Bahasa Olahraga Kita

Tidak lama setelah menyetorkan naskah berita yang baru selesai saya ketik, seorang bos di tempat saya bekerja mendatangi saya. “Yang you maksud dengan grandfinal ini apa? Kalau babak untuk penentuan juara, cukup final saja,” katanya. “Ini istilah yang dipakai panitia, saya cuma mengutip kata yang mereka pakai,” jawab saya. “Tapi itu salah,” kata si bos berkeras. “Nanti pengertiannya dianggap mereka keliru kalau istilahnya diganti,” jawab saya lagi.

          Dalam kamus Inggris-Indonesia Hassan Shadily-John M Echols, baik dari entrygrand maupun final, tidak bisa ditemukan kata grandfinal itu. Bos saya yang jago bahasa Inggris itu tampaknya tidak bisa menerima logika yang saya sampaikan. Tapi dia diam saja mungkin karena seumur hidup dia tidak pernah meliput olahraga.

          Kejadian itu sekitar tahun 1985-1986. Saya meliput kejuaraan sofbol di Lapangan Cemara Tiga, Senayan, kalau tidak salah kejuaraan nasional. Sistem kompetisi yang dipakai disebut stepladder, yakni berjenjang dan ada play-off  yang juga digunakan di banyak olahraga lain seperti dayung, balap sepeda,  untuk nomor tertentu. Tim yang menang terus mendapat tiket final dan menunggu penantang dari tim-tim yang sempat kalah. Pertemuan dua  tim untuk penentuan juara inilah yang diistilahkan dengan grandfinal yang dikecam bos saya tadi.

          Panitia tentu menganggap istilah grandfinal sebagai istilah teknis di cabang sofbol, dengan pengertian khusus, yang sudah dipahami masyarakat sofbol meskipun sebagai kata umum ada pengertian lain. Bos saya bertolak dari anggapan, grandfinal memiliki arti yang berbeda, karena artinya final yang grand, yaitu agung, besar, seperti grandslam, grandprix. Padahal peristiwa yang saya laporkan hanyalah seperti final kejuaraan nasional lainnya yang mempertemukan dua tim untuk menentukan juara. Jalan tengahnya, kalau masih ada ruang sebaiknya saya memakai kata final saja namun tetap menyebut istilah khusus grandfinal sebagai kata ganti.

          Final  sudah  menjadi  kosakata  Bahasa  Indonesia  sehingga  amat  jarang diterjemahkan sebagaimana negara tetangga kita selalu menggunakan istilah putaran akhir. Dari segi ekonomi kata jelas lebih baik pakai final, begitu pula dan segi praktis karena lalu bisa diikuti dengan perdelapan final, perempat final, semifinal. Sementara kalau pakai putaran akhir maka penulis tentu harus konsisten dengan pemakaian babak pertama, babak kedua, babak keempat, atau delapan besar, empat besar, dsb.

          Idealnya media di Tanah Air berupaya semaksimal mungkin memakai bahasa Indonesia tetapi kadang muncul kesulitan karena begitu banyaknya jenis olahraga yang hidup di dunia ini sehingga belum semuanya mendapat padanan dalam bahasa Indonesia. Apalagi ada kesan wartawan olahraga juga malas melakukan eksperimen, terutama kalau itu menyangkut olahraga yang kurang populer. Perkecualian barangkali terjadi di cabang sepak bola, karena di sini padanan alias terjemahan sekenanya banyak dilakukan sehingga kita akan mudah menemui kata seperti skuad, top skorer, korner, meski kita juga sudah agak lama mengenal tiang jauh, sepak pojok, lemparan ke dalam, poros haling, dan pada saat yang sama hadir juga striker, kick-off, golden goal.

Terkesan ada tren alias musim-musiman dalam pengindonesiaan istilah ini. Dulu di zaman Achmad Tahir, bowling dijadikan boling, softball dijadikan sofbol, baseball menjadi bisbol. Tetapi di sisi lain ada istilah yang sudah puluhan tahun hidup dan kini belum juga diganti seperti offside, sprinter, break, road race. deuce, game point, match point, jab, hook, bahkan start dan finish. Mungkin ada satu dua yang sudah coba diganti dengan istilah lokal namun karena tidak populer, akhirnya tenggelam dan tidak lagi dipakai.

Ada berbagai alasan mengapa wartawan terkesan malas mencari padanan istilah-istilah asing tadi. Pertama adalah kurang peduli. Meskipun fungsi media adalah untuk menyampaikan pesan bagi pembacanya, tidak semua wartawan menganggap penting kejelasan pesan itu. Seolah-olah karya jurnalistiknya adalah karya sastra jadi soal mengerti atau tidak tergantung pada si penerima pesan.

Kedua, tidak mampu. Menjadi wartawan sebetulnya berarti menyandarkan hidup pada keandalan dalam menguasai bahasa, tetapi harus diakui banyak wartawan yang bila dites akan ketahuan punya pengetahuan bahasa pas-pasan. Bukan cuma bahasa asing tapi bahkan bahasanya sendiri. Kata yang dipakai itu-itu saja, istilah yang suka digunakan di kalimat-kalimatnya mungkin tidak ada bedanya dengan lima tahun lalu karena bank kata tidak pernah/jarang diisi.

Ketiga, barangkali, faktor waktu. Wartawan media harian atau elektronik biasanya bertarung dengan waktu pada saat menghasilkan berita/tulisan. Pada saat demikian maka yang mereka utamakan adalah kecepatan untuk menyampaikan pesan, bukan keindahan ataupun kekayaan isi atau kata-kalimat yang digunakan.

Ketiga hal di atas bisa diperbaiki bila ada keinginan berkembang dalam diri wartawan serta fasilitas dan suasana mendukung di tempat kerja. Editor berperan besar untuk menggiring wartawannya membiasakan diri memakai bahasa Indonesia tetapi itu tentu bila dia memiliki pengetahuan dan keprihatian terhadap masalah itu.

Yang paling ideal media mempunyai lembaga bahasa yang menjadi pemantau penggunaan istilah asing (tidak cuma di bidang olahraga). Lembaga ini dapat membuat kesepakatan dengan kru redaksi untuk memasang target penggunaan istilah asing sampai titik seminimal mungkin dalam jangka waktu tertentu. Tetapi saya tidak tahu apakah media merasa punya kepedulian atas masalah ini.

          Melihat  bahasa  liputan  olahraga sekarang bisa dikatakan  belum ada perkembangan dari apa yang terjadi puluhan tahun lalu, saat bangsa ini masih dijajah sehingga Bahasa Indonesia belum menjadi “tuan rumah” di negeri sendiri. Contoh-contoh yang ada memperlihatkan pemakaian bahasa asing seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berita olahraga. Tentu saja setiap zaman memiliki perbedaan dalam hal menyikapi dan mewujudkan kehadian istilah asing itu.  Saya kira ini dapat menjadi kajian yang menarik bagi Pusat Bahasa, dan diskusi hari ini.

Terima kasih.

 Penulis:

Hendry Ch Bangun

Warta Kota

Makalah ini disampaikan dalam diskusi Forum Bahasa Media Massa.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: