Pengelompokan Varietas-varietas Bahasa di Lembah Grime Jayapura dan Beberapa Permasalahan Pemetaan Bahasa di Papua

ABSTRACT
The inventory of local languages in Indonesia,
until now, is not finished. This is because the number of
local languages and dialects are not yet all knoun. The
last publication on the number of languages in
Indonesia issued by Summer Institute of Linguistics
(2001) stated that there were 726 languages. The
National Languges Center (Pusat Bahasa) has carrying
out new inventory activity since 2007 and the results are
yet to be made knoun.Will results from this inventory
effort give us a clear picture of the uncertainty about the
number of Indonesia languages?
This is exactly the problem faced by Papua. In
Papua, the issues are the uncertainty about the number
of languages on the one hand, and very few current
scholarly opinions concerning the issue on the other
hand. One source of the scholarly opinions is Summer
Institute of Languitics as mentioned above. According to
this institute the number of languages in Papua is 263.
One of the inventory efforts of languages and
dialects in Papua is the one I have been working on.
Slowly but sure, through field research, result of the
inventory is presented in this paper, with some linguistic
mapping problems in Papua. The area researched is the
Grime Valley in Jayapura. Results from dialectometry
calculation of the data at 30 points of observation with
700 lexical maps indicates that in the Grime Valley,
there are 8 language varieties consisting of 3 languges,
2 dialects, 1 sub-dialect, 3 different speaking. This study
shows that the number of languages reported in
previous literature which was 4 languages (Nimboran,
Kwansu, Kemtuk, and Gresi) is actually 3 languges.
Apart from the above study result, it is necessary
that some linguistic mapping problems in particular and
the linguistic research in Papua in general be discussed
here looking both at linguistic and non-linguistic
factors.

1. Pembuka
Perhitungan dan inventarisasi bahasa-bahasa di Indonesia belum
tuntas karena itu sampai saat ini belum diketahui secara pasti jumlah
bahasa daerah dan ragam-ragamnya. Berbagai informasi tentang jumlah
bahasa di Indonesia yang dimulai oleh Esser pada tahun 1938 sampai
tahun 1961 menyebutkan bahwa terdapat 200 bahasa. Lembaga Bahasa
(1972) mencatat jumlah bahasa yang dikumpulkan oleh setiap daerah
berjumlah 418 bahasa (Danie, 1991:2). Menurut Summer Institute of
Linguistics (2001:1), bahasa-bahasa di Kepulauan Indonesia berjumlah
726 bahasa. Informasi lain dikemukakan oleh Masinambouw dan
Haenan (ed 2002:2) yakni sampai tahun 2000 jumlah bahasa di
Indonesia sudah mencapai 698 bahasa, yang masih bersifat sementara
karena jumlah itu akan berubah apabila bahasa baru ditemukan,
terutama di Irian Jaya. Semua pendapat itu merupakan hasil
perhitungan sementara. Jumlah yang pasti belum diketahui karena
belum diadakan inventarisasi dan perhitungan bahasa secara terpadu
dan menyeluruh. Kegiatan Pusat Bahasa tahun 2007 dan 2008 yang
berkaitan dengan inventarisasi bahasa-bahasa di Indonesia masih
ditunggu hasilnya.

Persoalan jumlah bahasa daerah dan dialek-dialeknya yang
belum diketahui secara pasti tersebut terjadi pula di Papua. Berdasarkan
sumber kepustakaan yang ada, di ‘Tanah Papua’ (Provinsi Papua dan
Papua Barat) sampai tahun 2000 tercatat 263 bahasa daerah (Summer
Institute of Linguistics, 2001). Dari jumlah tersebut, 85 bahasa terdapat
di daerah Jayapura yang kini termasuk empat wilayah daerah tingkat
dua –kabupaten–, masing-masing Kabupaten Jayapura, Kabupaten
Keerom, Kabupaten Sarmi, dan Kota Jayapura.

Salah satu daerah yang menarik untuk diteliti adalah Lembah
Grime Kabupaten Jayapura. Daerah itu menarik untuk diteliti dari
kajian dialektologi sebab (1) belum diadakan penelitian kebahasaan
secara mendalam dan menyeluruh, (2) penelitian pemetaan sudah
dimulai (Wafom, 2004) tetapi baru dibuat peta-peta kata dan belum
dianalisis secara mendalam aspek kebahasaan, (3) bahasa-bahasa di
daerah itu memperlihatkan kemiripan bunyi dan kosa kata sehingga
perlu dikaji variasi-variasinya, (4) bersebelahan langsung dengan
daerah kajian dialektologi yang sudah ada (Fautngil 1994, 1999)
sehingga daerah itu dapat dijadikan langkah berikutnya, (5)
penduduknya sangat heterogen mengingat sejak tahun 1972, daerah itu
dijadikan lokasi transmigrasi nasional, (6) daerah itu merupakan daerah
terbuka sehingga mudah mendapat pengaruh dari luar, dan (7) daerah
itu merupakan pusat sebaran peradaban baru –agama Kristen di masa
lalu–, tetapi masih terlihat struktur adat dan budaya yang kuat. Faktor
lain yang mendukung adalah mudah dijangkau dan keadaan keamanan
terkendali. Berdasarkan pertimbangan tersebut, perlu dilakukan
penelitian dialektologi regional di Lembah Grime Jayapura.

Selain pertimbangan-pertimbangan umum di atas, terdapat pula
permasalahan kebahasaan yang patut dijadikan dasar untuk pengujian
kembali hal-ihwal keberadaan bahasa-bahasa di daerah itu. Perlu
dikemukakan di sini bahwa sejak masuknya pengaruh luar di Lembah
Grime sejak awal abad lalu –hadirnya Schneider (1928)– telah dikenal
adanya dua kelompok etnis yang memiliki bahasa berbeda, yakni
Nimboran dan Kemtuk Gresi.

Pada tahun 1950-an, peneliti asing yang beroperasi di Papua
umumnya dan khususnya Lembah Grime mulai membuat publikasi,
antara lain, Anceux (1965) membuat analisis struktur bahasa
Nimboran, yang penekanannya pada aspek fonologi dan morfologi.
Tahun 1970-an, mulai beroperasi kelompok Summer Institute of
Linguistics (SIL) bekerja sama dengan Universitas Cenderawasih.
Salah satu daerah sasaran kelompok SIL adalah Lembah Grime. Salah
satu kegiatan SIL pada waktu itu adalah inventarisasi bahasa-bahasa di
Papua. Untuk Kabupaten Jayapura –termasuk Lembah Grime–
diketuai oleh Kana (1975). Cara inventarisasi SIL adalah dengan
pengisian 400 – 700 kosa kata dasar ditambah dengan informasi dari
masyarakat setempat. Untuk Lembah Grime, didaftarkan empat bahasa
yakni Nimboran (NB), Kemtuk (KM), Gresi (GS), dan Kwansu (KW).
Hasil inventarisasi SIL secara keseluruhan diedit dan disusun dalam
laporan yang berbentuk indeks oleh Barr dan Barr (1978) dan
dilanjutkan dengan pengeditan kedua oleh Silzer dan H.H Clouse tahun
1991. Mulai saat itu, keempat bahasa tersebut dikenal sebagai bahasa
daerah di Lembah Grime.

Berdasarkan penjelasan di atas dan cara inventarisasi bahasa
oleh kelompok SIL di Papua umumnya dan khsusus di Lembah Grime –
-yang belum menggunakan kajian dialektologi–, ditambah lagi dengan
keadaan sosial budaya, sangat penting untuk dibuat pengujian kembali
terhadap keberadaan keempat bahasa di daerah itu. Dengan kata lain,
harus diadakan pemetaan bahasa di Lembah Grime Jayapura secara
menyeluruh. Hal tersebut penting sebab –sebagaimana dikatakan di
atas–, sampai saat ini belum pernah dibuat penelitian pemetaan bahasa
dengan kajian dialektologi di daerah itu. Karena itu, jumlah bahasa dan
dialek di Lembah Grime Jayapura belum diketahui secara pasti.

Dengan demikian, masalah utama yang perlu dikaji di sini adalah
bagaimana keberadaan varietas-varietas bahasa di Lembah Grime saat
ini ditinjau dari kajian dialektologi?
Sehubungan dengan masalah utama tersebut, tujuan bahasan ini
adalah untuk mengkaji secara ilmiah kedudukan varietas-varietas
bahasa di Lembah Grime Jayapura. Kedudukan varietas-varietas bahasa
yang dimaksudkan di sini mencakup jumlah dan hubungan
antarvarietas, yakni status suatu varietas bahasa entah sebagai bahasa,
dialek, subdialek, atau tidak beda.

2. Konsep Dasar
Bahasan konsep dasar terkait dengan (a) variabel-variabel yang
perlu dibahas dan dijelaskan pengertiannya, (b) batasan-batasan, dan
(c) prosedur kerja yang disebut pula sebagai metode. Dalam konsep
dasar, sejalan dengan judulnya, akan dibahas tiga hal yakni
pengelompokan, varietas bahasa, Lembah Grime Jayapura. Beberapa
masalah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pemetaan bahasa
secara khusus dan penelitian bahasa secara umum di Papua merupakan
bahasan tambahan yang penting pula untuk disampaikan dalam
makalah ini.

2.1 Pengelompokan
Pengertian pengelompokan dalam bahasan ini berhubungan
dengan identifikasi titik-titik pengamatan, yakni kampung-kampung
yang menggunakan bahasa daerah (lokal) yang diakui sebagai bahasa
asli di Lembah Grime Jayapura. Setelah diidentifikasi ragam bahasa
pada titik-titik pengamatan, diperhitungkan jarak kosa katanya agar
dapat dibuat pengelompokan dan akhirnya diidentifikasi pula
kedudukan varietas-varietas itu. Kedudukan varietas-varietas
dimaksudkan sebagai tinjauan terhadap keberadaan suatu varietas entah
sebagai bahasa atau dialek atau bahkan tidak beda.

Identifikasi ragam bahasa dalam bahasan ini mencakup
pengumpulan 700 kosa kata bahasa daerah, –sesuai alat yang dipakai–,
pada 30 titik pengamatan. Hasil pengumpulan kosa kata tersebut
dipetakan sebanyak 700 peta leksikal. Peta-peta tersebut selanjutnya
dianalisis. Peta-peta tersebut digunakan sebagai korpus untuk
perhitungan jarak kosa kata karena kajian ini hanya membahasa aspek
leksikal yang terdapat dalam peta tersebut.

Perhitungan jarak kosa kata menggunakan rumus dialektometri.
Dialektometri adalah rumus yang dipakai untuk menghitung jarak
kosakata, diperkenalkan oleh Seguy (1977) dan telah dipergunakan
oleh Ayatrohaedi (1985), yakni jumlah beda kali 100 dibagi dengan
jumlah peta. Rumusannya adalah: s x 100/n . Dalam rumus tersebut, s =
jumlah beda, dan n = jumlah peta. Hasil perhitungan berupa angka
persentase dari 0 sampai 100, yang dipakai sebagai dasar dalam
penentuan beda dialek dan bahasa.

Sebagai acuan dasar penentuan tidak beda, beda subdialek, beda
dialek sampai beda bahasa selama ini dipakai saran Guiter (1973: 96),
yang telah digunakan pula oleh Ayatrohaedi (1983) dan secara umum
kajian dialektologi regional sesudahnya. Saran Guiter tersebut untuk
hasil perhitungan dialektometri leksikal adalah 0%-20% tidak ada beda,
21%-30% beda wicara, 31%-50% beda subdialek, 51%-80% beda
dialek, 81% ke atas beda bahasa.

Hasil perhitungan di atas memperlihatkan dua hal yakni (1)
kelompok-kelompok varietas dan (2) status setiap varietas, entah
sebagai bahasa, dialek, subdialek, sampai tidak beda. Perlu ditegaskan
bahwa cara perhitungan dialektometri sebagaimana dikemukakan di
atas sudah lama dikenal dalam kajian dialektologi tradisional, yang
masih dipakai hingga saat ini. Mungkin saja telah muncul beberapa
kritik terhadapnya namun sejauh belum ada teori yang
menggugurkannya, perhitungan itu masih dapat digunakan sebagai
pemilah bahasa sampai beda wicara dan tidak beda. Dengan demikian,
pemilahan bahasa dan dialek di Lembah Grime dengan penggunaan
dialektometri masih dianggap sesuai.

2.2 Varietas bahasa
Variasi kebahasaan yang sifatnya netral disebut sebagai varietas
(variety), yang dalam kepustakaan dialektologi yang lebih tua dikenal
sebagai suatu dialek yang lebih kecil dan variasi yang netral (Petyt,
1980:26-27). Dalam kajian dialektologi dan sosiolinguistik, pengertian
varietas dikenal sebagai suatu fitur kebahasaan yang sifatnya netral
(Chambers and Trudgil, 1980:5).

Pengertian kedua, yakni kenetralan itu yang dipakai dalam
bahasan ini. Untuk pengertian kenetralan sebuah fitur kebahasaan,
linguis lain menggunakan istilah isolek (Bailey, 1973:11). Dengan
demikian, varietas dan isolek walaupun berbeda dalam bentuk istilah,
namun keduanya membahas masalah yang sama, yakni dipakai sebagai
istilah yang berhubungan dengan kenetralan suatu fitur kebahasan,
apakah itu termasuk bahasa, dialek, subdialek, atau tidak beda. Dengan
demikian, sebelum diketahui suatu variasi kebahasaan pada suatu
daerah sasaran penelitian, variasi bahasa itu disebut dengan kedua
istilah tersebut. Jadi, varietas dan isolek dipakai untuk wilayah yang
belum diketahui variasi kebahasaannya.

Berdasarkan penjelasan di atas, kedua istilah itu pada dasarnya
dapat dipakai dalam kenetralan suatu fitur kebahasaan. Namun, hanya
dipilih salah satu yang lebih netral, yakni varietas, yang dapat dipakai
selanjutnya dalam bahasan ini. Varietas dipakai untuk penamaan variasi
kebahasaan pada pengelompokan titik-titik pengamatan dan penjelasan
secara umum di Lembah Grime Jayapura yang dianggap sebagai daerah
yang belum diketahui jumlah bahasa dan dialek.

2.3 Lembah Grime Jayapura
Lembah Grime terletak di sebelah barat kota Sentani, ibukota
Kabupaten Jayapura, dengan jarak kurang lebih 200 kelometer. Di
sebelah selatan sampai barat daya Lembah Grime terdapat pula satu
lembah lain yaitu Nawa, yang keduanya lazim disebut Grimenawa.
Kedua daerah itu merupakan lembah kembar yang memiliki kesatuan
hukum adat dan budaya dengan latar belakang geografis yang sama. Di
sebelah timur Grime terdapat distrik Sentani Barat dan danau Sentani
sampai ke kampung Arsopura Kabupaten Keerom. Di sebelah barat,
Grime berbatasan dengan gunung dan sebelah utara dengan Distrik
Depapre dan Distrik Demta yang terletak di pantai utara Papua.
Secara administratif pemerintahan, di Lembah Grime terdapat
enam distrik –istilah untuk kecamatan menurut UU No. 21 tentang
Otonomi Khusus Papua– dan 54 kampung dalam wilayah Kabupaten
Jayapura Provinsi Papua. Keenam distrik tersebut merupakan hasil
pemekaran sampai tahun 2005. Nama-nama distrik yakni Nimboran (14
kampung), Nimbokrang (9 kampung), Namblong (7 kampung),
Kemtuk Gresi (7 kampung), Kemtuk (10 kampung), dan Gresi Selatan
(7 kampung). Namlong dan Gresi Selatan adalah distrik baru, yakni
hasil pemekaran tahun 2005.

3. Pembahasan
Varietas-varietas bahasa dikelompokkan berdasarkan hasil
perhitungan jarak kosa kata dengan rumus dialektometri sebagai salah
satu metode atau cara yang lazim dipakai dalam pemetaan bahasa
umumnya dan khususnya kajian dialektologi regional. Langkahlangkah
penggunaan dialektometri, selain peta leksikal yang telah
dibuat sebelumnya, dibuat pula peta segitiga dialektometri, yang
memuat garis penghubung antartitik pengamatan. Setelah itu, akan
diperhitungkan jumlah leksikon yang dianggap beda pada dua titik
pengamatan yang berhubungan langsung. Disitulah dapat diketahui
jarak kosa kata untuk dua titik pengamatan.

Dengan diketahuinya jarak kosa kata, dapat dikelompokkan
titik-titik pengamatan. Titik-titik pengamatan yang berdekatan jumlah
jaraknya akan dianggap sebagai satu kelompok dan jarak yang jauh
dikelompokkan dalam kelompok lain. Cara pengelompokan tersebut
berdasarkan saran Guiter (1973) sebagaimana dikemukakan dalam
konsep di atas.

Sebagaimana telah disinggung pula pada konsep, dalam
penelitian ini digunakan sampel tiga puluh kampung dari enam puluh
kampung yang ada pada enam distrik di Lembah Grime. Pengambilan
sampel ini dianggap sudah mewakili semua titik pengamatan di daerah
itu sebab telah merujuk penelitian terdahulu, yakni penelitian awal
(Wafom, 2004) dan penelitian lanjutan (Fautngil, 2008). Agar jelas,
nomor dan nama kampung yang menjadi sampel titik pengamatan
terdapat pada lampiran kedua makalah ini.

1) Hasil Perhitungan Dialektometri
Hasil penghitungan jarak kosa kata secara keseluruhan, yakni
700 peta kata untuk 30 titik pengamatan, sebagai berikut.
1 / 2 : 36 9 / 12 : 5 17 / 19 : 0
1 / 3 : 33 10 / 11 : 0 18 / 19 : 0
1 / 29: 36 10 / 17 : 83 18 / 20 : 21
1 / 30: 36 11 / 12 : 7 19 / 20 : 22
2 / 3 : 9 11 / 13 : 4 19 / 21 : 65
2 / 4 : 0 11 / 16 : 81 19 / 22 : 65
2 / 5 : 7 11 / 17 : 81 20 / 21 : 58
2 / 12: 22 12 / 13 : 3 20 / 26 : 60
2 / 30: 0 12 / 14 : 17 20 / 28 : 86
3 / 4 : 23 12 / 30 : 23 21 / 22 : 0
3 / 7 : 23 13 / 14 : 0 21 / 23 : 21
4 / 5 : 3 13 / 15 : 87 21 / 26 : 22
4 / 6 : 9 13 / 16 : 86 22 / 23 : 21
4 / 7 : 23 14 / 30 : 22 22 / 24 : 21
5 / 6 : 0 14 / 29 : 29 23 / 24 : 0
5 / 12: 21 14 / 28 : 87 23 / 25 : 9
6 / 7 : 23 14 / 20 : 87 23 / 26 : 9
6 / 8 : 23 14 / 15 : 87 24 / 25 : 0
6 / 9 : 21 15 / 16 : 21 25 / 26 : 0
6 / 12: 22 15 / 18 : 21 25 / 27 : 0
7 / 8 : 0 15 / 20 : 10 26 / 27 : 0
8 / 9 : 22 16 / 17 : 0 26 / 28 : 82
8 / 10: 21 16 / 18 : 0 27 / 28 : 87
9 / 10: 0 17 / 18 : 0 28 / 29 : 87
9 / 11: 0 29 / 30 : 0
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, terdapat perbedaan antara
tidak beda yakni 0% – 20% sampai dengan beda bahasa, yakni 81% ke
atas. Semua hasil perhitungan di atas ditampilkan dalam peta
dialektometri berikut ini.

3) Pengelompokan Varietas-varietas Bahasa
Pengelompokan ini dimulai dengan identifikasi kelompok yang
lebih luas, yakni perhitungan jarak kosa kata di atas 51% dan setelah itu
diidentifikasikan pula kelompok 50% ke bawah. Pada dasarnya semua
kelompok, sebagai hasil identifikasi, memiliki kedudukan yang sama,
walaupun dalam kenyataannya, kelompok 50% ke bawah merupakan
subkelompok dari 51% ke atas.

Sesuai penjelasan di atas dan letak geografis yakni pemilahan
berdasarkan letak wilayah timur-barat dan utara-selatan, diidentifikasi
kelompok pertama yang lebih luas di sebelah barat yaitu titik
pengamatan 2 – 6, 9 – 14, 29, 30 disebut Varietas Nimboran (NB). Di
sebelah timur, kelompok kedua yakni titik pengamatan 23 – 27 disebut
Varietas Kemtuk (KT). Di sebelah utara sebagai kelompok ketiga
hanya satu titik pengamatan yakni 28 disebut Varietas Kwansu ( KN).
Di sebelah selatan sebagai kelompok keempat terdapat pada titik
pengamatan 16 – 19, yang disebut Varietas Gresi (GS).
Kelompok berikutnya (50% ke bawah) dimulai dengan varietas
kelompok kelima, yakni di sebelah barat, terdapat pada titik
pengamatan 1. Titik pengamatan ini dikenal sebagai Varietas Berab
(BR). Di bagian selatan adalah kelompok keenam, terdapat pada titik
pengamatan 7 dan 8 yang disebut sebagai Varietas Singgriwai (SG).
Di wilayah timur terdapat pula dua kelompok, yakni kelompok
ketujuh dan kedelapan. Kelompok ketujuh adalah titik pengamatan 15
dan 20. Sesuai nama kampung di daerah itu, varietas ini disebut sebagai
Varietas Sawoi (SW). Kelompok kedelapan adalah titik pengamatan 21
dan 22 yang disebut sebagai Varietas Daimokati (DK).

Berdasarkan penjelasan di atas, terdapat delapan varietas bahasa
di Lembah Grime Jayapura sebagai berikut.
1) Varietas Berab ( BR) 5) Varietas Gresi (GS)
2) Varietas Nimboran (NB) 6) Varietas Kemtuk (KT)
3) Varietas Singgriwai (SG) 7) Varietas Demoikati (KT)
4) Varietas Sawoi (SW) 8) Varietas Kwansu (KN)
Berikut peta varietas-varietas bahasa di Lembah Grime
Jayapura.

4)Jumlah Bahasa dan Dialek
Bertolak dari penjelasan jumlah varietas yang didasarkan atas
hasil perhitungan jarak kosa kata sebagaimana dikemukakan di atas,
ternyata hubungan antara keempat bahasa yang telah disebutkan
sebelumnya (SIL 2001), ternyata hasilnya berbeda. Perbedaan itu
terjadi pada identifikasi dan perhitungan jarak kosa kata antara titik
pengamatan 15 – 20, yang selama ini dikenal sebagai bahasa Gresi
dengan 21 – 27 yang dikenal dengan bahasa Kemtuik, ternyata
perbedaan kosa katanya hanya setingkat dialek yakni 51% – 69%. Perlu
ditegaskan di sini bahwa hubungan keduanya masih dekat karena
adanya persamaan latar belakang sosial budaya, sejarah, dan geografi.

Bertolak dari kenyataan tersebut, hubungan kedua varietas itu lebih
cocok disebut sebagai bahasa Kemtuk Gresi. Nama tersebut sebetulnya
sudah lama dikenal, antara lain dipakainya nama Kemtuk Gresi sebagai
nama kecamatan sejaka tahun 1972. Nama tersebut kemudian berubah
menjadi Distrik Kemtuk Gresi.

Berdasarkan penjelasan di atas, hubungan antarvarietas di
daerah Lembah Grime dapat dikemukakakn sebagai berikut. Hubungan
varietas yang diperhitungkan di atas 50% yakni antara varietas
Nimboran dan Gresi, Nimboran dan Kwansu, Kwansu dan Kemtuk
ternyata terdapat perbedaan di atas 81%, sehingga mereka dapat disebut
sebagai bahasa berbeda, yakni bahasa Nimboran, bahasa Kwansu, dan
bahasa Kemtuk Gresi.

Hubungan di bawah 50% yakni varietas Berab, varietas
Singgriwai, varietas Sawoi, dan varietas Daimoikati disebut sebagai
perbedaan subdialek sampai tidak beda. Hasil perhitungan jarak kosa
kata adalah varietas Berab merupakan beda sub dialek dan ketiga
varietas yang lain –varietas Singgriwai, Sawoi, Daimoikati– disebut
sebagai beda wicara. Disebut sebagai subdialek dan beda wicara sebab
tingkat beda berkisar 21% – 50%.

Secara keseluruhan, perlu dijelaskan lebih lanjut bahwa NB
memiliki satu subdialek adalah Berab dan satu beda wicara, yakni
Singgriwai. KN tidak memiliki variasi dialektal karena hanya satu
kampung. Bahasa Kemtuk Gresi memiliki dua dialek, yakni Dialek
Kemtuk dan Dialek Gresi. Dialek Gresi terdiri atas dua wilayah yang
berbeda setingkat beda wicara, yakni Sawoi di utara dan Gresi di
bagian selatan. Dialek Kemtuk memiliki pula dua beda wicara yakni
Kemtuk di bagian utara dan Daimoikati di selatan.

Untuk memperjelas uraian di atas, di bawah ini dibuat
ringkasannya. Secara keseluruhan, di Lembah Grime terdapat tiga
bahasa dengan dialek, subdialek, dan beda wicara sebagai berikut.
1) Bahasa Nimboran memiliki:
a) Satu subdialek : Berab
b) Satu beda wicara : Singgriwai
2) Bahasa Kemtuk Gresi memiliki:
a) Dua dialek : (1) Dialek Kemtuk
(2) Dialek Gresi
b) Dua beda wicara : (1) Bring
(2) Demoikati
3) Bahasa Kwansu
Temuan tentang keberadaan Kemtuk dan Gresi pada dasarnya
tidak mengherankan sebab di satu sisi mereka merasa diri berbeda
tetapi di pihak lain mereka masih tetap merasa diri dekat. Mereka
merasa diri berbeda sejak kelompok SIL membuat terjemahan Alkitab
dalam dialek Kemtuk dengan sebutan bahasa Kemtuik. Perbedaan
tersebut lebih dipertajam dengan pemekaran distrik, yakni Distrik
Kemtuk Gresi menjadi Distrik Kemtuk, yang terlepas dari Kemtuk
Gresi. Distrik Kemtuk Gresi tetap mempertahankan nama lama sebab
sudah merupakan nama distrik induk dan masih ada anggota subetnis
Kemtuk di wilayah itu yakni kampung Demoikati, Yanbra, dan Brasu.
Mereka masih menganggap diri dekat karena dalam berbahasa,
pada umumnya mereka saling mengerti dan sebagian masih termasuk
wilayah Kemtuk Gresi. Hal ini disebabkan pemekaran distrik tidak
bertolak pada kelompok etnis melainkan wilayah geografis.

4. Beberapa Permasalahan Pemetaan Bahasa di Papua
Pada subbab ini akan dikemukakan sejumlah permasalahan
dalam penelitian bahasa umumnya dan pemetaan bahasa pada
khususnya. Permasalah tersebut dipaparkan hanya sebagai inventarisasi
sejumlah hambatan dan tantangan terutama bagi peneliti bahasa di
wilayah Papua khususnya. Dengan demikian, penjelasan pada bagian
ini bertujuan memberikan informasi tentang kekhususan-kekhususan di
‘Tanah Papua’ yang berhubungan dengan penelitian dan pemetaan
bahasa di daerah itu. Agar jelas, akan dikemukakan terlebih dahulu
gambaran umum tentang kekhususan-kekhususan yang berhubungan
dengan hal-ihwal kebahasaan dan latar belakang sosial budaya serta
geografi dan kemudian diidentifikasi masalah-masalah yang
berhubungan dengan itu pada masing-masing bagian.

Bahasan berikut dikelompokkan menjadi dua, yakni
permasalahan kebahasaan (linguistik) dan bukan kebahasaan
(nonlinguistik). Masalah linguistik mencakup hal ihwal bahasa dan
masalah nonlingustik berhubungan dengan masalah luar bahasa seperti
latar belakang sosial budaya dan geografi.

4.1 Keadaan Kebahasaan
Secara umum dapat dikatakan bahwa ‘Tanah Papua’ merupakan
satu gudang raksasa yang bermuatan aneka ragam bahasa khususnya
dan budaya umumnya, yang dapat memperkaya linguistik nusantara
sebagai bagian dari linguistik dunia. Selain itu, mungkin saja khazanah
bahasa dan budaya Papua dapat pula mengugurkan teori-teori
kebahasaan tertentu yang selama ini telah ada.

Berdasarkan pernyataan di atas, masalah kebahasaan di Papua
harus diteliti, dibina, dan dikembangkan. Namun, kekhususankekhususan
dalam hal kebahasaan terdapat pada semua aspek, mulai
dari aspek fonetik, fonologi, morfologi, leksikon, sintaksis, sampai
wacana. Misalnya, aspek bunyi bahasa, –fonetik dan fonologi–,
memiliki keruwetan bunyi bahasa yang sangat berbeda dengan bunyibunyi
bahasa Austronesia. Hampir semua jenis bunyi yang dihasilkan
oleh alat ucap manusia, baik eksplusif maupun inklusif terdapat pada
bahasa-bahasa tertentu di Papua.

Selain kekhususan bunyi, masalah pada aspek morfologi pun
tidak sedikit, karena bahasa-bahasa Papua pada umumnya mengenal
konjugasi verba dengan pengaruh kala dan modus. Untuk aspek
sintaksis, pada umumnya bahasa-bahasa Papua memiliki pola S-O-P
untuk klausa dan kalimat, sedangkan frasa mengenal pola Penjelas-Inti
(MD) terutama untuk frasa nominal dengan penjelas.

Aspek-aspek kebahasaan yang ada memperlihatkan keruwetan
pada semua tataran sehingga dapat menimbulkan masalah dalam usaha
pendeskripsian struktur bahasa, terutama bagi peneliti yang baru belajar
dengan pengetahuan dan pengalaman terbatas.
Masalah lain adalah pemetaan bahasa yang biasanya
menggunakan dialektometri dengan menghubungkan titik pengamatan
yang satu dengan titik pengamatan yang lain. Garis-garis tersebut
kadang-kadang melewati gunung atau laut yang secara teoretis tidak
bisa, namun dalam kenyataan hal itu dapat terjadi karena ada jalan-
jalan tradisional atau hubungan sejarah. Bagi peneliti yang tidak
mengerti, hal tersebut dapat menjadi masalah tersendiri.

4.2 Latar Belakang Sosial Budaya dan Geografi
4.2.1 Kehidupan Sosial Budaya
Bila dilihat dari jumlahnya, masyarakat asli Papua terdiri atas
263 etnis dan subetnis, sesuai jumlah bahasa daerah di Papua (tidak
termasuk wilayah Negara Papua New Guinea). Mereka memiliki
karakteristik sosial budaya yang beraneka ragam, yang berbeda antara
satu etnis/ subetnis dengan yang lainnya.

Dalam menghadapi orang luar, secara keseluruhan, masyarakat
Papua memiliki tiga sifat dasar. Sifat pertama adalah kelompok yang
terbuka terhadap masyarakat luar. Bagi mereka itu, masyarakat luar
dapat diterima dengan baik asal berkomunikasi secara baik-baik. Sifat
kedua, yakni kelompok terbuka bersyarat. Kelompok ini dapat
menerima siapa saja asalkan orang luar itu harus menjelaskan latar
belakang kehadiran mereka di situ, terbuka, dan tidak membuat hal-hal
yang mencurigakan. Karena perkembangan dan pengalaman politik
daerah masa silam, kelompok terbuka (pertama) cenderung masuk ke
kelompok kedua. Sifat ketiga yakni kelompok yang tertutup. Kelompok
ini sangat sulit menghadapi masyarakat luar. Semua orang selalu
dicurigai. Apabila anggota kelompok hendak berhubungan dengan
seseorang dari luar, ia harus berhubungan secara sembunyi, sebab kalau
diketahui orang lain, ia akan dimusuhi oleh anggota kelompoknya.

Kondisi sosial budaya sebagaimana digambarkan di atas dapat
menimbulkan masalah tersendiri bagi peneliti yang baru di daerah itu.
Karena itu, diperlukan kiat-kiat khusus dalam menanggulangi masalah
tersebut.

4.2.2 Latar Belakang Geografi
Pertama-tama perlu dikemukakan bahwa secara keseluruhan
wilayah Papua memiliki karakteristik geografis yang unik sebab
dikelompokkan dalam tiga jenis wilayah berdasakan geografi (keadaan
alam), cuaca, dan tumbuh-tumbuhan. Kelompok pertama adalah
wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau. Pesisir pantai dan pulau-pulau
dibagi dalam dua subkelompok, yaitu pantai utara yang sebagian besar
berpasir, berbatu, dan sedikit berlumpur di tempat-tempat tertentu
seperti tepi-tepi sungai. Wilayah utara menghadap langsung Lautan
Pasifik sampai ke daerah Fak-Fak. Pulau-pulau pada umumnya berpasir
dan berbatu. Subkelompok kedua yakni wilayah selatan mulai bagian
selatan Fak-Fak sampai Merauke dengan pantai yang pada umumnya
berlumpur.

Kelompok kedua yakni wilayah antara pantai dan pegunungan,
hulu sungai yang jauh dari pantai. Wilayah ini dibagi pula dalam dua
subkelompok yakni bagian utara dan selatan. Khusus di bagian utara,
wilayah ini berada di balik gunung, yakni gunung dan bukit-bukit
setelah pantai. Di bagian selatan, wilayah kelompok ini berada di hilirhilir
sungai sampai ke kaki gunung tertinggi. Bagian selatan merupakan
daerah berawa, berlumpur, dan tidak berbatu.

Kelompok ketiga adalah wilayah yang bergunung tinggi.
Daerah ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan kedua
wilayah yang telah dikemukakan di atas. Daerahnya bergunung-gunung
dengan lembah-lembah yang dijadikan tempat permukiman. Lembah
terbesar adalah Lembah Baliem yang sekarang dibangun kota Wamena,
ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Wilayah ketiga ini sangat dingin di
malam hari dan sangat panas pada siang hari. Pada puncak-puncak
tertentu terdapat salju abadi.

Secara umum, cuaca di wilayah Papua sama dengan daerah lain
di Indonesia, yakni terdapat musim hujan antara bulan November dan
Maret. Musim panas pada bulan April sampai dengan Oktober. Namun,
terdapat sedikit perbedaan, terutama antara wilayah utara dan selatan
Papua. Wilayah utara cenderung mengikuti iklim benua, yakni
walaupun musim hujan, curah hujan tidak terlalu lama dan terusmenerus.
Demikian halnya untuk musim panas, tidak terlalu lama
panas. Hujan dan panas silih berganti setiap minggu dan setiap bulan
sepanjang tahun. Keadaan tersebut berbeda dengan wilayah selatan
Papua yang dipengaruhi oleh iklim Australia. Musim hujan yang sangat
lama terjadi antara bulan November dan Maret. Musim panas antara
April dan Oktober, yang puncaknya pada bulan September – Oktober.
Pada dua bulan terakhir ini, cuaca sangat panas.

Keadaan cuaca sebagaimana dikemukakan di atas dipengaruhi
oleh lingkungan geografi yang selanjutnya berpengaruh terhadap
tumbuh-tumbuhan. Wilayah utara yang bergunung-gunung dengan
pantai yang berbatu dan berpasir serta daerah berpasir termasuk pula
pulau-pulau pada umumnya ditumbuhi pohon kelapa dan bila ada
sungai, tumbuh pula pohon sagu. Kayu, kelapa, dan sagu terdapat pada
wilayah jenis pertama –pantai– dan kedua. Daerah kelompok ketiga,
yakni daerah pegunungan tinggi tidak ditumbuhi kelapa dan sagu.
Wilayah selatan merupakan dataran rendah dengan tumbuhan
kelapa, sagu, dan padang rumput yang luas, terutama wilayah
Kabupaten Merauke. Kabupaten Mapi, Boven Digul, dan Asmat
memiliki daerah yang sama datar dengan Kabupetan Merauke, tetapi
karena berlumpur, tidak terdapat padang rumput melainkan pohon
bakau di wilayah pesisir pantai dan sungai-sungai. Wilayah daratan di
seluruh daerah selatan, –termasuk kabupaten Merauke– terdapat
pepohonan yang besar. Daerah pedalaman ditumbuhi kelapa dan hanya
sagu yang tumbuh secara alamiah di tepi-tepi sungai serta pepohonan
yang besar.

Keadaan geografi sebagaimana digambarkan di atas dapat
berdampak pada sejumlah masalah, antara lain penamaan bahasa dan
etnis yang sama terhadap bahasa dan etnis yang berbeda atau
sebaliknya, penamaan bahasa dan etnis yang tidak berterima oleh etnis
itu, saling pengertian satu arah, dan secara umum kesulitan bagi orang
luar yang belum memahami sifat-sifat sosial budaya dan geografi
wilayah itu.

5. Penutup
Sebagai penutup makalah ini, akan dikemukakan simpulan dan
saran terpenting dari hasil penelitian ini. Hal pertama yang patut
disampaikan adalah jumlah varietas, yakni di Lembah Grime yang
terdiri atas enam distrik, memiliki delapan varietas bahasa. Dari
kedelapan varietas tersebut, empat berstatus bahasa, dua dialek, satu
subdialek, dan lainnya beda wicara. Keempat varietas yang berstatus
bahasa tersebut, dua merupakan bahasa tersendiri dan dua lagi
digabungkan menjadi satu bahasa.

Berdasarkan penjelasan status bahasa tersebut, ternyata bukan
empat bahasa melainkan hanya tiga bahasa yang ada di Lembah Grime
Jayapura. Hubungan antara dua varietas itu, yakni varietas Kemtuk dan
Gresi, hanya berbeda pada tingkat dialek. Dengan demikian, pernyataan
selama ini bahwa di Lembah Grime terdapat empat bahasa
sesungguhnya tidak sesuai dengan perhitungan jarak kosa kata.

Saran terpenting bagi peneliti adalah agar harus dipelajari
perihal kebahasaan dan latar belakang sosial budaya sebelum turun ke
daerah itu. Perihal kebahasaan berhubungan dengan teori kebahasaan
yang sedang berkembang. Kondisi fisik dan mental harus benar-benar
siap sebelum peneliti ke lapangan.

KEPUSTAKAAN
Althur, Simin dkk. 1992. “Fonologi Bahasa Kwansu.” Laporan
Penelitian. Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan
Daerah Pusat Bahasa
Anceaux, J.C. 1965. Nimboran Linguage: Phonology and Morphology.
Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-
en Volkenkunde 44
Ayatrohaedi. 1985. Bahasa Sunda di Daerah Cirebon. Jakarta: Balai
Pustaka
Bailey, Charles-James N. 1973. Variation and Linguistic Theory.
Arlington: The Center for Applied Linguistics
Barr, Donald F. and Sharon G. Barr. 1978. “Index of Irian Jaya
Languages.” Prepublication draff. Jayapura: Uncen-SIL
Chambers, J. K. dan Peter Trudgill. 1980. Dialectology. Great Britain:
Cambridge Universitiy Press
Danie, Julianus Akun. 1991. Kajian Geografi Dialek di Minahasa
Timur Laut. Jakarta: Balai Pustaka
Esser, S.J. 1938. “Languages” di dalam Atlas van Tropisch Nederland,
Sheed 9b. Amsterdam: Nederlandsch Aardrijkskundig
Genootschap
Fautngil, Christ. 1994. “Bahasa-Bahasa di Jayapura: Satu Kajian
Dialektologi.” Tesis Magister. Jakarta: Universitas Indonesia
Fautngil, Christ. 1999. “Kajian Dialektologi Bahasa Sentani.” Laporan
Penelitian. Pusat Bahasa Jakarta
Fautngil, Christ. 2008. “Varietas-varietas Bahasa di Lembah Grime
Jayapura: Kajian Dialektologi Regional.” Disertasi. Denpasar:
Universitas Udayana
Kana, Merit. 1975. “Languages of Kabupaten Jayapura.” Jayapura:
Uncen-SIL
Masinambouw, E.K.M. dan Paul Haenen. 2002. Bahasa Indonesia dan
Bahasa Daerah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
May, Kevin and Wendy May. 1981. “Nimboran phonology revisited”
IRIAN ol. 9, No1.9-38
Petyt, K.M. 1980. The Study of Dialect: An Introduction to
Dialectology. London: Andre Deutsch
Schneider,G. 1928. Proben der Nimboran-Sprache (Niederlandisch-
Neuguinea) ZES 18.128-40
SIL Internatonal Indonesia Branch. 2001. Languages of Indonesia.
Jakarta: SIL
Silzer, Pieter J. & Helja Heikkinen Clouse. 1991. Index of Irian Jaya
Languages. Second Edition. A Special Publication of IRIAN
BULETIN OF IRIAN JAYA. Jayapura: Program Kerjasama
Universitas Cenerawasih dan Summer Institute of Linguistics
Trudgill, Peter. 1983. On Dialek: Social and Geographical
Perspectives. New York: Basil Blackwell – Oxford
Wafom, Yunus dkk. 2004. “Pemetaan Bahasa di Lembah Grimenawa
Kabupaten Jayapura.” Laporan Penelitian. Balai Bahasa
Jayapura Pusat Bahasa Jakarta
Wilden Jaap van der dan Jelly van der Wilden. 1976. “Kemtuik
Phonology”. IRIAN vol 4 No. 3.31-60
Wilden, Jaap van der. 1981. “Kemtuik Grammar.” (Ms)

Lampiran II
NAMA 30 KAMPUNG
YANG MENJADI TITIK PENGAMATAN
1. Berab 11. Sermai Bawah 21. Demoikati
2. Nimbokrang 12. Sanggai 22. Braso
3. Rhepang Muaif 13. Imestum 23. Soaib
4. Benyom 14. Besum 24. Skori
5. Kuipons 15. Ibub 25. Sama
6. Tabri 16. Klaisu 26. Mamei/Mamda Yawan
7. Singgriwai 17. Iwon 27. Nanbom/ Bonggrang
8. Oyengsi 18. Nimbugresi 28. Kwansu
9. Imeno/Imsar 19. Bring 29. Hamonggrang
10. Sermai Atas 20. Suwen 30. Warombaim
Catatan: Nomor di depan nama kampung adalah nomor titik
pengamatan sekaligus
sebagai nomor urut

Lampiran III
BIODATA
Nama : Dr. Christ Fautngil, M.A.
Pekerjaan : PNS
Pangkat, Golongan : Pembina, IV/a
Jabatan fungsional : Dosen / Lektor Kepala pada Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Cenderawasih
Alamat Kantor : Kampus FKIP Universitas Cenderawasih
Jalan Sentani Abepura – Jayapura Papua 99351
Tlp. 0967 582806
Alamat Rumah : Kampung Yoka, Distrik Heram
Kota Jayapura – Papua 99358
Tlp. 0967 571290
HP 08124800194

Christ Fautngil
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

Satu Tanggapan

  1. keep blogging

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: