Bahasa Indonesia dan Realitas Indonesia

ABSTRACT
This paper explain about the existence of Indonesian
Language in the History of people formed and
Indonesia. Indonesian Language could not be consider
only as union, national, or nation language, but also as
ground instrument of the nation and Indonesia’s formed.
It must be consider by essencially and fundamenttally
roling in producing significant nationality and affair of
state products such as national anthem, the Proclaim of
Independence, constitution, dan other intellectual
constructions. It also could not be positioned as a
language used to communicate but it becomes ground
field from the existence of Indonesia reality. Indonesian
language reality is Indonesian people reality, also on
vice versa. Several important dimension to
understanding Indonesia reality connected with
Indonesian language reality, among others (1) the
relation between Indonesian language with nationalism
construction, (2) the relation of Indonesian language as
principal of identity, (3) Indonesian language and
expression of Indonesia, and (4) how the Indonesian
language positioned as spectacles of contemporary
Indonesian people.
1. Pendahuluan
Dalam buku-buku sejarah bangsa Indonesia sangat sedikit
ulasan yang memadai tentang posisi Bahasa Indonesia sebagai aspek
fundamental bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Satu-satunya momen historis utama, yang menyebut Bahasa Indonesia,
hanyalah Sumpah Pemuda 1928. Padahal Bahasa Indonesia mempunyai
peran historis yang sangat penting dalam tiga fase kritis terbentuknya
nasionalitas, bangsa, dan negara Indonesia yaitu fase pembentukan
konsep kebangsaan, fase pergerakan kemerdekaan, dan fase penanaman
identitas.
Pembicaraan tentang pembentukan bangsa dan negara
Indonesia, umumnya, dihubungkan dengan (1) terbentuknya organisasi
modern Boedi Oetomo tahun 1908, (2) dicetuskannya Sumpah Pemuda
tahun 1928, salah satu diktumnya adalah tentang bahasa persatuan
Bahasa Indonesia, (3) Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, (4)
Undang-Undang Dasar tahun 1945 yang pada Bab XV pasal 36
menyatakan : Bahasa negara ialah bahasa Indonesia. Tidak ada
pembicaraan tentang Bahasa Indonesia sebagai elemen fundamental
dari terbentuk dan terpeliharanya bangsa dan negara Indonesia.
Padahal struktur terbentuknya bangsa dan negara Indonesia,
baik dalam pernyataan Sumpah Pemuda tahun 1928, naskah Proklamasi
Kemerdekaan, dan draft Undang-Undang Dasar 1945 adalah wajah dari
ekspresi bahasa Indonesia yang mampu membangun spirit gagasan,
pemikiran, maupun ide-ide tentang negara dan kebangsaan. Dalam
sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI) maupun Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia 28 Mei-22 Agustus 1945, tampak jelas kekuatan Bahasa
Indonesia dalam komposisi argumentasi tokoh-tokoh seperti Prof. Mr.
Muhammad Yamin, Prof. Mr. Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno.
Perjalanan Bahasa Indonesia selanjutnya, juga ditentukan dari
perubahan-perubahan sosial yang terus menerus berlangsung dan
membentuk masyarakat Indonesia kontemporer. Bahasa Indonesia terus
menerus akan menentukan wajah realitas masyarakat Indonesia dan
sekaligus ditentukan dari cara-cara masyarakat Indonesia menggunakan
Bahasa Indonesia dalam tindakan-tindakan komunikastif yang
membentuk tema-tema kehidupan yang terus-menerus bergerak secara
kreatif.
2. Bahasa Indonesia dan Konstruksi Gagasan Nasionalisme
Pada sumpah pemuda tahun 1928, disebut-sebut Bahasa
Indonesia sebagai bahasa persatuan. Statemen tersebut menunjukkan
sebuah kesadaran akurat para pemuda dalam memandang bahasa
sebagai bagian utama dari sebuah genetika-historis sebuah bangsa.
Pada sisi lain, statemen sumpah tersebut juga menunjukkan posisi
bahasa sebagai aspek yang sangat penting dibicarakan dalam konstruksi
nasionalisme.
Secara genetika-historis, Bahasa Indonesia, tidak dapat
dipisahkan dari eksistensi historis. Berdasarkan keyakinan tersebut,
maka roh awal bahasa Indonesia sudah terbentuk atau mempunyai akar
awal sejak kedatangan bangsa Eropa (khususnya Portugis) pada
pertengahan kedua abad XVI hingga munculnya Belanda pada akhir
abad XVI di Nusantara. Menurut Grant (dalam Race, Language, and
Nationality : 2008), ketika bangsa lain datang menginvasi sebuah
bangsa maka ada dua aspek yang paling bermasalah, pertama adalah
populasi dan kedua adalah bahasa setempat.
Kedatangan bangsa-bangsa Eropa dan masa invasi mereka yang
panjang di Nusantara, tidak hanya melakukan invasi dalam konteks
sumberdaya alam tetapi juga invasi dalam konteks bahasa dan adat
istiadat. Situasi yang paling kongkrit dapat disaksikan dalam kasus
kedatangan bangsa Eropa ke benua Australia yang tidak sekedar
melakukan invasi geografis tetapi juga invasi terhadap populasi dan
perkembangan bahasa Aborigin. Demikian halnya ketika bangsa Eropa
menginvasi Amerika dan tidak sekedar menghabiskan populasi kaum
Indian tetapi juga mengancam punahnya bahasa Indian.
Bahasa Indonesia muncul dalam sebuah perspektif yang sangat
terkait dengan gagasan kebangsaan Indonesia sebagai sebuah populasi
politik. Bahasa Indonesia juga menjadi jawaban dari realitas multi
bahasa yang terdapat di Nusantara. Untuk membangun sebuah populasi
politik, dibutuhkan sebuah kekuatan bahasa sebagai representasi
ekspresi dan aspirasi politik seluruh komunitas.
Ikatan sebuah bahasa juga menjadi perekat mendalam dari
kemungkinan-kemungkinan disintegrasi. Bahasa menjadi aspek yang
paling sensitif dalam sebuah ikatan nasionalitas, sebagaimana tampak
secara historis pada negara-negara di Eropa yang menghubungkan
nasionalitas dengan kebahasaan seperti di Belgia, Austria, Inggris,
Perancis, Jerman, Belanda, Portugis, Italia, dan Turki. Meskipun dalam
beberapa kasus, nasionalitas juga dihubungkan dengan aspek-aspek
yang terkait dengan ras atau agama.
Di Indonesia yang terbentuk dari sebuah kesamaan historis
Nusantara, tidak mungkin untuk menggunakan agama sebagai aspek
utama yang menjadi perekat persatuan, sebagaimana diharapkan dalam
Piagam Jakarta. Setidaknya terdapat beberapa agama utama yang telah
berkembang di Nusantara pasca terbentuknya gagasan nasionalisme
yaitu Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Pembentukan nasionalisme
Indonesia juga tidak mungkin berdasarkan ras sebab konstruksi
nusantara terdiri dari komposisi etnik dan ras yang sangat beragam.
Satu-satunya yang paling mungkin mencairkan perbedaan-perbedaan
yang ada adalah bahasa.
Bahasa Indonesia dikonstruksi sebagai simbol kesatuan yang
paling kuat dan memadai untuk membentuk dan mebangun kerangka
awal nasionalisme. Maka sangat tepat ketika sumpah pemuda
menggunakan tiga isu sentral dalam pembentukan nasionalisme yaitu
kebangsaan, ketanahairan, dan kebahasaan. Untuk kasus Indonesia,
aspek nasionalitas tidak mungkin dilepaskan dari aspek kebahasaan
(bahasa Indonesia). Sesuatu yang berbeda jika dikomparasi dengan
aspek nasionalitas di Eropa yang lebih cenderung terkait dengan ras
atau di beberapa negara yang menghubungkan nasionalitas dengan
agama.
Negara-negara di Eropa, ketika berbicara tentang nasionalitas,
menghubungkannya dengan ras. Mencari nasionalisme akan
menemukan ras, seperti juga pada negara yang menghubungkan
nasionalitas dengan agama. Esensi kebangsaan tidak dapat dilepaskan
dari esensi keberagamaan masyarakatnya. Di Indonesia, esensi
kebangsaan tidak dapat dilepaskan dari esensi kesatuan tanah air dan
esensi bahasa Indonesia yang dimunculkan sebagai jawaban dari
pembentukan kesadaran nasionalisme.
Menjadikan agama atau ras sebagai esensi nasionalisme, di
Indonesia, akan menimbulkan efek yang riskan bagi ketahanan
nasionalitas. Maka bahasa Indonesia adalah jalan yang paling tepat dan
mudah diterima bagi populasi bangsa yang terdiri dari bahasa yang
berbeda. Ketika imperialisme berlangsung di Indonesia, pada satu sisi
dapat bertahan lebih tiga abad karena adanya perbedaan bahasa dan
perbedaan agama dan ras. Tetapi pada sisi lain, pengalaman berada
dalam keterjajahan mampu terekspresikan dengan baik dalam satu
bahasa utama, bahasa Indonesia, sebagai bahasa kebangsaan yang
membuat bangsa Indonesia mempunyai daya tahan nasionalitas yang
sangat baik dibanding negara-negara dengan situasi geografis-kultural
yang sekompleks Indonesia. Bandingkan dengan tragedi bahasa
Romawi yang punya sejarah besar sebagai bangsa tetapi mengalami
kegagalan bahasa.

Puncak kekuatan bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasionalisme, tergambar dalam ekspresi awal munculnya gagasan
kemerdekaan. Organisasi-organisasi kepemudaan yang menggunakan
bahasa Indonesia, propaganda-propaganda melalui media berbahasa
Indonesia, dan orasi-orasi tokoh-tokoh pergerakan dalam bahasa
Indonesia, menjadikan bahasa Indonesia sebagai senjata penting dalam
membangun kesadaran kebangsaan dan spirit perjuangan.
3. Bahasa Indonesia sebagai Identitas Induk
Periode awal terbentuknya negara Indonesia, menempatkan
bahasa sebagai sebuah sistem identitas induk (master identity) yang
menjangkau identitas personal, interaksional, dan relasional masyarakat
Indonesia. Bahasa sebagai Identitas Induk menjangkau wilayah yang
diharapkan stabil dan melingkupi konteks sosial dari identitas
masyarakat Indonesia. Berikut adalah pemetaan konseptualisasi bahasa
sebagai identitas.
Situasi
Stabil
Konteks Keunikan
Sosial Personal
INDUK
RELASIONAL
INTERAKSIONAL
PERSONAL
Situasi
Dinamik
Menurut Thornborrow (2004), bahasa adalah identitas yang
berfungsi pada level institusional, sosial, dan individual yang dibangun
secara konstan dan terus dinegosiasikan dalam kehidupan. Bahasa
Indonesia, pada fase pra kemerdekaan bangsa Indonesia, telah
menunjukkan gejala kuat sebagai spirit bangsa dalam menyatukan diri
dalam sebuah identitas nasional. Perkembangan bahasa Indonesia
sebagai bahasa pengantar pendidikan melampaui perkembangan
pendidikan atau sekolah dengan bahasa Belanda sebagai bahasa
pengantar.
Pada era tahun 1900-1928, dalam catatan Kartodirdjo
(1993:216), perkembangan siswa pada sekolah dengan “bahasa
Indonesia” (bahasa bumiputera) berkembang sebesar 12 kali lipat dari
125.444 orang menjadi 1.513.088 orang. Perkembangan yang
melampaui jumlah siswa yang masuk dalam sekolah berbahasa
pengantar Belanda yang hanya 65.106 orang. Terlepas dari upaya pihak
kolonial untuk membuat sekat-sekat sosial dalam pendidikan dengan
memposisikan sekolah-sekolah berbahasa Belanda sebagai sekolah elit
(standenschool), situasi tersebut memicu solidaritas nasional melalui
bahasa Indonesia.
Perkembangan bahasa Indonesia sebagai spirit nasional,
menurut Ricklefs (2005 :382-384) telah berkembang sejak tahun 1918
hingga mencapai fenomena sebagai bahasa pemersatu pada tahun 1928.
Pada tahun 1918 telah terbit sekitar 40 surat kabar yang sebagian besar
sudah berbahasa Indonesia; pada tahun 1925 telah beredar sekitar 200
surat kabar berbahasa Indonesia. Puncaknya pada tahun 1928 telah
muncul lebih dari 400 surat kabar, baik yang harian, mingguan, dan
bulanan yang berbahasa Indonesia.
Perkembangan bahasa Indonesia sebagai sebuah spirit nasional
juga muncul melalui Balai Pustaka yang mulai menerjemahkan
berbagai literatur Barat kedalam bahasa Indonesia dan menerbitkan
karya-karya sastra Indonesia Modern yang berbahasa Indonesia. Sajaksajak
berbahasa Indonesia awal muncul pada tahun 1920 melalui karyakarya
Muhammad Yamin dan Sanusi Pane pada tahun 1921.
Diterbitkannya roman modern pertama berbahasa Indonesia yaitu Siti
Noerbaja karya Marah Roesli pada tahun 1922, memicu perkembangan
identitas bangsa Indonesia melalui bahasa Indonesia.
Berkembangnya pendidikan berbahasa pengantar bahasa
Indonesia; berkembangnya media surat kabar berbahasa Indonesia, dan
munculnya karya-karya sastra fenomenal berbahasa Indonesia,
mengantarkan gagasan besar tentang identitas kebangsaan yang
dicetuskan dalam Kongres Pemuda pada bulan Oktober 1928 yang
menyetujui tiga diktum pengakuan yang salah satunya adalah tentang
bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Dalam konteks pengakuan Bahasa
Indonesia sebagai bahasa persatuan, dalam Sumpah Pemuda 1928,
menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia telah menjadi pengesahan dasar
(legitimasi) adanya suatu struktur otoritas sosial. Bahasa Indonesia,
pasca Sumpah Pemuda 1928, telah menjadi bagian fundamental bagi
sistem sosial Indonesia (Nasikun, 1993:66-67).
Bahasa Indonesia telah menjadi konsensus nasional yang
menunjukkan identitas kebangsaan yang sangat fundamental untuk
mendukung adanya diktum tentang tanah air satu dan bangsa satu,
Indonesia. Tanpa Bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan,
eksistensi tanah air dan kebangsaan akan kehilangan kekuatan
kebersatuannya. Integrasi nasional pasca Sumpah Pemuda,
menunjukkan arah integrasi masyarakat Indonesia tidak sekedar pada
batas-batas teritorial kehidupan politik, karena tidak disebutkan secara
jelas bahkan pada saat Proklamasi Kemerderkaan tahun 1945, tetapi
lebih pada batas-batas komunikasi berbahasa.
Fakta sejarah tentang penggunaan Bahasa Indonesia sebagai
sebuah spirit fundamental dari pembentukan identitas nasionalisme
terus berkembang sejak Kongres Pemuda 1928. Era tahun 1940-an,
seiring dengan upaya eliminasi pengaruh Barat oleh Jepang di Asia
Pasifik, Bahasa Indonesia mulai digunakan sebagai bahasa utama
propaganda kemerdekaan. Situasi tersebut menurut Ricklefs (2005:
411), mulai meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
Propaganda para seniman, sastrawan, dan guru-guru melalui
penggunaan Bahasa Indonesia, membuat Bahasa Indonesia menjadi
perekat dasar dari struktur negara kesatuan bangsa Indonesia yang
tersekat-sekat dalam geografi kepulauan, perbedaan ras, dan perbedaan
bahasa.
Asumsi bahwa kesamaan sejarah keterjajahan sebagai pengikat
kesatuan bangsa Indonesia dapat diterima secara sentimen sosial, tetapi
pengaruh Bahasa Indonesia sebagai perekat sentimen politik juga harus
dipandang dalam sisi yang sangat fundamental. Bahasa Indonesialah
yang menjadi aspek yang paling faktual dan riil dari terkonstruknya
bangunan kebangsaan. Tanpa penerimaan Bahasa Indonesia sebagai
identitas nasional dan penggunaannya dalam propaganda kemerdekaan,
slogan tentang tanah air dan bangsa hanya akan menjadi slogan yang
tidak dapat terukur.
Bahasa Indonesia menjadi identitas induk yang tumbuh dalam
konteks sosial dan berfungsi dalam interaksi politik untuk menciptakan
sebuah realitas dinamik dari komunitas yang terberai dalam satu
kesatuan kebangsaaan; dari komunitas yang terjajah menjadi komunitas
yang mampu menyuarakan kemerdekaan; dari komunitas yang tanpa
identitas bersama menjadi komunitas dengan identitas pemersatu yang
menjadi dasar berkembangnya interaksi dan relasi nasional.
Menurut Kroskrity (2000:111), Identitas tidak diberikan tetapi
dibentuk melalui deliberasi (kesengajaan), strategi manipulasi, dan
kesadaran nyata. Hal tersebut meliputi penggunaan dan pandangan
bahasa sebagai tindakan sosial. Perspektif identitas yang dikemukakan
Kroskrity menunjukkan aspek penggunaan Bahasa Indonesia sebagai
kesengajaan untuk melakukan pembentukan nasionalitas Bangsa
Indonesia; sebagai upaya strategi memanipulasi lemahnya struktur
kesatuan Nusantara; dan sebagai sebuah kesadaran nyata membentuk
identitas bersama secara nasional.
Berbeda dengan banyak negara yang membangun karakter
nasionalitas dengan fokus pada kebebasan individu untuk
memanipulasi sistem sosial secara fleksibel. Sistem sosial itu
termanifestasi dalam ras dan kasta yang dibentuk dan diterapkan secara
bertahap, disamping itu terdapat peran ekonomi-politik dalam
pembentukan identitas. Di Indonesia, pembentukan karakter identitas
nasional lebih termanifestasi dalam bentuk penggunaan bahasa bersama
sebagai pembentuk dan pendukung tumbuhnya solidaritas kebangsaan.
4. Bahasa Indonesia Dalam Membangun Wacana Keindonesiaan
Dicetuskannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan,
dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, menunjukkan beban berat Bahasa
Indonesia untuk berfungsi sebagai sebuah “bahasa” yang harus dapat
merangkum segala bentuk pengalaman historis, perbedaan kebudayaan,
dan sistem gagasan dari berbagai komunitas di Nusantara untuk bersatu
dalam sebuah wacana tentang Keindonesiaan. Bagaimana “Bahasa
Indonesia” itu menanggung beban besar menyatukan dan membentuk
sebuah wacana Keindonesiaan adalah aspek yang tidak banyak
dibicarakan orang. Padahal, beban tanggungjawab Bahasa Indonesia
adalah beban fundamental untuk menghasilkan komposisi dan
formulasi konsep tentang Indonesia dalam sebuah susunan bahasa yang
dapat ditangkap, dimaknai, dan merepresentasi eksistensi komunitas
etnik yang berbeda-beda.
Saat Sumpah Pemuda menetapkan keyakinan tentang Bahasa
Indonesia sebagai “bahasa persatuan”, maka tidak mungkin untuk
memungkiri bahwa Bahasa Indonesia harus menjadi alat utama untuk
memaknai realitas dunia baru bagi masyarakat Nusantara. Sumpah
Pemuda itu sendiri, merupakan sebuah penanda awal dari
tanggungjawab Bahasa Indonesia menjadi transmisi utama
terbentuknya harapan masyarakat Nusantara untuk merdeka dan
berdaulat sebagai sebuah bangsa.
Bahasa Indonesia harus menyediakan kata-kata dan komposisi
kalimat untuk merangkum segenap pengalaman keterjajahan dan
harapan untuk merdeka. Kata-kata dan komposisi kalimat-kalimat
tersebut harus mampu menangkap sentimen kebangsaan yang kuat agar
dapat meyakinkan masyarakat untuk bereaksi. Pada sisi lain, Bahasa
Indonesia harus mampu menyediakan kekayaan argumen dalam
membangun kerangka-kerangka pemikiran yang setara dengan Bahasa
Belanda, Bahasa Jepang, atau Bahasa Inggris.
Ujian mendasar bagai Bahasa Indonesia pasca Sumpah Pemuda
adalah menjadi institusi bahasa untuk melakukan diplomasi pemikiran
dan menyuarakan hati nurani. Tugas paling berat sebuah bahasa
nasional adalah membangun, memelihara, dan mensirkulasi wacanawacana
tentang kebangsaan (Mills, 1997:11). Tonggak besar
keberhasilan Bahasa Indonesia tampak dari kecerdasan argumentasi
para tokoh dan pemikir nasional menggunakan Bahasa Indonesia dalam
menyusun dan menformulasikan sistem kenegaraan pada sidang Badan
Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
maupun pada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Dalam sidang BPUPKI yang berlangsung pada tanggal 28 Mei
– 1 Juni 1945 dan pada tanggal 10 Juli – 17 Juli 1945, argumentasi
berbahasa Indonesia dari tokoh-tokoh seperti Prof. Mr. Muhammad
Yamin, Prof. Mr. Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno. Kekuatan
argumentasi yang kaya, meskipun terdapat campuran kata dari bahasa
Belanda dan Jepang, tentang dasar negara, menunjukkan kekuatan
Bahasa Indonesia dalam menopang sistem gagasan kenegaraan. Bahasa
Indonesia menjadi instrumen penting dari wacana besar kebangsaan
pada sidang BPUPKI yang menghasilkan ideologi negara Pancasila dan
berujung pada tercetuskannya naskah Proklamasi Kemerdekaan pada
tanggal 17 Agustus 1945.
Dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
pada tanggal 18-22 Agustus 1945, Bahasa Indonesia juga menunjukkan
kekuatan dalam membentuk draft Undang-Undang Dasar 1945.
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menunjukkan kekuatan
Bahasa Indonesia, tidak sekedar menkonstruksi prinsip kenegaraan,
tetapi juga menangkap sistem gagasan universal tentang kemerdekaan.
Eksistensi tentang Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945
dan Undang-Undang Dasar 1945 harus dipandang sebagai kekayaan
mendasar dari Bahasa Indonesia dalam membangun wacana dan
pemikiran serta kekuatan Bahasa Indonesia sebagai pembentuk konsep
dan ide tentang dasar negara.
5. Peran Bahasa Indonesia dalam Diversitas Sosial
Memasuki era kemerdekaan, masyarakat Indonesia, berada
dalam sebuah struktur masyarakat yang kompleks. Secara sosial,
masyarakat Indonesia tumbuh dalam situasi pluralitas dengan kesatuankesatuan
sosial berbeda dan unik serta berada dalam hirarkhi lapisan
sosial yang tegas. Pada aspek lain, kesatuan-kesatuan sosial terangkum
dalam sistem multikultur, segala bentuk keragaman (suku, etnik, ras,
agama) diterima sebagai bagian dari diri sendiri.
Bahasa Indonesia mampu mempengaruhi perubahan sosial,
terutama melalui perubahan tingkat-tingkat hirarkhi sosial di Jawa
(Ricklefs, 2005:443). Bahasa Indonesia, dalam satu dekade pasca
kemerdekaan, menunjukkan peran signifikan dalam kedudukannya
sebagai bahasa nasional. Menurut Ricklefs (2005:474), jumlah orang
Indonesia yang memiliki kemampuan membaca dalam Bahasa
Indonesia meningkat tajam. Hal tersebut, dapat diketahui dari
peningkatan oplah surat kabar berbahasa Indonesia pada tahun 1950
sebesar 500.000 eksemplar menjadi 933.000 eksemplar pada tahun
1956.
Komitmen kebangsaan dapat diukur melalui tersebarnya secara
cepat penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi secara sosial
dan kenegaraan. Pada awal tahun 1970-an pertumbuhan persentase
penduduk Indonesia yang mampu menggunakan Bahasa Indonesia,
menurut sensus, telah mencapai 40,8 %. Pada tahun 1980, sensus
penduduk menunjukkan kenaikan kemampuan masyarakat berbahasa
Indonesia telah mencapai 61,4 %. Pada tahun 1990 data menunjukkan
kenaikan mencapai 80% penduduk yang mampu berbahasa Indonesia
(Ricklefs, 2005:600). Gambaran tersebut menunjukkan kekuatan
fundamental Bahasa Indonesia membangun identitas nasional.
Realitas Indonesia yang plural, majemuk, dan multikultural
adalah sisi penting yang harus dipelihara. Bahasa Indonesia sebagai ciri
pemersatu dan identitas Induk secara nasional, harus mampu
mengakomodasi berbagai diversitas sosial. Setidaknya terdapat 101
kelompok etnik di Indonesia (Suryadinata, 2003) dengan lebih 200 juta
penduduk. Masalahnya kemudian, Bahasa Indonesia, tidak banyak
dilibatkan dalam pembentukan sosial dan konteks sosial.
Beberapa kasus konflik sosial yang melibatkan kelompok etnik
seperti tragedi 13-15 Mei 1998 di Jakarta atau Perang antara suku
Madura dan Dayak di Sampit pada Februari 2001, lebih dipandang
sebagai konflik sosial yang bersifat ekonomi. Terutama aspek
kesenjangan sosial yang menimbulkan stigma saling merendahkan
antar kelompok etnik. Sudut pandang “bahasa” belum pernah dijadikan
model untuk melakukan penyelesaian-penyelesaian konflik akibat
adanya diversitas sosial.
Penelitian informal yang pernah dilakukan penulis, pada kasus
konflik sosial di Sampit, menunjukkan bahwa 80 % dari 20 responden
warga Dayak menyatakan ketidaksukaan mereka pada warga Madura
dari penggunaan bahasa daerah mereka yang sangat kental. Hal yang
sama, ketika penulis melakukan penelitian terhadap cara pandang
warga etnik Makassar pada etnik Tionghoa, menunjukkan lebih 70%
yang menganggap perbedaan utama, antara etnik Makassar dan etnik
Tionghoa, terletak pada bahasa mereka.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa perbedaan bahasa
merupakan perbedaan identitas utama yang dapat menimbulkan
masalah pada aspek interaksi dan relasi secara sosial. Penggunaan
komunikasi secara sosial, dalam interaksi langsung maupun tidak
langsung, dengan kelompok etnik yang berbeda, dapat menimbulkan
efek diversitas identitas yang menajam. Situasi tersebut akan semakin
parah jika disertai dengan ketimpangan-ketimpangan ekonomi.
Menguatnya situasi disintegrasi di Timor-Timur (Sekarang
Negara Timor Leste), tidak dapat dipandang hanya dari sisi politik dan
ekonomi. Gejala disintegrasi justru muncul melalui cara memandang
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Menurut Ricklefs
(2005:628) terdapat dua cara membangun perbedaan antara masyarakat
Timor-Timur dengan masyarakat Indonesia secara umum (khususnya
tentara yang berada di Timor-Timur) yaitu agama dan bahasa. 90%
penduduk Timor-Timur, pada tahun 1994, beragama Kristen Katolik.
Meskipun pemerintah Indonesia melarang penggunaan bahasa Portugis
digunakan di Timor-Timur pada tahun 1981, tetapi pemimpin Gereja
mengalihkan penggunaan bahasa lokal Tetun sebagai bahasa pengantar
kebaktian di Gereja. Mayoritas penduduk Timor-Timur yang beragama
Kristen Katolik, menemukan identitas personal mereka melalui bahasa
lokal Tetun. Bahkan bahasa Tetun sangat dominan digunakan di Timor-
Timur. Bahasa Tetun menjadi salah satu faktor berkembangnya spirit
disintegrasi di Timor-Timur.
Kasus Timor-Timur, kemungkinan lain dari kasus Sampit dan
perbedaan identitas antara Etnik Makassar dan Etnik Tionghoa,
menunjukkan posisi bahasa yang sangat terkait dengan aspek sosial.
Terdapat tiga aspek mendasar yang menunjukkan koneksitas Bahasa
Indonesia dengan konteks sosialitas masyarakat Indonesia yaitu (1)
Bahasa Indonesia sebagai indeks sosial dan nasional, (2) Bahasa
Indonesia sebagai simbol sosial dan nasional, serta (3) Bahasa
Indonesia sebagai salah satu “kraator” tumbuhnya sosialitas dan
nasionalitas.
Bahasa Indonesia sebagai indeks sosial, menunjukkan tiga ciri
mendasar yaitu : (a) Bahasa Indonesia tumbuh bersama dengan
tumbuhnya masyarakat Indonesia dan negara Indonesia. Tidak semua
bahasa tumbuh bersama dengan masyarakat penggunanya sebagaimana
halnya tidak semua masyarakat terbentuk bersamaan dengan
terbentuknya bahasa nasional mereka. (b) Bahasa Indonesia menjadi
bahasa yang terbaik untuk melakukan komunikasi antar etnik, ras, dan
agama di Indonesia. Hal tersebut ditunjukkan melalui fakta
berkembangnya bahasa Indonesia dengan sangat cepat setelah
dicetuskannya sebagai bahasa nasional. (c) Bahasa Indonesia adalah
bahasa yang diyakini terbaik dalam menggambarkan realitas
masyarakat Indonesia dan realitas bangsa Indonesia. Terutama pada
perkembangan kesusasteraan Indonesia Modern dan ilmu pengetahuan.
Bahasa Indonesia sebagai simbol sosial dan nasional, dapat
ditunjukkan dengan dua aspek mendasar yaitu: (a) Bahasa Indonesia
merupakan refleksi sosial dan bangsa. Bahasa Indonesia
merekonstruksi status dan posisi sosial serta menjadi citra bangsa
secara internasional. (b) Bahasa Indonesia menjadi cermin realitas
demokrasi di Indonesia. Bahasa Indonesia diterima sebagai bahasa
pemersatu, digunakan dan dikembangkang sebagai pengantar
masyarakat Indonesia membentuk struktur demokrasi.
Bahasa Indonesia sebagai kreator terbentuknya masyarakat dan
bangsa Indonesia. Melalui Bahasa Indonesia pondasi-pondasi
kenegaraan dicetuskan seperti Sumpah Pemuda, Proklamasi
Kemerdekaan, Undang-Undang Dasar, Lagu Kebangsaan, dan cetusan
ideologi bangsa Pancasila. Bahasa Indonesia juga menjadi bagian
utama dari berbagai ritual-ritual kebangsaan dan kemasyarakatan.
Situasi tersebut menggambarkan bahwa Bahasa Indonesia menjadi
bagian tubuh yang sangat mendasar dari masyarakat dan negara
Indonesia. Mengubah Bahasa Indonesia sama dengan mengubah
masyarakat dan negara Indonesia secara keseluruhan.
Bahasa Indonesia sebagai indeks, simbol, dan kreator sosial dan
negara Indonesia, menunjukkan bahwa posisi Bahasa Indonesia
melampaui posisi dari simbol-simbol negara Indonesia yang lain.
Masih banyak masyarakat yang tidak paham diktum Sumpah Pemuda,
Proklamasi, Lagu Kebangsaan, atau susunan Pancasila sebagai ideologi
negara, tetapi mereka mampu berbahasa Indonesia dengan baik.
Realitas Keindonesiaan kontemporer yang paling fundamental adalah
realitas Bahasa Indonesia.
6. Realitas Bahasa Indonesia dan Indonesia Kontemporer
Keberhasilan Bahasa Indonesia dalam membangun kesatuan
citra sebagai sebuah bangsa; mengembangkan ekspresi identitas diri;
menformulasi konsep dasar negara dan Undang-Undang, bukan berarti
beban Bahasa Indonesia telah berakhir. Globalisasi menciptakan
tantangan baru yang lebih besar bagi Bahasa Indonesia. Bagaimana
Bahasa Indonesia harus bersaing dalam membentuk diri menjadi salah
satu instrumen komunikasi yang penting dalam dunia yang kompleks,
merupakan beban historis yang diemban oleh Bahasa Indonesia dalam
era kontemporer.
Perspektif kritis adalah salah satu perspektif kontemporer untuk
memahami masyarakat Indonesia dalam dunia mereka yang terpilahpilah.
Perspektif kritis juga menjadi menarik karena menempatkan
bahasa sebagai dimensi utama untuk memahami tindakan-tindakan
sosial. Persoalan bahasa, secara kritis, menjadi sangat penting untuk
memahami perilaku sosial. Menurut Habermas (2006), terjadi
perubahan dimensi dalam tindakan sosial masyarakat kontemporer dari
aspek teleologis menuju dimensi komunikatif, sehingga bagaimana
bahasa digunakan sebagai komunikasi, menjadi aspek sangat penting
untuk memahami realitas masyarakat. Tindakan sosial berhubungan
dengan aspek-aspek rasionalitas, sementara rasionalitas masyarakat
dapat diketahui dari ekspresi linguistiknya. Konsep rasionalitas
komunikasi suatu masyarakat sangat tergantung pada pencapaian
pemahaman dalam bahasa mereka (Habermas, 2006:96).
Bahasa, selanjutnya, menjadi menjadi sangat penting untuk
memahami hubungan suatu masyarakat dengan dunia (hubungan aktor
dengan dunia). Terdapat tiga kategori dunia yaitu dunia objektif, dunia
sosial, dan dunia subjektif. Tiga kategori dunia, menurut Popper
(Habermas, 2006:97), dunia objektif meliputi objek fisik atau kondisi
fisik; dunia sosial atau dunia kesadaran yang meliputi kondisi mental
atau disposisi perilaku untuk bertindak; dunia subjektif atau pemikiran
yang bersifat ilmiah dan puitis.
Dunia pertama adalah dunia produk fisik yang digunakan secara
individu maupun sosial dalam melakukan interaksi dan komunikasi.
Untuk memahami dunia kedua, dapat digunakan pemahaman langsung
Peter Berger dan Thomas Luckmann tentang konstruksi realitas (1966)
adalah dunia yang mengkonsepsikan masyarakat sebagai konstruksi
sosial dalam kehidupan sehari-hari yang terbentuk dari cara subjek
menafsirkan diri dan bertindak atas penafsirannya kemudian mengental
sebagai objektivitas sosial. Dunia ketiga adalah dunia subjektif dalam
bentuk formasi-formasi simbolik yang menghasilkan produk-produk
pemikiran dan seni.
Konsep tentang tiga dunia tersebut, dapat direduksi kedalam
tiga persoalan komunikasi dalam masyarakat Indonesia kontemporer.
Tentu saja, pembicaraan tentang komunikasi masyarakat Indonesia
tidak dapat terlepas dari Bahasa Indonesia sebagai realitas komunikasi
dalam tindakan-tindakan sosial. Dalam konteks tiga dunia, maka
terdapat tiga persoalan utama sebagai fenomena untuk memahami
realitas utuh masyarakat Indonesia dan bahasanya. Tiga persoalan
tersebut adalah: produksi-konsumsi; globalisasi; dan individualisasi.

1. Produksi-Konsumsi
Sistem produksi terkait dengan aspek-aspek konsumsi sosial
masyarakat Indonesia. Jika dibatasi pembicaraan dalam konteks
apa yang diproduksi dan apa yang dikonsumsi atau digunakan
untuk melakukan komunikasi oleh masyarakat Indonesia.
Minimnya sumbangsih produk sebagai hasil teknologi dan ilmu
pengetahuan akan berdampak pada rendahnya daya tawar Bahasa
Indonesia sebagai bahasa konsumsi. Menguatnya konsumsi
teknologi komunikasi seperti telepon genggam (Handphone) dan
internet membawa perubahan pola komunikasi dalam Bahasa
Indonesia. Sejauh mana Bahasa Indonesia dapat beradaptasi
terhadap pola-pola perubahan komunikasi secara teknologi akan
sangat berpengaruh terhadap pengaruh Bahasa Indonesia dalam
mengkonstruksi tindakan sosial masyarakat Indonesia secara
simbolik.
2. Globalisasi
Globalisasi bahasa adalah bagian dari globalisasi kultur,
sebagaimana dikemukakan oleh B. Malinowski dan Radcliffe
Brown (Sztompka:2004), bahwa penetrasi budaya Barat telah
mendominasi perubahan hidup manusia modern sehingga gaya
hidup, norma dan nilai, adat dan kebiasaan, keyakinan agama,
pola kehidupan keluarga, cara produksi dan konsumsi masyarakat
lokal mengalami kerusakan. Globalisasi kultur, pada sisi lain,
menunjukkan ancaman yang serius bagi perkembangan bahasabahasa
lokal diseluruh dunia, termasuk di Indonesia. Situasi
global mengancam langsung cara masyarakat Indonesia
merepresentasi diri melalui Bahasa Indonesia. Gejala utama untuk
mengukur ancaman globalisasi bahasa yaitu banyaknya
penggantian kode (code-switching) dalam penggunaan bahasa
Indonesia. Situasi tersebut akan mereduksi identitas dalam bentuk
identitas ganda. Teks sederhana berikut, menunjukkan persoalan
identitas ganda dalam pola komunikasi masyarakat Indonesia
kontemporer.
“I benar-benar don’t know why kenapa dia bisa die so
fast. Padahal kita kemarin baru aja hang out sama-sama,
I’m so sedih sampai crying lama.”

Persoalan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah salah satu
aspek kecil yang berpengaruh terhadap Bahasa Indonesia. Hal
tersebut juga menjadi bagian dari efek global dari sisi ekonomi
Indonesia yang terdepresi. Ribuan TKI yang tersebar pada
negara-negara yang berbahasa Mandarin, Arab, Korea, Melayu,
dan Inggris akan melahirkan pola komunikasi ganda dengan
munculnya jurang atau pemisah linguistik (linguistik gap), antara
Bahasa Indonesia sebagai bahasa induk dengan bahasa asing
tempat para TKI bekerja selama bertahun-tahun. Rentannya
ekonomi Indonesia dari gerakan dan perubahan ekonomi dunia,
secara tidak langsung berdampak pada tantangan Bahasa
Indonesia sebagai identitas komunikasi.
3. Individualisasi
Menurut Sztompka (2004:11), masing-masing individu
mempunyai gagasan, pemikiran, dan keyakinan sendiri yang
berpengaruh terhadap tindakan aktual mereka. Cara individu
menyampaikan dirinya melalui bahasa adalah aspek yang
berpengaruh terhadap realitas sosial. Sejauhmana Bahasa
Indonesia dapat menguatkan kesatuan ikatan sosial dalam relasi
dunia kontemporer masyarakat Indonesia yang kompleks, akan
sangat berpengaruh terhadap posisi Bahasa Indonesia sebagai
bahasa pemersatu.
Terdapat empat aspek yang harus dihadapi Bahasa
Indonesia, dalam kaitannya dengan individualisasi, sebagai
penentu masa depan Bahasa Indonesia itu sendiri. Pertama adalah
kemampuan Bahasa Indonesia dalam merespon perubahan
artikulasi dan reformulasi gagasan individu yang berlangsung
secara terus menerus. Kedua adalah fleksibilitas Bahasa Indonesia
untuk membangun saluran-saluran interaksi sosial dalam konteks
perubahan-perubahan jaringan personal. Ketiga adalah
ketersediaan ruang makna yang memadai dari Bahasa Indonesia
untuk menguatkan nilai-nilai dan norma yang diacu oleh masingmasing
individu, termasuk perubahan-perubahan norma-norma
etik yang sangat cepat. Keempat adalah bagaimana Bahasa
Indonesia dapat digunakan untuk meluaskan perhatian dunia bagi
Individu yang menggunakannya sebagai alat komunikasi.

Ketiga tantangan tersebut (cara Bahasa Indonesia berperan
dalam produksi-konsumsi, globalisasi, dan individualisasi), akan
sangat menentukan konstruksi “kehidupan dunia” masyarakat
Indonesia. Gagasan Habermas, tentang kehidupan dunia yang
menempatkan bahasa sebagai alat tindakan komunikatif esensial
masyarakat kontemporer (2006:104), menuntut Bahasa Indonesia
harus mempunyai kemampuan untuk berfungsi dalam dua hal.
Pertama, menyediakan stok pengetahuan untuk mengayakan
masyarakat Indonesia berpartisipasi dan berinteraksi secara
intelektual pada dunia yang terbuka. Kedua, menyediakan maknamakna
yang memadai bagi individu agar dapat melakukan
tindakan komunikatif yang meluas dan kreatif.
7. Penutup
Bahasa Indonesia mengalami perubahan peran dalam
serangkaian fase-fase penting eksistensi bangsa, negara, dan
masyarakat Indonesia. Bahasa Indonesia harus mengalami interpretasi
ataupun tafsir-tafsir baru baik secara historis maupun secara futuristik.
Memandang atau membicarakan Bahasa Indonesia harus dalam
konstruksi oposisi biner antara sejarah dan masa depan. Hanya dengan
pola yang demikian, Bahasa Indonesia dapat dilihat dalam perspektif
yang bergerak dari realitas dan kemungkinan-kemungkinan yang harus
dihadapi di depan.
Bahasa Indonesia terlibat penting dari fase gagasan kesatuan
bangsa sebelum Sumpah Pemuda 1928; fase penyatuan bangsa ketika
dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 1928; fase dialektika kenegaraan
hingga melahirkan Proklamasi Kemerdekaan dan Undang-Undang
Dasar 1945; fase menguatkan demokrasi; dan kini memasuki fase
interaksi komunikasi global. Tantangan yang dihadapi, oleh Bahasa
Indonesia, selalu berbeda dan harus terus menerus direspon dan
dijawab. Bahasa Indonesia adalah wajah dari komunitas Indonesia,
sehingga Bahasa Indonesia selalu melekat dengan realitas maupun
perubahan realitas dari masyarakat Indonesia.
Tantangan aktual Bahasa Indonesia dalam komunikasi dunia
global adalah kemampuan Bahasa Indonesia melakukan tematisasi
kehidupan dunia yang terbuka. Bagaimana individu dapat melakukan
akses komunikatif, melalui Bahasa Indonesia, untuk merefleksi dan
menafsikan kehidupan dunia yang berubah cepat. Bagaimana individu
dapat melakukan reaksi pemaknaan simbolik, melalui Bahasa
Indonesia, agar dapat memahami, mengamati, dan mengalami dunia
yang terbuka. Bagaimana Bahasa Indonesia dapat menyediakan sistem
acuan yang membuat individu dapat memahami dan mengenali apa saja
(segala hal yang terus meluas dalam kehidupan dunia yang terbuka) ,
sehingga peluang bagi individu untuk berpartisipasi dan menciptakan
relasi komunikatif secara luas dengan Bahasa Indonesia.
REFERENSI
Berger, Peter L., dan Thomas Luckmann. 1966. The Social
Construction of Reality. Doubleday. New York.
Bolinger, Dwight dan Sears, Donald A. 1986. Aspect of Language.
Harcourt Brace Jovanovich, Inc. London, Sidney, Toronto.
Chomsky, Noam. 2000. Bahasa dan Pikiran : Cakrawala Baru Kajian
Bahasa dan Pikiran. Logos Wacana Ilmu. Jakarta.
Fishman, Josua. 1991.Revershing Language Shift. Multilingual Matter.
UK.
Fromkin, V. Dan Rodman, R. 1998. And Introduction to Language.
Harcourt Brace. Orlando.
Habermas, Jurgen. 2006. Teori Tindakan Komunikatif, Rasio dan
Rasionalisasi Masyarakat. Buku Satu. Terjemahan dari Theorie
des Kommunikativen Handelsn : 1981. Kreasi Wacana.
Yogyakarta.
Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pengantar Sejarah Indonesia Baru :
Sejarah Pergerakan Nasional Dari Kolonialisme Sampai
Nasionalisme. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Kroskrity, Paul. 2000. Identity. Journal of Linguistic Antrophology
Volume 9 (1-2).
Mills, Sara. 1997. Discourse. Routledge. London dan New York.
Nasikun. 1993. Sistem Sosial Indonesia. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
18
Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern !200-2004. Serambi.
Jakarta.
Bahar, Saafroedin dkk. 1995. Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-
Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 28 Mei
1945-22 Agustus 1945. Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Jakarta.
Sztompka, Piotr. 2004. Sosiologi Perubahan Sosial. (Terjemahan dari
The Sociology of Social Change: 1993). Prenada. Jakarta.
Suryadinata, Leo. 2003. Penduduk Indonesia, Etnis dan Agama Dalam
Era Perubahan Politik. LP3ES. Jakarta.
Thornborrow, Joanna. 2004. “Language and Identity” dalam
Language, Society, and Power. Harcourt. London.
Ahyar Anwar
BIODATA
DR. Ahyar Anwar, S.S., M.Si. Lahir di Makassar 15 Februari 1970.
Memperoleh gelar Sarjana Sastra dari Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta; Magister Sains bidang ilmu sosiologi dari Universitas
Hasanuddin; Doktor Ilmu Sastra dari Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta. Tercatat sebagai Dosen tetap pada Fakultas Bahasa dan
Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Dosen Program Pasca
Sarjana Universitas Negeri Makassar (UNM). Mendapat Penghargaan
Celebes Award tahun 2005 dalam bidang Kritik Seni dan Sastra dan
Penghargaan sebagai Peneliti Utama dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan
humaniora dari Kementerian Riset dan Teknologi (Menristek) tahun
2006. Menulis buku Menidurkan Cinta (2007), Sejarah Pemikiran
Modern (2007), Geneologi Feminis (2008) dan Teori Sosial Sastra
(2008). Aktif sebagai peneliti bidang bahasa dan budaya serta penulis
artikel, esai, dan kritik sastra diberbagai media.

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: