Apa Bedanya?: “Eka” – “Ika”

I. Amnesia Sejarah

1.     Mungkin generasi bangsa Indonesia masa kini tidak menyadari (alias lupa) bahwa negara kita pernah berbentuk federal, yakni Negara Republik Indonesia Serikat.

2.     “Tahunya” (menurut tafsiran orang banyak yang mengalami amnesia sejarah), rumusan “Bhinneka Tunggal Ika” mengandung keharusan/keniscayaan yang tak memungkinkan adanya alternatif lain daripada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), sehingga bentuk negara federal (Negara Republik Indonesia Serikat) dengan sendirinya dianggap bertentangan dengan asas “Bhinneka Tunggal Ika” yang tercantum dalam lambang negara kita sekarang.

3.     Mungkin sebagian besar kita akan kaget kalau diingatkan kembali bahwa lambang negara kita sekarang justru merupakan produk zaman RIS yang menekankan bahwa pembagian Indonesia menjadi beberapa republik federal tidak bertentangan dengan asas “Bhinneka Tunggal Ika”.

 

II. Lambang Negara RIS

1.     Sidang Dewan RIS 11 Februari 1950 menentukan Lambang Negara RIS.

2.     Lambang negara ini direncanakan Panitia Lencana Negara dan dimasukkan dalam pasal 3 UUD Sementara RIS.

3.     Lambang ini menggambarkan seekor burung Garuda yang secara mistik melambangkan “negara pembangunan”.

4.     Di leher burung Garuda tergantung perisai berbentuk jantung yang melambangkan “perjuangan pembelaan Nusa dan Bangsa”.

5.     17 helai bulu sayap melambangkan tanggal Proklamasi Kemerdekaan.

6.     8 helai bulu dada melambangkan bulan Proklamasi Kemerdekaan.

7.     Semboyan (“motto”) “Bhinneka Tunggal Ika” (yang ditafsirkan sebagai “Biarpun berbeda-beda, namun tetap satu jua”), dengan maksud menyatukan daerah-daerah dan suku-suku bangsa di seluruh Nusantara menjadi “kesatuan Indonesia”.

8.     Warna kuning Indonesia melambangkan kemenangan gemilang.

9.     Warna merah – putih dalam perisa berasal dari warna bendera kita.

10. Garis melintang di tengah perisai adalah garis khatulistiwa.

11. Perisai yang terdiri atasi lima ruang melambangkan Pancasila sebagai dasar negara.

12. Setelah negara RIS berubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, lambang negara ini tetap digunakan sampai sekarang.

13. Kesimpulan:

a.      RIS tidak bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945.

b.     RIS tidak bertentangan dengan asas “Bhinneka Tunggal Ika”.

c.     RIS tidak bertentangan dengan Pancasila.

d.     RIS tidak bertentangan dengan asas “Persatuan Indonesia”.

e.      Bentuk “Negara Federal (Serikat)” merupakan alternatif lain yang dimungkinkan apabila bentuk “negara kesatuan” tidak lagi bisa menampung aspirasi otonomi daerah.

f.       Sampai saat ini, rupa-rupanya  aspirasi otonomi daerah masih bisa diakomodir dalam kerangka “Negara Kesatuan Republik Indonesia”, jadi belum perlu mengubah bentuk negara kita, cukup lebih dikembangkan perimbangan kekuasaan pusat dan otonomi daerah.

 

III. Analisis Etimologis “Bhinneka Tunggal Ika”

1.     “Bhinna” (Bahasa Sanskerta) = berbeda.

2.     “Bhinneka” merupakan bentuk dari “bhinna” (= berbeda) plus “ika” (= itu).

3.     Huruf “a” (pada akhir kata “bhinna”) melebur dengan huruf “i” (pada awal kata “ika”) menjadi “e”, sehingga kata “bhinna” dan “ika” diucapkan menjadi “bhinneka”.

4.     “Tunggal” (Bahasa Kawi) = satu, bersatu.

5.     “Ika” (Bahasa Kawi) = itu.

6.     “Bhinna ika tunggal ika” (Bahasa Kawi) secara harafiah berarti “Berbeda itu satu itu”.

7.     Karena terjemahan secara harafiah terasa kaku dalam bahasa Indonesia, maka “Bhinneka Tunggal Ika” ditafsirkan secara lebih luwes: “Meskipun berbeda-beda, namun satu jua”.

 

IV. “Amnesia Etimologis”

1.     Ada sementara tokoh intelektual/budaya kita yang dihinggapi penyakit “amnesia etimologis” yang sengaja (purak-purak) lupa atau memang betul-betul lupa akan makna asli “Bhinneka Tunggal Ika” (menurut analisis etimologis).

2.     Lebih parah lagi, ada sementara tokoh, yang mestinya memberi teladan “berbahasa yang pas”, malah menganggap analisis etimologis sebagai “omong kosong orang yang kurang kerjaan” (sejajar dengan “ilmu plesetan”), sehingga mereka tidak merasa “risih” mengulang-ulang “salah kaprah yang itu-itu jua”, seperti tampak dalam kalimat-kalimat ini:

a.      “Kita harus mengembangkan ke-bineka-an dalam ke-ika-an” (Di sini “ika” disamakan dengan “eka” yang berarti “satu”).

b.     “Bineka tunggal eka”.

c.     “Bhineka tunggal ika”.

3.     Kepada yang “suka lupa” perlu diingatkan:

a.      “Eka” (Bahasa Kawi) = satu.

b.     “Ika” (Bahasa Kawi) = itu (dalam bahasa Jawa Anyar menjadi “Iku”).

c.     “Tunggal” (Bahasa Kawi) = satu, bersatu, merupakan suatu kesatuan.

Sumber: Koran Tokoh

Satu Tanggapan

  1. Jadi yang benar? Bhinneka Tunggal Ika ya?
    ooooo…. baru tau. Jadi malu :”>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: