Pencerdasan Bangsa Melalui Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam Industri Perfilman

PENDAHULUAN
Bahasan ini mengacu pada surat dari Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional:
dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 80 tahun Sumpah Pemuda
serta 60 tahun Pusat Bahasa, tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa. Sebagai Puncak
Acara Tahun 2008, diselenggarakan Kongres IX Bahasa Indonesia yang bertaraf internasional, di
Jakarta. Kongres merupakan upaya mengangkat peran bahasa dan sastra dalam membangun
generasi pelapis sebagai insan Indonesia yang cerdas, bermutu dan berdaya saing, baiklokal,
nasional maupun global dalam memasuki tatanan baru 2015. Tema Kongres adalah ”Bahasa
Indonesia Membentuk Insan Indonesia Cerdas Kompetitif di Atas Fondasi Peradaban Bangsa”.
DEFINISI ”FILM”
Judul bahasan ini tidak mencantumkan istilah Persinetronan seperti ditulis dalam surat, karena
sesuai definisi “Film” dalam UU Perfilman No. 8 Tahun 1992 dan RUU untuk perubahannya, film
mencakup baik film untuk layar lebar maupun televisi. Definisi film yang bersumber dari UNESCO
tersebut mencakup “anak-anak teknologi” film, termasuk telah diantisipasi pula penemuanpenemuan
teknologi di masa mendatang.
Defini Film selengkapnya dalam UU Perfilman No.8 Tahun 1992:
Film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandangdengar
yang dibuat berdasarkan azas sinematografi dengan direkam pada peta seluloid, pita
video, piringan video dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk,
jenis dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik atau proses lainnya, dengan atau
tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dengan sistem proyeksi mekanik elektronik atau
lainnya.

Definisi tersebut sangat visioner karena film adalah gabungan multi seni dan teknologi tinggi,
dan memasuki era teknologi digital dewasa ini, batas antara berbagai jenis film mejadi baur.
Film seluloid dapat di-transfer menjadi video; Video dapat di- kine transfer menjadi seluloid; Film
dengan bahan baku seluloid umumnya sekarang disunting dalam format video secara elektronik,
dan Editing Decision List (EDL) digunakan sebagai guide untuk editing format seluloid;
Produk iklan komesial yang umumnya ditayangkan di stasiun TV dan diputar secara lebih
terbatas di bioskop , banyak menggunakan bahan baku seluloid 16 mm, malah juga 35 mm;
Ada program serial TV yang dibuat dengan bahan baku 16 mm.

IDENTIFIKASI MASALAH
Penggunaan bahasa dalam perfilman mencakup:
– Yang langsung terkait dengan produk film sebagai obyek adalah: Bahasa tulisan
dan sastra dalam skenario/ skrip; Bahasa tulisan dalam judul, title, sub title,
penjelasan/ caption yang tampil di dalam produk.
– Dalam kegiatan pembuatan film: Istilah untuk jenis profesi dan istilah-istilah teknis
terkait dengan proses pembuatan (pra produksi, produksi, paska produksi).
– Penggunaan bahasa lisan dalam pelaksanaan produksi/ perekaman gambar, melalui
dialog atau narasi pemain/ narator, mengacu pada skenario/skrip.
– Penggunaan bahasa lisan dan tulisan dalam materi publikasi dan promosi.
– Tahap pengembangan konsep mulai dari gagasan sampai skenario/skrip final,
sangat menentukan penggunaan bahasa.

Masalah yang umum ditemui dalam penggunaan bahasa:
1. Dalam pembuatan skenario/skrip yang kemudian berlanjut dalam dialog pemain atau
narasi narator adalah:
– Kecenderungan penggunaan bahasa Inggris sesuai trend komunikasi dan
pemasaran produk.
– Kecenderungan penggunaan bahasa Jakarta dalam dialog film.
2. Dalam kegiatan pembuatan film, masalah yang belum kunjung tertangani adalah belum
adanya standarisasi penggunaan bahasa:
– Istilah untuk profesi dalam bahasa Indonesia baru terbatas yang distandarkan oleh
Organisasi Karyawan dan Televisi (KFT).
Contoh istilah profesi: executive producer sering dipergunakan untuk pengertian
produser pelaksana, yang di dunia internasional dimaksudkan dengan istilah executive
producer adalah manajemen tertinggi di atas producer; kisruh antara editor atau
operator; pengarah sinefotografi atau pengarah fotografi atau bahkan kameraman untuk
director of photography; penata artistik atau pengarah artistik untuk art director atau
production designer .
Industri banyak menggunakan rujukan kualifikasi dan klasifikasi seperti yang digunakan
dalam layar lebar (re: pedoman KFT, 1999). Organisasi KFT sedang melakukan
penyempurnaan pembakuan istilah profesi dengan melakukan review atas penetapan
Kongres tahun 1999 tersebut.
– Istilah-istilah teknis dalam perfilman/pertelevisian banyak yang sengaja tidak di-
Indonesiakan untuk menghindari kekisruhan
Sekedar contoh untuk istilah teknis, berikut adalah istilah-istilah dasar teknik penataan
kamera berikut tidak pernah di-Indonesia-kan.
• Type of Shot : LS/ Long Shot; FS/ Full Shot; MS/ Medium Shot; MCU/ Medium
Close Up; CU/ Close Up; BCU/ Big Close Up; ECU/ Extreme Close Up
• Angle : Worm eye angle; Low angle; Eye level; Top shot; Extreme top shot; Areal
shot; Side shot; Dutch angle; Crazy angle; POV: Point of View; OS : Over Shoulder
• Camera movement : Steady; On track; On track to reverse; Track in; Track out;
Circle/ circular track; Crane up; Crane down; Follow; Panning (left/ right); Tilt up; Tilt
down
• Additional : Change focus; Focus to out focus; Out focus to focus; In frame; Out
frame; Foreground; Background; Cont’d
Menjadi pertanyaan apakah akan menjadi praktis kalau istilah-istilah teknis dibakukan dalam
bahasa Indonesia, ataukah lebih baik tetap dalam bahasa Inggris namun penggunaannya tetap
melalui kesepakatan bersama dari unsur-unsur industri. Beberapa pertimbangan:
– Kemajuan teknologi berjalan sangat cepat, istilah-istilah baru yang terkait dengan
teknologi lebih cepat lahir daripada waktu untuk meng-Indonesia-kan istilah-istilah yang
sudah ada dan sudah umum digunakan dalam industri.
– Keterkaitan erat industri perfilman dalam negeri dengan industri perfilman global,
sehingga penggunaan istilah-istilah dalam bahasa Inggris sebagai bahasa standar
internasional menjadi lebih praktis, informatif dan komunikatif.

MENDUKUNG PERCEPATAN PENCERDASAN BANGSA
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dalam industri perfilman di luar istilah-istilah teknis jelas
akan mendukung percepatan pencerdasan bangsa, karena film mempunyai karakter mampu
memberikan dampak besar pada pemirsa:
– Tampilan audiovisual memberikan citra sebagai gambar yang hidup
– Jenis materi yang disajikan dapat bermacam-macam sesuai kebutuhan, seperti film
dokumenter, instruksional, cerita fiksi (drama, komedi, laga, horor). Film-film instruksional
berhubungan langsung dengan pendidikan, pelatihan. Film dokumenter berhubungan
langsung dengan pendokumentasian kenyataan di sekitar kita. Film cerita fiksi yang
umumnya berhubungan dengan tujuan hiburan, juga dapat mengandung gagasan/ pesan
dari sineas yang membuat karya fiksi tersebut, yang sifatnya bisa edukatif, informatif,
motivatif, atau menambah wawasan.
Penggunaan bahasa Indonesia dalam perfilman akan memperkuat identitas kita sebagai bangsa
yang memiliki harkat dan martabat dalam percaturan di antara kita sendiri maupun di dunia
internasional.

REKOMENDASI
1. Penggunaan bahasa Indonesia dalam industri perfilman perlu disosialisasikan
seluas-luasnya:
1.1 Yang langsung terkait dengan produk film sebagai obyek adalah: Bahasa
tulisan dan sastra dalam skenario/skrip; Bahasa tulisan dalam judul, title, sub title,
penjelasan/ caption yang tampil di dalam produk. Bahasa Inggris yang dianggap trendy
dapat ditampilkan sebagai sub title.
1.2 Dalam kegiatan pembuatan film: Istilah bahasa Indonesia untuk jenis profesi
perfilman perlu segera distandarkan. Untuk istilah-istilah teknis yang dipandang lebih
praktis dan informatif dalam bahasa Inggris, tetap diperlukan kesepakatan standarisasi.
1.3 Penggunaan bahasa Indonesia lisan dalam pelaksanaan produksi/ perekaman
gambar, melalui dialog atau narasi pemain/ narator, mengacu pada skenario/skrip.
Tahap pengembangan konsep mulai dari gagasan sampai skenario/skrip final, sangat
menentukan penggunaan bahasa. Pendidikan/ pelatihan dalam penulisan
skenario/skrip dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik perlu ditingkatkan.
1.4 Penggunaan bahasa Indonesia lisan dan tulisan dalam materi publikasi dan
promosi. Bahasa Inggris yang dianggap market oriented dapat ditampilkan sebagai
kelengkapan.
2. Sosialiasi, motivasi, gerakan penggunaan bahasa Indonesia (yang baik)
dapat dilaksanakan melalui ”Simpul- simpul” industri perfilman.
Simpul-simpul ini terdiri atas:
2.1 Simpul Masyarakat Yang Mengapresiasi Film;
2.2 Simpul Pemerintah Yang Memfasilitasi Iklim Industri Perfilman;
2.3 Simpul Usaha/Bisnis Yang Berperan Langsung Dalam Industri
2.4 Unsur Pendukung Industri: Pendidikan/ pelatihan, Penelitian (R&D)
2.5 Peran SDM sebagai titik sentral semua simpul.
Industri sangat tergantung pada kecenderungan penonton/ aspek pemasaran. Sejumlah film
yang menampilkan bahasa Indonesia yang baik dan ternyata box office dapat menjadi acuan
nyata dalam perkembangan indsutri. Sekedar contoh, penulis skenario dengan bahasa Indonesia
yang baik dan film-filmnya laku di pasaran antara lain alm. Asrul Sani (Kejarlah Daku Kau
Kutangkap, Nagabonar). Di antara sineas generasi muda antara lain Musfar Yasin (Nagabonar
jadi 2, merujuk pada cerita Nagabonar karya Asrul Sani), Riri Riza dan Mira Lesmana beserta
rekan-rekan penulis filmnya seperti Jujur Prananto (Sherina, Ada Apa Dengan Cinta), Salman
Aristo (Laskar Pelangi). Nia Di Nata bersama rekan-rekannya juga menampilkan bahasa
Indonesia yang baik dan sejumlah filmnya diapresiasi cukup baik pula di pasar industri.
Film dengan tema religi Ayat-ayat Cinta, penulis skenario Salman Aristo dengan penggunaan
bahasa Indonesia yang baik ternyata penontonnya ”meledak” , sehingga juga dapat memotivasi
industri untuk mengembangkan hal yang sama.
Bahwa kemudian dalam berbagai film yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik tersisip
bahasa etnik dan akses lokal untuk memperkuat penggambaran latar kehidupan tertentu yang
diangkat, hal tersebut tidak mengurangi kekuatan bahasa Indonesia yang dipergunakan.

Jakarta, Oktober 2008.

Budiyati Abiyoga

Bahasan disampaikan dalam Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008
Penulis adalah Produser, Pendidik di bidang Film

Satu Tanggapan

  1. Tulio J. Rodriguez from KoRes Corp. Weston Florida has to be the most unethical mortgage broker and business owner I have ever met. Tulio J. Rodriguez and his associates are nothing short of: liars, scammers, unethical, unprofessional, and the list goes on and on. To sum it all up into one word “THIEVES” BUYERS BEWARE was written after this individual and company.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: