“Waspada!” – “Jangan Panik”

I. “EWS”

Dalam rangka antisipasi bencana “tsunami”, manusia, antara lain, bisa memasang peralatan “EWS” (“Early Warning System” = Sistem Perangkat Dini). Masyarakat “awam  teknologi” mungkin terlalu berharap banyak dari peralatan-peralatan teknologi canggih, sehingga ada sebagian orang yang menuntut agar petugas-petugas BMG (Badan Meteorologi Geofisika) bisa “meramalkan” akan terjadinya gempa/tsunami, padahal EWS itu fungsinya mencatat gejala-gejala awal saat gempa sudah mulai terjadi, sehinggga petugas hanya melaporkan gejala-gejala tersebut kepada publik. Jadi, alat “EWS” bukan sejenis “paranormal” yang bisa meramalkan akan terjadinya bencana sebelum ada gejala-gejala awalnya yang bisa dicatat oleh peralatan canggih itu. Lebih daripada itu, jangan harap!

 

II. “Nasihat yang Baik, tetapi…”

1.     Sambil belajar dari pengalaman, seluruh masyarakat bisa bahu-membahu berusaha mengambil tindakan-tindakan antisipatif maupun melanjutkan penanganan pasca – bencana. Namun, “waspada! Jangan panik!”, merupakan nasihat yang baik kita perhatikan dalam situasi – kondisi rawan bencana ini.

2.     Namun, dalam kenyataan sehari-hari, bukan tidak mungkin, peringatan “jangan takut!”, justru membuat orang yang semula tidak takut, justru jadi takut. Bisa-bisa, peringatan “jangan panik!” justru membuat orang yang tak tahu apa-apa justru jadi panik, karena penyampaiannya yang tidak memperhatikan faktor-faktor psikologis orang yang bersangkutan.

3.     Saya jadi ingat, betapa saya kadang-kadang terpancing emosi menjadi marah betul, ketika ada orang yang “menasihati” saya dengan ucapan “jangan marah, ya!”, padahal sebelumnya saya memang tidak marah. Begitu juga ucapan “jangan kaget, ya!” kepada orang yang tidak tahu apa-apa, justru bisa membuat orang itu jadi betul-betul kaget.

4.     Nasihat/peringatan yang baik bisa menghasilkan reaksi emosional yang sebaliknya, apabila cara penyampaiannya tidak bijaksana. Peringatan “waspada!” bisa membuat orang yang tidak tahu apa-apa jadi ketakutan, mata nyalang melotot sepanjang waktu, siang malam menantikan bahaya yang sewaktu-waktu bisa datang menyergap.

5.     Peringatan “jangan panik!” justru membuat masyarakat awam jadi panik betul, apabila pejabat yang menyampaikan pesan itu kelihatan putus asa, tak tahu mau berbuat apa, pandangan mata kosong, muka pucat, bibir gemetaran, ketika disorot kamera televisi.

 

III. “Waspada”

1.     “Vas” (Bahasa Sanskerta) = bersinar terang, menerangi.

2.     “a-was” (Bahasa Jawa Kuno) = jelas, terang, kelihatan terang, terdenggar jelas.

3.     “Was-was” atau “wawas” atau “amawas” (Bahasa Jawa Kuno) = melihat dari dekat, meneliti, mengusut sesuatu agar jelas; memberi wawasan (pengertian yang jelas), memberi kejelasan.

4.     “Mawas” (Bahasa Jawa) memandang, mengamati, membuat pandangan

5.     “Waspada” (Bahasa Jawa Kuno) = melihat dengan jelas, mengerti sepenuhnya, memiliki konsep yang jelas.

6.     “Waspada” (Bahasa Jawa Anyar) = awas, terang pandangannya, terus mata, terus pandang; hati-hati, cermat.

7.     “Waskita” (Bahasa Jawa Anyar) = “clairvoyant” (Bahasa Prancis/Inggris) memiliki kemampuan paranormal untuk melihat dengan jelas hal-hal/kejadian yang di luar jangkauan indra pengamatan biasa. Contoh:

a.      Melihat kejadian  yang berlangsung di tempat lain

b.     Melihat kejadian yang berlangsung di waktu lampau atau di masa depan.

 

IV. “Waswas”

1.     Kata “waswas” (Bahasa Indonesia) bisa ditafsirkan secara etimologis, baik dari bahasa Jawa Kuno maupun bahasa Arab.

2.     Dari bahasa Jawa Kuno lihat III no. 4.

3.     Dari bahasa Arab lihat V no. 2

 

V. Analisis “Waswas” (Bahasa Arab)

1.     “Waswasa” (Bahasa Arab) = berbisik; mengucapkan sesuatu dengan suara yang tidak jelas; membisikkan saran-saran yang jahat ke dalam hati seseorang untuk menimbulkan keraguan iman.

2.     “Waswas” (Bahasa Arab):

a.      Saran-saran jahat dari setan yang dibisikkan ke dalam hati seseorang.

b.     Keraguan, kebimbangan, kegelisahan, kemuraman batin sebagai akibat bisikan setan.

 

VI. “Panik”

1.     “Pan” (Bahasa Yunani) = sarwa, seluruh, semua = “all” (Bahasa Inggris).

2.     Dewa Pan dalam mitologi Yunani dipuja sebagai “Dewa Penguasa seluruh Alam” oleh para pemburu, penggembala; digambarkan dengan bentuk manusia setengah kambing; dengan hobi meniup seruling (“panflute”) yang bunyinya  bisa membuat “panic” kawanan domba di padang rumput.

3.     “Panic” = panik = keadaan kacau balau yang ditimbulkan dari reaksi ketakutan/keterkejutan yang tak terkendali dalam suatu kelompok tertentu.

4.     Dalam situasi darurat/bahaya, orang yang panik bisa kehilangan akal sehingga tak mampu bertindak rasional untuk menghadapi situasi yang mencekam itu. Jelas, nasihat “jangan panik!” tidak efektif, bahkan bisa membuat gawat situasi, menjadi makin tak terkendali, seperti kawan domba mendengar bunyi seruling Pan (“panflute”).  

 

Sumber: Koran Tokoh

Satu Tanggapan

  1. wah artikel bagus!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: