Menelusuri Jejak-jejak “KEMERDEKAAN” di “Lorong Kata-kata”

I. “Pemiskinan Makna”

1. Suatu kata yang terlalu banyak diobral di pasaran, cepat atau lambat, akan mengalami proses “pemiskinan makna”, dan merosot menjadi “slogan mati” yang diucapkan tanpa dihayati semangatnya.

2. Kata seru “merdeka!” masih nyaring terdengar di tiap kesempatan orang berkumpul ramai-ramai, tetapi kalau ditanya, “apa arti merdeka bagi Anda?”, maka jawaban yang paling gampang, “apa, ya?”, (sambil garuk-garuk kepala dan cengar-cengir), “merdeka itu, ya bebas, gitu lho!”

3. Memang, rupanya jawaban “man in the street” (“orang jalanan”) macam itulah yang paling mendekati inti makna kata “merdeka”, namun kita akan terbentuk pada inti masalah yang tak terpecahkan sepanjang sejarah pemikiran/filsafat manusia, yakni: “apa itu BEBAS?”.

4. Tiap orang, tiap kepala, tiap otak, tiap mulut bisa mengucap kata “bebas! free! liberty! merdeka!”, tanpa tahu “makna sebenarnya”.

 

II. “Sembakao Murah, tapi Ada”

1.     Pada Hari Proklamasi 17 Agustus 2007, seorang ibu rumah tangga ditanyai, “apakah Ibu merasa sudah merdeka?”.

2.     Jawabnya tegas, “belum merdeka”.

3.     “Kenapa begitu?”.

4.     “Habis, apa-apa sekarang susah: sembakao ada, tapi mahal. Sembakao murah, tapi tidak ada di pasaran”.

5.     “Maunya Ibu, merdeka itu bagaimana?”.

6.     “Ya, mudah-mudahan kalau kita sudah merdeka betulan sembakao murah, tapi ada”.

7.     Catatan: ibu-ibu sekarang banyak yang mengucapkan “sembakao”, padahal maksudnya: “sembako” (= “sembilan bahan pokok”), jadi saya tuliskan sesuai dengan ucapan ibu-ibu itu, walaupun saya tahu itu cuma salah kaprah yang bisa dimengerti, karena mengikuti proses perubahan serupa, dari “tembako” (Bahasa Jawa) menjadi “tembakau/tembakao” (Bahasa Indonesia).

 

III. Makna “Proklamasi Kemerdekaan”

1.     Kesalahan manusia yang paling “kaprah”: menyamakan “cita-cita” dengan “fakta”.

2.     Begitu juga kita sering keliru memaknai “proklamasi kemerdekaan” (“pernyataan cita-cita/tekad kuat untuk merdeka”), sehingga kita berilusi seakan-akan kita sudah “merdeka” (sebagai “fakta”) sejak 17 Agustus 1945.

3.     Kita tidak menyadari bahwa kita dihinggapi “magic mentality” (mentalitas magis/sihir”) yang menyebabkan kita mengira (yakin dan percaya betul bahwa dengan mengucapkan suatu “rumus ajaib” (“magic formula”) maka dengan sendirinya segala cita-cita/keinginan/hasrat kita menjadi “nyata/fakta/realitas”, (“seperti dalam dongeng saja!”).

4.     “Magic mentality” jelas menguasai kita, kalau kita menyelesaikan segala masalah cukup dengan membuat “pernyataan bersama”.

5.     Terlalu “simplistis” (menggampangkan yang sebetulnya tidak begitu sederhana) kalau kita mengikuti begitu saja tafsiran “merdeka!” sebagai “usir penjajah Belanda!”, walaupun situasi/kondisi zaman revolusi memang menuntut penafsiran yang cukup emosional untuk membakar semangat juang rakyat.

6.     Tetapi, selanjutnya penjajah Belanda sekarang sudah jadi tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang justru kita nanti-nantikan kunjungan dan bantuannya, apakah teriakan “merdeka!” masih relevan untuk generasi bangsa Indonesia masa kini?

7.     Untuk memulihkan makna “merdeka” sebagai “cita-cita yang patut diperjuangkan tiap bangsa secara universal sebagai keluarga umat manusia yang satu”, kita bisa dibantu dengan analisis etimologis kata “merdeka”.

 

IV. Analisis Etimologis “Merdeka”

1.     “RIDH” (Bahasa Sanskerta):

a.      Tumbuh.

b.     Berkembang.

c.     Betambah besar.

d.     Bertambah banyak.

e.      Makin melimpah.

f.       Makin kaya.

g.     Makin makmur.

h.     Makin berhasil.

i.        Mencapai tujuan/cita-cita.

j.        Meraih sukses.

2.     “RIDDHI”:

a.      Pertumbuhan.

b.     Perkembangan.

c.     Pelipatgandaan.

d.     Kelimpahan.

e.      Kekayaan.

f.       Keberuntungan.

g.     Sukses.

h.     Kemakmuran.

i.        Keberhasilan.

j.        Kekuatan/kekuasaan.

k.     Kedaulatan.

3. Maha:

a. Besar.

b. Agung.

c. Sangat.

d. Kuat.

e. Berkelimpahan.

4.     Maharddhi/maharddhika :

a.      Kemakmuran yang berlimpah.

b.     Kekuatan/kekuasaan yang sangat besar.

c.     Melimpahkan kemakmuran kepada yang di bawahnya.

d.     Penuh kebijaksanaan dan kesucian.

5.     Pada masa penjajahan, makna istilah “merdhika/merdeka” mengalami pasang naik dan pasang surut sesuai dengan situasi dan kondisi waktu itu:

a.      Bebas dari pajak.

b.     Bebas dari kerja paksa.

c.     Berhak mengatur hidup sendiri.

d.     Mempunyai hak sama dengan warga Belanda lainnya.

e.      Mempunyai pemerintahan sendiri.

f.       Lepas dari penjajahan Belanda (akibatnya: teriakan “merdeka!” dilarang pemerintah Belanda).

6.     Jelas, seandainya “merdeka” ditafsirkan sesuai dengan makna etimologisnya yang bersifat universal (“Maharddhika), tentu pemerintah Belanda tak berkeberatan, karena bagaimanapun juga, orang Belanda juga menginginkan orang Indonesia jadi “merdeka/maharddhika” (makmur, kaya, berhasil) dalam arti manusiawi yang universal.

7.     Keberatan Belanda waktu itu terletak pada tafsiran “merdeka” yang konfrontatif: “mengusir penjajah Belanda” atau “memutus segala hubungan dengan Belanda“ yang bersifat radikal-ekstrem.

8.     Demikian juga, pada “Era Reformasi” kita ini, semua daerah di Indonesia berhak untuk memperjuangkan “ke-merdekaan” (sesuai etimologinya: makmur, kaya, berhasil).

9.     Sebetulnya, kalau “merdeka” dipahami sesuai dengan makna etimologisnya, kita tak perlu takut dengan perjuangan “Aceh Merdeka”, “Papua Merdeka”, “Ambon Merdeka”, bahkan “Bali Merdeka”, asalkan “merdeka” diletakkan dalam konteks “Negara Kesatuan Republik Indonesia”, dan bukan tafsiran radikal-ekstrem “usir penjajah Jawa!”.

 

Sumber: Koran Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: