Bahasa Terancam Punah: Fakta, Sebab-Musabab, Gejala, dan Strategi Perawatannya

1. Pengantar
Sebab utama kepunahan bahasa-bahasa adalah karena para
orang tua tak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anaknya dan
tidak lagi secara aktif menggunakannya di rumah dalam berbagai ranah
komunikasi (Grimes, 2000:17) Sebab yang lainnya adalah, bukan
karena penuturnya berhenti bertutur, melainkan akibat dari pilihan
penggunaan bahasa sebagian besar masyarakat tuturnya (Landweer,
1999:1). Terkait dengan kepunahan bahasa-bahasa di dunia, terutama di
Indonesia, makalah ini akan membentangkan tiga hal penting: (1)
fakta-fakta mengenai kepunahan bahasa, (2) sebab, gejala, dan kategori
kepunahan, serta (3) strategi perawatannya agar bahasa-bahasa
terselamatkan dari kepunahan.
2. Fakta yang mencengangkan
Menurut catatan Grimes (2000), sebagaimana yang disebutnya
dalam Ethnologue: Languages of the World (selanjutnya disebut
Ethnologue), terdapat 6.809 bahasa di dunia. Dari jumlah itu, 330
bahasa memiliki penutur sebanyak satu juta orang atau lebih. Jumlah
penutur yang besar ini berkontras secara mencolok dengan kira-kira
450 bahasa di dunia yang memiliki jumlah penutur yang sangat kecil,
telah berusia tua dan condong bergerak menuju ke penunahan. Pada
saat yang sama, mungkin mengejutkan orang bahwa rerata jumlah
penutur bahasa-bahasa di dunia hanya berkisar 6.000 orang atau lebih,
hanya separuhnya memiliki penutur 6.000 orang atau lebih penutur, dan
hanya separuhnya lagi memiliki penutur kurang dari 6.000 orang.
Lebih mencengangkan lagi, ketergerusan jumlah penutur
bahasa—yang semakin mengecil ini—pada berbagai belahan dunia
menjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Berdasarkan catatan tahun
1977, bahasa Eyak di Alaska kini tinggal memiliki 2 penutur usia
lanjut. Bahasa Mandan memiliki 6 penutur, bahasa Osage 5, bahasa
Abenaki-Penobscot 20, dan bahasa Iowa punya 5 penutur, bahasa
Coeur d’Alene memiliki penutur kurang dari 20, bahasa Tuscarora
kurang dari 30, bahasa Menomini kurang dari 50, dan bahasa Yokust
kurang dari 10 penutur. bahasa Eskimo tinggal memiliki 2 penutur, dan
bahasa Aimu mungkin telah punah. Bahasa Ubykh, salah satu bahasa
Kaukasia yang memiliki begitu banyak konsonan, kurang-lebih 80,
mendekati kepunahan, dan mungkin tersisa satu penutur (Krauss, 1992
dalam Ibrahim, 2006:2-4).
Fakta mengenai kepunahan bahasa ini sebenarnya bukan isu
baru. Telah berabad-abad kita ketahui bahwa bahasa Greek Koiné dan
bahasa Latin Klasik telah “mati” sebagai bahasa yang dituturkan.
Meski demikian, dalam satu abad terakhir ini pergerakan ke kepunahan
yang dialami oleh bahasa-bahasa dengan jumlah penutur yang kecil dan
dengan pendukungnya yang memiliki mobilitas sempit lebih cepat dari
yang dibayangkan. Pergerakan ke arah kepunahan itu terutama terjadi
di negara-negara berkembang dan miskin. Bahkan, kini di berbagai
belahan benua, penuturnya tidak lebih dari 200 orang. Tercatat bahwa
ada 516 bahasa yang didaftarkan dalam Ethnologue termasuk ke dalam
bahasa yang mendekati kepunahan, karena hanya ada sedikit sekali
penutur usia renta yang masih hidup. Dari 516 bahasa itu, 46 berada di
Afrika, 170 di Amerika, 78 di Asia, 12 di Eropa, dan di 210 Pasifik.
Fakta-fakta yang rinci—sekadar menyebut beberapa di antaranya—
mengenai kedekatan kepada kepunahan ini (nearly extinct) dapat
ditunjukkan dalam Tabel 1 berikut.
No Benua/zona Negara Bahasa yang
mendekati
kepunahan dan
jumlah penutur
Sumber
Kamerun
Baldemu 3-6
(penutur); Bikya 1;
Bishuo 1; Bung 3;
Busuu 8; Dama 50;
Luo 1; Ndai 1;
Ngong 2; Pam 30;
Twendi 30; Zumaya
25
SIL (1987, 2003),
Breton (1986),
Connel (1995, 2000)
1
Afrika
Chad Berakou 2; Buso 40;
Goundo 30; Mabire
3; Massalat 10; dan
Djarangar (1995),
Welmers (1971), SIL
(2001), Blench
2
Noy 36 (1991)
Kenya El Molo 8; Omotik
50; Yaaku 50.
Larsen (1994)
Nigeria Bassa-Kontagora 10;
Bete 50; Kiong 100;
Kudu-Camo 42; Luri
30; Njerep 6; Odut
20; Putai 50; Somyev
15-20.
Bross (1990), SIL
(1973), Connel
(2000)
Argentina Ona 1-3; Puelche 5-
6; Tehuelche 4;
Vilela 20.
Adelaar (1991,
2000), Buckwalter
(1981)
Brazil Amanayé 60;
Anambé 7; Apiacá 2;
Arikapú 6; Aurá 2;
Karahawyana 40;
Karipuná 12;
Katukina 1, Puruborá
2; Xetá 3; Xipaya 2.
Rodrigues (1986),
SIL (1976, 1990,
1995, 1998, 2000,
2002)
Kanada Abnaki 20; Bella
Coola 20; Haida
Tenggara 10; Han 7-
8 Munese 7-8;
Sekani 30-40
Squamish 15; Tagish
2; Tuscarora 7-8.
Kraus (1991, 1995,
1997), Pooser (2002),
Sharon Hargus
(1997), Kinkade
(1991)
Kolombia Cabiyarí 50; Tinigua
2; Totoro 4; Tunebo
50.
Bourgue (1976),
Anrango dan Sanchés
(1998)
2
Amerika
Meksiko Kiliwa 24-32;
Zapotec 59; Zoque
40; Opata 15.
SIL (1994), Garcia
de León (1971)
3
Amerika
Serikat
Amerika
Serikat
Achuwami 10;
Apache 18; Aikara
20; Caddo 25;
Cahuilla 7-20; Eyak
1; Hupa 8.
Brook (1998), Barnes
(1996), Nevin
(1997), Chafe
(1997), Hinton
(1994)
Afganistan Tirahi 100 SIL (2000)
India A-Pucikwar 24;
Khamyang 50;
Peranga 767
SIL (2000)
Indonesia Amahai 50; Hoti 10;
Hukumina 1; Ibu 35;
Kamarian 10; Kayeli
3; Nusa Laut 10; Piru
SIL (1987, 1989,
1991, 1995),
Voorhoeve dan
Vissser (1987),
3
10; Bonerif 4;
Kanum Bädi 10;
Mapia 1; Massep 25;
Mor 20-30; Tandia 2;
Lom 2; Budongbudong
70; Dampal
90; Lengilu 10;
Taguchi (1985),
Lauder (2008)
Filipina Agta 30; Arta 15;
Ata 2-5; Ayta 15;
Ratagnon 2-3
Wurm (2000)
Rusia Aleut 10; Karagas
25; Kerek 2; Yugh 2-
3; Orok 32-82;
Yukaghir 10-50
Krauss (1989, 1995),
Kibrik (1991),
Verner (1991)
Thailand Mok 7 Wurm dan Hattori
(1981)
4
Asia
Vietnam Arem 20; Gelao
Merah 20; Gelao
Putih 20
Ferlus (1996),
Edmonson (2002)
Australia Alawa 17; Alangith
3; Bayungu 6;
Burduna 3; Djangun
1; Djawi 1; Dyirbal
40-50; Gagadu 6;
Gambera 6; Giyug 2;
Kokata 3; Kuku-
Uwanh 40; Laragia
6; Lardil 2;
Mandandanyi 1;
Manger 1; Nijadali 6;
Pakanha 10; Uradhi
2; Wagaya 10;
Waray 4; Worora 20;
Wulna 1; Yidiny 12;
Yir Yoront 15.
Sharpe (1991), Wurm
dan Hattori (1981),
Dixon (1983), SIL
(1991), Black (1983),
Schmidt (1990),
Bruce Sommer
(1991)
Papua
Nugini
Abaga 5; Abom 15;
Bilakura 30; Govoru
15; Kamasa 7; Sene
10; Turaka 25;
Turumsa 5; Laua 1.
SIL (1987, 2001,
2002, 2003), Wurm
(2000), McElhanon
(1978)
5
Pasifik
Kepulauan
Solomon
Asumboa 10; Laghu
15; Oroha 38;
Tenema 3; Tanimbili
15; Teanu 24; Zazao
10.
SIL (1999)
4
Tabel 1. Bahasa-bahasa yang mendekati kepunahan (Diolah dari
http://www.ethnologue.com/nearly extinct.asp)
Fakta kepunahan bahasa seperti disebut di atas ternyata
menyebar di hampir seantero bumi. Ada beberapa hal menarik yang
dapat dicatat. Pertama, bahasa-bahasa yang tarancam punah itu
sebagian besarnya berada di daerah atau wilayah atau negara
berkembang, kalau tidak bisa dikatakan miskin sumber daya manusia
dan juga sumber daya alam. Kedua, beberapa di antaranya memiliki
total populasi etnik yang tidak lebih dari 5.000 orang. Meskipun
beberapa di antaranya memang memiliki jumlah populasi etnik yang
masih banyak seperti bahasa Lenca (36.858 orang) dan bahasa Pipil
(196.576 orang) di El Salvador, jumlah penutur aktifnya hanya 20
orang. Jadi, bahasa-bahasa ini sesungguhnya telah terancam punah di
antara sebegitu banyak total populasinya. Ketiga, sebagian besar dari
bahasa-bahasa yang terancam punah itu merupakan etnik minoritas
terisolasi atau minoritas yang berada dalam wilayah yang begitu
beragam bahasa dan budayanya. Ambil contoh, bahasa Ibu [penuturnya
menyebut nama bahasa ini Ibo ’tuan tanah’] di Maluku Utara yang
dalam catatan Voorhoeve dan Visser pada tahun 1987 berjumlah 35
penutur—kini (tahun 2008) tinggal 5 orang dan berusia di atas 50
tahun—berada di satu wilayah masyarakat multibahasa yang perbatasan
kebahasaannya hanya antardesa atau antarkampung yang berjarak tidak
lebih dari 5 kilometer.
3. Sebab-musabab, Gejala, dan Kategori Kepunahan
Lalu apa yang menyebabkan bahasa-bahasa di dunia terancam
punah? Seperti telah dikatakan pada bagian pengantar, ada dua sebab
utama kepunahan, yaitu karena para orang tua tidak lagi mengajarkan
bahasa ibu kepada anak-anak serta tidak lagi menggunakannya di
rumah dan pilihan sebagian masyarakat tutur untuk tidak menggunakannya
dalam ranah komunikasi sehari-hari.
Kedua sebab ini terkait dengan sikap dan pemertahanan bahasa
(language maintenance) masyarakat tuturnya. Jika pilihan untuk tidak
menggunakan dan kebiasaan orang tua untuk tidak mentransmisikan
bahasa ibu kepada anak-anaknya lemah, maka pergerakan ke
kepunahan akan lebih cepat lagi. Dalam satu pergantian generasi—
mungkin 25 tahun—bahasanya akan punah. Bahkan, mungkin lebih
cepat lagi. Sebaliknya, bahasa-bahasa yang penuturnya memiliki
pemertahanan bahasa yang kuat, memiliki vitalitas hidup kuat pula.
Hipotesis-hipotesis sosiolinguistik terkait dengan kecepatan
kepunahan bahasa antargenerasi penutur dapat diterangkan sebagai
berikut. Jika satu bahasa hanya digunakan oleh penutur yang berusia 25
tahun ke atas dan usia di bawahnya tidak lagi menggunakannya, maka
75 tahun ke depan—tiga generasi—bahasa itu akan terancam punah.
Jika satu bahasa hanya digunakan secara aktif oleh penutur berusia 50
tahun ke atas dan usia di bawahnya tidak lagi menggunakannya, maka
ada kemungkinan 50 tahun ke depan—dua generasi—bahasa itu akan
punah. Jika satu bahasa secara aktif hanya digunakan oleh penutur
yang berusia 75 tahun ke atas dan penutur berusia di bawahnya tidak
lagi secara cakap menggunakannya, terutama dalam ranah keluarga,
maka ada kemungkinan 25 tahun ke depan—satu generasi—bahasa itu
akan (terancam) punah. Dengan rumusan lain, hipotesisnya demikian:
Semakin muda usia penutur setiap bahasa tidak lagi cakap
menggunakan bahasa ibu dalam pergaulan sehari-hari, maka semakin
cepat bahasa tersebut mengalami kepunahan. Gerak ke arah kepunahan
akan lebih cepat lagi, bila disertai dengan semakin berkurangnya
cakupan dan jumlah ranah penggunaan bahasa dalam komunikasi
sehari-hari; atau semakin meluasnya ketiadaan penggunaan bahasa
dalam sejumlah ranah, terutama ranah keluarga.
Di luar soal permertahanan bahasa, ada empat sebab terdalam
dari kepunahan bahasa: (1) para penuturnya berpikir tentang dirinya
yang inferior secara sosial, (2) terikat masa lalu, (3) tradisional, atau (4)
secara ekonomi kehidupannya stagnan. Inilah yang disebut oleh
sejumlah linguis, antara lain, Grimes (2000), Landweer (2008), Lewis
(2005) sebagai proses ”penelantaran” bahasa.
Di atas dua sebab dasar pemertahanan bahasa dan empat sebab
non-kebahasan itu, faktor-faktor lain yang lebih luas spektrumnya yang
turut mendorong kecepatan kepunahan sebuah bahasa. Summer Insitute
of Linguistics [selanjutnya disebut SIL] (2008) mencatat sedikitnya ada
12 (dua belas) faktor: (1) kecilnya jumlah penutur, (2) usia penutur, (3)
digunakan-atau-tidak digunakannya bahasa ibu oleh anak-anak, (4)
penggunaan bahasa lain secara reguler dalam latar budaya yang
beragam, (5) perasaan identitas etnik dan sikap terhadap bahasanya
secara umum, (6) urbanisasi kaum muda, (7) kebijakan pemerintah, (8)
penggunaan bahasa dalam pendidikan, (9) intrusi dan eksploitasi
ekonomi, (10) keberaksaraan, (11) kebersastraan, dan (12) kedinamisan
para penutur membaca dan menulis sastra. Selain itu, ada pula tekanan
bahasa dominan dalam suatu wilayah masyarakat multibahasa secara
berdampingan.
Sebagai contoh sekali lagi saya sebut bahasa Ibu di Maluku
Utara. Bahasa ini digunakan di dua desa (Gam Lamo, ’Kampung
Besar’, dan Gam Ici, ’Kampung Kecil’) di Kabupaten Halmahera
Barat, Maluku Utara. Dua desa ini bertetangga dengan pengguna
bahasa Waiyoli, Gamkonora, dan Sahu yang jarak tempuhnya tidak
lebih dari 5 km. Selain menggunakan bahasa etniknya masing-masing,
telah sejak lama masyarakat di sini juga menggunakan bahasa Ternate
[bahasa Kesultanan Ternate] dan bahasa Melayu Ternate sebagai
lingua-franca lintas-etnik. Dalam perjalanan selanjutnya, penutur
bahasa Ibu di dua desa ini, semakin menguasai dan menggunakan
bahasa Ternate dan bahasa Melayu Ternate dan semakin
’meninggalkan’ bahasa Ibu. Pilihan menggunakan kedua bahasa
lingua-franca ini lambat-laun telah memunahkan bahasa Ibu sendiri.
Situasi sosiolinguistik semacam ini terkait dengan dua hal: sikap bahasa
dan orientasi ke dunia luar penuturnya. Atau dari sudut lain, ada
tekanan bahasa dominan, seperti bahasa Ternate dan bahasa Melayu
Ternate, terhadap bahasa Ibu; dan itu telah menjadikan penutur bahasa
Ibu kini di tahun 2008 ini tinggal 5 orang, masing-masing Nenek
Hajija, kakek Ismail Babaoro (80 tahun), Nifu Hamiru (70 tahun), Han
Noho, dan Gani Saleh (masing-masing 45 tahun).
Gejala-gejala kepunahan bahasa pada masa depan adalah: (1)
penurunan secara drastis jumlah penutur aktif, (2) semakin berkurangnya
ranah penggunaan bahasa, (3) pengabaian atau pengenyahan
bahasa ibu oleh penutur usia muda, (4) usaha merawat identitas etnik
tanpa menggunakan bahasa ibu, (5) penutur generasi terakhir tak cakap
lagi menggunakan bahasa ibu (penguasaan pasif, understanding
without speaking), dan (6) contoh-contoh mengenai semakin punahnya
dialek-dialek satu bahasa, keterancaman bahasa Kreol dan bahasa sandi
(Grimes, 2000).
Terkait dengan vitalitas atau daya hidup bahasa secara lintasgenerasi,
para ahli membuat pentipologiannya. Dengan mengambil
analogi spesies biologi, Krauss (1992) misalnya mengkategorikan daya
hidup bahasa menjadi tiga kategori. Pertama, moribund, yaitu bahasa
yang tidak lagi dipelajari oleh anak-anak sebagai bahasa ibu. Kedua,
endangered, yaitu bahasa yang meskipun sekarang masih dipelajari
atau diperoleh oleh anak-anak, tidak lagi digunakan di abad akan
datang. Ketiga, safe, yaitu bahasa yang secara resmi didukung oleh
pemerintah dan memiliki penutur yang sangat banyak.
Dalam hubungannya dengan tingkat keterancaman dari kepunahan,
sebuah kolokium mengenai bahasa-bahasa yang punah di
Jerman tahun 2000 (Grimes, 2000:8), merumuskan enam tingkat
keterancaman. Pertama, bahasa-bahasa yang critically endangerad,
artinya bahasa-bahasa yang dalam keadaan kritis, sekarat. Bahasabahasa
ini hanya tinggal sedikit penuturnya dan semuanya berusia 70
tahun ke atas dan usia buyut. Kedua, severely endangered, artinya
bahasa-bahasa yang hanya memiliki penutur berusia 40 tahun dan ke
atas, usia kakek-nenek. Bahasa seperti dalam kondisi ’sakit parah’.
Ketiga, endangered, artinya bahasa-bahasa yang penuturnya berusia 20
tahun ke atas, usia orang tua. Bahasa-bahasa seperti ini dalam kondisi
terancam punah. Keempat, eroding, yaitu bahasa-bahasa yang
penuturnya adalah beberapa anak dan yang lebih tua. Anak-anak lain
tidak lagi menggunakannya.Bahasa-bahasa seperti ini dalam kondisi
tergerus. Kelima, stable but threatened, yaitu bahasa yang digunakan
oleh semua anak dan dewasa tetapi jumlahnya sangat sedikit; ini
artinya stabil tetapi terancam. Keenam, safe, yaitu bahasa-bahasa yang
tidak dalam keadaan ancaman kepunahan. Bahasa yang masih
diperoleh dan dipelajari oleh semua anak dan usia dewasa dalam
kelompok etniknya. Bahasa-bahasa ini dikategorikan sebagai bahasa
yang ’bugar’, sehal wal afiah.
Dari pentipologian yang diberikan Krauss (1992) dan
persepakatan kolokium Jerman mengenai tingkat keterancaman
menunjukkan satu hal yang sama: jumlah dan kebiasaan penutur
merupakan variabel sosiolinguistik penting yang menentukan vitalitas
bahasa. Semakin banyak jumlah penutur dan semakin sering penutur
menggunakan bahasanya dalam berbagai ranah, seperti ranah rumah,
peristiwa budaya, dan peristiwa sosial, semakin kuat vitalitas bahasa
itu. Dengan demikian, semakin jauh bahasa itu dari keterancaman
kepunahan.

4. Dari Peta Vitalitas ke Asesmen Status ”Kebugaran” Bahasa:
Perawatan Siklik
Bukankah setiap makhluk hidup, termasuk manusia, ditakdirkan
hidup, dan ditakdirkan pula untuk punah alias mati? Karena bahasa
juga ’semacam spesies makhluk hidup’ yang ’dilahirkan’ oleh manusia
dan manusia itu makhluk hidup yang akan mengalami kematian secara
alamiah, maka bukankah bahasanya juga akan mati? Lantas mengapa
kita repot-repot mengurusi bahasa yang terancam punah?
Jawaban yang cukup singkat dan sangat beralasan diberikan
oleh LivingTongues, Institute for Endangered Languages, sebuah lembaga
yang peduli pada kepunahan dan penyelamatan bahasa-bahasa
yang punah. Dengan motto ”Membawa Tuturan ke Masa Depan”, Lembaga
ini mengatakan: ”…bahasa adalah sebuah gudang pengetahuan
manusia yang sangat luas tentang dunia alamiah, tanan-tanaman,
hewan-hewan, ekosistem, dan sediaan budaya. Setiap bahasa memuat
keseluruhan sejarah umat manusia”. Kalau demikian, tidaklah
berlebihan, jika dikatakan bahwa kepunahan bahasa sama dengan
kepunahan peradaban manusia secara keseluruhan. Oleh karena begitu
pentingnya bahasa bagi peradaban, sampai-sampai antropolog Leslie
White, pernah bertanya secara retoris: Remove speech from culture and
what would remain? Kepunahan bahasa sama dengan kepunahan
peradaban!
Kalau begitu bagaimana cara kita agar bahasa-bahasa dapat
diselamatkan dari kepunahan dan dengan demikian peradaban kita tak
punah!? Selama ini para linguis atau lembaga-lembaga bahasa di dunia,
terutama yang peduli pada penyelamatan bahasa dari kepunahan seperti
LivingTongues dan SIL (memang) telah melakukan upaya-upaya yang
sistematis mulai dari penelitian-pencatatan, preservasi, hingga
revitalisasi-revivalisasi melalui pembangunan kelas dan sekolah
bahasa sendiri di kampung sendiri untuk anak-anak dan orang dewasa
pada komunitas yang bahasanya terancam punah. Kisah-kisah sukses
program revitalisasi seperti yang ditunjukkan dalam keberhasilan
perawatan bahasa Hawai di Hawai, bahasa Cornish di Inggris, bahasa
Maori di Selandai Baru, bahasa Waorani di Ekuador, dan bahasa
Nambikuara di Brazil. Program revitalisasi yang sukses menambah
jumlah penutur seperti yang ditunjukkan dalam bahasa Waorani.
Bahasa yang pada tahun 1956 berpenutur 150 ini, setelah penelitian
linguistik, kelas-kelas keberaksaraan, pendidikan, pengobatan modern,
sekarang penuturnya diperkirakan 900 orang.
Di Indonesia, menurut catatan Multamia MT Lauder (Kompas,
12 Agustus 2008), ada 169 bahasa yang terancam punah. Meskipun
dengan angka keterancaman sebanyak itu, kita belum punya program
dan tradisi preservasi yang kuat untuk menyelamatkannya dari
kepunahan, kecuali baru pada tingkat dokumentasi melalui penelitian
individu, perguruan tinggi, atau oleh Pusat Bahasa. Pernyataan ini tidak
memasukkan usaha-usaha yang dilakukak oleh SIL untuk bahasabahasa
di Papua. Secara pukul-rata, kita baru sampai pada pendataan
mengenai sebaran dan jumlah bahasa yang terancam punah. Kita,
setahu saya, belum mempunyai peta yang akurat mengenai vitalitas
atau daya hidup bahasa-bahasa di Indonesia. Padahal, dengan peta
vitalitas bahasa, kita akan punya gambaran yang terang mengenai dua
hal penting: (1) jumlah dan sebaran mengenai bahasa-bahasa yang
terancam punah dan (2) tingkat vitalitas bahasa-bahasa di Indonesia.
Dengan kedua gambaran ini, kita akan dapat menyusun profil vitalitas
bahasa-bahasa di Indonesia; dan dengan profil itu, kita akan menyusun
program preservasi secara tepat sasaran dengan skala pementingan dan
dapat dilakukan secara terukur.
Untuk itu, saya menyarankan suatu cara atau metode yang saya
sebut survei pemetaan vitalitas bahasa-bahasa di Indonesia. Untuk
melaksanakan survei ini, saya menyarankan, kita menggunakan
indikator etnolinguistik mengenai vitalitas bahasa yang disarankan oleh
Landweer (2008) dan mengkombinasikannya secara eklektif dengan
metode asesmen kategori keterancaman yang disarankan oleh Lewis
(2005). Ringkasnya, skema preservasi dimulai secara siklik dari survei
pemetaan vitalitas, program-program revitalisasi, penilaian mengenai
kerbermaknaan program preservasi, hingga ke penyusunan profil baru
vitalitas bahasa untuk selanjutnya ditindaklanjuti dengan programprogram
preservasi dengan bercermin pada keberhasilan dan kegagalan
preservasi sebelumnya.
Skema penyelamatan bahasa-bahasa dari kepunahan ini
merupakan tawaran yang perlu dikoreksi dan diperkuat dengan
mempertimbangkan berbagai hal yang terkait dengan soalan etno-sosiolinguistik,
pendanaan, kepentingan kebangsaan, dan kemampuan
lembaga pengayom bahasa (baca: Pusat Bahasa) dan perguruan tinggi.
Skema pemetaan dimaksud dapat digambarkan sebagai berikut.

PELIBAT: LINGUIS, ETNOLOG, ANTROPOLOG, SOSIOLOG, PENDIDIK & PERENCANA BAHASA, PERENCANA PEMBANGUNAN DATA & FAKTA KEPUNAHAN SURVEI PEMETAAN VITALITAS (DAYA HIDUP) BAHASA
INDIKATOR:
Posisi Relatif Kota-Desa
Trasmisi Bahasa Antargenerasi
Angka Absolut
Penutur
Proporsi Penutur
Dalam Total Populasi
Ranah Penggunaan
Bahasa
Kekerapan & Tipe
Alih Kode
Jumlah Penduduk & Kelompok
Dinamis
Sebaran Penutur dalam Jejaring
Masyarakat Tutur
Pendangan ke dunia luar dan ke dlm para Penutur
Prestise Bahasa
Akses dan Keterjangkuan ke Pusat Kegiatan Ekonomi
STATUS VITALITAS:
Kritis
Parah
Terancam
Tergerus
Stabil tapi
Terancam
Aman
PETA VITALITAS (DAYA HIDUP) BAHASA REVITALISASI (PENGUATAN)
REVIVALISASI
(PEMBANGKITAN)
PENDEKATAN ETNO-SOSIO-EKO-POLITICO-LINGUSITIK
BAHASA YANG KRITIS DAN PARAH
BAHASA YANG TERANCAM, TERGERUS, STABIL TAPI TERANCAM
Penyusunan Tata Bahasa Pedagogik
dalam Cetakan & Cakram Rekaman
Kamus
[Surat Kabar]
Kelas Bahasa bagi Remaja
Sekolah Bahasa untuk Anak
Berbasis Masyarakat
Gerakan Penggunaan Bahasa Ibu di
Rumah
Bertutur dalam Acara Adat
Pamflet dan Teks Melintasi
Kampung
ASESMEN STATUS
KETERANCAMANKEBUGARAN:
Penerusan Bahasa Antargenerasi
Angka Absolut Penutur
Proporsi Penutur dlm Populasi
Respon Terhadap Ranah Guna Baru
Kebijakan & Sikap Pemerintah-
Lembaga Kebahasaan
Sikap Penutur
Jumlah dan Mutu Dokumentasi
PROFIL
VITALITAS
(DAYA HIDUP)
BAHASA
MASA PENEMU
MASA PERAWATAN

Simpulan
Jumlah dan kecepatan pergerakan ke kepunahan bahasa-bahasa
di dunia dan juga di Indonesia tidak saja merupakan bencana linguistik,
tetapi juga telah menyampikan informasi sosio-ekonomi yang mengkhawatirkan
mengenai keterpencilan, ketakberdayaan, dan perjuangan
melawan kemiskinan kaum minoritas melawan ketertinggalan dari
kemajuan dan dominasi bahasa-bahasa dengan berpenutur banyak dan
dinamis. Dalam konteks Indonesia, pembiaran atas kepunahan bahasabahasa
berpenutur sedikit, sesungguhnya adalah pengingkaran atas
kemajemukan yang sesungguhnya merupakan soko guru ke-Indonesiaan.
Lembaga pengayom bahasa yang ditugasi pemeritah (baca: Pusat
Bahasa) harus segera merancang program-program preservasi, sebelum
bahasa-bahasa itu benar-benar punah.

RUJUKAN
Anonim. 2008. “169 Bahasa Daerah Terancam Punah”. Kompas, 12
Agustus 2008.
Cahill, Michael. 2008. “Why care about endangered language?”. SIL
International: http://www.sil.org/sociolx/ndg-lg-cahill.html
Craig, Colette. 1992. “A constitutional response to language
endangerment: The case of Nicaragua. Dalam Language,
Volume 68, Number 1.
Grimes, Barbara F. Ed. 1988. Ethnologue: languages of the world.
Dallas, Texas: Summer Institute of Linguistics, Inc.
Hale, Ken. 1992. “Language endangerment and the human value of
linguistic diversity”. Dalam Language, Volume 68, Number 1.
Ibrahim, Gufran Ali. 2006. “Beberapa Bahasa di Maluku Utara akan
Punah”. Makalah yang disampaikan dalam Konferensi
Internasional tentang Bahasa-bahasa yang Punah, di Pusat
Bahasa Depdiknas, Jakarta 22 Desember 2006.
Ibrahim, Gufran Ali. 2007. “Lima Abad Penelitian Bahasa di Maluku
Utara”. Makalah yang disampaikan pada Konferensi
Internasional Makalah yang disampaikan pada Kongres
Internasional Bahasa Daerah yang diselenggarakan atas
Kerjasama Pemerintah Provinsi Maluku, Universitas Pattimura,
dan Pusat Bahasa Depdiknas, di Ambon, 5-8 Agustus 2007.
Jeane, La Verne Masayesva. 1992. “An institutional response to
language endangerment: A proposal for a Native American
Language Center. Dalam Language, Volume 68, Number 1.
Krauss, Michael. 1992. “The world’s languages in crisis”. Dalam
Language, Volume 68, Number 1.
Landweer, M. Lynn. 2008. “Indicators of Ethnolinguistic Vitality”.
SIL International: http://www.sil.org/sociolx/ndg-lg-indicators-
html
Lewis, Paul M. 2005. “Towards A Categorization of Endangerment of
the World’s Languages. SIL Internasional:
Masinambouw, E.K.M. 1976. Konvergensi Etnolinguitik di Halmahera
Tengah: Sebuah Analisa Pendahuluan. Disertasi Fakultas
Sastra Universitas Indonesia, Jakarta.
Watahomigie, Lucille J. dan Akira Y. Yamamoto.1992. “Local
reactions to perceived language decline”. Dalam Language,
Volume 68, Number 1.

Gufran Ali Ibrahim
Universitas Khairun, Ternate

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: