Kamus dan Bahasa Pers

Kamus merupakan salah satu bentuk konkret standardisasi bahasa. Rujukan bagi kosa kata yang berstatus baku dan nonbaku dicakupkan ke dalam kamus. Namun, lebih dari itu, kamus juga mencatat perkembangan suatu bahasa dan penggunaannya. Salah satu rujukan bagi perkembangan bahasa dan penggunaannya adalah media massa. Hubungan inilah yang membuat media massa atau pers berperan penting baik dalam menyumbangkan, mengabadikan, maupun meluaskan bentuk baru perkembangan suatu bahasa.

Namun, perkembangan bahasa dan kamus ternyata tidak berjalan seiring. Penyusunan kamus yang melalui proses panjang dan berliku, mulai pengumpulan data, pemilahan status kata, dan seterusnya hingga contoh-contoh bentuk penggunaannya telah membuat sebuah kamus terbitan terbaru pun belum sepenuhnya mencakupkan kosakata terkini yang umum digunakan. Padahal, ada pula proses penghilangan kosa kata yang sudah ada yang dianggap tidak lagi banyak dipakai berbagai kalangan. Di sisi lain, pers—salah satu pengguna bahasa— secara berkesinambungan menghadapi fenomena-fenomena baru bahasa. Pers, misalnya, ‘harus’ mengikuti  perkembangan  dunia  kedokteran  dan  ekonomi  yang  telah membuat kesepakatan tersendiri dalam bahasa yang mereka gunakan. Sekadar contoh, dunia kedokteran Indonesia telah menggunakan konsil dan prosiding untuk padanan council dan proceeding. Padahal, konsil dan prosiding hingga kini belum dibakukan ke dalam kamus, dalam hal ini Kamus Besar Bahasa Indonesia. Demikian pula kalangan yang berkecimpung dalam ekonomi telah melanggengkan promes untuk padanan promissory. Sebagaimana konsil dan presiding, bentuk itu belum juga tampak dalam kamus ekabahasa Indonesia.

Demikianlah, voting, monitoring, printer, presenter, diva, dan berbagai kata lainnya masih menunggu untuk diputuskan masuk sebagai kosa kata dalam kamus ekabahasa Indonesia sementara penggunaannya telah lazim.

Kamus juga mengandung persoalan intern yang mesti dibereskan. Penulisan kata, misalnya, masih menunjukkan inkonsistensi. Dalam kasus ini bisa disebutkan bentuk andai kata yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia III edisi 2001 dicantumkan melalui dua bentuk, andai kata dan andaikata. Manakah yang benar, yang dipisah atau disambung? Bentuk budi daya dan pembudidaya pun bisa membingungkan. Selain itu, bentuk-bentuk yang mengalami peluluhan—kata berawalan konsonan tunggal k, p, s, dan t—apabila diberi imbuhan  me(n)- + -/ dan me(n)- + -kan belum dicantumkan secara konsisten. Untuk lema berawalan p, Kamus Besar Bahasa Indonesia telah menetapkan percaya, perhati, dan pengaruh luluh menjadi memercayai, memerhatikan, dan memengaruhi. Namun, tema punya masih belum diluluhkan sehingga bentuk mempunyai masih dianggap yang benar meskipun teori bahasanya mengharuskan sebaliknya.

Untuk lema berawalan s, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 2001 masih menyisakan bentuk ‘bermasalah’ mensosialisasikan (seharusnya menyosialisasikan) dan untuk lema berawalan k, masih mempertahankan bentuk mengkaji dan pengkajian yang maknanya dibedakan dari mengaji dan pengajian. Apalagi ada BPPT alias Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang tampaknya ‘mengukuhkan’ perbedaan mengkaji dan mengaji.

Dari sisi penggunaan bahasa dalam media massa, kesediaan para jurnalis untuk mengecek sisik melik penggunaan kata masih kurang memadai sehingga kerap dijumpai bentuk-bentuk yang menyalahi kaidah. Ambil contoh, penggunaan kata depan di dan imbuhan di-. Penulisan semisal di tempat kejadian perkara, di hadapan majelis hakim, di balik pintu dan di pukul rata masih dapat dijumpai di beberapa penerbitan. Yang juga kerap ditemui adalah pengadopsian kata cakapan mentah-mentah menjadi seolah-olah kata baku, di antaranya nonton, ngotot, makanya, ketemu, dan ngobrol.

Pers yang selalu akrab dengan tenggat atau deadline pun sering silap dalam memilih kata. Jadilah, bentuk anarki (kekacauan), anarkis (pengacau), anarkistis (kacau), dan anarkisme (paham antihukum dan pemerintahan) dipukul rata dengan satu kata: anarkis. Sama halnya dengan optimis, optimistis, optimisme, pesimis, pesimistis, dan pesimisme, yang kerap muncul adalah optimis dan pesimis. Bentuk pewaris (pemberi warisan) dan ahli waris (penerima warisan) masih tertukar. Jemaah dan massa yang mengandung pengertian jamak pun kadang dipergunakan seolah keduanya bermakna singularis.

Kesempatan yang ada saat ini, tentu, bukanlah melulu dipergunakan untuk menghakimi dan memojokkan kalangan pers dan penyusun kamus. Forum kali ini ditujukan untuk kita bersama-sama berdiskusi dan membedah persoalan yang masih muncul dari kamus yang menjadi rujukan berbahasa dan pers yang berstatus pengguna sekaligus sumber perkembangan bahasa kita. Dengan demikian, ada titik terang bagi perkembangan kamus, bahasa pers, dan bahasa Indonesia secara keseluruhan yang seiring.

Bukankah membingungkan jika kamus yang dijadikan rujukan—misalnya— tiba-tiba  mengubah  standarnya  sehingga  apa  yang  telah  dianggap  baku  menjadi nonbaku? Untuk kasus ini, beberapa lema dapat diajukan sebagai contoh. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III 2001 memilih pulp, debitur, etnik, kreditor, dan paruh sebagai kata baku, sedangkan edisi sebelumnya (1999) menempatkan pulpa, debitor, etnis,  paro,  dan  kreditor sebagai  kata  baku. Apakah yang mendasari perubahan itu? Apakah semata karena perubahan kiblat dari bahasa Belanda, semisal kata etnis, ke bahasa Inggris, yakni etnik? Bagaimana dengan debitor yang menjadi debitur, tetapi kreditor tidak berubah?

Tulisan ini ditujukan untuk menyegarkan kembali kita agar kesempatan yang disediakan untuk membahas dan mendiskusikan kamus dan bahasa pers kita dapat dipergunakan secara optimal dengan dialog dan perbincangan yang hidup dan bernas. Mari.

Penulis:

Haerul FathonyJln. Pilar Raya Kav A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jenik, Jakarta Barat 27 Februari 2003

Media Indonesia

Pertemuan Forum Bahasa Media Massa, Gedung Media Indonesia, Kompleks Delta Kedoya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: