Keblinger Wedokan Montok, Tekor 18 Juta

Gejala Pemicu

1.     Generasi muda perkotaan lebih tertarik menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing daripada bahasa daerah.

2.     Kemajuan teknologi komunikasi audio visual yang pesat cenderung memusnahkan kehidupan sastra daerah yang merupakan salah satu aspek penting di dalam pelestarian bahasa derah sebagai lambang kebanggaan dan identitas derah.

3.     Penggunaan bahasa derah sebagai bahasa pengantar di kelas-kelas permulaan sekolah dasar tertentu cenderung makin lama makin ditinggalkan yang menjadi indikator makin kurang berfungsinya bahasa daerah.

4.     Minat dan perhatian kalangan generasi muda sekarang ini terhadap kebudayaan daerahnya yang kurang, menjadi hambatan di dalam mewujudkan bahasa daerah  sebagai alat pendukung kebudayaan.

5.     Pemerkayaaan bahasa Indonesia cenderung didominasi oleh bahasa asing (terutama bahasa Inggris) sedangkan unsur bahasa daerah yang harus mendapatkan prioritas justru malah terabaikan.

6.     Kosakata Indonesia banyak yang diserap ke dalam bahasa daerah.

 Substansi Preskriptif

1.     Bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan sebagai media komunikasi antar-anggota masyarakat di suatu daerah.

2.     Di Indonesia terdapat 670 bahasa daerah dengan kondisi 50 bahasa daerah berkategori safe 620 lainnya cenderung endangered.

Safe = dapat lestari

Endangered = dalam satu dua generasi tidak lagi dikuasai dan dipelajari oleh keturunan penurut berikutnya.

Moribund = tidak digunakan oleh anak-anak penutur bahasa ybs.

Termasuk ke dalam bahasa yang berkategori safe: Jawa, Sunda, Madura, Minang, Bugis, Batak, Bali, Banjar.

3.     Dokumen penjelasan  Pasal 36 UUD 45 berisi pernyataan bahwa di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri, yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda, Madura dsb.), bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara. Bahasa-bahasa itu pun merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup.

4.     Dokumen UU No. 20 Th. 2003 tentang Sisdiknas Pasal 24 berisi pernyataan bahwa bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu.

5.     Bahasa daerah berkedudukan sebagai lambang kebanggaan daerah, lambang identitas daerah dan alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat.

6.     Dalam kaitan dengan bahasa Indonesia bahasa daerah berfungsi sebagai pendukung bahasa nasional, bahasa pengantar di sekolah dasar di daerah tertentu untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain, dan sebagai alat pengembangan dan pendukung kebudayaan daerah.

 Bahasa Media Massa Kini

1.     Media massa kini telah memanfaatkan kekuatan bahasa daerah.

2.     Kosakata bahasa daerah yang sering digunakan media massa tidak sedikit:

– kecele                           – diplintir

– bangjo                          – keblinger

– menggeruduk                – buntut

– totoan                           – cakar

– senarai                          – madani

– panti                             – werda

– gelar                             – jompo

– loyo                              – pasok

– nyelonong                     – alot

– sambat                          – klitikan

– nembung                       – edan

– duit                               – keslomot

– ngamuk                         – ngembat

3.   Struktur bahasa daerah juga jarang muncul dalam media massa. Akan tetapi, faktor penyebab pasti belum bisa ditentukan.

4. Campur kode dan alih kode sebagai fenomena sosiolinguistik juga digunakan dalam bahasaa media massa.

      Nggilani, kebudayaan lokal jadi objek turisme

      – Tawar-menawar masih alot.

      – Panwaslu sambat kepada Bupati

      – Pedagang klitikan curi motor

      – Sekarang nembung, besok sudah ada

5. Penggunaan campur kode dan alih kode yang lebih seronok lagi kalimat media massa yang dijadikan judul tulisan ini dan juga kalimat-kalimat berikut.

     – Ngutil kaos dikemplangi di Malioboro

     – Ditembak bokonge, Gembong Malmot di Semarang jungkel

     – Ngembat duir majikan sopit toko di penjara.

 Kekuatan Bahasa Daerah

1.       Media massa dapat memanfaatkan kekuatan bahasa daerah.

2.       Kekuatan bahasa daerah yang dapat dimanfaatkan media massa adalah kosakata dan ungkapan/idiom.

3.       Struktur kalimat bahasa daerah tidak dapat dimanfaatkan sebagai bahasa media massa berbahasa Indonesia.

Tujuan Pemanfaat Bahasa Daerah

1.     Citra media massa yang bersangkutan tercermin, apakah cenderung ke lokal atau nasional.

2.     Batas segmen pembaca tercipta, pembaca dengan latar belakang bahasa daerah tertentu saja ataukah lintas latar belakang bahasa.

Kompromi

1.     Kompromi yang disambil sesuai dengan prioritas.

2.     Dengan prioritas pasar, inspirator serapan kekuatan bahasa daerah dapat menonjol.

3.     Dengan prioritas skala wilayah, serangan kekuatan bahasa daerah itu terasa halus.

Asal Tidak Asal-asalan

              Sah-sah saja, kekuatan bahasa daerah itu digunakan untuk mengembangkan bahasa media massa asal tidak asal-asalan. Penulisannya pun mengikuti tata tulis bahasa Indonesia. Dengan kosakata bahasa Indonesia sepenuhnya tidak selamanya benar. Dengan kosakata bahasa daerah tidak selama bahasa media massa itu salah.     

 Pustaka Rujukan

Artha, Arwan Tuti, 2003. “Kearifan Bahasa Lokal pada Pers Berbahasa Indonesia” dalam Kongres Bahasa Indonesia VIII, Jakarta 14-17 Oktober 2003.

Muadz, M. Husni. 1998. “Bahasa Daerah sebagai Mata Pelajaran dalam Sistem Pendidikan” dalam Kongres Bahasa Indonesia VII, Jakarta 26-30 Oktober 1998.

Alwi, Hasan. 1998. “Pelestarian Bahasa Daerah” dalam Kongres Bahasa Indonesia VII, Jakarta 26-30 Oktober 1998.

Undang-Undang dasar 1945.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas.

—————

 

Penulis:

Rustono

Ketua MLI Cabang Unes Semarang

* Butir-butir makalah pada diskusi FBMM dan Suara Merdeka di Semarang tanggal 29 Januari 2004. 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: