“Ajal” – “al-Jabbar” – “Jenazah” – “al-Marhum”

I.      “Deadline”

1.     “Deadline” (Bahasa Inggris) = batas waktu atau batas akhir yang ditentukan/diberikan untuk menyelesaikan/melaksanakan tugas tertentu.

2.     Biasanya, seseorang diberi kesempatan untuk menunda-nunda menyelesaikan tugas tertentu sampai batas waktu tertentu, namun tak boleh melewati “deadline”-nya yang tak bisa ditawar lagi.

3.     Adalah kecenderungan manusiawi untuk menunda-nunda menyelesaikan tugas yang kurang/tidak disukai sampai pada “deadline”-nya.

4.     Selama masih ada kesempatan, orang cenderung mengisi waktu dengan melakukan hal-hal yang lebih disukainya sebelum tiba “deadline”-nya.

5.     Dalam kehidupan sehari-hari, di kala semuanya berlangsung normal/biasa-biasa saja kita tidak menyadari bahwa hidup kita juga sudah ditetapkan “deadline”-nya yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

6.     Dalam melakukan tugas/profesi, biasanya kita didesak untuk memenuhi “target” yang harus dicapai sebelum “deadline”, karena lewat batas waktu itu kita bisa dikenai “sanksi” yang sudah jelas dijabarkan dalam bentuk peraturan-peraturan formal.

7.     Lain halnya “deadline” yang sudah dijabarkan oleh “al-Jabbar” (Tuhan yang “kehendak-Nya tak teringkari”) bagi semua makhluk-Nya: kita tak pernah tahu secara tepat kapan “waktunya” akan tiba, sebelum maut datang menjemput kita di ujung sana.

 

II. Analisis Etimologis “Ajal”

1.     “Ajila” (Bahasa Arab): menunda-nunda sesuatu yang pasti akan terjadi.

2.     “Ajal!” (Bahasa Arab): “Ya pasti!” (“Entah kapan, namun pasti akan terjadi”).

3.     “Ajal” (Bahasa Arab) = “batas waktu terakhir” (“deadline”) yang pasti akan tiba, entah kapan, kita tak tahu saatnya yang tepat, walaupun kita berusaha untuk “menunda-nunda”-nya, namun kita tak bisa menghindarinya, bila maut datang menjemput.

 

III. “al-Jabbar”

1.     “al-Jabbar” (Bahasa Arab) = “Yang Maha Perkasa”; “Yang Maha Pemaksa”; “Tuhan yang kehendak-Nya tak terhindari”.

2.     “al-Jabbar” merupakan salah satu dari “nama-nama Allah yang indah” (“Asma al-Husna”). Dialah yang menetapkan dan memastikan “ajal” bagi tiap makhluk-Nya secara mutlak tak terhindari, tanpa bisa ditawar-tawar walaupun manusia cenderung untuk menunda-nunda “ajal” yang entah kapan pasti akan tiba jua.

 

IV. Analisis Etimologis “Mayat”

1.     “Maata” (Bahasa Arab) = mati, binasa, tewas, meninggal dunia; padam (api, lampu); membunuh, mematikan.

2.     “Maut” (Bahasa Arab) = kematian.

3.     “Mautaan” (Bahasa Arab) = epidemi, wabah yang mematikan.

4.     “Mayyit” (Bahasa Arab) = mati, tidak bernyawa, meninggal dunia.

5.     “Maita” (Bahasa Arab) = mayat, bangkai; daging hewan yang disembelih tanpa “prosedur islami yang halal”.

6.     “Mita” (Bahasa Arab) = cara mati yang terhormat; tewasnya pahlawan di medan perang.

7.     “Mamaat” (Bahasa Arab) = tempat/lokasi meninggalnya seseorang.

8.     “Istimaata” (Bahasa Arab) = perjuangan melawan maut.

 

V. “Jenazah”

1.     “Jinaaza/janaaza” (Bahasa Arab) = usungan mayat; prosesi (iring-iringan) mengantar mayat (di atas usungan) ke kuburan.

2.     “Junnaz” (Bahasa Arab) = upacara pemakaman secara keseluruhan; mulai memandikan sampai penguburan.

 

VI. Salah Kaprah tentang “Jenazah”

1.     Di Indonesia, kita terbiasa menganggap istilah “jenazah” lebih terhormat daripada “mayat” sehingga sering muncul berita di media massa:

a.      “Masih banyak jenazah korban tsunami yang belum ditemukan” (mestinya cukup “mayat” atau “jasad”).

b.     “Ratusan jenazah” berserakan di jalan raya, sampai membusuk tak terurus. (mestinya cukup “mayat/bangkai/jasad”).

2.     “Jenazah” lebih tepat digunakan untuk menunjukkan “mayat yang sudah diurus, dimandikan, diletakkan pada usungan, diupacarai menurut agama.

 

VII. “al-Marhum”

1.     “Marhama” (Bahasa Arab) = belas kasihan.

2.     “al-Marhum” (Bahasa Arab) = yang telah kembali ke “Allah yang Maha Rahim” (Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang) = orang beriman (Islam) yang telah meninggal dunia dan masuk surga (kembali ke pangkuan Tuhan)

3.     Jadi, tepatnya, istilah “al-Marhum” hanya cocok untuk Islam yang telah meninggal.

4.     Untuk orang Hindu ada istilah yang lebih tepat, “Swarga/Swargi” (“Telah pergi ke alam cahaya terang”).

 

Sumber: Koran Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: