Ratapan dan Harapan Pelajaran Muatan Lokal Bahasa Biak di Resort Biak-Numfor

Abstrak
Bahasa Biak (BB) adalah salah satu bahasa daerah
(BD) yang pertama kali diteliti, ditulis dan diajarkan
secara formal sebagai pelajaran muatan lokal (mulok)
oleh para misionaris pada pendidikan dasar dan
menengah di Resort Biak-Numfor Tanah Papua. Orang
Biak selalu meratapi dan merindukan pelajaran mulok
BB tersebut hingga saat ini. Oleh karena dimusnahkan
dan tidak diperbolehkan untuk diajarkan lagi oleh
pemerintah, karena konspirasi politik pada tahun 1963
yang berlanjut sampai dengan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang kemungkinan dapat memberikan
angin segar dan harapan hidup bagi BB dan BD tertentu
di Tanah Papua.
BB ditentukan oleh Zending Belanda sebagai pelajaran
mulok BD berdasarkan fakta historis, akademis,
dan dasar hukum yang kuat. Sebab itu, diharapkan
kewenangan pemerintah Indonesia (gubernur, bupati/
walikota) untuk segera membina dan mengembangkannya
dengan mengintegrasikan tujuan dan filosofi mulok dulu
dengan sekarang. Untuk itu, pemerintah daerah perlu
menyiapkan buku-buku bahan pelajaran mulok BB,
sekaligus melatih para pengajar BB/BD, serta bagaimana
cara mengajarkan mulok dimaksud sesuai dengan
panduan KTSP dan standar isi 2006, agar tercapai tujuan
pendidikan nasional yang diharapkan di Indonesia.

1. Pembuka
Patut kita mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Baik
karena melalui Kongres IX Bahasa Indonesia bertaraf internasional
dalam rangka memperingati 100 Tahun Emas Kebangkitan Nasional
dan 80 Tahun Sumpah Pemuda serta 60 Tahun Umur Pusat Bahasa
(dirgahayu), panitia kongres masih menyelipkan sebuah topik tentang
“Pemilihan Bahasa Daerah sebagai Muatan Lokal dalam Pendidikan
Formal” yang melahirkan formulasi judul makalah ini. Sebab itu,
melalui kongres akbar ini perlu diberikan apresiasi dan acungan jempol
yang tinggi bagi Kepala Pusat Bahasa dan seluruh stafnya, karena tidak
hanya menggencarkan bahasa nasional NKRI agar digunakan dengan
baik dan benar oleh rakyat Indonesia di seluruh pelosok Nusantara
(Sabang-Merauke). Akan tetapi, Pusat Bahasa juga terus-menerus
mendorong perlunya pembinaan dan pengembangan BD sebagai
fondasi bagi bahasa Indonesia (BI) yang ikut membentuk insan
Indonesia yang cerdas kompetitif dan sebagai bahasa pengantar, mulai
dari jenjang pendidikan dasar dan menengah agar tidak terjadi
kepunahan berbagai BD, gudang keanekaragaman etnosains dan
budaya bangsa Indonesia.

Atas usaha Pusat Bahasa dan ratapan masyarakat adat di
kampung-kampung yang begitu keras terhadap pemerintah dan para elit
Indonesia, baru menyadari dosanya dan saat ini kembali berpikir untuk
menegakkan panji dan jiwa kebinekatunggalikaan Pancasila melalui
pelajaran mulok KTSP berstandar isi 2006. Rupanya ratapan dan isaktangis
itu pun mengagetkan Depdiknas dari tidurnya dan baru
menyadari bahwa politik dominasi budaya selama ini telah mematikan
keanekaragaman budaya Indonesia yang lain, melalui berbagai media,
buku pelajaran, maupun bentuk konspirasi lainnya. Perlu disadari
bahwa dominasi budaya tersebut kurang memberikan akses bagi
berbagai BD di Indonesia, termasuk keanekaragaman BD di Tanah
Papua untuk dibina dan dikembangkan sebagai bahan pelajaran mulok
bagi para peserta didik di lingkungannya. Sebab itu, tak salah jualah
orang Papua mengumpetkan “Sia-sialah upaya bangsa Indonesia dalam
pembinaan dan pengembangan keanekaragaman BD di Tanah Papua,
sejak orang Papua berada dalam pangkuan NKRI tahun 1963 hingga
saat ini, jika dibandingkan dengan zaman zending dulu.”

Sesungguhnya pelajaran mulok dalam KTSP yang saat ini
digiatkan dan diajarkan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di
Indonesia, bukanlah suatu hal yang baru di Tanah Papua (New Guinea
dulu) sebagaimana pelajaran bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan bahasa
Bali yang diajarkan pada pendidikan dasar dan menengah sejak dulu
hingga saat ini. Khusus untuk Tanah Papua, bahan pelajaran mulok
yang mirip dengan KTSP saat ini, pernah dibuat oleh Domine F. J. F.
van Hasselt, I.S. Kijne, serta para misionaris lainnya yang bergabung
dalam Yayasan Pekabaran Injil Zending Belanda. Mereka meneliti dan
menulis buku pelajaran mulok, serta melatih para guru pribumi, serta
guru bantuan dari Ambon dan Sanger untuk mengajarkan mulok
berbasis budaya dan lingkungan alam Papua sejak tahun 1940-an
sampai dengan tahun 1962.

Akan tetapi, sejak Tanah Papua dianeksasi ke pangkuan NKRI
semua buku pelajaran bahasa dan sastera daerah (pelajaran muatan
lokal) tersebut dibeslak dan dibakar secara masal oleh para petugas
pemerintah Indonesia pada tahun 1963 dan selanjutnya tidak diperbolehkan
untuk dipakai atau disimpan oleh siapa pun. Oleh karena
buku-buku pelajaran mulok bahasa Melayu (BM), bahasa Biak (BB),
dan bahasa Belanda (BBl) tersebut dipolitisir atau dianggap berbauh
politik (Rumbrawer, 2000, 2001, 2007; Alwi, dkk. (Ed), 2000).

Tindakan seperti ini bertentangan dengan Pancasila dan penjelasan
pasal 36 dalam UUD 1945 yang mennyatakan bahwa “Di daerah-daerah
yang mempunyai bahasa sendiri, yang dipelihara oleh rakyatnya dengan
baik-baik (misalnya: bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan sebagainya),
bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara.
Bahasa-bahasa itu pun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia
yang hidup.

Orang Papua menganggap tindakan tak manusiawai ini sebagai
salah satu kesalahan besar yang pernah dilakukan para petugas
pemerintah saat itu. Hal ini bertentangan dengan Pancasila dan
penjelasan Pasal 36 UUD 1945. Sebab, jika kita pelajari aneka buku
pelajaran mulok tersebut, tak ada satu pun mengandung politik, tetapi
buku-buku yang disusun secara tematis oleh para misionaris tersebut,
disesuaikan dengan lingkungan para murid agar mereka belajar tentang
lingkungan budaya, lingkungan alam, dan kearifan lokal seperti,
etnolinguistik, etnomatematik, etnobiologi (etnobotani, etnozoologi,
etnohuman, etnoekologi, etnokonservasi), dan etnosains lainnya, sesuai
dengan tema-tema pokok yang ditentukan dalam kurikulum dan silabus
pendidikan dasar dan menengah saat itu. Sehingga para murid
mempunyai pengetahuan dasar untuk menghormati Tuhan, mengasihi
sesama, dan menjaga seluruh alam ciptaan-Nya, sekaligus melestarikan
bahasa dan budayanya secara berkelanjutan.

Sesuai dengan arahan tema, topik, dan judul yang diformulasi
dari topik dan kerangka yang sengaja diberikan Panitia Kongres IX
Bahasa Indonesia bertaraf internasional ini, maka makalah ini diberikan
judul “Ratapan dan Harapan Pelajaran Muatan Lokal (Mulok) Bahasa
Biak di Resort Biak-Numfor. Dengan demikian pendahuluan makalah
ini mengemukakan latar dan masalah mengapa BB perlu diangkat
menjadi pelajaran mulok; selanjutnya membicarakan dasar (historis,
akademik, dan dasar hukum) pemilihan mulok BB; tujuan dan filosofi
pemilihannya; bahan mulok; para pengajar (guru); serta bagaimana
mengajar BB; dan diakhiri dengan simpulan dan saran.

2. Dasar Pemilihan Mulok Bahasa Biak
Alasan dasar yang menentukan BB dipilih menjadi pelajaran
mulok, pada pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan
menengah di Resort Biak-Numfor pada zaman zending, berdasarkan
tiga alasan penting, yaitu: dasar historis, akademis, dan dasar hukum
sebagai berikut.

2.1 Dasar Historis
Berdasarkan ulasan historis yang termuat dalam catatan etnografi
para zendeling Jerman-Belanda, dan para petugas kolonial tempo dulu
bahwa etnik Biak (orang Biak) adalah satu-satunya etnik di New
Guinea (Tanah Papua) yang telah lama berkomunikasi dengan bahasa
Melayu, masyarakatnya monolingual, dan relatif maju, jika dibandingkan
dengan saudara-saudara etnik Papua lainnya. Orang Biak maju
dalam etnomatematik, etnobiologi, etnofalak (astronomi) dan maju pula
dalam dunia kemaritiman dan perdagangan tempo dulu. Orang Biak
gemar berkelana dan selain menggunakan BB, BM diandalkan pula
sebagai alat komunikasi. Hal ini memudahkan orang Biak dapat
mencapai dan menduduki sejumlah daerah yang amat jauh, didukung
armada-armada bercadik yang lengkap dengan pasukan ampibinya.
Bahasa Melayu telah lama digunakan dalam pelayaran perang,
perdagangan, dan pembayaran upeti kepada Kerajaan Majapahit
melalui Kesultanan Tidore. Sehingga, bahasa Biak pun tersebar luas
dan melinguafranca mengikuti lokasi pemukiman yang ditempati orang
Biak, baik di beberapa tempat di kawasan Nusantara maupun melintas
batas ke luar negeri. Sebagai bukti tentang daerah/wilayah yang
didiami orang Biak , antara lain:
(a) Luar Negeri, orang-orang Biak yang berada di pulau Palau —
sebuah negara kecil di Pasifik; beberapa perkampungan di
Samarai Papua New Guinea (PNG); referensi lain mengisahkan
bahwa orang Biak pernah sampai di Madagaskar. Hal ini
diperkuat juga oleh riset arheologi di Solo Jawa Tengah yang
membuat pernyataan ilmiah bahwa fosil manusia purba yang
dijumpai di pulau Jawa yang dikenal dengan nama soloensis itu
adalah fosil orang hitam (orang Papua/mungkin orang Biak) yang
pertama kali pernah mendiami Tanah Jawa pada zaman purba
dulu sebelum orang-orang Asia memasuki kawasan Nusantara.
(b) Dalam wilayah NKRI: komunitas orang Biak dapat dijumpai di
sejumlah perkampungan besar, antara lain mulai dari: Provinsi
Maluku Utara (Tobelo); Provinsi Papua Barat (Kabupaten Raja
Ampat, Kabupaten Sorong, Kabupaten Manokwari, dan
Kabupaten Teluk Wondama); Selanjutnya di Provinsi Papua
(Kabupaten Biak-Numfor; Kabupaten Supiori; pesisir utara pulau
Yapen Kabupaten Yapen Waropen; Kabupaten Nabire; Kepulauan
Kumamba Kabupaten Sarmi; Kabupaten Mamberamo
Raya; dan Abepantai Kotamadya Jayapura (Mampioper, 1976;
1986).

2.2 Dasar Akademik
Berdasarkan pengelompokan bahasa-bahasa daerah di Indonesia,
khususnya keanekaragaman bahasa daerah di Tanah Papua telah
diklasifikasikan atas dua bagian besar, yaitu rumpun bahasa Papua
(non-Austronesia) dan rumpun Austronesia.
BB termasuk rumpun bahasa Austronesia, dan struktur
bahasanya secara akademik mudah dipelajari, baik fonologi, morfologi,
sintaksis, dan wacananya pun mudah dipelajari. Sehingga Domine F. J.
F. van Hasselt dan I.S. Kijne menjadikannya sebagai pelajaran mulok
bahasa daerah (BD) yang resmi diajarkan di sekolah formal yang
didirikan oleh Zending Belanda di Resort Biak-Numfor. Pemilihan ini
juga didasarkan atas kemonolingualan masyarakat Biak. Sedangkan
sekolah-sekolah formal yang lain di Tanah Papua, muloknya
diintegralkan dalam pelajaran bahasa Melayu dan bahasa Belanda,
karena masyarakatnya multilingual.

Sebab itu, pelajaran mulok di Tanah Papua dibagi oleh para
misionaris atas tiga bagian, yaitu pelajaran: (1) mulok bahasa daerah
Biak diajarkan di Resort Biak-Numfor; (2) ada mulok yang
diintegralkan dalam bahasa Melayu; dan hal ini juga berlaku dalam
Bahasa Belanda, sesuai dengan perkembangan umur anak dan tingkat
satuan pendidikan berbasis budaya orang Papua dan lingkungan para
murid saat itu.

Barangkali dasar seperti inilah yang menguatkan bahasa dan
sastera Biak ditetapkan para misionaris Zending Belanda sebagai
pelajaran mulok, yang dapat diajarkan secara resmi pada sekolah
formal, yakni pendidikan dasar dan menengah di Resort Biak-Numfor
(Kabupaten Biak-Numfor dan Kabupaten baru Supiori sekarang ini)
berdampingan dengan pelajaran bahasa Melayu, bahasa Belanda, dan
mata pelajaran lainnya.

2.3 Dasar Hukum
• Undang-Undang Dasar RI 1945 pada penjelasan pasal 36,
menandaskan bahwa ”Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa
sendiri, yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnya
bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan sebagainya) bahasa-bahasa itu
akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara. Bahasa-bahasa itu
pun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup;
• Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989, Pasal 42, Ayat (1)
mengemukakan juga bahwa bahasa daerah dapat digunakan
sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan dan sejauh
diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan atau keterampilan
tertentu;
• Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah;
• Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, mengatur pembagian
kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah,
mengemukakan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa dan
sastera daerah termasuk ke dalam kewenangan Pemerintah Daerah
(Provinsi, Kabupaten/Kota (Alwi, 2000 : 1– 2);
• Sambutan Menteri Pendidikan Nasional pada pembukaan
Konferensi Bahasa Daerah Nasional II, 6–8 November 2000
mengemukakan bahwa “Kehidupan bahasa dan sastera daerah
yang dijamin UUD 1945 selama dipelihara pemakainya di dalam
kerangka Otonomi Daerah akan memperoleh peluang yang lebih
terbuka untuk dikelolah dengan lebih baik, asal Pemerintah Daerah
(Pemda) yang bersangkutan memiliki perhatian yang besar. Untuk
itu Mendiknas mengharapkan agar setiap Asisten III bidang Kesra
yang mewakili Pemda pada Kongres Bahasa Daerah II harus
memberikan perhatian dan sumbangan yang besar dan terencana
bagi masyarakat pencinta dan pendukung bahasa dan sastera
daerah dengan memasukkan program pembinaan dan pengembangan
bahasa dan sastera daerah dalam program Pemda dengan
sungguh-sungguh” (Muhaimin, 2000:1). Hasil Kongres Bahasa
Daerah Naional II di Jakarta, 6 – 8 November 2000 itu
merumuskan dan merekomendasikan tentang pemasyarakatan dan
pembinaan bahasa dan sastera daerah di Indonesia sesuai
kebutuhan daerah otonomi masing-masing;
• Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus bagi Provinsi Papua, Pasal 58, Ayat (1) menyatakan bahwa
Pemerintah Provinsi berkewajiban membina, mengembangkan,
dan melestarikan keragaman bahasa dan sastera daerah untuk
mempertahankan jati diri orang Papua; dan pada pasal (3)
menyatakan pula bahwa bahasa daerah dapat digunakan sebagai
bahasa pengantar di jenjang pendidikan dasar sesuai dengan
kebutuhan;
• Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Pasal 37 Ayat (1) dan Pasal 38 Ayat (2);
• Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan yang mencakup (1) kerangka dasar dan
struktur kurikulum yang menjadi pedoman penyusunan KTSP; (2)
beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan
menengah; (3) KTSP yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan
berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian
tidak terpisahkan dari standar isi; dan (4) kalender pendidikan yang
dikeluarkan dinas pendidikan setempat (Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Depdikans, 2008 : 3 – 4).

Mengacu pada sejumlah dasar hukum yang dikemukakan di atas
maka masalah pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastera
daerah Biak (sastera lisan) menjadi kewenangan dan tanggung jawab
Pemerintah Daerah Kabupaten Biak-Numfor maupun Pemerintah
Daerah Provinsi Papua. Namun demikian selama ini Pemda Biak-
Numfor maupun Pemda Supiori belum serius melaksanakan tugas
pembinaan dan pengembangan BB hingga saat ini.

3. Tujuan dan Filosofi Mulok Bahasa Biak
Tujuan utama Zending Belanda membuat penelitian dan
penulisan bahan pelajaran mulok bahasa daerah (BB, BM, BBl),
membaca, menulis dan berhitung permulaan (matematika dasar),
pertanian, pertukangan, kesehatan, serta ilmu pengetahuan lainnya
untuk pembentukan ahlak dan pengetahuan kognitif, afektif dan
psikomotor anak-anak Papua agar segera menerima peradaban baru.

Oleh karena itu, tujuan Zending melaksanakan pelajaran mulok di
Tanah Papua tempo dulu adalah agar: mempercepat terserapnya visimisi
penginjilan (pembangunan semesta) untuk mengubah tabiat dan
tingkah laku manusia Papua yang saat itu masih berada dalam zaman
kegelapan. Hidup dalam permusuhan, peperangan, pengayauan, dan
bentuk-bentuk kekafiran lainnya, supaya memasuki budaya dan
peradaban baru, yang penuh damai sejahtera, saling mengasihi dan
bekerja sama di segala bidang pembangunan.

Meskipun pekerjaan para misionaris itu mahaberat di Tanah
Papua tempo dulu, namun visi-misi penginjilan yang menjadi tujuan
maupun prioritas kerja utamanya adalah:
(1) menyelenggarakan pendidikan dasar di seluruh Tanah Papua.
Sekolah Dasar Kristen pertama berbahasa daerah (Numfor-Biak)
dan bahasa Melayu dibuka di pulau Mansinam Manokwari tahun
1856 oleh Ottow dan Geissler –dua orang pemuda berkebangsaan
Jerman yang menjadi rasul pertama bagi orang Papua– (Ottow,
1962). Setelah Mansinam Manokwari, misi pekabaran Injil beralih
ke daerah Resort Biak-Numfor dan masuk di Maudori Supiori oleh
F.J.F. van Hasselt dan guru Petrus Kafiar, 26 April 1908 maka
terjadilah pembukaan sekolah dasar berbahasa Biak secara masal
di tiap kampung di Resort Kepulauan Biak-Numfor;
(2) membuat kurikulum berbasis lingkungan budaya lokal dan
lingkungan murid setempat, menyusun silabus bahan pelajaran
mulok berbahasa Biak, bahasa Melayu, dan bahasa Belanda yang
digunakan pada pendidikan dasar dan menengah (sekolah rakyat
sejenis SD, SMP, SPGJ berasrama) di beberapa wilayah tertentu
sebagai pusat pendidikan, agar memudahkan para murid memasuki
sekolah peradaban tersebut (Kamma, 1994 : 163).
(3)
Falsafah dasar bagi para misionaris untuk bertekad dalam
pembinaan dan pengembangan BD sebagai kiat pembangunan semesta
di Tanah Papua, secara jelas dicatat atau diabadikan dalam 5 buah
pernyataan berikut, bahwa:
(a) bahasa daerah di Tanah Papua adalah kunci/pintu masuk ke dalam
aneka relung hidup adat, kebersahajaan, tingkah laku, dan baikburuknya
hati orang Papua;
(b) mengajar dengan bahasa ibu anak-anak setempat, akan membuka
dan meningkatkan pengetahuan anak yang telah tersedia secara
lokal untuk menampung dan menerima ilmu pengetahuan asing
(modern) dengan harmoni, serasi dan selaras dengan budaya para
murid, sehingga tidak terjadi penolakan (diskualifikasi);
(c) mengajar dengan bahasa daerah para murid, akan mengawetkan dan
meningkatkan rasa kebanggaan dan harga diri anak untuk
menghadapi budaya asing atau modern;
(d) mengajar dan belajar dengan BB akan mengabadikan berbagai
macam kearifan lokal (etnosains) penentu hidup para murid masa
depan, berarti ikut melestarikan budaya bangsa sampai ke anak cucu
turun-temurun;
(e) bahasa ibu (bahasa daerah) adalah grace (anugerah Tuhan). Sebab
itu, jikalau: berhotbah, mengajar, berpidato, ataupun menyampaikan
pesan Injil dan pesan pemerintah (pembangunan) dengan bahasa
masyarakat setempat, akan membuka dan memuluskan jalan Injil
dalam berbagai aspek pembangunan dengan mudah sehingga segera
tercapai cita-cita nasional sebuah bangsa (van Hasselt, 1919). Atas
dasar pikiran mulia dan sejumlah tujuan praktis tersebut di atas, BB
sebagai BD pertama yang diperjuangkan dan digunakan oleh para
misionaris, antara lain: F.J.F. van Hasselt, Petrus Kafiar, Willem
Rumainum, dan selanjutnya diteruskan oleh Domine I.S. Kijne
sebagai sebuah proyek perintis pertama penggunaan BD (bahasa
ibu) sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar dan mengajar
(PBM) dan pelajaran mulok bagi anak-anak sekolah dan jemaatjemaat
pertama di Resort Kepulauan Biak-Numfor Tanah Papua
tempo dulu.

Alhasilnya, dalam waktu yang relatif singkat, orang Biak maju
pesat dalam pendidikan dan bidang lainnya. Sebagian besar orang Biak
menjadi pegawai dan menduduki berbagai jabatan, baik jabatan
tertinggi di gereja maupun pemerintah. “Salah satu bukti historis
keberhasilan para misionaris dalam menggunakan BB sebagai pelajaran
mulok dan bahasa pengantar di sekolah pada pertengahan abad ke-20 –
awal abad ke-21 dapat kita saksikan banyak anak Tuhan dari wilayah
ini telah berhasil menamatkan pendidikan di berbagai jenjang (Sekolah
Dasar – Perguruan Tinggi) dan menduduki berbagai jabatan penting
seperti: pendeta, guru, dosen, dokter, kepala distrik, rektor, jenderal,
gubernur-wakil gubernur, anggota legislatif, walikota, bupati-wakil
bupati, duta besar, dll.” (Mansoben, dkk, 2008 : 174).

4. Bahan Mulok Bahasa Biak
Sebagaimana telah disinggung di depan bahwa bahan-bahan
yang dijadikan materi pelajaran mulok dalam BB, BM maupun BBl di
Tanah Papua tempo dulu ditulis oleh para misionaris setelah mereka
melaksanakan proyek penelitian, penulisan dan penerbitan buku
pelajaran mulok. Hal ini dilakukan dengan maksud agar materi atau
bahan pelajaran mulok tersebut memudahkan PBM bagi para murid
maupun para pengajar (guru) pada saat itu. Para misionaris menyadari
hal ini sebuah kiat untuk mempertahankan jati diri orang Papua di tanah
yang amat kaya BD. Para misionaris tersebut, terutama F.J.S. van
Haselt dan I.S. Kijne mempelajari beberapa etnik yang mendiami
Papua bagian utara, dengan maksud agar kebudayaan dan lingkungan
hidup masyarakat itu dijadikan bahan pelajaran mulok bagi para murid
dengan tujuan mempertahankan jati diri, dan terus melestarikan
kearifan lokal yang tersimpan dalam keanekaragaman bahasa dan
budaya orang Papua. Untuk itu, kebudayaan inti (culture core) orang
Papua disarikan menjadi bahan pelajaran mulok bagi para murid
(peserta didik) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di seluruh
Tanah Papua dengan pendekatan tematik. Jika mencermati aneka bahan
pelajaran mulok dimaksud, maka kita temui tema-tema sebagai berikut:
(1) tema lingkungan dalam pelajaran mulok BB, BM, maupun BBl
adalah: lingkungan keluarga, dan lingkungan rumah; (2) lingkungan
alam: menjaga tanah, air, tumbuhan, binatang, dan bekerja di ladang
(menanam & panen) secara bertahap dan berkesinambungan; (3) hobi
atau kesenangan kerja (berladang, memelihara ternak), dan
keterampilan lainnya; (4) Sifat tolong-menolong; (5) kesehatan
(memelihara kesehatan dan gizi); serta (6) tema kerja atau keterampilan
hidup lainnya.

Beberapa dokumen atau bahan referensi pelajaran mulok BB
yang pernah ditulis oleh para misionaris terutama: Ottow (1862), van
Hasselt J.L. (1868, 1876); Kern (1885), van Hasselt F.J.F. (1902, 1905,
1936, 1947). Tulisan-tulisan tersebut, memuat catatan-catatan tentang
BB, baik kosa kata maupun struktur. Bahan-bahan pelajaran khusus
yang terkait dengan muatan lokal BB, antara lain disusun oleh F.J.F.
van Hasselt (1908) tentang Buku Bacaan Cerita Rakyat (Tall, Land,
end Volkenkunde); I.S. Kijne (1950) tentang Surat Wasya (Buku
Bacaan Bahasa Biak jilid I, II dan III), Kafkofen ma Kakaik (Pantun
Balas-balasan dan Peribahasa); Kokor ma Kowasya (Membaca dan
Berhitung). Buku pelajaran mulok BB tersebut diselesaikan di SD kelas
I – III berbarengan dengan BM dan dilanjutkan dengan BBl/BE di kelas
IV – kelas VI dst.

Judul-judul buku pelajaran yang masih berkesan hingga saat ini,
antara lain: Itu Dia jilid I–III, Kota Emas, Cenderawasih (Paradise
Vogel), yang dikarang oleh Domine I.S. Kijne; Madjulah (Het Begin)
oleh N.E. Bocve, dkk. Selain buku pelajaran tersebut di atas terdapat
pula buku nyanyain muda-mudi, karya Domine I.S. Kijne yang sangat
terkenal ialah Seruling Mas dan buku nyanyian khusus untuk anak-anak
Sekolah Minggu/SD yaitu Suara Gembira yang seluruh isinya
mengagungkan Tuhan pencipta keindahan alam, kekayaan alam, dan
keanekaragaman suku bangsa dan bahasa, serta para Mambri (pahlawan
legendaris) di Tanah Papua tempo dulu.

Sejumlah dokumentasi dan publikasi penting yang perlu juga
disinggung, antara lain: Kamus Bahasa Biak oleh Soeparno 1976;
Namber in Biak oleh Hein Stein Hawer (1985); Fonologi Bahasa Biak
1989, Morfologi Bahasa Biak 1991, Sintaksis Bahasa Biak 1994 dan
Tata Bahasa Biak 2003; oleh Christ Fautngil & Frans Rumbrawer;
serta Kamus Bahasa Biak A – K 1996; Kamus Bahasa Biak L – Z 1997
oleh Frans Rumbrawer & Christ Fautngil. Selain hasil-hasil riset
tersebut, ada pula sejumlah penelitian dan tulisan yang sifatnya
terpisah-pisah untuk berbagai keperluan antara lain: skripsi dan
makalah yang ditulis para mahasiswa dan dosen Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Seni (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Negeri Cenderawasih.
Ada juga bahan-bahan berbahasa Biak yang dipakai untuk
keperluan khusus seperti buku nyanyian rohani, liturgi, Alkitab, buku
nyanyian untuk keperluan praktis lainnya, dapat disebutkan di sini
antara lain: GKI 1969, Mazmur ma Dow; Kapissa 1975, Songger ve
Rok; LAI 1900, Alkitab Perjanjian Baru Berbahasa Biak; Muharam
Syah 1975, Wawos ro Rasras; Depdikbud Propinsi Irian Jaya 1963,
Ungkapan Tradisional Bahasa Biak dan Bahasa Tehit Daerah Irian
Jaya; RRI Biak 1980-an, Kabar ro Wos Biak; Sam Kapissa 1994,
Eksistensi Wor Biak dan Upaya Pelestariannya; dan sejumlah tulisan
lain tentang kebudayaan Biak yang relevan bagi pelajaran mulok BB,
yang tidak disebutkan semuanya di sini.

5. Pengajar Bahasa Biak
Jika mencontohi strategi yang dilakukan para misionaris dalam
penyiapan tenaga pengajar bagi pelajaran mulok bahasa dan sastera
Biak pada zaman lampau, maka perlu merencanakan kegiatan praktis
dan tepat guna terutama guru kelas dan guru bantu yang direkrut
khusus dari masyarakat (para pemuda gereja atau jemaat) setelah para
misionaris menyiapkan kurikulum, silabus, dan bahan pelajaran dalam
buku pelajaran khusus BB dan buku mulok BM dan BBl.

Rekruitmen yang paling cepat dan tepat dalam mengajar
pelajaran mulok BB dan BM adalah tenaga muda orang asli Biak yang
terseleksi dengan baik tentang moral, ketersediaan hati-nurani, iman,
cukup ilmu dan dapat memahami pelayanan masyarakat di bidang
pendidikan tanpa biaya yang mahal. Dengan modal dasar seperti contoh
yang disebutkan di atas dan jika dikaitkan dengan program pendidikan
guru SD (PGSD dan lainnya) yang kini digalakkan secara besarbesaran
oleh pemerintah di Indonesia, terkait dengan pencanangan
muatan lokal dalam KTSP-Standar Isi 2006 saat ini, maka tidaklah sulit
untuk memperoleh guru mulok bahasa Biak pada pendidikan dasar dan
menengah di Kabupaten Biak-Numfor, tetapi juga kabupaten lainnya di
Tanah Papua. Asal pemerintah daerah mempunyai komitmen kerja
yang jelas dan sungguh dalam perencanaan, pelaksanaan, pengevaluasian
dan pengalokasian biaya yang jelas dan memadai dalam APBD.

6. Bagaimana Mengajar Bahasa Biak
Kalau kita ingin belajar tentang bagaimana proses dan cara
praktis para misionaris menyiapkan (meneliti/menulis) dan mengajarkan
pelajaran mulok BB tempo lalu, sebagaimana disebutkan di muka
maka tidaklah sulit dalam hal mengajarkan BB dan BD lainnya di
Tanah Papua saat ini. Hal yang pertama harus disiapkan adalah:
membuat silabus yang sesuai dengan KTSP sebagai pedoman nasional
dalam penyusunan maupun mengajarkan bahan pelajaran mulok
BD/BB di setiap satuan pendidikan sesuai dengan lingkungan para
peserta didik, kekhususan daerah, kebutuhan masyarakat, serta keunikan
budaya yang berprospek ekonomi bagi peserta didik di
kemudian hari atau untuk kemaslahatan seluruh umat manusia.

Oleh karena itu, bagaimana guru mengajarkan pelajaran mulok
bahasa Biak tidak jauh berbeda dengan cara, metode, maupun teknik
mengajarkan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris maupun mata
pelajaran terkait lainnya. Sebetulnya metode atau teknik mengajarkan
bahasa nasional maupun bahasa asing dapat digunakan untuk
mengajarkan mulok bahasa Biak. Hanya saja semuanya ini berpulang
pada nurani yang baik, dan kesungguhan kerja dari Pemerintah RI,
(Depdiknas, Pusat Bahasa); Gubernur (Dinas Pendidikan Provinsi),
Bupati (Dinas Pendidikan Kabupaten); Komite Sekolah dan komponen
terkait serta para guru yang harus bekerja keras dalam menyiapkan
silabus bahan pelajaran dan mengajarkan pelajaran mulok BB dengan
kreativitas yang tinggi sebagaimana guru sejati yang diharapkan Tuhan,
masyarakat, bangsa, dalam wadah NKRI.

7. Penutup
7.1 Simpulan
Bahasa Biak (BB) adalah salah satu bahasa daerah (BD) yang
pertama kali diteliti, ditulis dan diajarkan secara formal sebagai
pelajaran muatan lokal (mulok) oleh para misionaris pada pendidikan
dasar dan menengah di Resort Biak-Numfor Tanah Papua. Orang Biak
selalu meratapi dan merindukan pelajaran mulok BB tersebut hingga
saat ini. Oleh karena dimusnahkan dan tidak diperbolehkan untuk
diajarkan lagi oleh pemerintah, karena konspirasi politik pada tahun
1963 yang berlanjut sampai dengan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang kemungkinan dapat memberikan angin segar
dan harapan hidup bagi BB dan BD tertentu di Tanah Papua.

BB ditentukan oleh Zending Belanda sebagai pelajaran mulok
BD berdasarkan fakta historis, akademis, dan dasar hukum yang kuat.
Sebab itu, diharapkan kewenangan pemerintah Indonesia (gubernur,
bupati/walikota) untuk segera membina dan mengembangkannya
dengan mengintegrasikan tujuan dan filosofi mulok dulu dengan
sekarang. Untuk itu, pemerintah daerah perlu menyiapkan buku-buku
bahan pelajaran mulok BB, sekaligus melatih para pengajar BB/BD,
serta bagaimana cara mengajarkan mulok dimaksud sesuai dengan
panduan KTSP dan standar isi 2006, agar tercapai tujuan pendidikan
nasional yang diharapkan di Indonesia.

7.2 Rekomendasi
Saran yang perlu diperhatikan pemerintah (Departeman Pendidikan
Nasional, termasuk Pusat Bahasa) terkait dengan pemberdayaan
pelajaran mulok BD demi kelestarian keanekaragaman BD dan
budaya bangsa Indonesia, maka perlu melaksanakan rekomendasi
berikut:
(1) Pemerintah/DPR RI mengamandemen UUD RI Tahun 1945 Pasal
36, menjadi dua ayat, yakni: Ayat (1) Bahasa Negara ialah bahasa
Indonesia; Ayat (2) Keanekaragaman bahasa daerah dibina dan
dikembangkan sebagai aset pemasok kosakata bahasa nasional
Indonesia.
(2) Pemerintah daerah (pemda) segera menyusun peraturan daerah
tentang pembinaan dan pengembangan bahasa daerah masingmasing
sesuai kebutuhan daerah demi kelestarian bahasa, budaya
dan kearifan lokal.
(3) Pemda meng-APBD-kan penelitian, penulisan, dan penerbitan
buku bahan pelajaran mulok BD bagi kebutuhan pendidikan dasar
dan menengah di kabupaten/kota sesuai dengan kebutuhan masingmasing
daerah;
(4) Pemda (Dinas Pendidikan dan dinas terkait) bekerja sama dengan
Komite Sekolah, guru-guru, para ahli di perguruan tinggi, maupun
lembaga pemerintah dan swasta untuk menyusun bahan pelajaran
mulok BD sesuai KTSP dan standar isi;
(5) Khususnya Pemda Provinsi Papua dan atau Pemda Biak-Numfor
diharapkan menghidupkan kembali bahan pelajaran mulok bahasa
Biak sesuai dengan kerangka dasar dan struktur kurikulum yang
menjadi pedoman penyusunan KTSP dan standar isi 2006;
(6) Pemda Biak-Numfor dan dinas terkait diharapkan kreativitasnya
dalam ihwal penyiapan guru (pengajar) maupun metode
pengajaran mulok BB pada pendidikan dasar dan menengah di
Kabupaten Biak-Numfor.

DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan, dkk. (Ed). 2000. Bahasa Indonesia dalam Era
Globalisasi. Jakarta: Pusat Bahasa.
Bocve, N.E., dkk. 1958. Het Begin Taalboek II. J.B. Wolters
Groningen.
Depdikbud. 1986. Ungkapan Tradisional Bahasa Biak-Numfor dan
Tehit Daerah Irian Jaya. Jayapura: Kanwil Propinsi Papua.
Depdiknas. 2006. Kumpulan Permendiknas tentang Standar Nasional
Pendidikan dan Panduan KTSP. Jakarta: Dirjen Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah.
Fautngil, Christ dan Frans Rumbrawer. 1988. Fonologi Bahasa Biak.
Laporan Penelitian. Jayapura: Proyek Penelitian Bhasa dan
Sastera Indonesia dan Derah Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, Kanwil Depdikbud Prpinsi Irian Jaya.
Fautngil, Christ dan Frans Rumbrawer. 1991. Morfologi Bahasa Biak.
Laporan Penelitian. Jayapura: Proyek Penelitian Bhasa dan
Sastera Indonesia dan Derah Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, Kanwil Depdikbud Propinsi Irian
Jaya..
Fautngil, Christ dan Frans Rumbrawer. 1994. Sintaksis Bahasa Biak.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Fautngil, Christ dan Frans Rumbrawer. 2003. Tata Bahasa Biak.
Jakarta: Yayasan Servas Mario.
Hasselt, F.J.F. van 1908. Bijdragen tot de Taal, Land, En Volkenkunde
van Nederlandsch Indie s’-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
Hasselt, J.L. van 1868. Allereerste Beginselen der Papoesch-
Mafoorsche tall. Utrecht.
Hasselt, J.L. van 1876. Beknopte Spraakkunst der Noemforsch tall.
Utrecht.
Hasselt, J.L. van. 1876/1873. Hollandsch Noemforsch en Noemforsch-
Hollandsch Woordenboek. Utrecht.
Hasselt, J.L. van and F.J.F. van Hasselt. 1947. Noemforsch
Woordenboek. Amsterdam: de Bussy.
Kamma, F.C. 1994. Ajaib di Mata Kita. Jilid III. Masalah Komunikasi
antar Timur Barat Dilihat dari Sudut Pengalaman Selama
Seabad Pekabaran Injil di Irian Jaya. Jakarta: BPK Gunung
Mulia.
Kapissa, Sam. 1975. Songger be Rok. Jayapura: Group Manyouri
Kapissa, Sam. 1994. Eksistensi Wor Biak dan Upaya Pelestariannya.
Jayapura: Jurusan Antropologi FISIP Uncen.
Kern, H.1885. Over de Verhouding van het Noemforsch tot de Maleis-
Polynesische talen. Verspreide Geschriften.
Kijne, Izaak Samuel. 1950. Surat Wasja I & II, Kitab Batjaan Bahasa
Biak. Djakarta: J.B. Wolters Groningen.
Kijne, Izaak Samuel. 1952. Paradise Vogel. Kitab Batjaan Bahasa
Belanda. Djakarta: J.B. Wolters Groningen.
Mampioper, Arnold. 1976. Mitologi dan Pengharapan Masyarakat
Biak-Numfor. Jayapura: STT GKI I.S. Kijne.
Mampioper, Arnold. 1986. Msistem Pemerintahan Tradisional Suku
Biak dan Catatan Perkembangan Umum Pemerintah Daerah
Irian Jaya samapai dengan UU Nomor 5 Tahun 1979.
Jayapura: Yayasan Bhakti Cenderawasih dan Pusat Studi Irian
Jaya.
Mansoben, J. R. dkk. 2008. Sketsa Perjalanan Injil dari Maudori.
Supiori: CV Rwambonina.
Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Suatu
Panduan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Muhaimen, dkk. 2008. Pengembangan Model Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah dan Madrasah.
Jakarta: PT Raja Grafindo.
Muharamsyah. 1975. Wawos ro Ras-ras Biak. Kowilhan IV Maluku
Irian Jaya. Biak: Kowilhan.
Ottow, W. 1862. Woordenlijst dre te Doreh en Omstreken Gesproken
Wordende Myfoorsche (Noemfoors, Mafoors, Numfoorrs etc.)
Tall. Nieuw-Guinea. Amsterdam: Fred Muller.
Rumbrawer, Frans. 1986. Interferensi Frasa Bahasa Biak terhadap
Bahasa Indonesia Tulis Siswa Kelas II SMP Negeri Korem
Biak Utara. Skripsi Sarjana Pendidikan. Bandung: Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastera Indonesia IKIP Bandung.
Rumbrawer, Frans & Christ Fautngil. 1995/1996. Kamus Bahasa
Indonesia-Biak A—K. Laporan Penelitian. Proyek Penelitian
Bahasa dan Sastera Indonesia. Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa. Jayapura: Kanwil Depdikbud.
Rumbrawer, Frans & Christ Fautngil. 1996/1997. Kamus Bahasa
Indonesia-Biak L—Z. Laporan Penelitian. Proyek Penelitian
Bahasa dan Sastera Indonesia. Pusat Pembinaan & Pengemb
Bahasa. Jayapura: Kanwil Depdikbud.
Rumbrawer, Frans. 1997. Menggali Potensi Cerita Rakyat serta
Memberdayakan SDM Irian Melalui Perfileman Nasional.
Makalah Disampaikan pada Pekan Apresiasi dan Diskusi Film
Nasional 1997. Kerja Sama Uncen dengan Dirjen Perfileman
Nasional Deppen RI. Jayapura: Uncen.
Rumbrawer, Frans. 2000. Penelitian Bahasa Daerah di Provinsi
Papua. Makalah Disampaikan pada Konfrensi Bahasa Daerah
di Jakarta, 6 – 8 November 2000. Jakarta: Pusat Bahasa.
Rumbrawer, Frans. 2001. Mengaktifkan Pelajaran Muatan Lokal
Bahasa dan Sastera Lisan Biak sebagai Upaya Memperkuat
Jati Diri Etnik Biak. Makalah Disampaikan pada Seminar dan
Lokakarya Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata
Kabupaten Biak-Numfor, di Biak, 12 – 14 Agustus 2001.
Rumbrawer, Frans. 2007.Orang Papua Meratapi Ketanlestarian
Keanekaragaman Bahasa Daerah di Tanah Papua. Makalah
Disampaikan pada Kongres Bahasa Daerah Internasional di
Ambon, 6 – 8 Agustus 2007.
RRI Biak. 1980-an. Kabar ro Wos Byak. Kumpulan Teks Siaran
Bahasa Biak. Biak: Bagian Siaran RRI Biak.
Silzer, Piter & Helja Heiikenen Clouse. 1991. Index of Irian Jaya
Languages. Second Edition. A Spcial Publocation of Irian.
Buletin of Irian. Jayapura: SIL.
Soeparno. 1975. Kamus Bahasa Biak-Indonesia. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Steinhawer, Hein. 1985. Number in Biak. Countervidence Two Alleged
Language Universals Bijragen Tot de Taal-Land En
Folkenkunde.
Tim Pustaka Yustisia. 2007. Panduan Lengkap KTSP. Yogyakarta:
Pustaka Yustisia.

Frans Rumbrawer

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

6 Tanggapan

  1. Saya sedang mencari buku wasya I, II,III dan kafkofen ma kakaik serta mazmur ma dow semua tulisan dalam bahasa biak. Dapatkah saya dibantu untuk mendapatkan buku asli, foto copy dari asli.
    Besar harapan saya
    Yewo

  2. Saya sangat berterimakasih buat blog ini karna sangat membantu saya dalam penelitian tentang bahasa biak,,,, saya cuma mau menanyakan tentang di mana kitabisa mendapatkan Alkitab,Ny Rohani, kamus berbahasa biak dan Buku2 karangan Dr Fc Kamma dll yg menyangkut ttg budaya Biak…. kasumasa Jou Suba

  3. saya sangat senang dengan blog ini karena sangat membantu sy dlam penelitiian., yng ingin saya tanyakan,,, ada berapa tingkat sosial/kasta…..dalaM BUDAYA MASYARAKAT BIAK NUMFOR …?????

  4. saya senang sekali dengan blok ini saya masih dapat temukan orang2 yg sadar dan peduli dgn tong pu bahasa ibu ini, harapan sy semoga bahasa biak tetap kita lestarikan agar tidak punah..

  5. kira kira apakah ada alkitab dalam bahasa daerah biak yang bisa kami dapat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: