Apa Bedanya (?): “Selamat HUT!” – “Dirgahayu!”

I. Salah Kaprah

TIAP kali kita merayakan “HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia”, di mana-mana bermunculan ucapan-ucapan klise yang bermaksud, namun dibahasakan secara kurang pas. Dari kalimat-kalimat yang dimunculkan di spanduk-spanduk, poster-poster, “billboard”, iklan surat kabar, tayangan televisi, kita bisa melihat gejala-gejala kecenderungan masyarakat  luas untuk menyamakan/men-sinonimkan “Selamat HUT!” dengan “Dirgahayu!”, seperti jelas tampak dalam kalimat:

1.     “Dirgahayu Kemerdekaan RI yang ke 61!”

2.     “Dirgahayu Proklamasi Kemerdekaan yang ke 61!”

3.     “Dirgahayu HUT Kemerdekaan RI yang ke 61!”

 

II. Penggunaan yang Pas

Memang tidak semua kita terjebak dalam lingkaran salah kaprah; itu terbukti dengan adanya di sana-sini kalimat-kalimat yang dibahasakan secara pas, seperti:

1.     “Menyambut HUT Proklamasi yang ke 61. Dirgahayu RI!”

2.     “Selamat HUT Kemerdekaan Indonesia yang ke 61! Dirgahayu Bangsa Indonesia!”

3.     “Dirgahayu! Merdeka!”

 

III. Peranan Etimologi

Untuk meluruskan makna suatu kata yang telanjur bengkok (salah kaprah), etimologi (ilmu asal – usul/sejarah kata) bisa sangat membantu.

 

IV. Analisis Etimologis “Dirgahayu”

1.     “Dirgha” (Bahasa Sanskerta):

a.      Panjang/tinggi (ukuran tubuh): “dirghakaya” (berbadan tinggi, jangkung); “dirghagriva” (berleher panjang, yaitu onta); “dirghajangga” (berkaki panjang, yaitu onta).

b.     Tinggi/luhur/mulia: “Dirgha” merupakan salah satu gelar SIWA.

c.     Panjang/lama: “dirghakala” (jangka waktu yang panjang/lama); “dirghamaya” (sakit yang lama/menahun)

d.     Panjang/jauh (jalan, perjalanan, jarak tempuh): “dirghagamin” (pergi/terbang jauh); “dirghagati” (melakukan perjalanan jauh).

e.      Panjang secara vertikal: tinggi (vertikal ke atas); dalam (vertikal ke bawah).

2.     “Ayu” (Bahasa Sanskerta):

a.      Hidup, bisa bergerak sendiri.

b.     Makhluk hidup pada umumnya.

c.     Manusia pada khususnya.

d.     Anak, keturunan.

e.      Garis keturunan.

f.       Jangka waktu kehidupan.

g.     “Dewa Ayu” merupakan personifikasi kekuatan yang menguasai kehidupan.

3.     “Dirghayu”: bersinar cemerlang dalam masa hidup yang panjang/lama.

4.     “Ayus” = a. Kehidupan, hidup yang panjang.

                 b. Tenaga vital, tenaga hidup.

                 c. Kebugaran, kesehatan  yang penuh keharmonisan.

                 d. Daya hidup yang aktif dan dinamis.

5.     “Dirghayus” = didoakan semoga diberkati usia panjang yang berlimpah vitalitas (energi hidup yang aktif dinamis), terus bertumbuh secara harmonis, sehat, segar bugar dalam masa yang panjang/lama.

6.     Dari gabungan “Dirghayu” dan “dirghayus”, kita mendapat kata “Dirgahayu!” yang bermakna “semoga panjang usia!” yang tidak persis kandungan maknanya dengan “semoga panjang umur!”

 

V. Beda “Umur” dengan “Usia”

1.     “Marra” (Bahasa Arab): melewati, lewat; berjalan melewati; melewati jangka waktu tertentu; bertahan melewati waktu tertentu; terus menerus melakukan sesuatu melewati waktu tertentu.

2.     “Murur” (Bahasa Arab): proses yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu.

3.     “Umur” = masa hidup yang dilalui; lama keberadaan sesuatu yang telah dilalui, yang terukur waktunya (hari, bulan, tahun, abad).

4.     “Umur” hanya mengacu pada masa/waktu yang dilalui, secara kuantitatif (terukur dengan hari, bulan, tahun, abad) dalam keberadaan sesuatu, seperti: “umur barang antik”, “umur sepeda motor”, “umur saya”, “umur Republik Indonesia”, tanpa memperhitungkan “kualitas keberadaan/kehidupan”.

5.     “AYUSHYA” (Bahasa Sanskerta): memberi vitalitas (daya hidup) yang aktif – dinamis – harmonis, sehat secara holistik (menyangkut keseluruhan manusia, lahir – batin, material – spritual, sosial – individual, sakala – niskala) secara kualitatif maupun kuantitatif.

6.     Dari kata “ayushya”, kita mendapat kata “usia” (yang lebih berkualitas).

 

VI. Kesimpulan

Buat apa “panjang umur”, hidup sampai seratus tahun, tetapi “jompo, pikun, tak bergairah lagi, lemah, loyo”, karena tidak diberkati dengan “usia panjang”!!

 

Sumber: Koran Tokoh

5 Tanggapan

  1. Terima kasih kerana penjelasan ini.

  2. jelek loh

  3. Terima kasih atas ulasannya.
    Tadinya aku tidak tahu apa itu dirgahayu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: