk di dalamnya penggunaan akronim dan kata umum, misalnya benci menjadi benar-benar cinta. Kelemahan dan kata-kata slang ini adalah hanya sedikit yang bertahan lama dan kata-kata slang selalu menimbulkan ketidaksesuaian. Kata slang yang pada suatu waktu tumbuh secara populer atau trendi, di saat lain akan segera hilang dan peredaran. Kesegaran dan daya gunanya hanya terasa pada saat pertama kali kata itu digunakan.

h.  Idiom. Idiom bukan hanya peribahasa. Peribahasa adalah salah satu bentuk idiom. Idiom adalah pola-pola bahasa (frase) yang menyimpang dan kaidah dan makna bahasa yang umum dan makna gabungannya tidak dapat diterangkan melalui makna kata pembentuknya. Contohnya, makan hati, banting tulang. Dalam hal ini yang harus diperhatikan pula adalah penggunaan kata depan yang dilekatkan secara idiomatis kepada kata kerja tertentu, berharap akan, berbahaya bagi, selaras dengan, terdiri atas, waspada terhadap.

 

KATA TIDAK MENGANDUNG OPINI.

Dalam menyusun berita, baik berita untuk media cetak maupun elektronik, kata yang dipilih tidak boleh mengandung opini atau simpulan dari penulis berita. Misalnya, penggunaan kata cantik menjadi simpulan atau opini karena kata cantik sangat relatif. Ukuran cantik bagi setiap orang berbeda. Sebaiknya, penulis membuat deskripsi dari orang yang dianggap cantik itu. Dalam berita televisi, deskripsi ini menjadi lebih mudah karena adanya aspek visual. Contoh pilihan kata yang mengandung opini:

Bisnis busuk pria itu berjalan normal (TV7)

Aksi culas ini diduga keras dilakukan panitia pemungutan suara dan panitia pemilihan tingkat kecamatan setempat. (TV7)

Untuk menghindari kata yang beropini, penyebutan sumber informasi merupakan hal yang penting sebagaimana disebut di atas.

 

Permasalahan lain yang berkaitan dengan masalah penyebutan waktu, nama, dan jabatan atau gelar tokoh yang diliput, penyebutan sumber informasi, dan alur berita tidak akan diuraikan dalam pertemuan ini.

 

DAFTAR RUJUKAN

Bard, Rachel. 1992. Newswriting Guide: A Handbook for Students Reporters. Edisi Ketiga. Tacoma, Washington: R & M Press.

Hariss, Julian; Leiter, B. Kelly; Johnson, Stanley. 1985. The Complete Reporter. Edisi Kelima. New York, USA: Macmillan Publishing Company.

Ishwara,  Luwi.  1998.  Tentang  Jurnalisme:  Jurnalisme  Dasar”.  Diktat  Pelatihan Kewartawanan. Jakarta: Kompas.

Mencher, Melvin. 1997. News Reporting and Writing. Edisi Ketujuh. Dubuque, USA: Times Mirror Higher Education Group, Inc.

Ray, Vin. 2003. The Television News Handbook: An Insider’s Guide to Being a Great Broadcast Journalist. London: MacMillan.

Simbolon, Parakitri T. 1997. Vademekum Wartawan. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Siregar, Ras. 1987. Bahasa Jurnatistik Indonesia: Kerangka Teori Dasar Bahasa Pers. Jakarta: Pustaka Grafika.

Tuggle, C.A.; Can-, Foirest; dan Hufirnan, Suzanne. 2004. Broadcast News Handbook. Edisi Kedua. USA: McGraw Hill.

 

Penulis:

Felicia N. Utorodewo

Universitas Indonesia

 

 

*) Makalah yang disajikan dalam Diskusi Forumi Bahasa Media Massa, di RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada tanggal 29 Juli 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: