Olahraga sebagai Dapur Istilah

Agustus atau September, hingga berakhir di bulan Mei tahun berikutnya, adalah masa di mana istilah-istilah bahasa bisa berkembang lewat saduran yang didapat dari sepak bola internasional. Saat itu Liga Inggris, Italia, dan Spanyol, serta Liga Champion Eropa sedang menjalankan tugasnya untuk menghibur pemirsa di Indonesia secara gratis. Kenapa ada penekanan di Indonesia? Ya, karena hanya di negeri ini lebih dari 10 pertandingan sepak bola per pekan bisa disaksikan langsung dari layar kaca. Suatu hal yang bahkan tak bisa dirasakan secara gratis di negeri asal liga yang bersangkutan.

Ini  tentu  belum  ditambah  siaran  langsung  dari  non-sepak bola, seperti Formula I, GP Motor, bola basket NBA, tinju, tenis, dan bulu tangkis. Cabang lainnya juga muncul secara rutin atau insidentil.

SUMBER ISTILAH

1. Sepakbola Internasional

Dampak paling terasa betapa olahraga merupakan dapur istilah bagi bahasa adalah kata scudetto. Tanyakan pada anak-anak SD atau SMP sekarang, apa itu scudetto. Sebagian besar pasti tahu jawaban yang menggambarkan juara Liga Italia Seri-A tersebut. Mereka tak mau tahu bahwa arti harfiah scudetto adalah lencana, lambang yang oleh Asosiasi Sepak Bola Italia (FIGC) wajib dikenakan tim juara pada kostum mereka. Mengikuti scudetto, espulso (diusir ke luar lapangan karena terkena kartu merah), ammonito (peringatan setelah mendapat kartu kuning), menjadi istilah-istilah yang akrab juga dalam percakapan anak-anak sekolah karena ketika menonton di televisi, kata-kata tersebut tercantum di layar kaca.

Dari Liga Inggris, istilah muncul seiring dengan kebintangan David Beckham, apalagi beberapa saat setelah ia ditunjuk menjadi kapten timnas Inggris. Skipper, istilah ini sama sekali belum mengemuka sebelum Beckham menjadi kapten. Dulu yang top hanya The England Captain. Untuk membuat lebih gagah, sejalan dengan fisik Beckham yang memang mendukung untuk itu, maka The England Skipper pun ikut-ikutan  ngetop.  Skipper  itu  bukan  sekadar  kapten  tim olahraga,  tapi juga  kapten  di  laut  (kapal)  atau  udara (pesawat). Makanya, tingkat kegagahannya menjadi bertambah. Herannya, istilah skipper ini di Inggris pun dikembangkan lagi, yakni bukan hanya mengacu pada status seseorang sebagai kapten. Seorang gelandang, atau bahkan bek yang sering maju ke depan, sudah bisa disebut skipper. Sementara itu, satu istilah baru yang kini coba dikembangkan oleh pers lnggris adalah The Gaffer (penanggung jawab) untuk menjadi alternatif kata manager.

2.  Formula I dan GP Motor

Pit stop, sulit untuk tidak menyebut kata ini kalau kita membicarakan F-l. Pit stop adalah saat di mana seorang pembalap masuk ke pit di tengah lomba untuk mengisi bahan bakar dan atau mengganti ban. Tapi, seperti halnya sepak bola, F-l dan juga GP Motor adalah tempat di mana istilah-istilah lama diporakporandakan menjadi istilah-istilah baru.

Outpace adalah istilah umum untuk menunjukkan kondisi mengalahkan lawan dengan memiliki sesuatu yang lebih kencang dibanding lawan. Berasal dari situ, muncullah istilah-istilah outqualify, outbrake, dan banyak  lagi.

Outqualify adalah istilah untuk menunjukkan seorang pembalap mengalahkan pembalap lain di sesi kualifikasi.

Sedangkan outbrake dipakai pada situasi di mana seorang pembalap berani mengerem lebih lambat memasuki tikungan ketimbang pembalap di sampingnya.

Juga adalah istilah yang amat lazim di F-l dan GP Motor, yakni overlap, yang terinspirasi dari kata overtake. Bila overtake masih sejalan dengan definisi di kamus, menyusul, maka overlap jauh sekali artinya dari apa yang tertera di kamus, yang salah satunya berarti saling melengkapi. Overlap di F-1 dan GP Motor itu bermakna menyusul satu putaran.

Ada pula istilah yang tak kalah sering jadi bahan omongan, slipstream. Aslinya ini adalah kata benda, yang merujuk pada sisa udara atau angin yang berasal dari benda yang bergerak cepat seperti mobil atau pesawat udara. Tapi, begitu masuk F-l dan GP Motor, slipstream bisa menjadi kata kerja yang berarti membuntuti atau mengikuti secara ketat sambil menempel lawan yang ada di depan. Tujuannya untuk mengambil keuntungan, siapa tahu bisa menyusul dengan melakukan outbrake di tikungan.

Pit stop, outqualify, outbrake, overlap, dan slipstream adalah lima dari  banyak  istilah  yang  biasa  dipakai  dalam percakapan, lisan atau tulisan (e-mail), di kalangan penggila motorsport (olahraga kendaraan bermotor). Mereka tak bisa melepaskan kata-kata itu karena jauh lebih enak di telinga dan rata-rata satu sama lain sudah saling mengerti. Selain sepak bola internasional, F-1, dan GP Motor, tentu banyak lagi istilah yang berasal dari cabang lain.

KENAPA BISA MENJADI AKRAB DI TELINGA?

Pers memang menjadi kekuatan yang dahsyat bila ditujukan untuk membentuk opini publik. Itu pula alasan pertama yang dikedepankan kenapa semua istilah-istilah itu menjadi akrab di telinga dan bahkan “berdosa” kalau tak mengucapkan atau menyebutkannya dalam bahasa pergaulan mereka, baik itu di dunia nyata maupun maya. Dengan ekspos yang berantai tanpa henti, di media cetak dan apalagi online, pastilah istilah-istilah itu terekam dengan baik di otak para pembaca dan pemerhati olahraga.

Alasan lain, ini yang menyangkut imbas buat Indonesia, adalah siaran langsung yang kontinu. Tanpa ini, mustahil “anak-anak gaul” itu akrab dengan scudetto, pit stop, slam dunk, dan sebagainya. Buat yang tak menyenangi olahraga, mungkin mereka muak melihat sepak bola secara beruntun dan bergantian mengisi layar kaca mereka. Tapi bagi yang suka, mereka malah bingung, mau menonton yang mana ya?

Jangan ‘salahkan’ para sponsor, yang kurang membantu pembiayaan olahraga di Indonesia tapi malah mendatangkan siaran-siaran  yang  bahkan  statusnya  sudah  menjadi tayangan hiburan bukan lagi olahraga semata.

Setelah membaca lalu menonton, yang tak kalah krusial adalah alasan ketiga: tak ada terjemahan yang pas dan enak di telinga. Kalaupun ada, kepanjangan dan tetap tidak gagah dan berwibawa untuk diucapkan. Apa terjemahan singkat pit stop? Apa arti yang pas untuk menggantikan slam dunk?

BOLA sendiri menganut paham selama masih bisa diartikan, yang berarti memperkaya kosa kata, maka kami akan memakainya. Salah satu contoh adalah 3-point shoot yang bisa diartikan singkat tembakan 3-angka.

KENAPA OLAHRAGA INDONESIA MISKIN ISTILAH?

Dan pengalaman BOLA mengelola tabloid olahraga selama 20 tahun, maka olahraga bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah olahraganya  orang  asing. Kecuali bulu tangkis, tentu. Harus diakui, penggila olahraga di sini masih foreign-minded. Karena itu, mereka biasanya tak tahu atau bahkan tak mau tahu ada istilah-istilah baru dari dunia olahraga Indonesia. Selain, memang, daftar istilah itu amat miskin dan biasanya tercipta untuk julukan sebuah klub. Misalnya Bajul Ijo untuk Persebaya, Macan Kemayoran untuk Persija, atau Maung Bandung untuk Persib. Selebihnya, amat minim seperti sepak bola rap-rap ala PSMS Medan yang berarti sepakbola keras dan kasar.

Alasan minim-istilah ini tentu mengacu kepada lawan dari alasan-alasan kenapa istilah-istilah asing mudah diserap. Pers, dengan segala keterbatasan  informasi,  tak  banyak mengulas, lalu juga ada dampak dari miskinnya siaran langsung. Alasan ketiga, terjemahan dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia, semestinya tak terlalu besar pengaruhnya karena biasa terucap dalam percakapan sehari-hari. Selain itu, hampir semua olahraga yang diminati di seluruh dunia sekarang tidak berasal dari Indonesia. Pencak silat, yang amat mengindonesia, tidak terlalu populer sebagai cabang yang ingin ditonton atau dibaca.

Siapa yang bertanggung jawab? Pers sepertinya terdepan. Tapi, pers tak bisa membangun banyak istilah karena imbas dari buruknya prestasi olahraga Indonesia dalam 10 tahun belakangan. Justru faktor ini malah memicu terciptanya istilah-istilah negatif, seperti sepakbola gajah, main sabun, dan sebagainya. Kita pun tak bisa memaksa sponsor untuk menayangkan secara rutin kejuaraan-kejuaraan olahraga di Indonesia. Siapa bisa menjamin rating-nya akan tinggi?

Semua istilah yang dibicarakan di atas memang hanya menjadi wacana dalam percakapan sehari-hari. Kata-kata itu belum masuk ke dalam kamus sebagai sebuah istilah baru. Tapi, dalam pergaulan, dampaknya  akan  terasa  karena kesederhanaan dalam pengucapan tadi dan kesamaan pola pikir.  Olahraga  terbukti  telah  berhasil  membuat  sebuah komunitas  bahasa tersendiri yang  tak bisa diabaikan keberadaannya. Masalah apakah istilah itu bisa dimasukkan ke kamus atau tidak, itu urusan lain.

Kami di BOLA sudah melakukan perbedaan antara istilah dan julukan. Istilah, seperti scudetto, kami anggap masih sebagai bahasa asing dan karena itu tetap ditulis miring. Sedangkan julukan, seperti I Rossoneri, The Red Devils, The Rainmaster, The Doctor, The Dream Team, dan banyak lagi, kami anggap sebagai kata ganti seseorang atau klub, sehingga tak perlu lagi kami tulis dengan tulisan miring (italic). Semoga suatu saat BOLA, dan juga media lain yang bergerak di dunia olahraga, bisa menjadi pelopor lahirnya istilah-istilah baru yang berkonotasi positif, yang bisa menjadi buah bibir di kalangan penggila olahraga Indonesia.

Jakarta, 28 September 2004

Penulis:

Arief Kurniawan

Mingguan BOLA

Makalah ini disampaikan dalam diskusi Forum Bahasa Media Massa.

 

 

 

3 Tanggapan

  1. salam kenal

  2. Salam kenal juga. Terima kasih telah berkunjung.

  3. wrq3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: