Khazanah

Percakapan berikut ini terjadi di Kedai Tempo, Teater Utan Kayu, sekian tahun silam, pada satu senja. Setelah cukup lama ngobrol dan terang matahari mulai melindap, seorang kenalan berkewarganegaraan asing yang lumayan fasih berbahasa Indonesia berkata, “Maaf, ya, saya mau berpulang. Anda masih ingin meninggal di sini?” Senyumnya terkesan sedikit nakal. Saya kira ia ingin berolok-olok, betapa pelik baginya berbahasa Indonesia. Sebenarnyalah ia tahu kata “berpulang” dan “meninggal” dalam kalimatnya dapat diterima dari segi tata bahasa, tapi tidak dengan kacamata semantik.

Barangkali kita kurang menyadari bahwa tampaknya memilih kata di dalam berbahasa kerap menjadi pertimbangan utama, malah terkadang mengalahkan tuntutan menciptakan kalimat yang benar. Lihat saja kalimat si Fulan seperti ini: “Kemarin ibunya sahabat saya meninggal.” Fulan sangat mungkin tidak sedari mula tahu bahwa struktur ibunya sahabat saya keliru, dan itu karena ia lebih didorong oleh kepentingan memilih kata meninggal, bukan kojor atau mampus. Bahwa memilih kata dianggap lebih penting ketimbang menyusun kalimat, ini saya kira erat bertalian dengan pemikiran bahwa kata-lah yang membopong-bopong makna, yaitu sesuatu yang ingin disampaikan kepada pihak lain.

Tetapi, akan selalu terasakan sesuatu kata kurang persis mewakili sesuatu maksud. Akan selalu ada saat ketika memilih kata menjadi persoalan yang tidak mudah, sebab laku ini bukan hanya menyangkut perkara makna semata. Di kalangan sastrawan yang baik, misalnya, anasir bunyi yang permai pada jejeran kata pastilah juga dibangun dengan sadar dan dengan sungguh-sungguh. Fulan memutuskan memakai kata meninggal untuk menerangkan ihwal ibu sahabatnya, sebab, meski ketiga kata itu—meninggal, kojor, dan mampus—punya pengertian yang sama, dua yang disebut terakhir bernada kasar. Jangan pula lupa, tak jarang di dalam menulis kita ingin menghindar dari pengulangan, dan tuntutan memilih kata di situ juga tidak berhubungan dengan soal makna.

Menjadi persoalan di dalam kita menulis adalah kelangkaan kamus yang berisikan senarai kata bersinonim dalam bahasa Indonesia, sementara yang ada pun kini sudah terasa kurang memadai. Mencari kata yang kita inginkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (seterusnya ditulis KBBI) tentu salah alamat, sebab KBBI bermaksud memberi penjelasan arti sebuah kata. Persoalan itu jugalah yang lama saya rasakan sejak masih kuliah sambil kadangkala menulis dan menyunting di tahun 1980-an silam. Maka pada sekitar waktu itu sesekali saya mencatat sederet padanan kata tertentu—selalu saya mencarinya dalam beberapa kamus—sebelum memutuskan akan memakai kata yang mana.

Belakangan, kira-kira pada paruh pertama tahun 1990-an, saya terpana melihat carikan kertas berisi kata-kata bersinonim yang saya catat berdikit-dikit sudah menggunung. Selagi merapikan semua catatan itulah saya sadari betapa banyak kata yang sudah lama dikenal dalam khazanah bahasa Indonesia yang nyaris atau bahkan sudah terlupakan sementara semakin banyak kata dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris, yang lebih dikenal oleh semakin banyak penutur bahasa Indonesia. Saya terpesona oleh “temuan” ini, lalu, apalagi kamus sinonim bahasa Indonesia tergolong langka, terpikirlah saya akan membukukan kata-kata bersinonim itu. Siapa tahu ia akan memaksa mereka yang memandang bahasa Indonesia miskin berpikir kembali.

Kemudian, terbitlah TBI ini yang menghidangkan sebanyak mungkin kata bersinonim dalam bahasa Indonesia. TBI mengandaikan pemakainya tidak sedang mencari penjelasan arti sebuah kata, karena itu ia tidak menyertakan takrif, melainkan ingin mendapatkan (1) ungkapan yang tepat untuk sesuatu konsep, atau (2) kata dengan nuansa makna yang paling cocok dalam konteks tertentu, atau (3) hendak mencari bentuk lain sebuah kata. Saya membayangkan pengguna TBI adalah mereka yang sudah selesai dengan urusan makna, tetapi terdorong oleh suatu keperluan mencari tahu kata-kata apa sajakah yang bersinonim atau memiliki pertalian makna dengan kata tertentu.

Jujur saja, saya agak khawatir TBI kurang diapresiasi karena rupa-rupanya ada juga yang tidak dapat menerima sesuatu yang berbeda dari sebatas yang mereka kenal. Misalnya, ada pengkritik yang terganggu oleh pemakaian kata tesaurus, sebab—ia mengambil model tesaurus Peter Mark Roget—pengelompokan kata di dalam TBI tidak didasarkan pada hubungan ide dan konsep. Nah, hubungan ide dan konsep ini menyebabkan cara penyajian semua anggota yang bertalian makna dengan sebuah lema memang tidak dijajarkan secara alfabetis seperti TBI, melainkan berdasarkan kedekatan makna. Dan kemudian disimpulkan, TBI tidak dapat disebut sebagai tesaurus sebagaimana yang lazim dikenal. Bagi saya, cara berpikir deduktif seperti ini menunjukkan logika yang bengkok, dan bukan tidak berbahaya.

Ternyata dari situ, pertanggungjawaban yang saya sisipkan dalam “Tentang Tesaurus Ini” tidaklah dibaca baik-baik. Perkenankan saya kemukakan di sini, hal pertama yang saya kerjakan setelah memutuskan akan menerbitkan TBI adalah membaca-baca kembali, selain buku teks semantik leksikal dan leksikografi, belasan kamus dan tesaurus dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing, dan membandingkannya satu sama lain. Soal yang ingin saya ketahui adalah batas cakupan isi dan bagaimana isi tersebut disajikan.

Tujuan TBI sederhana saja, yaitu mempertontonkan seberapa kaya khazanah kosakata bahasa Indonesia—inilah makna tesaurus sebenarnya—sembari memberi kemudahan bagi para penggunanya kelak. Hampir 16.000 lema beserta sublemanya tidak saya jumput begitu saja dari belantara konsep dalam ingatan yang serba terbatas, kendati sering terasa juga tuntutan untuk itu, tuntutan untuk menemukan sendiri kata(-kata) apa saja yang bertalian makna dengan sebuah lema. Dengan kata lain, TBI mendayagunakan sekaligus belasan kamus, dua di antaranya yang paling penting adalah Collins English Thesaurus in A-Z Form (1993) dan Merriam-Webster’s Collegiate Thesaurus (1993), sebagai upaya menghimpun sebanyak mungkin sinonim sebuah lema, termasuk baik kata-kata yang bertalian maupun hiponim.

Pada akhirnya saya mengambil sikap praktis belaka yang dibimbing oleh tujuan saya semula, yaitu dengan meneladan Collins dan Webster: pengelompokan kata di dalam keduanya tidak didasarkan pada hubungan ide dan konsep, sementara anggota sinonim sebuah lema tersusun alfabetis. Dan mereka tetap menyebut bukunya tesaurus! TBI memang belum menyertakan antonim karena persoalan teknis semata, namun kini sedang saya persiapkan bersama penyempurnaan di sana-sini untuk edisi mendatang. Yang ingin saya katakan, pengertian tesaurus tidak melulu merujuk pada model Roget.

Dimaui atau tidak, TBI secara tak terelakkan harus bertabrakan dengan kaidah yang dianut oleh kamus dalam bahasa Indonesia sebelumnya atau kamus lain. Misalnya, menyangkut tata cara menuliskan kata: obyek–objek, subyek–subjek, teoritis–teoretis, dan seterusnya. Dalam hal lain, urut-urutan polisemi. Berbeda dari penyajian KBBI, misalnya, TBI mencoba mengurutkan makna pertama, kedua, dan seterusnya sebuah lema berdasarkan derajat kelaziman penggunaannya. Kata “melaksanakan” tidak segera mengantarkan pengertian “memperbandingkan” melainkan “melakukan”. Sementara itu, perumusan arti kedua sublema “melaksanakan” oleh KBBI menurut saya kurang memadai, sama sekali tidak memperlihatkan keluasan maknanya yang kaya dan subur. Pada hemat saya, arti kedua “melaksanakan” versi KBBI dapat dan perlu diperluas menjadi tiga kelompok makna yang memiliki nuansa pengertian berbeda.

Kita lihatlah pembandingan berikut:

KBBI:

melaksanakan v 1 memperbandingkan; menya­makan dng; 2 melakukan; menjalankan, menger­jakan (rancangan, keputusan, dsb)

TBI:

melaksanakan v 1 melakukan, melancarkan, melangsungkan, melantaskan, memangku, membuat, mengadakan, mengerjakan, meng­ge­lar, menunaikan, menyelenggarakan; 2 memani­festasikan, memenuhi, mengaktual­kan, mengeja­wantahkan, mengimplementasi­kan, mengkon­kretkan, menjadikan, menjel­makan, merealisasi­kan, mewujudkan; mene­rapkan, mengamalkan, mengaplikasikan; 3 melayani, mengelola, meng­operasikan, mengurus, menjalankan; 4 kl mema­dankan, membandingkan, menganalogikan, me­nolok, menyamakan; memisalkan, menamsil­kan, mengaci-acikan, mengandaikan, mengiba­ratkan, mengumpamakan, menyepertikan (kl)

Perhatikan pula urutan polisemi kata berikut:

KBBI:

canggih a 1 banyak cakap; bawel; cerewet; 2 suka mengganggu (ribut); 3 tidak dl keadaan yg wa­jar, murni, atau asli; 4 Tek kehilangan keseder­hanaan yg asli (spt sangat rumit, ruwet, atau ter­kembang); 5 banyak mengetahui atau berpeng­alaman (dl hal-hal duniawi); 6 bergaya inte­lektual

TBI:

canggih a 1 berbelit-belit, elusif, kompleks, pelik, rumit, ruwet, terik (ki); tinggi (tekno­logi); 2 ba­car/gapil mulut, banyak bicara/cakap/ mulut/ omong, bawel, beleter, belu-belai, calak, celo­mes, celopar (ark), cerewet, ceriwis, gelatak, nyenyeh, nyinyir; 3 iseng, jail (cak), panjang lidah, resek (cak), suka mengganggu, usil

Dari pengalaman, entah berapa ratus ribu jam, menyelusup-nyelusup di dunia kata yang tercetak dalam belasan kamus, merampas porsi waktu, pikiran, dan tenaga paling banyak tentu saja adalah pekerjaan membuat pengelompokan kata-kata berdasarkan kedekatan makna. Saya memerlukan ketelitian ekstra—suatu kemampuan yang saya sadari sangat rentan terhadap pelbagai pengaruh dari luar—di dalam menyoroti dan secara konsisten menimang-nimang anasir makna apakah yang membedakan tiap-tiap kelompok atau gugus sinonim sebuah kata.

Pertanyaan paling mengganggu: sampai di mana batas-batas kedekatan makna antara satu kata dan lainnya. Kita ambil contoh kata “ideal”, sebuah kata yang tidak dapat kita temukan baik dalam Kamus Sinonim Bahasa Indonesia Harimurti Kridalaksana (1988) maupun Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia Nur Arifin Chaniago dkk. (2000). Penjelasan atas kata ini oleh kamus lain, kurang terang. Kamus Besar Bahasa Indonesia—sejak 1988 hingga 2002 sudah dicetak 16 kali dan diperbaiki dua kali—hanya memerikannya sebagai adjektiva dengan keterangan: “sangat sesuai dng yang dicita-citakan atau diangan-angankan”. Ini agak mirip dengan penjelasan Kamus Badudu-Zain (1994): “memuaskan karena cocok dengan keinginan”. Kamus Poerwadarminta (1976) merumuskan kata itu sebagai “yg dicita-citakan atau diangan-angankan, sesuai dng yg dikehendaki atau diinginkan”.

Tadi sudah disinggung bahwa TBI tidak menyertakan penjelasan arti sebuah kata karena mengandaikan pemakainya adalah mereka yang sudah selesai dengan urusan makna. Jadi, bila ingin mencari tahu kata apa sajakah yang bersinonim atau memiliki pertalian makna dengan kata tertentu, bukalah TBI, tapi bila ingin mencari penjelasan arti sebuah kata, bukalah KBBI. Tapi apakah “ideal”? Kecil hati karena penjelasan yang cekak pada kelima kamus tadi, saya kemudian melanglang ke sejumlah kamus dalam bahasa Inggris, bahasa asal kata itu. Mulailah saya memburu dan mengumpulkan kata-kata yang bersinonim atau memiliki kedekatan makna dengan “ideal” dalam satu wadah, dan kemudian memilahnya dengan perangkat analisis komponen makna. Berkat analisis itulah saya dapat perbedakan kelompok demi kelompok anggota sinonim kata “ideal” sebagai berikut:

ideal /idéal/ 1 n acuan, arketipe, cermin, contoh, eksemplar, model, paradigma, pola, teladan; dambaan, idaman, impian; 2 a abstrak, hipotetis, teoritis, transendental; konseptual; 3 a kamil (Ar), komplet, lengkap, sempurna; 4 a paradig­matis, representatif

Juga sudah disinggung, lumayan sering saya harus menemukan sendiri kata apa saja kiranya yang bertalian makna dengan sebuah lema, “sipil”, misalnya.

sipil a 1 awam, biasa, kebanyakan, publik; 2 cak enteng, kecil, remeh, sepele; gampang, mudah, sederhana

Keterangan mengenai kata tersebut dalam semua kamus bahasa Indonesia boleh dikata agak bermiripan dengan apa yang dijelaskan KBBI: “berkenaan dng penduduk atau rakyat (bukan militer)”. Bagi saya, ada makna lain kata “sipil” yang belum tercatat di sana, yang kemudian ke dalam TBI saya cantumkan sebagai arti kedua. Pengertian-pengertian “enteng, kecil, remeh, sepele; gampang, mudah, sederhana” yang terkandung dalam kata “sipil” sungguh hidup di tengah masyarakat kita, tetapi mengapa tak satu pun kamus bahasa Indonesia merangkum pengertian itu?

Mengakhiri pembicaraan ini, harus buru-buru saya akui betapa TBI masih sangat jauh dari sempurna. Rumpang di sana-sini pasti bukan dilakukan oleh beberapa teman yang membantu, sebab mereka melulu menggarap hal-hal teknis yang tak berhubungan dengan isi TBI. Sejak hari pertama menerima nomor contoh, sudah saya rasakan bahwa kini saya membutuhkan mata, telinga, dan kepekaan yang jauh lebih besar.

Maka saya sambut dengan girang segala kritik dan cercaan dari siapa pun, baik yang sudah maupun yang akan datang.

Bekasi, akhir Maret 2007

Penulis:

Eko Endarmoko

Makalah ini disampaikan pada Konvensi FBMM di Pacet, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: