Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai Sumber Acuan Utama Para Penyunting

KBBI dari masa ke masa

Sebelum menyampaikan pengalaman saya menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai sumber acuan utama dalam tugas menyunting naskah di Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, terlebih dulu saya akan menetapkan singkatan yang mengacu pada tiga edisi KBBI, yaitu:                                         

H     =  KBBI edisi pertama, 1988, bersampul hijau.

B     =  KBBI edisi kedua, 1991, bersampul biru

M    =  KBBI edisi ketiga, 2001, bersampul merah.

H disusun di bawah pimpinan Bapak Anton M. Moeliono sebagai Penyunting Penyelia dan memat 62.100 masukan. Tampilan fisiknya lebih tebal karena kertas yang digunakan adalah HVS (70 gr?). Running head-nya kecil di sudut kanan-kiri atas setiap halaman, tanpa thumb-index.

B disusun di bawah pimpinan Bapak Harimurti Kridalaksana sebagai Pemimpin Redaksi dan memuat 72.000 masukan. Secara fisik B lebih tipis daripada H karena kertas yang digunakan jenis bible paper yang tipis tapi kuat. Pada B running head dilengkapi dengan titik yang menandai pemenggalan kata. Thumb-index belum ada. Setiap masukan dalam B diberi pemenggalan kata. Label kelas kata, label bidang ilmu dan label semantik regional yang belum ada pada H, pada B ditambahkan untuk masukan-masukan yang dianggap perlu dijabeli.

M disusun di bawah pimpinan Bapak Hasan Alwi sebagai Pemimpin Redaksi. Konon M memuat kurang-lebih 78.000 lema. Sepintas ketebalannya hampir sama dengan B,  tetapi sesungguhnya terpaut kira-kira 100 halaman. Lema dilengkapi titik penanda pemenggalan kata. Running head dicetak dengan poin huruf lebih besar, tebal, jelas dan diletakkan hanya pada sudut luar atas setiap halaman. M dilengkapi dengan thumb-index. Dalam Kata Pengantar untuk M ditulis bahwa M merupakan hasil pemeriksaan ulang atas B. Adapun pemeriksaan ulang tersebut meliputi:

   definisi à memutakhirkan makna agar sesuai dengan perkembangan pemakaian bahasa dalam kehidupan masyarakat.

   contoh pemakaian à tema-lema yang berhubungan diselaraskan; misalnya lema untuk hari, tahun, ukuran, satuan dan timbangan; contoh pemakaian mengikuti perubahan definisi;

   ketaatasasan à pada sistem yang terlihat pada deret bentuk yang mempunyai pertalian makna atau paradigma, contoh lema praktik diberi definisi karena terdapat paradigma: praktis, praktikum, praktisi; lema praktek dimuat sebagai variasi yang tidak dianjurkan penggunaannya.

Sebagai catatan, H dan B memilih kata masukan untuk pengertian entry, sedangkan M memilih kata lema. Ketiga kamus tersebut memuat lema sebagai entry dengan definisi yang kurang lebih sama (pada H definisinya lebih mendetail); tetapi ketiganya tidak memuat definisi kata masukan—sebuah  sublema—yang  mengacu pada entry. H à lema/511, masukan/564; B à lema/579, masukan/635, dan M à lema/654, masukan/721.

KBBI sebagai sumber acuan utama

Kapankah seorang penyunting yang sedang menyunting naskah membuka KBBI? Di lingkungan kami berlaku sikap “kalau bisa tanya, tanya, kalau udah mentok buka KBBI”. Boleh dikatakan KBBI baru dipilih ketika jalan lain sudah tertutup. Lebih enak dan lebih akrab bertanya kepada rekan yang dianggap bisa memberikan jawaban memuaskan daripada sebentar-sebentar membuka-buka KBBI yang tebal. Tapi, dan waktu ke waktu, ada saja jawaban yang tidak memuaskan, yang umumnya dimulai dengan “Menurut saya …” atau ”Waktu saya sekolah dulu …” atau diakhiri dengan “…tapi itu menurut saya, lho.” atau “Coba cek di KBBI’. Nah, di sinilah masalahnya. Ada rekan yang mengatakan ‘Di H begini, di B diubah, lalu di M beda lagi. Bagaimana?” Memang, di GPU ada penyunting yang mendapat jatah B, ada yang mendapat jatah M. Sumber acuan berbeda, jadi mungkin saja memang tidak klop.

Nah, dari waktu ke waktu di lingkup kecil para penyunting—bahkan  dalam lingkup sekecil redaksi bidang tertentu—disepakati suatu ragam selingkung yang berlaku setempat. Tentu saja, sebelum memutuskan pilihan bentuk atau aturan kebahasaan tertentu, KBBI—dalam  hal ini M—tetap dijadikan sumber acuan utama untuk:

a.    ejaan

b.   pemenggalan kata

c.   definisi atau arti untuk kata-kata yang tidak dikenai/diragukan oleh penyunting

d.  penggunaan tanda hubung

e.   tata tulis.

Yang kami cari dan temukan dalam KBBI

Tugas utama seorang penyunting adalah membuat sebuah naskah—yang semula mentah, setengah matang, kurang lengkap, berlebihan, kacau, ruwet, dsb—menjadi  siap disajikan sebagai buku yang enak dibaca, tepat pilihan kata dan ragam bahasanya, baik struktur bagian-bagiannya, dst.

Kerja itu tidak terlepas dan detail-detail yang berkaitan dengan ejaan, pemenggalan kata, definisi kata, penggunaan tanda hubung, dan tata tulis yang membutuhkan satu sumber acuan baku (KBBI). Dalam tulisan ini, saya hanya akan membahas beberapa saja.

1. Dengan huruf e à  [+e]

Kata-kata berikut dieja seperti ini: cokelat, cengkeram, karier, kelab malam, kesatria, sakelar, tenteram, terampil à bukan coklat, cengkram, karir, klab malam kstaria, saklar, tentram, atau trampil.

1. cokelat dalam H (171) didefinisikan ringkas; sedangkan dalam B (193) dan M (218) didefinisikan lebih panjang dan lengkap.

kesatria dalam H (432) didefinisikan: 1 kasta bangsawan atau kasta prajurit (kasta kedua dalam magyarakat Hindu); 2 orang (prajurit, perwira) yang gagah berani; pemberani.

Dalam B (492) dan M (559) arti 2 dalam H menjadi arti 1 dan arti 1 menjadi arti 2. Dalam B ditulis ke.sat.ri.a sedangkan dalam M ditulis ke.sat.ria.

sakelar dieja sama dalam H (769), B (863), dan M (980), tetapi hanya definisi dalam H yang dilengkapi contoh pemakaian dalam kalimat.

2. Tanpa huruf e à> [-e]

Kata-kata berikut dieja seperti ini: indra, lotre, Prancis, slang (pembuluh karet), sutra, trompet à bukan indera, lotere, Perancis, selang, sutera, atau terompet.

indra dalam H (330) adalah 1 raja; 2 nama seorang dewa yang menguasai angkasa.

indria pada halaman yang sama, dirujuk ke indera di halaman 329, yang didefinisikan sebagai ‘alat untuk merasa, mencium bau’, dst. Dulu taman kanak-kanak di lingkungan Perguruan Taman Siswa disebut Taman Indria.

Definisi indria dalam H ini sama dengan definisi indra dalam B (377) dan M (430).

lotre dieja sama di ketiga kamus; H (533), B (603) dan M (684).

Prancis tidak ditemukan sebagai lema, tetapi dalam lampiran daftar mata uang di H tertulis Perancis, dan di B dalam lampiran Nama Negara dan Negeri tertulis Prancis; begitu pula di M (dalam lampiran Nama Negara, lbu kota, Mata Uang dan Bahasa). Dalam buku Inul ltu Diva terbitan Penerbit KOMPAS, tertulis Perancis (hlm 10).

sutra dalam H (876) tertulis sutera dan didefinisikan sebagai ‘zat berbentuk benang yang dihasilkan oleh ulat sutera’. Dalam B (982) dan M (1112) tertulis sutra. Definisi dalam B kurang lengkap, yaitu ‘benang halus dan lembut yang dihasilkan ulat’. Definisi dalam M yang paling memadai, yaitu ‘benang halus dan lembut yang berasal dan kepompong ulat sutra’.

trompet dalam H (939) tertulis terompet, begitu pula dalam B (1048) dan M (1185), yang berturut-turut dirujuk ke lema trompet (B = 1073 dan M = 1211).

Dalam pembentukan derivasinya terdapat perbedaan antara B dan M:

B  =  me.nrom.pet.kan; pe.nrom.pet

M =  men.trom.petkan; pen.trom.pet

3. Tanpa huruf h à [-h]

Kata-kata berikut dieja seperti ini: adang, embus, empas, entak, isap, utang, bukan hadang, hembus, hempas, hentak, hisap, atau hutang.

adang, mengadang dieja sama dalam ketiga kamus (H = 5, B = 5, M = 6), sementara lema hadang dirujuk ke adang (H = 290, B = 333, M = 380).

embus ditulis sama dalam ketiga kamus (H = 227, B = 260, M = 297). Tetapi dalam H dan B tidak ada lema hembus, sementara di M kata hembus (395) dirujuk ke lema embus.

empas tertulis demikian di H (228), B (260) dan M (298).

Bentuk variasinya, yaitu hempas, tidak terdapat di H; tetapi ditemukan di B (347) dan M (395) yang masing-masing diberi definisi yang mirip serta contoh pemakaian yang beberapa sama dengan lema empas. Jadi, menurut B dan M kedua lema tersebut sah.

entak ditulis demikian di H (232), B (266) dan M (303).

Dalam ketiga kamus tersebut tidak ditemukan lema hentak sebagai bentuk variasinya, padahal di masyarakat kadang-kadang kita temukan penggunaannya.

hisap dan hutang dalam ketiga kamus dirujuk ke isap dan utang.

hisap        à H = 310, B = 355, M = 405

hutang     à H = 317, B = 363, M = 414

4. Pilih u atau o?

Berikut ini beberapa contoh bahan perdebatan “klasik” yang belum saya cocokkan dengan H, B, maupun M.

telur         telor

saus         saos

sup           sop

rubuh      roboh

surga       sorga

separuh   separo (=setengah)

5. Tanda hubung

Tanda hubung ini membuat saya bingung.

Mengapa caci maki dan lambat laun tidak perlu diberi tanda hubung, sementara cerai-berai, simpang-siur dan sangkut-paut perlu diberi tanda hubung?

Dalam ketiga kamus, caci maki (H = 144, B = 164, M = 185) dan lambat laun (H = 490, B = 557, M = 630) tidak diberi tanda hubung. Pada ketiga kamus tersebut juga ditemukan lema maki dan laun yang maknanya sama atau hampir sama dengan makna lema caci dan lambat.

Cerai-berai ditulis sama di H (164), B (185) dan M (209) dan masing-masing kamus juga memuat lema berai (H =105, B = 120, M = 137) lengkap dengan definisi dan bentuk-bentuk derivasinya seperti berberaian dan memberai-beraikan.

Hanya di M (1067) simpang siur ditulis tanpa tanda hubung; di H (841) dan B (942) dengan tanda hubung. Di ketiga kamus tersebut siur merupakan lema tersendiri (H= 850, B = 952, M = 1078), tetapi tidak diberi definisi, hanya ditunjuk ke lema simpang siur. Jadi, dalam hal ini siur boleh disebut sebagai morfem unik yang keberadaannya baru terlihat jika berpasangan dengan simpang.

Hal yang sama berlaku untuk lema sangkut paut yang tidak diberi tanda hubung di M (996), tapi diberi di H (782) dan B (877); sementara paut merupakan lema tersendiri yang didefinisikan (H = 655,B = 737, M = 838).

Jika ditilik dari segi maknanya—kecuali  siurmaki , laun, berai, dan paut semuanya adalah morfem bebas yang bisa diderivasikan dengan afiksasi.

Dalam M, dari kelima contoh di atas, hanya cerai-berai yang diberi tanda hubung. Pertanyaannya, kriteria apakah yang digunakan untuk menentukan digunakannya atau tidak digunakannya tanda hubung?

6. Satu kata atau dua kata?

Penulisan kata-kata berikut ini belum saya cocokkan ke H, B, maupun M;

beritahu      beri tahu

kerjasama  kerja sama

kosakata    kosa kata

kasatmata            kasat mata

kadangkala         kadang kala

lagipula      lagi pula

seringkali    sering kali

andaikata            andai kata

adakala     ada kala

barangsiapa         barang siapa

jururawat            juru rawat

7. Penulisan dan penyerapan kata asing

Kata asing ditulis dengan huruf miring apabila ejaannya tidak diubah. Dalam proses penyuntingan, kadang-kadang dipertimbangkan untuk mencari padanannya dalam bahasa Indonesia—jika ada—atau menuliskannya dengan ejaan yang diindonesiakan.

Contoh kata-kata asing yang ejaannya diindonesiakan :

fashion       à fesyen

shooting     à syuting (film)

pie              à pai

garnish      à garnis

computer   à komputer

keyboard             à kibor (alat musik)

cafe            à kafe

jeans           à jins

barbecue              à barbekyu

beefsteak             à bistik

steak         à stik, steik (?)

shock          à syok (H = 878, B = 984, M = 1115).

Contoh kata-kata asing yang mempunyai “padanan” bahasa Indonesia:

self-service à swalayan

skyscraper à pencakar langit

site              à situs (arkeologi)

website       à situs web (?)

                   à laman (?)

keyboard    à papan kunci (?) (komputer)

                   à papan ketik (?)

sandwich    à roti lapis (?)

                   à roti apit (?)

                   à roti jepit (?)

interface     à antarwajah (?)

8. Kata-kata hasil kreativitas bahasa iklan

Pertambahan jumlah stasiun teve swasta demikian pesat. Begitu pula pertambahan jam tayang, ragam tayangan, dan … tentu saja iklan.

Kita semua tahu bahwa iklan audi-visual sekarang ini semakin bervariasi dan kreatif, baik dari tampilannya maupun dan sudut penggunaan bahasanya.

Apakah kata-kata berikut ini akan kita muat dalam edisi revisi KBBI yang berikutnya? Ataukah cukup disajikan dalam lampiran mengenai “kata-kata baru”?

jos, ngejos

jreng, ngejreng

(biar) greng

ngebor

goyang patah-patah

Peran Forum Babasa Media Massa

Beberapa hari yang lalu di milis (mail-list) FBMM terjadi diskusi seru tentang makna kata pemekaran—pemekaran  Papua—dan  kata mungkin vs kemungkinan. Sungguh menarik menyimak diskusi lewat dunia maya tersebut.

Acara diskusi yang rutin diadakan oleh FBMM, selain penting untuk silaturahmi juga penting untuk ajang tukar pikiran mengenai bahasa Indonesia yang kita gunakan sehari-hari di lingkup pekerjaan kita masing-masing. Semoga semua diskusi yang penting dan kesimpulan yang bernas dicatat dan disebarluaskan.

Sejak lima belas tahun yang lalu, BPPT telah mengembangkan program-program penggunaan bahasa Indonesia untuk komputer dan salah satu hasilnya adalah fasilitas TTS (text-to-speech) untuk pengguna komputer yang tunanetra. Beberapa tahun terakhir ini, para ahli komputer yang berkutat dengan pemrosesan bahasa Indonesia dalam komputer mulai mengajak orang-orang linguistik untuk bekerja sama dalam usaha mereka untuk menjadikan bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa terpenting di dunia –sekurang-kurangnya dalam forum ASEAN mengingat penutur bahasa Melayu (dan variasinya) di lingkup ini paling besar jumlahnya. Warga ASEAN sekitar 600 juta, sementara Indonesia sendiri menyumbang sekurang-kurangnya 200 juta penutur. Para ahli komputer di BPPT mengelola laman yang disebut FORTEKBA -Forum Teknologi dan Bahasa—untuk menjadi ajang diskusi para linguis dan para pakar teknologi informasi.

Perkembangan teknologi informasi sangat pesat. Kita yang bekerja di dunia media massa mau tak mau harus bisa mengikutinya. Sekarang ini, bicara tentang informasi berarti bicara tentang teknologinya dan bahasa yang digunakan sebagai sarananya. Karena itu, di masa yang akan datang peran FBMM bisa ditingkatkan. Bukan hanya terbatas mendiskusikan penggunaan, pemilihan, dan penulisan kata-kata, tetapi lebih luas dan itu.

Penulis:

Widya Kirana

Gramedia Pustaka Utama

Disampaikan dalam diskusi bulanan Forum Bahasa Media Massa  (FBMM) 

dengan tema “Bedah Kamus Besar Bahasa Indonesia” Jakarta, 30 September 2003, Gedung Kelompok Kompas Gramedia Lt. V Jalan Palmerah Selatan 26-28, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: