“Anda PANASARAN?” —“Jangan Baca Ini!”—

I. “Panasaran” – “Penasaran”

1. Mungkin Anda pernah menonton film “horror” yang berjudul “The Lost Souls” (= “Arwah Penasaran” atau “Jiwa-jiwa Tersesat” atau “Roh-roh Gentayangan”), yang menceritakan sekelompok remaja yang “mati penasaran” sehingga menjadi “hantu pembalas dendam”.

2. Kalau belum, tidak apa-apa, karena saya cuma mau mengupas kata “penasaran” dan membedakannya dengan “panasaran”.

3. Pasti ada yang bereaksi: Lho, “penasaran” dan “panasaran” ’kan sama saja artinya.

4. Walaupun Anda bukan “hantu penasaran”, Anda bisa saja merasa “panasaran” saat membaca tulisan saya yang tidak normal ini.

5. “Panasaran” berasal dari “panasbharan” (Bahasa Jawa Kuno): “panas” + “bhara” (perut). Jadi, “panasbharan” secara harafiyah berarti “panas perut” atau “panas dalam”, sehingga “panasaran” mendapat arti kiasan:

a. Geram.

b. Rasa marah yang tertahan, tidak bisa diungkapkan, namun menanti saatnya untuk meledak sewaktu-waktu.

c. Rasa “aku tidak terima perlakuan ini” yang menyakitkan hati, namun karena satu dan lain hal, belum bisa diselesaikan secara tuntas.

d. Rasa “ingin tahu” yang menantang orang untuk “mencari tahu” karena tidak puas dengan jawaban/informasi/fakta yang diterimanya sampai saat ini.

e. Rasa “jengah”: terusik harga dirinya, sehingga orang merasa geram sebelum dapat membuktikan kepada dunia, “siapa aku ini”.

f. Rasa geram karena tertantang untuk menunjukkan kekuatan/keunggulan/kejagoan/kehebatan dirinya, atau “tak mau kalah”.

g. Rasa dendam membara yang tak terpuaskan sampai-sampai terbawa ke liang kubur, (“mati penasaran”).

6. “Penasaran” berasal dari Bahasa Jawa: “Pe-nyasar-an” atau “Pe-sasar-an”, yang berarti ”yang tersesat/kesasar/gagal mencapai tujuannya”.

7. “Arwah penasaran”; arwah orang yang matinya terjadi secara tidak wajar (misalnya dibunuh, diperkosa, disantet, dihukum mati) atau tidak diupacarai secara agama, sehingga arwahnya “gentayangan/berkeliaran” di alam yang tidak pasti, di antara alam manusia dan alam akhirat.

8. Bisa dikatakan, “arwah gentayangan” biasanya merangkap sebagai ”arwah penasaran” sekaligus “arwah panasaran”, karena ia gentayangan mencari “tempatnya yang semestinya di alam akhirat”, sambil mencari kesempatan untuk menuntaskan “masalahnya yang belum juga selesai sampai terbawa ke liang kubur” (mungkin arwah itu bisa tenang beristirahat setelah diupacarai sebagaimana mestinya).

9. “Rasa penasaran” membuat orang panik, bingung, kehilangan arah, tak tahu mau berbuat apa. Maka, ia perlu dibantu oleh orang lain yang tidak bingung.

10. Sedangkan “rasa panasaran” bersumber dari “panas” dalam hati/pikiran manusia yang justru bekerja sebagai energi psikis yang memotivisir orang untuk bertindak mengerahkan potensi/kemampuannya sampai situasi/kondisi realitasnya diubah sesuai dengan kemauannya sendiri.

II. Energi Panas

1. Tanpa energi panas, tak ada kehidupan di bumi ini.

2. Tanpa energi panas, tak ada gerak di bumi.

3. Energi panas bisa membakar, melebur, menghanguskan.

4. Tukang roti membakar adonan tepung menjadi roti.

5. Tukang mesin membakar air menjadi uap untuk menggerakkan mesin uap di kapal.

6. Tukang besi memanaskan besi agar mudah ditempa/dibentuk sesuai dengan desain yang dikehendakinya.

7. Dalam “pengabenan”, panas api membakar jenazah/tulang-tulang, sehingga lebur menjadi abu (kembali menjadi unsur-unsur/elemen alami).

8. Logam “emas campuran” dilebur dengan panas api, sehingga mudah dipisahkan antara emas murni dan logam-logam campurannya.

9. Pedang, lembing, tombak, kapak, dan senjata-senjata logam lainnya dijemur di bawah terik panas matahari Ramadhan agar menjadi lebih kuat. (Kebiasaan suku-suku pengembara di padang pasir Arabia).

10. Secara kiasan panas api spiritual bekerja dalam jiwa manusia sebagai:

a. Peneguh kemauan/tekad manusia agar bertahan dalam penderitaan di jalan kebenaran.

b. Pembangkit “rasa panasaran” dalam diri manusia agar tergerak untuk mengaktualisir potensi dirinya sesuai dengan martabatnya sebagai ”khalifah Tuhan” di dunia ini.

c. Api penyesalan yang menjadi awal pertobatan manusia dari jalan sesat/dosa.

d. Api penderitaan yang membuat hati manusia jadi makin suci.

e. Panasnya api kasih Illahi yang melembutkan hati manusia, sehingga mudah dibentuk sesuai dengan desain yang dikehendaki Tuhan.

f. Motivator agar manusia berani menaklukkan diri di bawah disiplin Illahi melalui “ulah TAPA”/”TAPABRATA”.

III. Analisis Etimologis “TAPA”

1. “TAP” (Bahasa Sanskerta):

a. Memancarkan energi panas.

b. Memancarkan sinar panas (matahari).

c. Memanaskan.

d. Menghangatkan.

e. Membakar sampai habis.

f. Menghancurkan dengan panas.

g. Menanggung penderitaan batin.

h. Menanggung rasa penyesalan atas dosa yang telah dilakukan.

i. Menyiksa diri.

j. Melakukan matiraga.

k. Menjalankan puasa dan pantang demi pengendalian diri.

l. Terbakar sampai hangus.

m. Terbakar sampai jadi abu.

n. Dimurnikan/disucikan secara spiritual, sehingga bersih dari noda-noda dosa.

o. Menanggung sengsara secara sukarela.

p. Dalam keadaan gelisah yang dahsyat.

2. “TAPAS” (Bahasa Sanskerta)

a. Energi panas.

b. Kehangatan.

c. Penderitaan.

d. Kesakitan.

e. Matiraga.

f. Latihan meditasi yang berat.

3. “TAPAS” = kelima API yang menyiksa seorang yang sedang “ber-TAPA”:

b. Api di sebelah Utara

c. Api di sebelah Selatan

d. Api di sebelah Barat

e. Api di sebelah Timur

f. Api di atas langit (yaitu matahari).

IV. Analisis Etimologis ”Brata”

1. ”Vrata” (Bahasa Sanskerta)

a. Kehendak/kemauan yang kuat.

b. Kehendak penguasa yang dituangkan dalam: perintah/peraturan/tata tertib/undang-undang.

c. Lingkup berlakunya kehendak penguasa: wilayah, negara berdaulat, lingkungan warganegara, rakyat yang berada dalam naungan kekuasaannya.

d. Kehendak/tekad kuat yang dituangkan dalam: sumpah, janji suci, janji prasetya, keputusan bersama yang mengikat semua pihak, janji pada diri sendiri.

e. Kehendak/tekad kuat yang dituangkan dalam janji di hadapan Tuhan yang mengikat diri untuk menjalankan ulah TAPA secara penuh disiplin religius.

V. Analisis Etimologis “HURRIYA”

1. “HARRA” (Bahasa Arab)

a. Panas (lawan dingin).

b. Menyala (lilin, pelita).

c. Berkobar (api).

d. Dipanaskan dengan api.

e. Terang, tampak jelas.

f. Menerangi.

g. Menjelaskan buah pikiran dengan: tulisan, karangan, uraian, rumusan, definisi.

h. Memberi terang di jalan hidup orang, berarti: memberi kebebasan, melepaskan dari belenggu perbudakan.

i.Memurnikan, menyucikan, membebaskan dari noda dosa

2. “HURRIYA” (Bahasa Arab);

a. Kebebasan (“liberty, freedom”).

b. “Independence” = ke-tak-tergantungan.

c. Kebebasan berkreasi.

d. Tidak dikendalikan dari luar.

e. “HURRIYA al-IBADA” = kebebasan beribadat = “freedom of worship”.

f. “HURRIYA al-FIKR” = kebebasan berpikir “freedom of thought”.

g. “HURRIYA al-KALAM” = kebebasan berbicara = “freedom of speech”.

h. “HURRIYA an-NASR” = kebebasan pers = ”liberty of the press”.

Sumber: Koran Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: