Pembelajaran Bahasa Indonesia: Pemberdayaan Potensi Diri Pembelajar Melalui Strategi Inovatif

1. Pendahuluan
Dewasa ini sinyalemen negatif tentang Pembelajaran Bahasa
Indonesia (PBI) masih menjadi isu aktual dan mengemuka di berbagai
media/forum ilmiah. Dinyatakan, bahwa PBI di setiap jenjang dan
institusi pendidikan pada umumnya belum berjalan sebagaimana yang
diharapkan. Proses pembelajaran dan produktivitasnya pun kurang
memadai, baik dari segi kuantitas, kualitas, maupun relevansinya
dengan kebutuhan (AJBI, 2008). Pernyataan yang agak spesifik juga
muncul, bahwa kondisi PBI masih memprihatinkan. Proses pembelajaran
berlangsung timpang; seadanya, tanpa bobot dan monoton,
sehingga pembelajaran terpasung dalam suasana pembelajaran yang
kaku dan membosankan. Hasilnya pun kemampuan berbahasa mereka
rendah, kurang mampu mengungkapkan perasaan dan gagasan secara
logis, runtut, dan mudah dipahami (Tuhusetya, 2008). Pernyataan yang
menggambarkan ketimpangan ini sekaligus merupakan problematik
mendasar tentang penyelenggaraan PBI yang perlu mendapatkan
respon dan upaya solusinya.
Bagaimana sebenarnya sosok PBI? Jika diperhatikan, PBI
memiliki sejumlah faktor yang secara khusus berhubungan dengan
keberadaannya, baik langsung maupun tidak langsung. Sejumlah faktor
yang dimaksud antara lain: (1) kebijakan formal – struktural, (2) status
pelajaran Bahasa Indonesia, (3) kurikulum bidang, (4) tenaga pengajar
(guru), (5) pembelajar/siswa, dan (6) fasilitas pendukung. Hubungan
keenam faktor ini dengan PBI sangat signifikan dan bersifat fungsional;
bahkan dalam kondisi tertentu dapat menjadi hubungan yang
menentukan. Karena itu, keenam faktor tersebut tidak hanya diperlukan
untuk menopang keberadaan PBI, melainkan juga untuk kepentingan
pelaksanaan secara operasional.

Tentang keenam faktor tersebut dapat dijelaskan, bahwa secara
kelembagaan, penyelenggaraan PBI didasarkan pada kebijakan formal
– struktural dari institusi yang menaungi. Pelaksanaan PBI juga
mengacu pada kurikulum yang berlaku sebagai sumber acuan
programnya. Untuk menjalankan PBI diperlukan tenaga pengajar/guru
yang memiliki kualifikasi akademik sesuai dengan bidangnya. Jumlah
dan sebaran pengajar ini tentunya sebanyak lembaga penyelenggara
PBI. Demikian pula PBI harus menyiasati pembelajar/siswa sebagai
komponen pembelajaran yang tersebar di berbagai tempat di dalam/luar
negeri, sesuai dengan jumlah, kondisi dan jenjangnya.

Secara tidak langsung, PBI juga memiliki keterkaitan dengan
beberapa faktor yang dapat mendukung sekaligus menjadi fasilitas
dalam penyelenggaraannya. Beberapa faktor pendukung ini antara lain
dapat berupa lembaga bahasa, kebijakan tentang Bahasa Indonesia,
media massa, dan kondisi penggunaan Bahasa Indonesia. Lembaga
yang dimaksud adalah Pusat Bahasa dan Balai Bahasanya yang
tersebar di setiap propinsi. Kebijakan dan terbitan yang dihasilkan oleh
Pusat Bahasa (misalnya: kaidah ejaan, kamus, glosarium, tata bahasa
baku, UKBI, dan beberapa terbitan lain) tentunya sangat relevan dan
bermanfaat bagi kepentingan pelaksanaan PBI. Kebijakan tentang
peran Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional/bahasa negara dan
bahasa pendidikan/IPTEK, secara faktual telah teraktualisasikan.
Kenyataan tentang peran Bahasa Indonesia ini sangatlah menopang
pelaksanaan PBI. Di samping itu, berbagai media massa, baik cetak
maupun elektronik dapat dimanfaatkan sebagai sumber, materi dan
media pembelajaran dalam PBI. Demikian pula tentang kondisi
penggunaan/pemakaian Bahasa Indonesia di masyarakat, merupakan
fenomena sosiolinguistik yang dapat dieksploitasi bagi kepentingan
PBI.

Uraian tentang PBI tersebut menggambarkan, bahwa PBI
memiliki entitas, keberadaan, dan peranan yang jelas. PBI merupakan
wahana strategis bagi upaya pembinaan dan pengembangan Bahasa
Indonesia. Di samping itu PBI juga berkepentingan dalam penciptaan
kondisi/kualifikasi pengguna Bahasa Indonesia dan penggunaan
Bahasa Indonesia. Sehubungan dengan peran ini, dapat dikatakan
bahwa PBI dapat menjuadi barometer dan sekaligus simbol pencitraan
bagi pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia. Diasumsikan,
jika kondisi penyelenggaraan PBI berjalan dengan baik, maka akan
berpengaruh positif pada pertumbuhan/perkembangan Bahasa Indonesia,
kompetensi/kualifikasi pengguna dan kondisi/kualitas peng-
gunaannya; demikian pula sebaliknya, jika penyelenggaraannya tidak
baik, maka akan berpengaruh negatif pada perkembangan Bahasa
Indonesia, pengguna, maupun penggunaannya.

Paparan tentang PBI di atas dimaksudkan untuk memberikan
informasi awal tentang sosok dan seluk-beluk pelaksanaan PBI.
Informasi tersebut diharapkan dapat menjembatani pemahaman tentang
masalah pokok yang diangkat dalam makalah ini. Sebagaimana
dikemukakan pada judul, makalah ini membahas ikhwal pemberdayaan
komponen pembelajar melalui strategi inovatif. Secara khusus makalah
ini menawarkan tentang beberapa aspek penting dalam diri pembelajar
yang perlu diperhatikan dan dieksploitasi/disiasati. Selanjutnya aspek
tersebut diberdayakan dalam proses pembelajaran dengan memanfaatkan
strategi inovatif. Penjelasan lebih rinci dikemukakan pada butir
bahasan berikut.

2. Perspektif Pengembangan PBI
Substansi persoalan Bahasa Indonesia tidak hanya sebatas
urusan sistem lambang dan/atau alat komunikasi saja, melainkan juga
termasuk kondisi dan kualifikasi pengguna dan penggunaan Bahasa
Indonesia yang berkembang di masyarakat. Demikian pula upaya
pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia akan berkaitan erat
dengan seluk-beluk PBI. Aktualisasi pelaksanaan PBI akan dapat
memberikan kontribusi pada Bahasa Indonesia sebagai sistem kaidah
bahasa. Pembelajaran Bahasa Indonesia juga berkepentingan menghasilkan
pengguna Bahasa Indonesia yang memiliki kompetensi
“mumpuni” (kompetensi kebahasaan, komunikatif dan sosiolinguistik).

Dari PBI pula diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam
penciptaan kondisi penggunaan Bahasa Indonesia yang lebih memadai.
Mengingat peran dan urgensi yang ada pada PBI, maka sudah
semestinya pengembangan PBI dilakukan.
Di samping peran penting tersebut, pada dasarnya pelaksanaan
PBI juga mengacu pada tujuan yang jelas, yaitu yang terkait dengan
pembentukan pengetahuan/wawasan, ketrampilan, dan sikap dalam
berbahasa Indonesia (termasuk daya apresiasi dan kompetensi dalam
bersastra). Dikemukakan, bahwa tujuan umum PBI (pembelajaran
bahasa dan sastra Indonesia) adalah sebagai berikut: (1) siswa
menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan (nasional) dan bahasa negara; (2) siswa memahami Bahasa
Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta menggunakannya
dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan,
dan keadaan; (3) siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa
Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan
emosional, dan kematangan sosial; (4) siswa memiliki disiplin dalam
berpikir dan berbahasa/berbicara dan menulis; (5) siswa mampu
menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan
kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa; (6) siswa menghargai dan
membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan
intelektual manusia Indonesia (Depdiknas, 2004). Tujuan umum inilah
yang akan dijadikan sebagai tumpuan dan acuan PBI dalam
menjalankan misi pembelajarannya.

Problematik penyelenggaraan PBI sebagaimana dikemukakan
pada butir pendahuluan di atas sebenarnya telah banyak mendapatkan
tanggapan dari berbagai pihak yang berkewenangan. Bentuk tanggapannya
pun beragam; antara lain berupa pernyataan umum yang bersifat
spekulasi, tanggapan yang dikaitkan dengan identifikasi masalah, dan
tanggapan yang dihasilkan pada hasil kajian/penelitian. Di samping itu
ada tanggapan yang terakomodasikan dalam kegiatan yang lebih
konkrit. Kegiatan yang dimaksud dilakukan secara terancang oleh
lembaga terkait, antara lain berupa program pembinaan dan pelatihan.

Materi kegiatan difokuskan pada aspek kegiatan tertentu, misalnya
tentang: (1) kurikulum bidang studi, (2) pelatihan guru bidang, (3)
pengembangan materi ajar, (4) pemilihan dan implementasi metode/
media pembelajaran, dan (5) penyusunan perangkat evaluasi pembelajaran.
Berbagai tanggapan dan tindakan pembinaan/pemgembangan
yang ada belum mampu menjawab tantangan dan problematik PBI
sebagaimana yang sedang berjalan.

Fakta empiris menunjukkan, bahwa upaya pembinaan dan
pengembangan PBI sudah lama dilakukan, dan hasilnya belum
memadai sebagaimana yang diharapkan. Padahal upaya tersebut telah
mendasarkan pada pertimbangan dan rancangan (yang diasumsikan)
saksama. Memahami kondisi ketimpangan PBI seperti ini segera
muncul pertanyaan mendasar, antara lain: apa yang salah pada upaya
pengembangan tersebut? Apa yang menjadi sumber penyebabnya?

Jawabannya pun secara spekulatif akan beragam; bahkan memunculkan
berbagai diskusi panjang. Persoalan ini memang tampak kompleks.
Namun, mengingat PBI merupakan sistem instruksional, dengan
mendasarkan pada pendekatan yang sesuai paling tidak akan diperoleh
pemahaman yang objektif sebagai langkah awal upaya pengembangan
PBI.
Untuk mendapatkan pemahaman yang objektif dan proporsional
tentang permasalahan PBI tersebut perlu mempertimbangkan 2 hal
mendasar yang ada pada substansi PBI. Kedua hal yang dimaksud
adalah (1) karakteristik PBI, dan (2) prinsip pembinaan dan pengembangan
PBI. Karakteristik PBI yang spesifik adalah: PBI merupakan
sistem instruksional yang terdiri atas sejumlah komponen pendukung.
Masing-masing komponen memiliki hubungan kebergantungan dan
fungsional, mengacu pada tujuan pembelajaran tertentu. Keberadaan
PBI bersifat dinamis dan terbuka; karena itu memungkinkan terjadinya
perubahan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Sedangkan prinsip
pembinaan dan pengembangan PBI adalah: komprehensif, terprogram,
dan berkelanjutan. Dengan demikian, dari pertimbangan karakteristik
PBI akan diperoleh pemahaman objektif tentang permasalahan sesuai
dengan hakikat PBI. Dari pertimbangan prinsip pengembangan akan
diperoleh pemahaman tentang permasalahan PBI secara objektif dan
proporsional sesuai dengan prinsip yang dimanfaatkan sebagai acuan.
Dengan memperhatikan sosok, peranan, komponen, dan faktor
pendukung yang ada, sebenarnya PBI telah memenuhi persyaratan
sebagai sistem instruksional yang lengkap. Karena itu pelaksanaan PBI
seharusnya dapat berjalan sebagaimana mestinya dan memberikan hasil
yang memadai. Kondisi ini paling tidak (diasumsikan) dapat terjadi
pada institusi pendidikan yang sudah mapan. Namun jika masih terjadi
kondisi proses dan hasil yang belum memadai, kedua dasar
pertimbangan di atas dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi
permasalahan yang ada. Misalnya, apakah program yang disusun sudah
sesuai? Apakah komponen dan aspek yang seharusnya terlibat sudah
komprehensif? Melalui pertimbangan ini dapat diperoleh kejelasan
tentang deskripsi permasalahan secara objektif dan proporsional.

Berdasarkan deskripsi ini, upaya pembinaan dan pengembangan PBI
dapat dirancang dengan mengacu pada tata laksana pembelajaran yang
berlaku.

3. Pemberdayaan Pembelajar: Pemanfaatan Potensi Diri
Pengidentifikasian dan analisis masalah pelaksanaan PBI akan
diperoleh deskripsi peta kondisi komponen pembelajaran secara rinci
dan menyeluruh. Komponen yang dimaksud adalah: (1) tujuan
pembelajaran, (2) pengajar/guru, (3) pembelajar/siswa, (4) materi, (5)
metode, (6) media, (7) kegiatan belajar mengajar (KBM), dan (8)
evaluasi pembelajaran. Sesuai dengan kaidah instruksional, data
tersebut juga menunjukkan peran penting masing-masing komponen,
hubungan peran, dan derajat hubungan antar komponen. Dengan
memperhatikan peta yang ada dapat ditentukan mana komponen yang
memiliki peran dan derajat hubungan paling signifikan dalam
mekanisme dan pencapaian hasil pembelajaran.

Dari hasil kajian yang ada, salah satu komponen PBI yang
memiliki tingkat signifikansi tinggi dalam mekanisme pembelajaran
dan pencapaian hasil pembelajaran adalah pembelajar/siswa. Pendapat
ini sebenarnya sudah umum dan sudah dapat diduga. Namun, pada
umumnya pengajar juga menyadari bahwa dalam implementasi
pembelajarannya, pemahaman tentang peran pembelajar tersebut
seringkali berbeda, baik dalam penyikapan maupun perlakuan
(Widodo, 2007). Bahkan, terdapat asumsi yang sampai sekarang masih
berlaku, bahwa setiap pembelajaran (PBI) otomatis akan melibatkan
pembelajar. Padahal, secara faktual tidak senantiasa demikian (asumsi
ini bisa diperdebatkan). Kalaupun melibatkan pembelajar masih perlu
dipertanyakan lagi, aspek apa yang terlibat dan seberapa kadar kebermaknaannya
dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung,
sehingga dapat dikatakan benar-benar terjadi ’hal belajar’.

Dalam konteks pelaksanaan PBI, sosok pembelajar sangat
penting dan menentukan. Keberadaannya tidak hanya menjadi
subsistem pembelajaran, melainkan juga memiliki dimensi (matra)
ganda, yaitu sebagai input pmbelajaran, sebagai subjek belajar, dan
sebagai output pembelajaran. Sebagai input pembelajaran, perlu
diketahui kondisi dan potensinya melalui analisis kebutuhan, sehingga
dapat diketahui apa yang sudah dan apa yang belum dipelajari. Sebagai
subjek belajar, perlu diperhatikan dan disiasati keterlibatan belajarnya
melalui pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang sesuai.

Demikian pula dalam perannya sebagai output pembelajaran, perlu
dicermati keterukuran tingkat ketercapaian hasil belajarnya. Dengan
dimensi peran yang dimiliki pembelajar, jelaslah bahwa pembelajar
tidak hanya menentukan ada tidaknya kegiatan pembelajaran,
melainkan juga menentukan substansi dan kualitas pembelajaran.
Pemahaman terhadap dimensi peran pembelajar dalam PBI
tidak harus terpisah-pisah. Artinya, tidak dimaksudkan untuk
menyikapi pembelajar secara aspektual; misalnya, ketika pembelajar
berperan sebagai input, ketika sebagai subjek belajar, atau ketika
berkedudukan sebagai output pembelajaran, sehingga terkesan tidak
utuh. Pada dasarnya pembelajar tetap merupakan sosok pribadi yang
utuh dalam konteks PBI. Pemahaman tentang dimensi peran tersebut
hanya dimanfaatkan untuk mendudukkan hakekat peran pembelajar
yang sebenarnya dalam pelaksanaan PBI. Bahwa, pembelajar bukan
hanya subsistem pembelajaran yang pasif (sebagai objek belajar),
melainkan merupakan komponen yang berpotensi aktif, dinamis dan
kreatif. Pada sosok pembelajar terdapat potensi diri yang dapat digali
dan dimanfaatkan bagi kepentingan pembelajaran. Dari potensi diri
pembelajar ini pula substansi komponen pembelajaran yang lain dapat
diperankan secara proporsional dan optimal.

Pada dasarnya potensi diri pembelajar merupakan daya/
kemampuan mental pembelajar yang dapat dieksploitasi dan
dimanfaatkan bagi peningkatan dan pengembangan kompetensi
berbahasa Indonesia. Secara aspektual potensi diri pembelajar yang
dimaksud adalah (1) tingkat kemampuan berbahasa, (2) kedwibahasaan,
(3) minat, (4) sikap berbahasa, (5) motivasi belajar.

Penjelasan kelima aspek tersebut dikemukakan berikut ini. Pertama,
tingkat kemampuan berbahasa; adalah kejelasan kondisi kemampuan
berbahasa Indonesia pembelajar ketika belajar. Bagaimana dan
seberapa tingkat kemampuan berbahasa Indonesia pembelajar ini dapat
diukur melalui tes (dapat menggunaan tes UKBI). Kedua, kedwibahasaan;
yaitu kondisi penguasaan bahasa selain bahasa Indonesia
yang dimiliki pembelajar. Pada umumnya pembelajar adalah
dwibahasawan (menguasai lebih dari satu bahasa). Derajat kedwibahasaan
pembelajar berhubungan erat dengan proses belajar Bahasa
Indonesianya.
Ketiga, minat; mengacu pada pengertian kemampuan dan
kecenderungan seseorang terhadap sesuatu (bidang) tertentu. Setiap
pembelajar diasumsikan memiliki minat pada bidang tertentu. Minat
pembelajar juga berkaitan dengan proses pencapaian kompetensi
berbahasa Indonesianya. Keempat, sikap berbahasa; terdiri atas sikap
bangga, setia, dan cinta berbahasa Indonesia. Bangga berbahasa
Indonesia berarti seseorang merasa berbesar hati/terhormat ketika harus
menggunakan Bahasa Indonesia pada situasi yang tepat. Setia
berbahasa Indonesia; maksudnya sikap patuh/disiplin dan taat azas
ketika menggunakan Bahasa Indonesia. Sedangkan, cinta berbahasa
Indonesia berarti sikap merasa memiliki bahasa Indonesia, yang antara
lain diwujudkan dengan rasa tanggung jawab dalam penggunaan dan
pembinaan/pengembangannya.
Kelima, motivasi pembelajar; secara khusus yang dimaksud
dengan motivasi pembelajar adalah dorongan pribadi untuk mau
melakukan sesuatu dalam bentuk belajar bagi peningkatan/
pengembangan kompetensi berbahasa Indonesianya. Sebagai salah satu
potensi diri pembelajar, motivasi memiliki peran yang signifikan bagi
proses dan pencapaian hasil belajar. Motivasi belajar dapat tumbuh
secara internal, tetapi juga dapat dikondisikan secara eksternal. Yang
jelas, motivasi belejar sangat penting bagi pembelajar, terutama untuk
peningkatan dan pengembangan kompetensi berbahasa Indonesia.
Secara substansial, kelima aspek tersebut tidak dapat dipisahkan
satu dengan yang lain, karena berhulu pada sumber yang sama, yaitu
potensi diri pembelajar. Dalam pembahasan ini, kelima aspek tersebut
disikapi sebagai sesuatu (objek) yang sudah ada atau sudah terwujud,
meskipun kondisinya belum optimal. Karena itu, melalui proses
identifikasi, diperoleh hasil yang berupa deskripsi objektif kelima aspek
potensi diri pembelajar. Misalnya tentang tingkat kemampuan
berbahasa Indonesia pembelajar baru mencapai tingkat semenjana
(sedang); atau jika menggunakan tes khusus, diketahui bahwa
pembelajar masih lemah dalam menggunakan afiks produktif.

Demikian juga gambaran tetntang aspek lain seperti kondisi
kedwibahasaan, minat, sikap terhadap Bahasa Indonesi, dan motivasi
belajarnya. Langkah selanjutnya adalah memberdayakan kelima aspek
tersebut dalam proses pembelajaran.
Pemberdayaan komponen pembelajaran pada prinsipnya adalah
upaya mengeksploitasi dan memerankan potensi diri yang terdiri atas 5
aspek (tingkat kemampuan berbahasa Indonesia, kedwibahasaan, minat,
sikap, dan motivasi) dalam mekanisme pembelajaran yang
dikondisikan secara khusus. Upaya pemberdayaan ini dilakukan dengan
mempertimbangkan faktor empiris, akademis, dan perspektif
pengembangan PBI. Pertimbangan empiris mengacu pada pengertian
bahwa upaya pemberdayaan ini tidak dilakukan secara tiba-tiba,
melainkan didasarkan pada kondisi PBI yang sudah dan sedang
berjalan. Pertimbangan akademis, dimaksudkan bahwa upaya
pemberdayaan potensi diri pembelajar mengacu pada konsep/prinsip
yang dapat dipertanggung jawabkan secara keilmuan. Sedangkan
perspektif pengembangan memiliki pengertian, bahwa upaya
pemberdayaan ini juga dimaksudkan untuk kepentingan pengembangan
PBI yang akan datang. Di samping pertimbangan tersebut upaya ini
juga didasarkan pada anggapan dasar, bahwa: (1) setiap pembelajar
memiliki kondisi potensi diri yang terdiri atas lima aspek sebagaimana
disebutkan di atas; dan (2) kelima aspek potensi diri tersebut dapat
dieksploitasi serta diperankan dalam mekanisme pembelajaran.

4. Strategi Inovatif yang Bagaimana?
Untuk menentukan strategi PBI yang sesuai perlu mempertimbangkan
beberapa faktor terkait; salah satunya adalah kurikulum
sebagai acuan program. Dikemukakan, bahwa kurikulum Bahasa dan
Sastra Indonesia dikembangkan dengan berbasis kompetensi. Standar
kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi
pada hakikat pembelajaran bahasa. Belajar bahasa adalah belajar
berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia
dan nilai-nilai kemanusiannya. Karena itu, PBI diarahkan untuk
meningkatkan kualitas kemampuan pembelajar dalam berkomunikasi,
baik secara lisan maupun tulis, serta mampu menumbuhkan
penghargaan terhadap hasil cipta manusia. Standar kompetensi ini
dimaksudkan agar pembelajar siap mengakses situasi lokal –
multiglobal yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan.
Pembelajar juga harus terbuka terhadap berbagai ragam informasi yang
ada dan mampu menyaringnya, belajar menjadi diri sendiri, serta
menyadari eksistensi budayanya.

Perwujudan standar kompetensi tersebut berkonsekuensi pada
penyikapan terhadap potensi diri pembelajar. Diharapkan, pembelajar
dapat mengembangkan potensi dirinya berdasarkan kondisi, kemampuan,
kebutuhan, minat, dan menumbuhkan penghargaan terhadap
hasil karya/intelektual bangsa sendiri. Pengajar sebagai pengelola PBI
diharapkan mampu memusatkan perhatiannya pada pengembangan
potensi diri tersebut dengan menyiapkan dan mengkondisikan kegiatan
belajar – mengajar yang kondusif. Demikian pula pihak lain yang
9
terlibat dan terkait dengan penyelenggaraan PBI, dapat memberikan
kontribusinya sesuai dengan peran dan kapasitas masing-masing.
Secara khusus, pemberlakuan kurikulum yang ada memberikan peluang
cukup bagi pengembangan pembelajaran sesuai dengan kondisi
kelembagaan dan lingkungannya. Dengan demikian, pengajar dengan
leluasa dapat memanfaatkan otoritas dan kreatifitasnya bagi kepentingan
pemberdayaan potensi diri pembelajar secara lebih optimal.
Pemberdayaan potensi diri pembelajar dalam kegiatan belajar
mengajar (PBI) diperlukan strategi yang tepat. Strategi pembelajaran
yang dimaksud adalah strategi inovatif. Strategi pembelajaran ini
dipilih dengan pertimbangan dapat: (1) melibatkan aspek mental yang
tereksploitasi secara optimal, (2) menghadirkan stimulus belajar yang
variatif, (3) mengondisikan aktivitas belajar yang kondusif (bermakna,
ada nilai baru, dan menyenangkan), dan (4) menciptakan perkembangan
capaian hasil belajar yang teramati dan terukur (observable
dan measurable). Keempat butir pertimbangan ini pada prinsipnya
merupakan indikator yang digunakan sebagai acuan dalam mewujudkan
strategi inovatif. Adapun maksud keempat indikator ini
dikemukakan pada penjelasan berikut.

Pelibatan aspek mental secara optimal menjadi sesuatu yang
penting, karena pada dasarnya substansi proses belajar terjadi pada
mental pembelajar; pembentukan dan pengembangan potensi diri juga
merupakan fenomena mentalistik yang perlu diberdayakan dalam PBI.
Agar pembelajaran tidak terasa jenih/membosankan dan monoton,
maka diciptakan kelas yang kondusif; antara lain dengan memperhatikan
aktivitas yang bermakna, memunculkan hal baru, dan suasana
yang menyenangkan. Sedangkan, perkembangan capaian pembelajaran
perlu jelas dan terukur, karena melalui indikator ini dapat diketahui
tingkat ketercapaian sebuah unit materi; dan sekaligus juga dapat
dijadikan dasar untuk menuju unit berikutnya. Bagi pengajar, dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan kegiatan assesment dan evaluasi
pembelajaran. Di samping itu, indikator ini juga dapat digunakan untuk
manandai satuan materi tertentu, dan juga dimaksudkan agar tidak
terjadi penyajian materi yang tumpang-tindih.

MODEL STRATEGI INOVATIF PBI
Pembe-
lajaran
(Subyek
Belajar)
OUTPUT
EKSPLOITASI
POTENSI DIRI KREASI
KOMPONEN
PEMBELAJARAN
KREASI PBM
Kompetensi
Berbahasa
Indonesia/
Bersastra
Kedwibahasaan
Minat
Sikap terhadap
Bahasa/ Sastra
Indonesia
Motivasi belajar
Target Pembel.
(KD)
Pilihan Metode
Pilihan Sumber/
Media
Pembelajaran
Assesment /
Evaluasi
Pendukung
Pembelajaran
Proses
(mental)
Belajar
Perkemban
gan Belajar
(progress)
Peningkatan
Kompetensi
Berbahasa
Indonesia/
bersastra
PEMBERDAYAAN
INOVATIF
INPUT
Kondisi / Atmosfir Sosiokultural Kebahasaan

11
5. Penutup
Pembelajaran Bahasa Indonesia (PBI) merupakan wahana
strategis bagi upaya pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia.
Di samping itu PBI juga berkepentingan dalam mendorong penciptaan
kondisi/kualifikasi pengguna dan penggunaan Bahasa Indonesia.
Karena itu PBI juga dapat dijadikan sebagai barometer dan sekaligus
simbol pencitraan bagi upaya pembinaan dan pengembangan Bahasa
Indonesia.
Pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia perlu dilaksanakan
secara komprehensif, terprogram dan berkelanjutan. Upaya
ini harus dilakukan, tidak hanya disebabkan oleh pelaksanaan PBI yang
belum berhasil secara memadai, melainkan juga didasarkan pada
karakteristik PBI yang dinamis dan adanya tuntutan perkembangan
masyarakat. Karena itu pengembangan pelaksanaan PBI dan
pembinaan/pengembangan Bahasa Indonesia merupakan dua hal yang
tidak dapat dipisahkan.
Dalam konteks pengembangan PBI, pembelajar/siswa
merupakan komponen penting dan menentukan. Keberadaannya
memiliki peran ganda, yaitu sebagai input pembelajaran, subjek belajar,
dan output pembelajaran. Dimensi peran pembelajar ini merupakan
fenomena instruksional yang perlu mendapatkan perlakuan secara
proporsional. Dengan tetap memperhatikan komponen pembelajaran
yang lain, intensitas keterlibatan pembelajar ini perlu digarap secara
lebih saksama untuk mencapai hasil pembelajaran yang lebih optimal.
Pada sosok pembelajar terdapat potensi diri yang dapat
diidentifikasi dan dieksploitasi. Potensi diri yang dimaksud adalah (1)
kompetensi berbahasa Indonesia, (2) kedwibahasaan, (3) minat, (4)
sikap terhadap Bahasa Indonesia, dan (5) motivasi belajar. Kelima
aspek potensi diri pembelajar ini akan menjadi fokus perhatian dalam
pengembangan PBI. Selanjutnya, diperankan/diberdayakan dalam
mekanisme pembelajaran melalui strategi inovatif.

Pada dasarnya pemberdayaan diri melalui strategi inovatif
merupakan upaya pengeksploitasian dan pemeranan kelima aspek
potensi diri pembelajar dalam mekanisme instruksional yang intensif
dengan mengacu pada prinsip inovatif. Prinsip pembelajaran inovatif
yang dimaksud antara lain (1) melibatkan aspek mental secara optimal,
(2) menghadirkan dan mengondisikan stimulus belajar yang variatif,
unik, dan menantang, (3) menciptakan aktivitas belajar yang kondusif
(bermakna, ada nilai baru, dan menyenangkan), dan (5) merekam
perkembangan laporan hasil belajar yang teramati dan terukur.

DAFTAR RUJUKAN/BACAAN
Aleinikov, Andrei G. 2004. Megakreativitas. Yogyakarta: Niagara
Blair, R. W. 1982. Innovative Approach to Language Teaching.
Rowley: Newbury House Publisher Inc.
Cox, Carole. 1999. Teaching Language Arts: A Student and Response–
Centered Classroom. Boston: Allyn and Bacon
Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia. Jakarta: Depdiknas
Deporter, Bobbi dan Hemacki, Mike. 2003. Quantum Learning.
Bandung: Kaifa
Hidayat, K. 1990. Strategi Belajar-Mengajar Bahasa Indonesia.
Bandung: Penerbit Bina Cipta
Krashen, SD. 1982. Theory versus Practice in Language Training.
Dalam Blair, Robert W. 1982. Innovative Approaches to
Language Teaching. Rowley: Newbury House Publisher, Inc.
Richards, JC. Dan Rodgers, T.S. 1986. Approach and Methods in
Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press

Widodo Hs
Universitas Negeri Malang

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

Satu Tanggapan

  1. […] Hs.2008. Pembelajaran Bahasa Indonesia: Pemberdayaan Potensi Diri Pembelajar.  Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: