“Lalung-lalung Legod, Nak Malalung Caplok Bojog!”

Coba Anda nyanyikan lagu di atas dengan melodi: “solmi solmi redo, do do solmi solmi redo”, mungkin Anda (orang-orang tua di Bali) tergugah “nostalgia masa kecil”

 

I. Analisis Lagu “Dolanan” di Atas

1. “Lalung” = telanjang, bugil

2.  “Legod” = liuk, jalan me-liuk-liuk goyang kibul, berjalan sambil menggoyang-goyang pantat

3. “Nak” = anak, orang

4. “Malalung” = bertelanjang, berbugil-ria

5. “Caplok” = dicaplok, digigit

6. “Bojog” = “BUSYET” = monyet

 

II. Misi Lagu “Dolanan” di Atas:

1.     Dahulunya, lagu “dolanan” tersebut hanya untuk main-main sambil menggoda anak kecil yang sedang berbugil-ria

2.     Tanpa disadari, lagu itu sekaligus mengandung misi “profetis” yang mengarah jauh ke masa depan, sampai ke tahun 2006

3.     Adapun misi “profetis” (ramalan nubuat) yang terkandung dalam lagu itu terarah kepada “Nak Bali tahun 2006”, agar jangan sembrono berbugil-ria di jalan, kalau tidak mau dicaplok “Rancangan Undang-Undang APPA”

 

III. Tafsir “Kerata-basa”

1.     “Kerata” (bahasa Kawi) = pemburu

2.     “Kerata-basa” = penafsiran makna suatu kata dengan cara “memburu” asal kata itu secara pseudo-etimologis (etimologi semu) atau “folks etimology” (etimologi kampungan, etimologi populer)

3.     Bisa dikatakan, “Kerata-basa” merupakan “etimologi jungkling” atau “etimologi jungkir balik” karena “perburuan asal kata” dilakukan secara bertolak belakang dengan prosedur penelusuran etimologis kata yang sebenarnya. Contoh: “Tafsir Kerata-basa”:

a.      “Guru” = “patut digugu dan ditiru”

b.     “Tuwa” (bahasa Jawa) = “Untune Wis Rowa” (Giginya sudah ompong)

4.     Ada teman saya yang memberi “tafsir kerata-basa” untuk kata “malalung/melalung” = “melah-luwung” = “baik dan bagus/indah”, karena beliau termasuk “nak Bali” yang anti “RUU-APPA”

5.     Walaupun “tafsir kerata-basa” tidak memenuhi syarat-syarat etimologi yang ilmiah, harus kita akui bahwa diperlukan seni tersendiri untuk bisa menghasilkan “tafsir kerata-basa” yang mengenai sasaran, mudah dimengerti dan bernilai humor

 

IV. Penelusuran Etimologis

1.     Untuk menelusuri/melacak asal-muasal suatu kata tertentu secara etimologis (“ilmiah”) diperlukan “naluri/intuisi pemulung” untuk mengolah temuan kata-kata yang mula-mula tampak acak namun akhirnya bisa dipertemukan secara logika bahasa

2.     Dalam proses menelusuri asal-muasal kata “malalung” (bahasa Bali) saya temukan beberapa arti kata “lalung” (bahasa Kawi):

a.      Lewat, lalu

b.     Lewat begitu saja tanpa mempedulikan pandangan orang sekitar; nekad

c.     Merosot, jatuh meluncur ke bawah, jatuh lepas, melorot

d.     Tenggelam, terbenam

e.      Saat matahari tenggelam; senjakala, hari petang, malam

3.     Dari temuan arti kata “lalung” (bahasa Kawi), saya berani menduga bahwa kata “ma-lalung” (bahasa Bali) semula berarti: “Berjalan lewat begitu saja tanpa mempedulikan pandangan orang sekitar walaupun pakaian/celananya melorot”, kemudian baru berarti “telanjang”

4.     Rupa-rupanya, “malalung/bugil” merupakan isu (masalah) yang tidak begitu perlu dipikirkan secara serius bagi masyarakat Bali, jadi boleh “dilewatkan saja” atau “dibiarkan berlalu”

5.     “Nak Bali” yang normal seyogianya bersikap “seakan-akan tidak ada apa-apa” kalau kebetulan kepergok orang yang celananya melorot (“malalung”), agar tidak “memperbesar ke-malu-an” orang yang bersangkutan

6.     Hanya “Nak Bali yang kebetulan berpikiran butek” yang diam-diam sengaja mengintip perempuan-perempuan “malalung” di pancuran

7.     “Mengintip” boleh-boleh saja, asal tidak ketahuan! Kalau ketahuan, bisa-bisa diteriaki massa, “Hai, ngudiang to!” (“Hai, ngapain lu!”), tapi tidak sampai “dicakcak rame”, karena tidak dianggap kejahatan serius, paling-paling ditertawai sebagai “kenakalan remaja”

8.     Kalau pasangan suami-istri ingin “berhubungan” sebaiknya “melalung” dahulu, dan waktu untuk “itu” paling “sreg” dilakukan di kala “matahari sudah tenggelam” atau “petang/malam/gelap”, karena dalam “kegelapan malam”-lah Dewa Siwa dan Dewi Durga “bersatu dalam ketelanjangan”

9.     a   Dewa Siwa disebut juga “Dig-ambara”

b.     Dewi Durga disebut juga “Dig-ambari”

c.     “Dig-ambara/Dig-ambari” (bahasa Sanskerta) = “yang berpakaian udara” atau “yang berselimutkan langit” = “yang melalung/telanjang bulat”

d.     Dewa Siwa dan Dewi Durga adalah “penguasa kegelapan malam”, maka “Digambara” juga berarti “kegelapan” yang melambangkan: “kejahatan, kematian, kehancuran” yang disembah oleh orang Hindu dalam wujud “Batara Kala” dan “Batari Kali”

e.      Bagi orang non-Hindu kedengaran aneh, tapi begitulah Hinduisme yang berprinsip “Rwa-bhinneda”     

Sumber: Koran Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: