Apakah Anak Anda (?): “Nakal”_”Kuwal”_”Bandel”_”Usil”_”Jail”

SEBELUM menjawab “pertanyaan nakal” tersebut di atas, saya (“Pemulung Kata-kata”) mengajak Anda (para “orangtua” yang benar-benar tua maupun yang masih muda) untuk mengupas istilah-istilah yang sering ditimpakan pada ulah anak-anak yang menjengkelkan hati orang-orang sekitarnya.

Kalau tidak ditanyai, kita semua merasa sudah tahu apa itu “nakal, kuwal, bandel, usil, jail”; namun, kalau ditanyai, kita tidak begitu gampang menjelaskan istilah-istilah itu.

Untuk mempertajam persepsi kita mengenai “istilah-istilah nakal” tersebut, mari kita membedahnya dengan analisis etimologis berikut ini:

 

I.    “Nakal”

Untuk menangkap makna kata “nakal” secara komprehensif, kita bisa bertitik tolak dari kata-kata Arab ini:

1.     “Naqala” yang mengandung makna:

a.      Menggerakkan atau memindahkan sesuatu dari tempatnya ke tempat lain

b.     Bergerak/berpindah/beralih dari suatu tempat ke tempat lain

Dari kata “naqala” itu, kita bisa mendeskripsikan sifat-sifat yang terkandung dalam istilah “nakal”:

a.      Suka memindah-mindahkan barang-barang dari tempatnya; suka mengacak-acak letak barang-barang sehingga kelihatan berantakan; suka membuang barang-barang (yang berguna) ke tempat sampah, dan sebaliknya, membuang sampah di sembarang tempat.

b.     “Mutanaqqil” = selalu bergerak, tidak bisa diam; labil, tidak konstan, selalu “goyang sana, goyang sini”, bertentangan dengan cita-cita “Ajeg Bali”

2.     “Naql” mengandung pengertian:

a.      Meniru, mengambil alih bentuk/kelakuan/ekspresi wajah orang lain.

b.     Meniru, meng-”copy”,  “menyontek”.

3.     Dari kata “naql” itu kita bisa mendeskripsikan sifat “nakal”:

a.      Suka meniru-niru (dengan maksud mengejek, mengolok-olok) ekspresi wajah/cara berjalan/cara cara bicara orang lain (guru, teman, monyet)

b.     “Menyontek”/meng-”copy” hasil karya orang lain secara tidak sah; “menyontek” waktu ulangan/ujian di kelas.

4.     “Nakala” mengandung pengertian:

a.      Menghindar dari tugas/kewajibannya

b.     Memperlakukan dengan “tidak semena-mena”; menyakiti, menyiksa.

5.     Dari kata “nakala” itu kita bisa mendeskripsikan sifat-sifat “nakal”:

a.      Suka mnghindar kalau disuruh mengerjakan sesuatu; suka bersembunyi kalau tahu akan diberi tugas; suka bolos kalau akan ada ulangan di sekolah.

b.     Suka menyakiti teman (dengan mencubit, memukul, menendang, menjegal, menjepret dengan katepel); suka menyiksa binatang, tidak mempunyai “peri kebinatangan”.

 

II. “Kuwal”

1.     “Kuwal” (bahasa Kawi) = kuat, kokoh, “ajeg”, bergeming.

2.     “Kuwal” (bahasa Bali) = nakal.

3.     Dari kata “kuwal” itu kita bisa mendeskripsikan sifat-sifat “nakal”:

a.      “Kuat”: penuh energi, kelebihan energi, “hyper-active”, namun tidak terkendali

b.     “Kokoh”: tetap bergeming, tidak bisa digoyahkan oleh nasihat/hukuman/siksaan/bujukan persuasi orangtua/guru

c.     “Ajeg”: terus saja bertahan dengan ulahnya yang menjengkelkan orang sekitarnya.

 

 

III. Bandel

1.     “Andel” (bahasa Kawi) = stabilitas, ke-ajeg-an, sangat kokoh.

2.     “Pandel”= “Bandel” (bahasa Kawi) = tebal, padat (mengenai debu, kotoran, karat, logam, yang melekat pada suatu benda) sehingga sulit dikerok/dibersihkan.

3.     Dari kata “bandel” itu  kita bisa mendeskripsikan sifat “nakal”: sulit diubah dengan persuasi/nasihat maupun kekerasan.

 

IV. “Usil”

1.   “Usil” atau “Ungsil” (bahasa Jawa Kuno) = dalam keadaan bergerak terus labil, tidak stabil, gelisah, bergerak ke sana ke mari, tidak bisa diam.

2.   Dari kata “usil” itu kita bisa mendeskripsikan sifat “nakal”:

a.      Lari ke sana ke mari, tidak mau diam

b.     Cerewet, mulutnya tidak bisa diam, selalu ngoceh

c.     Tangannya tak bisa diam, “pegang sana, pegang sini, ambil sana, anbil sini”, sehingga menjengkelkan orang sekitar.

 

V. “Jail”

1.     Jahil (bahasa Arab): bodoh, tidak tahu apa-apa, kurang ajar, tidak mau tahu walaupun berkali-kali diberi tahu

2.     Dari kata “jahil” itu kita bisa mendeskripsikan sifat “nakal”: bertahan (“ajeg”, “bergeming”) dalam kebodohan, tak mau mendengar nasihat orang tua/guru/ulama/”Pemulung Kata-kata”.

3.     Kata “jail” dalam bahasa Indonesia dikenakan pada kenakalan yang bersifat “suka mengganggu”, misalnya: “mengganggu adik yang sedang tidur”, “mengganggu kakak yang sedang belajar”, “mengganggu tetangga yang sedang asyik berpacaran”, “menyembunyikan tongkat orang buta”, “menyembunyikan kaca mata kakek”.

 

“Notabene”: semua sifat-sifat “kenakalan” di atas itu bukan semata-mata untuk men-cap anak-anak, melainkan bisa juga diterapkan untuk kita orang tua/dewasa.

 

 

Sumber: Koran Tokoh

Satu Tanggapan

  1. mantabbb wt tugas bahasa indonesa ane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: