BIPA, Media Massa, dan Pemasyarakatan Hasil Pengembangan Istilah

1. Pengantar

Mohon dimaklumi jika judul tulisan ini terkesan tidak saling berhubungan antara pokok bahasan yang satu dan lainnya. Hal ini terjadi karena memang ada beberapa informasi yang berbeda yang hendak disampaikan dalam satu kesempatan. Meskipun demikian, mudah-mudahan perbedaan itu justru dapat memberi warna lain yang mampu menambah variasi pertemuan ini.

2. BIPA

Seperti yang sudah diketahui, BIPA merupakan bentuk singkat dari bahasa Indonesia untuk penutur asing alias bahasa Indonesia yang diajarkan kepada orang asing, baik di dalam maupun di luar negeri. Para pengajarnya pun saat ini sudah mempunyai suatu organisasi internasional yang disebut Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing atau APBIPA. Salah satu tujuan dibentuknya organisasi itu adalah untuk menjalin kemitraan dan kerja sama dalam pengembangan pengajaran BIPA ke arah yang lebih profesional. Untuk itu, setiap tiga tahun sekali organisasi tersebut menyelenggarakan konferensi internasional bekerja sama dengan Pusat Bahasa dan lembaga penyelenggara. Pada tahun ini konferensi tersebut akan diselenggarakan di Makassar pada tanggal 6-8 Oktober 2004.

Di tengah era global sekarang ini—seiring dengan kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia—peranan Indonesia dalam kancah pergaulan antarbangsa telah menempatkan bahasa Indonesia sebagai satah satu bahasa yang dipandang penting di dunia. Hal itu juga ditunjang oleh posisi Indonesia dalam percaturan dunia yang semakin hari semakin penting, terutama melalui peranannya, baik dalam turut serta menyelesaikan konflik-konflik politik di berbagai kawasan maupun karena posisi geografis Indonesia yang terletak dalam lintas laut yang sangat strategis. Kenyataan seperti itu telah menyebabkan banyak orang asing yang tertarik dan berminat untuk mempelajari bahasa Indonesia sebagai alat untuk mencapai berbagai tujuan, baik tujuan politik, ekonomi atau perdagangan, seni-budaya, maupun wisata.

Dewasa ini tercatat tidak kurang dari 36 negara yang telah mengajarkan bahasa Indonesia kepada para penutur asing. Di negara-negara yang dimaksud, bahasa Indonesia selain diajarkan di KBRI dan beberapa tempat kursus, juga diajarkan di sejumlah universitas. Di Amerika, misalnya, terdapat 9 universitas yang mengajarkan bahasa Indonesia. Di Jerman terdapat 10 universitas, di Italia lebih dari 6 universitas, dan di Jepang ada 26 universitas. Bahkan, di Australia bahasa Indonesia selain diajarkan di 27 universitas, juga diajarkan di berbagai sekolah menengah. Hal itu belum termasuk sejumlah universitas di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Universitas Katholik Atmajaya, Universitas Nasional (Jakarta), Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), UPI Bandung (Bandung), Universitas Kristen Satyawacana (Salatiga, Jawa Tengah), dan Universitas Negeri Malang (Malang), serta sejumlah universitas lain yang juga telah mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing.

Berdasarkan data yang diperoleh, Jepang tampaknya merupakan negara kedua terbesar di luar negeri—setelah Australia—yang telah mengajarkan bahasa Indonesia kepada orang asing. Seperti yang disebutkan oleh Yumi Kondo (2003), Ketua Himpunan Penyelenggara Ujian Bahasa Indonesia se-Jepang, bahasa Indonesia di Jepang diajarkan di enam universitas sebagai mata kuliah wajib pada jurusan bahasa Indonesia, yakni di Tokyo University of Foreign Studies, Osaka University of Foreign Studies, Kyoto Sangyo University, Tenri Unuversity, Lembaga Ilmu-ilmu Bahasa Asia afrika, dan Kyoto Career College of Foreign Languages, serta di 17 universitas sebagai mata kuliah pilihan. Selain itu ada sejumlah universitas lain yang mengajarkan bahasa Indonesia pada kelas malam atau yang mereka sebut open college, terutama untuk para pekerja yang tidak dapat mengikuti kelas siang. Di samping itu masih ada beberapa lembaga kursus atau pusat-pusat kebudayaan yang juga mengajarkan bahasa Indonesia, misalnya INJ Culture Center Yomiuri Culture Center, Asahi Culture Center, Mainichi Culture Center, NHK Culture Center, B & B Language Training School, Japan Asia Culture Center, Asia Bunka Kaikan, dan IC Nagoya.

Minat orang Jepang untuk belajar bahasa Indonesia meningkat sejak tahun 1990. Namun, serentetan peristiwa yang terjadi di Indonesia sejak 1998 amat berpengaruh terhadap minat orang asing yang ingin mempelajari bahasa Indonesia. Hal itu tidak hanya di Jepang, tetapi juga di Australia, dan beberapa negara yang lain.

Secara umum dapat dikatakan bahwa motivasi orang Jepang mempelajari bahasa Indonesia hampir sama dengan orang Australia, yakni selain untuk kepentingan wisata, juga untuk kepentingan studi dan penelitian di Indonesia, serta untuk kepentingan bisnis atau untuk memperlancar pelaksanaan tugasnya di Indonesia. Hanya saja, perbedaannya, orang Australia lebih banyak yang mempelajari bahasa Indonesia untuk keperluan mencari pekerjaan. Motivasi semacam itu amat sedikit ditemukan pada orang Jepang, lebih-lebih pada orang Amerika. Menurut Fanany (2003), orang Amerika lebih banyak mempelajari bahasa untuk kepentingan politik. Misalnya, saat ini ketika Amerika berkonfrontasi dengan negara-negara Arab, banyak orang Amerika yang mempelajari bahasa Arab.

Dalam pengajaran bahasa Indonesia kepada orang asing, sampai saat masih ada berbagai kendala yang dialami. Dari berbagai sumber dapat dikemukakan bahwa kendala yang dihadapi dalam pengajaran BIPA di berbagai negara, termasuk di Jepang dan Australia, antara lain, sebagai berikut.

a. Situasi politik dan keamanan yang belum kondusif;

b. Kurangnya bahan ajar yang memadai;

c. Kurangnya pengajar yang profesional;

d. Keterbatasan dana.

Unluk mengatasi berbagai kendala tersebut, sudah selayaknya pemerintah Indonesia—dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional—turun tangan untuk memberikan bantuan, baik yang bersifat teknis seperti penyediaan bahan ajar, peningkatan profesionalitas pengajar BIPA, dan pengiriman pengajar BIPA, maupun yang bersifat nonteknis seperti pemberian beasiswa dan fasilitas yang diperlukan dalam pengajaran BIPA. Penanganan masalah tersebut memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh jika kita benar-benar ingin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa perhubungan antarbangsa.

3. Media Massa

Sebagai media pubik, media massa—seperti surat kabar, majalah, radio, televisi, dan internet—mempunyai peranan yang besar dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa. Bahkan, Ketua Umum PWI Pusat, Tarman Azzam, dalam makalahnya pada Kongres Bahasa Indonesia VIII (2003) menganggap pers sebagai institusi pendidikan, yang terkait langsung dengan maju mundurnya penggunaan bahasa Indonesia dengan seperangkat kaidahnya. Jika pers serampangan dalam menggunakan bahasa jumalistiknya, menurut Ketua PWI Pusat tersebut, hal itu akan merusak kaidah-kaidah bahasa, begitu pula sebaliknya.

Dalam hubungannya dengan pengajaran BIPA, tidak jarang bahasa jurnalistik Indonesia digunakan sebagai acuan dan bahan ajar di beberapa negara. Namun, terkait dengan itu, tidak sedikit pengajar BIPA yang menyampaikan keluhan terhadap bahasa jurnalistik yang mereka gunakan sebagai bahan ajar itu. Keluhan yang menjadi kendala bagi para pengajar BIPA itu, antara lain, sebagai berikut.

a. Banyaknya penggunaan idiom atau ungkapan baru dalam bahasa jurnalistik, misalnya ngemplang utang, wajah sumringah, mbalelo, disukabumikan, dan sejenisnya;

b. Banyaknya penggunaan singkatan dan akronim dalam bahasa jurnalistik, misalnya KKSK, URC, Jampidsus, dan meraba;

c. Banyaknya penggunaan bentukan kata yang tidak konsisten, misalnya perajin dan pengrajin, perusakan dan pengrusakan, atau mengampanyekan dan mengkampanyekan;

d. Banyaknya penggunaan kata dan struktur kalimat yang tidak baku.

4. Pemasyarakatan Istilah

Pusat Bahasa sebagai institusi pemerintah selama ini telah menghasilkan ribuan istilah baru dan berbagai bidang ilmu, baik atas upayanya sendiri maupun hasil kerja samanya dengan Brunei Darussalam dan Malaysia dalam forum Mabbim (Majelis Bahasa Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia). Sebagian besar istilah tersebut telah dibukukan dalam bentuk kamus istilah dan sebagian yang lain disusun dalam bentuk glosarium. Namun, pemasyarakatannya hingga kini masih dikeluhkan orang. Hal itu terjadi karena pemasyarakatan berbagai istilah baru tersebut belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Sehubungan dengan hal itu, media massa—sebagai media yang mampu menjangkau seluruh lapisan publik—diharapkan dapat berperan serta dalam memasyarakatkan hasil pengembangan istilah. Peran serta seperti yang diharapkan itu sebenarnya bukan merupakan hal yang baru bagi media massa. Beberapa tahun yang lalu Kompas dan Media Indonesia, misalnya, pemah menyediakan kolom khusus yang berisi senarai istilah baru yang diperkenalkan kepada masyarakat. Cara seperti itu sebenarnya dapat dihidupkan kembali di media massa tersebut dan juga di beberapa media massa yang lain. Dengan begitu, berbagai istilah baru yang merupakan hasil pengembangan bahasa dapat dengan cepat tersebar luas dan diketahui oleh masyarakat umum.

5. Penutup

Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan pengajaran BIPA di berbagai belahan dunia dapat berkembang dan berhasil dengan baik sehingga bahasa Indonesia kelak benar-benar dapat menjadi bahasa perhubungan antarbangsa. Dalam kaitan itu, tidak sedikit pula peran yang telah dimainkan oleh media massa, termasuk dalam penyebarluasan hasil pengembangan istilah. Harapan terhadap peran media massa tersebut makin besar pula dengan makin berkembangnya FBMM atau Forum Bahasa Media Massa ini.

SUMBER RUJUKAN

Alwi, Hasan. 1996. “BIPA: Hari Ini dan Esok”. Dalam Pengajaran Bahasa Indonesia Untuk Penutur Asing, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Depok, Juli 1996 (25-35).

Azzam, Tarman. 2003. “Peranan Media Massa Cetak dalam Peningkatan Mutu Penggunaan Bahasa Indonesia”. Makalah Kongres Bahasa Indonesia VllI Jakarta.

Fanany, Ismet. 2003. “Pengajaran Bahasa Indonesia di Australia: Keadaannya Sekarang dan Prospek Masa Datang”. Makalah Kongres Bahasa Indonesia VIII. Jakarta.

Hamied, Fuad Abdul. 2003. “Pengajaran BIPAdi Indonesia”. Makalah Kongres Bahasa Indonesia VIII. Jakarta.

Kondo, Yumi. 2003. “Peningkatan Mutu Kemampuan Berbahasa Indonesia melalui Ujian Kemampuan Bahasa Indonesia: Kasus di Jepang”. Makalah Kongres Bahasa Indonesia VIII Jakarta.

Rival, Faizah Sunoto. 2003. “Peningkatan Mutu Pengajaran Bahasa Indonesia di Italia”. Makalah Kongres Bahasa Indonesia VIII. Jakarta.

Penulis:

Mustakim

Pusat Bahasa, Depdiknas

* Bahan diskusi yang disampaikan dalam Forum Bahasa Media Massa di Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 24 Maret 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: