Sekilas Tentang Bahasa Media Massa

1. Saya merasa mendapat kehormatan dan  berterima kasih kepada  Forum  Bahasa Media Massa (FBMM) yang telah mengundang saya hari ini untuk menyampaikan tinjauan saya mengenai bahasa media yang efektif. Ini agaknya dalam kerangka untuk ikut memberikan masukan bagi pengembangan bahasa Indonesia dalam kegiatan kerja sehari-hari para  wartawan. Saya juga sudah membaca sekilas informasi tentang FBMM. Terus terang, saya menyambut gembira serta mendukung pendirian forum ini. Mudahan-mudahan, ia bisa eksis mencapai tujuan dan harapan para penggagasnya, termasuk kita semua para pencinta bahasa nasional.

2. Saya ingin memulai pemaparan saya tentang bahasa media saat ini, dengan sedikit kerisauan. Terutama dalam menyikapi pemakaian bahasa Indonesia di sejumlah media massa kita dewasa ini. Mereka, sejumlah media cetak dan elektronika, dalam praktik sehari-hari sekarang ini secara transparan banyak mengabaikan, menyepelekan, bahkan ada yang sudah membelakangi bahasa Indonesia. Kerisauan ini tidak mengada-ada. Bukan pula dimaksudkan untuk sakadar mencari popularitas. Tapi, lebih merupakan cetusan atau sorotan introspekif saya sebagai seorang wartawan untuk bahan diskusi kita semua. Saya amat yakin kita semua di forum ini juga merasakan kerisauan tersebut. Eforia kebebasan pers yang merasuk jagat wartawan kita pascareformasi, dan adanya semangat globalisasi, kiranya ikut menjadi faktor pendorong terjadinya pengabaian dan penyepelean terhadap bahasa Indonesia dan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar oleh banyak media massa kita. Bak bandulan pendulum, eforia kebebasan pers seperti mengayun kencang gaya bahasa sejumlah media kita. Dari dulunya  penuh  kehati-hatian dan selalu ingin  melunakkan arti suatu kata (eufemisme) ke gaya bahasa yang lantang, keras, dan cenderung kasar.

Untuk yang terakhir ini, saya perlu memberi contoh. Di Jakarta, media cetak (surat kabar) yang paling menonjol dalam menggunakan gaya lantang, keras, dan cenderung kasar tadi, misalnya, adalah surat kabar Rakyat Merdeka. Tiga tahun terakhir ini, inilah koran yang memelopori gaya menulis berita dengan gaya bombas, lantang, menonjok, provokatif, dan terkadang menafikan citarasa berbahasa kebanyakan orang Indonesia.

Ada begitu banyak contoh bisa diambil, misalnya, dari judul besar yang dibuat koran ini setiap hari. Tapi, saya paling terkejut ketika suatu hari beberapa hari  setelah banjir besar melanda Jakana beberapa bulan lalu (saya lupa tanggalnya) koran ini dalam huruf besar menulis judul kira-kira bertuliskan: “PHUIH, …RAME-RAME LOMBA NYUMBANG ….MAU AMBIL HATI RAKYAT.”

”Puih” adalah bunyi ludahan, tanda kebencian dan rasa jijik yang amat sangat, bagi umumnya orang Indonesia. Dan ludahan seperti itu biasanya baru keluar kalau seseorang sudah sangat marah pada seseorang atau sesuatu.  Saya benar-benar terkejut, kata amat kasar seperti itu bisa dipakai dan jadi judul besar di media massa Indonesia.

Dalam banyak kesempatan menjadi pembicara di pelbagai diskusi, dialog, seminar yang berkaitan dengan kinerja pers Indonesia, saya paling sering menerima keluhan dan kritikan berkaitan dengan apa yang disajikan koran Rakyat Merdeka. Koran ini sepertinya kini menjadi genre baru persuratkabaran Indonesia. Tentu saja komplain pembaca koran itu telah pula saya sampaikan kepada para petinggi koran tersebut. Narnun, rupanya, sudah begitulah mau mereka. Semuanya akhirnya berjalan seperti biasa. Dan belakangan kelompok penerbit mi malah menerbitkan lagi surat kabar baru.  Kita sudah tahu namanya: Lampu  Merah. Gaya bahasa dan cita rasa berbahasanya betul-betul merisaukan karena begitu seenaknya.

Saya mohon maaf tidak bermaksud menguliti satu dua koran atau satu kelompok penerbitan. Tapi, sekadar memberi contoh adanya reaksi kecewa pembaca terhadap cara berbahasa media massa pascareformasi. Saya bisa memahami kegundahan pembaca ini, karena saya sendiri pun ikut risau. Maklum, belakangan ini, gaya negatif seperti itu mulai menular alias diikuti penerbit lainnya. Ada koran baru. Namanya Terminal, memilih gaya yang sama dan kelihatannya ingin menyaingi Lampu Merah. Pertimbangan bisnis, karena gaya seperti itu dapal diterima pasar, alias laku, tak pelak  menyebabkan  satu dua  pengelola  media  massa  akhirnya melupakan hakikat fungsi pers (media) sebagai wahana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Contoh lain. Mungkin karena angin globalisasi yang kini berhembus kencang di bumi pertiwi, hampir semua media massa kita saat ini larut dalam keasyikan mencampuradukkan pemakaian kata atau istilah bahasa asing (terutama bahasa Inggris) dalam berita atau tulisannya. Kalau sekadar sok-sokan agar terlihat hebat, snobisme seperti ini mungkin bisa dimengerti sebagai sebuah kecenderungan sesaat. Lagi mode atau lagi musimnya. Yah, biarkanlah. Tapi, jika kebiasaan ini mengarah pada sikap permanen: menganggap memakai istilah bahasa asing itu dari banyak segi lebih baik dan menguntungkan ketimbang menggunakan istilah bahasa sendiri, ini saya anggap serius.

Sebagai pencinta bahasa Indonesia, kita patut bersikap menghadapi meruyaknya pemakaian istilah atau kata asing, terutama dalam media elektronika. Baik radio apalagi televisi. Hampir semua televisi kita, termasuk TVRI, sudah kebablasan dalam meniru-niru pemakaian istilah asing (Inggris) dalam rubrik atau mata acara program mereka. Televisi Metro, misalnya, mesti saya sebut sebagai salah satu contoh televisi yang  paling agresif dan  terang-terangan memakai  istilah  asing  untuk mata programnya. Mulai dari Headlines News, Metro This Morning, Market Review, Metro Hit List, Today’s Dialogue, dll. Sementara televisi lain, RCTI dengan Who Wants To be a Millionaire, SCTV dengan Hot Shot, TVRI dengan Head to Head, Country Road, dll.

Sementara itu, di radio hal serupa juga tampak merajalela. Sebutlah, misalnya, Pos Sore News and Talk (Elshinta), dan serentetan nama asing lain yang begitu mendominasi bahasa kalangan orang radio. Padahal, kalau mau dan kreatif,  semua istilah  tadi  kiranya bisa dan tentu tak akan  kalah menarik,  jika menggunakan bahasa lbu Pertiwi kita.

3. Bahasa media yang efektif dan selera pasar

Yang saya kemukakan di atas, hanyalah lontaran introspektif. Agar kira semua, terutama yang kini lagi asyik bercampur sari dengan bahasa asing dan juga berbahasa seenaknya lewat media masing-rnasing, mau berintrospeksi. Bahwa kita orang media mestinya sadar pentingnya arti bahasa bagi pertumbuhan sebuah bangsa. Bahwa kita orang media memegang posisi sentral dan menentukan dalam menentukan nasib dan perkembangan bahasa kita bahasa Indonesia, sebagai bahasa

persatuan, di tengah keadaan serbakarut marut dan negeri yang terus terancam bahaya disintegrasi dewasa ini. Makanya, kalau bisa, marilah sama-sama kita kembali ke basis. Kembali memakai dan terus bekerja meningkatkan mutu bahasa Indonesia jurnalislik kita.

Bahasa jurnalistik sama kita ketahui adalah suatu ragam bahasa orang pers yang secara universal diakui memiliki sifat-sifat khas: singkat. padat, sederhana, jelas, lugas, demokratis, egaliter, dan menarik. Dan yang terpenting: bahasa orang pers perlu dan harus selalu berorientasi pada pembaca,  pendengar,  penonton, atau pemirsanya. Dengan kata lain, bahasa jurnalistik itu adalah bahasa yang komunikatif. Para ahli bahasa kita, seperti Yus Badudu dan juga Anton Moeliono kerap menyebutkan bahwa bahasa jurnalistik orang media haruslah didasarkan pada bahasa baku. Yakni, kata Yus Badudu, “bahasa yang paling luas digunakan oleh masyarakat dan paling besar wibawanya.” Bahasa baku biasa digunakan dalam pidato, khutbah, ceramah, diskusi, rapat-rapat, dan kegiatan lisan lainnya. Selain itu, juga dalam bahasa tulisan, seperti dalam surat menyurat, buku, skripsi, dan disertasi. Dengan selalu menggunakan bahasa baku, bahasa orang media atau bahasa para wartawan akan makin mudah dipahami. Namun, tak cukup dengan bahasa baku, bahasa orang media juga mestilah memperhatikan dan tunduk pada kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kesepakatan atau konsensus seperti itu (bahasa jurnalislik Indonesia tunduk dan berpedoman pada aturan dan kaidah bahasa Indonesia yang benar) sebenarnya sudah disetujui para tokoh pers Indonesia, seperti Rosihan Anwar dan juga Goenawan Moharnad seputar tahun 1975-an.

Waktu itu memang bahasa pers kita begitu kacau balau. Malah, sempat terjadi prokontra antara pakar bahasa Indonesia dan banyak wanawan perihal apakah bahasa pers yang selalu harus dinamis dan perlu terus sejalan dan mengikuti perkembangan masyarakat yang terus berubah, harus “diikat” dalam aturan dan tata cara atau kaidah bahasa. Toh, pada akhirnya wartawan menyerah dan para pentolan pers kala itu sepakat untuk menertibkan bahasa Indonesia para wartawan. Antara lain dalam kerangka untuk makin meningkatkan  kemampuan  berbahasa  Indonesia  para wartawan, Karya Latihan Wartawan (KLW) PWI ke XVII pada tanggal 6 dan 10 November 1975 pernah menyepakati sebuah pedoman pemakaian bahasa Indonesia dalam pers.

Pedoman yang terdiri atas 10 patokan bagi wartawan itu, waktu itu menetapkan antara lain, perlunya “wartawan konsekuen dalam melaksanakan secara konsekuen Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, membatasi pemakaian akroim atau singkatan, menghilangkan seperti adalah…, menulis dengan kalimat-kalimat pendek, dan menghindari kata-kata asing dan istilah-istilah yang terlalu teknis ilmiah

dalam berita.”

Singkat kata sebenarnya, jika kita mau melihat sedikit ke belakang,  sudah ada pedoman bagi wartawan dan juga media massa dalam berkiprah secara baik dan tidak mengorbankan bahasa dan juga masyarakat yang biasanya amat mudah digiring dan dipengaruhi tindak lakunya oleh media massa. Makanya, dalam diskusi kali ini, saya ingin kita menggarisbawahi perlunya tanggung jawab kita sebagai wartawan dan orang media dalam membawa atau menjadikan masyarakat kita menjadi masyarakat warga yang maju dan memiliki identitas nasional.

Sekarang ini, di masa serbatransisi, segalanya seperti sudah terbalik-balik. Banyak pihak seperti kehilangan orientasi. Banyak wartawan kurang paham posisi duduk dan berdirinya. Bahwa ia pada pada dasarnya adalah penyampai atau pelapor informasi. Bukan komentator atau agitator apalagi provokator. Demikian juga media yang kini telah menjadi industri. Bukan sepenuhnya lahan bisnis, tempat orang bisa mengeruk laba  sebanyak-banyaknya, tanpa tanggung jawab sosial. Padahal, media sesungguhnya adalah wahana yang juga seharusaya digerakkan bagi kepentingan pendidikan, dan  pencerdasan kehidupan bangsa.

Karena itulah, ketika kita mau mengarahkan bagaimana sebaiknya media harus berbahasa agar ia bisa efektif, jawabannya tergantung apa yang menjadi kepentingan wartawan dan pemilik media tersebut. Jika ia sekadar memenuhi sepenuhnya selera atau keinginan pembacanya, ia tak perlu sulit-sulit harus mempertimbangkan apakah dengan bahasa yang ia sajikan pembaca mendapat pencerahan atau tidak. Wartawan juga begitu. Apakah ia akan menjadi sepenuhnya penyampai informasi sejati dan profesional  atau  terjun sebagai  agitator atau provokator,  terpulanglah  kepada wartawan yang bersangkutan.

Keadaan yang timpang alias tidak normal ini agaknya sudah perlu diluruskan. Caranya, antara lain, menurut saya, adalah dengan kembali menata dan menyehatkan dunia jurnalistik kita, cara berbahasa media kita, termasuk tentu saja menyadarkan kembali komunitas media massa akan tanggung jawab mereka pada nasib bangsa ke depan. Ikhtiar terakhir ini, saya duga tidak mudah. Namun, dengan komunikasi yang baik dan juga menghidupkan forum informal seperti FBMM, yang dapat saling mengingatkan warga media massa tentang dunia seputar mereka, mungkin  juga keadaan akan bisa diperbaiki. Mudah-mudahan.

Demikianlah, sekadar sumbangan pikiran saya untuk diskusi kita di Forum Bahasa Media Massa. Saya sadar mungkin apa yang saya kemukakan tidak begitu memenuhi harapan. Dan mungkin juga ada yang tidak pas. Untuk semua itu,  saya siap menunggu teguran atau kritik dari forum. Wasalam.

 

 

Penulis:

Marah Sakti Siregar

Persatuan Wartawan Indonesia, Jakarta

Jakarta, 30 Oktober 20002

* Catatan untuk bahan diskusi di Forum Bahasa Media Massa (FBMM) tanggal 31 Oktober 2002.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: