Pencerdasan Bangsa Melalui Penggunaan Bahasa Dalam Industri Perfilman dan Persinetronan

Ada pepatah yang mengatakan bahasa menunjukkan bangsa. Peribahasa ini mengandung falsafah yang dalam, bukan sebatas pengertian ‘the language to indicate the nation’, tetapi lebih menukik meliputi sikap (attitude) perilaku (behavior) keanggunan (beauty) dan brain alias kecerdasan. Bila perlu dapat ditambah 1 B lagi yang merujuk pada body, karena ‘bentuk/fisik’ bahasa Indonesia yang semakin berkembang dan mampu mencakup semua disiplin ilmu.. Adanya ungkapan ‘budi bahasa’ menunjukkan pula bahwa bahasa tak sekedar sarana penting atau alat untuk komunikasi, tetapi juga menunjukkan peradaban suatu bangsa. Seorang kawan dari India mengatakan bahwa bangsa Indonesia sangat beruntung karena ketika memproklamirkan kemerdekaannya sekaligus mencakup proklamasi penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Ia heran, secara geografis Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan kepulauan yang tentu saja sukar menyatukan dalam satu bahasa. Apalagi terdapat ± 500 etnis di Indonesia dan ± 728 bahasa daerah. Tidak semua bangsa yang merdeka seberuntung Indonesia yang dengan bangga dapat mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional. Sebab ada bangsa yang mengadopsi bahasa Inggris, Perancis dan lainnya menjadi bahasa nasionalnya. Hal inilah yang harus disyukuri oleh Indonesia. Dalam perkembangan masa kini apakah yang amat cepat mempengaruhi kehidupan insan? Adanya globalisasi ditandai dengan lompatan teknologi komunikasi dan informasi, telah membuat dunia ini semakin transparan dan sukar untuk menghindari pengaruh – baik positif maupun negatif. Lajunya perkembangan media ‘pandangdengar’ dituduh paling banyak mempengaruhi hidup dan kehidupan sebab mampu merubah pola pikir, pola pandang dan pola laku. Apakah kita siap mengantisipasi perubahan ini? Teringat ketika tahun 1980 di Tokyo diadakan Asian Writers Meeting, yang dihadiri penulis dari negeri Asia, membicarakan tentang kesiapan bangsa-bangsa di Asia menjelang pergantian abad 20 ke 21. Sebab kalau tidak menyiapkan diri menghadapi globalisasi, yang akan mengalami erosi adalah identitas bangsa (the identity of a nation) khususnya budaya, termasuk bahasa. Tidak mungkin ada negara dan bangsa di dunia ini yang steril akibat globalisasi. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi dampaknya, memperkokoh budaya termasuk bahasanya sehingga identitas bangsa masih dapat ditegakkan. Tetapi itu harus dengan persiapan yang matang dalam menyiapkan generasi. Arah Penyelenggaraan Perfilman Dalam UU No 8 Tahun 1992, Pasal 1: Film adalah karya cipta seni budaya yang merupakan media massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan azas sinematografi (dsb). Sebagai media pandangdengar tentu punya ‘jiwa’ menjadi wahana dan sarana komunikasi, informasi, meningkatkan pendidikan termasuk mencerdaskan bangsa. Hal ini dapat ditelusuri pada arah penyelenggaraan perfilman di Indonesia sbb: * Pelestarian dan pengembangan nilai budaya bangsa * Pembangunan watak dan kepribadian bangsa serta peningkatan harkat martabat manusia * Pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa * Peningkatan kecerdasan bangsa * Pengembangan potensi kreatif di bidang perfilman * Keserasian dan keseimbangan di antara berbagai kegiatan dan jenis usaha perfilman * Terpeliharanya ketertiban umum dan rasa kesusilaan * Penyajian hiburan yang sehat, sesuai dengan norma-norma kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Yang menjadi pertanyaan: sampai dimanakah keberhasilan ‘Pencerdasan Bangsa Melalui Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Industri Perfilman dan Pertsinetronan? Khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia dan pengaruhnya dalam mencerdaskan bangsa? Film sebagai media memang mampu menjadi sarana untuk mencerdaskan bangsa, lewat catur indra, audio (dengar) visual (pandang) mood (rasa/ perasaan /suasana batin) dan nalar yang ditampilkan menyatu dalam adegan. Tetapi film juga mampu menjadi jembatan perusak kalau dirancang secara tak bertanggungjawab. Film bicara Kalau kita merujuk pada perkembangan film, Indonesia memasuki era film bicara buatan ‘dalam negeri’ sejak tahun 1931, lewat Atma De Vischer. Tentu saja film bicara jauh lebih menarik dibanding film bisu, lebih mudah dimengerti dan lebih gampang merasuk (dan merusak?). Bahasanya Melayu Campuran (gado-gado), bahasa lisan yang komunikatif dengan masyarakat pada waktu itu. Karena film adalah sebuah ‘potret’ masyarakat, di suatu tempat dan pada suatu saat. Dulu, menonton ke bioskop menjadi suatu gaya dan menjadi budaya bagi klas menengah ke atas.Jumlah gedung bioskop banyak dan menyebar di semua wilayah Indonesia. Tetapi kini jumlah layar cuma 473 (tinggal lebihkurang 20%, dan tidak semua ibukota propinsi punya gedung bioskop). Yang ‘mati’ adalah layar tancap atau misbar (kalau gerimis penonton bubar) yang kini tak mendapat tempat lagi, sebab gaya hidup baru memerlukan bioskop yang praktis dan letaknya strategis yaitu di mall. Apalagi teknologi pun semakin canggih seperti adanya HDTV 1080 scanning lines (untuk tv) diubah menjadi HDMI 80 (High Definition Multimedia Interface 80 yang dapat ditayangkan di bioskop dengan professional projector. Sebelumnya (dan sampai sekarang masih ada) untuk satu film saja perlu 5 – 10 reel, kurang praktis dan ongkosnya jauh lebih mahal. Bersaing dengan teve Film layar lebar (bioskop) ternyata mendapat saingan hebat dari perkembangan teve, khususya tayangan persinetronan yang ‘mendominasi’ prime time (pukul 18.00 – 22.00) dan tayang ulangnya mendominasi dari pagi sampai malam. Betapa banyaknya sinetron yang menjadi andalan stasiun teve untuk menjaring iklan dan digemari. Media elektronik sudah memasuki era industri dan yang namanya industri harus mempertimbangkan untung rugi. Rating menjadi dewa dalam menentukan tayangan. Kalau penonton senang suara yang keras membentak, maki-maki, ratapan, dialog dalam bahasa semau gue pasti tema cerita akan mengarah pada yang disenangi pemirsa/penonton. Perkembangan stasiun teve di Jakarta jumlahnya pesat sekali. Konon Indonesia dikenal sebagai negeri ‘maju’ sebab punya banyak stasiun teve di ibukotanya! (TVRI, RCTI, SCTV, TPI INDOSIAR,Trans TV, TRANS 7, ANTEVE, TV ONE, GLOBAL TV, METRO TV), yang dapat ditangkap siarannya di propinsi lain dan ada yang tayang 24 jam. Masih ada juga JAK TV, DAI TV, SPACE TOON, ELSHINTA. Ditambah lagi dengan teve lokal (64 telah memperoleh izin dan yang dalam proses perizinan 325) meramaikan media elektronik. Belum lagi adanya jaringan teve kabel yang diprediksi dalam waktu kurang 10 tahun bisa langsung ke pelosok desa. Ditambah penemuan ‘terkini’ seperti komputer/internet, HP dll. ‘Bioskop’ pribadi dapat dihadirkan lewat alat canggih yang ukurannya kecil. Banyak untungnya bila di daerah ada teve lokal karena akan membawa juga budaya lokal, termasuk ragam bahasanya. Dengan demikian bahasa daerah tak punah. Penonton remaja Mari kita hitung siapa yang paling senang menyimak tayangan teve, khususnya persinetronan. Penduduk dunia yang paling banyak adalah generasi muda (penduduk muda Indonesia jumlahnya lebih 50%). ‘Ramuan’ komersial bagi remaja dengan ‘genre’ drama, komedi, fiksi/khayalan, misteri/mistik, horor, kisah nyata khas kehidupan remaja. Bumbu penyedapnya: cinta, baku hantam/kekerasan, culun dll. Bahkan ada yang mengatakan dunia persinetronan kita sekedar menjual mimpi. Tetapi mimpi itu penting dalam kehidupan manusia… Seorang pakar mengatakan bahwa pengaruh pesan visual terhadap komunikan mencapai 80% dibanding bila pesan audio yang cuma 11 %, sedang pengaruh indra lainnya (rabaan, aroma) cuma 6%. Menurut buku Prime Time Television (Muriel D.Cantor dan Joe Cantor, penonton teve Amerika adalah kelompok masyarakat yang dibuat tidak berdaya dan dibuat haus hiburan, sehingga menjadi ‘pecandu’ tontonan dan menerima apa adanya, dengan sukarela membiarkan dirinya ‘dipermainkan’ sutradara. Sebab penonton hanya ingin mencari hiburan, bukan untuk berpikir yang berat-berat…Hukum pasarpun berlaku: suply and demand, menyediakan apa yang diminta (dipetik dari tulisan Bapak Johan Tjasmadi). Euforia Mengamati kondisi kebahasaan kita dewasa ini adalah refleksi dari kronologis perubahan sosio-politik dan sosio-kultural di tanah air. Seiring pula dengan gelora euforia reformasi, yang terkadang kebablasan, kita mengukur segala-galanya dari semangat berdemokrasi, termasuk demokrasi dalam hal kebebasan berekspresi dan berkreasi berbahasa. Penciptaan bahasa gaul/prokem, slang, ternyata cepat sekali merambah. Itu adalah hak seseorang menggunakan bahasa yang menurutnya menarik dan populer. Pesatnya teknologi “mengintervensi” dunia remaja tetapi sering menafikan nilai-nilai ke Indonesiaan. Kita cenderung menjadi generasi instan, mau serba cepat, serba gampang, dan serba praktis. Hal ini tercermin dalam berbahasa yang marak akronim atau singkatan, seperti Mm (memang), PDKT, BTW (by the way), cumi – alias cuma minjem/cuma minum, bonyok (bokap nyokap), dugem, telmi, bete (bad temper) dll. Rupanya singkatan bisa menghemat kata dan inergi…seperti untuk sms saja. Judul-judul film nasional pun mengalami pergeseran ‘bahasa’, Simak judul: Gadisku Jutek, Pacarku Bloon, Gadis Tulalit, Mupeng alias Muka Pengen. Bahasa gaul ini dulu tidak masuk dalam perfilman dan media komunikasi lainnya, tetapi kini ‘menasional’. Ini memang masalah selera anak muda yang diamini orangtua. Ada pula kecenderungan menggunakan judul bahasa asing, seperti: Soul, Virgin, Ghost, Me Versus High Heels, My Love Forever, Eifel I Am In love, Lost In Love, Make Love alias ML. Untuk produksi film pada tahun 2008 ada 68 judul film (sampai awal Oktober), ada yang berjudul bahasa Inggris seperti: Love the Movie; From Bandung With Love; In the name of Love; DO (Drop Out); Best Friend; Summer Breeze; Oh My God; Oh, Baby. Rupanya bahasa Inggris lebih mengena hati anak muda, dibanding judul: Atas Nama Cinta, Sahabat, Tuhanku, Kekasihku … Marak pula penggunaan bahasa campur aduk antara bahasa Indonesia dan asing, dalam film maupun sinetron seperti: So What Gitu Lhoh; Cinta Silver; Love is Cinta. Hal ini diperkaya dengan berbahasa ‘seenaknya’ seperti Asoy Geboy; Tulalit; Tarix Jabrix; Tiren (Mati Kemarin); Si Ucup Santri Semelekete, Namaku Dick (arti Dick ternyata alat pria), Termehek-mehek, Meneketehe dan lainnya. Bahasa-bahasa tersebut di satu sisi bisa memperkaya bahasa nasional, tetapi di sisi lain dapat ‘merusak’pula. Ibarat tanaman di taman sari yang direcoki oleh rerumputan dan ilalang liar. Diperparah lagi, karena disuarakan lewat media pandang-dengar, pengaruh tularannya cepat sekali. Bapak Suryanto – mantan Direktur Teve dan Bapak Tb Maulana – seorang aktor – mengatakan bahwa ada kendala bagi artis muda bila menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, membuat akting jadi kaku dan teatrikal. Bila menggunakan bahasa ‘gaul’ lebih menjiwai dan menyatu. Dari film/sinetron luar negeri yang disulihbahasakan serta teks terjemahannya ternyata lebih baik. Hal ini karena dialog di film aslinya memang baik. Semakin berat Dominasi budaya audio-visual yang diusung oleh media film dan televisi, membuat tugas Lembaga Sensor Film semakin berat untuk menapis, menyaring dialog. Bagaimana supaya tidak mengekang kebebasan dan kreatifitas tetapi juga tidak membiarkan lepas begitu saja kalau sudah kebangetan. Mungkin hal ini terjadi karena belum ada parameter dan kriteria yang jelas dan tuntas, bila dikaitkan dengan perkembangan Bahasa Indonesia. Ragam lisan yang baik, dulu dikemas dalam pesan: berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun nyatanya kurang disenangi oleh penonton film dan pemirsa teve. Selama ini nyaris 100 % perhatian kita tertuju kepada pembakuan ragam tulisan, tentang ejaan, struktur kalimat, pilihan kata, istilah, dll. Ragam lisan kurang disentuh, padahal bahasa film dan sinetron tergolong bahasa lisan. Karena itulah, kita dapat memahami kenapa secara eksplisit masalah bahasa ini tidak tercantum dalam Undang-undang Perfilman No. 8 Tahun 1992 atau dalam tiga Peraturan Pemerintah (PP) mengenai perfilman, yaitu P.P. No. 6, No. 7 dan No. 8 Tahun 1994. Yang sedikit ‘mengatur’ bahasa dalam film adalah Kode Etik Produksi Film yang diterbitkan oleh Dewan Film Nasional (DFN) pada tahun 1980, yang antara lain meminta: 1) Agar menghindari percakapan yang najis, kotor, kasar, kecuali kalau sangat terpaksa. 2) Agar menghindari kata-kata yang mengugah asosiasi penonton pada kegiatan seksual yang berkesan cabul. 3) Agar percakapan yang berhubungan dengan adat-istiadat suatu bangsa, suku bangsa, ras mempergunakan bahasa nasional atau bahasa daerah yang layak. 4) Agar menghindari dialog (percakapan) yang merendahkan lambang negara, lagu kebangsaan dan aparat negara. Rumusan Kode Etik DFN ini menjadi debatable dan multitafsir, contohnya ukuran najis, kotor, kasar, cabul dan bahasa daerah yang layak pada kenyataannya sangat sulit ditemukan parameternya. Dialek bahasa daerah Betawi seperti lu, gue, babe nyak, apaan, gibeng,, makdirapit dengan gaya dan pengucapannya rupanya sudah menjadi bahasa gaul di perfilman dan persinetronan. Sebab lebih 90% Rumah Produksi ada di Jakarta. Dengan bahasa ini jarak antara orangua – anak, bisa terkaburkan! Di mata yang tua, ada kendala untuk menanamkan sopan-santun seperti masa lalu. Untuk ini harus dicari jalan keluarnya, bahasa tetap bisa berkembang tetapi sopan – satun ala Indonesia juga tetap tumbuh. Undang-undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002 menggariskan bahwa bahasa utama siaran harus Bahasa Indonesia yang baik dan benar sedangkan bahasa daerah hanya dapat digunakan untuk program siaran lokal. Bahasa asing hanya dapat digunakan sebagai bahasa pengantar sesuai keperluan mata acara siaran tertentu. Tetapi tren mata acara teve justru menggunakan bahasa asing (Behind the Screen, Famous to Famous, Breking News, Home and Beauty dll) Simpul Sesuai dengan arah perfilman, maka film (termasuk sinetron) jelas punya peran dan pengaruh untuk mencerdaskan bangsa. Penggunaan bahasa Indonesia dalam industri perfilman dan persinetronan efektif menjadi sarana. Dunia perfilman/persinetronan merupakan gabungan karya beberapa orang, seperti produser, sutradara, penulis skenario, pemain, musik, lighting dan sebagainya. Hendaknya diadakan ‘temu misi’ antara insan film dengan Pusat Bahasa, untuk menyamakan persepsi. Kita wajib bersama-sama membenahi penggunaan bahasa Indonesia dalam industri Perfilman dan Persinetronan yang ditengarai cenderung kebablasan dan diikuti lunturnya kesantunan dialog, seperti sapaan dalam dialog anak muda dengan orang tua. Dialog dalam film juga dapat dipetik sarinya karena paling tidak mengajarkan berbahasa dan ada ‘pesan’ di dalamnya. Untuk menjadikan film Indonesia kuat, perfilman juga harus mau memahami perkembangan zaman, perubahan tata nilai, dan kecenderungan perubahan selera termasuk selera berbahasa. Namun kita harus menyadari pula bahwa kita pun mempunyai tangung jawab pada perkembangan bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan dan kesatuan. Dari perkembangan penggunaan bahasa Indonesia dalam industri perfilman dan persinetronan itu akan memetik hasilnya menjadi bangsa yang berbudibahasa.Untuk ini harus ditumbuhkan ‘daya saring’ dan tidak asal menjiplak saja. Siapa yang punya tugas melaksanakannya? Ya, kita semua. Apabila punya daya saring, pasti dapat menapis dan mengambil yang baik. Sebaiknya penggunaan dialog dalam bahasa daerah diberi teks sehingga dapat dimengerti oleh lainnya. Kita harus mampu mempertahankan eksistensi berbudaya melalui bahasa Indonesia baik, benar, segar dan digemari. Menumbuhkan rasa cinta dan bangga pada bahasa Indonesia sendiri melalui perfilman dan persinetronan. Terasa kesenjangan antara persinetronan dengan sastra Indonesia. Boleh dikata tidak ada sinetron yang diangkat dari karya sastra. Apabila ini dilakukan pasti penggunaan bahasa Indonesia dalam persinetronan akan menjadi lebih baik. Dalam perfilman sudah dibuktikan bahwa mengangkat karya satra, selain hasilnya bagus juga menjaring penonton. Antara lain, Kembang Padang Kelabu, Jangan Ambil Nyawaku, Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi dsb. Kita rindu pada judul-judul yang puitis seperti Daun Di Atas Bantal,Biola Tak Berdawai; Pasir Berbisik dan lain-lainnya. Harus ada parameter dan kreteria untuk bahasa lisan, Bahasa Indonesia yang baik, benar, segar dan digemari. Titie Said Lembaga Sensor Film Indonesia Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: