Pemetaan Bahasa-bahasa Daerah di Indonesia

ABSTRAK
Upaya pengidentifikasian jumlah bahasa di Indonesia sudah
cukup banyak dilakukan baik oleh lembaga/pakar linguistik Indonesia
maupun lembaga/pakar asing. Hasil yang diperoleh cukup beragam,
sehingga tidak jarang kondisi ini menimbulkan kesimpangsiuran
informasi tentang jumlah bahasa yang tumbuh dan berkembang di
Indonesia.

Faktor utama yang menyebabkan keberagaman hasil tersebut
adalah keberbedaan dalam penggunaan metode. Untuk itu, Pusat
Bahasa, sejak 1992 s.d. 2008 telah berupaya melakukan identifikasi
bahasa di Indonesia dengan mengembangkan suatu kerangka
konseptual metodologis yang dapat diterapkan secara menyeluruh.
Bagaimana wujud, landasan filosofis yang melatarbelakangi, serta
aplikasi dan hasil yang dicapai dengan menerapkan kerangka
metodologis tersebut menjadi fokus pembahasan dalam makalah ini. Baca lebih lanjut

Pembelajaran Bahasa Indonesia: Pemberdayaan Potensi Diri Pembelajar Melalui Strategi Inovatif

1. Pendahuluan
Dewasa ini sinyalemen negatif tentang Pembelajaran Bahasa
Indonesia (PBI) masih menjadi isu aktual dan mengemuka di berbagai
media/forum ilmiah. Dinyatakan, bahwa PBI di setiap jenjang dan
institusi pendidikan pada umumnya belum berjalan sebagaimana yang
diharapkan. Proses pembelajaran dan produktivitasnya pun kurang
memadai, baik dari segi kuantitas, kualitas, maupun relevansinya
dengan kebutuhan (AJBI, 2008). Pernyataan yang agak spesifik juga
muncul, bahwa kondisi PBI masih memprihatinkan. Proses pembelajaran
berlangsung timpang; seadanya, tanpa bobot dan monoton,
sehingga pembelajaran terpasung dalam suasana pembelajaran yang
kaku dan membosankan. Hasilnya pun kemampuan berbahasa mereka
rendah, kurang mampu mengungkapkan perasaan dan gagasan secara
logis, runtut, dan mudah dipahami (Tuhusetya, 2008). Pernyataan yang
menggambarkan ketimpangan ini sekaligus merupakan problematik
mendasar tentang penyelenggaraan PBI yang perlu mendapatkan
respon dan upaya solusinya. Baca lebih lanjut

Pelestarian Sastra Daerah di Bangka Belitung Suatu Upaya Pemertahanan Budaya

1. Pendahuluan
Bangka Belitung awalnya merupakan bagian dari Provinsi
Sumatera Selatan. Di era reformasi pada tahun 2000 melalui Undangundang
nomor 27 terbentuklah Provinsi Bangka Belitung. Secara
kultural Bangka Belitung merupakan rumpun Melayu, demikian juga
bahasanya masuk dalam rumpun bahasa Melayu Bangka dan Melayu
Belitung.
Melalui media bahasa daerah tersebut muncullah beberapa
karya yang ditulis oleh para penulis daerah. Kebanyakan dari para
penulis sastra tersebut menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa yang
digunakan masyarakat Bangka Belitung tidak mengenal tingkatan
sepertinya bahasa Jawa atau Sunda. Untuk mengungkapkan hal-hal
yang bersifat formal menggunakan bahasa Indonesia sedangkan untuk
mengukapkan hal-hal yang bersifat nonformal menggunakan bahasa
Melayu Bangka atau Melayu Belitung. Baca lebih lanjut

Paradigma Baru Pengajaran Apresiasi Sastra Indonesia

A B S T R AC T
The appropriate and correct literature teaching is
aesthetic perspective adopted teaching and emphasize on that
perspective; students are able to identify intrinsic and
extrinsic values encountered in literary works (Rosenblatt,
1978:22-47). So far the teaching of Indonesian literary
appreciation has focused on the perspective. However, such
kind of teaching still applies structuralism-based approach;
students appreciate literary works by describing the elements
of fiction structurally. This criticized the existence of
literature teaching by the presence of assumptions that
literature is merely a subject for enjoyment and impossible to
promote students’ language skills. Baca lebih lanjut

Menggagas Imperium Bahasa Indonesia Menuju Kebangkitan Bahasa Bangsa yang Cerdas, Bermutu, dan Berdaya Saing

ABSTRACT
Make an idea about indonesia language empire
goes to involve intelligent, qualify and efficient.
Working paper that will be presentated in indonesia
language congress IX in Jakarta. This work paper will
be discuss about (1) Empire Indonesia language
civilization, (b) Language Yuridity, Nationality
civilization in Indonesia, (2) Language involve, nation
involve will be great from (a) Indonesia language
morality and (b) Efficient of nation language. (3) What
is the part of young man in nation language, Indonesia
Languge. Baca lebih lanjut

Kesantunan Berbahasa Indonesia sebagai Pembentuk Kepribadian Bangsa

1. Pendahuluan
Pada hakikatnya, bahasa yang dimiliki dan digunakan oleh
manusia tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Seandainya ada
bahasa yang sudah mampu mengungkapkan sebagian besar pikiran dan
perasaan lebih dari bahasa yang lain, bukan karena bahasa itu lebih
baik tetapi karena pemilik dan pemakai bahasa sudah mampu menggali
potensi bahasa itu lebih dari yang lain. Jadi yang lebih baik bukan
bahasanya tetapi kemampuan manusianya. Semua bahasa hakikatnya
sama, yaitu sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, ungkapan bahwa
bahasa menunjukkan bangsa tidak dimaksudkan untuk menyatakan
bahwa bahasa satu lebih baik dari bahasa yang lain. Maksud dari
ungkapan itu adalah bahwa ketika seseorang sedang berkomunukasi
dengan bahasanya mampu menggali potensi bahasanya dan mampu
menggunakannya secara baik, benar, dan santun merpakan cermin dari
sifat dan kepribadian pemakainya. Baca lebih lanjut

Jejak Langkah Majalah Sekolah: Ekspresi Semangat Keremajaan

ABSTRACT
School magazine is one of the discourse to guide
and develop the youth potential to produce the reliable
and cultured writers. The identities of the homogenious
readers produce greetings, interjections, superlatives,
negation, conjunction, code mix, the infinite forms to
express intimacy, and familiarity. This causes the use of
the language rules not consistently especially in the
rubrics for readers’ letters, editors, and the rubrics
dealing with youth lives (musics, humours, talk show,
and news). Deviaton decreases in the rubrics of opinion,
article, religious reflection, talk show with the teachers
or head masters. In this way the language use is not
necessary to be worried to disrupt Indonesian language.
The content of the magazine varies from the topics in
the school (various school activities, sports, art, the
profiles of the teachers and students, etc.), in the region
(graffiti, sickness, city master plan, etc.), in the state
(education, natioal exam, illigal logging, national
commemoration, etc.), to those in the world (global
warming, AIDS, etc.)
Key words: content, editor, language, rules, school
magazine, youth. Baca lebih lanjut