Kebijakan Dalam Pengindonesiaan Istilah Olahraga

1.   Pendahuluan

          Bidang olahraga mendapat tempat yang khusus dalam berbagai media massa. Di dalam media massa cetak, khususnya surat kabar, kita temukan rubrik olahraga.  Demikian pula dalam media elektronik, khususnya televisi, ada program khusus untuk bidang ini. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga merupakan bagian yang mendapat perhatian khusus di kalangan pers atau pertelevisian.

          Berbicara tentang olahraga, tentu kita perlu mengaitkannya dengan peristilahan yang digunakan dalam bidang ini. Berbagai ulasan dan tulisan tentang olahraga tidak dapat dipisahkan dengan istilah yang digunakan. Dalam ulasan olahraga, baik di media massa cetak maupun di media massa elektronik, kita dapat menyaksikan penggunaan istilah olahraga yang masih menggunakan bahasa asing. Di media massa cetak, misalnya, dalam rubrik yang memuat olahraga, apalagi edisi khusus olahraga, pandangan kita akan tertuju pada istilah yang cukup banyak berbahasa asing.

          Memang selama ini istilah olahraga masih cenderung berbahasa asing.  Kalangan pers dari pertelevisian belum sepenuhnya menggunakan istilah bidang ini dalam bahasa Indonesia.  Ini  berarti  bahwa  istilah  olahraga masih menggunakan bahasa asing. Pertanyaan yang timbul adalah apakah istilah olahraga itu seharusnya berbahasa asing atu justru harus berbahasa Indonesia. Apabila istilah itu berbahasa asing, apakah hal itu sejalan dengan kebijakan bahasa kita. Sebaliknya, apabila istilah olahraga ini berbahasa Indonesia, bagaimana upaya yang dapat kita lakukan agar istilah itu tersedia dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, masyarakat pemakai akan terpenuhi dengan sediaan istilahnya.

Media massa sebagai sarana komunikasi dan informasi juga berfungsi sebagai pengembang bahasa Indonesia. Pengembangan bahasa Indonesia melalui peristilahan olahraga perlu dilakukan dengan intensif. Dalam hal ini, media massa tidak dapat berpangku tangan dalam menyediakan istilah di bidang ini. Ia harus berperan bersama Pusat Bahasa untuk mengambil fungsi itu sehingga harapan kita agar peristilahan di bidang ini akan terwujud. Untuk itu, media massa perlu juga berbekal dengan kebijakan yang dianut Pusat Bahasa dalam pengindonesiaan istilah itu.

2.  Pembentukan Istilah Olahraga

Dengan menyadari bahwa peristilahan olahraga masih banyak menggunakan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris, kita perlu memahami kebijakan peristilahan dalam mengembangkan istilah ini dalam bahasa Indonesia. Karena istilah bidang ini bersumber dari bahasa Inggris, upaya yang harus kita lakukan adalah pengindonesiaan istilah sumber itu. Hal ini sering juga disebut pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia.

Di dalam peristilahan, ada tiga langkah yang dapat kita jadikan sebagai pedoman atau rambu-rambu dalam mengindonesiakan istilah asing, termasuk istilah olahraga, yaitu penerjemahan, penyerapan, dan gabungan penerjemahan dan penyerapan. Penerjemahan dilakukan dengan menerjemahan istilah sumber ke dalam bahasa Indonesia, baik secara langsung kata per kata atau penyesuaian dengan konsepnya (perekaan). Misalnya, boxing, boxer, counter attack, defence, dan player. Istilah itu diterjemahkan menjadi  tinju,  petinju,  serangan  balik, pertahanan,  dan pemain. Penerjemahan konsep, misalnya, cross, linesman, dan play maker  menjadi pukulan silang (tinju), hakim garis (sepak bola) & pengawas garis (bulu tangkis).

Selanjutnya, penyerapan dilakukan dengan menyerap istilah asing itu ke dalam bahasa Indonesia. Ada empat cara penyerapan, yakni penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan  lafal,  penyerapan  dengan  penyesuaian ejaan tanpa  penyesuaian  lafal, penyerapan tanpa penyesuaian ejaan tetapi dengan penyesuaian lafal, serta penyerapan tanpa penyesuaian ejaan dan lafal. Penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal, misalnya gool, position, team, canvas, dan captain. Istilah itu disesuaikan ejaannya menjadi gol, posisi, tim, kanvas, dan kapten. Penyerapan dengan penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal, misalnya, deuce, baseball, softball, dan smash. Istilah asing itu diserap menjadi jus, bisbol, sofbol, dan smes. Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan penyesuaian lafal misalnya, arena, final [fainel], dan semifinal [semifainel] menjadi arena, final, dan semifinal. Di samping itu, ada pula penyerapan tanpa penyesuaian ejaan dan lafal. seperti lob,  net, ring. dan set .

Pengindonesian selanjutnya dilakukan melalui gabungan antara penyerapan dan penerjemahan. Misalnya, goal getter, golf, handball, dan score board menjadi pencetak gol, pegolf, bola tangan, dan papan skor.

Ada perubahan yang mendasar dalam pengindonesiaan pada masa sekarang jika dibandingkan dengan pengindonesiaan istilah pada masa lampau, yakni dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) Edisi I dan II. Di dalam PUPI lama ada tujuh langkah pembentukan istilah, yakni pemadanan dengan (1) bahasa Indonesia yang lazim, (2) bahasa Indonesia yang  tidak  lazim,  (3)  bahasa  daerah  yang  lazim,  (4)  bahasa Indonesia yang yang tidak lazim, (5) istilah dalam bahasa Inggris: (a) penerjemahan, penyerapan, dan penerjemahan dan penyerapan sekaligus, (6) istilah dari bahasa asing, (7) pilihan yang terbaik dari (1)—(6). Namun, dalam pedoman yang terakhir sebagai kesapakatan tiga negara anggota Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim), pengindonesiaan istilah asing itu dilakukan dengan tiga langkah seperti yang disebutkan di atas, yaitu penerjemahan – penyerapan, dan gabungan keduanya. Hal ini sangat memudahkan pembentuk istilah karena ia tidak harus mengikuti prioritas pembentukan seperti pedoman yang lama.

Apabila pembentuk istilah ingin menyerap saja istilah asing itu, hal itu dapat dilakukan. Ada pertimbangan yang dapat dijadikan pegangan dalam pengindonesiaan melalui penyerapan.

1)  Istilah asing yang akan diserap meningkatkan keterwakilan bahasa asing dan bahasa Indonesia secara timbal balik mengingat keperluan masa depan.

2) Istilah asing yang akan diserap mempermudah pemahaman teks asing bagi pembaca Indonesia karena dikenal lebih dahulu.

3)  Istilah asing yang akan diserap lebih ringkas jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

4)  Istilah asing yang akan diserap mempermudah kesepakatan antarpakar jika padanan terjemahannya terlalu banyak sinonimnya.

5)  Istilah asing yang akan diserap lebih cocok dan tepat karena tidak mengandung konotasi buruk.

Pengidonesiaan istilah olahraga melalui penyerapan itu dilakukan apabila tidak melanggar kaidah penyerapan. Apabila hal itu tidak dapat dilakukan, pengindonesiaan itu dilakukan dengan penerjemahan atau sekaligus penerjemahan dan penyerapan.

3.  Pemakaian Istilah Olahraga

Seperti yang disebutkan di atas, tampaknya istilah asing dalam media massa masih merupakan istilah pilihan jika dibandingkan dengan pilihan terhadap istilah padanannya. Hal ini dapat dilihat dalam contoh pemakaiannya seperti berikut.

(1)   Playmarker  Rep  Ceko  Pavel  akhirnya  memutuskan  pensiun  dari  kancah internasional (MI, 25-9-2004)

(2)   Konfederasi Sepak Bola Brazil (CBP) kesal karena mereka tak dilepas klubnya masing-masing kala dipanggil untuk menjalani peace game lawan Haiti (MI, 25-9-2004)

(3)   Kedua Um ini melangkah ke grand final setelah di babak penyisiban menyingkirkan lima perserta lainnya (Kompas, 22-8-2004).

 

(4)   Pul A A terdiri dari Sumatera Utara, Lampung, Jatim, dan Kalbar. Jateng yang merupakan juara Pul A melaju ke final setelah di semifinal mengalahkan runners- up Pul B Lampung (Kompas, 22-8-2004).

(5)   Juru bicara tim Olimpiade Amerika Serikat Randy Walker mengatakan, ahli bedah jiwa enam kali grand slam itu menyarankan agar Williams mengundurkan diri dari pertandingan tenis Olimpiade (SP, 12-8-2004).

(6)   Defender asal Brazil Sylvinho diperkirakan akan istirahat empat pekan setelah ligamen lututnya cedera … (RM, 26-9-2004).

(7)   Klub yang baru diperkuat midftelder Valencia, Farinos, kini bertengger di urutan ke-11 dengan poin empat, hasil sekali menang dan sekali seri (RM, 26-9-2004).

Berdasarkan beberapa contoh di atas, istilah asing tersebut dapat diindonesiakan melalui tiga langkah pembentukan istilah. Istilah play marker, peace game, grand final, runner up, grandfinal, defender, dan midfielder dapat dipadankan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu pengatur serangan, pertandingan perdamaian/persahabatan, final puncak, juara  kedua, pertandingan akbar, pemertahan (pemain bertahan) dan pemain tengah. Contoh di atas diindonesiakan melalui penerjemahaan, di samping rnelalui  penyerapan.  Hal  ini  tentu yang tidak terlalu sulit kita  lakukan  apabila kita berkemauan dan berkeyakinan bahwa bahasa Indonesia mampu menjadi  sarana pengembangan peristilahan.

4.   Pengembangan Istilah Olahraga sebagai Tanggung Jawab Bersama

Tampaknya penciptaan  dan  pemasyarakatan  istilah  olahraga  dalam  bentuk padanannya di dalam bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab bersama. Wartawan olahraga dituntut untuk mampu mengembangkan istilah olahraga berdasarkan langkah-langkah pembentukannya. Anggapan bahwa Pusat Bahasa harus menyiapkan istilah itu pada dasarnya tidaklah demikian.  Siapa pun harus mampu menciptakan suatu istilah, baik kalangan pakar olahraga, praktisi olahraga, pengamat olahraga, maupun wartawan olahraga. Yang penting adalah aturan pemadanannya mengikuti langkah-langkah yang kita sepakati. Adanya pengutamaan penyerapan istilah asing dari penerjemahaan itu menunjukkan bahwa pembentuk istilah akan mudah memadankannya melalui cara ini sehingga padanannya tidak berubah dari konsep bahasa sumbernya.

5.   Penutup

Upaya pemasyarakatan istilah olahraga yang sudah ada akan terwujud apabila media massa berperan aktif bersama-sama Pusat Bahasa. Istilah yang belum ada padannya dapat kita ciptakan untuk mengisi kerumpangan istilah olahraga. Suatu istilah padanan yang masih belum terbiasa kita gunakan lambat laun akan diterima oleh masyarakat. Inilah tugas kita bersama.

Penulis:

Abdul Gaffar Ruskhan

Pusat Bahasa, Depdiknas

 ‘Makalah yang disajikan dalam diskusi “Istilah Olahraga” yang dilaksanakan oleh tabloid Bola dan Forum Bahasa Media Massa, Kamis, 28 September 2004 di Bentara Budaya Jakarta.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: