Apa Beda (?): “Harta” – “Artha”

I. “Bausastra Jawa-Indonesia”

1. Mungkin Anda tidak percaya, bahwa kata “Harta/Harto” tidak bisa kita temukan dalam “Bausastra (Kamus) Jawa-Indonesia” (S. Prawiroatmojo) – (Edisi ketiga 1996).

2. Saya hampir tidak percaya, bagaimana mungkin suatu kamus Jawa yang baku pada zaman orde baru (tahun 1996), malahan tidak memuat kata “harta/harto”, padahal kita tahu, “Pak Harto” adalah orang Jawa yang paling penting di Indonesia pada waktu itu.

3. Saya sempat berpikir, alangkah nekatnya penerbit PT Gunung Agung yang mengeliminir kata “harta/harto” dari kamus Jawa yang paling lengkap, justru pada masa puncak kekuasaan “Pak Harto” sebagai presiden Republik Indonesia, apalagi, kita semua tahu, bahwa Mas Agung (“boss” PT Gunung Agung) cenderung “dekat” dengan Bung Karno).

4. Adalah mustahil, kalau S. Prawiroatmojo, sebagai penyusun kamus Jawa, sampai tidak tahu arti kata “harta/harto”.

5. Ketika membalik-balik lembaran-lembaran “bausastra” itu, saya justru menemukan kata “arta” (baca: “arto” yang berarti “uang”) dan kata “sugih” (yang berarti “kaya”).

6. Teman saya, yang kebetulan juga bernama “Suharto”, berteori: nama “Suharto” sebetulnya merupakan singkatan dari “Sugiharto”, yang secara etimologis berasal dari “sugih + arto”, dan bukan dari “sugi + harto”, jadi pantas saja, kata “harta/harto” tidak ada dalam “bausastra Jawa”.

7. Rupanya, nama “harto” muncul karena pemenggalan yang keliru dari nama “sugiharto” menjadi “sugi + harto”.

8. Untuk sementara itu, saya terima saja teori teman saya yang punya nama “Suharto” itu, sampai saya menemukan kata “harta” dalam sebuah Kamus Bahasa Sanskerta, yang membuat saya kaget setengah mati.

9. Temuan yang tidak terduga itu akan saya uraikan dalam bab berikut ini. Baca lebih lanjut

“Apa Kata Dunia?!”

I. Membangkitkan Rasa Jengah

1. Belakangan ini, pemerintah berusaha mengembangkan pemasukan pajak dengan berbagai cara, antara lain melalui tayangan sosialisasi pajak di layar kaca televisi.

2. Yang paling berkesan bagi saya adalah kalimat, “apa kata dunia?!” yang (rupa-rupanya) dimaksudkan sebagai pembangkit rasa jengah di hati warga negara agar memenuhi kewajiban membayar pajak kepada negara.

3. Diharapkan, para wajib pajak akan merasa “malu sendiri” jika tidak memenuhi kewajibannya, “kan lebih baik malu sendiri terlebih dahulu, daripada nanti ditertawakan oleh seluruh dunia yang beradab!”

4. Namun, kita semua tahu dari pengalaman, bahwa slogan-slogan apa pun akan kehilangan “greget”-nya seiring perjalanan waktu, justru karena terlalu sering diulang-ulang, bahkan mungkin dijawab dengan sinis, “peduli amat! Emangnya gue pikirin?! Apa kata dunia, itu bukan urusan gue, selama gue tidak di-apa-apa-kan!”

5. Bagaimanapun, “Pemulung Kata-kata” tidak menyia-nyia-kan momentum ini untuk mencoba membangkitkan “rasa jengah” (“malu campur geram”) di hati para “ASYIQIN Bahasa Indonesia”.

N.B.: “ASYIQIN” (Bahasa Arab) = para pecinta, para amatir, “amateur” (Bahasa Prancis), “amator” (Bahasa Latin).

6. “Apa kata dunia mengenai kemampuan orang Indonesia melawan KORUPSI kalau kita masih bingung mengenai arti kata korupsi-korup-koruptor?!

7. Dilihat dari sudut pandang bahasa-bahasa dunia, boleh dikata, bangsa Indonesia telah melakukan “dosa bahasa yang fatal dan tak pantas dibiarkan berlanjut”, dalam hal ini khususnya: Bangsa Indonesia telah “meng-korup kata korupsi”, tanpa mempedulikan “apa kata dunia” mengenai makna kata “korup-korupsi-koruptor” itu sebenarnya.

8. Berikut, saya mencoba menyajikan “apa kata dunia” mengenai makna “korup-korupsi-koruptor” yang telah “di-obok-obok secara sembrono” oleh masyarakat pengguna Bahasa Indonesia. Baca lebih lanjut

Apa Bedanya: “Kawin” – “Nikah” – “Married” – “Merit”

I. “Gampang-gampang Susah”

1. Kata orang: “pasangan kumpul kebo itu memang sudah kawin, tetapi belum nikah”.

2. Kalau ditanya, “apa bedanya KAWIN dengan NIKAH?”, gampang saja orang menjawab, “kawin itu berarti berhubungan seks; nikah itu ikatan suami-istri yang sah menurut hukum adat/sipil/agama”.

3. “Apalagi?”

4. Gampang, KAWIN itu bisa dilakukan manusia maupun hewan, bahkan tumbuh-tumbuhan; NIKAH itu semata-mata dikenakan pada manusia.

5. Memang, pembedaan antara KAWIN dan NIKAH itu gampang diterima umum dan sulit dibantah, namun bagi saya (“Pemulung Kata-kata”) yang suka “mengutak-atik” kata-kata dengan analisis etimologis, masalahnya tidak sesederhana itu. Baca lebih lanjut

“Anda PANASARAN?” —“Jangan Baca Ini!”—

I. “Panasaran” – “Penasaran”

1. Mungkin Anda pernah menonton film “horror” yang berjudul “The Lost Souls” (= “Arwah Penasaran” atau “Jiwa-jiwa Tersesat” atau “Roh-roh Gentayangan”), yang menceritakan sekelompok remaja yang “mati penasaran” sehingga menjadi “hantu pembalas dendam”.

2. Kalau belum, tidak apa-apa, karena saya cuma mau mengupas kata “penasaran” dan membedakannya dengan “panasaran”.

3. Pasti ada yang bereaksi: Lho, “penasaran” dan “panasaran” ’kan sama saja artinya. Baca lebih lanjut

“Puanaaas!” (“Puasa” – “Ramadhan”)

I. “Puanaaas!”

1. Boleh coba cari dalam kamus mana pun, Anda tak bisa temukan kata “puanaaas!”, namun kata ini sering kita ucapkan untuk mengekspresikan perasaan “terlalu panas sampai tak tertahankan!” (misalnya, kalau kaki kita tersentuh knalpot motor, atau ketika bibir kita menyentuh cangkir kopi panas).

2. Kita, sadar atau tidak sadar, biasa menyelipkan sisipan “u” untuk mengeraskan/menyangatkan makna suatu kata — (mungkin karena pengaruh Bahasa Jawa?) — seperti:

a. “Pas” menjadi “puas”.

b. “Enak” menjadi “uenak”.

c. “Besar” menjadi “buesar”.

d. “Cilik” menjadi “cuilik”.

e. “Dingin” menjadi “duingin”.

f. “Cantik” menjadi “cuantik”.

g. “Bagus” menjadi “buagus”. Baca lebih lanjut

“Independence Day” = “Hari Kemerdekaan”? “Independent Candidate” = “Calon Merdeka”?

I. “Calon Independen”

1.     Belakangan ini, ramai diperdebatkan soal “calon independent” untuk pemilihan presiden yang akan datang.

2.     Saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan politik yang memang bukan hobi saya.

3.     Saya cuma mau menggunakan kesempatan ini sebagai momentum untuk mengajak masyarakat pengguna Bahasa Indonesia untuk merevisi kembali pemahaman kita mengenai istilah “merdeka” yang ternyata “berantakan tidak karuan” begitu dibenturkan dengan istilah “independent”.

4.     “Hari Kemerdekaan Indonesia” diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris: “Indonesian Independence Day”, seakan-akan sudah “dipatok mati” kalau “ke-merdeka-an” = “independence”, dan “merdeka” = “independent”.

5.     Baru ketika kita mau menterjemahkan “independent candidate” ke dalam Bahasa Indonesia, kita merasakan kejanggalan.

6.     Kalau seandainya “independent” = “merdeka”, apa salahnya kalau “independent candidate” diterjemahkan jadi “calon merdeka”?!

7.     Ternyata, kita mulai merasakan, bahwa “merdeka” (yang ada dalam benak Bangsa Indonesia) tidak persis sama dengan “independent” (menurut persepsi pengguna Bahasa Inggris).

8.     Hal serupa kita rasakan ketika sesudah sekian tahun berlalu Republik Indonesia diakui sebagai “independent state” (“negara independen”), tetap saja di lubuk hati kita berkata “kita belum merdeka”. Baca lebih lanjut

Menelusuri Jejak-jejak “KEMERDEKAAN” di “Lorong Kata-kata”

I. “Pemiskinan Makna”

1. Suatu kata yang terlalu banyak diobral di pasaran, cepat atau lambat, akan mengalami proses “pemiskinan makna”, dan merosot menjadi “slogan mati” yang diucapkan tanpa dihayati semangatnya.

2. Kata seru “merdeka!” masih nyaring terdengar di tiap kesempatan orang berkumpul ramai-ramai, tetapi kalau ditanya, “apa arti merdeka bagi Anda?”, maka jawaban yang paling gampang, “apa, ya?”, (sambil garuk-garuk kepala dan cengar-cengir), “merdeka itu, ya bebas, gitu lho!”

3. Memang, rupanya jawaban “man in the street” (“orang jalanan”) macam itulah yang paling mendekati inti makna kata “merdeka”, namun kita akan terbentuk pada inti masalah yang tak terpecahkan sepanjang sejarah pemikiran/filsafat manusia, yakni: “apa itu BEBAS?”.

4. Tiap orang, tiap kepala, tiap otak, tiap mulut bisa mengucap kata “bebas! free! liberty! merdeka!”, tanpa tahu “makna sebenarnya”. Baca lebih lanjut